Home / Fantasi / The Sad Angel Geana / BAB 1 Tujuh Belas Tahunku

Share

The Sad Angel Geana
The Sad Angel Geana
Author: Crazytata24

BAB 1 Tujuh Belas Tahunku

Author: Crazytata24
last update Last Updated: 2021-07-22 19:50:33

Aku Mila, kini menginjak SMA dua yang berarti aku sudah menginjak tujuh belas tahun di hidupku. Kata orang tujuh belas tahun merupakan tahun terindah, aku tidak merasakannya. Aku terlahir di keluarga berkecukupan, mempunyai orang tua dan dua adik, James dan Jennie, mereka kembar fraternal. Dulu, aku sangat menyayangi keluargaku, tetapi mungkin mereka tidak berpikir begitu. Ayahku bekerja di luar kota, dia sangat jarang pulang, kalaupun pulang dia juga memilih untuk jarang di rumah, ya aku bisa mengerti perasaan ayah, mungkin dia muak dengan istrinya, tidak salah, ibuku. Ibuku seorang pengusaha, segala sesuatu harus diatur olehnya, tentu tidak hanya karyawan-karyawannya. Keluarganya juga menjadi sasaran untuk diaturnya. Kami harus turut dengan segala aturannya, begitu juga dengan ayah.

Hari ini tepat di hari ulang tahunku yang ketujuh belas. Aku lagi-lagi dibully oleh kakak kelasku, ya bukan karena aku ulang tahun, mereka bahkan tidak tahu hari ini ulang tahunku. "Monyong!" Panggilan mereka untukku, mereka suka memalakku seenak jidat. Terkadang aku membentak mereka, tetapi yang ada aku malah diseret ke kamar mandi dan disiram air. Aku sungguh takut dengan mereka. Aku selalu mengatakan pada diriku untuk bertahan, karena sisa beberapa bulan lagi mereka akan lulus.

Kini aku berdiri di depan pintu rumah, aku merapikan rambutku yang hampir kering terkena hembusan angin, aku juga tidak lupa menarik napas sedalam-dalamnya, karena setelah membuka pintu ini aku tidak tahu apa yang akan terjadi. "Aku pulang," gumamku sambil melepaskan sepatu sekolahku. Suara berisik di ruang tamu membuat moodku yang sudah hancur bertambah hancur. Lagi-lagi ayah dan ibu bertengkar. Aku pun berjalan menuju kamarku dan mengunakan earphoneku. Teriakkan adikku James membuatku terkejut.

"Sudah diam!" Begitulah teriak dia di ruang tamu, aku dapat merasakan jika dia juga sudah muak dengan pertengkaran itu.

Aku mengintip dari sela pintu kamar. Ayah memilih keluar rumah dan ibu hanya menangis. James juga dengan kesal kembali ke kamarnya. Terkadang aku merasa kasihan dengannya, di umurnya yang sekarang seharusnya dia memiliki masa kecil yang indah, tetapi dia harus sepertiku merasakan tekanan seperti ini.

"Kalian semua durhaka!" teriak ibu di tengah tangisnya.

Akupun menghela napas dan menutup pintuku. Durhaka kata ibu, dia sungguh membuatku sesak. Selama ini aku selalu mendengar kata-katanya, jika aku mengelak, dia akan memarahiku dengan kata-kata itu. Dia sering membuatku berpikir apakah karena dia orang tua yang melahirkanku, maka setiap kata dia selalu benar? Walaupun sesungguhnya itu adalah sebuah kesalahan tetapi kita harus menurutinya dan setuju padanya? Apakah dengan kata tidak atau memberikan pendapat kita disebut durhaka? Setiap orang pasti akan mengatakan bagaimanapun dia adalah orang tuamu. Apakah tidak ada masukkan lain selain itu? Apakah aku benar-benar durhaka?

