"Kamu sudah sadar, Nak, Syukurlah."
Luna menoleh ke samping saat mendengar kalimat itu, bau obat-obatan langsung menusuk hidungnya.Apa dia di rumah sakit? Tapi kenapa?Luna memegang kepalanya yang terasa pusing, dan mendapati sebuah perban di kepalanya.Ah, dia ingat sebelum pingsan tadi dia terbentur sisi ranjang, pantas saja.Lalu bayinya?Luna langsung meraba perutnya dan sangat lega saat gundukan kecil itu masih ada di sana."Bayimu baik-baik saja, hanya saja kandunganmu sangat lemah dan kamu butuh istirahat total."Luna memandang ayahnya yang tampak luar biasa cemas dan lelah tapi juga ada kelegaan di matanya saat menatap Luna.Oh Tuhan, sebagai anak dia benar-benar tidak berbakti, berkali-kali dia menyusahkan ayahnya."Maaf Luna sudah menyusahkan ayah," katanya dengan suara yang serak.Sang ayah tersenyum menatap Luna."Kamu tidak menyusahkan ayah, tapi ayah memang tidak suka kamu sakit."Luna memberengut mendengaSeperti hari-hari sebelumnya Laksa menghabiskan waktunya di sebuah klub kelas atas di kota ini, mabuk menjadi kebiasaan yang setiap malam dia lakukan. Getaran di pahanya membuat Laksa merogoh saku celananya, dan melihat siapa yang menghubunginya.Nama Dirga tertera di sana, tak ingin diganggu dengan apapun, Laksa langsung mereject panggilan itu. Beberapa kali panggilan dari orang yang sama masuk, Laksa melakukan hal yang sama, sampai dia gemas dan memblokir nomer sepupunya itu. Pandangannya jatuh pada pesan-pesan Luna yang tak pernah dibalasnya, ada senyum yang terukir di wajahnya, saat mengingat istrinya itu, rasa rindu semakin membuncah dalam dadanya, dia ingin pulang dan merengkuh sang istri. Akan tetapi rasa malu dan egonya yang terluka membuat Laksa tak punya keberanian untuk berhadapan dengan Luna. Benar kata Dirga, datang kesini adalah sebuah kesalahan dan dia sangat menyesali hal itu. Bukan hanya harga diri dan egonya yang direndahkan, tapi perni
Laksa terbaring terengah-engah di atas ranjang hotelnya, peluh deras membasahi wajahnya, padahal di luar sana salju turun dengan lebatnya. Matanya nyalang menatap langit-langit kamar, sejenak dia memejamkan matanya, pikirannya merawang memikirkan sang istri nan jauh di sana, apa Luna juga sedang memikirkannya saat ini? Apa dia merindukannya? Atau malah membencinya?Berbagai pikiran melintas dalam benak Laksa, dia ingin memastikan semuanya tentu saja, dengan datang langsung ke hadapan Luna, tapi sekali lagi keberaniannya menguap begitu saja, dia merasa sangat malu pada Luna. Laksa yang biasanya angkuh dan begitu percaya diri, hilang entah ke mana, menjadi Laksa seorang pecundang yang menghadapi wanita mungil yang bergelar istrinya saja tidak berani. “Kamu harus kembali sekarang juga.” Laksa menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, tapi dia langsung mengernyit saat di dapatinya rasa sakit di rahangnya, perlahan tangannya memegang sudut bibirnya dan mendapati ada cairan kental di s
