LOGINAlyvia is a Karma Dealer who had been dishing out Karma for 10 years, that is, until she met Jazmine Murphy. Jazmine Murphy is the ex-wife of Nicholas Murphy, a CFO & Billionaire who made his money through a string of good investments. After a tumultuous 4 year relationship & an awful divorce, Jazmine wants revenge on her ex-husband, so Alyvia takes one last job to get Jazmine her revenge. Everything goes according to plan when Alyvia breaks Nick's heart & takes his fortune in the process. She retires to her hometown & changes her name back to the one her mother gave her when she was born so he can never find her. So you can imagine her shock when he shows up in her little hometown 5 years later & flips her newly built world upside down. Will he forgive her for the pain & anguish she caused him? Or will he stop at nothing to take back the fortune she took from him?
View More"Kumohon tepatilah janjimu untuk membebaskan ayahku dari segala hutangnya."
Gadis itu memohon dengan tubuh gemetar.
Malam ini merupakan malam yang sangat menyedihkan bagi Izabelle Vedrow–atau sebut saja gadis ini Belle. Ia kehilangan pekerjaannya akibat hutang iutang sang ayah yang suka bermain judi dan juga suka memukuli ibunya ketika kalah bermain judi.
Dan kini, ayahnya tersebut sedang disandera oleh bos mafia yang menjadi tempat ayahnya meminjam uang untuk berjudi tersebut.
Muak dan marah akan keadaan hidupnya, membuat Belle terpaksa harus datang seorang diri ke markas mafia tersebut.
"Kau akhirnya datang, jalang kecil." Seorang pria berucap. Rupanya ia telah menanti kedatangan Belle malam itu.
Pria itu adalah Jordan Heron, sang boss mafia yang sangat keji dan juga super bajingan.
Jordan hanya mengenakan celana jeans, sedangkan bagian tubuh atasnya terekspos bebas. Tubuh yang begitu proporsional, dengan otot yang sangat menggoda iman wanita ketika melihatnya. Senyuman nakal tertoreh di bibir Jordan, karena baginya kedatangan Belle adalah sebuah santapan lezat.
"Berhenti mengulur waktu, cepat lakukan sesuai perjanjian." Belle berucap ketus dengan sorot mata yang sangat tajam. Toh, ia datang ke sini untuk membebaskan ayahnya yang berengsek itu karena ibunya tidak hentinya memohon dan menangis.
Melihat sorot mata Belle, seketika itu juga Jordan merasa sangat tertantang. Belum pernah ada seorang gadis polos yang berani menentang dirinya seperti yang sedang Belle lakukan.
"Kemarilah!" Jordan menarik paksa pergelangan tangan Belle menuju sebuah ruangan khusus miliknya.
Yang, tentu saja, merupakan tempat eksekusi panas bagi Jordan.
“He-hei, apa yang–”
“Aku akan membebaskan ayahmu,” ucap Jordan, tepat di daun telinga Belle, dengan sedikit jilatan nakal di sana. Pria itu memeluk tubuh Belle dari belakang, memerangkap gadis itu dengan dua tangannya yang kekar. “Setelah kau memuaskanku.”
Belle gemetar. Ia tidak tahu tentang dunia mafia yang sangat kejam.
“Ahk!” Belle memekik saat Jordan tiba-tiba mendorong tubuhnya ke atas kasur king size.
Pria itu menindih tubuh Belle dan mulai mencumbu Belle dengan kecupan yang begitu rakus. Belle hanya mampu meremas seprei sebagai pelampiasan rasa bersalah dan juga jijik terhadap dirinya sendiri.
Apakah dirinya akan berakhir malam ini? Belle hanya bisa pasrah akan apa yang Jordan perbuat selanjutnya.
Belle mendesah kasar, saar Jordan mulai menjelajahi area tubuhnya. Menjilat, menghisap, meremas bagian sensitif tubuh Belle, mampu membuat seluruh tubuh Belle mengalami tegangan tinggi. Seluruh aliran darahnya kian memanas, dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kau yang menyerahkan dirimu, maka nikmatilah malam terakhirmu sebagai seorang gadis perawan."
**
Desahan Belle dan Jordan bersahut-sahutan bahkan saat akhirnya Jordan ambruk di samping tubuh Belle. Sorot matanya tampak puas, meskipun di sampingnya, tubuh Belle masih gemetar usai percintaan panas mereka.
