Diana melangkah memasuki rumah mewah Lidia dengan wajah muram. Dalam benaknya, rencananya harus berjalan sempurna. Membuat Lidia marah dan bertindak impulsif adalah tujuan utamanya. Di ruang tamu, Lidia, ibu Danu, sedang duduk sambil menikmati teh sore. Tangannya memegang majalah fashion. Tanpa basa-basi, Diana duduk di hadapan Lidia. "Tante ...." Diana merengek membuat Lidia mendongakkan kepalanya dengan alis terangkat. Diana mendesah panjang, berpura-pura menahan tangis. Perlahan, dia menyibak rambut di sebelah kiri wajahnya, memperlihatkan pipi yang memar kebiruan. Lidia terkejut, ekspresinya berubah dari serius menjadi ngeri dan geram. “Astaga! Diana, kamu kenapa? Apa yang terjadi dengan wajahmu?” serunya, mencondongkan tubuh ke depan untuk melihat wajah Diana lebih dekat. Diana menunduk, suaranya terdengar tersendat, seolah benar-benar hancur. "Ini, Tante... Ini perbuatan Danu." “Apa?!” Lidia bangkit dari kursinya, matanya membelalak tak percaya. Dia mengenal Danu de
Di Rumah Sakit Semalaman, Danu tak bisa memejamkan mata. Hingga keesokan paginya, Danu terbangun dengan kepala yang berdenyut nyeri. Setelah kemarin malam tak berhasil membujuk Nandia. Namun, hari ini, Danu sudah memutuskan untuk kembali mengejar Nandia kembali. Dengan langkah mantap, Danu berangkat menuju rumah sakit lagi. Dia tidak peduli jika nanti Nandia akan mengusirnya atau memarahinya. Yang jelas, dia akan berusaha menebusnya. Semua dia lakukan demi Niel dan juga Nandia. Saat Danu tiba di rumah sakit dan membuka pintu kamar inap, Nandia sedang berbicara pelan dengan Niel yang mulai terbangun. Mata bocah itu masih berat, tapi ia masih bisa tersenyum. “Sayang, kamu lapar?” tanya Nandia lembut sambil membelai rambut anaknya. Niel mengangguk kecil. “Iya, Mama.” "Aku akan minta perawat bawa makanan, ya? Tunggu sebentar," kata Nandia sambil berdiri. Namun, begitu dia berbalik dan melihat Danu berdiri di pintu, senyumnya langsung memudar. “Kenapa kamu masih di sini?” nad
"Jenguk nggak ya?" Lidia mondar-mandir di ruang tamu rumahnya, hatinya tidak tenang. Semenjak Niel dibawa ke rumah sakit beberapa hari lalu, perasaan bersalah terus menghantuinya. Saat itu, dia sedang emosi hingga tanpa sadar menyakiti cucunya hingga harus dibawa ke rumah sakit. Untungnya, Danu bilang, Niel tidak apa-apa. Hari itu, saat mendengar dari Danu bahwa Niel sudah pulang, dan sekarang ada di rumah sang putra membuat rasa rindu dan cemasnya kian tak terbendung lagi. "Aku harus melihatnya." Setelah memastikan Nandia sudah pergi, Lidia pun memutuskan untuk mendatangi rumah sang putra. Dia tak ingin Nandia berada di sana ketika dia datang, karena gengsi masih menjadi tembok besar antara dirinya dan Nandia. Dengan cepat, Lidia menyiapkan tas berisi berbagai makanan kesukaan anak-anak. Coklat, susu, permen, biskuit—semua ia beli dengan harapan Niel akan menyukainya dan memaafkannya. Setidaknya, dia bisa menebus kesalahannya lewat hadiah ini. --- Sesampainya di rumah Danu, Lid
“Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Nandia dengan nada dingin, tatapannya tajam seperti belati. Lidia merasa canggung saat berhadapan dengan Nandia. Wajah Lidia berubah seketika. Senyum yang tadi ceria kini lenyap, digantikan ekspresi datar dan angkuh. “Aku hanya melihat Niel sebentar,” jawabnya singkat, suaranya terdengar kaku. Niel, yang tadi tertawa bahagia, kini bingung melihat perubahan mendadak pada Omanya. Ingin bertanya, tapi tak berani. Bocah kecil itu hanya berani bertanya dalam hatinya. “Oma... kenapa ngomongnya kayak gitu?” Lidia menunduk sejenak, lalu berdiri. “Oma harus pulang sekarang,” katanya cepat, tanpa menatap Nandia lagi. Gengsi jika Nandia mengetahui dia merasa bersalah pada Niel “Kenapa Oma pergi?” tanya Niel dengan nada kecewa. “Tadi Oma baik sama Niel…” Nandia, yang sudah berusaha menahan emosinya, akhirnya tak bisa lagi. Dia meletakkan kantong belanja di atas meja dengan keras dan menatap Lidia dengan penuh amarah. Ingin mengumpat, tapi Lidia keb
"Diana bagaimana ini? Aku tadi mendorong anak itu hingga kepalanya terluka. Apa yang harus aku lakukan? Danu pasti marah padaku kalau sampai terjadi apa-apa pada anak itu." curhat Lidia pada Diana, calon menantunya. Diana tampak berpikir, ini adalah kesempatan emas bagi Lidia untuk bisa mengambil hati Danu lewat Niel. Jika Danu melihat ibunya sangat menyayangi Niel, tentu lelaki itu akan menuruti apapun perintah ibunya, termasuk segera menikahkan dia dengan Danu. "Tante, momen ini bisa Tante manfaatkan dengan berpura-pura baik pada Niel. Buat seolah Tante menyesal dengan apa yang telah Tante lakukan. Buat Danu percaya, kalau Tante sangat menyayangi Niel. Dengan begitu, hubungan Tante dan juga Danu akan membaik. Kalau sudah begitu, Danu pasti akan menuruti semua omongan Tante," nasehat Diana kala itu. Lidia terdiam. Apa yang Diana katakan memang benar. Namun, meskipun Diana tidak berkata seperti itu, Lidia memang ingin menjenguk bocah itu. Dia merasa bersalah karena telah memperl
Lidia mendengus sinis. “Kau peduli pada Niel, atau hanya pada egomu, Diana?” Pertanyaan itu membuat Diana terpaku di tempat. Rahangnya mengeras, dan dia menatap Lidia dengan marah. “Tante tahu betul bahwa aku mencintai anak itu! Aku melakukan semua ini untuk masa depannya!” “Tidak.” Lidia menggeleng pelan. “Kau melakukan ini karena kau ingin Danu kembali padamu. Kau pikir dengan mendapatkan Niel, kau bisa mengikat Danu?” Diana merasa seolah seluruh tubuhnya terbakar amarah. Dia mencengkeram lengan Lidia, matanya menyala penuh kebencian. “Jangan mencoba menilai apa yang ada di dalam hatiku, Tante Lidia! Tante tidak tahu apa-apa!” Lidia menatap tajam Diana. Baru kali ini dia tahu sifat asli Diana. Wanita itu bahkan tega menyakitinya saat ini.“Justru aku tahu terlalu banyak,” jawab Lidia datar. “Dan karena itulah aku tidak akan melanjutkan rencana ini.” Diana melepaskan cengkeramannya dengan kasar, berusaha menenangkan dirinya. “Tante-” ingin sekali dia mengumpatnya. Namun, seba
Hujan semakin deras ketika Diana tiba di depan gedung kantor Danu. Air mengalir deras di jalanan, membentuk genangan kecil di trotoar. Sesekali kilat menyambar, membuat langit malam tampak seolah retak. Diana memarkir mobilnya dan menarik napas panjang sebelum keluar. Kakinya terasa berat, seolah menolak untuk bergerak. Dia tahu apa yang akan terjadi. Danu pasti marah besar karena Lidia telah mengatakan rencananya pada lelaki itu. Namun, ada secercah harapan di hatinya: Jika Danu mau bertemu dengannya, berarti masih ada kesempatan baginya. Diana berusaha memasang wajah tenang saat berjalan melewati pintu kaca besar menuju lift. Pikirannya terus berputar—mencari-cari alasan dan cara untuk meyakinkan Danu. --- Di Dalam Ruang Kerja Danu Danu berdiri di depan jendela besar, menatap kota yang dibasahi hujan. Punggungnya tegap, kedua tangannya bersedekap. Dia tidak menoleh saat Diana masuk. Tapi, dia bisa merasakan wanita itu telah duduk di sofanya. “Danu...” Diana membuka perca