"Lho kenapa tidak masuk ke dalam, Nak?" Tanya Pak Erwin, pada Vira yang sedang duduk di depan ruang rawat Luna, tangan gadis itu mencengkram erat kantong plastik yang dia bawa. Pak Erwin menatapnya dengan alis terangkat saat melihat wajah gelisah sahabat putrinya ini. "Ehm... Itu Om di dalam ada mama mertuanya Luna, saya tidak ingin mengganggu." Pak Erwin tersenyum. "Kok mengganggu, Nak, Luna pasti senang sekali kamu datang, dia sudah mengeluh bosan dari kemarin, hanya tiduran saja di atas tempat tidur," jelas Pak Erwin panjang lebar. Vira memandang Pak Erwin dengan rasa bersalah yang terlihat jelas di matanya. "Lun seperti ini pasti gara-gara saya." "Om tidak mengerti?" Vira menggenggam kantong kresek yang dibawanya makin erat. Dia bukan orang yang mudah gugup, tapi rasa bersalah yang dia rasakan membuatnya gugup setengah mati. "Saya kemarin mengajak Luna mencari perlengkapan pertunjukan, lalu kami berjalan-jalan mencari tempat makan, dia pas
“Jadi sampai kapan kita akan berdiri diam seperti ini?” tanya Dirga yang begitu jengah dengan sikap Laksa yang hanya memandang kamar rawat Luna dari jauh. Ingat ya ... kamar rawatnya bukan orangnya. “Apa keadaannya parah sampai dia tidak keluar berjalan-jalan, kamu bilang tadi mama sudah pulang dan sekarang yang menjaga Vira?” tanpa menghiraukan pertanyaan Dirga.“Kita sedang apa sebenarnya di sini?” tanya Dirga lagi yang mulai malas dengan Laksa. Bayangkan saja, mereka baru saja mendarat dari bandara dan langsung menuju rumah sakit tempat Luna dirawat, tapi bukanya langsng masuk menemui Luna, Laksa malah mengajaknya berdiri dengan berlindung di sebuah pohon sambil mengamati pintu ruang rawat Luna. Dirga yang merasa lelah dan mengantuk, tentu saja tak terima ikut serta melakukan ini semua, tapi dengan semena-mena Laksa mengancamnya akan memberitahukan pada sang mama tentang ulahnya di acara perjodohan itu. Jadi Dirga hanya bisa berdiri diam di sini sambil me
Suasana menjadi sangat tidak enak setelah semuanya menjadi jelas, Laksa memandang Dirga yang masih meringis kesakitan dengan tidak enak hati, seharusnya dia yang dipukul, dia yang menodai Luna dulu tapi dengan tega malah menghinanya lalu beberapa hari ini meninggalkan Luna untuk menemui mantan kekasihnya. Perbuatanya memang sangat kejam pada Luna yang memang hanya korban dari keserakahan yang ada di sekelilingnya. Perlahan Laksa mendekati nenek Luna yang sudah lebih tenang sekarang, perlahan dia berjongkok di depan sang nenek. “Saya minta maaf karena sudah menyakiti Luna, saya bersedia kalau nenek mau memukul saya, tapi saya harap nenek tidak memisahkan saya dengan Luna,” kata Laksa. “Kenapa tidak mau, kamu sendiri yang mempermainkan cucuku, kamu pikir menikah itu kayak oarang main rumah-rumahan bisa bubar begitu saja.” “Sekali lagi saya minta maaf.” “Bu sudah, malu di lihat orang, ini hanya salah paham, buktinya nak Laksa sudah di sini,” kata Pak Erwin
Hal yang paling dibenci Luna adalah mencurahkan isi hati pada seseorang, selain ayah dan Bundanya juga Vira, belum pernah sekalipun Luna bicara panjang lebar menyangkut tetang perasaan di hatinya. Sekarang dia tentu saja sangat kesulitan untuk mengungkapkan semua isi hatinya pada Laksa, meski sudah tak terhitung jumlahnya mereka berbagi keringat bersama. Bahkan beberapa kali Vira sudah mendorongnya untuk berbicara pada Laksa secara terus terang, Luna sangat kesulitan mengatakan maksud hatinya. “Bagaimana jika aku tak ada di sini?” Laksa menatap Luna dengan kening berkerrut. “Apa maksudmu?” Luna menghela napas, kali ini dia ingi menguatkan tekad, mengatakan apa yang menjadi kehendak hatinya. Vira benar ini hidupnya dan jika dia ingin bahagia, maka dia harus tegas untuk menyikapi semua. “Hubungan kita hanya sebuah kecelakaan yang direncanakan seseorang, dasarnya sama sekali tak kuat, banyak faktor yang menyebabkan kita sangat berbeda, dan aku rasa kak Lak
