Share

Teror Mantan
Teror Mantan
Author: Arsyla Adiba

Part 1

Author: Arsyla Adiba
last update Last Updated: 2022-04-20 13:37:17

Di sebrang rumah Laura terlihat ramai oleh orang-orang yang sedang mengangkut barang-barang untuk menempati rumah tante Laura yang sudah kosong selama sebulan ini.

Konsentrasi belajar Laura terganggu sedari tadi akibat suara tukang angkut yang terus berteriak, apalagi sekarang di tambah suara nyanyian melengkik dari seorang pria yang berdiri di atas kap mobil barang sambil memetikan gitarnya.

Laura menggeram marah, dan berjalan ke arah jendela lalu membuka jendela kamarnya yang berada di lantai dua, dengan raut wajah yang sudah memerah.

Mata Laura melebar, mulutnya mengangak ketika mengenali pria yang sudah membuatnya kesal itu, pria itu lantas melambaikan tangannya ke arah Laura dan tersenyum lebar sampai memperlihatkan giginya.

"Hai Mantan," teriak pria yang berdiri di atas kap mobil itu.

"Gila yah lo, siang bolong gini berisik di depan rumah orang," teriak Laura marah.

"Gak usah marah-marah mantan! makin cakep tau," goda pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya.

Mendengar godaan pria yang berdiri di atas kap mobil, Laura langsung pura-pura muntah, "Ngapain sih lo di situ?" sewot Laura.

"Kenalin gue Alex Xander Desmon bakal jadi tetangga baru lo, sekaligus mantan terindah Laura Varista Safa," ucapnya sambil tersenyum lebar.

"Apa," teriak Laura tak percaya.

Apa Laura salah dengar? Tapi sepertinya tidak.

Laura berlari menuruni tangga, menemui bundanya-Sinta yang sedang memasak di dapur untuk memastikan ucapan Alex itu benar atau tidak.

"Bunda," teriak Laura.

"Kenapa?" jawab Sinta sambil melirik putri satu-satunya.

"Bunda kenapa gak bilang, kalau yang mau nempatin rumah di sebrang itu Alex," kesal Laura.

"Bunda di suruh Alex buat gak ngomong sama kamu, biar suprise katanya," jelas Sinta pada Laura.

"Tapi Bun,"

"Emangnya kenapa sih Ra, karena dia mantan kamu, terus kamu gak mau berteman lagi sama dia, gitu?"

Sinta memang sudah tau hubungan Laura dan Alex, bahkan Alex sering main ke sini dulu, ketika mereka belum resmi putus, tapi sekarang entah masalah apa yang membuat mereka berdua atau lebih tepatnya Laura memutuskan hubungan.

"Ah bunda mah gak ngerti sih," rekeng Laura.

"Dia anaknya baik kok, siapa tau kalian bisa balikan," ucap Sinta tersenyum menggoda.

"Balikan! sama mahluk aneh itu, ogah," tolak Laura cepat.

"Aneh gimana, dia anaknya baik kok," ucap Sinta sambil melanjutkan aktivitas memasaknya.

"Pokonya Laura gak setuju yang beli rumah tante Mia mahluk aneh itu," protes Laura.

"Loh gak bisa gitu dong! keluarga mereka udah bayar lunas, tante Mia juga udah setuju," jelas Sinta.

"Pokonya Laura gak setuju, titik," teriak Laura marah sambil menghentakan kakinya ke lantai, lalu berlari kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua.

•••••

Pagi telah tiba Laura sudah siap dengan seragam SMA-nya, ia menuruni tangga dengan perasaan dongkol karena sejak tadi subuh Alex terus mengiriminya pesan, meminta Laura agar mau di antarakan sekolah olehnya, tentu saja Laura menolak mentah-mentah tawaran Alex lagi pula sekolah Alex berbeda arah dengan sekolah Laura.

Laura mematikan ponselnya dan memasukanya ke dalam tas sekolah, moodnya sudah ruksak sejak kemarin di tambah pagi tadi terus di kirim pesan tak penting oleh Alex yang membuatnya moodnya semakin kacau.

