"Bang, ja hat banget kamu, ya. Aku sudah menggadaikan diriku, kebebasanku, dan cintaku pada pria lain, demi menutupi aib yang ditorehkan Alula.Tapi apa? Seperti ini Abang belesnya?” Aruni menatap sang suami tajam.
“Ini semua sudah menjadi konsekuensimu karena mau menikah denganku. Pernikahan ini hanya maumu, mau keluargamu, dan mamaku. Tapi semua itu bukan kemauan murni dariku. Ingat, Aruni. Jangan pernah berharap cinta karena aku nggak bisa janji ke kamu. Atau mungkin selamanya cintaku mustahil untukmu. Cintaku hanya untuk Alula. Camkan itu!”
Aruni menatap Yongki dengan napas memburu. Harga dirinya seperti diinjak-injak.
“Oh, ya? Kalau kamu nerima aku hanya demi mamamu, setidaknya hormati aku demi dia kalau kamu tidak ingin mamamu menderita. Asal kamu tahu, Bang. Kamu itu bo doh! Bisa-bisanya masih memikirkan wanita yang sudah pergi meninggalkanmu saat pernikahan. Di mana harga dirimu sebagai pria!”
“Aruni! Jangan mengajariku tentang harga diri. Lihat dirimu sendiri yang tidak punya harga diri dengan merebutku dari Alula. Jadi, diamlah!"
“Enggak. Aku nggak akan diam kalau kamu injak-injak kayak gini. Ingat, Bang. Kita sudah sah menjadi suami istri. Semua kata kasarmu bernilai dosa besar untukku. Aku pun melakukan pernikahan ini untuk menyelamatkan keluarga kita, tapi kamu tidak mau melihat dari sisi itu!”
“Sudah bisa bicara dosa? Lalu apa yang pernah kamu lakukan ke Alula itu bukan dosa?”
“Oh, sudah ngadu apa aja di ke kamu, Bang? Mamaku, aku, dan abang-abangku adalah korban dari sikap wanita tuna su*ila ibunya Alula. Alula yang berdosa karena membuat mamaku meninggal! Dosa siapa yang paling besar di sini? Katakan!” Aruni berkata sambil menangis. Sungguh, kedatangan Alula mengusik ketenteraman hidup keluarganya.
“Gara-gara kedatangan Alula, musibah di keluargaku datang. Dia itu pembu nuh mamaku!” Aruni kembali berteriak.
Yongki meraup wajah dengan telapak tangan. Ia benar-benar tidak habis pikir. Baru sehari menikah, tetapi kehidupannya seperti di neraka.
“Semua hal buruk yang kulakukan kepada Alula itu belum seberapa. Semua itu tidak bisa mengembalikan mamaku. Kamu tidak bisa ngerasain bagaimana saat papamu punya anak lain dari wanita lain. Sakit, Bang. Sakit sekali. Dan sekarang Abang berniat nyakiti aku juga? Menurut Abang, apa itu adil?” tanya Aruni.
Yongki masih diam. Selama ini, ia hanya mendengar dari pihak Alula yang bercerita kalau Aruni dan kakak-kakaknya selalu bersikap buruk. Sekarang, pria itu juga mendengar dari pihak Aruni yang merasa tersakiti karena kehadiran Alula. Keduanya sebenarnya tidak ada yang salah. Orang tua yang berulah, anak-anak yang mendapat getah. Getah den*dam yang membuat lengket dan sulit sekali hilang.
“Aku paham bagaimana perasaanmu, tapi tidak baik kalau kamu terus menyakiti Alula. Dia itu tidak salah,” ujar Yongki lembut.
“Yang istrimu aku atau Alula, sih, Bang? Aku nggak tahu apa yang dia ceritakan ke kamu, tapi tolong sedikit saja pahami sakit hatiku karena dia dan tolong jangan tambahi sakit hatiku dengan sikapmu yang suka membandingkan itu. Karena apa? Aku bisa berbuat apa saja.” Aruni keluar kamar setelah mengatakan itu.