Kantor Danu Pintu ruang kerja Danu terbuka dengan bunyi lembut. Lidia, ibunya, masuk tanpa mengetuk, dengan raut wajah penuh penyesalan. Danu sedikit bingung dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba. “Danu, kita perlu bicara,” kata Lidia, suaranya rendah dan penuh rasa bersalah. Danu menatap ibunya dengan dingin. “Ada apa, Ma?” Lidia menghela napas dalam-dalam. “Sebelumnya, mama minta maaf. Kemarin, saat mama mendorong Niel hingga kepalanya berdarah, DIana datang menemui mama. Dan dia mengatakan semua rencananya, supaya hak asuh Niel bisa jatuh ke tanganmu. Semula, mama menurutinya, mama datang ke rumahmu, sesuai rencana kami. Namun, saat mama bermain dengan Niel semua terasa hilang begitu saja. Dan mama merasakan kehangatan saat bersamanya. Mama tahu, mama salah. Diana... dia membohongi mama. Mama pikir ini demi kebaikanmu dan Niel. Tapi, mama salah besar.” Danu menyandarkan tubuhnya ke kursi, melipat kedua tangan di dada. “Jadi kalian pikir menghancurkan pernikahanku denga
Enam bulan kemudian ..."Mas, sepertinya, aku akan melahirkan," teriak Nandia saat Danu akan memulai kegiatan panasnya."Sayang, kamu jangan bercanda. Aku belum mulai nih," keluh Danu saat lelaki itu mencumbu istrinya.Nandia mendorong tubuh sang suami. "Mas, aku beneran. Ketubanku sudah pecah!""Apa!"Danu pun segera memakaikan pakaian di tubuh sang istri. Setelah itu memakai pakaiannya sendiri. Dia lalu menggendong sang istri kemudian berteriak pada sopir untuk menyiapkan mobilnya.Mobil pun segera melaju ke rumah sakit tempat Nandia periksa kandungan. Danu sudah menelepon pihak rumah sakit agar dokter kandungan Nandia sudah stand by disana saat mereka tiba di rumah sakit.Tak lama kemudian, Danu sudah sampai di rumah sakit. Nandia langsung dibawa ke ruang bersalin. Danu pun mengikutinya dari belakang.Danu ingin masuk ke dalam, tapi dilarang oleh perawat. Ternyata, air ketuban Nandia telah habis. Akan sangat menyakitkan jika Nandia memaksa melahirkan secara normal.Dengan terpaks
“Reihan, Tasya tidak akan melarikan diri. Jadi, kamu jangan gugup seperti itu,” ujar Danu yang bermaksud menghibur sepupunya.Reihan hanya tersenyum kecut melihat candaan Danu yang sama sekali nggak lucu itu."Kamu nggak usah menasehatiku! Kamu nggak tahu bagaimana rasanya menikah. Ohh iya, aku lupa, kamu dulu menikahi Nandia dengan terpaksa ya, jadi tidak merasa gugup sama sekali, yang ada, kamu malah kesel karena menikah dengannya." Reihan membalasnya dengan sindiran membuat Danu langsung memukul saudara sepupunya dengan tongkat penyanggah kakinya.Kedua saudara sepupu itu memang seperti tom and jerry jika bertemu. Meskipun, jauh di dalam lubuk hati, mereka saling menyayangi. Buktinya, meski keadaannya belum sehat, danu memaksakan hadir di pernikahan saudara sepupunya.Bukannya mengaduh kesakitan, Reihan justru tertawa kecil, sambil menggelengkan kepala. “Aku hanya bercanda. Meski aku belum mencintai Tasya, tapi aku ingin memastikan semuanya sempurna untuknya.” “Percayalah, Tasya h
