“Tidak peduli apa yang kau pikirkan, tapi kau tidak berhak mempertanyakan hubungan apa pun antara aku dan Kak Saga, ketika kau sendiri tidak tahu menjaga batasanmu dengan Nindy!”Krisna mendengus keras, wajahnya kembali mengeras seperti batu. Dengan sorot mata tajam, ia menatap Radha yang masih berusaha menenangkan napasnya setelah insiden barusan.“Sudah aku katakan, jangan pernah membawa-bawa nama Nindy dalam masalah ini, Radha,” ujar Krisna dingin. Suaranya terdengar datar, tetapi mengandung nada ancaman yang sangat jelas. “Kalau ingin membela dirimu sendiri, lakukan tanpa melibatkan orang lain. Nindy bukanlah wanita menjijikkan seperti dirimu. Dia jauh lebih bisa menjaga dirinya daripada kau yang dengan mudahnya tidur bersama pria lain yang bukan suaminya sampai hamil seperti ini.”Radha membelalakkan mata mendengar tuduhan itu. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Jangan pernah bandingkan aku dengan wanita itu, Krisna! Dia tahu kau sudah menikah, tapi tetap menempel padamu dengan
Krisna menutup telepon dengan gerakan tegas, nada dingin Saga masih terngiang di telinganya. Ia menghela napas panjang, meraih sebotol wiski yang berada di meja kerjanya, namun tak sempat meneguknya karena perasaan gelisah yang tiba-tiba menghantamnya. Tanpa sepatah kata, Krisna melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan langkah lebar, meninggalkan Radha yang masih berdiri di sana dengan tatapan penuh tanya. "Kau mau pergi ke mana?" Radha berlari kecil mengikuti Krisna. "Pembicaraan kita masih belum selesai." Krisna tak mengindahkan ucapan Radha. Ia terus berjalan, membiarkan wanita itu berusaha mengejar langkahnya. Raut wajahnya yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa pun, selaras dengan sikap dinginnya yang seolah jelas menunjukkan bahwa kehadiran Radha di sampingnya tidak lebih dari sekedar angin lalu baginya. Namun Radha tidak menyerah. "Krisna, niatku datang ke sini untuk berbicara baik-baik denganmu. Aku ingin membahas tentang laporan yang kau ajukan pada Kak Saga. Tap
Radha menelan ludah, menahan kepedihan yang terus menghantam hatinya seperti gelombang pasang. Tatapan dingin Krisna dan kata-kata tajam Gayatri membuatnya merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, siap terjatuh kapan saja. Namun, Radha tidak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan mereka. Dengan suara pelan namun tegas, Radha menjawab, “baiklah, aku akan pergi. Tapi Krisna, selama Kak Saga masih belum bebas atas tuntutan palsu yang kau buat, aku tidak akan menyerah. Aku akan melakukan segala cara, meski harus melawan kalian semua.” Kata-kata Radha membuat Gayatri tersenyum tipis, ada aura sinis yang terpancar dalam ekspresinya. "Jadi, kau kembali untuk membela anak haram itu? Sungguh mengherankan. Kau bahkan rela mempertaruhkan harga dirimu hanya demi sesuatu yang, menurutku, tak ada artinya." Krisna kemudian menyela dengan suara yang tetap tenang. "Radha, jika kau memang ingin membuktikan bahwa semua tuduhanku pada kalian berdua adalah sebuah kesalahan, maka aku takkan men
Radha merasa tubuhnya bergetar. Ia tahu, menolak mereka sama saja dengan menantang bahaya. Namun, ia juga tidak mau pasrah begitu saja tanpa mengetahui maksud pertemuan itu. Dengan hati yang penuh keraguan, Radha akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah, saya akan ikut. Tapi saya ingin memastikan satu hal—apakah ini ada kaitannya dengan kasus yang menimpa Kak Saga? Jika ya, saya harap Kakek Felix bisa memberikan penjelasan yang masuk akal.” Kedua pria itu tidak menunjukkan emosi apa pun. “Kami hanya diinstruksikan untuk membawa Anda. Semua pertanyaan Anda akan dijawab oleh Tuan Besar Felix.” Nakula memegang lengan Radha, cemas. “Kak Radha, apa kau yakin? Mereka terlihat … sangat berbahaya. Bagaimana kalau nanti mereka berbuat yang tidak-tidak? Tidak, Kak. Aku tidak mau Kak Radha ambil risiko. Kalau Kakak mau, aku bisa ikut denganmu, Kak.” Radha tersenyum kecil, berusaha bersikap tenang agar Nakula tak semakin panik, meski sebenarnya hatinya tengah bergejolak hebat. “Tidak, Nakula. Ini