Aku memutuskan untuk pergi dari rumah, terlalu muak memikirkan hal itu setiap hari. Aku menaiki motorku mengelilingi daerah rumahku, selain sini, aku tidak dapat pergi jauh karena aku belum memiliki sim berkendaraan. Aku melihat berbagai kehidupan di sekitarku, tertawa, bahagia, sedih dan dingin, begitu banyak ekspresi yang orang-orang utarakan, tetapi mengapa aku hanya memiliki kesedihan dihidupku? Aku begitu mengharapkan kasih sayang dari keluargaku, teman-teman sekolahku, namun kenapa mereka tidak dapat memberikanku, walaupun hanya setitik saja, mungkin aku sudah bahagia, aku juga ingin seperti mereka dapat tertawa lepas, dapat tersenyum bahagia ketika mendapatkan hadiah di waktu ulang tahun, makan bersama keluarga dan meniup lilin bersama, namun itu semua hanyalah harapan semu-ku. Aku tahu harapan ini tidak akan pernah terkabulkan, tetapi setidaknya ini adalah alasan untuk diriku terus melanjutkan hidupku.

*brakk

Sebuah benturan mengejutkanku, aku terhempas jauh setelah sebuah truk berbelok menabrakku, aku tahu bukan salah truk tersebut, aku yang tidak melihatnya. Kini aku masih merasakan kesakitan yang luar biasa di sekujur tubuhku, aku ingin berdiri dan membawa kendaraanku pergi.

"Kamu tidak apa-apa?" Beberapa laki-laki segera berlari menghampiriku.

Ren, salah satu laki-laki yang masih berlari kecil di sana, laki-laki itu merupakan sepupuh jauhku, ya dia merupakan orang yang aku sukai sejak kecil. Setelah seseorang membangunkanku, aku pun berterima kasih padanya dan segera menundukkan kepala untuk pergi, namun kakiku menolak, terlalu perih.

"Kamu berdarah." Begitulah ujar salah satu laki-laki tersebut.

"Aku pergi belikan obat." Ren segera berlari pergi, aku berharap dia tidak melihatku dalam keadaan memalukan seperti ini.

"Aku sudah tidak kenapa-napa, aku ingin pulang," gumamku ingin melepaskan tangan teman Ren, tetapi dia menolak, dia membawaku duduk di bangku depan super market. "Sepertinya kamu harus ke rumah sakit," ujar salah satu di antara mereka setelah melihat lukaku.

Aku mengeleng kecil. "Tidak, aku baik-baik saja."

Ren berlari kecil kembali, dia sedikit terkejut ketika menyadari orang yang terluka itu adalah aku.

"Sini biar aku obati," ucap teman Ren, tetapi Ren menolaknya. "Biar aku saja," ucapnya mendekatiku. Dia terjongkok di depanku, sepata katapun tidak keluar dari mulutnya, wajahnya terlihat tidak senang. Lama tidak berjumpa, dia sudah berubah, dulu jika melihatku terluka mungkin dia akan mengoceh sepanjang jalan, tetapi sekarang dia hanya diam-diam membersihkan luka kakiku. Apakah dia sudah melupakanku?

"Aku ingin pulang," gumamku setelah Ren membalut lukaku.

"Aku antarkan." Dia menarik tanganku, aku segera menghindarnya.

"Tidak perlu," tolakku segera. Aku berusaha bangun dan berjalan pergi menuju motorku, aku yakin jika diriku masih kuat untuk mengendarainya pulang.

***

"Aku pulang." Aku berhasil sampai di rumah, tenangaku sudah terkuras habis, yang ingin aku lalukan adalah segera tidur di ranjangku, namun ibu muncul di depanku, dia melihatku dari atas hingga bawah, ya aku dapat menyadari bertapa lusuhnya diriku, melihat luka di kaki dan juga tanganku, dia terlihat marah.

"Kenapa terluka?" tanyanya dengan penuh nada emosi, aku tidak ingin menjawabnya, jika dia tahu aku ketabrak truk, mungkin bukan perhatian yang muncul dari mulutnya, melainkan sebuah amukkan yang mendatangiku.

"Aku tidak sengaja.. jatuh dari motor."

"Sudah kubilang naik motor harus hati-hati, kenapa kau tidak bisa mendengarnya?!" Sesuai dugaanku ibu begitu marah, aku hanya ingin segera masuk kamar, tetapi dia mencegatku.

Aku pun menatap ibu dengan lekat. "Aku tidak apa-apa, hanya luka kecil," jelasku memastikan.

"Luka kecil katamu?!" teriak ibu kesel.

"Aku sudah dewasa ibu! Aku dapat menjaga diriku!"

Ibu terlihat lebih marah setelah aku membentaknya, dia segera mengambil bangku besi di sampingnya dan ingin melempariku, seketika dunia ini terhenti, aku merasakan sesak, bangku juga membatu di tengah udara, sebuah angin berhembus membawaku pergi, di detik inilah aku kembali merasakan kehidupan, tetapi ini bukan rumahku, aku berada di sebuah atap bangunan tinggi.