“Dua menit sepuluh detik.” Dirga mematikan stopwatch dari ponselnya dengan gembira. “Kamu menghitung apa?” tanya Laksa penasaran. Saat ini mereka sedang duduk di taman rumah sakit, saat Laksa dan Luna terlibat percakapan tadi, tiba-tiba sang mama datang bersama Dirga, membawakan makanan kesukaan Laksa dan Luna. Sungguh perhatian yang membuat dada Laksa menghangat, meski rasa malu dan gengsi masih membatasinya untuk kembali masuk dalam pelukan mamanya. Dirga menoleh pada Laksa, terlihat sangat gembira, membuat Laksa mengerutkan keningnya bingung. “Rekor sebelumnya ternyata sudah terpecahkan.” “Rekor apa? sebenarnya apa yang sedang kamu bicarakan?” Dirga mengarahkan telunjuknya pada Luna dan mama mertuanya yang sedang asyik bersenda gurau. “Bagiamana menurutmu pemandangan di sana, maksudku saat dua orang itu tertawa lepas?” Laksa tersenyum, “sangat indah, aku suka melihatnya.” “Keduanya atau salah satu?” “Keduanya tentu saja, a
Laksa bukan orang yang suka menunda masalah memang, baginya lebih cepat masalah bisa diselesaikan lebih cepat pula hasilnya akan kelihatan, begitulah yang dia lakukan selama ini. Akan tertapi serang bukan waktunya untuk memikirkan tentang hal lain, Luna masih sangat perlu perhatian darinya, apalagi hubungan mereka yang barusan membaik membuat Laksa berharap banyak. “Ada apa, Kak? Siapa yang menelepon?” tanya Luna yang melihat Laksa tiba-tiba terdiam di tempat duduknya. Laksa memandang Luna sejenak, menimbang apa akan mengatakan semuanya atau tidak, sejujurnya dia tak ingin membebani pikiran Luna dengan perkara itu, tapidia sudah banyak belajar dari kesalahan sebelumnya. Sekarang dia bukan lagi laki-laki lajang yang bisa memutuskan apapun sekehendak hatinya, ada Luna di sisinya yang akanberbagi suka dan duka dengannya. “Aku harap kamu tidak berpikir yang berlebihan.” Dirga menghela napasnya sebentar dan memandang Luna dalam. “Beberapa hari yang lalu aku min
Akhirnya Laksa hanya bisa menanyakan kegiatan sang istri hari ini, tanpa menyatakan dimana dirinya sekarang berada, tapi dia berjanji akan mengatakan semuanya setelah sampai di rumah, banyak hal yang harus mereka bicarakan tapi Laksa butuh suasana yang tenang. Saat seorang perawat memangil keluarga Raya serempak dia dan sang manager restoran berdiri, mereka lalu diarahkan untuk menemui dokter paruh baya yang sangat dikenal Laksa. “Apa anda berdua keluarganya?” “Saya manager restoran tempat ibu Raya pingsan, saya hanya ingin memastikan kalau pingsannya ibu Raya ada sangkut pautnya dengan restoran kami atau tidak.” Sang dokter mengangguk mengerti meski begitu dia melirik pada Laksa yang hanya berdiri diam di depannya. “Saya bisa memastikan kalau ibu Raya pingsan bukan karena makanan dan minuman yang dia makan tapi karena stress dan tertekan, syukurlah untuk janin yang dia kandung baik-baik saja.” “Jadi dia benar hamil, Dok?”
