Aku menegang. Aku tahu ini akan terjadi—aku tahu cepat atau lambat, aku akan berhadapan dengan Veronica. Tapi menghadapi tatapannya secara langsung tetap saja membuat dadaku terasa sesak.
Sebelum aku bisa mengatakan apa pun, Lucian menarikku lebih dekat, tangannya melingkari pinggangku dengan cara yang begitu alami, seolah ingin mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian. "Seraphina adalah istriku," katanya, suaranya terdengar begitu dingin dan tak terbantahkan. "Aku tidak butuh persetujuan siapa pun, termasuk kau." Veronica tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih seperti ejekan daripada sesuatu yang tulus. "Lucian, kau tahu betapa berharganya nama keluarga kita. Dan sekarang, kau membawa seorang wanita tanpa latar belakang jelas ke dalam keluarga ini? Apa kau serius?" Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku. Aku tidak peduli dengan pendapatnya, tapi cara dia mengatakannya seolah aku ini sampah yang tidak layak berada di sini benar-benar mengusikku. Namun, sebelum aku bisa membalas, Lucian sudah lebih dulu berbicara. "Hati-hati dengan ucapanmu, Veronica." Veronica mendesah, lalu menggeleng. "Aku hanya memperingatkanmu. Jangan sampai ini menjadi keputusan yang kau sesali." Dia menatapku sekali lagi, sebelum melangkah pergi, meninggalkan udara yang masih terasa tegang di sekeliling kami. Aku menarik napas dalam, berusaha mengendalikan emosi yang mulai berkecamuk dalam diriku. Tapi sebelum aku bisa berkata apa-apa, Lucian menatapku dan berkata dengan tenang, "Jangan biarkan dia mengusikmu." Aku mengangguk pelan, meskipun dalam hati aku tahu—ini baru permulaan. *** Aku mencoba menenangkan diri, tapi kata-kata Veronica masih menggema di kepalaku. Aku tahu dia tidak menyukaiku, tapi melihat kebenciannya secara langsung adalah hal lain. Lucian menggenggam tanganku, mengarahkan langkahku menuju lift tanpa berkata apa-apa. Aku bisa merasakan kehangatan dari genggamannya, sebuah pengingat bahwa aku tidak sendirian, setidaknya untuk saat ini. Begitu pintu lift tertutup, aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bertanya. “Dia benar-benar membenciku, ya?” Lucian menghela napas pendek. “Veronica selalu membenci siapa pun yang masuk ke dalam hidupku.” Aku menoleh ke arahnya, mencoba mencari kebenaran di balik kata-katanya. “Kenapa?” Dia tidak langsung menjawab. Ada ketegangan di wajahnya, sesuatu yang jarang kulihat dari pria yang selalu tampak terkendali ini. “Dia punya caranya sendiri dalam melihat dunia. Dan dalam caranya itu, aku adalah satu-satunya yang bisa dia percaya.” Aku mengerutkan kening, mencoba memahami maksudnya. “Jadi, dia merasa aku merebutmu darinya?” Lucian mengangkat bahu. “Kurang lebih begitu.” Aku memproses informasi itu dalam diam. Veronica bukan hanya seorang adik yang protektif—dia melihat Lucian sebagai satu-satunya orang yang bisa diandalkannya. Jika itu masalahnya, aku bisa mengerti mengapa dia begitu membenciku. Tapi, meskipun aku bisa memahami, itu tidak berarti aku akan membiarkan dia meremehkanku. “Bagaimana kau bisa begitu tenang?” tanyaku akhirnya. “Dia jelas tidak menyukaiku, dan dia tidak segan-segan menunjukkannya.” Lucian menatapku, matanya yang tajam mengamati ekspresiku. “Karena aku sudah terbiasa.” Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi lift sudah sampai di lantai tujuan kami. Lucian melangkah keluar lebih dulu, dan aku mengikutinya. Begitu kami keluar dari lorong, seorang pria paruh baya dengan setelan rapi menghampiri kami. “Tuan Devereaux, maaf mengganggu, tapi ada sesuatu yang mendesak yang perlu Anda lihat.” Lucian mengangguk. “Aku akan segera ke sana.” Pria itu tampak ragu sebelum melirik ke arahku. “Bagaimana dengan Nona Seraphina?” Lucian menoleh padaku. “Tunggu di kantorku. Aku tidak akan lama.” Aku ingin protes, tapi ekspresinya memberitahuku bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mendebatnya. Jadi, aku hanya mengangguk dan membiarkannya pergi. Aku berjalan menuju kantor Lucian, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan pertemuanku dengan Veronica. Aku tahu satu hal pasti—aku tidak bisa hanya berdiam diri dan membiarkan dia menginjak-injakku. Jika aku ingin bertahan dalam pernikahan ini, aku harus menunjukkan bahwa aku bukan wanita lemah yang bisa dia remehkan. Aku harus membuktikan bahwa aku pantas berada di sini. *** Aku berjalan masuk ke dalam kantor Lucian, ruangan luas dengan dinding kaca yang memberikan pemandangan kota yang megah. Meja kerjanya tertata rapi, dengan beberapa dokumen yang ditumpuk dengan sempurna. Aku duduk di sofa dekat jendela, mencoba menenangkan pikiranku, tapi itu tidak mudah. Sebelum menikah dengan Lucian, hidupku sederhana. Aku tidak terbiasa dengan dunia penuh intrik ini. Aku hanya seorang wanita biasa yang menjalankan toko bunga ibuku. Setiap hariku dihabiskan di antara kelopak mawar, tulip, dan anggrek, merangkai buket untuk pelanggan yang ingin memberikan sesuatu yang indah kepada orang yang mereka cintai. Tapi sekarang? Aku terjebak dalam kehidupan seorang miliarder, dikelilingi oleh orang-orang yang menatapku seolah aku adalah penyusup. Aku mengembuskan napas panjang. Jika aku ingin bertahan, aku harus belajar beradaptasi. Baru saja aku memikirkan itu, pintu kantor tiba-tiba terbuka. Aku menoleh dan melihat Veronica masuk tanpa izin, wajahnya tetap dengan ekspresi meremehkan seperti sebelumnya. “Lucian tidak ada di sini,” kataku dingin. Aku tidak ingin bertengkar, tapi aku juga tidak akan membiarkan dia mendominasi percakapan ini. “Aku tahu.” Veronica melangkah lebih dalam, matanya mengamati ruangan seolah-olah dia menilai sesuatu yang tidak terlihat. “Aku ingin bicara denganmu.” Aku tidak bergerak dari tempatku. “Tentang apa?” Dia tersenyum kecil, tapi bukan senyum yang menyenangkan. “Kau pikir kau bisa bertahan di sini? Dalam keluarga ini?” Aku menegang, tapi aku tidak membiarkan emosiku terlihat. “Aku tidak tahu apa maksudmu.” Veronica mendekat, berhenti tepat di depanku. “Aku sudah tahu. Ternyata kau hanya seorang gadis biasa dari toko bunga. Tidak peduli seberapa keras kau berusaha, kau tidak akan pernah bisa menyesuaikan diri dengan dunia Lucian. Kau mungkin bisa berpura-pura, tapi pada akhirnya, kau akan gagal.” Aku mengepalkan tangan di pangkuanku. Aku tahu dia mencoba memprovokasiku, mencoba melihat apakah aku akan goyah. Aku tidak akan memberinya kepuasan itu. “Aku tidak perlu menjelaskan diriku kepadamu, Veronica,” kataku dengan tenang. “Pernikahan ini mungkin mendadak, tapi aku ada di sini sekarang. Dan aku tidak akan lari hanya karena kau ingin aku pergi.” Tatapan Veronica berubah sedikit, seolah dia tidak menyangka aku akan menanggapinya dengan setenang itu. Tapi itu hanya sesaat, sebelum dia tersenyum sinis lagi. “Kita lihat saja berapa lama kau bisa bertahan,” katanya sebelum berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan jejak hawa dingin di ruangan itu. Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungku yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku tahu Veronica bukan ancaman satu-satunya. Tapi jika dia pikir aku akan menyerah begitu saja, dia salah besar. Aku menatap pintu yang baru saja tertutup, membiarkan kata-kata Veronica menggantung di udara. Aku tahu dia mencoba menggoyahkanku, membuatku meragukan posisiku di sisi Lucian. Tapi yang tidak dia sadari adalah aku sudah terbiasa dengan orang-orang yang meremehkanku. Dulu, saat aku mengelola toko bunga ibuku, banyak yang mengatakan bisnis kecil itu tidak akan bertahan lama. Mereka mengira aku hanya seorang gadis biasa tanpa ambisi besar. Tapi aku tetap menjalankannya, bertahan melewati masa-masa sulit, dan membuktikan bahwa aku bisa. Aku tidak akan membiarkan Veronica atau siapa pun membuatku merasa tidak pantas berada di sini. Jika aku harus berjuang untuk bertahan di dunia Lucian, maka itulah yang akan kulakukan. Aku berdiri dan berjalan ke jendela besar ruangan itu. Kota di bawah terlihat begitu luas, seolah menawarkan banyak kemungkinan. Aku tidak akan mundur. Aku tidak akan kalah.Sejak pertemuanku dengan Veronica kemarin, aku sudah menduga akan ada konsekuensi. Dan benar saja. Hari ini, dalam acara makan siang bersama beberapa kolega Lucian, aku bisa merasakan tatapan-tatapan terselubung yang memerhatikanku, menilai, dan mungkin meremehkan. Kami berada di restoran mewah dengan pemandangan kota dari ketinggian, ruangan penuh dengan orang-orang berpakaian rapi yang berbicara dengan nada sopan, tapi tajam. Aku tidak asing dengan lingkungan seperti ini. Meski dulu hidupku sederhana, pekerjaanku di toko bunga ibuku sering mempertemukanku dengan klien-klien kaya yang punya standar tinggi. Aku terbiasa menghadapi pelanggan yang memandang rendah pekerjaanku, seolah merangkai bunga bukan hal yang cukup bernilai. Tapi kali ini berbeda. Lucian duduk di sampingku, tenang seperti biasa. Sikapnya dingin dan tak tergoyahkan, seolah semua ini tidak berarti apa-apa baginya. Tapi aku tahu lebih baik dari itu. Dia sedang mengamatiku, menunggu untuk melihat bagaiman
Saat aku kembali ke kantor Lucian setelah pertemuanku dengan Veronica, pria itu sudah menungguku dengan ekspresi datar. Dia sedang berdiri di depan jendela, melihat pemandangan kota yang bermandikan cahaya senja. "Apa yang dia katakan padamu?" Aku menghela napas dan berjalan ke arah meja, meletakkan tas tanganku dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya. "Oh, hal biasa. Ancaman terselubung, pertanyaan meremehkan, sedikit penghinaan halus." Lucian akhirnya berbalik menatapku. Mata kelamnya mengamati wajahku seolah mencoba membaca apakah aku sedang berbohong atau tidak. "Dan bagaimana menurutmu?" Aku menyandarkan tubuh ke meja, melipat tangan di depan dada. "Aku pikir dia menganggapku sebagai pengganggu dalam hidupmu. Dan dia ingin memastikan aku tidak bertahan lama." Sudut bibir Lucian sedikit terangkat, tapi bukan dalam senyuman. "Itu sudah bisa diduga." Aku menatapnya tajam. "Kau tidak akan melakukan apa pun soal itu?" "Apa kau ingin aku melakukannya?" Dia b
