Radha berdiri mematung, matanya bergantian menatap Krisna dan Saga yang kini saling berhadapan dengan ketegangan yang hampir bisa disentuh. Krisna menyeringai tipis, tangannya melipat di dada, matanya tajam menusuk ke arah Saga. “Kebetulan sekali kau ada di sini, Saga. Rasanya jadi lebih mudah untuk menyelesaikan semuanya,” ujar Krisna dengan nada sarkas. “Aku bahkan tidak perlu repot-repot mencarimu ke tempat lain.” Saga tetap berdiri tenang, menatap Krisna tanpa ekspresi berlebihan. “Aku tidak tahu apa yang kau maksud, Krisna. Tapi kalau ini soal Radha, sebaiknya kau jangan membuat keributan di sini.” Krisna tertawa pendek, sarkastis. “Apa kau pikir aku butuh nasihat darimu?” Saga tidak terpancing. Ia hanya berdiri tegap, menatap Krisna tanpa ekspresi. Tapi ketenangan itu justru membuat Krisna semakin gelisah. “Sudahlah,” Krisna mendesis, melangkah lebih dekat dengan nada mengejek. “Kau di sini karena ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, bukan? Tapi biarkan aku me
BUGH! Saga tak tahan lagi. Tinju kerasnya melayang tepat ke wajah Krisna, membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah. Mata Saga berkilat penuh amarah, dadanya naik turun dengan napas memburu. “Jaga mulutmu, Krisna! Kau sudah melewati batas!” Krisna mengusap sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah, lalu menyeringai. “Sudah aku duga, kau memang menyimpan perasaan untuk Radha sejak dulu. Iya ‘kan? Berlagak menjadi dewa penolongnya, tapi sebenarnya kau punya hasrat lain untuknya! Cuih! Apa aku harus berterima kasih padamu karena sudah menjadi pria yang selalu berada di sisinya?” “Diam kau, Krisna!” Saga melangkah maju dengan kepalan tangan siap menghantam. “Aku sudah cukup sabar dengan semua omong kosongmu. Kau pikir aku akan diam saja kali ini setelah mendengar kau menghina Radha dan juga ibuku?!” Krisna mendengus. “Ah, benar. Ibumu. Wanita yang tidak tahu malu itu? Berusaha menjebak ayahku dengan tidur dengannya agar bisa menjadi nyonya besar di keluarga Harlingga. Lalu karen
"Ini tidak mungkin. Kak Saga tidak pernah melakukan itu...," suara Radha bergetar, berusaha keras menjaga ketenangannya. Saga yang berdiri di samping Radha tampak lebih tenang, meskipun sorot matanya tajam penuh emosi yang tertahan. "Pak, saya yakin ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Memang benar ada perkelahian antara saya dan Krisna, tapi mengenai laporan yang diajukan oleh Krisna tentang saya melakukan pelecehan terhadap Radha, itu sama sekali tidak benar." “Benar, Pak,” Radha turut membela Saga, dengan membenarkan ucapannya. “Laporan itu sama sekali tidak benar. Ini sebenarnya hanya masalah internal keluarga kami.” Petugas polisi yang memimpin tampak menghela napas panjang. "Kami hanya menjalankan tugas, Nyonya. Jika ada hal yang ingin disampaikan, silakan sampaikan di kantor. Tapi kami harus tetap membawa Tuan Saga sekarang." “Tapi, Pak ....” Radha mencoba menahan para petugas polisi itu selama mungkin untuk membiarkan dirinya menjelaskan lebih detail mengenai apa yang terj
“Ini tentang pernikahanmu... dan Nindy.” Perlahan, Krisna berbalik, sorot matanya tajam menusuk ke arah ibunya. “Mama tidak serius, kan?” suaranya terdengar rendah, nyaris berbisik namun penuh tekanan. Gayatri mengangguk mantap. “Mama sudah membicarakan ini dengan papamu. Setelah kau menceraikan Radha, Mama ingin kau menikah dengan Nindy.” Ruangan terasa hening seketika. “Pernikahan ini sudah terlalu lama tertunda, Krisna,” lanjut Gayatri. “Kau dan Nindy, harusnya sudah menikah sejak dulu. Tapi kakekmu, entah kenapa tiba-tiba saja memutuskan untuk membawa wanita miskin itu ke dalam keluarga kita.” Namun sebelum Gayatri bisa melanjutkan, Krisna menatap lurus ke arahnya, dingin dan penuh peringatan. “Aku tidak akan menikah dengan siapa pun, Ma,” tegas Krisna. Kedua alis Gayatri saling bertaut, keheranan. “Kenapa? Bukankah kalian saling mencintai? Lalu apa yang salah? Atau jangan-jangan kau sudah mulai menaruh hati pada wanita itu?” Krisna tak menjawab. Dia hanya berdiri mematu