Related chapters

  • The Sad Angel Geana   BAB 2 Dewa Kematian

    "Aku sudah mencarimu berpuluh tahun." Suara di belakangku begitu mengejutkanku, aku segera memutarkan tubuhku. Makhluk itu sungguh mengejutkanku, raut wajahnya seperti monster berwarna hitam, dia memakai pakaian serba hitam dan memiliki sepasang sayap lebar berwarna hitam pekat."Siapa kau?" tanyaku berusaha mundur dan menjauh darinya."Kamu melupakanku?" Senyumannya begitu mengerikan, dia mengingatkanku dengan karakter dewa kematian di sebuah komik.Aku berusaha mencari cela di belakangku untuk kabur, tetapi tidak bisa, dia sepertinya tahu apa yang kuingin lakukan, dia segera menarik tanganku."Dewi kesedihan, sampai kapan kau terpuruk dengan duniawi ini?"Apa maksud dia? Dewi kesedihan? Apakah dia sedang memanggilku? Apakah dia salah orang?"Apa yang ingin kau lakukan?" tanyaku."Membangunkanmu, masih banyak yang harus kita lakukan partner kerjaku."Aku tidak mengerti apa yang dimaksud dia? Apakah aku sedang bermimpi?Di saat aku masih melamun sebuah sinar terang mengejutkanku, aku t

    Last Updated : 2021-07-22
  • The Sad Angel Geana   BAB 3 Geana Namaku

    Bayang-bayang sinar telah menyadarkanku, aku pelan-pelan membuka mataku, matahari sudah terbit, sebuah tempat yang empuk, aku melihat sekitar dan mendapatkan diriku tertidur di atas kasur. "Jika sudah sadar, ayo pergi," ucap Amor. Dia masih duduk di sofa kemarin, apakah seorang dewa kematian tidak perlu tidur? Aku kembali menatap bantal yang kutiduri, ini bukan bantal yang membuatku teringat hal-hal aneh itu? Kenapa aku dapat tidur dengan tenang? Aku berusaha untuk mengingat-ngingat, Amor kemarin membuatku tidak sadarkan diri. Apakah dia yang melakukannya? Membuatku tidak teringat dengan mimpi-mimpi buruk itu? "Ayo," ajaknya namun langkahnya terhenti. "Aku lupa kau hanya seorang manusia biasa," gumamnya menarikku melewati sebuah ruang waktu. Kini aku dan dia berdiri di depan sebuah restoran, aku melihat sekitar tempat ini. Ini merupakan duniaku, aku menoleh lagi ke plang nama restoran tersebut, 'Miracle' nama restoran terkenal itu. Aku segera

    Last Updated : 2021-07-22
  • The Sad Angel Geana   BAB 4 Dewa Kebahagian

    Hari ini aku kembali masuk sekolah setelah menghilang berhari-hari. Kali ini aku menggunakan tubuh yang sama, nama yang berbeda begitupun dengan indetitasku untuk menemui teman-teman sekelasku lagi. "Aku murid baru Geana, senang bertemu dengan kalian." Begitu banyak murid yang tersenyum melihatku, ini tidak seperti biasanya mereka melihatku sebagai Mila, aku pun menoleh ke arah Amor. "Aku menutup aura kesedihanmu," gumamnya. Dia seperti tahu apa yang kupikirkan, apakah dia mulai membaca pikiranku lagi? "Baiklah, kalian cari bangku kosong dan duduklah," ucap bapak guru yang akhirnya mempersilakan kami duduk, aku melamun cukup lama hingga akhirnya memutuskan untuk duduk di tempat biasanya aku duduk. Tempat dekat tong sampah, ya aku tidak menyukai tempat ini, tetapi begitulah mereka mengucilkanku dulu, dan kini aku kembali duduk di sini merasakan kembali kenangan yang sudah lenyap itu. "Di sana tempat duduk.." Teman sekelasku yang duduk tepat di depanku te

