Share

81. Ikatan angin

Author: Donat Mblondo
last update Last Updated: 2025-02-16 17:52:43

Mata Tao Cang menyipit curiga. "Tidak datang sendiri katamu?" Ia melirik ke belakang dan terkejut melihat Qu Cing, Bau Ba Chin, Du Bai, We Ling, Shaka, dan Ashe Li berdiri dengan sikap siaga.

“Ck ck," geram Tao Cang, amarahnya membuncah. Ia mengenali para murid dari Perguruan Long Ji, namun kehadirannya di sini, membela Klan Hawa, sungguh tak terduga.

Shaka maju selangkah, menatap lurus ke arah Tao Cang. "Jendral, kau telah dibutakan oleh ambisi. Kekejamanmu tidak bisa dibenarkan. Kami di sini untuk menghentikanmu." Dia memandang sang jendral dengan tatapan muak. Tutur kata yang biasanya memanggil dengan sebutan ‘kakak', kini enggan terucap. Tak ada lagi rasa hormat pada dirinya terhadap Tao Cang.

Tao Cang tertawa sinis. "Menghentikanku? Kalian anak-anak ingusan ini? Jangan bercanda. Ha ha ha! Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berurusan!"

Saat itulah Shaka membuat pengungkapan yang mengejutkan. "Jendral, gadis yang berdiri di hadapanmu adalah anak perempuan yang telah kau buang, A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   82. Pusaran tornado

    Di garis depan, Qu Cing berlari dengan langkah cahaya, bergerak seperti kilat di antara musuh. Ia mememukul dan menusuk, meninggalkan jejak kekacauan. Matanya bersinar menembus kelemahan musuh. Tongkat saktinya berputar di tangannya, memancarkan energi yang membelah udara.Sementara Bau Ba Chin, tak jauh dari Qu Cing, bergerak sejajar dengan langkah bayangan. Mereka berlari beriringan menembus pasukan dengan cepat hingga ke barisan belakang."Aku akan membantu An Cang menghadapi Jendral Tao Cang. Kau, siapkanlah serangan kejutan untuk melemahkannya!" ucap Bau Ba Chin kepada Qu Cing.Qu Cing mengangguk. "Cepatlah! An Cang dalam bahaya!" Matanya melihat gadis itu tengah kesulitan menggerakan tubuhnya.Bau Ba Chin pun melangkah lebih dulu menghampiri An Cang. Tepat waktu dia berdiri di depan gadis itu sebelum pedang mencapainya.“Tangan raja kegelapan!” Bau Ba Chin menahan ujung pedang dengan telapak tangan kosong. Perlahan, angin yang menyelimuti pedang, meraung pergi, terkikis digantik

    Last Updated : 2025-02-18
  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   83. Terjebak

    "Bertahanlah!" teriak Bau Ba Chin memecah suara angin yang bergemuruh. Dengan segenap tenaga, ia menegakkan tubuhnya, mengeluarkan tongkat besi yang tersimpan dalam ruang hampa, dan mengerahkan energi kegelapan dari dalam dirinya. Tongkat besi itu, terurai menjadi aura kegelpan menciptakan barrier kuat di sekitar mereka. Namun, guncangan tornado semakin dahsyat membuat area pertempuran terombang ambing. Shaka pun membuat perisai untuk melindungi anak-anak yang berada di belakangnya. Adapun An Cang, berada di sisi Bau Ba Chin membantunya mempertahankan barrier. "Aku tak yakin bisa menahan serangan ini sampai akhir!" ujar An Cang dengan tubuh gemetar. Bau Ba Chin terdiam. Raja kegelapan berkata, "tidak ada cara. Dia benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengendalikan serangan ini. Kecuali ..." "Apakah benar-benar tidak ada harapan?" tanya Bau Ba Chin kepada sang raja kegelapan. "Satu harapan ada pada anak itu."Suara mendesing dari gerakan pedang tersapukan oleh denting

    Last Updated : 2025-03-16
  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   84. Kematian Tao Cang

    Setelah menghimpun kekuatan hingga menguras seluruh energi spiritualnya, Thai Qu Cing membelalakan mata. Catatan KItab Sang Raja Kera telah membuka jurus baru. Ia dengan lincah menggerakkan jari-jemarinya, mengendalikan sang tongkat sakti."Rasakan ini Jendral Tao Cang! Putaran legenda sang raja tongkat!" seru Thai Qu Cing.Serangan itu diluncurkan dalam kilatan yang mengagumkan, sebuah tongkat cahaya berputar cepat melesat dengan kecepatan luar biasa, menembus udara seolah-olah waktu terhenti. Dengan setiap rotasi, ia memancarkan serpihan-serpihan cahaya yang berkelap-kelip, menciptakan jejak berkilau yang memukau.Ketika tongkat itu mendekati target, kilauannya semakin menyilaukan, membakar retina siapa pun yang menyaksikannya. Dalam sekejap, tongkat cahaya itu menembus tepat pada jantung Tao Cang, menghasilkan ledakan cahaya yang dahsyat, memancarkan gelombang energi yang menggetarkan seisi lingkungan, dan meninggalkan rasa hening yang mencekam di udara.Dalam sekejap, kekuatan Tao

    Last Updated : 2025-03-16
  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   85. Go Song

    Qu Cing masih dalam keadaan tubuh yang sangat lelah, tidak ada tenaga untuk mencari masalah dengan anak-anak itu. "Biarkan saja mereka, kita harus secepatnya menemui Guru Lee," bisiknya kepada Bau Ba Chin.Akan tetapi, mereka tidak membiarkan Qu Cing lewat dengan mudah. Salah satu dari anak lelaki itu adalah Go Song, seorang tuan muda dari Keluarga Song. Suatu keluarga yang selalu meninggikan dan mengagungkan Jendral Tao Cang, sehingga Pemimpin Keluarga Song berhasil mendapat kepercayaan sang jendral menjadi kaki tangannya. Dia melangkah maju menghadang jalan Qu Cing dan Bau Ba Chin."Kenapa kau tak menjawab? Apa kau sudah merasa hebat hanya karena Kepala Perguruan Lee selalu memperhatikanmu?" Ia menantang, menunjuk-nunjuk dada Qu Cing dengan telunjuknya.Qu Cing berpaling. "Kau lah yang lebih hebat. Aku hanya beruntung," jawabnya tegas, berusaha menahan rasa lelahnya."Ck ck. Tampaknya dia takut padamu, Tuan Muda Song," celetuk anak lelaki di samping Go Song.Saat Qu Cing berbalik he

    Last Updated : 2025-03-18
  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   86. Keanehan sang walikota

    Pagi itu, matahari mulai naik menerangi segalanya dengan sinarnya yang hangat. Di perguruan Long Ji, suasana tenang seolah menyelimuti area yang biasanya ramai. Nie Lee duduk di ruangannya merenungkan kepergian Qu Cing dan Bau Ba Chin yang menuju Kediaman Klan Hawa untuk berperang dengan Jendral Tao Cang. Kegelisahannya bertambah saat suara keras Gu Wang memecah keheningan. Dia berlari menghampiri Nie Lee dengan napas terengah-engah."Tuan Lee, celaka!"“Ada apa, Penjaga Gu?” tanya Nie Lee, merasa cemas melihat ekspresi panik di wajah sahabatnya.“Aku baru saja mendengar kabar buruk... tentang adik sepupu Anda!” jawab Gu Wang, suaranya bergetar.“Tera Phi? Apa yang terjadi?” tanya Nie Lee, hatinya berdegup kencang.“Seseorang menuduhnya telah melecehkan dan menghardik anak gadis dari Walikota Ni. Dan sekarang, Walikota Ni telah menetapkan hukuman penggal kepadanya!” seru Gu Wang, kesal dengan ketidakadilan yang menimpa adik sepupu Nie Lee yang masih muda.“Melecehkan? Itu tidak mungki

    Last Updated : 2025-03-18
  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   87. Teknik pengubah wajah

    Di kediaman walikota, Roha Ni, yaitu si gadis yang menjadi korban berkata, "aku tidak yakin. Tapi, mereka benar-benar memiliki wajah yang sama persis. Jika memang bukan dia pria waktu itu, lalu siapa? Apakah dia memiliki saudara kembar?""Tidak, Nona. Saudara temanku tidak memiliki kembaran. Tapi, aku mengetahui bahwa ada suatu teknik yang bisa mengubah wajah seseorang," kata Gu Wang. Sebagai penjaga perpustakaan, Gu Wang memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang berbagai macam teknik."Teknik pengubah wajah? Jangan-jangan ..." Dahi gadis itu berkerut. Giginya menggertak merasa telah dipermainkan oleh seseorang."Ada apa, Nona? Apakah ada sesuatu lain yang mengganggu pikiran Anda?" tanya Gu Wang melihat gadis itu tampak gelisah.Roha Ni menghela napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya yang bergejolak. "Tuan, ayahku adalah sosok yang bijaksana, selalu mendengarkan kedua belah pihak sebelum mengambil keputusan. Tapi sekarang, sikapnya sama sekali berbeda. Dia tidak mau mendeng

    Last Updated : 2025-03-19
  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   88. Mayat

    Dengan mata cahaya tembus pandang, Qu Cing dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Nie Lee berkata bahwa anak itu bahkan bisa memprediksi kelemahan lawan, jika ia terus melatih kekuatannya.Nie Lee menatap tajam ke arah Walikota Ni yang berdiri di tengah kerumunan, kesadaran menyelimuti dirinya. "Aku sudah menduga, ada sesuatu yang tidak beres," gumamnya pelan. "Sejak aku melihatnya hari ini, aku merasakan aura yang berbeda. Dia tidak memiliki karisma sebagai pemimpin yang bijaksana; sebaliknya, ada ketidakpastian dan niat buruk yang terpancar dari wajahnya."Tanpa ragu, Nie Lee melangkah maju. "Master Pengubah Wajah, kedokmu sudah terbongkar! Aku sangat mengenal Walikota Ni. Apa kau pikir penyamaranmu ini sudah sangat sempurna? Beraninya melibatkan adikku yang tidak bersalah!" Seraya mengeluarkan energi spiritual yang begitu sejuk, elemen air berputar mengitari Nie Lee dengan begitu menakjubkan.Pria itu mengendalikan sang air berniat untuk membongkar kedok Mast

    Last Updated : 2025-03-20
  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   89. Kembali ke kelas

    "Aaaaa! Ada mayat!"Kejadian itu membuat semua orang terkejut. Jeritan si wanita menggema di udara, dan orang-orang yang berkerumun segera berlarian menuju asal suara. Rasa penasaran dan ketakutan menyelimuti mereka.Terdengar asal suara itu dari seorang wanita yang keluar dari sebuah kandang kuda di dekat pelataran. Di sudut yang remang-remang, sosok yang tergeletak tak berdaya, tubuh pucat tak bernyawa.Itu adalah mayat Walikota Ni yang asli, mengenakan pakaian resmi yang kini telah ternodai oleh darah, karena beberapa tusukan dan sayatan pedang.Suasana menegangkan membuat Nie Lee, Qu Cing, Gu Wang, dan Roha Ni berdiri terpaku, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka lihat."Ayah!" Air mata Roha Ni mulai menggenang di matanya mendekati sosok yang tergeletak itu."Ini… benar-benar tidak terduga!" kata Gu Wang, mulutnya terbuka lebar.Qu Cing menelan ludah, pikirannya berputar cepat. Roha Ni berlutut di samping jasad ayahnya, tangannya gemetar saat menyentuh pakaian yang dulu begi

    Last Updated : 2025-03-22

Latest chapter

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   107. Wajah-wajah palsu

    "Tidak bisa membiarkan serangan itu terjadi! Kita harus segera mencegahnya!" seru Qu Cing.Bau Ba Chin langsung paham. Mereka harus menyerang sebelum teknik itu selesai!WUSSH!Kedua bocah itu melesat dalam waktu yang bersamaan!Ben Cong mengerahkan seluruh kekuatannya, tapi di saat yang sama, tubuhnya mulai menunjukkan efek samping dari pembakaran darah. Urat-uratnya terlihat semakin menonjol, dan wajahnya mulai menua dengan cepat.Namun, itu tidak menghalangi niatnya untuk membunuh mereka!"MATI!"Ben Cong mengayunkan tangannya, melepaskan semburan api hitam raksasa ke arah mereka!BOOOOM!Ledakan dahsyat terjadi!Namun, ketika asap mulai menghilang…Swish!Qu Cing muncul tepat di belakang Ben Cong!Matanya berkilat dingin."Ini akhirnya."Dengan secepat kilat, ia menghantam ulu hati Ben Cong dengan tongkatnya!CRACK!Ben Cong terbatuk darah. Matanya melebar tak percaya.Namun, sebelum tubuhnya jatuh, Bau Ba Chin muncul dari bayangan di bawahnya."Giliranmu!" seru Qu Cing.Bau Ba Ch

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   106. Teknik pembakar darah

    Saat Pou Cong berdiri di hadapan Qu Cing dengan tangan terulur, seulas senyum lelah masih menghiasi wajahnya. Namun, di tengah keheningan yang menyelimuti arena, Qu Cing merasakan sesuatu yang tidak beres.Ada seseorang yang bergerak cepat di belakang Pou Cong!Mata Qu Cing menyipit. Ia segera mengenali sosok itu. "Kau selalu bergerak seperti seorang pengecut. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Mungkin, orang lain tidak melihat gerakanmu, tapi langkah itu sangat jelas di mataku, Tuan Ben Cong!"Dengan tubuh Pou Cong yang masih terluka parah dan dalam keadaan lemah, ini adalah saat yang sempurna bagi Ben Cong untuk menyingkirkannya. Jika ia berhasil membunuh kakaknya, maka secara otomatis ia akan menjadi pemimpin baru Klan Naar!Namun—CLANG!Sebuah tongkat besi melesat, menghentikan serangan Ben Cong tepat sebelum menyentuh tubuh Pou Cong!Ben Cong tersentak mundur, matanya melebar melihat sosok anak lelaki berkulit hitam yang kini berdiri di hadapannya. "Kau?!"Bau Ba Chin men

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   105. Pernyataan yang mengejutkan

    Pou Cong tidak memberi Qu Cing kesempatan untuk bernapas. Begitu melihat bocah itu bangkit dengan tongkat bercahaya di tangannya, ia langsung mengayunkan tangannya ke depan.Wooosh!Semburan api melesat dari telapak tangannya, membentuk naga raksasa yang mengaum dan menerjang ke arah Qu Cing.Boom!Ledakan besar mengguncang arena, membuat para murid Klan Naar menjerit dan mundur lebih jauh. Asap hitam mengepul, menutupi seluruh area tempat Qu Cing berdiri.Pou Cong tersenyum dingin. "Kau boleh cepat, tapi kau bukan tandinganku, Bocah!"Namun, senyum itu seketika menghilang ketika sebuah bayangan tiba-tiba melesat dari dalam asap.Swish!Pou Cong nyaris tak sempat bereaksi saat cahaya oranye berkelebat di sisinya. Instingnya menendang masuk, dan ia segera berbalik, mengayunkan pukulan berapi ke arah bayangan itu.Boom!Udara di sekitarnya meledak akibat panas dari pukulannya. Namun, serangannya hanya mengenai udara kosong."Mustahil…" Pou Cong menyipitkan mata, mencoba mencari keberada

