“Sedang apa Kau di situ?” Rey lewat di depan Kayla.
“Lagi gosip tentang Kamu...” Jawab Kayla yang beranjak pergi menuju ruang ganti.
“Bilang apa Dia barusan? Hay Kau...” Rey memberhentikan langkahnya dan melihat punggung Kayla.
“Apa....?” Kayla menatap Rey yang tidak jauh darinya.
“Sudahlah lupakan saja...” Rey mengibaskan tangan kanannya.
“Aih, dasar manusia aneh!” Gerutu Kayla dan masuk ke dalam ruangan ganti milik Rey.
Dengan cepat dia merapikan semua barang yang berantakan dengan sigap Kayla memasukkan semua kemeja Rey ke dalam lemari, setelah selesai dengan aksi bersih-bersih Kayla memasuki ruang kerjanya untuk mengambil tas.
“Rey... Reyhan di mana Kau? Aku mau pulang sekarang!” Kayla berteriak sembari menuju pintu utama.
“Tunggu Bram dulu dia masih di jalan!!” Rey berbicara dengan suara dalam yang membuat suasana berbeda.
<Bram sibuk dengan segala urusan yang menumpuk di kantor dan sibuk mencari orang yang mencelakai Kayla, semua laporan yang ia terima selalu membuatnya emosi karna tak ada titik terang yang menunjukkan tempat persembunyian orang yang mencelakai Kayla, sedangkan Rey lagi duduk santai sembari memelototi laptopnya di kamar Kayla di rawat, jari jemari Rey terus menari-nari di atas keyboard.“Rey....” Memanggil lirih.Rey tidak mendengar Kayla memanggilnya sejak tadi, sepasang bola mata Rey masih fokus dengan layar laptopnya sembari menelepon salah satu karyawannya untuk proyek baru yang akan di bangun minggu depan di salah satu kota besar di luar negeri sana.“Rey, Tolong ambilkan Aku air!” Kayla mengelus pelan lehernya.“Akhirnya Kau bangun juga...” Tuturnya sambil menuang air ke gelas besar, Rey juga membantu Kayla duduk dan mengulurkan gelas yang ia pegang.“Astaga! Rupanya gelas ini bocor...” Celetuk Re
Sudah berhasil menangkap penyusup Bram dan anak buahnya pergi dari home black, di tengah perjalanan Bram dan penyusup itu pindah ke mobil lain dan mengambil jalan memutar menuju rumah sakit. Mobil yang semula di kendarai Bram kini di kendarai Hendra dan Jefri mereka mengambil jalan yang berbeda, Hendra dan rombongan anak buahnya pergi menuju perusahaan.“Kalian akan menyesal nanti!” Sarkas pria itu penuh kebencian.“Kau tak perlu menghawatirkan Kami! pikirkan saja nasibmu hari ini!!” Bram menepuk pipi penyusup itu.“Untuk apa Aku memikirkan nasibku yang telah jelas...” Senyuman sinis yang tampak dari bibirnya.Bram tak menghiraukan ocehannya, dia hanya mengkhawatir akan keselamatan Hendra, adiknya yang menggantikan posisinya di mobil itu.“Apa yang akan terjadi kepada mereka?” Gumam Bram lirih.Kerisauan hati Bram benar tentang adiknya benar, rombongan Hendra di cegat sekelompok orang bertopeng
Bram dan Rey masih mengobrol serius untuk merencanakan serangan di sebelah ruang isolasi tempat di mana Dikta di sekap.“Di mana kau akan menyerang Mereka? Apa kau sudah tahu markas Mereka?” Tanya Rey sambil menyandarkan badannya di kursi.“Aku belum tahu di mana mereka berada? yang pasti Kita harus bergerak cepat!” Pungkas Bram seraya mengelus-ngelus kepalanya.Rey terbengong dan matanya menatap ke arah sudut ruangan sambil berpikir langkah apa yang akan dia ambil nantinya yang membuat semua orang aman tanpa ada darah yang menetes sedikit pun, walau dia tahu harapan itu tidak akan pernah terwujud dengan mudah.“Apa yang membuatmu termenung Rey? kau punya segalanya dan bisa mengalahkan semua orang di kota ini!” Bram menendang sepatu Rey.“Memang benar aku punya semuanya dan sangat mudah mengalahkan orang! sedikit pun Kita tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Dan apa tujuannya menyakiti banyak orang,” k