"Mike, kamu datang?" tanya Nandia yang kaget saat melihat Mike tiba-tiba berdiri di depan ruangan Danu. Lelaki itu memancarkan senyum manis menatap wanita yang hingga saat ini menempati tahta tertinggi di hatinya. "Aku ingin melihatmu Nandia. Sudah lama kamu tidak ke kantor, sekaligus, membawa file yang harus kamu tandatangani, dan ... aku ingin bicara serius denganmu." "Sebentar ya Mike, aku masih harus membersihkan bekas mandi Danu dulu. Danu tidak nyaman jika dimandikan oleh perawat" Mike berdiri memandangi Nandia yang sedang membawa air bekas mandi Danu ke kamar mandi . Hatinya terasa berat, tapi ia tahu bahwa sudah tidak ada lagi kesempatan baginya. Dan sekarang, saatnya dia harus pergi. Danu memerhatikan Mike dari sudut matanya, merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan pria itu. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Nandia berbalik dan menghampiri Mike. “Mike, ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Nandia, tersenyum lembut. Mike mengangguk, lalu memberi isyarat agar mer
Nandia masih gemetar setelah insiden mengerikan itu. Dia duduk di sofa kecil di sudut ruangan, ditemani Galih dan Kakek Anggara. Meski tubuhnya lelah, pikirannya terus berpacu. Tatapan penuh kekhawatiran menghiasi wajahnya saat memandangi Danu yang masih terbaring lemah di ranjang dengan alat-alat medis yang membantu kehidupannya. “Jadi, pria itu mengincar Danu?” tanya Kakek Anggara dengan suara berat, matanya menatap tajam ke arah Galih. “Ini jelas bukan kebetulan.” Galih, yang sejak tadi tampak gelisah, mengangguk pelan. “Betul, Kek. Dia bukan orang biasa. Dari identitas yang kami dapat, dia bernama Reno, mantan kekasih Diana. Ini bukan pertama kalinya dia berurusan dengan hal-hal berbahaya.” Mendengar itu, Nandia langsung menatap Galih dengan mata melebar. “Mantan kekasih Diana? Jadi... ini semua ada hubungannya dengan Diana? Tapi, dia sudah dipenjara. Bagaimana mungkin?” Galih menghela napas berat. “Kita belum tahu sejauh apa keterlibatan Diana. Tapi dari pengakuan sementa
“Aku akan sembuh… demi kamu… demi anak-anak kita…” Nandia mengangguk penuh keyakinan. Dalam hatinya, ia tahu bahwa perjuangan mereka belum selesai, tetapi dengan kehadiran Danu di sisinya, ia merasa mampu menghadapi segalanya. --- Di luar kamar, suara malam perlahan mereda. Namun, di dalam ruang VVIP itu, cinta dan harapan kembali tumbuh. Nandia menggenggam tangan Danu erat, bersumpah dalam hatinya untuk melindungi keluarga kecil mereka dengan segenap tenaga. Di sisi lain, Lidia tersenyum sambil memandangi mereka dari kejauhan, yakin bahwa mukjizat ini adalah awal dari lembaran baru untuk mereka semua. Nandia kembali duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Danu yang masih lemah. Rasa syukur yang sempat membanjiri hatinya kini bercampur dengan kecemasan, terutama setelah mendengar bisikan samar Danu sebelum tak sadarkan diri lagi. Namun, ia mencoba menenangkan dirinya. Beberapa saat kemudian, pintu kamar VVIP itu terbuka perlahan. Seorang pria berpakaian putih lengkap denga
"Danu, kamu harus bangun Danu! Aku mencintaimu!" Tubuh Nandia bergetar hebat saat ia memeluk Danu, mencoba membangunkan suaminya yang tak lagi memberikan respons. Air matanya membasahi baju rumah sakit Danu yang terasa dingin. Monitor jantung di samping tempat tidur masih menunjukkan garis lurus yang menandakan Danu telah pergi untuk selamanya. “Danu, bangun! Aku butuh kamu… Niel butuh kamu…dan anak yang aku kandung ini juga butuh kamu,” isaknya putus asa. Tangannya yang gemetar terus mengguncang tubuh Danu, berharap ada keajaiban dan sang suami bangun kembali. Namun, tubuh itu tetap tak bergerak. Di sudut ruangan, Niel masih berdiri kaku, matanya terus menatap tubuh ayahnya. Lidia, yang berada di sampingnya, hanya bisa memeluk cucunya erat, berusaha memberikan ketenangan meski hatinya juga remuk redam. “Papa nggak akan bangun lagi ya, Oma?” bisik Niel dengan suara kecil, penuh ketakutan. Lidia mengusap kepala Niel, berusaha menahan tangis. “Kita berdoa saja ya, Sayang. H