Bisa saja Laura mengganti nomornya atau memblorkir nomor Alex, tapi percuma! sudah puluhan kali ia ganti kartu dan juga memblokir nomor Alex tapi tetap saja mahluk itu selalu bisa mendapatkan nomor baru Laura.

Laura duduk di meja makan yang sudah ada Sinta yang sedang membuatkan susu coklat kesukaan Laura, sementara ayahnya jarang ada di rumah karena sering berpergian ke luar kota atau negeri untuk urusan pekerjaan.

"Morning," sapa Sinta hangat.

"Hm," jawab Laura seadanya sambil mengucah sandwih yang sudah tersedia.

Sinta menatap Laura dengan kening yang berkerut.

"Tumben biasanya gak bisa diem," sindir Sinta.

Laura mendelikan matanya dan menatap Sinta malas.

"Bun, Laura lagi gak mood, gak usah mulai deh," ucap Laura masam.

"Kenapa sih anak bunda yang cantik ini?" goda Sinta sambil mencolek pipi Laura.

"Bun," rengek Laura.

Tok tok tok.

"Siapa?" monolog bunda.

Laura mengidikan bahunya acuh dan kembali melanjutkan sarapan.

Sinta berdiri dari duduknya dan berjalan ke luar dapur untuk membukan pintu.

Tak lama Sinta kembali ke dapur, di ikuti oleh seseorang di belakangnya.

"Hay mantan," sapa seseorang di belakang Laura dengan senyum lebarnya.

Laura langusng menoleh dan menatap Alex dengan tak suka.

"Udah sarapan aja gak usah banyak protes," ucap Sinta saat Laura akan membuka mulutnya untuk protes.

Laura menatap sinta dongkol, dan melanjutkan sarapannya dengan sangat terpaksa.

Sementara Alex langsung mengambil tempat duduk tepat di hadapan Laura dengan senyum lebarnya yang terlihat menyebalkan bagi Laura.

Laura menatap sinis Alex, sementara yang di tatap tetap menampilkan senyum bodohnya,

Tak tahan dengan Alex yang terus memperhatikannya, Laura mengebrek meja makan dengan kuat sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.

"Bisa gak sih lo pergi dari rumah gue," ucap Laura ketus sambil menunjuk Alex dengan jari telunjuknya.

"Laura," bentak Sinta tak suka.

"Kamu ini apa-apaan sih," marah Sinta.

"Lagian bunda, kenapa sih suruh ni orang masuk segala," ketus Laura.

"Bukannya Alex mau nganterin kamu, makannya bunda suruh masuk," ucap Sinta enteng.

"Hah," beo Laura.

"kan udah aku bilang tadi di pesan aku mau nganterin kamu," ucap Alex dengan logat yang di lembutkan membuat Laura bergidik jijik.

"Stop pake aku kamu, dan gue gak mau di anter sama lo," teriak Laura marah sambil mengambil tasnya dan berjalan ke luar rumah dengan kaki yang di hentakan ke lantai.

"Dasar tuh anak," ucap Sinta geleng-geleng kepala melihat Laura yang sudah menghilang dari pandangannya.

"Kalau gitu, Alex pamit yah bun," ucap Alex sambil salim pada Sinta, yang di panggil bunda karena memamng kebiasaan sejak pacaran dengan Laura dulu.

"Yaudah, hati-hati di jalannya,"

Alex bergegas berjalan ke luar rumah, untung saja Laura masih ada di depan rumah sedang memakai sepatu.

"Ra," panggil Alex dan Ezra secara bersamaan.

Ezra Michel Austin teman sekola Laura dan sedang dekat dekatnya dengan Laura akhir-akhir ini.

Laura langsung menoleh ke arah mereka berdua, termasuk Alex yang langsung menatap pria tersebut dengan kening berkerut.

"Aku anter yah Ra," ucap Ezra.

"Gak boleh, gue yang bakal nganterin Laura," sanggah Alex cepat.

"Lo siapa?" tanya Erza.

"Gue," tunjuk Alex pada dirinya sendiri.

