“Aku sudah siap pergi bekerja,” kata June, mengabaikan tatapan mata Drake yang sulit ia artikan.
“Baiklah,” jawab Drake sambil berdiri.
Ia kemudian memberi isyarat agar June berjalan mendahuluinya menuju ke pintu keluar. Drake tidak mengatakan apapun hingga mereka berada di dalam mobil milik Drake menuju ke kantor. June bersikap pura-pura tidak tahu, meskipun ia bisa merasakan ada yang aneh dari Drake. Sikapnya diam, tetapi tatapan matanya menyelidik, entah apa yang ia pikirkan sebenarnya. June berpikir mungkin Drake masih marah setelah June tanpa sengaja menyemburkan air ke wajahnya. June juga diam saja, berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Perjalanan ke kantor menjadi perjalanan paling sepi yang pernah June alami. Drake bahkan tidak menyalakan musik untuk mengenyahkan keheningan. Saat Drake memarkirkan mobilnya di basement gedung kantor, June menghela napas lega tanpa ia sadari. Ia turun dari mobil lalu tanpa disuruh ia langs
Selama jam kerja, Drake tidak menyinggung kembali tentang apa yang terjadi hingga akhirnya jam kerja telah selesai.“Aku akan mengantarmu pulang,” kata Drake.“Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri,” jawab June sambil membawa tasnya.“June...”“Kebetulan mobil saya masih ada di parkiran kantor, saya akan bawa pulang hari ini. Terima kasih untuk perhatian Anda, Mr. Burton. Selamat malam,” kata June lagi. Ia kemudian melenggang pergi sebelum Drake sempat mengatakan apapun.June tidak peduli lagi, setelah ini ia akan mencari cara untuk segera bisa mengundurkan diri dari kantor. June tidak tahan lagi. Drake akan terus menekannya, sementara karyawan yang lain sudah memandangnya sebelah mata. Bahkan saat makan siang, June hanya bisa makan sendirian. Tidak ada yang mau dekat dengannya.June cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya, memanaskan mesinnya sebentar, lalu melaju pergi. June merasa sudah amat lel
“Aku kemari bukan sebagai bos, aku kemari sebagai diriku sendiri,” jawab Drake.Tatapan matanya membuat June bergidik, begitu pula dengan tatapan mata Alarick. Pria bermata abu-abu yang biasanya ramah itu kini terlihat sama mengerikannya.“Kalian berdua, tenanglah. Ini tempat tinggalku. Aku yang menentukan siapa yang boleh datang, siapa yang tidak. Mengerti?” tanya June akhirnya. Kedua pria itu menatap June, kemudian saling melirik dengan tatapan sinis satu sama lain.“Aku lebih dulu di sini, lagipula aku punya hal penting denganmu. Ya kan, June?” tanya Alarick.“Aku juga punya hal penting yang harus aku bicarakan dengan June,” kata Drake tak mau kalah.“Kamu bisa membicarakan itu lain kali,” sahut Alarick, membuat Drake melebarkan matanya.“Alarick, Drake, aku sedang amat lelah. Aku tidak ingin bicara dengan siapapun. Sekarang kalian berdua, pulanglah,” jawab June.