Radha menatap Kakek Felix dengan bingung. Permintaan pria tua itu benar-benar tak terduga. Bagaimana mungkin Kakek Felix memintanya untuk menemani Krisna ke acara amal, sementara mereka tengah dalam proses perceraian? Radha yakin berita tentang perceraian mereka sudah tersebar. Semua orang pasti tahu. Dan dengan hadir bersama Krisna, ia hanya akan menjadi bahan gosip yang tak berkesudahan. Namun, tatapan tajam Kakek Felix tidak memberinya ruang untuk menolak. Ia menatap Radha seperti seorang raja yang sedang memerintah bawahannya. Bukan selayaknya seorang kakek yang berbicara dengan cucu menantunya. “Kenapa harus saya, Kek?” tanya Radha akhirnya, mencoba mengendalikan nada suaranya agar tetap sopan. “Bukankah Krisna bisa pergi sendiri? Atau mungkin bersama Nindy? Semua orang tahu hubungan kami tidak baik. Jika saya ikut, bukankah itu justru akan menimbulkan gosip?” Kakek Felix menyilangkan tangannya di depan dada, memandang Radha dengan pandangan yang sulit diartikan. “Itulah s
Radha mengayunkan langkahnya dengan gontai saat dirinya menapaki lorong-lorong sempit di rumah susun, tempat tinggalnya sekarang. Pikirannya begitu kusut saat memikirkan percakapan terakhirnya dengan Kakek Felix. “Selama tiga bulan pasca bercerai, kau harus tetap menyembunyikan status perceraianmu dari siapa pun.” Begitulah kata pria tua itu dengan sangat entengnya. Astaga. Bagaimana bisa dirinya melakukan itu? Berpura-pura seolah tidak pernah terjadi apa pun antara dirinya dan Krisna selama tiga bulan, sementara saat ini ia sedang hamil. Makin hari perutnya pasti akan membesar. Dan peluang untuk menyembunyikannya akan sangat kecil. Apa yang akan terjadi jika rahasia kehamilannya terbongkar? Bisa jadi Kakek Felix akan membatalkan perceraian Radha dengan Krisna. Kalau pun Radha bersikeras, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan memisahkan Radha dari anaknya. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Radha nyaris gila. Tangga menuju lantai lima seakan memanjang tanpa uju
Saga menatap wanita di depannya dengan tatapan tajam, ekspresinya sulit ditebak. Lampu neon di bar memantulkan bayangan keemasan di matanya yang penuh perhitungan. “Aku sudah terlalu lelah untuk menunggu lebih lama lagi, Aresha,” katanya, suaranya dingin. “Kali ini, aku ingin semuanya berjalan sesuai rencana. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun.” Wanita bernama Aresha itu menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menyilangkan kakinya dengan anggun. Lekuk tubuhnya tercetak sempurna dibalik gaun hitam yang dikenakannya, membuatnya terlihat sangat elegan tapi sekaligus berbahaya. “Kau sangat mengenal diriku, Saga,” jawabnya dengan nada tenang, tapi matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. “Apa pernah selama ini aku mengecewakanmu? Tapi yah, tentu saja aku tidak akan bergerak tanpa memastikan sesuatu terlebih dulu. Misalnya—seberapa jauh kau ingin melangkah dalam rencana ini?” Saga mengangkat gelasnya, mengamati sisa wiski yang berputar pelan sebelum meneguknya habis. Ia meleta
Krisna berdiri mematung di depan meja kerja Baskara. Matanya menyipit, mengamati ekspresi sang ayah yang tampak santai, seolah mengabaikan keterkejutan yang baru saja ia lontarkan. "Apa?" ulangnya, suaranya terdengar serak, antara percaya tidak percaya. Baskara tidak segera menjawab. Ia mengamati putranya dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan—tajam, namun juga mengandung sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak ingin Krisna akui sebagai bentuk perhatian seorang ayah pada anaknya. Semenjak Baskara bersikeras membawa Saga ke dalam keluarganya hari itu, sejak saat itu juga Krisna mencabut hak dan peran Baskara sebagai ayahnya. “Ayah bilang, kau akan datang ke acara amal besok malam bersama Radha,” ulangnya, tenang dan tanpa keraguan. “Dan itulah yang diperintahkan oleh kakekmu.” Krisna tertawa pendek, getir. Ia menggeleng pelan, tangannya mengepal di sisi tubuh. “Bukankah kakek sudah tahu kalau kami sedang dalam proses cerai?” Baskara mengangkat bahu, ekspresinya tetap tenang. “Ten