"Lo gak perlu tau siapa gue, yang pasti Laura gue yang anter, " jawab Alex lugas.

"Gak bisa, Laura bareng sama gue," tegas Ezra.

"Gue,"

"Gue,"

"Gue,"

"STOP," teriak Laura jengah. "Gue naik angkot aja," finalnya.

"Gak, kamu bareng Alex," ucap Sinta yang tiba-tiba datang.

"Gak mau," tolak Laura cepat.

"Yaudah kalau kamu gak mau, bunda potong uang jajan kamu minggu ini," ancam Sinta.

"Tapi bun," protes Laura.

"Yaudah kalau kamu gak mau bareng Alex,"

Laura melirik Alex yang sedang tersenyum penuh kemenangan.

"Yaudah iya," pasrah Laura.

Dari pada uang jajannya minggu ini di potong, bisa-bisa akan lama lagi ia beli novel yang sudah lama jadi incarannya.

Laura mendekati Alex yang sudah tersenyum sumringah."Kan kata aku juga apa, aku yang antar,"

"Gak usah banyak bacot, cepet jalan," ucap Laura tajam.

"Yaudah ayo naek," ucap Alex sambil memberikan helm pada Laura.

Laura memgambil helm yang di berikan Alex dan langsung memakainya, sebelum naik ke motor sport Alex.

Laura melihat ke arah Ezra yang menatap mereka dengan tampang datar, Laura memberi isyarat dengan tangannya meminta maaf pada Ezra, tak mungkin Laura meminta maaf langsung pada Ezra sementara Sinta masih memperhatikan mereka, entah apa alasannya sehingga Sinta seperti tak suka akan kehadiran Ezra.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Teror Mantan   Part 2

    Di sepanjang perjalanan Alex terus saja mengoceh hal yang tak penting membuat Laura pusing mendengar ocehannya. "Bisa gak sih diem!" teriak Laura yang kehabisan kesabaran sambil memukul keras bahu Alex. "Aww," teriak Alex kesakitan. "Yah abisnya kamu diem aja," balas Alex sambil mengusap bahunya bekas pukulan laura yang cukup sakit. "Berhenti!"perintah Laura. "Kenapa? belum sampaikan," tanya Alex heran. "Gue bilang berhenti," teriak Laura tepat di sebelah telingga Alex. Repleks Alex menghentikan motor sprotnya karena teriakan Laura yang membuatnya kaget. "Ini belum sampai Ra," ucap Alex sambil melirik ke arah spion untuk melihat Laura yang berada di jok belakang. "Gue mau turun di si...,"Tau kelanjutan dari ucapan Laura, tanpa pikir panjang Alex langsung menancap gas. "Aakhhhh," teriak Laura saat Alex tiba-tiba melajukan motornya dengan cepat membuat Laura refleks memeluknya. "Gila yah lo," teriak Laura marah."Kenapa?

    Last Updated : 2022-04-20
  • Teror Mantan   Part 3

    Kini Laura dan Gretha sudah berada di dalam kelas dan duduk di bangkunya masing-masing, padahal sudah waktunya jam pertama di mulai tapi entah kemana gurunya itu menghilang sampai sekarang tak nampak batang hidungnya. Laura sudah bosan mendengar kegaduhan di dalam kelas akibat ulah anak-anak apalagi sang biang keroknya Rafa, di tambah sejak tadi Gretha terus merengek meminta maaf dan minta Laura untuk memeperkenalkan dia pada cowok yang telah mencium Laura padahal ciuman juga tidak."Gretta benar-benar goblok lah," monolog Laura kesal."Di bilang gue kagak ciuman," sengit Laura. "Lagian lo tolol bodoh atau idiot Gretta mana ada cewek duluan minta di cium," greget Laura tak habis pikir pada sahabatnya satu ini. "Tapi gue pengen di cium Laura," kekeh Gretta. "Sini gue cium," "Ogah, lo bau iler," tolak Gretta sambil menjulurkan lidahnya mengejek. "Mana ada bau iler gue udah mandi yah," sewot Laura tak suka di sebut bau iler. "Tapi tetap a

    Last Updated : 2022-04-20
  • Teror Mantan   Part 4

    "Gue tau Ra," pekik Gretta tiba-tiba, yang kini sedang berjalan ke arah parkiran karena jam pulang telah tiba."Tau apaan?" jawab Laura malas sambil duduk dan menyenderkan punggungnya di kursi panjang sementara Gretta malah jongkong di bawah, random banget tingakah ni bocah. "Yang nyium lo tadi pagi Alexkan," heboh Gretta. "Kata siapa?" heran Laura."Kata alex, dia yang bilang sendiri sama gue pas di kantin tadi," jelas Gretta. Laura memutar kedua matanya malas, mendengar penjelas Gretta dari Alex yang tak ada benarnya. "Setelah gue tau yang nyium lo itu Alex, lo tau Ra apa yang gue lakuin?" tanya Gretta pada Laura. "Lo pukul, tendang atau lo bunuh orangnya," tebak Laura antusias merasa Gretta sedang melindunginya. Gretta menggelengkan kepalanya cepat mendengar jawaban Laura. "Terus lo apain?" tanya laura dengan kening berkerut. "Gue minta di cium sama Alex, eh malah di toyor kepala gue sama si curut Rafa," emosi Gretta sambil men

    Last Updated : 2022-04-20
  • Teror Mantan   Part 5

    "Ra lo punya hubungan apa sama Alex," tanya Ezra yang kini tengah mengendarai motornya membelah kerumunan yang cukup padat sore ini. "Gak ada," jawab Laura malas. "Tapi dia....""Udahlah gak usah ngomongin Alex bisa," bentak Laura masam memotong perkataan Ezra. Ezra langsung membukam mulut saat mengetahui suasana hati Laura sedang berantakan terlihat dari ucapannya. Sepanjamg perjalananpun hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Tak lama mereka telah tiba di tempat yang Ezra tuju, di tepi pantai dengan semilir angin yang menyejukan apalagi pantai dan langit yang terluhat indah di sore hari ini. Mereka berdua turun dari motor, " kenapa kita kesini," tanya Laura sambil melihat sekitar yang tak ada pengunjung satu pun."Kenapa gak suka," tanya Ezra balik."Gak bukan gitu, suka kok," ucap Laura cepat takut Ezra akan salah paham sama pertanyaannya tadi. Sebenarnya Laura sangat suka pantai tapi tubuh Laura seolah tak mendukung, kep

    Last Updated : 2022-04-20
  • Teror Mantan   Part 6

    Laura mengerjakapan mata dan melihat sekeliling yang sudah gelap, ia bangun dan melihat jam ternyata sudah pukul 8 malam.Laura bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menutup jendela kamar dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Setelah mandi Laura bergegas ke luar kamar dan melihat keadaan di sekitar rumah yang sama gelapnya, dia mengerutkan keningnya bingung. Laura menyalakan lampu di semua ruangan sambil menutup semua jemdela. "Bun, bunda," panggil Laura. Merasa tak ada jawaban, Laura pergi ke kamar bunda.Laura membuka pintu kamar Sinta, kosong tak ada Sinta bahkan lampu kamar pun sama belum nyala. Laura berjalan masuk dan menutup jendela menyalakan lampu."Bunda," panggil Laura. "Bunda, di mana Laura takut sendirian," teriak Laura lagi. Merasa ada yang tak beres Laura berlari menaiki tangga kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak. Laura mengotak ngatik ponselnya dengan nafas yang tak beraturan karena

