INICIAR SESIÓN**Lampu tidur di kamar utama masih menyala temaram ketika Bella terbangun setengah sadar. Tubuhnya masih tenggelam di balik selimut putih, pikirannya mengambang di antara mimpi dan kenyataan. Namun ada sesuatu yang mengusik—suara rendah, tertahan, dan terdengar sangat serius.“… pastikan tidak ada yang bergerak sebelum aku sampai,” suara itu berkata pelan, tapi tegas.Bella mengerjap. Napasnya tertahan ketika ia menyadari Giovanni berdiri di sisi ranjang, membelakanginya, mengenakan kemeja gelap yang belum sepenuhnya dikancing. Ponsel menempel di telinganya, dan dari pantulan kaca jendela besar kamar itu, Bella bisa melihat ekspresi wajah suaminya. Rahangnya mengeras. Alisnya berkerut dalam cara yang terlalu ia kenal—wajah seorang pria yang sedang menghadapi masalah besar.“Aku tidak peduli siapa pun mereka,” lanjut Giovanni. “Gudang itu tidak boleh jatuh. Tutup semua akses. Aku akan datang sekarang.”Panggilan berakhir. Giovanni menurunkan ponselnya perlahan, menghela napas panjang
**Perjalanan menuju pusat kota San Diego pada awalnya terasa menyenangkan. Giovanni menyetir dengan tenang, sementara Bella menikmati pemandangan jalanan yang mulai ramai oleh lalu lintas siang hari. Ya, Giovanni sengaja menyetir sendirian, tidak bersama Felix. Ia ingin menikmati waktu berdua bersama Bella, meski diam-diam beberapa bawahannya mengawal di belakang tanpa mencolok. Nah, namun semakin mereka mendekat ke jantung kota, suara klakson dan kerumunan manusia mulai mendominasi.Bella menatap keluar jendela, lalu menghela napas pelan. “Gio .…”Giovanni melirik sekilas. “Kenapa, Sayang? Kau ingin sesuatu?”“Tidak, tidak ingin apa-apa. Tapi di sini terlalu ramai,” jawab Bella jujur. “Aku tiba-tiba pusing. Banyak sekali orang. Maafkan aku, tapi bisakah kita mencari tempat yang lain saja?”Giovanni tidak langsung menjawab. Ia mengamati ekspresi istrinya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita ganti rencana. Kita tidak jadi ke pusat kota.”Bella menoleh, sedikit terkejut.
**Pagi di San Diego datang dengan cahaya lembut yang menyusup melalui celah tirai kamar. Sinar matahari memantul di dinding berwarna krem, menebarkan kehangatan yang menenangkan. Aroma kopi segar dan roti panggang perlahan merayap ke dalam ruangan, mendahului sosok Giovanni yang mendorong pintu kamar dengan hati-hati.“Bella?” panggilnya pelan. "Sudah bangun?"Bella menggeliat di atas ranjang, matanya masih setengah terpejam. Ketika kelopak itu akhirnya terbuka sempurna, yang pertama ia lihat adalah Giovanni—tersenyum tipis, mengenakan kemeja santai, dengan nampan sarapan di tangannya.“Gio?” Bella yang terkejut seketika duduk. “Kenapa kau ke sini membawa itu?”Giovanni mendekat, lalu meletakkan nampan berisi sepiring omelet, buah potong, roti hangat, dan secangkir teh di atas meja kecil di samping ranjang. “Karena kau bangun kesiangan,” jawabnya ringan. “Dan karena aku ingin membawakannya untukmu.”Bella mengerucutkan bibirnya, merasa bersalah. “Aku seharusnya bangun lebih pagi. Kau
**Audi hitam itu meluncur keluar dari pelataran restoran mewah di tepi pantai tepat ketika langit San Diego mulai berpendar jingga keunguan. Jam di menara kecil dekat dermaga menunjukkan pukul tujuh malam. Lampu-lampu restoran sudah menyala, memantulkan kilau keemasan di permukaan laut yang tenang. Angin asin bertiup lembut, membawa aroma laut bercampur wangi hidangan mahal dari dapur terbuka. Beberapa mobil lain mulai berdatangan dan memasuki halaman parkir restoran, sebab reservasi private booking Giovanni sudah berakhir. Tadinya, sang Don sengaja menyewa restorannya untuk makan malam berdua bersama Bella.Di seberang jalan, sebuah sedan abu-abu tua terparkir tanpa sama sekali terlihat mencolok di balik deretan pohon palem. Dari dalam mobil itu, sepasang mata memperhatikan Audi hitam yang kini berbelok menuju jalan utama. Pria di balik kemudi sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, memastikan nomor pelat mobil tersebut sebelum akhirnya mengendurkan bahu saat kendaraan itu menghila
**Audi hitam yang dikemudikan Felix melambat sebelum akhirnya berbelok ke halaman sebuah restoran mewah di tepi pelabuhan pantai San Diego. Bangunan berlantai dua itu berdiri anggun menghadap laut lepas, dengan dinding kaca besar yang memantulkan warna jingga matahari senja. Lampu-lampu temaram mulai menyala, menciptakan suasana hangat dan eksklusif. Bella bahkan tidak tahu ada tempat sebagus ini di kotanya. Ia sama sekali belum pernah melihat.“Felix, kenapa kita ke sini?” suara Bella bertanya dengan bergetar, kepanikan masih jelas tergambar di wajahnya.Mobil berhenti sempurna. Felix segera turun dan berjalan mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Bella dengan sikap sopan seperti biasa. “Silakan turun, Nyonya,” katanya sembari sedikit menunduk. “Tuan sudah menunggu di dalam.”Bella tertegun mendengar itu. “Giovanni … ada di sini?”Felix mengangguk dengan senyum tipis namun meyakinkan. Rasa lega seketika menyusup ke dada Bella, mengusir sebagian besar ketakutan yang sejak tadi
**Langit San Diego hari itu cerah, biru pucat tanpa awan, seolah ikut merayakan kegembiraan Bella. Ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya yang dijalin sederhana. Perutnya yang mulai membulat terbungkus gaun longgar berwarna krem. Empat bulan. Angka itu terasa seperti janji—bahwa tubuhnya telah kembali kuat, bahwa ia boleh bernapas sedikit lebih lega. Morning sickness-nya sudah lewat dan ia kini bisa makan dengan baik.“Jangan terlalu lama berdiri, Bell.” suara Giovanni terdengar dari ambang pintu. Pria itu menatapnya dengan sorot mata waspada yang tak pernah benar-benar padam. Terlebih setelah sang istri ketahuan sedang mengandung. Setiap gerak-gerik Giovanni seperti mengandung kewaspadaan.Bella tersenyum. “Aku hanya ingin terlihat rapi. Lagipula, ini pertama kalinya aku keluar rumah setelah sekian lama.”Giovanni mendengus pelan, lalu melangkah mendekat. “Hanya ke hotel. Setelah itu, kita pulang.”“Aku tahu,” sahut Bella lembut. “Aku tidak akan memaksakan diri.”Perj