Tangan Yongki mengepal, mendarat di tumpukan bantal. Kepalanya benar-benar terasa berat. Pria berkulit kuning langsat itu mengambil ponsel, lalu kembali menghubungi Alula. Untuk kesekian kali, ia kecewa karena hasilnya masih sama.
“Alula, apa benar kamu kabur? Atau ada sesuatu sama kamu? Aku harus bagaimana? Apa keputusanku menikahi Aruni sudah benar?” gumam Yongki.
**
Alula sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Ia memaksa untuk pulang, tetapi pihak rumah sakit belum mengizinkan karena kondisinya masih lemas dan tekanan darahnya masih rendah. Bukan tanpa sebab wanita itu memaksa pulang. Pasalnya, ia takut dengan biaya rumah sakit. Semua barang berharganya ada di kos-kosan termasuk ponsel dan tabungan. Alula yakin keluarga tirinya sudah mengobrak-abrik semuanya atau bahkan menyembunyikan dan membuangnya. Ia tidak tahu harus menghubungi siapa untuk meminta bantuan. Ada beberapa orang terdekat, tetapi ia tidak mau merepotkan
Pikiran Alula juga selalu tersangkut kepada Yongki. Ia sangat merindukan pria itu. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan sekarang sebab ia tidak berdaya. Atau mungkin, Yongki sekarang memben*cinya karena tidak hadir dalam pernikahan. Kalaupun nekat, keluarga tirinya mungkin makin bertindak buruk.
“Mas, maafkan aku.” Alula bergumam.
**
Siang ketiga dirawat, Alula yang bosan, keluar kamar melihat taman kecil di bawah dari lantai tiga, tempatnya dirawat. Nanti sore, kemungkinan ia diperbolehkan pulang. Namun, wanita itu justru bingung harus pulang ke mana. Ke kos-kosan, sepertinya tidak dulu. Belum lagi memikirkan tagihan rumah sakit.
Saat melamun, ada seorang wanita paruh baya yang memakai hijab lebar menyapanya. “Adek sakit apa?”
Alula menoleh, lalu tersenyum. “Tekanan darah saya sangat rendah, sempat kejang juga kata dokternya.”
“Oh, semoga lekas sembuh. Rumahmu mana?”
“Saya Purwoasri, Bu.”
Percakapan keduanya makin akrab.
“Sudah kerja?” tanya wanita itu.
“Sudah, kerja buruh nyuci sambil ngasih les ke anak-anak sambil kuliah juga.”
“Masyaallah, wanita pejuang. Tapi jangan lupa jaga kesehatannya juga, Dek.”
“Iya, Bu. Ibu ke sini jenguk siapa atau lagi nunggu keluarganya yang sakit?”
“Jenguk teman pengajian. Ini saya sudah mau pulang, tapi masih menunggu anak saya jemput.”
Keduanya asyik mengobrol sebelum akhirnya terjeda karena perawat memanggil Alula untuk pemeriksaan akhir sebelum pulang. Alula pamit kepada wanita tadi.
“Sesuai dengan yang tadi Dokter katakan, Mbak bisa pulang. Ini tagihan rumah sakitnya, ini resep nebus obat di apotek. Mbak kemarin datang tanpa identitas, jadi kami masukkan pasien umum. Tidak ada KTP dan tanda pengenal untuk mengecek apa Mbak masuk daftar peserta BPJS atau tidak, jadi sampai pulang tetap masuk pasien umum. Mbak lunasi dulu pembayarannya, baru nanti dilepas infusnya. Atau mau menghubungi keluarga, monggo bisa menggunakan telepon rumah sakit atau pinjam ponsel punya saya,” jelas perawat.
Alula menerima slip tagihan perawatannya. Jumlahnya lumayan banyak menurutnya. Bahu wanita ayu itu terkulai.
“Saya tidak punya keluarga, Sus. Dan saya dirampok. ATM, KTP, dan semuanya entah ke mana. Tapi saya punya kalung emas ini. Apa ini bisa?” tanya Alula sambil memperlihatkan perhiasan emasnya yang tadi sempat dilepas.
