Share

Bab 7

Penulis: Khansa pranadi
last update Terakhir Diperbarui: 2021-07-30 13:58:19

“Aku di mana?” tanyaku saat mulai membuka mata dan menyadari jika kini tidak berada di kamarku. Sebuah kamar bercat putih dengan beberapa pernak-pernik yang sangat feminin seperti gorden bergambar bunga, hiasan dinding yang juga bercorak bunga. Beberapa kali mengedarkan pandangan—melihat apakah ada orang di sini—tapi nihil karena tidak ada siapa pun selain diriku.

Kubereskan rambut  dan tempat tidur sebelum akhirnya melangkah ke luar kamar mencari sang pemilik kamar. Saat ke luar, terpampang sebuah rumah yang cukup mewah dengan interior bergaya classic, sangat berbeda dengan kamar yang begitu modern. Aku kembali mengedarkan pandangan tapi masih saja tidak menemukan siapa-siapa hingga akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai dasar rumah. Tangga kayu membentuk setengah lingkaran menjadi penghubung lantai dasar dan lantai dua rumah. Perlahan aku melewatinya bagai seorang pencuri yang takut ketahuan si empunya rumah.

“Kamu tahukan siapa dia?” Terdengar suara seorang perempuan saat aku melewati sebuah ruangan dengan pintu sedikit terbuka.

“Aku tahu, Ma,” jawab suara lainnya yang begitu kukenal, Aries.

“Lalu kenapa melakukannya kalau kamu tahu?” kata suara perempuan yang seperti suara yang pertama kali kudengar tadi. “Harusnya kamu menjauhinya bukan mendekati dia?”

“Mama tenang saja, aku punya rencana sendiri, tinggal tunggu hasilnya saja,” kata Aries, “aku mau melihat dulu Gabriela, dia sudah bangun atau belum.”

Mendengar kata-kata Aries, aku segera mundur beberapa langkah agar saat dia ke luar ruangan itu terlihat baru turun dari tangga. Tepat saat langkahku sampai di ruangan tadi, Aries pun ke luar dari sana dan memperlihatkan senyum indah tapi sedikit kikuk.

“Kamu sudah bangun, Gab?” tanyanya sambil berjalan ke arahku.

“Aku kira rumah siapa ini, karena tadi tidak menemukan siapa-siapa,” kataku yang justru bukan menjawab pertanyaannya. Berbohong itu dosa sedang tidak menjawab sebuah pertanyaan bukanlah suatu kesalahan, jadi jika bisa menghindarinya kenapa tidak? 

“Maaf, semalam kamu tertidur dan aku tidak tahu di mana rumahmu,” katanya yang terlihat sekali seperti berusaha untuk bersikap biasa, “lucu ya kita sudah lama dekat tapi aku tidak tahu di mana rumahmu.”

Bagiku, bersahabat bukan berarti harus mengetahui semua mengenai kehidupan kita, termasuk rumah. Lucu ya? Bagi sebagian orang mungkin lucu, tapi tidak untukku. Pengalaman mengajarkan untuk selalu berhati-hati dalam apa pun—termasuk sahabat. Di dunia ini tidak ada yang tulus berteman dengan kita, pasti ada sebuah tujuan yang dia sembunyikan. Sebuah pemikiran yang menyakitkan bukan, tapi itulah aku yang tidak mungkin berubah hanya dalam hitungan tahun.

“Tidak masalah,” ucapku berusaha untuk menganggap bahwa semuanya baik-baik saja, tapi di dalam sini ada gundah yang cukup besar. Bukan karena pembicaraan Aries dengan siapa pun itu, tapi rasanya ada yang salah dengan semua yang terjadi sejak kemarin hingga hari ini.

“Aries, dan ...,” kata seorang perempuan yang kuperkirakan usianya melebihi setengah abad, mungkin Mama Aries karena dia ke luar dari ruangan yang sama dengannya.

“Gabriela, Tante,” ucapku sambil sedikit mengangguk dan tersenyum.

“Ah ya, Gabriela,” ucapnya sambil memperlihatkan sebuah senyuman yang begitu cantik.

“Tidak perlu, Tante, terima kasih,” ucapku, “saya mau pulang karena khawatir terlambat ke kantor.”

“Pergi bareng aku saja, Gab,” kata Aries.

“Aku harus pulang dan berganti pakaian,” kataku yang memang tidak mungkin berangkat dari tempat Aries mengingat tidak membawa pakaian ganti, tidak mungkin ke kantor masih mengenakan pakaian kemarin.