Laksa langsung mendekati Raya, dia memang tidak tahu apapun tentang pertolongan pertama pada orang sakit , jadi yang bisa dia lakukan adalah memastikan Raya masih bernapas dengan tangannya yang gemetar. Bagaimanapun Raya pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan juga sebagai sesama manusia tentu saja Laksa tak bisa meninggalkannya begitu saja. “Tolong segera kirim ambulance, seorang wanita tiba-tiba pingsan.” Laksa lalu menyebutkan alamat restoran ini. Tak lama kemudian manager restoran tiba-tiba muncul entah siapa yang memberitahunya, tapi kemunculan sang menager berhasil meredam kehebohan yang ada. “Apa yang terjadi, pak?” tanya sang manager ramah dan berusaha tenang meski Laksa tahu ada getar dalam suara laki-laki itu. “Saya juga tidak tahu kami baru saja selesai bicara dan saya sudah akan pergi tapi tiba-tiba saja dia terjatuh,” kata Laksa menjelaskan sesingkat mungkin. Seorang pelayan wanita masuk dan meletakkan
“Sudahlah yang penting aku menemuinya hanya untuk menyelesaikan masalah saja.” Laksa tak menyadari kalau keputusan yang dia ambil kini akan berdampak besar pada kehidupan pernikahannya kelak. “Aku akan keluar sebentar,” kata Laksa pada asistennya. “Tapi pak jam tiga kita ada pertemuan dengan seorang investor.” “Aku akan kembali sebelum itu.” Asisten itu terlihat bimbang, tapi tak mungkin dia melarang bosnya apalagi Laksa sudah masuk ke dalam lift. “Semoga bapak bisa kembali tepat waktu dan tidak ada masalah lagi kedepannya,” gumam sang asisten entah mengapa dia memiliki firasat buruk. Laksa memasuki restoran jepan yang dulu menjadi favorit Raya setiap kali mereka bertemu. Seorang pelayan memakai pakaian tradisional jepang menyambut Laksa di depan pintu setelah Laksa mengatakan akan bertemu dengan Raya. “Akhirnya kamu datang juga.” Laksa melirik jam tangannya mengisyaratkan kalau dia
Tidak banyak waktu yang tersisa untuk Laksa dalam meyiapkan event besar yang akan diadakan di hotelnya. Tanda tangan kontrak memang sudah dilakukan dan pihak penyelenggara memberikan beberapa syarat yang harus manageman hotel penuhi terkait dengan sarana dan prasarana yang akan digunakan. Tumpukan dokumen laporan berserakan di meja kerjanya menunggu untuk dikerjakan. Bukan tanpa aasan dia bekerja sekeras ini, dia hanya ingin membuktikan pada semua orang dia bukan hanya beruntung mewarisi semua kekayaan ini, tapi dia juga punya kemampuan untuk membawa kemajuan usaha yang telah dirintis kakeknya dan juga Laksa ingin membuktikan meski dia lahir dari rahim wanita yang gila harta, tapi dia berbeda dengan ibunya. Itu juga salah satu alasan dia akan tetap setia pada istrinyaa, di samping rasa yang mulai tumbuh subur di hatinya. "Maaf, pak. Ada telepon untuk bapak," suara asistennya terdengar dari interkom yang terhubung antar ruangan. "Dari siapa?" Sang asisten terdengar menghela napas
"Tentu saja , Ma. Aku akan bertajan selama kak Laksa masih menginginkanku dan juga tidak menduakanku," jawab Luna yakin. Sang mama menganggukkan kepala. "Bagus, jawaban itu yang ingin mama dengar, jika kamu masih ingin mempertahankan semuanya kamu harus lawan wanita itu." Sang mama menghela napas sebentar dan meminum air putih di depannya. "Dengar, Nak. Mama memang bukan mama kandung Laksa, tapi mamalah yang merawatnya sejak kecil dan dia bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Dia pernah bilang pada mama akan mempertahankanmu di sisinya jadi jangan pernah menyerah." Luna menangguk, suaminya juga pernah mengatakan hal yang sama. "Kak Laksa juga pernah mengatakannya pada Luna." "Jadi kamu harus percaya Laksa kalau dia tidak aka kembali pada wanita itu, tapi mungkin dia akan membantunya. Sifatnyaa, tapi hanya sebatas itu yang perlu kamu lakukan adalah mencegah mereka untuk taak sering bertemu. " Lun