    Last Updated : 2021-07-22
  • The Sad Angel Geana   BAB 5 Kemarahan Amor

    "Itu urusanku, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan padamu," ucap Ren, namun Amor segera menarikku ke sisinya. "Urusanmu memang bukan urusanku, tetapi Geana adalah orangku, urasan dia adalah urusanku," ucap Amor. "Cepatlah cari kembali kekuatanmu dan buka segel Geana atau tidak aku akan menghancurkan alammu." "Aku menyadari kau, Amor Ashilie, calon raja dewa kematian begitu suka mengancam," sindir Ren Amor tersenyum kembali, aku menyadari setiap senyuman dia begitu mematikan, seperti tidak akan memberikan musuhnya kesempatan untuk hidup. "Aku tidak bercanda denganmu, jika kau tidak bisa membuka segel Geana, aku akan..," "Ren," panggil seorang perempuan mengalihkan pembicaraan kami. Wajah perempuan itu begitu asing, dia memakai seragam sekolah yang sama dengan Ren, sepertinya mereka satu sekolah, namun untuk apa mereka datang ke sini. "Ren, kepala sekolah memanggil kita untuk menemuinya." "Baiklah," balas Ren sambil menyingkirkan tangan

    Last Updated : 2021-07-22
  • The Sad Angel Geana   BAB 6 Mera

    Kini aku membawa Ren ke dalam kamarku, lebih tepatnya kamar Geana dewi kesedihan.“Kamu baik-baik saja?” Aku menopang Ren duduk di sofa kamarku.Ren tersenyum padaku. “Ini hal yang biasa.”“Biar aku obatin lenganmu,” gumamku mulai membuka tasku. Aku mempunyai obat merah dan juga pembalut luka, aku kira selamanya aku tidak mempunyai kesempatan untuk menggunakannya, ternyata kesempatan itu datang bukan untukku, melainkan Ren. Di tengah pengobatan ini mengingatkanku pada waktu terakhir aku bertemu dengan Ren, dia juga mengobatiku seperti ini. “Sudah.” Aku pun kembali duduk di tempatku.“Mila, percayalah padaku, aku akan mengembalikan kekuatanku dan membawamu kembali ke alam di mana seharusnya kamu berada.”Lagi-lagi kata-kata itu yang diucapkannya, aku pun tersenyum kecil membalasnya.“Sebaiknya kamu beritahu pada Amor bagaimana cara membuka segelku, sebelum kamu mati dibunuhnya,

    Last Updated : 2021-07-25
  • The Sad Angel Geana   BAB 7 Pintu Dimensi

    “Pintu dimensi ada di gunung kutub utara, aku akan membawa kalian pergi.” Mir orang yang disebut-sebut Amor kemarin ternyata adalah laki-laki dengan sehelai kain hitam. Dia begitu tampan dan lembut, benar-benar tidak seperti seorang dewa kematian. “Semua yang ada di dalam dunia dimensi tidak dapat berubah, kalian hanya dapat menonton, mencari jawaban yang kalian inginkan, dan lagi setelah setengah jam segeralah keluar, jika tidak, pintu akan tertutup.” Kami bertiga seperti wisatawan yang mendengarkan seorang pemandu wisata membicarakan suatu destinasi. Setelah bercerita lama tentang pintu dimensi, kami pun segera berangkat menuju tempat yang dituju,tidak di sangka gunung di kutub ini sangat dingin. Dalam detik di mana aku berpijak di sini, seluruh tubuhku seperti membeku. Amor segera menarik tanganku, seketika seluruh tubuhku menjadi hangat kembali. Aku pun menatapnya dengan lekat, apakah dia adalah penghangat berjalan? Aku pun mengandeng tanganya dengan erat. Mir segera memberikanny

    Last Updated : 2021-07-29
  • The Sad Angel Geana   BAB 8 Kembali

    Aku menyukai Amor? Aku begitu terkejut menoleh ke arah Amor, di benakku tidak pernah kepikiran dapat menyukai seorang dewa kematian. Amor pun tersenyum. “Ternyata selama ini kamu tidak pernah melupakanku, Geana.” Kata-kata itu membuatku merasa geli juga tidak mengerti. “Baiklah, sudah tidak ada waktu, daripada mati di sini, aku akan mengirim kalian pulang, setelah keluar dari pintu dimensi ini, menjauhlah dari Mir,” gumam Amor melepaskan tanganku. Dia sungguh membuatku syok, apa yang ingin dia lakukan? Mengantarkan nyawanya demi memulangkan kami? “Tidak Amor, tidak! Kamu tidak boleh mati di sini!” Amor pun tersenyum menatapku. “Setimpal,” sebuah kecupan darinya membuatku membatu, begitu banyak banyangan yang muncul di benakku, namun bukan kesedihan, aku merasakan kebahagian berada di sisi Amor, rasa yang tidak pernah muncul sebelumnya. Sebuah sinar menyilaukan memulangkan kami ke depan pintu dimensi. *** “Geana,” panggil Ren segera membangunkanku. “Amor! Amor!” teriakku menatap