“Kau bertanya karena ingin tahu, atau ingin cepat-cepat menemui kekasih gelapmu itu?” sindir Gayatri dengan nada penuh keangkuhan. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu, termasuk Baskara dan Mega, menatapnya dengan ekspresi terkejut. Hanya Nindy yang tampak biasa saja. Bahkan ada senyum tipis yang terukir di bibirnya, seolah menunggu reaksi yang akan diberikan Saga. Saga mengepalkan kedua tangannya, menahan gejolak amarah yang mulai merayapi dadanya. Ia menatap Gayatri dengan sorot mata tajam. “Tolong jangan mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak benar tentang hubungan saya dan Radha.” Gayatri mendengus sinis. “Tidak benar, katamu?” Ia melipat kedua tangannya di dada. “Jadi, menurutmu, kepedulianmu yang berlebihan terhadap Radha itu hal yang wajar? Jangan munafik, Saga. Aku sudah melihat bagaimana kau yang selalu berada di sisinya tiap kali dia bermasalah dengan suaminya. Bahkan caramu menatap Radha, aku bisa tahu bahwa ada sesuatu di antara kalian berdua. Jangan kira ak
Gayatri mengepalkan jemarinya dengan erat, menahan amarahnya yang meluap-luap. Napasnya terdengar memburu, wajahnya memerah, dan matanya menyorotkan kemarahan yang tidak bisa lagi terbendung. “Berani-beraninya Krisna menutup telepon Mamanya sendiri!” batin Gayatri, geram."Apa yang terjadi?" Suara berat dan penuh wibawa khas milik Baskara terdengar dari belakangnya. Pria itu baru saja keluar dari kamar tempat Kakek Felix beristirahat. Wajahnya terlihat lelah dan cemas. "Apa kau sudah memberi tahu Krisna tentang kondisi Ayah?"Gayatri menoleh dengan ekspresi jengkel. "Tentu saja, Mas! Aku juga sudah menyuruhnya untuk segera pulang. Tapi dia justru membantahku dan bersikeras untuk tetap menemani Radha. Kata Krisna, wanita itu pingsan!" Nada suaranya penuh kejengkelan dan ketidakpercayaan.Baskara mengernyit. "Radha pingsan?""Iya, Mas! Dan Krisna membawanya ke rumah sakit. Seolah-olah itu lebih penting daripada kondisi kakeknya sendiri!" Gayatri mendengus sinis. "Aku sudah menduga wani
Krisna terperangah. Napasnya tercekat saat melihat tubuh Radha ambruk ke tanah tanpa daya. Untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Pikirannya kosong dan tubuhnya membeku. Tetapi detik berikutnya, tanpa sadar, ia sudah berlari ke arah wanita itu."Radha!" Krisna berlutut di sampingnya, tangannya terulur untuk menyentuh wajah Radha yang pucat pasi. Dada wanita itu naik turun tak beraturan, napasnya tersengal-sengal, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Krisna menarik tangan Radha dengan erat, membawanya keluar dari ruangan yang penuh dengan kekacauan. Langkahnya cepat, hampir menyeret Radha yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Napasnya memburu, sementara pikirannya berputar liar, mencoba memahami mengapa dia tiba-tiba merasa perlu melindungi Radha. Radha hanya bisa menurut, mengikuti Krisna dengan langkah goyah. Jantungnya masih berdegup kencang, kepalanya pening akibat kilatan kamera dan suara-suara menghakimi yang terus terngiang di telinganya. Namun, genggaman tangan Krisna yang kuat seolah memberinya perlindungan di tengah badai yang mengamuk. Mereka terus berjalan hingga mencapai taman belakang gedung, jauh dari sorotan kamera dan kerumunan orang-orang yang menggila serta haus akan berita penuh sensasi dari salah satu anggota keluarga Harlingga. Saat akhirnya Krisna melepaskan genggamannya, Radha terhuyung sedikit ke belakang. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. “Apa... yang baru saj
Radha berdiri terperangah di tengah kerumunan wartawan yang tak kenal ampun. Kilatan kamera terus menyambar wajah Radha dan menyilaukan matanya. Suara-suara tajam dan penuh desakan dari wartawan pun turut menusuk telinganya, membuat kepalanya berdengung tanpa henti. “Nyonya Radha, benarkah Anda telah menggugat cerai Tuan Krisna?” salah satu wartawan melemparkan pertanyaan dengan nada mendesak. “Apakah benar penyebabnya adalah orang ketiga?” yang lain menambahkan tanpa memberi waktu bagi Radha untuk menjawab. Sebuah mikrofon mendekat dari arah lain, “menurut informasi yang kami terima, Anda memiliki hubungan tersembunyi dengan seorang pria dari keluarga kaya. Bisakah Anda memberi klarifikasi tentang itu?” “Dan apakah benar Anda tengah mengandung anak dari pria tersebut?” pertanyaan terakhir dilontarkan dengan nada yang lebih tajam dan mengintimidasi. Radha hanya bisa membeku, tubuhnya terasa seolah kehilangan tenaga. Kilatan kamera yang terus-menerus membuat pandangannya semakin