Aku selalu berpikir aku cukup pintar membaca orang. Sebelum mengelola toko bunga, aku pernah bekerja sebagai asisten pribadi selama bertahun-tahun. Pekerjaan itu mengajarkanku bagaimana memahami ekspresi, nada suara, dan kata-kata terselubung. Tapi Lucian Devereaux? Dia teka-teki yang tidak mudah dipecahkan. Aku masih mengingat percakapanku dengannya di dalam mobil semalam. Cara dia menatapku, seolah menimbang apakah aku pantas mengetahui rahasianya. Itu bukan ekspresi pria yang hanya menjalani pernikahan kontrak tanpa rasa peduli. Ada sesuatu di balik matanya—sesuatu yang lebih dalam dari pada yang pernah dia tunjukkan. Tapi pagi ini, aku tidak punya waktu untuk menganalisis tatapannya lebih jauh. Aku harus kembali ke kantor pusat Devereaux Industries. Meskipun aku hanya "istri kontrak" Lucian, peranku dalam perusahaan ini menjadi lebih besar dari yang kuduga. Saat aku memasuki gedung, aku merasakan tatapan para karyawan yang penuh rasa ingin tahu. Beberapa dari mereka m
Saat aku kembali ke rumah malam itu, Lucian sudah ada di ruang kerjanya. Aku mengetuk pintu sebelum masuk, membuatnya menoleh. "Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanyanya. Aku menutup pintu di belakangku dan melangkah mendekat. "Katakan padaku yang sebenarnya, Lucian. Apa yang terjadi antara kau dan Veronica?" Dia menghela napas, lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela. "Itu bukan sesuatu yang mudah dijelaskan." "Aku tidak meminta penjelasan yang mudah. Aku meminta kejujuran." Dia diam sejenak sebelum akhirnya berbalik menatapku. "Kami memiliki masa lalu yang sulit. Ayah kami selalu menekan kami dengan ekspektasi tinggi. Aku mengambil alih perusahaan lebih cepat dari yang seharusnya, dan Veronica merasa itu adalah tanggung jawab yang seharusnya dia bagi denganku."
Saat kami berjalan keluar dari restoran, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Lucian … apa yang ada di dalam amplop itu?” Dia terdiam sejenak sebelum menjawab, “Sesuatu yang tidak perlu kau lihat.” Aku mengerutkan kening. “Jadi kau memang menyembunyikan sesuatu?” Dia menghentikan langkahnya, lalu menatapku dengan mata gelapnya. “Seraphina, percayalah padaku dalam hal ini.” Aku ingin mempercayainya. Aku benar-benar ingin. Tapi bagaimana aku bisa melakukannya jika dia terus menutupi sesuatu dariku? "Kalau begitu, jawablah satu pertanyaanku.” “Apa?” Aku menelan ludah, lalu bertanya, “Ap
Aku menyandarkan diri ke sofa, mencoba menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul. "Ini rumah juga, bukan? Aku tidak harus berdandan seperti mau rapat dewan setiap saat." Lucian tidak menanggapi. Dia berjalan menuju dapur, menuangkan air ke dalam gelas, lalu kembali bersandar di meja bar. Dia tetap memperhatikanku, meskipun dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Apa kau ingin membahas sesuatu?" tanyaku akhirnya, merasa aneh dengan keheningan ini. Lucian meletakkan gelasnya di meja. "Besok kita ada jadwal makan malam bersama investor. Aku ingin kau ikut." Aku menegakkan tubuh. "Aku? Untuk apa?" "Aku ingin mereka melihat bahwa pernikahan kita memang nyata," jawabnya singkat. Aku menghela napas. Ini bukan pertama kalinya dia memintaku hadir dalam acara bisnisnya, tet