“Kalau masalah itu, coba ke bagian administrasi saja, Mbak. Saya kurang tahu masalah itu. Baju Mbak juga sudah bersih, silakan kalau mau ganti.”
Alula menelisik baju yang dipakai. Baju khas rumah sakit dengan hijab ala kadarnya. Ia lalu mengangguk. Tagihan yang tertera juga mencantumkan laundry beberapa baju yang sempat dipakainya.
“Baik. Terima kasih, Sus. Saya mau ganti baju dulu, baru nanti ke bagian administrasi.”
Perawat mengangguk. Sementara Alula ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Alula berjalan dengan membawa infus yang masih terpasang di punggung tangan. Hanya saja, infusnya sudah tidak menetes. Wanita itu berjalan menuju bagian administrasi dengan lesu.
Hidup sebatang kara nyatanya sangat sulit. Alula belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Ini pengalaman pertama dan ia berharap menjadi yang terakhir.
Tiba di bagian administrasi, Alula duduk dengan wajah lesu menunggu giliran. Administrasi bagian pasien BPJS dan pasien umum berbeda. Pasien umum antrean tidak sebanyak pasien BPJS. Wanita itu kembali memperhatikan orang-orang. Ia merasa iri karena para orang sakit pasti didampingi keluarga. Tidak seperti dirinya.
Giliran Alula tiba.
“Bu, kalau saya membayar dengan kalung emas, anting, dan cincin saya bisa nggak?” tanya Alula sambil memperlihatkan perhiasan yang dilepas dari badannya.
“Mohon maaf, Mbak. Tidak bisa. Apa pun alasannya, tidak bisa membayar pakai barang. Harus pakai uang.”
Alula menatap petugas administrasi sendu. “Tolong, Bu. Saya tidak punya apa-apa selain ini.”
Petugas administrasi menghela napas panjang, lalu mengembuskan kasar. "Tetap tidak bisa."
"Saya tidak punya uang. Saya tidak bisa membayar rumah sakit selain dengan ini," ujar Alula sambil menunduk.
“Apa kamu benar-benar tidak bisa membayar rumah sakit?” Suara seseorang menginterupsi.
“Maaf, Dek. Saya tadi mendengar percakapan kalian,” sambung suara itu. Alula menatap orang itu tidak enak dengan mata berembun.“Berapa tagihan rumah sakitnya? Biar saya bayar. Sekalian punya Bu Sulastri pasien di ruang Mekah 2,” sambung orang itu, berbicara kepada petugas administrasi.“Ta-tapi.” Alula terbata-bata mengucapkannya.“Sudah, nggak apa-apa.”“Saya bisa menghubungi teman atau kerabat saya. Tidak perlu dibayarkan.”“Kelamaan. Kamu diam dan tenang saja, biar saya urus.”Alula bingung harus bersikap. Bahagia sebab ada yang menolong, atau sungkan karena tidak mengenal orang yang berniat menolong itu, atau justru malu karena terlihat sangat memprihatinkan?Sekiranya tadi Alula akan menghubungi temannya dengan meminjam ponsel perawat untuk meminta tolong membayarkan tagihan rumah sakit via Me**nger karena perhiasannya tidak bisa dibuat untuk membayar. Namun, belum sempat dilakukan, sudah ada orang itu yang datang menawarkan pertolongan.Alula menatap orang itu dan perhiasan di