Krisna menegang sesaat. Kata "sayang" yang diucapkan Radha dengan nada menggoda seolah nyaris menghantam benteng pertahanannya. Mata hitamnya menatap wanita di sampingnya yang kini tersenyum manis seakan benar-benar menikmati perannya. "Apa kau sangat menikmatinya?" gumamnya pelan. Radha tertawa kecil. "Bukankah kau sendiri yang menyuruhku bersikap layaknya istri yang baik?" Krisna hanya mendengus dan menatap lurus ke depan. Langkahnya mantap saat memasuki gedung mewah tempat acara amal berlangsung. Sejak mereka muncul di pintu masuk, mata para tamu undangan yang ada di dalam ruangan itu, kompak tertuju pada mereka. Bisik-bisik di antara mereka pun mulai samar terdengar. "Oh, lihat itu! Mereka datang!" “Astaga, aku pikir ini seperti acara pengobatan raja dan ratu. Mereka berdua terlihat sangat menawan!” “Aku hanya mendengar bahwa menantu perempuan mereka sangat cantik, dan ternyata itu benar.” “Rasanya beruntung sekali bisa datang ke tempat ini. Bisa melihat wajah tampan cuc
“Seberapa berpengaruhnya dia?” Andre tersenyum tipis, tetapi kali ini senyumnya lebih dingin. “Cukup untuk bisa masuk ke dalam lingkaran bisnis kelas atas tanpa harus membawa nama Harlingga. Dan cukup untuk membuat banyak orang bertanya-tanya… siapa sebenarnya yang berdiri di belakangnya.” Aresha membatu seketika. Jadi, Joshua bukan hanya sekadar putra Baskara yang tersembunyi. Dia lebih dari itu. Dia seseorang yang memiliki kekuatan, pengaruh, dan—kemungkinan besar—rencana tersendiri. Ini jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. “Jika kau ingin tahu lebih banyak, aku bisa menyelidikinya lebih dalam,” tawar Andre. Aresha menghembuskan napas panjang. “Kalau begitu lakukanlah.” Andre mengangguk, lalu bangkit. Sebelum pergi, ia menatap Aresha dengan pandangan tajam. “Tapi Aresha, aku sarankan satu hal.” “Apa?” “Berhati-hatilah.” Suaranya rendah, nyaris seperti peringatan. “Joshua bukanlah orang yang bisa disentuh dengan mudah.” Aresha hanya tersenyum kecil. Namun di dalam hatin
Aresha merasakan detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Kata-kata yang baru saja keluar dari bibirnya menggantung di udara, menciptakan keheningan yang memekakkan telinga. Joshua adalah putra lain dari Baskara. Jika itu benar, berarti… dia dan Joshua memiliki darah yang sama. Perutnya terasa mual. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, meskipun udara di sekitar masih dikuasai angin sepoi-sepoi yang seharusnya menenangkan. Tetapi dirinya sama sekali tidak bisa tenang dengan kondisi pikirannya yang kacau balau saat ini. “Saga,” bisiknya, mencoba memastikan kembali. “Apa kau benar-benar yakin dengan apa yang kau ucapkan barusan? Barangkali saja yang kau maksud adalah Joshua yang lain?” Di seberang telepon, suara Saga terdengar lebih berat, seolah ia sendiri belum siap menerima kenyataan ini. “Ya, aku juga tidak menutup kemungkinan akan hal itu,” katanya pelan. “Tapi tetap saja, Aresha. Tidak ada salahnya untuk bersikap waspada terhadap segala hal yang bisa menghancur
Aresha mengedarkan napas perlahan, menyembunyikan keterkejutannya di balik senyum tipis yang tak terbaca. Namun, tatapannya menajam, menyelidik pria yang berdiri di hadapannya. Joshua. Nama yang terdengar asing, tetapi caranya berbicara seolah ia tahu lebih banyak daripada yang seharusnya. Sorot matanya yang tajam, tak menunjukkan sedikit pun celah yang bisa dimanfaatkan Aresha. Dia jelas bukanlah orang biasa. Aresha menggeser sedikit berat badannya ke satu sisi, menyilangkan tangan di depan dada, seolah percakapan ini bukan hal besar baginya. “Aku tak tahu siapa yang memberimu informasi, tapi aku rasa kau sedang salah paham, Tuan Joshua,” ujarnya, suaranya tetap ringan namun berhati-hati. Joshua tersenyum kecil, seolah mengapresiasi usaha Aresha untuk tetap tenang. "Salah paham?" ulangnya, seakan mengecap kata itu di lidahnya. "Apakah itu benar? Aku rasa aku tidak mungkin salah." Aresha tertawa pelan, seolah menertawakan ketidakmasukakalan kata-kata pria itu. Namun, hatinya be