Aku tersenyum manis. "Memang. Tapi aku suka tantangan." Veronica tersenyum kecil, seolah menantangku lebih jauh. "Aku penasaran," katanya dengan nada acuh tak acuh. "Apa yang kau lihat dalam diri Lucian? Kau menikah dengannya begitu cepat. Tidak ada yang percaya ini hanya karena cinta." Ruangan terasa lebih hening, tetapi aku tahu semua orang di meja ini tertarik mendengar jawabanku. Aku menoleh ke arah Lucian. Mata kami bertemu, dan dalam sepersekian detik, aku merasa dia ingin tahu jawaban apa yang akan kuberikan. Aku tersenyum tipis sebelum beralih kembali ke Veronica. "Aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu, bukan?" Veronica menyipitkan mata, sementara beberapa orang di meja itu tampak terkejut dengan jawabanku. Lucian, di sisi lain, tampak tenang. Bahkan,
Mataku terbuka dalam keheningan. Apartemen ini selalu sunyi saat malam, seakan tak ada kehidupan di dalamnya. Aku melirik jam di nakas. 2:17 pagi. Tenggorokanku terasa kering, dan tanpa banyak berpikir, aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur. Aku masih setengah sadar ketika melangkah keluar kamar, hanya menyadari dinginnya lantai marmer yang menyentuh telapak kakiku. Aku tidak menyalakan lampu, membiarkan cahaya remang dari jendela besar menjadi satu-satunya penerangan di ruangan ini. Begitu aku tiba di dapur, tanganku meraih pegangan lemari kaca, mencari gelas. Tapi sebelum aku bisa menemukannya, aku merasakan sesuatu. Sebuah tatapan. Aku membeku seketika. Jantungku berdetak lebih cepat saat aku berbal
Aku menatap layar ponsel dengan jantung berdegup kencang. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak aku simpan. Namun, kali ini isinya jauh lebih spesifik. [Berhenti mencari tahu kebenaran yang tersembunyi, Seraphina. Jika tidak, kau akan kehilangan lebih banyak orang yang kau cintai.] Tanganku meremas ponsel erat. Napasku tersendat, mataku tidak bisa lepas dari pesan itu. Ini bukan pertama kalinya aku menerima ancaman, tapi kali ini … mereka menyebutkan orang-orang yang kucintai. Aku segera berdiri, langkahku tergesa menuju ruang kerja Lucian. Aku harus memberitahunya. Saat pintu terbuka, Lucian sedang berdiri di balik meja kerjanya sambil berbicara dengan Felix. Matanya langsung mengarah kepadaku dan seketika ekspresinya berubah begitu melihat wajahku. "Ada apa?" tanyanya tegas. Aku menyerahkan ponselku padanya tanpa berkata apa-apa. Lucian mengambilnya, matanya tajam membaca pesan itu. Rahangnya mengencang, lalu jemarinya menggenggam ponsel dengan kuat. "Felix, keluarlah dulu,
Langkahku terhenti di depan pintu kafe Serenity Sips, jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Aku tidak yakin apakah ini ide yang baik, tetapi aku harus mendapatkan jawaban. Damien sudah menungguku di dalam, duduk di sudut ruangan dengan ekspresi yang sulit diterka. Aku menarik napas perlahan, lalu melangkah masuk. Begitu matanya menangkap sosokku, ekspresinya berubah sejenak—seperti ada kegugupan yang berusaha dia tutupi. Namun, pria itu segera menegakkan punggung dan menatapku dengan tajam. “Aku tidak menyangka kau akan benar-benar datang.” Aku menarik kursi di hadapannya dan duduk tanpa basa-basi. “Kita perlu bicara sesuatu yang penting.” Damien menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tangannya terlipat di dada. “Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?” Mataku menelusuri ekspresinya untuk mencari
