Kyle buru-buru mendekat dan memegang kedua bahu gadis tersebut, bertanya dengan sorot khawatir. "Luana, bagaimana keadaanmu, apakah ada yang terasa sakit di mana saja terutama jantungmu?" Dia benar-benar menyesal saat menyadari bahwa gadis ini benar-benar kurus, harusnya dia tidak terlalu percaya diri bahwa kondisi gadis itu akan membaik dengan sendirinya. Luana menatap Kyle dengan penuh kebingungan. "Kenapa saya ada di sini? Apakah Anda menghukum saya karena saya menolak untuk ikut sayembara yang akan Anda adakan? M-maafkan saya! Saya akan mengikuti apa pun perkataan Anda, Tuan Muda!" seru gadis itu dengan sorot ngeri, membuat Kyle ganti yang kebingungan sekarang. "Apa maksudmu mengatakan hal itu, Luana? Sayembara? Sayembara apa?" "Ah, ada satu hal lagi yang belum kukatakan, gara-gara tindakanku menyelamatkan nyawanya, gadis itu mengalami amnesia sebagian karena trauma, jadi mungkin beberapa kejadian selama beberapa bulan belakangan ini, tidak bisa diingat olehnya." "Ap
"Aku lembut? Nggak sama sekali. Tapi aku sedang belajar menjadi suami yang baik." Ucapan tanpa nada dari Kyle tersebut anehnya membuat Luana tersenyum-senyum sendiri. "Ah, begitu." Dia menyembunyikan rona merah di wajahnya, membuat Kyle merasa sangat ingin memeluknya saat itu juga karena Luana terlihat sangat imut. "Sekarang, apakah kau ingin mandi dulu atau langsung tidur?" tawar Kyle dengan penuh perhatian. Akting pura-pura dingin ternyata melelahkan. "Saya... saya ingin tidur saja, tubuh saya terasa sakit semua, entah kenapa." "Baiklah, ayo." Kyle membuka pintu kamarnya dan mengajak Luana masuk. "Ayo?" Gadis itu menahan langkahnya dan menatap Kyle dengan tak mengerti. "Iya, ayo ke kamarku. Kita tidur bersama." Mendengar jawaban dari Kyle tersebut, Luana serta merta mundur beberapa langkah. "T-tidak! Saya... saya belum siap melakukan malam pertama, kita, kan, belum menikah, Tuan Muda!" Gadis itu menatap Kyle dengan takut-takut sementara Kyle tertawa geli.
"Buat apa kamu menanyakan hal itu? Berhentilah berpura-pura menjadi ayah yang perhatian dan mendukung anaknya, kalau di belakang akhirnya kau menusuk anakmu dengan sangat kejam, Ayah." Kyle menjawab dengan sinis pertanyaan ayahnya tersebut, dia sudah benar-benar muak dengan pria tua menyedihkan di depannya ini. Saat kasus Jasmine, dia masih menahan diri karena menghormati orang yang ikut andil dalam proses lahirnya dia ke dunia. Namun, saat kasus Leanna. Dia tak bisa menahan diri lagi. Bisa-bisanya pria tua itu menghasut Leanna bahwa dia menyimpan perasaan kepada teman masa kecilnya itu, padahal di saat yang sama ayahnya mengatakan akan mendukung hubungan Kyle dengan Luana? Benar-benar pria licik yang menjijikkan! Melihat mukanya saja, Kyle sudah muak. "Ke mana kau akan pergi, Kyle?" Ayahnya bertanya sekali lagi, Kyle yang merasa ditantang oleh pertanyaan itu, menjawab dengan pongah. "Ke mana saja. Aku bahkan bisa saja pergi ke dunia vampir dan tinggal bersama paman
"Benar-benar akhir yang tidak terduga, Tuan. Siapa yang mengira akhirnya ketua klan vampir yang menyembuhkan Luana dan menyelesaikan semua masalah kita." Rion akhirnya berkomentar ketika Kyle selesai menceritakan segalanya dari awal sampai akhir. Luana saat ini kembali tidur dengan tenang di kamarnya, sebelum menemui Rion, Kyle lebih dulu menyuntikkan ke tubuh Luana obat yang diberikan Raphael padanya, katanya obat tersebut akan membantu tubuh Luana beradaptasi dengan darah baru di dalam dirinya. Obat itu juga akan dengan cepat mengubah Luana menjadi selayaknya manusia biasa, setelah menghisap darah manusia untuk pertama kali, Luana tidak akan berubah menjadi seperti vampir lagi sampai beberapa bulan ke depan. Kyle menyesap kopi di cangkir yang berada dalam genggaman tangannya, lalu mengangguk setelah menghela napas panjang. "Ya, mungkin aku harus berterima kasih kepada pria tua itu karena dengan begini segalanya terkendali dan kita nggak perlu mengorbankan manusia yang ngga
Kyle mendatangi Luana yang sedang asyik membaca komik di kamar Kyle yang mewah. "Luna, aku pergi dulu, ya? Tiba-tiba ada urusan bisnis yang harus kukerjakan," pamit pria tersebut sambil melayangkan kecupan lembut di pipi Luana. "Baik, Tuan Muda. Jaga diri Anda baik-baik." "Bagaimana kalau kamu mulai membiasakan diri memanggil aku Kyle? Seperti saat kita masih SMA dulu?" tawar Kyle dengan senyum menawan yang membuat Luana tersenyum malu-malu. "Anda... Anda sudah tidak amnesia?" Gadis itu merasa terkejut, padahal dia sendiri yang amnesia. "Aku nggak pernah amnesia, dan perasaanku padamu nggak berubah sejak SMA. Jadi, mau memanggil aku Kyle?" "Eh, s-sepertinya saya masih butuh sedikit waktu." Akhirnya, Luana menjawab seperti itu karena sejak semalam, segala hal terlihat membingungkan bagi dirinya. Kyle untungnya mengangguk dengan penuh pengertian, sehingga Luana menjadi lega. "Baiklah kalau begitu. Ingat, jangan keluar ke mana-mana sampai aku datang. Kalau butuh apa-ap
Hal itu mengingatkan Kyle pada masa SMA, di mana ketika dia mulai memiliki kekuatan ini, kekuatan miliknya itu dieksploitasi oleh sang ayah sampai Kyle sering kehabisan kekuatan dan berada dalam batasnya. Hal itu seperti meninggalkan bekas yang sangat dalam di hati Kyle, menimbulkan rasa trauma sehingga dia sangat menghindari pekerjaan seperti ini kalau tidak karena sangat terpaksa seperti saat ini. "Ayo segera selesaikan ini," bisik Kyle pada dirinya sendiri. Setelah beberapa saat, hantu itu benar-benar muncul dan melayang-layang di dekat Kyle, seperti tertarik dengan aura yang keluar dari tubuh pria itu. Semua menonton dengan jantung berdebar melalui CCTV yang terpasang di lorong hotel tersebut dengan jantung berdebar kencang saat melihat hantu itu muncul dan terlihat sangat jelas, beda dengan biasanya. Wajah mereka ngeri seperti sedang menonton film horor, bedanya ini adalah siaran langsung. Kyle berhadapan dengan hantu itu tanpa rasa takut sedikit pun, mengulurkan kedu
"Kyle!" Luana berlari dengan sangat cepat ke arah pria yang terbaring tak sadarkan diri di sebuah ranjang yang besar. Tubuhnya jatuh terduduk di samping ranjang sambil memegangi tangan sang pria, menangis tersedu-sedu. "Katanya kamu bakal kembali dengan baik-baik saja, kenapa malah begini?!" jerit Luana disela isak tangisnya, memegang erat tangan Kyle dan menempelkannya di kening. Kyle belum bergerak, selang infus menempel di pergelangan tangannya sedangkan pria tampan itu masih memejamkan mata, tidak sadarkan diri. "Mungkin dia hanya kelelahan, jangan terlalu khawatir, Luana," hibur Rion yang berdiri tak jauh darinya. Bagaimanapun juga Kyle belum istirahat sejak turun dari pesawat kemarin, dia juga baru datang dari dunia vampir, kekuatannya pasti banyak terpakai sehingga setelah melakukan pengusiran hantu, dia sampai pingsan seperti ini. Rion menjelaskan semua itu kepada Luana agar dia tidak khawatir terlalu banyak. Namun, Luana menggeleng, tak percaya bahwa Kyle pingsa