    Last Updated : 2021-08-03
  • The Sad Angel Geana   BAB 9 Cemburu

    “Amor!” teriakku. Aku tersadar dari mimpi panjangku. Amor menatapku dengan dingin, dia duduk di pinggir kasurku. “Amor,” panggilku segera bangun dan memeluknya dengan erat. Aku berharap seluruh itu hanyalah mimpi dan tidak akan menjadi kenyataan. “Bodoh, kenapa sembarangan mengambil tindakan?” tanyanya. Dia mengulurkan tangannya untuk mengelus-elus kepalaku. “Aku.. aku ingin pergi mencarimu.” Amor langsung mengetuk kepalaku pelan. “Kamu lupa jika kita saling terhubung, hanya kamu yang dapat mengumpulkan jiwaku, jika kamu datang mencariku, aku tidak akan kembali lagi bodoh.” Kata-katanya membuatku tersadar bertapa bodohnya diriku, kenapa aku tidak mengingatnya. Kami saling terikat, hanya aku yang dapat membangunkannya. “Amor,” panggilku lagi. Aku melepaskan pelukkanku dan menatapnya. “Bagaimana dengan kakak?” “Bajingan itu.., maksudku Mir, dia kabur.” “Ren, bagaimana dengan Ren? Apakah dia baik-baik saja.” “Kau.., sangat memerhatikannya,” gumam Amor terdengar dingin. Aku pun m

    Last Updated : 2021-08-03

Latest chapter

  • The Sad Angel Geana   BAB 33 Bertemu Kembali (END)

    Aku Geana dewi kesedihan yang hidup dalam kebohongan. Kini aku membawa Mera dan juga Aurora meninggalkan tempat-tempat penuh kesakitan itu, untuk mengelilingi semesta ini. Pergi ke berbagai tempat yang indah juga menarik. Kami telah menghabiskan puluhan tahun dalam perjalanan. Aurora pelan-pelan pulih dari penyakitnya, dia sekarang tumbuh dewasa dan juga cantik. Sayangnya gadis secantik dia malah menyukai seekor panther.“Hari ini kita tinggal di sini dulu,” ucapku menutup mataku sambil menikmati udara sejuk yang berhembus.“Bumi memang sebuah tempat yang indah, jika tidak ada manusia-manusia serakah, mungkin ini adalah tempat terindah di semesta,” ucap Mera berjalan ke sampingku. Apa yang dia katakan tidak salah, keindahan alam ini pelan-pelan menghilang hanya karena serakah.Aku kembali membuka mataku menikmati air terjun yang mengalir deras di depan mataku. Suara air terjun itu begitu mengobatiku.“Kamu bilang apakah melewati air terjun ini, semua dosa akan tercuci habis?” tanyaku.

  • The Sad Angel Geana   BAB 32 Pernikahan

    Aku tidak memiliki pilihan lain selain pulang ke dunia kematian, di sini masih ada Mera dan juga Aurora yang sedang menungguku. Aku berjanji pada mereka untuk membawa mereka keliling dunia, mungkin inilah saatnya membawa mereka pergi.Sebuah suasana yang berbeda di waktu aku menginjakkan kaki di alam kematian ini. Kenapa di sini begitu meriah? Sudah lama aku tidak merasakan kemeriah seperti ini.Lonceng alam kematian terus berbunyi. Biasanya di waktu-waktu penting saja lonceng tersebut berbunyi. Apakah ada hal besar yang terjadi. Aku segera terbang menuju kastelku, mencari Mera dan juga Aurora.“Geana!” teriak Mera. Setelah merasakan kehadiranku, dia segera berlari ke arahku.Dia memelukku dengan erat, tetapi aku segera melepaskannya dan melihatnya dengan lekat. Aku sungguh mengkhawatirkannya, kursi pemimpin alam kematian sudah lama kosong, dia pasti menemui banyak masalah. “Mera apa yang terjadi? Apakah kamu baik-baik saja?”Mera menatapku dengan bingung. “Aku selalu baik-baik saja,”