“Jangan! Baiklah, perhiasanmu saya terima dengan terpaksa.” Nur pun menerima, lalu memasukkan perhiasan Alula ke dalam tas.“Sudah. Puas kamu?” lanjut Nur sambil menatap Alula.Alula tersenyum, lalu mengangguk.“Baiklah, Sus. Sekarang infusnya boleh dilepas,” ucap Alula.Dengan hati-hati, perawat akhirnya melepas jarum infus dari punggung tangan Alula.“Sudah selesai. Sekarang sudah boleh pulang. Jaga kesehatan, ya, Mbak. Jangan lupa pola makan dan istirahatnya dijaga,” pesan perawat.“Iya, Sus. Terima kasih.”“Sama jangan lupa, tebus obat di apotek. Sudah?"Alula menggeleng."Ambil dulu obatnya, cukup tunjukkan resep dan nota pembayaran. Kalau begitu, saya permisi."Ucapan perawat ditanggapi Alula dan Nur dengan anggukan dan ucapan terima kasih.Tepat saat perawat keluar ruang rawat, ponsel Nur berdering. Ia meminta izin Alula mengangkat telepon dan mengode agar Alula tetap diam di tempat, tidak keluar ruangan dulu.“Waalaikumussalam. Iya, Le.” Nur berbicara dengan ponselnya.Alula
“Permisi, itu mahasiswi saya!” Suara Lutfan sangat keras hingga orang yang awalnya berjubel sedikit merenggang. Cepat-cepat pria tersebut melihat korban yang dikerumuni beberapa orang.“Dia orang gi*la yang sering wara-wiri di sini, Mas. Apa mungkin dia seorang mahasiswi?” Suara seorang pria membuat kaki Lutfan mendadak kaku.“A-apa? Orang gi*la?” Lutfan memicing, lalu melihat dengan saksama wanita yang wajahnya sudah berlumuran darah tersebut. Bajunya bukan baju yang dipakai Alula, kepalanya pun tertutup hijab ala kadarnya, tidak seperti Alula yang memakai hijab abu-abu panjang.“Oh, maaf. Saya salah orang. Saya pikir tadi mahasiswi saya yang juga baru saja melintas di sini.” Lutfan menjelaskan.“Huuu!” Sorakan orang-orang terdengar.Lutfan kemudian mengurai diri dari kerumunan itu. Ia berkacak pinggang sambil membetulkan kacamata tebalnya. “Astagfirullah! Kena prank! Bikin malu. Lalu di mana gadis itu?” Mata Lutfan menyisir sekitar sampai beberapa kali. Pada satu titik, ia melihat
“Fan, jaga bicaramu! Dosa memfitnah wanita baik-baik dengan tuduhan kayak gitu!” Nur memukul pelan lengan sang putra.“Lalu apa lagi, Bu? Wanita sakit sendirian di rumah sakit, lalu nangis nggak jelas.”Alula terkekeh, tetapi air matanya terjatuh.“Apa saya terlihat seperti wanita serendah itu, Pak? Apa wanita sakit, sendirian di rumah sakit, lalu menangis, itu semua wanita nggak bener seperti yang Bapak pikirkan?”“Alula, jangan–““Apa bagi Bapak wanita sakit itu selalu hamil? Apa rumah sakit hanya untuk wanita hamil? Orang selain hamil nggak boleh ke rumah sakit?" Alula tersenyum kecut. "Nggak nyangka, orang berpendidikan seperti Bapak punya pemikiran begitu picik,” ujar Alula lemah, memotong perkataan Nur.“Fan! Pergi kamu dari sini kalau cuma bikin suasana hati orang buruk!” usir Nur.Lutfan terdiam. Ia sadar telah salah bicara. Yang ada di pikiran pria itu, sekarang sedang marak wanita hamil duluan dan entah mengapa ia merasa Alula salah satunya.Alula menatap dosen buruk rupa it