Sidang perceraian pertama Radha baru saja berakhir. Sang hakim mengetuk palu, menandai keputusan untuk melanjutkan proses ke pertemuan berikutnya seminggu lagi untuk proses mediasi. Ruang sidang yang semula terasa tegang kini perlahan-lahan mulai kosong. Radha menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih terasa begitu cepat. Langkah pertama untuk berpisah dari Krisna telah berhasil dilewati Radha. Meski tadi saat persidangan berlangsung, ia sempat gugup. Tangannya gemetar saat diminta untuk memberikan jawaban kepada hakim, namun karena telah mendapatkan arahan langsung dari Pak Arman, Radha bisa mengatasinya dengan tenang. Kini, yang menjadi pertanyaannya adalah, apa yang akan terjadi di pertemuan selanjutnya? Pak Arman, yang baru saja selesai merapikan berkas-berkas di mejanya, mendekat ke arah Radha. Dengan senyum tipis, ia berkata, "Bagus sekali, Nyonya Radha. Apa yang Anda lakukan tadi sudah sangat baik. Anda berhasil menyampaikan pendapat Anda denga
Setelah memantapkan hatinya, Radha melangkah keluar dari kantor polisi dengan perasaan yang masih penuh keraguan. Radha memikirkan bagaimana reaksi Krisna saat melihatnya nanti. Apakah Krisna akan kembali marah padanya? Atau mungkin lebih buruk lagi, dengan tetap bersikap dingin seperti biasanya? Hingga akhirnya, taksi yang Radha pesan pun datang.Saat tiba di rumah Krisna, Radha menemukan suasana di sekelilingnya tampak begitu sunyi. Biasanya, ketika Radha masih tinggal di rumah itu, beberapa penjaga dan juga pelayan akan menyambut kedatangannya. Tapi kenapa sekarang malah tidak terlihat satu orang pun? “Apa Krisna menyuruh mereka semua pergi, ya?” Radha bertanya-tanya dalam hati. Ia meneruskan langkahnya mendekati bangunan super mewah yang ada di hadapannya. Sebuah rumah megah yang terlihat seperti istana, kini tampak kosong seakan-akan tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Dengan hati-hati, Radha membuka pintu depan dan melangkah masuk. Suara langkah sepatunya menggema
“Tidak peduli apa yang kau pikirkan, tapi kau tidak berhak mempertanyakan hubungan apa pun antara aku dan Kak Saga, ketika kau sendiri tidak tahu menjaga batasanmu dengan Nindy!”Krisna mendengus keras, wajahnya kembali mengeras seperti batu. Dengan sorot mata tajam, ia menatap Radha yang masih berusaha menenangkan napasnya setelah insiden barusan.“Sudah aku katakan, jangan pernah membawa-bawa nama Nindy dalam masalah ini, Radha,” ujar Krisna dingin. Suaranya terdengar datar, tetapi mengandung nada ancaman yang sangat jelas. “Kalau ingin membela dirimu sendiri, lakukan tanpa melibatkan orang lain. Nindy bukanlah wanita menjijikkan seperti dirimu. Dia jauh lebih bisa menjaga dirinya daripada kau yang dengan mudahnya tidur bersama pria lain yang bukan suaminya sampai hamil seperti ini.”Radha membelalakkan mata mendengar tuduhan itu. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Jangan pernah bandingkan aku dengan wanita itu, Krisna! Dia tahu kau sudah menikah, tapi tetap menempel padamu dengan
Krisna menutup telepon dengan gerakan tegas, nada dingin Saga masih terngiang di telinganya. Ia menghela napas panjang, meraih sebotol wiski yang berada di meja kerjanya, namun tak sempat meneguknya karena perasaan gelisah yang tiba-tiba menghantamnya. Tanpa sepatah kata, Krisna melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan langkah lebar, meninggalkan Radha yang masih berdiri di sana dengan tatapan penuh tanya. "Kau mau pergi ke mana?" Radha berlari kecil mengikuti Krisna. "Pembicaraan kita masih belum selesai." Krisna tak mengindahkan ucapan Radha. Ia terus berjalan, membiarkan wanita itu berusaha mengejar langkahnya. Raut wajahnya yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa pun, selaras dengan sikap dinginnya yang seolah jelas menunjukkan bahwa kehadiran Radha di sampingnya tidak lebih dari sekedar angin lalu baginya. Namun Radha tidak menyerah. "Krisna, niatku datang ke sini untuk berbicara baik-baik denganmu. Aku ingin membahas tentang laporan yang kau ajukan pada Kak Saga. Tap