“Kamu bisa menggunakan pakaian Arien, sepertinya pas untukmu,” kata Aries yang sepertinya berusaha untuk menahanku agar kami bisa berangkat bersama.

Aku sedikit kikuk untuk menolak permintaannya. Baju mungkin ada yang sama, tapi ada hal lain yang tidak mungkin menggunakan milik orang lain. “Hhhmm ... maaf Aries, itu ....”

“Dia membutuhkan pakaian dalam baru, tidak mungkin mengenakan milik Arien,” ucap Mama Aries yang pasti lebih mengerti keadaanku karena dia juga seorang perempuan.

Setelah berpamitan kepada Aries dan mamanya, aku pun pulang naik taksi online yang dipesankan Aries, dam di sinilah saat ini aku berada, di dalam sebuah taksi. Sejenak aku memejamkan mata dan mengingat kembali semua yang sudah terjadi sejak kemarin. Ada banyak tanya yang menyapa pikiran, mulai dari sikap Mr. Thomas hingga kejadian sopir taksi semalam. Semua tampak sebagai sebuah kebetulan, tapi hal itu tidak masuk akal sama sekali. Pasti ada sebuah penjelasan yang masuk akal atas semuanya.

Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya aku sampai di rumah. Berendam selama beberapa saat sepertinya akan menenangkan pikiran dari semua tekanan yang ada. Aroma terapi dari sabun mandi mampu untuk membuat otakku kembali fresh dan siap untuk menjalani hari, termasuk rapat bersama client.

Setelah bersiap dan merasa yakin akan penampilan, aku mengambil sebotol obat yang selalu tersedia di laci meja rias. Sudah lama tidak meminumnya membuatku sedikit gamang untuk kembali menyentuh butiran berwarna putih itu. Berhenti dari menggunakannya adalah sebuah perjuangan berat, tapi kini sepertinya tidak ada pilihan lain selain meminumnya dan menjalani hari seperti biasa.

“Selamat datang kembali di hidup yang penuh dengan obat,” ucapku sambil tersenyum miring dan mengambil dua butir obat sebelum akhirnya meminumnya. Tidak perlu lama untuk merasakan pengaruhnya, hanya butuh hitungan menit dan semua sudah membaik.

Aku berjalan menyusuri rumah yang selalu sepi bagai tidak ada kehidupan di dalamnya. Di rumah yang cukup besar ini memang hanya tinggal aku dan seorang pembantu saja, tanpa mama, apalagi papa yang sudah pergi sejak bertahun lalu. Sedih? Tidak sama sekali karena ini sudah menjadi kehidupanku sejak masa sekolah menengah atas, hidup seorang diri tanpa orang tua. Mama sibuk dengan urusan perusahaan dan aku yang menolak untuk bekerja di sana setelah kejadian kelam itu terjadi.

“Non, semalam Nyonya datang,” kata pembantu saat aku akan membuka pintu garasi, “katanya Nona diminta untuk pulang akhir pekan nanti.”

Pulang, sepertinya hal itu adalah sebuah hal yang tidak pernah ada dalam agendaku. Rumah di mana ada mama dan seorang adik laki-laki lebih tepat jika kubilang bahwa itu adalah neraka nyata di dunia. Tidak ada kehangatan seperti sebuah keluarga pada umumnya, yang ada hanya derita tidak berkesudahan. Mama yang sibuk dengan pekerjaannya masih berusaha untuk mengatur kehidupan anak-anaknya dan harus dituruti tanpa bantahan satu kata pun. Adik yang harusnya menjadi orang termanis di rumah juga bersikap tidak kalah buruk dengan mama. Jadi, masih pantaskah tempat itu kubilang sebagai rumah?

“Nyonya bilang, harus membicarakan kejadian lima tahun lalu,” katanya melanjutkan yang membuatku sedikit menegang.

Kenapa mama harus membuka kembali kisah itu? Apa yang ingin diketahuinya dari hal yang telah membuatku hancur?

Bab terkait

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 8

    Mama, wanita yang sejatinya adalah orang yang akan selalu memberikan apa pun yang diinginkan anak-anaknya menjadi sebuah ketakutan tersendiri. Bagian dari masa lalu yang ingin dihindari tapi aku sepenuhnya sadar bahwa tidak akan bisa melakukannya. Mama masih menjadi orang masa kini dan akan selalu ada dalam hidup sekeras apa pun aku menghindar. Bertahun memutuskan tidak pulang, tapi wanita yang telah melahirkanku itu terus datang mengusik meski kadang hanya bertemu beberapa jam saja.Kuenyahkan semua pemikiran mengenai mama dan memilih untuk menatap mobil yang hampir lima tahun tidak kugunakan. Sejak kejadian itu, aku memang memilih untuk menggunakan kendaraan umum, daripada di tengah jalan semua masa lalu itu hadir hingga akhirnya menyebabkan kecelakaan. Baik jika hanya aku saja yang mati, bagaimana jika orang lain yang mati sedang aku selamat? Andai itu terjadi, maka seumur hidup aku tidak akan bisa memaafkan diri sendiri.“Non, mau ...,” kata

    Terakhir Diperbarui : 2021-07-31
  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 9

    “Non,” kata Mbok Nah membuatku kembali dari bayangan masa lalu yang indah tapi menjadi awal petaka dari semuanya. Hal yang seharusnya menghilang dari ingatan tapi sudah bertahun masih juga bersemayam dengan indahnya. “Ah, ada apa, Mbok?” tanyaku sambil melepaskan gantungan dari tempatnya semula. “Non melamun ya tadi?” tanya Mbok Nah dengan begitu perhatian. Perempuan berusia setengah abad itu memang sangat perhatian, tidak jarang dia memberlakukanku seperti anak kecil. Buatku, dia seperti ibu yang sesungguhnya jika dibanding mama. “Tidak apa, Mbok,” ucapku sambil tersenyum agar dia tidak lagi khawatir dengan keadaanku, “ini tolong dibuang ya, Mbok!” Membuang semua benda yang akan mengingatkan kepadanya adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Aku sadar betul, semua yang terhubung dengan dia adalah sebuah petaka dan harus dienyahkan dari hidup. Dia yang menyuguhkan cinta begitu indah, tapi dia pula yang memberikan luka begitu dalam hing

    Terakhir Diperbarui : 2021-07-31
  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 10

    Aku menarik napas dalam saat tiba-tiba ponsel Mr. Thomas berbunyi, setidaknya kali ini terselamatkan dari pertanyaan yang sangat tidak penting. Mr. Thomas berlalu dari ruang rapat setelah menjawab teleponnya meninggalkanku seorang diri. Beberapa kali kuhirup napas dalam hanya agar diri ini sedikit lebih tenang. Sikap Mr. Thomas tadi membuatku sedikit takut, kilasan masa lalu pun kembali menyapa hingga membuat tubuh bergetar dan keringat mulai bercucuran.“Kenapa obat itu tidak berpengaruh apa-apa sekarang? “ tanyaku bermonolog. “Bukankah seharusnya membuatku lebih tenang dan bisa mengendalikan diri?”Kuremas kertas yang ada di hadapan tanpa peduli apakah itu bagian dari file penting atau hanya sebuah kertas biasa. Saat ini yang aku butuh kan adalah pelepasan dari semua keadaan yang menyelimuti diri. Aku terus meremasnya hingga terdengar suara robek tapi tidak dihiraukan. Rasa yang menyelimuti jiwa perlahan mulai membaik hingga akhirn

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-01
  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 11

    Suasana kantin siang ini sama seperti biasanya, ramai dan penuh dengan para karyawan yang sedang menyantap makan siang mereka sebagai bekal tenaga untuk kembali bekerja. Aku duduk berdua dengan Pricilia, dan obrolan kami seperti biasanya mengenai Aries. Bahasan mengenai lelaki yang satu itu tidak akan pernah ada habisnya jika bersama Pricilia. Mulai dari outfit yang dipakai hingga kegiatan Aries akan dia bicarakan secara detail, dan aku jelas sudah bosan membicarakan hal itu. Kenapa? Terlalu sering dan Aries sendiri tidak pernah merespons Pricilia padahal dia tahu kalau gadis itu menyukainya.Berulang kali aku sudah mengatakan kepada Pricilia mengenai perasaan laki-laki yang satu itu, tapi dia tidak peduli. Menurutnya, selama janur kuning belum melengkung maka masih bisa diusahakan. Padahal, mana ada janur kuning melengkung di kediaman mempelai laki-laki, Pricilia memang terkadang tidak beres pemikirannya. Namun, di balik sifatnya yang ceplas-ceplos dan terkadang sepert

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-01
  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 12

    “Jelaskan, Gab!” desak Aries saat aku hanya bungkam mengenai maksud dari kata-kataku sebelumnya.“Tidak ada yang perlu dijelaskan, karena kenyataannya memang hanya di alam baka kami bisa bicara, jika Tuhan mempertemukan,” terangku sambil membuka laptop dan tidak lagi menghiraukan apa yang dikatakan Aries hingga akhirnya dia pergi.Sepeninggal Aries, aku terdiam menatap pintu yang kini telah tertutup rapat. Bayangan-bayangan mengenai Arnold bermain-main di dalam otak. Bagaimana lelaki yang dulu menghiasi hari-hari dengan keindahan kini mendengar namanya saja aku sudah sangat enggan. Apalagi jika harus bertemu dengan dia meski bukan lagi raganya.***“Non,” kata Mbok Nah di hari di mana aku baru saja kembali dari seorang psikiater, “ada Polisi di bawah ingin bertemu dengan Nona.”Polisi, sebuah instansi yang dalam mimpimu tidak ingin aku berurusan dengan mereka, tapi

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-02
  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 13

    “Tidak bisakah kamu istirahat saja di sana tanpa harus mengusik hidupku lagi?” tanyaku yang baru tersadar akan kenangan itu saat sebuah panggilan masuk ke ponselku. “Gabriela di sini, ada yang bisa saya bantu?”“Kamu ke ruangan saya, sekarang!” Sebuah perintah yang tidak bisa ditawar dari sang bos yang entah kenapa memilih untuk menghubungi melalui ponsel pribadi daripada telepon kantor.Setelah menutup panggilan, aku mengambil file yang tadi diserahkan Pricilia sesaat sebelum istirahat. Setiap lembar aku periksa dengan teliti untuk memastikan tidak ada hal yang terlewat meski satu kata. Setelah yakin semuanya sempurna, aku langsung beranjak ke ruangan Mr. Thomas di lantai atas gedung.Sebuah pintu kayu besar kini ada di hadapanku dalam kondisi terbuka. Di dalam sana ada sepasang kekasih yang sedang memadu kasih, ingin beranjak dari tempat ini tapi tidak mungkin karena akan membuang waktu. Tetap berada di sini pun bu

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-03
  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 14

    “Ada apa, Non?” tanya seorang perempuan yang diperkirakan berusia sekitar 45 tahun. Aku tidak menjawabnya hanya memandang dengan kewaspadaan tinggi—khawatir jika dia berniat tidak baik. “Saya pembantunya Tuan Thomas.” “Saya tidak apa-apa, hanya mimpi buruk,” ucapku setelah yakin dengan jawaban yang dia berikan, “saya mau pulang!” Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil blazer serta tas yang teronggok di atas meja rias. Perempuan yang tadi masuk berusaha untuk

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-10
  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 15

    Dilema, itu yang aku rasakan saat ini, bagaimana tidak, satu sisi ingin pergi meninggalkan tempat yang menurutku adalah neraka, tapi di sisi lain ada seorang ibu yang memohon demi kelangsungan masa depannya. Bukan hanya soal perempuan tadi, tapi juga anak-anaknya yang masih kecil. Apakah aku harus belajar egois saat ini demi masa depan diri sendiri atau diam begitu saja?“Saya mohon, Nona,” katanya sambil menangkupkan tangan di depan dada bahkan kini dia sudah berlutut memohon belas kasihku. Aku kembali menatapnya sekilas dan kemudian menatap pintu yang masih tertutup. Melangkah atau tetap diam di sini?Sejenak aku menunduk memikirkan semuanya, masalah hidup yang jauh dari kata sedikit dan ringan selama ini membebani, aku mampu untuk berdiri di atas kakiku sendiri. Namun dia, seperti apa hidupnya sampai memohon hingga berlutut tanpa memikirkan lagi harga dirinya. Aku, apakah akan mampu berperilaku seperti itu jika hal berat menghampiri? Tentu sa

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-16

Bab terbaru

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 15

    Dilema, itu yang aku rasakan saat ini, bagaimana tidak, satu sisi ingin pergi meninggalkan tempat yang menurutku adalah neraka, tapi di sisi lain ada seorang ibu yang memohon demi kelangsungan masa depannya. Bukan hanya soal perempuan tadi, tapi juga anak-anaknya yang masih kecil. Apakah aku harus belajar egois saat ini demi masa depan diri sendiri atau diam begitu saja?“Saya mohon, Nona,” katanya sambil menangkupkan tangan di depan dada bahkan kini dia sudah berlutut memohon belas kasihku. Aku kembali menatapnya sekilas dan kemudian menatap pintu yang masih tertutup. Melangkah atau tetap diam di sini?Sejenak aku menunduk memikirkan semuanya, masalah hidup yang jauh dari kata sedikit dan ringan selama ini membebani, aku mampu untuk berdiri di atas kakiku sendiri. Namun dia, seperti apa hidupnya sampai memohon hingga berlutut tanpa memikirkan lagi harga dirinya. Aku, apakah akan mampu berperilaku seperti itu jika hal berat menghampiri? Tentu sa

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 14

    “Ada apa, Non?” tanya seorang perempuan yang diperkirakan berusia sekitar 45 tahun. Aku tidak menjawabnya hanya memandang dengan kewaspadaan tinggi—khawatir jika dia berniat tidak baik. “Saya pembantunya Tuan Thomas.” “Saya tidak apa-apa, hanya mimpi buruk,” ucapku setelah yakin dengan jawaban yang dia berikan, “saya mau pulang!” Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil blazer serta tas yang teronggok di atas meja rias. Perempuan yang tadi masuk berusaha untuk

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 13

    “Tidak bisakah kamu istirahat saja di sana tanpa harus mengusik hidupku lagi?” tanyaku yang baru tersadar akan kenangan itu saat sebuah panggilan masuk ke ponselku. “Gabriela di sini, ada yang bisa saya bantu?”“Kamu ke ruangan saya, sekarang!” Sebuah perintah yang tidak bisa ditawar dari sang bos yang entah kenapa memilih untuk menghubungi melalui ponsel pribadi daripada telepon kantor.Setelah menutup panggilan, aku mengambil file yang tadi diserahkan Pricilia sesaat sebelum istirahat. Setiap lembar aku periksa dengan teliti untuk memastikan tidak ada hal yang terlewat meski satu kata. Setelah yakin semuanya sempurna, aku langsung beranjak ke ruangan Mr. Thomas di lantai atas gedung.Sebuah pintu kayu besar kini ada di hadapanku dalam kondisi terbuka. Di dalam sana ada sepasang kekasih yang sedang memadu kasih, ingin beranjak dari tempat ini tapi tidak mungkin karena akan membuang waktu. Tetap berada di sini pun bu

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 12

    “Jelaskan, Gab!” desak Aries saat aku hanya bungkam mengenai maksud dari kata-kataku sebelumnya.“Tidak ada yang perlu dijelaskan, karena kenyataannya memang hanya di alam baka kami bisa bicara, jika Tuhan mempertemukan,” terangku sambil membuka laptop dan tidak lagi menghiraukan apa yang dikatakan Aries hingga akhirnya dia pergi.Sepeninggal Aries, aku terdiam menatap pintu yang kini telah tertutup rapat. Bayangan-bayangan mengenai Arnold bermain-main di dalam otak. Bagaimana lelaki yang dulu menghiasi hari-hari dengan keindahan kini mendengar namanya saja aku sudah sangat enggan. Apalagi jika harus bertemu dengan dia meski bukan lagi raganya.***“Non,” kata Mbok Nah di hari di mana aku baru saja kembali dari seorang psikiater, “ada Polisi di bawah ingin bertemu dengan Nona.”Polisi, sebuah instansi yang dalam mimpimu tidak ingin aku berurusan dengan mereka, tapi

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 11

    Suasana kantin siang ini sama seperti biasanya, ramai dan penuh dengan para karyawan yang sedang menyantap makan siang mereka sebagai bekal tenaga untuk kembali bekerja. Aku duduk berdua dengan Pricilia, dan obrolan kami seperti biasanya mengenai Aries. Bahasan mengenai lelaki yang satu itu tidak akan pernah ada habisnya jika bersama Pricilia. Mulai dari outfit yang dipakai hingga kegiatan Aries akan dia bicarakan secara detail, dan aku jelas sudah bosan membicarakan hal itu. Kenapa? Terlalu sering dan Aries sendiri tidak pernah merespons Pricilia padahal dia tahu kalau gadis itu menyukainya.Berulang kali aku sudah mengatakan kepada Pricilia mengenai perasaan laki-laki yang satu itu, tapi dia tidak peduli. Menurutnya, selama janur kuning belum melengkung maka masih bisa diusahakan. Padahal, mana ada janur kuning melengkung di kediaman mempelai laki-laki, Pricilia memang terkadang tidak beres pemikirannya. Namun, di balik sifatnya yang ceplas-ceplos dan terkadang sepert