Aku masih terbaring di sofa ruangan kerja Lucian saat suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka, dan seorang wanita masuk dengan langkah anggun. Joanne Devereaux. Matanya yang tajam menelusuri ruangan sebelum akhirnya berhenti padaku. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi berlebihan, tapi ada ketegasan yang sulit diabaikan. Aku menarik napas pelan, bersiap menghadapi percakapan yang kemungkinan besar tidak disertai candaan. "Hai, Seraphina," sapanya sambil duduk di sampingku. "Hai juga, Joanne. Saya tidak menyangka Anda datang ke sini," balasku setelah duduk dan menoleh padanya. Dia mengamati wajahku dengan saksama. "Bagaimana kondisi ibumu?" "Masih belum ada kabar baik," jawabku singkat tanpa emosi berlebih. Lebih tepatnya air mataku sudah kering berlarut-larut dalam kesedihan. Joanne mengangguk pelan sebelum akhirnya melipat tangannya di atas pangkuan. "Aku tidak akan bertele-tele. Aku datang untuk membicarakan sesuatu yang mungkin ingin kau
Sejak tadi pagi, Lucian menghubungi beberapa orang, termasuk tim investigasi pribadinya. Tatapannya tajam, wajahnya menunjukkan ketegangan yang tak biasa. Ternyata pria itu sungguh tidak akan diam saja setelah insiden kecelakaan Ibuku. Lucian berdiri di dekat jendela dengan punggungnya yang menghadapku. “Aku ingin laporan lengkap dalam waktu dua puluh empat jam,” katanya dengan nada tegas. “Cari tahu siapa yang ada di sekitar lokasi kejadian sebelum dan sesudah kecelakaan.” Aku mendengar suara seseorang di seberang telepon menjawab dengan cepat, lalu Lucian melanjutkan, “Termasuk semua aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan keluarga Langley dan Devereaux.” Dia menutup telepon tanpa banyak basa-basi. Aku segera mendekatinya untuk mencari tahu seberapa jauh dia sudah mendapatkan informasi. “Apa ada perkembangan?” tanyaku dengan ekspresi penuh harap. Lucian menoleh padaku. “Masih dalam tahap pengumpulan data. Aku juga meminta rekaman CCTV di sekitar rumah sakit.” Aku me
Suara langkah kakiku terdengar cepat di lantai rumah sakit. Jantungku berdegup kencang saat aku kembali menghampiri ruangan dokter. Tanganku gemetar saat mengetuk pintu, berharap ada kabar baik yang bisa meredakan sesak di dadaku. Dokter yang sama seperti tadi pagi membuka pintu. Ekspresinya masih sama—serius dan penuh kehati-hatian. "Bagaimana kondisi Ibu saya, Dokter?" tanyaku mendesak. Dokter itu menghela napas. "Kami masih melakukan yang terbaik. Tapi sampai sekarang, ibu Anda belum menunjukkan respons yang signifikan." "Tidak bisakah Anda memprediksi kapan ibu saya akan sadar?" "Kami tidak bisa memberikan kepastian, Nona. Lukanya cukup parah, dan masa pemulihan setiap pasien berbeda-beda. Kami hanya bisa terus memantau dan memberikan perawatan terbaik." Aku mengepalkan tanganku, menahan rasa frustrasi yang meluap di dadaku. "Jadi, saya hanya bisa menunggu tanpa kepastian?" Dokter itu menatapku penuh pengertian. "Saya mengerti ini sulit untuk Anda. Tapi percayalah, k
“Ayah, aku ingin mengenalkan seseorang,” ucapku setelah duduk kembali ke kursi tunggu dan Lucian di sebelahku. Namun sebelum aku sempat melanjutkan, suara Lucian terdengar lebih dulu. “Selamat malam, Tuan Dawson.” Aku spontan menoleh. Melihat wajah Lucian tampak serius, tetapi ada nada hormat dalam suaranya. Sesuatu yang cukup mengejutkanku, mengingat sebelumnya tak pernah menunjukkan sikap seperti itu pada orang tuanya sendiri. Dawson menatap Lucian dengan seksama, lalu tersenyum tipis. “Jadi kau yang namanya Lucian Devereaux, ya?" Lucian mengangguk sopan. “Benar, saya Lucian Devereaux, suami dari Seraphina, putri Anda." Dawson mengangguk dengan senyum lembut. “Salam kenal. Aku sering mendengar tentangmu.” Aku membelalakkan mata. Apa maksudnya? Dari siapa ayah mendengar tentang Lucian? Padahal setahuku ini pertama kalinya mereka bertemu. “Ayah mengenal Lucian?” tanyaku mengangkat alis heran. "Tentu saja, Seraphina. Semua orang mengetahui siapa saja keluarga Deverea