“Kau bertanya karena ingin tahu, atau ingin cepat-cepat menemui kekasih gelapmu itu?” sindir Gayatri dengan nada penuh keangkuhan. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu, termasuk Baskara dan Mega, menatapnya dengan ekspresi terkejut. Hanya Nindy yang tampak biasa saja. Bahkan ada senyum tipis yang terukir di bibirnya, seolah menunggu reaksi yang akan diberikan Saga. Saga mengepalkan kedua tangannya, menahan gejolak amarah yang mulai merayapi dadanya. Ia menatap Gayatri dengan sorot mata tajam. “Tolong jangan mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak benar tentang hubungan saya dan Radha.” Gayatri mendengus sinis. “Tidak benar, katamu?” Ia melipat kedua tangannya di dada. “Jadi, menurutmu, kepedulianmu yang berlebihan terhadap Radha itu hal yang wajar? Jangan munafik, Saga. Aku sudah melihat bagaimana kau yang selalu berada di sisinya tiap kali dia bermasalah dengan suaminya. Bahkan caramu menatap Radha, aku bisa tahu bahwa ada sesuatu di antara kalian berdua. Jangan kira ak
Gayatri mengepalkan jemarinya dengan erat, menahan amarahnya yang meluap-luap. Napasnya terdengar memburu, wajahnya memerah, dan matanya menyorotkan kemarahan yang tidak bisa lagi terbendung. “Berani-beraninya Krisna menutup telepon Mamanya sendiri!” batin Gayatri, geram."Apa yang terjadi?" Suara berat dan penuh wibawa khas milik Baskara terdengar dari belakangnya. Pria itu baru saja keluar dari kamar tempat Kakek Felix beristirahat. Wajahnya terlihat lelah dan cemas. "Apa kau sudah memberi tahu Krisna tentang kondisi Ayah?"Gayatri menoleh dengan ekspresi jengkel. "Tentu saja, Mas! Aku juga sudah menyuruhnya untuk segera pulang. Tapi dia justru membantahku dan bersikeras untuk tetap menemani Radha. Kata Krisna, wanita itu pingsan!" Nada suaranya penuh kejengkelan dan ketidakpercayaan.Baskara mengernyit. "Radha pingsan?""Iya, Mas! Dan Krisna membawanya ke rumah sakit. Seolah-olah itu lebih penting daripada kondisi kakeknya sendiri!" Gayatri mendengus sinis. "Aku sudah menduga wani
Krisna terperangah. Napasnya tercekat saat melihat tubuh Radha ambruk ke tanah tanpa daya. Untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Pikirannya kosong dan tubuhnya membeku. Tetapi detik berikutnya, tanpa sadar, ia sudah berlari ke arah wanita itu."Radha!" Krisna berlutut di sampingnya, tangannya terulur untuk menyentuh wajah Radha yang pucat pasi. Dada wanita itu naik turun tak beraturan, napasnya tersengal-sengal, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Krisna menarik tangan Radha dengan erat, membawanya keluar dari ruangan yang penuh dengan kekacauan. Langkahnya cepat, hampir menyeret Radha yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Napasnya memburu, sementara pikirannya berputar liar, mencoba memahami mengapa dia tiba-tiba merasa perlu melindungi Radha. Radha hanya bisa menurut, mengikuti Krisna dengan langkah goyah. Jantungnya masih berdegup kencang, kepalanya pening akibat kilatan kamera dan suara-suara menghakimi yang terus terngiang di telinganya. Namun, genggaman tangan Krisna yang kuat seolah memberinya perlindungan di tengah badai yang mengamuk. Mereka terus berjalan hingga mencapai taman belakang gedung, jauh dari sorotan kamera dan kerumunan orang-orang yang menggila serta haus akan berita penuh sensasi dari salah satu anggota keluarga Harlingga. Saat akhirnya Krisna melepaskan genggamannya, Radha terhuyung sedikit ke belakang. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. “Apa... yang baru saj
Radha berdiri terperangah di tengah kerumunan wartawan yang tak kenal ampun. Kilatan kamera terus menyambar wajah Radha dan menyilaukan matanya. Suara-suara tajam dan penuh desakan dari wartawan pun turut menusuk telinganya, membuat kepalanya berdengung tanpa henti. “Nyonya Radha, benarkah Anda telah menggugat cerai Tuan Krisna?” salah satu wartawan melemparkan pertanyaan dengan nada mendesak. “Apakah benar penyebabnya adalah orang ketiga?” yang lain menambahkan tanpa memberi waktu bagi Radha untuk menjawab. Sebuah mikrofon mendekat dari arah lain, “menurut informasi yang kami terima, Anda memiliki hubungan tersembunyi dengan seorang pria dari keluarga kaya. Bisakah Anda memberi klarifikasi tentang itu?” “Dan apakah benar Anda tengah mengandung anak dari pria tersebut?” pertanyaan terakhir dilontarkan dengan nada yang lebih tajam dan mengintimidasi. Radha hanya bisa membeku, tubuhnya terasa seolah kehilangan tenaga. Kilatan kamera yang terus-menerus membuat pandangannya semakin