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 10

    Aku menarik napas dalam saat tiba-tiba ponsel Mr. Thomas berbunyi, setidaknya kali ini terselamatkan dari pertanyaan yang sangat tidak penting. Mr. Thomas berlalu dari ruang rapat setelah menjawab teleponnya meninggalkanku seorang diri. Beberapa kali kuhirup napas dalam hanya agar diri ini sedikit lebih tenang. Sikap Mr. Thomas tadi membuatku sedikit takut, kilasan masa lalu pun kembali menyapa hingga membuat tubuh bergetar dan keringat mulai bercucuran.“Kenapa obat itu tidak berpengaruh apa-apa sekarang? “ tanyaku bermonolog. “Bukankah seharusnya membuatku lebih tenang dan bisa mengendalikan diri?”Kuremas kertas yang ada di hadapan tanpa peduli apakah itu bagian dari file penting atau hanya sebuah kertas biasa. Saat ini yang aku butuh kan adalah pelepasan dari semua keadaan yang menyelimuti diri. Aku terus meremasnya hingga terdengar suara robek tapi tidak dihiraukan. Rasa yang menyelimuti jiwa perlahan mulai membaik hingga akhirn

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 9

    “Non,” kata Mbok Nah membuatku kembali dari bayangan masa lalu yang indah tapi menjadi awal petaka dari semuanya. Hal yang seharusnya menghilang dari ingatan tapi sudah bertahun masih juga bersemayam dengan indahnya. “Ah, ada apa, Mbok?” tanyaku sambil melepaskan gantungan dari tempatnya semula. “Non melamun ya tadi?” tanya Mbok Nah dengan begitu perhatian. Perempuan berusia setengah abad itu memang sangat perhatian, tidak jarang dia memberlakukanku seperti anak kecil. Buatku, dia seperti ibu yang sesungguhnya jika dibanding mama. “Tidak apa, Mbok,” ucapku sambil tersenyum agar dia tidak lagi khawatir dengan keadaanku, “ini tolong dibuang ya, Mbok!” Membuang semua benda yang akan mengingatkan kepadanya adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Aku sadar betul, semua yang terhubung dengan dia adalah sebuah petaka dan harus dienyahkan dari hidup. Dia yang menyuguhkan cinta begitu indah, tapi dia pula yang memberikan luka begitu dalam hing

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 8

    Mama, wanita yang sejatinya adalah orang yang akan selalu memberikan apa pun yang diinginkan anak-anaknya menjadi sebuah ketakutan tersendiri. Bagian dari masa lalu yang ingin dihindari tapi aku sepenuhnya sadar bahwa tidak akan bisa melakukannya. Mama masih menjadi orang masa kini dan akan selalu ada dalam hidup sekeras apa pun aku menghindar. Bertahun memutuskan tidak pulang, tapi wanita yang telah melahirkanku itu terus datang mengusik meski kadang hanya bertemu beberapa jam saja.Kuenyahkan semua pemikiran mengenai mama dan memilih untuk menatap mobil yang hampir lima tahun tidak kugunakan. Sejak kejadian itu, aku memang memilih untuk menggunakan kendaraan umum, daripada di tengah jalan semua masa lalu itu hadir hingga akhirnya menyebabkan kecelakaan. Baik jika hanya aku saja yang mati, bagaimana jika orang lain yang mati sedang aku selamat? Andai itu terjadi, maka seumur hidup aku tidak akan bisa memaafkan diri sendiri.“Non, mau ...,” kata

  • Tragedy of Love indonesia Version   Bab 7

    “Aku di mana?” tanyaku saat mulai membuka mata dan menyadari jika kini tidak berada di kamarku. Sebuah kamar bercat putih dengan beberapa pernak-pernik yang sangat feminin seperti gorden bergambar bunga, hiasan dinding yang juga bercorak bunga. Beberapa kali mengedarkan pandangan—melihat apakah ada orang di sini—tapi nihil karena tidak ada siapa pun selain diriku. Kubereskan rambut dan tempat tidur sebelum akhirnya melangkah ke luar kamar mencari sang pemilik kamar. Saat ke luar, terpampang sebuah rumah yang cukup mewah dengan interior bergaya classic, sangat berbeda dengan kamar yang begitu modern. Aku kembali mengedarkan pandangan tapi masih saja tidak menemukan siapa-siapa hingga akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai dasar rumah. Tangga kayu membentuk setengah lingkaran menjadi penghubung lantai dasar dan lantai dua rumah. Perlahan aku melewatinya bagai seorang pencuri yang takut ketahuan si empunya rumah. “Kamu tahukan siapa dia?” Terdengar suar

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status