Di ruang perawatan VVIP, suasana penuh keheningan yang menyayat hati. Monitor jantung Danu berbunyi lemah, menunjukkan garis naik turun yang semakin lambat. Nandia duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangan suaminya yang dingin. Air matanya tak pernah berhenti mengalir sejak Danu mengalami penurunan tadi. Meski kondisinya masih lemah. Dia tak ingin kehilangan momen bersama suaminya. Di sudut ruangan, Niel berdiri dekat Lidia, wanita paruh baya itu benar-benar sudah berubah. Sedari kemarin, dia merawat Nandia hingga kondisinya membaik. Wajah Lidia pun terlihat cemas, sementara tangannya memegang bahu Niel yang gemetar. “Nandia, kamu harus makan sesuatu. Kamu nggak bisa terus seperti ini,” ujar Lidia pelan, mencoba membujuk menantunya. Namun, Nandia menggeleng dengan lemah. “Aku nggak bisa, Ma. Aku nggak akan meninggalkan Danu, walaupun hanya sedetik.” Lidia menghela napas panjang. "Nandia, kamu harus makan, demi bayi yang ada dalam kandunganmu. Dia butuh asupan makanan untu
Di Rumah Sakit Saat ambulan tiba di rumah sakit, dokter langsung membawa Danu ke ruang operasi. Karena saat berada di dalam ambulan, dokter jaga sudah memeriksa keadaan Danu. Nandia mengikuti brankar Danu dari belakang sambil menggendong Niel. Meski bocah itu tak mau digendong, tetapi Nandia tak tega. Apalagi, saat melihat luka di leher dan juga di pipi sang putra. Meskipun sudah diobati saat di ambulan tadi, tetap saja, Nandia merasa bersalah karena tidak mampu melindungi putranya. Pintu ruang operasi tertutup rapat, di atasnya lampu merah menyala, menandakan operasi Danu sedang berlangsung. Waktu terasa berjalan begitu lambat. “Mama, apa Papa akan baik-baik saja?” tanya Niel, suaranya serak. Nandia mengelus kepala putranya dengan lembut, meski hatinya penuh kecemasan. “Papa kamu kuat, Niel. Dia pasti akan bertahan.” Niel hanya menganggukkan kepalanya. Matanya terus menatap pintu ruangan operasi. Rasa khawatir pada sang ayah begitu besar. Beberapa saat kemudian, dokter
Wajah Danu tetap datar, meskipun di dalam hatinya ingin rasanya dia menghancurkan pintu itu. "Tunggu aba-abaku," katanya dingin. Namun, di dalam gudang, Andra mulai merasa ada yang aneh. "Hei, kau dengar sesuatu?" tanyanya pada salah satu pria. "Apa maksudmu?" Andra melangkah ke arah pintu, mencoba memastikan, tetapi saat itu juga Danu memberi isyarat. "Sekarang!" Pintu gudang diterjang oleh salah satu anak buahnya, dan kelompok itu langsung menyerbu masuk. Tembakan peringatan dilepaskan ke udara, membuat semua orang di dalam panik. "Andra!" suara Danu menggema di ruangan itu. "berani kau menyentuh anakku, dan aku akan memastikan kau tak punya tempat untuk bersembunyi." Andra tertegun, tetapi ia segera mengambil pistol dari pinggangnya. "Berhenti di situ, Danu, atau anakmu akan meninggal!" ancamnya, mengarahkan pistol ke kepala Niel. Niel menatap Danu dengan tenang, seolah tahu bahwa ayahnya tak akan kalah dalam situasi ini. "Lepaskan dia," ucap Danu, suaranya rendah