June mundur selangkah. Meskipun ia tidak bisa melihat apapun dalam kegelapan, tetapi ia bisa merasakan ada seseorang di dalam kegelapan. Kini, June bahkan bisa mendengar langkah kakinya mendekat ke arah June.“Si-siapa di sana?” tanya June dengan suara pelan dan bergetar.Kini June bisa mendengar suara seseorang tertawa. Tidak jelas suara perempuan atau laki-laki, tapi June hampir yakin bahwa itu suara laki-laki. June gemetar, bulu kuduknya berdiri. Apakah ada hantu di apartemennya? June tidak yakin, tapi ini mengerikan. June terus melangkah mundur setiap ia mendengar bunyi langkah kaki mendekat.“Jangan berani mendekat,” kata June sambil mencoba meraih benda apapun yang ada di sekitarnya. Ia menemukan vas bunga dan ia pun langsung menodongkannya ke depan, seolah-olah vas bunga itu adalah senjata. Napas June mulai tersengal seiring dengan detak jantungnya yang berdebar kencang. Entah apa yang ada di hadapannya itu.“June... J
June terbangun karena perutnya terasa amat lapar. Tubuhnya terasa amat lemas dan kepalanya pening. Ia hampir lupa apa yang baru saja terjadi, tetapi saat ia membuka mata, June baru teringat apa yang baru saja terjadi. Bukan hanya itu, ia baru menyadari Drake sedang duduk di kursi samping tempat tidurnya sambil menatapnya lekat.“Sudah sadar?” tanya Drake.“Kamu masih berada di sini?” tanya June.June melirik jam alarm yang ia letakkan di nakas, pukul sebelas malam. Tubuh June terasa masih lemas. Saat ia mencoba bangkit, June baru menyadari kalau keningnya dikompres dengan handuk kecil basah. Di atas karpetnya ada sebuah wadah plastik berisi air dan bosnya itu sudah melepas jas dan melipat lengan kemejanya hingga sebatas siku.“Kamu demam,” kata Drake.June berusaha mengingat-ingat. Barusan rasanya seperti mimpi, tapi dalam mimpi itu Drake juga hadir. Kenapa Drake ada di kamarnya saat ini?“A-aku meng
Drake menghela napas panjang. Akan percuma saja jika ia memaksa June saat ini, jadi Drake memutuskan untuk membiarkan June sendiri. Di saat yang sama, handphone Drake berbunyi. Drake tahu siapa yang menelepon.“Halo... Iya, aku kesana sekarang,” jawab Drake.June menatap tajam. Drake mungkin akan menemui seorang wanita saat ini. Itu bukan hal yang aneh. June tahu kebiasaan Drake bukan? Playboy kaya raya. Gadis-gadis sengaja melemparkan diri ke ranjangnya.“Kita akan bicara lain kali, June,” kata Drake. Suaranya terdengar lantang, tidak seperti yang ia harapkan sebelumnya. Drake hampir mengutuki dirinya sendiri. Ia tahu nada suaranya terdengar lebih seperti mengancam atau memarahi dibandingkan memohon untuk ada kesempatan bicara lain kali. Tentu saja, Drake tidak ingin dirinya terdengar seperti memohon, tapi, setidaknya ia berharap nada suaranya tidak sekasar itu. June menatapnya dengan benci.Drake memutuskan untuk tidak membuka mu
Beberapa Jam Sebelumnya –Alarick tidak benar-benar pergi dari apartemen June. Ia menunggu beberapa saat hingga ia melihat sesuatu yang aneh dari arah unit apartemen June. Alarick berlari menuju bagian belakang gedung apartemen. Dari sana ia bisa melompat langsung ke arah jendela unit apartemen milik June. Namun langkah-langkahnya terhenti saat ia melihat Drake di sana. Drake berlari kemudian dengan sayap naganya ia terbang langsung menuju apartemen June.Alarick sudah bisa menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia memilih untuk menonton dari kejauhan. Drake sudah pasti menggagalkan keinginan Altair untuk membawa June pergi. Lagipula apa yang dipikirkan Altair? Ia bodoh sekali jika mengira bisa dengan segera membawa June pergi setelah ia tahu ada Alarick dan Drake yang berada di sekitar June. Alarick mendengus karena kebodohan Altair.Setelah semua kebodohan Altair berakhir dan apartemen June menjadi tenang, Alarick melompat ke atas pohon