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   104. Melawan Pou Cong

    Angin berhembus pelan, membawa ketegangan yang semakin memuncak di halaman pelatihan Klan Naar. Para anggota klan yang menyaksikan pertarungan ini menahan napas mereka, mata mereka terpaku pada sosok kecil yang berdiri di hadapan pemimpin klan mereka.Pou Cong, seorang pria yang dikenal sebagai salah satu pengendali api terkuat, menatap Qu Cing dengan tajam. Ia sama sekali tidak menganggap serius bocah ini. Namun, saat Qu Cing berdiri dengan penuh percaya diri, sesuatu di dalam dirinya berkata bahwa anak ini bukan lawan biasa."Jika kau benar-benar ingin menantangku, maka buat aku jatuh ke tanah hingga mengalami luka yang cukup serius."Kata-kata itu masih terngiang di udara ketika Qu Cing mulai bergerak.Wuussh!Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari pandangan!Pou Cong mengerutkan kening. Cepat!Tiba-tiba—Slash!Sebuah luka tipis muncul di bahu kanan Pou Cong, darah segar menetes ke tanah. Semua orang yang menyaksikan tersentak kaget.Pou Cong menggerakkan kepalanya dengan cepat,

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   103. Menghadapi Pou Cong

    Di halaman pelatihan kediaman Klan Naar, seorang gadis muda berlutut di tanah, tubuhnya gemetar penuh luka. Kulitnya penuh bekas cambukan, beberapa di antaranya masih berdarah. Setiap kali ia gagal dalam pelatihan, hukumannya tetap sama—seratus kali cambukan.Chin Cong tidak lagi terlihat seperti jenius yang dulu dibanggakan klannya. Matanya yang dulu bersinar penuh percaya diri kini suram dan hampa. Setiap hari adalah penderitaan, dan ayahnya, Pou Cong, tidak pernah menunjukkan belas kasihan.Pou Cong berdiri di atas panggung pelatihan, memegang cambuk panjang yang berlumuran darah. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. "Berdiri!" perintahnya. "Kau harus kuat. Seorang anak dari Klan Naar tidak boleh menunjukkan kelemahan!"Chin Cong berusaha berdiri, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Kakinya gemetar, dan ia terjatuh lagi.Pou Cong menghela napas, lalu mengangkat cambuknya. Namun, tepat sebelum cambuk itu menghantam tubuh Chin Cong—Whuuuuuus!Sebuah bayangan melesat dengan kecepatan luar bias

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   102. Jeritan

    Bau Ba Chin menatap Miao Meng dengan penuh rasa ingin tahu. “Bibi, apakah Anda orang tua Qu Cing?” tanyanya dengan nada hati-hati. Miao Meng tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Bau Ba Chin dalam-dalam, lalu menghela napas pelan. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” tanyanya balik. Bau Ba Chin melirik Qu Cing, lalu kembali menatap Miao Meng. “Energi penyembuhan itu… sangat mirip dengan miliknya. Dan cara Bibi memandangnya bukan sekadar seperti seorang kenalan.” Qu Cing diam saja. Dalam hatinya, ia juga merasakan hal yang sama. Entah kenapa, sejak pertama kali melihat Miao Meng, ada sesuatu dalam dirinya yang merasa dekat dengan wanita itu. Miao Meng tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke langit. “Belum saatnya kalian tahu kebenarannya,” katanya dengan suara lembut. “Tapi aku berjanji, jika kau berhasil mencapai ranah spiritual tingkat sembilan, aku akan memberitahumu segalanya.” Qu Cing mengepalkan tangannya. Tingkat sembilan? Itu bukan hal yang mudah dicap

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   101. Apakah Anda orang tua Qu Cing?