“Alula! Kamu masih hidup ternyata!” lanjut pria itu.Alula menoleh dan saat itu juga, sebuah undangan dilemparkan ke wajahnya. Wanita itu terpejam sambil mengatur napas.“Datanglah ke resepsi pernikahan Aruni dan Yongki. Kalau kamu nggak datang, berarti kamu pecundang, cemen,” ledek Adi.“Tadi aku ke sini mau ngundang pemilik kos-kosanmu. Sebagai bentuk rasa terima kasih karena sudah berkenan ketika kusuruh mengusirmu, tapi ternyata kamu ada di sini. Ya udah, undangannya buat kamu aja,” lanjut pria pemilik sebuah bengkel sepeda motor tersebut.Alula masih diam. Ia menunduk, menatap undangan itu. Undangannya dan Yongki sudah selesai dicetak dan sudah disebar, tetapi sekarang ia menerima undangan baru atas nama wanita lain sebagai pendamping Yongki.Alula baru tahu kalau Aruni benar-benar sudah merebut sang tunangan darinya. Lalu bagaimana caranya nanti mengatakan kalau pernikahannya dan Yongki telah batal padahal undangan sudah disebar? PR berat untuk Alula.Pandangan Alula kosong. Ia
Bangunan yang didatangi Alula adalah panti asuhan. Di bangunan itulah, ia merasa dimanusiakan oleh manusia. Di situ, ia mendapatkan kasih sayang meski bukan dari kerabat. Sementara yang tersambung darah, tidak pernah terasa dekat.Alula ambruk di bawah kaki Jannah, ibu asuh sekaligus pemilik panti.“Alulaa, bangun, Nak. Jangan kayak gini. Ada apa?” Jannah mencekal lengan Alula, memintanya bangkit. Ia menatap koper yang dibawa Alula dengan perasaan bingung.Alula menggeleng, terus menangis, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.“Bukannya beberapa hari lalu kamu baru nikah? Apa suamimu menyakitimu? Mengusirmu?” tanya Jannah yang sudah diberitahu sebelumnya tentang pernikahan Alula. Namun, tidak diminta menjadi saksi pernikahan.Tangis Alula kian kencang. Bukan, bukan Yongki yang menyakitinya, tetapi ia yang mungkin telah menyakiti pria yang selama ini begitu baik dengannya tersebut. Wanita itu tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresi kecewa yang ditunjukkan Yongki jika n
Yongki hanya melihat sekilas ketika sang istri menggoda. “Bang.” Aruni mendekat, mengalungkan lengan di leher sang suami. “Ini masih siang, Run.” Yongki melepaskan tangan Aruni ketika wajah wanita itu mendekati wajahnya. Yongki paham, Aruni akan menciumnya. “Dari kemarin kamu terus mengabaikanku. Kenapa? Apa kamu masih kepikiran Alula?” Aruni meraba dada sang suami lembut. Ya! Yongki ingin berteriak kata itu di hadapan Aruni. Namun, ia tahan demi menjaga perasaan sang istri. Ia mencoba bersabar menghadapi Aruni. Menghapus pahatan perasaan tidak semudah menghapus tulisan di atas tanah. Ada pepatah yang mengatakan cinta bisa tumbuh pada pandangan pertama, tetapi melupakannya tidak semudah membuka mata. “Aku mau ada urusan. Mau mandi bentar, nanti mau ke laundry daerah Jalan Hayam Wuruk. Katanya, di sana setrikanya rusak.” Yongki beralasan. Ia mendorong pelan tubuh Aruni, lantas berjalan menuju lemari. Aruni kembali memeluk Yongki dari belakang. “Sentuh aku, Bang. Aku pasrahkan dir
Alula menunduk, berusaha abai dengan kedatangan Yongki. Ia mengikat kuat kasur busanya dengan tali rafia sampai tangannya terasa panas. Ia lampiaskan kekesalan, kekecewaan, dan sedihnya pada tali tersebut. Satu bulir air matanya lolos dan dihapus kasar. Ia belum berani menatap pria itu.“Harusnya aku marah sama kamu, memakimu. Tapi aku nggak bisa. Aku takluk dengan perasaanku sendiri saat melihatmu. Katakan, apa salahku sampai kamu menghilang kemarin?” Yongki kembali mencecar.Alula mempercepat berkemasnya. Semua buku sudah dimasukkan ke koper. Tinggal mengikat kasur agar mudah diboncengnya.“Alula, jangan diam saja!” Kali ini, suara Yongki meninggi. Ia mencekal lengan Alula, tetapi lekas ditepis kasar.“Lalu aku harus apa selain diam? Lalu aku harus apa saat keluarga tiriku menyuruhku pergi, membuangku sampai aku sekarat. Kamu malah menikahi orang yang selalu membuat hidupku menderita. Kamu pikir aku harus apa?” Sesuai perkataan Jannah, Alula memilih jujur.“Alula, apa maksudmu? Kamu