  • The Sad Angel Geana   BAB 31 Tumbal

    Ailey memaksaku untuk beristirahat. Aku kembali ke kamarku, awalnya aku mengira aku tidak dapat tidur karena memikirkan masalah ibu, namun tanpa sadar aku lenyap dalam mimpiku. Aku hampir melupakan tentang Amor. Dia muncul di depanku, tepat samping kasurku, menatapku dengan lekat. Aku menyadari kehadiran, tetapi mataku tidak dapat terbuka. Aku hanya dapat merasakan tangannya yang sedang merapikan rambutku. “Hanya dengan cara ini aku dapat melihatmu, aku tidak tahu harus menggunakan indetitas apa untuk muncul di sini, maafkan aku Geana,” ucapnya. Aku ingin sekali membuka mata mengatakan jika aku tidak menyalahkannya, tetapi tubuh ini tidak mendengarkan perintahku.“Amor!” Aku terbangun dari mimpiku, keringat bercucuran membasahi wajahku. Setelah mengatur napasku, aku menatap sekitar, namun tidak ada, dia tidak ada di sini. Ini hanyalah mimpi.“Geana, ibumu sudah tersadar.” Sebuah catatan kecil terbang ke hadapanku, dan menghilang setelah aku membacanya, ini adalah pesan yang dikirimkan

  • The Sad Angel Geana   BAB 30 Ibu

    “Kakak,” panggilku menghampirinya dan memeluknya dari belakang. “Ehek.. ehek..” Mungkin pelukkanku terlalu erat hingga membuat kakak tersendak. “Tidak apa-apa, Geana. Kakak hanya sedikit.. sedikit tidak enak badan,” ucapnya menjelaskan kekhawatiranku. Belakangan ini kakak memang terlihat lemah. Auranya juga melemah, apa yang sedang dia lakukan? Aku pun menatapnya dengan lekat, berharap dia dapat berkata jujur padaku. “Geana,” panggil kakak. “Kakak tidak kenapa-napa, tersenyumlah.” Kakak seperti bisa membaca isi hatiku. Dia tersenyum memegang pipiku dengan lembut, senyumannya begitu indah. “Kakak belakangan ini mengelilingi bumi, mengumpulkan roh-roh monster yang bekeliaran, luka-luka ini tidak apa-apa,” jelasnya lagi. “Benarkah? Bagaimana cara menyembuhkannya? Apakah butuh aku mentransfer kekuatanku kak?” Kakak segera mengeleng. “Kakak hanya perlu waktu istirahat beberapa hari, sana pergi cari Amor, bermainlah bersamanya. Kakak mau istirahat dahulu.” Kakak pun mengusirku, dia mem

  • The Sad Angel Geana   BAB 29 Pengorbanan

    Ruang kembali berganti, aku kembali melihat Amor, dia sudah menghabiskan begitu banyak kekuatannya untuk menganti ruang demi ruang. “Amor, biarkan aku yang melakukannya,”ucapku.Amor mengeleng, senyuman tipisnya pun mengembang. Bibirnya sudah pucat pasi namun dia masih berpura-pura tegar di depanku. “Aku tidak apa-apa,”gumamnya.Kini kami sampai di gurun, orang-orang di gurun ini merupakan dewa-dewi yang berada di kastel ayah. Mereka merupakan para bawahan ayah yang handal. Kakak memindahkan mereka satu persatu dan menyembunyikan mereka di sini. Aku mengerti sekarang kenapa mereka tinggal di sini, walau memiliki cuaca ekstrim, namun tempat ini tidak memiliki kehidupan, tidak ada yang akan menganggu mereka. Demi mempertahankan nyawa mereka yang sudah hampir tiada, kakak setiap hari datang ke sini mentransferkan mereka kekuatannya,.“Finderick, anakmu.., aku akan menolongnya keluar, kamu tenanglah,”ucap kakak t