“Ya Tuhan, inikah bidadari ciptaan-Mu?” gumamnya dalam hatinya.“Bram, kamu kenapa?” ibu melambaikan tangan di hadapan wajah Bram.“Ma-maaf Tante! tadi saya melihat Bida...” tandasnya dengan suara yang terbata-bata.“Hahaa, kamu lucu sekali! pantas saja Kayla menyuruh kamu kesini,” suara tawa ibu menggema di ruang tamu.“Gadis yang barusan lewat itu siapa ya? Maaf saya lancang.” Sepasang bola matanya celingukan mencari keberadaan Tasya.“Itu Tasya, adiknya Kayla!” sahut ibu seraya mengangkat cangkir tehnya.“Kenapa wajahmu terlihat bingung seperti itu?” tanya ibu seraya menelisik pemuda yang ada di hadapannya.“I-itu mereka terlihat sangat mirip Tan!” Jawabnya gugup.“Masa sih? enggak aah...” cetus ibu dan tersenyum tipis.Setelah berbincang panjang lebar Bram pamit Pergi dari kediaman Kayla, saat di depan pintu Br
Kayla dan Rey menikmati sarapan mereka tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka suasana yang canggung membuat mereka membisu seribu bahasa, saat Kayla hendak mengawali percakapan telepon genggam Rey berdering dengan cepat Rey meraihnya dan meninggalkan meja makan untuk menjawab panggilan tersebut, samar-samar Kayla mendengar obrolan serius Rey dengan seseorang di seberang telepon. “Awasi semuanya dan jangan membahayakan dirimu sendiri!”Rey mengakhiri percakapannya di telepon dan kembali lagi ke meja makan. “Siapa yang telepon Rey?” tanya Kayla seraya menatap pemuda yang duduk di hadapannya. “Kau tak perlu tahu itu siapa! cepat sembuh dan kembali bekerja lagi!” tuturnya pelan namun tajam, Kayla melirik Rey sambil mengernyitkan dahinya. “Dasar pria aneh sebentar baik sebentar jahat, punya hati apa enggak sih?” gerutu Kayla lirih sembari menyeruput jus apel. “Apa yang kau gumamkan?” Liriknya. “Aku tidak berbicara apa-a
Suara bel darurat berbunyi, pelayan tukang kebun dan penjaga berkumpul di aula menghadap Rey dengan sigap dan tegap, Rey duduk di sebuah kursi dan memberi informasi wajah datarnya memiliki daya tarik yang cukup kuat dan gayanya yang cool membuat jatuh hati pelayan muda yang bekerja di sana.“Beberapa hari ke depan saya tidak ada di rumah! Saya mohon jagalah Kayla dengan baik dan jaga keamanan rumah ini jangan sampai ada masalah apa pun. Kalau sudah mengerti dan tak ada pertanyaan kalian bisa kembali bekerja...” Rey berbicara dengan tegas, jelas dan padat.“Baik Tuan Muda,” jawab mereka serempak.Semua orang meninggalkan aula dan kembali bekerja seperti biasa sedangkan Rey menunggu Bram sembari membaca berita di Gawainya, selang beberapa menit kemudian Bram datang dengan gaya yang khas.“Apa kau telah siap Tuan Muda tampan?” sapa Bram.“Sudah 10 menit aku menunggumu di sini! ke mana saja kau?” liri