Padahal mereka melakukan itu hanya karena perjanjian semata, tanpa cinta sama sekali. Namun, Belle tidak menyangka bahwa ia akan merasakan sensasi memuaskan seperti itu.
Menyakitkan, tapi juga … memberikan perasaan asing pada Belle.
Akan tetapi, Belle tidak boleh melibatkan hatinya di sini.
Wanita itu mencoba bangun dan pergi melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah beberapa saat kemudian, Belle keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lengkap.
"Aku sudah melakukan apa yang dapat kulakukan. Sekarang, cepat tepati janjimu." Ucap Belle dengan wajah datar.
Jordan tersenyum miring.
"Tentu saja aku akan menepati janjiku. Karena, pada akhirnya para wanita memang hanya menginginkan uang, dan bahkan rela menjual keperawanan mereka hanya demi ini."
Jordan melemparkan secarik kertas berisikan uang senilai miliaran ke arah wajah Belle.
"Apakah jumlah ini sudah melunasi semua hutang ayahku?" tanya Belle datar. Ia tidak mengomentari maupun menyanggah hinaan dari Jordan.
"Itu adalah bonus atas pelayananmu malam ini. Namun, jika ayahmu masih berani berhutang seperti itu, maka aku tidak tahu apa lagi yang dapat kunikmati dari sisa tubuhmu," ucap Jordan dengan tersenyum puas.
Sungguh ucapan yang sangat menusuk hingga ke ulu hati Belle. Namun, ia hanya dapat terdiam, karena apa yang Jordan lakukan sudah sewajarnya sebagai seorang yang lebih berkuasa.
"Terima kasih atas bonus ini. Kuharap kita tidak akan bertemu lagi." Belle berbalik dan melangkah pergi dari hadapan Jordan.
Jordan mendengus. “Terserah. Toh pelayananmu sangat payah,” ucap Jordan saat Belle akan memutar gagang pintu.
Belle berbalik sejenak sembari berkata, "Setidaknya kau puas dengan tubuh perawanku. Selamat tinggal."
••••
“Setidaknya kau puas dengan tubuh perawanku. Selamat tinggal.”
Usai mengatakan itu, Belle benar-benar meninggalkan markas mafia dengan wajah tegar.
Namun, saat sudah melangkah jauh dari area markas mafia, baru Belle menangis terisak. Ia membenci dirinya yang sudah begitu kotor dan hina.
"Aku hanyalah seorang jalang menjijikan." Belle berucap dalam keputusasaan. Belle bahkan merobek cek uang dari Jordan.
Belle hanya seorang gadis berusia 21 tahun, dan ia baru saja menyelesaikan pendidikan strata satunya di bidang bahasa asing. Ia sangat cerdas sehingga lulus dengans angat cepat, bahkan sejak sekolah sudah dikenal dengan kejeniusannya.
Namun kini, Belle telah kehilangan kehormatan yang sangat berharga baginya.
Apa yang dapat Belle lakukan selanjutnya?
***
“Ayah, kumohon berhentilah bermain judi! Tolong jangan buat masalah!”
Plak!
Ucapan Belle langsung membuatnya dihadiahi tamparan oleh sang ayah.
“Jangan campuri urusanku!” bentak ayah Belle. “Kau hanyalah anak kemarin sore yang tidak mengerti urusan orang tua!”
Belle benar-benar muak dengan tindakan dari ayahnya. Padahal ia telah berkorban besar demi kebebasan ayahnya. Namun, ia justru menerima perlakuan kejam dari ayahnya ketika akhirnya pria itu pulang.
Bahkan, pria itu tidak memberikan waktu pada Belle untuk sekadar mencari kerja. Namun, saat tiba, pria itu justru menyuruh Belle dan sang ibu untuk mengemasi barang-barang mereka karena rumah ini sudah ia berikan untuk para penagih utang.
"Tidakkah ayah berpikir dengan kesehatan ibu? Berhentilah berbuat onar di luar sana." Belle masih belum menyerah.
"Diam! Kau tidak tahu apapun lebih baik tutup mulutmu! Jika kau merasa muak dengan ayah penjudimu ini, kau bisa angkat kaki!"