    Suara Seo Rang terdengar serak, tetapi masih penuh dengan kesombongan. Ketika debu mulai mereda, sosoknya kembali terlihat.Tubuhnya penuh luka bakar akibat cahaya suci, kulitnya tampak hangus di beberapa bagian, dan tanduk kecil di kepalanya retak. Namun, matanya masih bersinar dengan keganasan yang tak surut."Menarik… sangat menarik…" Seo Rang menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri, suara retakan tulang terdengar jelas. "Aku tidak mengira ada seseorang yang bisa menyerangku dengan cara seperti ini."Ia mengangkat tangan, jari-jarinya bergetar karena efek serangan sebelumnya. Namun, dalam hitungan detik, kegelapan kembali menyelimuti tubuhnya, menutupi luka-luka yang menganga.Kemudian, ia melirik sekeliling, mencoba mencari sosok Miao Meng, tetapi yang ia temukan hanyalah keheningan yang aneh.Alisnya berkerut. Ia yakin wanita itu ada di hadapannya beberapa saat lalu, dalam kondisi lemah dan nyaris tak bisa berdiri. Tidak mungkin ia bisa kabur begitu saja.‘Apa yang sebenarnya ter

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   100. Sang Raja Tongkat

    Namun, Miao Meng sudah siap. Ia melompat ke samping, lalu dengan cepat menciptakan lapisan es tebal di sekelilingnya. Tombak itu menghantam es dengan keras, tetapi tidak langsung menembus.Miao Meng mendarat ringan di atas salah satu pilar es, lalu mengangkat satu tangan ke udara. Udara di sekitar mereka menjadi semakin dingin. Salju turun lebih deras, dan napas Seo Rang mulai mengembun.“Jangan meremehkanku,” ucapnya pelan.Dalam sekejap, badai salju menerjang. Angin es berputar liar, menutupi pandangan Seo Rang.Pria itu menyipitkan mata, lalu menyebarkan kegelapan dari tubuhnya, mencoba menyingkirkan salju itu. Namun, Miao Meng sudah berada di belakangnya, menciptakan bilah es yang lebih besar dan lebih tajam.“Serangan yang bagus,” Seo Rang berkata tanpa menoleh. “Tapi masih belum cukup.”Ia berbalik dengan cepat, menangkap bilah es itu dengan tangannya yang berselimut cahaya. Dalam sekejap, bilah es itu retak dan hancur berkeping-keping.Miao Meng terkejut, tetapi ia tidak menunj

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran   99. Seo Rang vs Miao Meng

    "Pria itu hanya akan mengejar satu orang dalam satu waktu! Jika kita tetap bersama, ini hanya mempermudahnya menangkap kita semua sekaligus!" jelas Qu Cing.Miao Meng menggertakkan giginya. Ia tahu pernyataan itu memang ada benarnya. Namun, meninggalkan Qu Cing sendirian dengan pria seperti Seo Rang bukanlah pilihan yang baik.Qu Cing akhirnya membuat keputusan. "Aku akan menjadi umpan!" ujarnya tiba-tiba.Miao Meng tersentak. "Apa? Tidak, kau tidak bisa—""Sepertinya, dia lebih menginginkan kematianku dari pada menangkap Anda kembali, Bibi! Jika aku pergi ke arah lain, dia pasti akan mengejarku! Gunakan kesempatan itu untuk kabur!"Miao Meng tampak ragu. Matanya menatap anak itu dengan kebimbangan yang dalam."Percayalah padaku, Bibi!" Qu Cing menegaskan.Wajah Bau Ba Chin berkerut. "Tapi, ini akan sangat beresiko untukmu."Miao Meng menghentikan langkahnya. Napasnya memburu, bukan karena kelelahan, tetapi karena gejolak dalam hatinya yang tak bisa ia abaikan. Sementara itu, Qu Cing

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status