“Jangan sentuh dia!!” Cegah Bram.“Kenapa?” Tanya Agen 57.“Gadis itu memiliki penyakit kulit yang menular,” ujarnya dengan cepat. Agen 57 menatap ragu wajah Kayla dan mengurungkan niatnya, melihat hal itu Bram tersenyum tipis karna berhasil membodohi Agen 57. Dua jam telah berlalu Kayla masih belum sadarkan diri dari pingsannya, karna rasa penasarannya yang terlalu besar Bram melontarkan pertanyaan kepada Agen 57.“Kenapa wanita itu tak kunjung siuman?” Tanyanya lirih.“Dia tidak akan siuman sampai lusa!” Jelas Agen 57.Bram menatap Hendra dan Agen 57 dengan mata yang membulat sempurna sambil berkata, “Apa yang kau berikan padanya? sehingga dia tak akan bangun.”“Entah apa yang di buat oleh rekan rahasia Kami, hannya dia yang tahu racikan bius itu,” bisiknya pelan.Hendra terus menatap Kayla yang terduduk lemah, pandangan matanya tertuju
Kayla duduk menghadap jendela dia melihat sekelompok burung yang terbang ke sana ke mari mencari makanan, terlintas di pikiran Kayla tentang hidupnya selama ini yang terbilang enak dan nyaman kebutuhannya selalu terpenuhi tanpa bersusah payah mencari uang.“Selama ini aku hanya mengandalkan mereka tanpa berusaha sendiri,” gumamnya lirih.“Maaf, Nona Muda tadi bicara apa? saya tidak mendengar secara jelas!” Nuri menghampiri Kayla.“Aku tidak berbicara apa pun, mungkin kamu salah dengar,” Kayla tersenyum manis sambil mengikat rambutnya.Tiba-tiba ia teringat kejadian kemarin malam saat dia di bebaskan dari penyekapan, Kayla pun mengingat-ingat suara yang ia anggap tidak asing di telinganya. Masih berpikir keras di mana dia mendengar suara pria yang telah menyelamatkannya, hampir satu jam Kayla bengong dan hanyut dalam pikirannya sendiri.Dengan suara yang lantang dia berkata, “Aku ingat sekarang! di mana aku
“Terima kasih untuk tetap hidup. Saat itu dadaku terasa sesak dan akan meledak melihatmu tak sadarkan diri,” Rey mengungkapkan semua yang ia rasakan di kala Kayla tertembak. “Kenapa kau melakukan itu semua? Apa kau memiliki sembilan nyawa!?” Rey menimpali perkataannya. “A-aku....” ucapan Kayla tertahan dan jarinya tak berhenti memainkan cincin yang ia kenakan. Rey mendekatkan tubuhnya dan memeluk Kayla dengan sangat erat. “Tetaplah hidup sehat dan berdiri tegak bersamaku di sini. Aku ingin menikahimu dan memiliki anak kembar yang mirip sepertimu! Dan aku mau melihatmu dengan rambut keabuan,” Rey menatap Kayla dengan tatapan mata yang sayu. Mendengar ucapan Rey, air mata Kayla menetes dan gadis itu memeluk erat pria yang ada di hadapannya itu, tangisan Kayla semakin menjadi-jadi membuat Rey khawatir. “Apa yang kau rasakan? Apa lukanya masih sangat sakit? Kay jawab pertanyaanku ini, jangan di
Telepon genggam Rey berdering terlihat jelas nama Tasya di layar, Rey menghela nafas panjang dan mengangkat panggilan tersebut.“Ada apa Sya?”“Benarkah? Aku segera ke sana,” Rey bergerak dengan sangat gelisah.“Apa yang terjadi Rey, kenapa kau terlihat gelisah seperti itu?” tanya Bram dengan mata menyipit.“Kayla sudah siuman.”“Kenapa lift ini bekerja dengan sangat lambat!!” imbuhnya sembari menendang pintu lift.“Sabar Rey,” ujar Bram.Rey berlari kecil sesaat pintu lift terbuka, ketika berada di depan pintu pemuda itu merapikan baju dan rambutnya. Padahal baju dan rambutnya masih tertata rapi. Perlahan ia membuka pintu dengan wajah yang semringah dia menghampiri Kayla yang masih terbaring lemah di ranjang.“Bagaimana keadaanmu? Bagian tubuh mana saja yang sakit? Apa ka
“Sebaiknya kalian pergi dari sini!” usir Rey dengan nada datar.Tasya melirik pemuda itu dengan lirikan mata yang sangat tajam, namun lirikan mata Tasya tak membuat Rey takut atau pun goyah. Bahkan pemuda itu kini semakin menekankan suaranya dan dia mengulang ucapannya lebih dari empat kali hanya untuk membuat sepasang sejoli tersebut segera meninggalkan kamar Kayla.Bram berdecap, “Rey... Rey... dari dulu kok enggak berubah-berubah.”“Oh, jadi kau mau lihat aku berubah. Baiklah aku akan berubah menjadi Spiderman agar kalian bahagia,” celetuk Rey.“Hahaa, enggak lucu, Bang!” ketus Tasya dengan mata yang melirik tajam kearah Rey.Rey melangkahkan kakinya menuju pintu dan tangannya meraih gagang pintu, membuka lebar pintu tersebut seraya mengangkat kedua alisnya dan menatap ketiga orang yang masih duduk santai di sofa.“Apa yang ka
“Pasien luka tembak di dada. Sudah mendapat infus,” jelas perawat yang masih mendorong bad yang Kayla tiduri.“Luka tembak? Bawa ke ruang operasi.” Ucap Dokter Yudo.“Sudah berapa lama?” tanya Dokter Yudo dengan sorot mata serius.“Sekitar 15 menit transportasinya, kami sudah Resusitasi.” Imbuh perawat wanita itu sambil memasang oksigen. (Resusitasi adalah suatu tindakan darurat sebagai suatu usaha untuk mengembalikan keadaan henti nafas atau henti jantung ke fungsi optimal guna, mencegah kematian biologis.)“Cek organ vitalnya. Siapkan infus dan hitung darah lengkap!” pinta Dokter Yudo dengan tegas.Suasana di dalam ruangan UGD sangat tegang dan beberapa dokter dan perawat sibuk mempersiapkan alat untuk pengecekan kondisi Kayla lebih lanjut.“Tekanan darahnya 60 per 40. Saturasi darah 80.” Ungkap asisten dokter yang bertugas mem
mobil berwarna silver dari arah lain mengerem mendadak membuatnya hilang kendali dan mobil tersebut mendekat ke arah Kayla. Mata Kayla mendelik mendapati mobil itu melayang ke arahnya, untungnya gadis itu bisa segera menghindar dan berlindung di bawah mobil yang terparkir di sisi bahu jalan.Baru saja keluar dari kolong mobil Kayla suda di sambut tendangan dari bodyguard Indra, yang membuatnya tersungkur dan hidungnya mengeluarkan dara. Kayla mengusap hidungnya kasar dan dengan beringasnya Kayla melayangkan pukulan dan tendangan ke arah pria yang telah menendangnya barusan, wajah bodyguard tersebut di sodok degan sikunya hingga bercucuran darah. Tak cukup di situ Kayla kini membabi buta menyerang semua bodyguard Indra sampai dia nekat memecahkan kaca jendela mobil dan meraih serpihan kaca tersebut dan di lemparkannya ke arah lawannya.“Kay, cepat masuk!” pekik Rey di sisi jalan.Ketika Kayla hendak melangkahkan kakinya, Indra melesi
Hendra sudah tak bisa menahan emosinya, sehingga dia langsung melayangkan tendangan ke arah Indra dan semua anak buah Indra menodongkan pistol ke arah mereka semua. Rencana cadangan Rey pun gagal karna tindakan Hendra yang gegabah dan kini mereka harus berjuang dengan kemampuan yang ada dan saat ini mereka hanya memiliki beberapa anggota saja yang tersisa. “Kenapa kau melakukan ini?!” bentak Bram dengan mata melotot. “Iblis itu harus mati, Bang!!” sarkasnya penuh kebencian. Suara tembakan menggema di ruangan beberapa warga mengintip dari rumah mereka masing-masing dan salah satu tetangga Kayla melaporkan hal tersebut ke polisi. Semua kaca hancur berhamburan karna tembakkan dan jasad tergeletak di mana-mana, tak ada yang menjamin hidup atau pun keselamatan mereka. Kehancuran yang sesungguhnya kini telah di mulai. “Hai....” Pekik Indra seraya melepaskan tembakkan ke udara. “Buang semua senjata kalian ata
Terdengar suara tawa yang sangat familier di telinga mereka, beberapa pasang mata menatap serius seseorang yang mengenakan topeng yang saat ini sedang duduk santai di sofa. Tiba-tiba tawanya terhenti dan tatapan dinginnya membuatnya semakin terlihat sangat kejam.“Apa yang kau pikirkan Rey?” tanya Kayla yang kini tersenyum masam di hadapan Rey.Rey masih menatap serius pria tersebut, perlahan dia melangkahkan kakinya mendekat lemari kaca yang di penuhi darah.“Apa kau masih tidak mengenali si bangsat, itu?” tanya Kayla geram.Dengan ragu Rey menjawab pertanyaan Kayla. “I-indra...,"Setelah mendengar ucapan Rey, Kayla menyelinap masuk ke sebuah kamar dan pergerakan Kayla di ikuti oleh Rey yang berjalan di belakangnya.“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Kayla dengan mata mendelik.“Aku perlu mendengar penjelasanmu,” kata Rey lirih.
“Pekerjaan kita belum selesai Kawan! Biang kerok di balik masalah ini belum diketahui!!” tegas Kayla sembari tangannya meraih alat bor di dinding.“Apa maksudmu, Kay?” tanya Bram dengan tatapan penuh.Kayla berjalan di hadapan semua orang, dia mengelus-elus alat bor yang ia bawa dengan tersenyum jahat, semua orang yang berada dalam ruangan sangat tak nyaman dengan sikap Kayla yang terbilang sangat aneh.“Kau mau tahu? Siapa mata-mata baru yang melaporkan pergerakan kita terakhir kali? Sehingga membuat kedua orang tuaku meninggal dan mendesak Ibu menjadi kambing hitam dari segala kekacauan ini dan hal itu untuk mengalihkan niatku dari awal!” pungkas Kayla dengan amarah yang sangat berkobar-kobar.“Kakak lagi bicara apa? Tasya enggak mengerti maksud ucapan Kakak...,” ujar Tasya dengan mata yang berkaca-kaca.“Kau sekarang harus lebih kuat Sya! Dan pahami keadaan saat
Tasya melirik Bram yang masih bengong dan gadis itu mengguncang tubuh Pria yang duduk di sebelahnya dan melontarkan pertanyaan.“Apa yang kau pikirkan, Bram? Apa kau mendengar perkataanku tadi?” kata Tasya pelan.“Aku mendengarnya dengan cukup jelas!” sahut Bram.“Lalu kenapa kau tak segera menjawabnya?” Tasya beranjak dari tempat duduknya.“Ini semua sudah menjadi jalan takdir kalian berdua, berusahalah menjadi gadis yang tangguh! Sedikit mengertilah dengan situasi ini, tak semua yang kau lihat itu benar,” Bram memaparkan segalanya dengan suara yang lembut nan mendayu.“Apa mungkin aku bisa? Hatiku sakit tanpa alasan Bram.” Tasya mengelus dadanya dan air mata perlahan menetes.“Yakinlah pada dirimu sendiri! Jangan mengekang hati dan pikiranmu,” Bram menyekat air mata Tasya.Pemuda manis tersebut memeluk Tasya dan tanganny