Alula mengesot menuju pintu, lalu membuka pintu itu sedikit kesusahan.“Tolong. Perutku sakit sekali,” ujarnya sambil menangis ketika tubuhnya sudah mencapai luar. Kebetulan ada orang yang lewat. Setelah itu, Alula tidak sadarkan diri.**Alula mencoba membuka mata. Ia merasa tubuhnya sakit semua. Wanita itu mendesis.“Alhamdulillah, kamu akhirnya sadar juga, Nak. Apa yang kamu rasakan? Bentar, Ibu panggil perawat.” Nur memekik.Alula meraba perut sambil menangis.“Apa anakku masih selamat, Bu?” Alula balik tanya.“Alhamdulillah masih selamat.” Sebuah suara menyahut, membuat Alula memalingkan wajah.Alula terus menangis. Wajahnya masih melengos, enggan menatap pemilik suara itu.Sementara Nur sudah pergi dari sana, mencari perawat untuk melaporkan Alula sudah sadar.Lutfan menyentuh tangan Alula yang tidak terpasang jarum infus, mengecupnya lembut. “Jangan pergi tanpa pamit kayak gini lagi, Sayang. Mas rasanya mau ma*ti.”Alula berusaha menarik tangannya, tetapi tidak berhasil. Air ma
Kehamilan yang dijalani Alula di trisemester pertama tidaklah mudah. Wanita itu mengalami morning sickness parah hingga berkali-kali masuk rumah sakit. Lutfan dengan setia dan sabar mendampingi sang istri.“Sayang, maaf sudah membuat kamu kayak gini,” ujar Lutfan sambil menyuapi Alula di rumah sakit.Ini sudah kesekian kali Alula dirawat di rumah sakit karena tubuhnya sangat lemas. Badannya pun makin mengurus.Pria itu pulang hanya untuk mandi dan ganti pakaian. Ia menghabiskan waktunya di rumah sakit setelah mengajar.“Nggak apa-apa. Aku menikmati masa-masa ini. Bukankah Allah memberi seribu kebaikan dan menghapus seribu keburukan pada wanita hamil?”Lutfan tersenyum.“Udah, Mas, enek.”Lutfan pun menyudahi suapan.“Aku yang minta maaf karena selama beberapa waktu ini, aku nggak bisa memenuhi kebutuhan biologis Mas.”Alula tahu betul kalau suaminya itu memiliki na*su yang menurutnya tinggi. Entah memang semua pria seperti itu atau tidak, Alula juga tidak tahu. Saat belum sakit dulu,
“Kami sudah resmi bercerai. Ini keputusan terbaik. Daripada kami saling menyakiti,” jawab Yongki sendu. “Jadi pernikahanmu benar-benar tidak bisa lagi dipertahankan?” Yongki menggeleng. “Sebenarnya bisa, Bung. Kamu saja yang tidak mau berusaha. Aruni itu wanita baik. Buktinya, dia tidak meninggalkanmu saat kamu dipenjara kemarin. Dalam pernikahan itu, yang penting ridho orang tua. Orang tuamu yang kulihat sangat menyayangi Aruni. Itu awal yang baik. Jungkir balik kamu mencintai seseorang kalau orang tua nggak ridho, nggak bakal berkah.” Lutfan sedikit mengingat ke belakang. Saat ibunya sudah rida, ia langsung bisa bertemu Alula. “Kamu bisa bilang seperti ini karena kamu menikahi Alula atas dasar suka, bukan terpaksa. Berat, Bung, rasanya berusaha mencintai. Aruni beda dengan Alula. Ibaratnya siapa pun yang dijodohkan paksa dengan Alula, pasti mudah jatuh cinta. Kalau Aruni, harus sabar menghadapi sikap buruknya. Kamu mau nyoba? Ayo tukeran istri.” Lutfan terkekeh. “Gila, enggak
“A-aku alhamdulillah baik,” jawab Alula gugup.Yongki mendekat. Namun, sebelum sampai di hadapan Alula, wanita itu memilih berlalu dari sana. Alula tidak ingin suaminya salah paham jika memergokinya.Alula kembali ke ruang tamu, duduk di samping Lutfan. Yongki menyusul setelahnya.Acara di sana adalah makan bersama. Alula juga belum tahu apa maksud Jasman melakukan itu.“Aku masih bingung ini ada apa,” bisik Alula pada sang suami.“Sama. Tapi Bu Jannah kayaknya sangat bahagia,” sahut Lutfan sambil menyuapi istrinya.“Trus katanya Aruni sama Mas Yongki mau cerai, tapi kenapa masih datang berdua ke sini?”“Mungkin sudah rujuk. Kenapa memangnya? Kamu cemburu?”“Dih, sorry. Suamiku lebih menggoda dan lebih menggigit daripada mantan.”Lutfan tergelak sampai tersedak. Alula memberinya minum.“Makanya, Mas, kalo makan jangan sambil ngomong.”“Kamu yang mulai.” Lutfan kembali menyuapi istrinya.Pandangan beberapa mata bergantian menyaksikan mereka.Setelah makan-makan dan membereskan sisanya,
“Bagian ini yang harus kamu revisi, Sayang. Bolak-balik Mas ingatkan. Jangan asal tulis. Buka buku, cari referensi yang lebih segar, yang lebih bermutu. Jangan itu-itu mulu,” omel Lutfan suatu hari saat membimbing skripsi sang istri di gazebo.Setelah sekian lama skripsi mangkrak, kini Lutfan memaksa Alula menggarapnya lagi.“Udah aku revisi, Mas. Emang Mas aja yang sensi banget sama aku. Disalahin terus. Benerin sendiri, kek. Jangan marah-marah mulu.” Alula tidak mau kalah.“Benerin itu perkara mudah. Skripsi ini anggap saja sebagai senjata. Kamu harus tahu asal-usul dan seluk-beluk senjatamu sampai kamu benar-benar paham. Apa kelemahannya, apa kelebihannya, kenapa begini, kenapa begitu, kamu harus tahu. Jadi, ketika perang nanti, kamu bisa memakai senjata ini sebaik-baiknya. Ketika ada serangan tiba-tiba dalam bentuk apa pun, kamu siap karena sudah menguasainya. Kamu paham, kan, maksud Mas? Perang yang dimaksud adalah ketika sidang skripsi nanti.” Lutfan mode serius.“Bu, Mas–“Belu
Lutfan membawa Alula dalam dekapan. “Sudah, Sayang, jangan diteruskan.”“Beruntung saat itu aku nggak dibuang sama Pak Jasman, tapi dititipkan di panti Bu Jannah. Setidaknya bapak saat itu masih punya nurani. Atau mungkin sebenarnya dia sudah punya ikatan batin denganku, tapi tidak mau mengakui atau lebih tepatnya menepis perasaan itu. Mungkin beliau sudah tahu aku ini anak kandungnya, hanya saja situasinya sangat tidak tepat. Coba kalau aku dibuang, mungkin aku jadi anak jalanan.”“Sayang, sudah. Jangan dibahas hal yang sudah lalu.”“Dari Bu Jannah, baru aku mendapatkan kasih sayang. Di panti, barulah aku merasa menjadi manusia seutuhnya. Temanku banyak, kadang uangku santunan juga banyak. Uang yang tidak pernah kudapat langsung dari ibu atau budhe. Tapi bagaimanapun juga, aku tetap merasa hampa. Kasih sayang Bu Jannah nyata, tapi tetap saja kadang suka iri melihat teman di sekolah bahagia bersama keluarga kandung mereka.”Alula meraup banyak oksigen, lalu mengembuskan panjang.“Labe