Belle terdiam. Ia ingin melakukan itu, tapi ia tidak bisa meninggalkan sang ibu. Lagi pula, ia mustahil membawa serta ibunya karena sang ibu begitu peduli pada suaminya yang bajingan.
Sementara itu, usai mengatakan hal tersebut, sang ayah duduk dengan sebatang rokok di tangannya.ia terlihat begitu santai dan tidak terlalu peduli.
"Ayah, mengapa Ayah melakukan hal ini?” ucap Belle putus asa. “Apakah ayah sudah gila?"
Namun, ucapan itu tidak mendapatkan jawaban. Yang bisa Belle lakukan adalah melakukan perintah ayahnya. Mereka pada akhirnya pergi menuju sebuah rumah susun sederhana yang akan menjadi tempat tinggal baru mereka. Tempat yang sangat sempit dan juga berisik.
Belle benar-benar tidak sanggup dengan keadaan keluarganya saat ini, namun ia juga tidak dapat menghindarinya. Belle hanya dapat bekerja keras untuk kehidupan yang jauh lebih baik ke depannya.
Belle terus pergi ke perusahaan-perusahaan untuk melamar pekerjaan. Namun, belum juga mendapatkan panggilan kerja. Akhirnya, Belle mencoba untuk membuat jasa les private bahasa asing, seperti kemampuannya selama ini.
“Astaga, tapi ini masih belum cukup.”
Belle mendesah frustrasi. Gajinya tidak cukup untuk membayar biaya sewa rumah susun bahkan untuk penghidupan sehari-hari.
Di bawah terik matahari, Belle masih berjuang untuk kehidupan keluarganya. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang kerap kali jatuh sakit akibat terlalu memikirkan perbuatan ayahnya. Sedangkan ayahnya ialah seorang pengusaha biasa, dan semua hasil itu habis di meja judi juga alkohol.
Drrtt. Satu panggilan baru masuk ke ponsel Belle.
“Halo?”
"Izabelle, kaukah itu? Yang sedang duduk di bawah pohon?" tanya seorang pria dari balik panggilan tersebut.
Belle mulai memandangi sekelilingnya, dan tak juga mendapatkan jawaban.
"Belle!" ucap seseorang mengejutkan Belle.
"Andrew!" ucap Belle dengan mata membulat.
"Ah, kupikir aku salah. Sudah cukup lama, bukan?" ucap pria yang bernama Andrew.
Andrew adalah sahabat Belle selama berada di perkuliahan, mereka sama-sama dikenal dengan kecerdasan masing-masing.
"Bagaimana kabar keluargamu?" Tanya Andrew.
Dengan wajah sendu, Belle pun tersenyum.
"Semuanya baik-baik saja," ucap Belle dengan senyuman terpaksa. Walau bagaimanapun juga, Belle tidak mungkin membeberkan permasalahan yang terjadi di dalam keluarganya, sekalipun itu adalah seorang sahabat.
"Belle, kita sudah sahabat sejak pendaftaran masuk perkuliahan. Bagaimana bisa kau berbohong padaku."
"Andrew, aku tidak bermaksud–"
"Aku baru saja melewati pabrik milik paman Ved, dan di sana tertulis bahwa pabrik itu sudah disita.” Andrew terlihat prihatin dengan keadaan keluarga Belle.
Belle tersenyum sendu sembari menghela napas pelan.
Andrew melihat penampilan Belle yang terlihat rapi, dan sebuah map berada di tangannya. Terlihat jelas, Belle sedang mencari pekerjaan.
"Menu di kedai paman kecil sudah bertambah. Mau mencobanya?" Andrew menarik tangan Belle begitu saja menuju sebuah mobil sport mewah sudah terparkir di sisi jalan.
“Bagaimana kabarmu?” Belle mencoba membuka obrolan di sepanjang jalan. "Kau selalu sukses seperti biasanya."
"Ah, aku hanya melanjutkan bisnis orang tuaku. Tidak ada yang perlu dibangga-banggakan," ucap Andrew.
"Tapi itu sangat luar biasa. Karena tidak semua anak dapat melanjutkan kesuksesan orang tuanya. Bukankah begitu?" ucap Belle tertawa. \
Keduanya terlihat begitu dekat satu sama lain. Belle seakan melupakan sejenak permasalahannya, dan berusaha untuk menikmati waktu bersama mereka tanpa menyadari sebuah mobil hitam mengamati gerak-gerik mereka sejak tadi.