Aku menatap kosong ke dalam cangkir kopi yang sudah dingin di hadapanku. Pikiranku masih dipenuhi dengan ucapan Joanne beberapa jam lalu. Gemetar ringan di meja menyadarkanku. Ponselku bergetar untuk menampilkan sebuah pesan masuk. Aku mengulurkan tangan dan mengambilnya dengan setengah hati. Namun, saat melihat nama pengirimnya, aku langsung tersentak. Margaret Roseanne. Alisku berkerut, rasa cemas langsung menjalari tubuhku. Margaret jarang sekali menghubungiku, apalagi di jam segini. Dengan cepat aku membuka pesannya. [Seraphina, ibumu kecelakaan. Sekarang dia ada di rumah sakit dekat perusahaan Devereaux. Kondisinya sangat kritis.] Dadaku langsung sesak. Jantungku berdetak begitu kencang hingga aku merasa nyaris pingsan jika aku tidak menampar pipiku. Tanpa pikir panjang, aku buru-buru bangkit. Bahkan kursi yang berdecit saat terdorong ke belakang hampir saja jatuh. Aku meraih tas dan ponselku, lalu bergegas keluar dari apartemen. Aku mengemudi secepat yang aku bisa
Kepalaku masih berat saat membuka mata. Rasa pusing menyerang begitu cepat, seperti efek samping dari malam yang penuh kekacauan. Aku menghela napas sambil menatap langit-langit kamar. Kemudian mataku bergerak ke arah kaki yang diperban rapi. Luka yang kuterima semalam kembali muncul dalam ingatan. Seseorang memberikanku teror. Namun yang membuatku lebih terkejut adalah bagaimana Lucian bertindak. Dia tidak seharusnya begitu peduli, tapi perlakuannya padaku kemarin menunjukkan sebaliknya. Aku menggeleng, mencoba menyingkirkan pikiran yang mulai berantakan. Tak lama suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu kamar terbuka, dan di sana berdiri sosok yang sama sekali tak kuduga akan muncul pagi ini. Lucian. Aku pikir dia sudah berangkat ke kantor. Dengan santai, dia masuk sambil membawa nampan berisi sepiring pancake mini dengan maple syrup dan segelas susu hangat. Aku menatapnya dengan alis terangkat, tidak yakin harus merespons bagaimana. "Aku tidak meminta apapun," kataku s
Aku menatap lurus ke depan, tapi otakku berputar memutar ulang kejadian tadi di pertemuan bisnis. Suara mesin mobil berdengung halus di telinga, tapi yang mengganggu justru gema tawa Veronica dan Celeste. Sialan. “Mereka bilang apa saja?” Suara Lucian terdengar tiba-tiba di keheningan, hampir tanpa emosi. Dia menyandarkan punggung ke jok mobil, tangan kirinya menggenggam setir dengan santai. Aku mendesah panjang. “Celeste. Dia mengatakan beberapa kalimat sampah di depan semua wanita di sana. Dia berpikir aku menikahimu hanya mendapat kekuasaan. Dan Veronica, entah kenapa tiba-tiba datang dan mendukung Celeste. Seperti biasa, saudarimu itu melontar kata-kata mutiara yang membuat telingaku panas." Lucian masih diam. Sorot matanya tetap fokus ke jalanan, seolah semua ini bukan hal yang mengejutkan. “Lalu Damien ternyata mengikutiku saat aku pergi ke tempat sepi." Aku melanjutkan dengan nada sedikit jengkel, “Dia meminta maaf atas nama istrinya. Tapi yang paling menyebalkan dia be