Luana membuka matanya setelah mengerjap beberapa kali, dia sedang mengumpulkan ingatan bagaimana bisa tertidur tadi. Kepalanya mati rasa dan tubuhnya terasa lamban. Ketika indra-indranya makin menajam, Luana bisa mendengar napas di telinganya. Dia bisa merasakan dada seseorang tengah menempel di punggungnya. Pria itu, yang dia tahu siapa tanpa harus menoleh, tengah memeluknya erat-erat dari belakang. Satu tangan membungkus pingguinya, sementara tangan lain memegang dadanya. Setiap napasnya terasa menggelitik leher Luana. Sinar matahari tumpah di antara tirai dan sepertinya sudah beberapa waktuberlalu. Berapa jam telah berlalu? Luana selalu bangun lebih awal di pagi hari, jadi itu adalah pertama kalinya dia tidak bisa memperkirakan waktu dalam sehari. Ketika dia dengan hati-hati mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu, Luana merasakan lengannya kencang dan menarik dirinya kembali ke pelukan. Luana merasakan bibirnya dengan ringan mencium tengkuknya. "Kyle." Lu
Pesta pernikahan Luana dan Kyle dilaksanakan di sebuah ruangan megah dengan hiasan mewah yang membuat semua orang terpana. Mereka yang datang ke pesta itu langsung tahu bahwa ini adalah pesta pernikahan yang pantas untuk seorang pemilik Zeus Group yang kaya raya tersebut. Pesta itu diadakan secara privat dengan keamanan tingkat tinggi. Gio yang disuruh ayahnya untuk hadir di pesta pernikahan 'adiknya' itu, memilih untuk tak bergabung dalam keramaian pesta dan berdiri di pojok sambil menyesap anggur di tangan. Gio tak habis pikir kenapa ayahnya memaksa dia untuk datang ke pesta ini, padahal tahu bahwa vampir muda itu belum sepenuhnya move on dari Luana. Setelah berhasil menyelamatkan Luana dari pembekuan jantung yang mengakibatkan kematiannya, Kyle memaafkan Gio dan tidak meminta dirinya untuk dikurung dalam bukit kematian lagi. Gio berpikir bahwa hidupnya akan tenang dengan dia benar-benar menjauh dari apa pun yang berhubungan dengan Luana dan mulai merelakan dirinya. Na
Dia pasti sudah gila. Rion mengusap wajahnya dengan kasar lalu membuka mulut untuk membatalkan ucapannya beberapa waktu lalu. Astaga, apakah dia kehilangan akal dengan mengajak Leanna sebagai pasangan pura-pura di pernikahan Kyle? "Lupakan hal itu, aku harus segera pergi karena banyak yang musti aku urus," ralat Rion sembari bangkit dari duduknya. "Aku mau." Jawaban dari Leanna, membuat Rion urung melangkah pergi, dia berbalik dan menoleh dengan penuh tanda tanya pada gadis yang kini juga ikut berdiri tersebut. "Tolong jadilah pasanganku di pesta pernikahan Kyle, meski pura-pura, itu nggak papa daripada aku harus menanggung malu dengan datang sendiri di pernikahan mantan," lanjut Leanna dengan penuh tekad. Rion masih tak menjawab, dia benar-benar tidak serius saat mengucapkan hal tadi, murni karena rasa kasihan pada gadis yang tidak hanya kehilangan fantasi cinta pertamanya tapi juga ditinggal menikah. Rion menarik napas panjang, harusnya dia tidak memakai perasaan ket
Dia pasti sudah gila. Rion mengusap wajahnya dengan kasar lalu membuka mulut untuk membatalkan ucapannya beberapa waktu lalu. Astaga, apakah dia kehilangan akal dengan mengajak Leanna sebagai pasangan pura-pura di pernikahan Kyle? "Lupakan hal itu, aku harus segera pergi karena banyak yang musti aku urus," ralat Rion sembari bangkit dari duduknya. "Aku mau." Jawaban dari Leanna, membuat Rion urung melangkah pergi, dia berbalik dan menoleh dengan penuh tanda tanya pada gadis yang kini juga ikut berdiri tersebut. "Tolong jadilah pasanganku di pesta pernikahan Kyle, meski pura-pura, itu nggak papa daripada aku harus menanggung malu dengan datang sendiri di pernikahan mantan," lanjut Leanna dengan penuh tekad. Rion masih tak menjawab, dia benar-benar tidak serius saat mengucapkan hal tadi, murni karena rasa kasihan pada gadis yang tidak hanya kehilangan fantasi cinta pertamanya tapi juga ditinggal menikah. Rion menarik napas panjang, harusnya dia tidak memakai perasaan ket
"Tenang." Kyle membalas genggaman Luana dengan lembut, memandang gadis yang tampak gugup itu dengan penuh perhatian. "Aku akan menemani kamu, Sayang," ujarnya seraya menempelkan telapak tangannya di leher Luana, gadis itu mendongak dan menelan ludahnya. "Aku sangat gugup," Luana berkata dengan jujur. "Nggak ada yang perlu kamu takutkan." Mendengar itu, Luana membuang napas lewat mulut dan mengangguk, memperkuat tekadnya. "Baiklah. Ayo." Saat ini, Luana meminta diantar oleh Kyle untuk menemui ibu kandungnya yang sudah lama bekerja di luar negeri. Dia tidak pernah pulang lagi semenjak pergi ke luar negeri saat Luana SMP, meski kadang mengirim uang. Luana sama sekali tak pernah bertemu muka dengan ibunya tersebut. Tak ada kenangan yang indah bagi Luana tentang ibunya tersebut, saat remaja mungkin dia pernah merindukan sosok itu menemani dirinya, tapi semenjak dia dewasa, Luana sudah tak pernah mengharapkan apa pun. Dia mengajak Kyle ke sini, ke tempat tinggal baru sa
"Nggak mau kalo nikah besok." Luana mengulangi jawaban, tapi kali ini menjelaskan dengan lembut apa maksud perkataan sebelumnya. Kini mereka tidur sambil berpelukan satu sama lain, bagi Luana, hal seperti ini adalah saat-saat paling bahagia dalam hidupnya. Dia benar-benar tidak menyangka, sosok yang dulu dibenci olehnya setengah mati ternyata kini menjadi pria yang paling dicintainya. Masalah kesetiaan, dia tidak akan pernah lagi meragukan kesetiaan Kyle, mungkin Kyle adalah malaikat yang dikirim tuhan kepada Luana. Kaya, pintar dan tampan, tapipandangan matanya hanya tertuju kepada Luana seorang. Benar-benar sebuah hal langka mendapatkan pria seperti Kyle di dunia, Luana berjanji akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk Kyle. Namun, Kyle masih menganggap negatif perkataannya, mengira bahwa gadis itu tidaklah seantusias dirinya untuk menikah. "Kenapa? Kamu nggak mau menjadi istriku memangnya, Ra? Kamu tuh memang nggak sebesar aku cintanya, ya." Kyle mengatakan hal itu
Luana membuka matanya setelah mengerjap beberapa kali, dia sedang mengumpulkan ingatan bagaimana bisa tertidur tadi. Kepalanya mati rasa dan tubuhnya terasa lamban. Ketika indra-indranya makin menajam, Luana bisa mendengar napas di telinganya. Dia bisa merasakan dada seseorang tengah menempel di punggungnya. Pria itu, yang dia tahu siapa tanpa harus menoleh, tengah memeluknya erat-erat dari belakang. Satu tangan membungkus pingguinya, sementara tangan lain memegang dadanya. Setiap napasnya terasa menggelitik leher Luana. Sinar matahari tumpah di antara tirai dan sepertinya sudah beberapa waktuberlalu. Berapa jam telah berlalu? Luana selalu bangun lebih awal di pagi hari, jadi itu adalah pertama kalinya dia tidak bisa memperkirakan waktu dalam sehari. Ketika dia dengan hati-hati mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu, Luana merasakan lengannya kencang dan menarik dirinya kembali ke pelukan. Luana merasakan bibirnya dengan ringan mencium tengkuknya. "Kyle." Lu