***
“Oh benarkah!?” Belle terdengar bersemangat saat mendengar kabar bahwa ia diterima bekerja di sebuah perusahaan cukup besar.
Ini semua tidak lepas dari bantuan Andrew kemarin, sehingga ia mendapatkan mendapatkan rekomendasi langsung dari sang manajer untuk masuk ke Tiger Group.
Dengan wajah penuh senyuman harapan, Belle melangkah dengan penuh percaya diri.
Paras cantik, dan juga didukung dengan kecerdasan yang ia miliki, tentu saja menjadi daya tarik dalam jenjang karir Belle ke depannya.
Namun, setiap perjalanan karir yang lebih baik tidaklah semudah membalikan telapak tangan.
Pun milik Belle.
"Bawa gadis kecil itu ke ruanganku!" titah seorang pria yang merupakan CEO perusahaan Tiger Group saat mendengar laporan bahwa Belle sudah tiba di gedung di hari pertamanya..
Tersenyum nakal dan penuh makna, seakan kedatangan Belle sudah sangat dinantikan.
"Akan ada kejutan besar untuk jalang kecilku.”
Hey everyone! I know I haven't updated this book in a few months, so I wanted to take a moment to address this. I've decided that the best thing for me to do right now is pause on this book. At first I was hoping to finish it by the end of the year, but the truth is that I've had some serious writers block when it comes to this story. I know where I want to take it, and how it will end, but I've been lacking in inspiration when it comes to these characters. So, right now, my focus is on finishing The Timekeeper Dynasty book I'm currently working on. I've also recently began another project I'm passionate about, though I haven't gotten to a point to where I'm ready to upload it to the platform yet. I hope you all can understand, and are willing to bear with me until I am ready to finish this adventure of Roz, Nick & Remi. Until that time comes, please feel free to check out The Timekeeper Dynasty Series here on Goodnovel!
Rozelynn POV Remi came home from dropping off Nick, and to my surprise, he got in the shower with me. It had been a while since he had bothered to try to be close to me, but I was more than happy to welcome him into my arms. At some point over the past year our marriage had begun to unravel. We were no longer having intimate moments, and it was truly taking its toll on both of us. He kissed me needily, and I happily returned his affection, happy to have my husband touching me, needing me and wanting me again. I would never say it out loud, but I had truly missed this closeness between the two of us. Once upon a time, Remi had been my very best friend. He gave me the freedom to speak openly and honestly about my feelings, regardless of how dark they were. Sure Ryleigh had always been my best friend, but there were certain things that I didn't want to burden her with because she was my little sister. So, upon my return home, Remi had been my go to and my support through the ha
Remi POV As Nick got out of the car I couldn't help but to wonder about him. He had shown up here so abruptly that it just didn't seem right. I feared that contrary to what he said, he did want to try to win Roz back, and it seemed that no matter what I told him about her, he was still in love with her. I questioned what that might mean for my marriage, but I knew that Roz would never speak openly to me about it. It seemed that somewhere throughout our marriage we had gotten lost. She used to tell me everything, but now she rarely ever spoke to me. I never had any idea what was going on inside her head anymore and I hated it. Years ago, when she showed up on my doorstep I would have sworn that we were meant for each other. I had never met anyone so full of life and so resilient. She was this incredible beauty that had landed in my lap, and the six months that we spent together had been the best six months of my life. I watched her heal from the traumas that she had incurred th
Nick POV He stood up from his seat and led the way out to the garage. I glanced over at Roz and rolled my eyes as I followed him out. As we got into his car I was instantly annoyed knowing that it was my money that had paid for his luxury vehicle. I found it condescending that as much as he detested my presence, he had no problem enjoying the perks of mine and Roz's divorce. He refused to acknowledge the fact that I was Selah's father, or that I deserved rights to her. Honestly the whole situation was infuriating, especially since I still had such deep feelings for Rozlynn. I hated even referring to her as Rozlynn, but I knew it was time to accept that she wasn't my Lyvie anymore. Instead she had gone back to Rozlynn, the small town girl that everyone here knew and loved. Well, I suppose she had actually grown into that girl, since she wasn't nearly as wild and carefree as she had once been when she was a child. Now she had gone from the town's wild child to it's sa






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews