Pintu kamar terbuka, Gio dan Dela muncul bersamaan. Dela berhambur memeluk Risa dan terisak."Selamat datang, Kak. Dela sayang sama Kakak!" ujar Dela di sela isak tangisnya."Del, kamu terlihat lebih dewasa," ucap Risa menatap Dela dengan seksama.Risa beralih menatap Gio dan Gilang secara bergantian.Gio tidak lagi seperti anak SMA, melainkan terlihat lebih dewasa. Entah karena dalam suasana haru, atau karena memang Gio sudah dewasa.Sedangkan Gilang tampak terlihat begitu kusut dan kusam."Kak ...." Risa mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah suaminya itu.Gio menoleh ke arah Dela dan Amira. Lalu mengisyaratkan untuk meninggalkan mereka berdua.Gilang mendekat ke arah Risa. Mengusap wajahnya dengan lembut. Sesekali bulir-bulir air mata jatuh dari sudut mata lelaki itu."Kakak. Kenapa kusut seperti ini?" tanya Risa pada Gilang."Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya terlalu merindukanmu. Jadi, tidak sempat untuk memangkas jenggot ini," jawab Gilang tersenyum."Kak. Aku merasa seluruh tu
Gilang menghela nafas panjang. Sejujurnya dia belum ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Risa dan Alea hari itu. Namun dia sendiri tidak mungkin menghindari pertanyaan Risa terus-menerus. Dia sangat yakin, istrinya itu pasti akan terus mempertanyakan hal yang sama kepadanya."Berjanjilah! Kamu akan tegar dan tetap semangat menjalani hidup bersamaku setelah mendengar cerita ini!" ujar Gilang menatap Risa.Risa terkejut mendengar perkataan Gilang. Ada apa sebenarnya? Mengapa untuk menceritakan itu saja Gilang merasa sangat berat?"Aku siap. Aku berjanji akan tegar!" jawab Risa dengan mantap.Gilang menggenggam erat tangan Risa dan mulai bercerita."Ketika aku berhasil mengalahkan musuh bersama Alan dan teman-temannya. Kami menyusulmu dan Amira ke luar gua. Namun, kami terkejut karena semua teman-teman Alan terkapar bahkan ada yang mati ditempat karena tusukan senjata tajam!" ucap Gilang lirih memulai ceritanya.Risa menahan napas sejenak. Ia ingat kejadian waktu itu. Seor
Gilang kembali memeluk Risa dengan bahu terguncang. Risa yang melihat kesedihan yang mendalam di raut wajah Gilang, mengusap punggung kokoh suaminya dengan harapan dapat memberi sedikit ketenangan pada lelaki yang sangat dicintainya itu."Namun apa, Kak?" tanya Risa membingkai wajah Gilang yang sendu."Kamu terlihat sangat pucat, dan aku tidak mendengar detak jantungmu." Risa bisa membayangkan bagaimana cemasnya Gilang saat itu."Alan segera melarikanmu ke rumah sakit terdekat. Aku benar-benar cemas karena denyut nadimu sudah tidak terasa. Duniaku terasa runtuh. Aku benar-benar merasa hancur." Gilang kembali terisak."Ketika sampai di rumah sakit, Dokter segera menangani dan membawamu ke ruang IGD. hanya beberapa saat karena setelah itu kamu di larikan ke ruangan ICU."Gilang membingkai wajah Risa dengan lembut, mencium kening itu berkali-kali dan kembali memeluk erat tubuh istrinya itu."Aku mondar-mandir di depan ruang ICU karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa
Gilang membuka ponselnya dan memperlihatkan Poto wisuda TK Amira.Poto yang memperlihatkan Risa berada di atas brangkar dengan mengenakan gaun yang sama dengan Amira. Tampak Gilang dan Amira mencium pipi perempuan itu bersamaan."Kak ... Maafkan aku!" Risa berhambur memeluk Gilang dengan erat "Maafkan aku karena begitu lemah. Aku tidak memiliki kekuatan untuk bangun dan menikmati moment indah itu!" Risa kembali terisak dalam pelukan Gilang. Ia menyesal karena tidak menuruti permintaan Mega dan Gading agar kembali ke dunianya."Tidak, Sayang. Kamu tidak salah. Kamu bersedia untuk tetap bernapas saja, sudah membuat aku sangat bahagia!" Gilang mengecup bibir Risa dengan mesra."Lalu, Bagaimana dengan Alea?" Risa seketika teringat pada perempuan iblis itu.Karena obsesi untuk memiliki Gilang, Alea membuat Risa kehilangan anak dalam kandungannya dan membuat Risa kehilangan waktu berharganya selama dua tahun."Alea melarikan diri. Pihak polisi sudah berupaya mencari dan melacak keberadaan
"Mereka terlihat bahagia. Mega memakai gaun berwarna putih dan wajahnya bercahaya. Kak Gading pun sangat tampan."Gilang mengulum senyum mendengar ucapan Risa."Kakak kenapa tersenyum? Membayangkan wajah Mega?""Ya nggak dong, Sayang. Kakak hanya bahagia karna itu artinya mereka bersatu di surga."***Risa menggeliat kecil ketika cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela kamarnya.Ia menatap wajah tampan yang telah lama ia puja. Mengecup pipinya sekilas dan kembali membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.Gilang mengusap rambut Risa yang sedikit berantakan. "Kamu bahagia, Sayang?" tanya Gilang mengecup kening Risa."Tidak ada kebahagiaan yang aku rasakan. Selain mendapat balasan cinta dari Kak Gilang. Suamiku!" jawab Risa sedikit tersipu."Maksudmu?" Gilang mengernyitkan keningnya."Aku bahagia berada di samping Kakak. Bersama Kakak, aku bahagia. Aku jatuh cinta pada Kakak sejak pandangan pertama." Risa mengakui perasaan yang selama ini dia pendam."Kapan kamu benar-b
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya kalian harus membunuh Gilang secepatnya." Suara perempuan di seberang telepon begitu mengerikan."Siap bos. Akan segera kami laksanakan."Alea tersenyum penuh kemenangan saat dia tahu bahwa Risa sudah kehilangan anak yang berada dalam kandungannya. Perempuan berhati iblis itu memutar kembali rencana yang akan dia buat."Sebaiknya Aku bunuh saja Gilang. Tidak ada gunanya juga dia hidup karena pada kenyataannya aku tidak bisa memilikinya!" Alea tertawa terbahak-bahak membahana memenuhi ruangan di mana dia tengah asyik menatap laut lepas.Alea melarikan diri ke luar negeri setelah dia yakin telah berhasil membunuh Risa. Perempuan itu sangat yakin jika dia pasti akan bisa mendapatkan Gilang seperti impiannya. Namun pada kenyataannya, Dia sedikit terkejut ketika mendengar berita yang ditayangkan di televisi yang mengatakan bahwa CEO Gilang Dwi Adiguna tengah mengalami posisi yang sangat down karena istrinya hampir saja terbunuh oleh seorang model bernama Alea.
Gilang yang menyadari bahwa kedua pembunuh bayaran itu semakin mendekat ke arahnya mulai mengambil posisi dengan mencari tempat yang jauh lebih aman. Lelaki itu terseok-seok membawa langkah kakinya yang terasa berat dan tangannya yang sakit bukan kepalang."Sepertinya di bawah jembatan itu aman." Gilang menyeret langkahnya menuju jembatan yang terletak tak jauh dari persembunyiannya yang pertama. Ia berharap para pembunuh bayaran itu tidak berhasil menemukannya.Sementara itu, Gio dan Alan sudah meluncur menuju lokasi di mana tadi Gilang kirimkan. Mereka bergerak dengan begitu cepat karena khawatir jika pembunuh bayaran yang dimaksud oleh Gilang adalah anak buah Alea yang ingin menuntut balas atas kekalahannya."Gua nggak akan pernah memaafkan diri gue sendiri kalau sampai terjadi apa-apa pada Kak Gilang." Gio mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menatap lurus ke depan.Alan yang berada di sampingnya hanya mengusap punggung Gio dengan tegap. Dia tahu sahabatnya itu pasti merasa tera
"Kita benar-benar tidak bisa menginterogasi siapapun saat ini." Alan menatap ketiga mayat yang berada di hadapan mereka.Gilang yang mendengar suara tembakan sedari tadi memutuskan untuk berjalan dengan mengendap-endap menuju asal suara tembakan. Ia sangat khawatir jika yang tertembak tersebut adalah Gio atau teman-temannya."Gio. Apa kalian baik-baik saja?" Gilang terkejut ketika melihat Gio yang tengah duduk bersama teman-temannya di depan 3 mayat yang bergelimpangan.Lelaki itu terkejut ketika melihat dua orang mayat lainnya adalah dua orang pembunuh bayaran yang tadi mencarinya sampai ke dalam hutan."Kalian menembak mereka? Ini sangat berbahaya. Kita bisa terkena jalur hukum." Gilang mengusap kasar wajahnya saat melihat mayat yang bergelimpangan di hadapannya.Gio menggeleng perlahan. Lelaki itu mendekati kakaknya dan memperlihatkan pistol yang berada di tangan Alan dan juga tangannya."Bukan kami yang menembaknya Kak. Ada orang lain yang menembaknya dan mereka melakukan serangan
Risa memarkirkan mobil di halaman sekolah yang bercat merah putih tersebut. Ia memasuki ruangan yang di tuju. Acara belum di mulai. Ia memilih duduk di deretan bangku paling depan. Setelah menunggu beberapa menit, Acara pun di mulai. Kepala sekolah menyampaikan pidatonya tentang perkembangan sekolah dan meminta maaf atas nama seluruh majelis guru jika pernah menyinggung perasaan wali murid. Tibalah saatnya pengumuman siswa berprestasi dengan nilai terbaik. "Siswa tersebut adalah ..." Hening "Amira Syakila Gading Putri" Air mata Risa meluncur dengan deras membasahi pipi. Amira naik ke atas panggung, menerima piala dan berjalan menuju mikropon yang telah di sediakan. Amira menunduk sebelum berbicara. Setelah mengangkat wajahnya, Risa baru tahu kalau putrinya itu sedang menangis. "Piala ini .. Amira persembahkan untuk Bunda. Bunda yang telah menjaga dan merawat Amira dengan baik dan penuh kasih sayang. Bunda yang begitu tulus menyayangi Amira. Bunda yang begitu sabar dan tabah
Dear Diary ...Sejak awal pertama aku dilelang oleh Tante Tika, aku tidak pernah menyangka kalau hidupku akan menjadi seperti saat ini.Dinikahi laki-laki yang tidak dikenal bukanlah impianku. Namun, aku selalu berharap, untuk bisa mengabdi pada laki-laki yang telah mengikatku pada ikatan pernikahan yang suci.Sejak pertama kali Kak Gilang menggenggam erat tanganku, aku merasa terlindungi. Aku jatuh cinta padanya. Walaupun sikap Kak Gilang sangat dingin padaku, aku merasa nyaman dengan perhatian dan ketegasannya.Aku merasa terluka saat tahu Kak Gilang memilki seorang ratu di dalam hatinya. Aku berharap, dan selalu berdo'a agar Kak Gilang bisa membuka hatinya untukku dan melupakan cinta di masa lalunya.Cinta membawa keajaiban. Kak Gilang yang dahulu sangat dingin, perlahan mulai sedikit mencair dengan seringnya kami merajut kasih. Dan yang membuat aku sangat bahagia adalah ketika Kak Gilang mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Dan aku adalah cinta pertama dan terakhir baginya.Na
"Aku tidak ingin Kakak terus-terusan membicarakan tentang kematian. Kita pasti akan menjaga anak kita dengan bersama-sama." Risa membingkai wajah Gilang dan kembali mencium pipi suaminya itu dengan mesra.Lisa meraba dadah Gilang yang terkena bekas tembakan dan dia merasakan bahwa detak jantung Gilang yang sudah semakin melemah."Jantungku akan berhenti berdetak. Tapi, kamu harus terus maju. Jangan pernah berpikir kalau kamu seorang diri membesarkan anak-anak. Karena aku akan selalu menyelimutimu dengan cinta." Gilang menatap Risa dan mengusap air mata istrinya itu yang semakin deras mengalir."Jangan pernah sakiti dirimu dengan memori tentang kita. Karena aku akan selalu mencintaimu. Aku akan selalu ada dalam hatimu, menemanimu. Karena yang akan pergi, hanya ragaku saja. Tapi jiwaku akan selalu ada ...!""Kak ... Tolong. Berhenti bicara seperti itu!" Risa berhambur memeluk suaminya itu. Gilang mendekap tubuh Risa dengan erat. Membelai rambutnya dan mencium kening istrinya itu berkali
Risa dan Gilang sampai di Villa ketika matahari hampir terbenam. Gilang terlihat sangat lemah. Sesekali dia memegang dadanya. Setiap Risa tanya kenapa? Gilang berkata dia baik-baik saja.Mereka duduk di bangku panjang di Balkon kamar yang dulu pernah mereka tempati untuk merajut kasih. Gilang berkata ingin melihat matahari terbenam. Senyum terbit di wajah Gilang. Senyum itu sangat manis. Namun, seperti menyimpan sebuah luka."Kamu bahagia menikah denganku?" Gilang menoleh ke arah Risa sesaat. Lalu kembali menatap matahari yang semakin hilang dan meninggalkan semburat berwarna merah. "Sangat. Aku sangat bahagia. Kebahagiaanku selama hidup adalah menjadi istri Kakak," jawab Risa dengan uraian air mata."Kakak sendiri? Apa Kakak bahagia?" tanya balik Risa.Gilang menatap Risa, lalu mengecup kelopak bibir istrinya itu dengan hangat. Risa pun memejamkan mata menikmati kecupan yang diberikan oleh suaminya itu. Risa merasakan sentuhan bibir Gilang yang kali ini terasa berbeda. Entah mengapa
Beberapa saat kemudian, Perawat membawa Gilang menuju ruang ICU. Risa dan keluarga Gilang di larang untuk masuk. Dan mereka harus menunggu di luar.Risa semakin gelisah. Perasaan takut semakin menghantuinya. Ia ingin segera bertemu Dengan Gilang. Perempuan itu sudah sangat rindu pada suaminya dan ingin melihat kondisi suaminya itu.Sementara itu, Pak Adiguna dan Gio merasa gelisah karena pihak polisi tak kunjung datang ke rumah sakit. Padahal baik Pak Adiguna maupun pihak rumah sakit sudah menelpon pihak polisi sejak setengah jam yang lalu."Apa sebaiknya aku telepon lagi polisi itu?" Dio hendak merogoh ponselnya di dalam saku celana. Namun Pak Adiguna menahan pergerakan putranya karena khawatir pihak polisi menganggap mereka tidak mempercayakannya.Mereka semua merasa gelisah karena satu-satunya kunci untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Gilang adalah pihak polisi.Della pun sudah datang kembali ke rumah sakit karena ketiga anak Risa sudah tertidur dengan pulas."Kak, polisinya d
"Mati kau Gilang! Lebih baik kau mati dari pada menambah luka hatiku!" Allea tertawa terbahak-bahak."Allea ....!" Gilang memegangi dadanya.Risa terkejut ketika tiba-tiba Gilang meraba dadanya dan ...Darah mengalir dengan deras."Kakak ...! Ya Allah." Air mata Risa mengalir dengan deras. Dia tidak kuasa melihat Gilang yang bersimbah darah."Alea. Kamu sudah gila!" Mamanya Gilang membantu Risa menyanggah tubuh Gilang yang hampir tumbang."Kita akan mati bersama-sama, Gilang. Aku mencintaimu!"Dhuarr ...!Alea menembakkan pistol tersebut ke dadanya. Mata Alea melotot, dengan darah segar mengalir deras dari mulutnya.Alea ambruk ke lantai. Dengan pistol yang masih di tangannya. Alea merenggang nyawa."Allea ....!" Mamanya Gilang terkejut ketika melihat Allea yang benar-benar sudah tidak berkutik dan sudah mati.Risa memeluk tubuh Gilang yang bersimbah darah. Ia merasakan tubuh suaminya semakin dingin. "Gio... Cepat panggilkan ambulans!" Risa berteriak dengan lantang dan suara yang be
"Ya udah deh. Mama dan Papa nginap di sini." Nyonya Adiguna tersenyum membuat Gilang mencium punggung tangannya dengan takzim."Makasih, Ma. Pa."Gio hanya menggeleng melihat kelakuan kakaknya yang dianggap terlalu lebay. Risa pun sebenarnya merasa melihat Gilang yang memiliki karakter tidak sama dengan suaminya yang begitu tegas dan tidak manja."Gue balik dulu, Kak. Udah malam," ujar Gio melirik jam tangannya."Lo juga nginap di sini, Gi. Gue mohon," ujar Gilang dengan wajah memohon."Eh, Kak. Lo kenapa, sih? Melow amat?" Gio mengerutkan keningnya."Gue pengen aja, kita kumpul rame-rame kayak masih kecil dulu!" Gilang kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Mamanya. Hal itu membuat Gio mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah.Akhirnya, malam itu mereka berkumpul bersama. Mereka bercengkrama dengan hangat. Risa sesekali ikut tertawa saat mendengar kekonyolan mereka bertiga ketika masih kecil.*****Pukul dua dini hari, Risa merasa tenggorokannya kering. Ia melihat gelas di atas n
Risa mengecek secara detail persiapan ulang tahun Galuh dan Galih yang dirayakan secara meriah. Gilang sengaja mengundang para relasi bisnis dan teman-temannya dalam perayaan kali ini.Sebelumnya, Gilang tidak setuju kalau ulang tahun anak-anaknya di rayakan dengan meriah. Setiap ulang tahun Amira, Galuh dan Galih, mereka memilih untuk merayakannya di panti asuhan. Berbagi kebaikan pada anak-anak yatim di sana.Namun, kali ini Gilang meminta Risa untuk mengadakan pesta ulang tahun yang meriah. Ketika Risa tanya alasannya, Gilang mengatakan kalau dia ingin melihat anaknya bahagia berada ditengah-tengah pesta. Risa merasa itu jawaban yang aneh. "Nggak biasanya Kak Gilang seperti ini," bisik Risa seorang diri.Gilang juga meminta Risa untuk mengundang anak-anak yatim dan panti asuhan yang sering mereka kunjungi. Gilang mengatakan, ia ingin mengajak anak-anak tersebut melihat pesta ulang tahun dan berbagi lebih banyak lagi.Gilang memang suka berbuat baik. Bahkan sampai Sekarang, Gilang
Prangggg ....!"Benar-benar sial! Tak ada satupun anak buahku di Indonesia yang bisa diandalkan. Mereka semua benar-benar bodoh. Tidak ada yang cerdas satupun!" Allea kembali membanting gelas berisi wine yang berada di tangannya.Dia baru saja mendapat kabar dari anak buahnya bahwa mereka sudah gagal menculik anak Gilang."Sepertinya memang harus aku sendiri yang turun tangan untuk menghabisi mereka. Aku tidak akan pernah lagi membiarkan hatiku sakit melihat Gilang berbahagia dengan keluarganya. Memang harus aku sendiri yang turun tangan dan menyelesaikan masalah ini." Allea menatap sinis pada foto Gilang yang masih terpampang di dalam kamarnya.Perempuan itu pun segera membuka aplikasi Traveloka untuk memesan tiket pesawat. Tak sabar lagi bagi dia ingin segera mengakhiri penderitaannya dan melihat penderitaan keluarga Gilang untuk kedepannya."Aku akan melakukan apapun yang aku yakini bisa membuatku bahagia. Aku tidak akan pernah membiarkan Gilang dan keluarganya hidup tenang. Mereka