Alula lantas menuju ruang Lutfan setelah membayar makanannya. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berjalan dengan degup jantung menggila.“Assalamualaikum.” Alula masih berusaha formal. Ia mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.“Waalaikumussalam. Masuk!” titah Lutfan.Alula pun masuk. Lutfan melihat sekilas siapa yang datang.“Kunci pintunya, Sayang.” Lutfan kembali fokus pada layar laptop.Alula mengernyit. “Kenapa?”“Udah, tutup aja.”Alula pun menurut, mengunci pintu. Ia lalu berjalan dan duduk di hadapan sang suami.“Mas dapat kabarnya kapan?”“Barusan. Ini kamu buka coba WA-nya.” Pria berkacamata itu mengeluarkan ponsel dari saku. Sementara fokusnya pada laptop belum beralih.Alula mengulurkan tangan.“Ke sini, Sayang. Nggak sampai.”“Sampai, Mas aja yang nggak serius.”“Ke sini!”Alula berdecak, lalu bangkit menghampiri Lutfan. Tiba di dekat sang suami, Lutfan memundurkan kursi, lalu menarik tubuh Alula dalam pangkuan. Pria itu meletakkan ponselnya di meja.Alula langsung memekik.
“Sayang, ayo skripsinya dilanjut,” ucap Lutfan suatu hari ketika melihat Alula asyik dengan ponsel tengah duduk di ranjang.“Ini juga lagi berusaha lanjutin, Mas.” Alula belum mengalihkan pandang dari ponsel.“Apaan? Hapean gitu.” Lutfan mendekat.“Semua naskah skripsiku emang ada di ponsel. Aku, kan, nggak punya laptop.”“Kenapa nggak bilang dari dulu? Ya udah, sana pakai punya Mas.”“Serius?”“Huum.” Lutfan mengambil paksa ponsel Alula, lalu meletakkan di nakas.“Sini biar Mas kasih sesuatu dulu yang bikin kamu semangat.” Lutfan menatap Alula nakal.“Gini amat nasibku jadi mahasiswi. Harus melayani dosennya dulu. Boleh nggak, aku nyebut Mas itu dosen c*bul?”Lutfan tertawa. “Apa saja sebutanmu, Mas terima.”“Tapi janji kalo aku lanjutin, jangan banyak revisi. Kalaupun ada revisi, tolong Mas perbaiki langsung, trus ACC biar aku lekas sidang.”“Bisa dibicarakan.”Maka terjadilah yang terjadi.“Kapan aku wisuda, Mas. Kalau mau serius dikit aja kamu tubruk,” protes Alula setelah ibadah
Jasman, Aruni, dan Adi sikapnya berubah. Tidak sebenci dulu. Mereka merasa bersalah dan jatuhnya malah malu sendiri dengan kelakuan mereka yang pernah dilakukan pada Alula.Alula merawat mereka seperti tidak ada masalah apa-apa sebelumnya. Mereka juga tidak menolak dirawat, tetapi terkesan canggung.“La, aku minta maaf,” ujar Aruni tiba-tiba saat Alula membantunya berganti pakaian di kamar mandi. Aruni mengalami luka lecet lumayan luas di punggung dan lengan. Itu membuatnya kesulitan memakai baju sendiri.“Iya, aku juga minta maaf.”“Sebenarnya, kami pas kecelakaan itu mau mengacaukan resepsi pernikahanmu. Dari pagi kami mencari informasi di mana resepsimu dan baru dapat info malamnya setelah melihat unggahan pernikahanmu yang viral. Kami ingin mengatakan pernikahanmu tidak sah karena tidak memakai wali nasab di hadapan tamu. Tapi Allah menghentikannya.”Gerakan Alula berhenti. Namun, sesaat kemudian kembali meneruskan kegiatannya.“Aku tahu kamu bakalan syok mendengar semua ini. Tapi