"Kyle!" Luana berlari dengan sangat cepat ke arah pria yang terbaring tak sadarkan diri di sebuah ranjang yang besar. Tubuhnya jatuh terduduk di samping ranjang sambil memegangi tangan sang pria, menangis tersedu-sedu. "Katanya kamu bakal kembali dengan baik-baik saja, kenapa malah begini?!" jerit Luana disela isak tangisnya, memegang erat tangan Kyle dan menempelkannya di kening. Kyle belum bergerak, selang infus menempel di pergelangan tangannya sedangkan pria tampan itu masih memejamkan mata, tidak sadarkan diri. "Mungkin dia hanya kelelahan, jangan terlalu khawatir, Luana," hibur Rion yang berdiri tak jauh darinya. Bagaimanapun juga Kyle belum istirahat sejak turun dari pesawat kemarin, dia juga baru datang dari dunia vampir, kekuatannya pasti banyak terpakai sehingga setelah melakukan pengusiran hantu, dia sampai pingsan seperti ini. Rion menjelaskan semua itu kepada Luana agar dia tidak khawatir terlalu banyak. Namun, Luana menggeleng, tak percaya bahwa Kyle pingsa
Hal itu mengingatkan Kyle pada masa SMA, di mana ketika dia mulai memiliki kekuatan ini, kekuatan miliknya itu dieksploitasi oleh sang ayah sampai Kyle sering kehabisan kekuatan dan berada dalam batasnya. Hal itu seperti meninggalkan bekas yang sangat dalam di hati Kyle, menimbulkan rasa trauma sehingga dia sangat menghindari pekerjaan seperti ini kalau tidak karena sangat terpaksa seperti saat ini. "Ayo segera selesaikan ini," bisik Kyle pada dirinya sendiri. Setelah beberapa saat, hantu itu benar-benar muncul dan melayang-layang di dekat Kyle, seperti tertarik dengan aura yang keluar dari tubuh pria itu. Semua menonton dengan jantung berdebar melalui CCTV yang terpasang di lorong hotel tersebut dengan jantung berdebar kencang saat melihat hantu itu muncul dan terlihat sangat jelas, beda dengan biasanya. Wajah mereka ngeri seperti sedang menonton film horor, bedanya ini adalah siaran langsung. Kyle berhadapan dengan hantu itu tanpa rasa takut sedikit pun, mengulurkan kedu
Kyle mendatangi Luana yang sedang asyik membaca komik di kamar Kyle yang mewah. "Luna, aku pergi dulu, ya? Tiba-tiba ada urusan bisnis yang harus kukerjakan," pamit pria tersebut sambil melayangkan kecupan lembut di pipi Luana. "Baik, Tuan Muda. Jaga diri Anda baik-baik." "Bagaimana kalau kamu mulai membiasakan diri memanggil aku Kyle? Seperti saat kita masih SMA dulu?" tawar Kyle dengan senyum menawan yang membuat Luana tersenyum malu-malu. "Anda... Anda sudah tidak amnesia?" Gadis itu merasa terkejut, padahal dia sendiri yang amnesia. "Aku nggak pernah amnesia, dan perasaanku padamu nggak berubah sejak SMA. Jadi, mau memanggil aku Kyle?" "Eh, s-sepertinya saya masih butuh sedikit waktu." Akhirnya, Luana menjawab seperti itu karena sejak semalam, segala hal terlihat membingungkan bagi dirinya. Kyle untungnya mengangguk dengan penuh pengertian, sehingga Luana menjadi lega. "Baiklah kalau begitu. Ingat, jangan keluar ke mana-mana sampai aku datang. Kalau butuh apa-ap