June menangis hingga ia tidak tahu kapan ia jatuh tertidur. Segalanya terlalu membingungkan untuk June. June sebenarnya tidak mengerti kenapa ia bisa menangis separah itu. Semua yang membingungkan itu tidak cukup untuk membuatnya menangis seperti ini, tapi kenapa hatinya terasa begitu sakit? Apakah karena harga dirinya yang terluka? Namun kenapa rasanya sesakit ini?June jatuh tertidur karena kelelahan, ia bahkan sudah melupakan rasa laparnya. June bahkan tidak sadar saat ia sudah memasuki alam mimpi. Saking lelahnya, June tidak bisa lagi membedakan alam mimpi dan kenyataan. Beberapa menit kemudian, ia baru menyadari bahwa ini tidak mungkin kenyataan.June merasa dirinya sedang berada di sebuah hutan yang gelap. Namun, cahaya matahari yang menyusup di antara dedaunan yang rindang menandakan kalau ini bukan malam hari. Meskipun begitu, keadaan di dalam hutan ini begitu gelap, hanya sedikit cahaya matahari yang bisa meloloskan diri. June melihat ke sekeliling, ia belum p
June terbangun ketika matahari sudah mulai meninggi. Ia terbangun dengan tubuh terasa sakit dan kepala pening. Ia menyentuh dahinya dan masih terasa panas. Namun di dapur, ada suara berisik seperti ada seseorang di dalam apartemennya. June menghela napas, ada siapa lagi di sana? Kenapa semua orang bebas keluar masuk ke apartemennya meskipun ia sudah menguncinya rapat-rapat?Dengan susah payah, June berusaha turun dari ranjangnya meskipun tubuhnya sangat lemas. Jam di nakas menunjukkan pukul sebelas siang, itu artinya dia sudah melewatkan waktu makan malam, sarapan, dan sekarang hampir waktunya makan siang. June tidak percaya ia sudah tidur selama itu.“Kembali ke tempat tidurmu, June!” seru seseorang dari luar kamar.Eh? Bukankah itu suara....?Tebakan June terbukti tepat ketika pintu apartemennya tiba-tiba terbuka dan Drake berdiri di hadapannya. Ia mengenakan kaus berpotongan leher V berwarna abu-abu terang dari bahan cashmere yang mencetak
“Drake tidak akan setuju, June,” jawab Wilona.“Aku meminta bantuanmu, bukan Drake. Tolong aku, Wilona. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, asalkan kamu mau membantuku,” kata June lagi.“Aku lebih takut pada Drake dibandingkan tawaran harta apapun darimu,” jawab Wilona.“Please, Wilona. Kamu tahu apa yang akan terjadi pada Drake kalau aku meninggal, bukan? Kamu ingin melihat dia hancur lagi?” tanya June.Wilona terdiam. Ia tahu apa maksud June. Drake hancur berkeping-keping setelah kehilangan Anna berabad silam. Jika itu terjadi untuk kedua kalinya, entah apa yang akan terjadi pada Drake.“Baiklah. Tapi, berjanjilah kamu akan melindungiku jika Drake marah nanti,” kata Wilona.“Tentu saja. Aku akan melakukannya,” jawab June.“Baiklah kalau begitu. Malam ini, temui aku di hutan, kamu tahu tempatnya. Pastikan Drake tidak tahu. Dan harus kamu ingat, June.