Krisna menegang sesaat. Kata "sayang" yang diucapkan Radha dengan nada menggoda seolah nyaris menghantam benteng pertahanannya. Mata hitamnya menatap wanita di sampingnya yang kini tersenyum manis seakan benar-benar menikmati perannya. "Apa kau sangat menikmatinya?" gumamnya pelan. Radha tertawa kecil. "Bukankah kau sendiri yang menyuruhku bersikap layaknya istri yang baik?" Krisna hanya mendengus dan menatap lurus ke depan. Langkahnya mantap saat memasuki gedung mewah tempat acara amal berlangsung. Sejak mereka muncul di pintu masuk, mata para tamu undangan yang ada di dalam ruangan itu, kompak tertuju pada mereka. Bisik-bisik di antara mereka pun mulai samar terdengar. "Oh, lihat itu! Mereka datang!" “Astaga, aku pikir ini seperti acara pengobatan raja dan ratu. Mereka berdua terlihat sangat menawan!” “Aku hanya mendengar bahwa menantu perempuan mereka sangat cantik, dan ternyata itu benar.” “Rasanya beruntung sekali bisa datang ke tempat ini. Bisa melihat wajah tampan cuc
“Seberapa berpengaruhnya dia?” Andre tersenyum tipis, tetapi kali ini senyumnya lebih dingin. “Cukup untuk bisa masuk ke dalam lingkaran bisnis kelas atas tanpa harus membawa nama Harlingga. Dan cukup untuk membuat banyak orang bertanya-tanya… siapa sebenarnya yang berdiri di belakangnya.” Aresha membatu seketika. Jadi, Joshua bukan hanya sekadar putra Baskara yang tersembunyi. Dia lebih dari itu. Dia seseorang yang memiliki kekuatan, pengaruh, dan—kemungkinan besar—rencana tersendiri. Ini jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. “Jika kau ingin tahu lebih banyak, aku bisa menyelidikinya lebih dalam,” tawar Andre. Aresha menghembuskan napas panjang. “Kalau begitu lakukanlah.” Andre mengangguk, lalu bangkit. Sebelum pergi, ia menatap Aresha dengan pandangan tajam. “Tapi Aresha, aku sarankan satu hal.” “Apa?” “Berhati-hatilah.” Suaranya rendah, nyaris seperti peringatan. “Joshua bukanlah orang yang bisa disentuh dengan mudah.” Aresha hanya tersenyum kecil. Namun di dalam hatin
Aresha merasakan detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Kata-kata yang baru saja keluar dari bibirnya menggantung di udara, menciptakan keheningan yang memekakkan telinga. Joshua adalah putra lain dari Baskara. Jika itu benar, berarti… dia dan Joshua memiliki darah yang sama. Perutnya terasa mual. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, meskipun udara di sekitar masih dikuasai angin sepoi-sepoi yang seharusnya menenangkan. Tetapi dirinya sama sekali tidak bisa tenang dengan kondisi pikirannya yang kacau balau saat ini. “Saga,” bisiknya, mencoba memastikan kembali. “Apa kau benar-benar yakin dengan apa yang kau ucapkan barusan? Barangkali saja yang kau maksud adalah Joshua yang lain?” Di seberang telepon, suara Saga terdengar lebih berat, seolah ia sendiri belum siap menerima kenyataan ini. “Ya, aku juga tidak menutup kemungkinan akan hal itu,” katanya pelan. “Tapi tetap saja, Aresha. Tidak ada salahnya untuk bersikap waspada terhadap segala hal yang bisa menghancur
Aresha mengedarkan napas perlahan, menyembunyikan keterkejutannya di balik senyum tipis yang tak terbaca. Namun, tatapannya menajam, menyelidik pria yang berdiri di hadapannya. Joshua. Nama yang terdengar asing, tetapi caranya berbicara seolah ia tahu lebih banyak daripada yang seharusnya. Sorot matanya yang tajam, tak menunjukkan sedikit pun celah yang bisa dimanfaatkan Aresha. Dia jelas bukanlah orang biasa. Aresha menggeser sedikit berat badannya ke satu sisi, menyilangkan tangan di depan dada, seolah percakapan ini bukan hal besar baginya. “Aku tak tahu siapa yang memberimu informasi, tapi aku rasa kau sedang salah paham, Tuan Joshua,” ujarnya, suaranya tetap ringan namun berhati-hati. Joshua tersenyum kecil, seolah mengapresiasi usaha Aresha untuk tetap tenang. "Salah paham?" ulangnya, seakan mengecap kata itu di lidahnya. "Apakah itu benar? Aku rasa aku tidak mungkin salah." Aresha tertawa pelan, seolah menertawakan ketidakmasukakalan kata-kata pria itu. Namun, hatinya be