  • The Sad Angel Geana   BAB 28 Raja

    Sebuah tempat yang tidak asing, ini adalah depan perbatasan alam kebahagiaan. Ibu mengendong seorang anak kecil dengan erat, wajahnya terlihat cemas menunggu seseorang yang berada di luar. Aku dan Amor pun berjalan keluar perbatasan untuk melihat apa yang sedang terjadi.Diluar sini sungguh mengemparkan. Begitu banyak prajurit alam kematian mengepung sekitar, ayah dan raja dewa kematian sedang membicarakan sesuatu di antara mereka.“Ingatlah, pada akhirnya kamu tetaplah dewa kematian.”Wajah ayah Amor begitu senang atas kemenangannya. Dia memberi tahu ayah jika dirinya tidak mempunyai pilihan lain selain pulang bersamanya.“Aku akan mengikutimu pulang,”ucap Ayah.Ayah Amor yang merupakan raja kematian pun tersenyum puas ketika mendengar kata ayahku, namun aku tidak melihat kesenangan sedikitpun dari wajah ayah karena selangkah lagi dewa-dewi kematian akan menyerang masuk ke dalam alam kebahagiaan.“Jangan lu

  • The Sad Angel Geana   BAB 27 Kekuatan Paksa

    Aku membawa busurku kembali ke kastelku. Busur biru ini kini berubah menjadi merah merona. Di atas sini penuh dengan darah kakak, ini juga merupakan salah satu alasan kenapa kakak secepat itu meninggalkan semesta ini. Walaupun kakak memiliki darah ayah, namun noda iblis di dalam tubuhnya membuat busur ini menolaknya menjadi majikan. Kakak tahu hal tersebut, namun dia tetap memaksakannya.Kata-kata kakak terus tergiang di benakku. Sebenarnya bagaimana kakak mengetahui semua hal ini? Sedangkan seluruh orang-orang yang mengetahuinya menutup mulutnya dengan rapat dan berkata ini mencakup banyak rahasia. Memang sebuah rahasia yang sangat besar, ternyata raja kamilah yang membunuh ayahku, dan raja itu adalah ayahnya Amor. Bagaimana aku menghadapinya? Ayahnya membunuh ayahku, dan dia mati bersama dengan kakakku.“Kamu baik-baik saja?” tanya Amor menghampiriku.Dia masih dapat setenang itu muncul di depanku, bukan seharusnya dia membenciku? Atau seharusnya a

  • The Sad Angel Geana   BAB 26 Iblis

    Mera sangat cepat mempelajari sesuatu, hanya beberapa hari saja dia sudah mengerti apa yang diajarkan Amor. Aku juga sudah berjanji padanya setelah menyelesaikan masalah di gurun aku akan membawanya, Aurora dan juga ibuku pergi mengelilingi semesta ini, meninggalkan segala macam masalah alam ini.“Amor, setelah masuk ke gurun kamu punya rencana apa?”tanyaku setelah kami hampir sampai di gurun.“Pergi ke lubang hutan itu,”gumam Amor.“Baiklah, aku akan pergi ke pemukiman untuk melihat apakah ada perubahan,”ucapku. Setelah mendapat anggukannya, aku dan dia pun berpisah menjalankan tugas masing-masing.Tempat ini masih seperti sebelumnya, tidak ada perubahan, orang-orang di sini hidup seperti biasanya, hanya saja mereka lebih layak manusia normal, ini semua berkat Emma.Aku berjalan cukup jauh hingga menghampiri piramida ayah dan juga Findercik. Sebuket bunga tergeletak di depan piramida Finderick,

  • The Sad Angel Geana   BAB 25 MERA?

    Aku dan Amor pulang ke alam kematian.Seseorang yang berdiri di tengahruangankastelmembuat kami terdiam.Laki-laki tinggi itu kini berdiri tegap mengarah kami, dia putih bersinar, rambutnya begitu lebat dan panjang, auranya tidak asing, aku sangat mengenalinya, namun wujudnya yang seperti itu membuat aku tidak berani memercayainya.“Siapa kau?”tanya Amor ingin mengeluarkan pedangnya, namun aku segera mencegatnya.“Mera,”panggilku.Mera segera berlari ke arahku dan menerkamku, dia mejilat-jilat wajahku dengan senang, jika dia adalah Mera dengan wujud bongsornya mungkin aku akan senang, namun wujudnya ini membuatku merasa syok.Amor segera menariknya bangun.“Dia.. Mera?”Amor terlihat tidak percaya menempelengnya.“Mera kamu kenapa berubah menjadi wujud manusia? Di mana Aurora?”“Putri.”Aurora terlihat senang berlari keluar da

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status