“So, what do you say?” tanya Baron pada June sambil tersenyum, menampakkan gigi taringnya yang memanjang.“Apa resikonya?” tanya June.“Nyaris tidak ada, June. Kamu hanya perlu memberikanku darahmu, tidak sampai habis,” katanya sambil berjalan mendekat. Ia mengitari tubuh June, mendekatkan kepalanya ke leher June.“Kamu bisa bersamanya selamanya, June. Say, yes...”katanya Baron lagi.“A-aku...”“Ini sangat mudah, June. Jangan membuatnya sulit. Kamu hanya perlu mengucapkan sebuah mantra yang sangat mudah diucapkan. Sebutkan mantranya dan aku akan segera memulai keabadian,” kata Baron lagi.June menelan ludah, dalam hatinya ia tahu ada sesuatu yang salah dengan semua ini, tapi keinginannya untuk bisa bersama dengan Drake selamanya, membuatnya ingin mengatakan iya. Tawaran ini terlalu menggoda untuk ditolak.“Ikuti kata-kataku, June,” ka
June akhirnya sampai ke hotel yang ia tuju. Hati June hancur saat mengingat bagaimana wajah Drake saat ia melangkahkan kaki pergi dari pria tersebut. June tahu ia sangat melukai Drake. Namun, menurut June ini adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan hati Drake dan juga hatinya sendiri.Saat sampai di kamar hotel yang sederhana itu, June langsung merebahkan diri di atas ranjang. Rongga dadanya terasa sakit, bahkan hanya untuk menarik napas. June tidak kuasa menahan tangis, hingga ia menumpahkan semuanya ke atas bantal hotel tersebut. Ia menangis cukup lama hingga ia menyadari ada seseorang yang berdiri bersandar di balkon hotelnya.“Alarick?” tanya June sambil melebarkan matanya.Pria itu melambaikan tangan sambil tersenyum. June menghapus air matanya cepat-cepat lalu membuka pintu kaca menuju balkon.“Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya June.“Well, kamu tahu siapa aku. Sangat mudah untuk menemukanmu di belahan bum
Malam hari itu, June sama sekali tidak bisa tidur. Ia melirik ke arah Drake yang sedang tertidur pulas di sampingnya. June memiringkan tubuhnya untuk bisa memandangi wajah Drake lebih lama. Air mata mulai mengalir lagi di pipi June. June mulai berpikir, kenapa takdir begitu kejam padanya hingga saat ia benar-benar jatuh cinta, ia jatuh cinta pada orang yang benar-benar salah. Jika ia jatuh cinta pada manusia biasa maka semuanya akan berakhir baik-baik saja. Tapi seorang raja naga adalah hal yang amat berbeda.June amat mencintai Drake dan ia menyadari itu. Oleh karena itu, June tidak ingin menyakiti hati Drake. Lebih cepat June pergi dari kehidupan Drake selamanya, itu akan lebih baik. Drake mungkin akan sangat sedih, tapi dia akan lebih cepat pulih dan move on. June ingin Drake hidup bahagia. Bersama June, tidak ada masa depan untuk mereka. June akan menua, dia tidak akan bisa membahagiakan Drake selamanya.Karena itulah, June merencanakan sesuatu malam hari itu. Ia d
“June, kamu kenapa?” tanya Drake saat June kembali ke mejanya.Drake bisa melihat kalau June terlihat amat kesal.“Ah, tidak apa-apa,” jawab June.“Kamu yakin?” tanya Drake lagi.“Iya. Mungkin aku hanya lapar,” jawab June sambil tersenyum.“Kabar bagus, kurasa pelayannya sudah datang membawa makanan,” kata Drake sambil melirik ke arah kiri. Saat June mengikuti arah pandangnya, seorang pelayan memang datang membawa makanan pesanan mereka.“Syukurlah,” jawab June.Mereka kemudian larut dalam percakapan yang hangat dan menyenangkan. Makanannya juga enak. Namun, June masih memikirkan kata-kata Lana barusan. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya, meskipun ia berusaha. Ia melihat wajah Drake ketika bicara. Naga berusia ribuan tahun ini masih terlihat seperti tiga puluh lima tahun dan dia akan terlihat seperti itu selamanya.Usia June kini sudah tiga puluh tiga tah
“Lana Barryfield?” tanya Drake sambil membesarkan matanya.“Ternyata itu benar kamu! Ini sebuah kebetulan yang menyenangkan. Sudah lama sekali tidak berjumpa,” kata wanita itu.Ia mendekat lalu memeluk dan mencium kedua pipi Drake, mereka terlihat amat akrab. June memaksakan sebuah senyum.“Lana, perkenalkan ini June Hanson. June, ini Lana Barryfield, teman lamaku,” kata Drake.Wanita itu menoleh melihat June, ia kemudian terdiam sejenak.“Oh, Drake. Dia sangat cantik,” katanya. Tapi June bisa menangkap sesuatu yang lain dari nada suara dan ekspresi wajahnya.“Senang bertemu denganmu, June,” katanya sambil mengulurkan tangan kanannya.“Senang bertemu denganmu juga, Lana,” jawab June.“Kapan kamu ke New York? Kudengar kamu sudah sangat lama tidak meninggalkan Roma?” tanya Drake pada Lana.“Iya. Roma adalah tempat yang paling cocok un
Drake melaju dan June berhenti bertanya. Ia menikmati pemandangan keluar jendela dan setelah setengah perjalanan, June sudah bisa menebak mereka akan pergi ke mana.“Kamu ingin membawaku nonton ke bioskop?” tebak June sambil tersenyum.“Kamu bisa menebak dengan baik. Kita akan nonton berdua. Bukankah itu yang biasa dilakukan orang-orang saat pacaran?” tanya Drake.“Jangan bilang kamu belum pernah berpacaran sebelumnya?” tanya June.“Terakhir kali aku berpacaran adalah berabad-abad yang lalu, June,” jawab Drake.June tertawa akan kenyataan itu. Drake ikut tertawa. Ia kemudian memarkirkan mobilnya di gedung bioskop. Semua orang yang lewat memperhatikan mobil mewah yang biasanya diparkirkan di depan hotel mewah atau restoran mewah. Tapi kali ini, mobil mewah itu malah terparkir di gedung bioskop sederhana.Drake turun dari mobilnya, lalu berputar untuk membukakan pintu bagi June. June melangkahkan
Drake melakukannya berulang-ulang dari belakang, hingga June hampir mencapai puncaknya. Namun, Drake masih belum puas, ia kemudian membalikkan tubuh June hingga menghadap ke arahnya. Ia kemudian melakukannya dari posisi ini, sambil menikmati pemandangan wajah June yang kini merah merona dan berkilau karena keringatnya.Drake membuat June merasa dirinya melayang sekali lagi. Waktu dan dunia serasa berhenti saat itu juga hanya untuk memberikan tempat tersendiri dan waktu yang tak terbatas untuk kedua insan yang sedang dimabuk asmara tersebut. Gairah Drake semakin memuncak saat ia melihat wajah June yang cantik merona merah tersebut, napasnya yang tersengal, dan desahan yang keluar dari bibirnya yang seksi. Mereka melakukannya hingga mencapai puncaknya bersama-sama.June berbaring kelelahan dengan napas tersengal dan tubuh berkeringat. Drake mengusap kening June lalu mengecupnya dengan lembut. Ia berbaring di sebelah June lalu merangkul wanita itu dengan lembut.&l
Sekarang June berdampingan dengan Drake di dapur. Pria itu terlihat jauh lebih luwes dibandingkan dirinya saat memasak. June tidak tahu apa yang harus ia bicarakan, jadi ia memutuskan untuk diam saja. Drake masih tersenyum sambil bersiul-siul, sesekali ia melirik ke arah June. Drake berkali-kali melihat ke arah kening June, ia hampir tidak percaya apa yang dilihatnya, tanda werewolf itu sudah menghilang dari kening June. Gerak-gerik Drake itu membuat wajah June semakin merah padam.June tidak tahan, jadi ia berbalik lalu berpura-pura mencari sesuatu di kulkas. Padahal June tidak melakukan apapun. Ia hanya mendinginkan wajahnya yang terasa panas itu. Setelah beberapa saat, June berpura-pura mengambil timun untuk tambahan acar, dan pada saat ia menutup pintu kulkasnya. June hampir melempar timunnya sebab Drake tiba-tiba sudah berada di hadapannya.“Kenapa kamu lama sekali di depan kulkas?” tanya Drake.“A-aku...”Drake berjalan mende