Luna menyadarkan tubuhnya yang terasa lelah luar biasa di kursi penumpang, di sampingnya Laksa menyetir mobil dengan wajah keruh, membuat Luna enggan untuk memulai pembicaraan dengannya. Beberapa saat yang lalu memang Laksa menjemputnya di sanggar saat dia sedang ngobrol dengan Vano di halaman belakang dan tentu saja hanya berdua karena Vira benar-benar tak muncul sampai akhir. "Hhh." Helaan napas panjang dan lelah Luna bahkan tak membuat Laksa menoleh laki-laki itu masih fokus dengan kemudinya. Luna tak tahu apa sebenarnya kesalahannya sehingga Laksa berubah dingin seperti ini. Apa karena Luna menemui mantan kekasih suaminya itu? Atau karena di pergi ke sanggar? Tapi Luna sudah minta Izin dan kalau ternyata Laksa terlambat membukanya itu bukan salahnya kan. Kenapa Laksa marah? "Kakak sudaah makan siang?" tanya Luna mencoba untuk membuka pembicaraan dengan suaminya meski dia sedikit ngeri sendiri dengan sikap Laks
"Maaf, kak. Aku kira tidak ada orang," kata Luna tak enak hati. "Masuklah, sudah lama kamu tidak kemari." Luna bimbang di dalam sana hanya ada Vano yang sedang melakukan entah apa, tapi kalau dia langsung pergi rasanya juga tidak sopan bagaimanapun Vano juga orang yang sangat berjasa untuknya. "Apa kabar kak?" sapa Luna sedikit sungkan. Vano mengangkat alisnya dengan senyum mengejek. "Baik. Setidaknya aku tidak menangis hari ini," kata Vano menyebalkan. Luna mengerucutkan bibirnya, Vano masih tetap sama menyebalkanya seperti dulu."Aku tidak menangis." "Percaya." Jawaban yang makin mempertegas kalau laki-laki itu hanya sedang ingin mengejek Luna. "Kakak ngapain di ruangan Vira?" tanya Luna sebal sendiri. "Bumil habis nangis otaknya ikut eror juga. Kamu tidak lupa kan kalau aku pemilik tempat ini dna bisa bebas berada di mana saja yang aku suka." Ish sebel banget Luna dikatain seperti itu, dia yang sudah duduk di sofa langsung bangkit dan melangkah pergi. Lebih baik dia jalan
Luna keluar dari cafe dengan kaki yang bergetar hebat, dia tak pernah suka bertengkar dengan orang lain. Saat akan berkonfrontasi dengan orang lain Luna lebih memilih mengatakan apa yang memang perlu dikatakan lalu pergi begitu saja, tanpa mau menoleh lagi. Terkesan pengecut memang tapi seperti itulah Luna. JIka hari ini dia mampu berkonfrontasi dengan Raya, itu semata-mata karena rasa cemburu yang mendominasi pikirannya. Dia mencintai Laksa dengan tulus dan laki-laki itu juga mengatakan kalau hanya Luna yang akan menjadi masa depannya, meski tanpa ada kata cinta, tapi bagi Luna itu sudah cukup. Dia jadi punya keberanian untuk melawan. "Mbak Luna baik-baik saja?" tanya sopir yang mengantarkan Luna. Dia menatap khawatir menantu majikannya ini. Luna terlihat pucat dan lemas. "Saya baik-baik saja, Pak." Luna memberi senyum sebahai ucapan terima kasih, si bapak membukakan pintu mobil untuknya. "Kita langsung pulang, mbak?" tanya sang sopir. Luna menimbang sejenak, dia tak
Tanpa menunggu dipersilahkan Luna meanrik kursi dan duduk di sana. Perutnya yang besar memang membuatnya tak betah untuk berdiri terlalu lama. "Mau pesan apa?" tanya Raya yang telah mampu menguasai dirinya. Sepertinya beberapa bulan menjadi istri Laksa membuat wanita lebih berani tak sepolos dan sepengecut dulu. LUna melihat buku menu dan dia langsung menginginkan oreo milkshake dan brownies yang terlihat menggoda di sana. "Kamu cukup berani juga memesan minuman itu padahal tubuhmu sudah gendut," Komentar Raya saat Luna menyebutkan pesanannya. Wah bodyshaming ini. "Sya memang sedang hamil jadi wajar kalau tubuh saya berisi, justru kalau kurus suami saya akan khawatir." "Hati-hati. Laki-laki tidak suka dengan wanita gendut," kata Raya sok menasehati. Luna tersenyum mendengar nasehat 'baik hati' dari mantan kekasih Laksa ini. "Mungkin, Tapi suami saya bilang lebih suka memeluk saya yang lebih berisi d