    Last Updated : 2022-04-20
  • Teror Mantan   Part 7

    Sejak tadi Laura hanya memperhatikan Alex yang terus saja merokok, sudah berapa batang yang Alex hisap tapi sepertinya Alex sudah kencanduan oleh benda itu."Lo bisa gak sih berhenti ngerokok," ucap Laura."Kenapa?" ucap Alex sambil memperhatikan Laura yang kini menatapnya dengan tatapan tak suka."Lo gak sayang sama badan lo?""Gue lebih sayang lo Laura," ucap Alex lembut."Kalau lo gak suka liat gue ngerokok, ada syaratnya," ucap Alex lagi."Apa?" tanya Laura."Kita balikan," ucap Alex serius."Gak," tolak Laura cepat.Alex mematikan rokok terakhirnya dan membuang puntungnya ke asbak yang di depan Alex.Lalu menatap lekat Laura, "Ra mau sebanyak apa pun kamu nolak aku dan nyuruh aku menjauh dari kamu, aku gak pergi Ra, karena aku yakin di hati kamu masih ada aku," ucap Alex dengan pedenya.Laura memalingkan mukanya tak mau melihat Alex. "Oh iya Ucul gimana keadannya sekarang?" tanya Alex menganti topik pembicaraan."Dia baik," jawab Laura malas."Aku boleh liat, di mana di sekarang?

    Last Updated : 2022-04-26
  • Teror Mantan   Part 8

    Laura sejak tadi terus mencari Alex yang entah di mana keberadaannya, selain untuk meminta uang jajan yang bunda titipkan padanya, Laura juga ingin memarahi Alex yang tak memberitahunya tentang handuk yang masih melilit di kepala Laura.Pelajaran pertama dan kedua bebas karena rapat yang di adakan dadakan, membuat sekolah kini ramai oleh anak-anak yang berlalu lalang.Laura berjalan cepat ketika melihat Alex tengah berada di sisi lapang basket berkumpul dengan anak cowok yang lainnya.Laura melepaskan sebelah sepatunya dan hap tepat sasaran"Aww," ringis Alex."Siapa yang berani lempar gue pake sepatu?" bentak Alex marah, yang membuat suasana lapangan yang tadi riuh seketika sunyi."Gue yang lempar," teriak Laura lantang sambil berjalan maju tanpa menggunakan sepatu sebelah."Eh mantan," ucap Alex nyengir, wajahnya yang tadi marah langsung terlihat berseri-seri ketika melihat Laura yang kini sedang berkacak pinggang."Balikin sepatu gue," pinta Laura galak.Alex melemparkan sepatu Lau

    Last Updated : 2022-05-12
  • Teror Mantan   Part 9

    "Alex, Alex," teriak Farel sambil berlari terpogoh-pogoh menghampiri Alex yang sedang duduk anteng di atas motornya sedang bermain ponsel."Apa?" tanya Alex acuh tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel."Itu..," ucapnya."Itu ....Laura ...uks," ucapnya terbata-bata."Itu apa? Laura kenapa?," tanya Alex."Laura..," ucapnya panik."Iya Laura kenapa? Bicara yang bener! Mau gue tonjok lo," ucap Alex tak sabaran."Laura pingsan," ucap Farel Lantang.Tanpa basa-basi Alex berlari ke arah ruang uks, dan membuka kencang pintu uks sehingga menimbulkan suara yang kencang.Brak.Laura dan Gretta yang sedang di dalm uks terperajat karena suara bising pintu.Alex menatap lekat Laura dengan napasnya yang ngos-ngosan."Katanya lo pingsan? Kok ini kagak? Tanya Alex heran sambil menetralkan nafasnya."Gue udah siuman," ketus Laura."Cepet banget siumannya," keluh Alex."Emangnya kenapa Lex?" tanya Gretta."Gak bisa moduslah," masamnya."Modus gimana?" tanya Gretta yang masih belum paham."Grepe-

    Last Updated : 2022-05-13

Latest chapter

  • Teror Mantan   Kenangan di Atas Roda Dua

    Esok paginya, Laura melangkah ke ruang makan dengan langkah santai, meski wajahnya masih menunjukkan sisa kelelahan. Di meja makan, Rio sudah duduk sambil memangku Kenzo, yang terlihat segar setelah dimandikan. Bayi itu tertawa kecil, tangannya menggapai-gapai wajah Rio, membuat suasana terasa lebih hidup.Di dapur, Sinta sedang membuatkan kopi sambil tersenyum melihat pemandangan itu. Ketika Laura mendekat, Sinta menyapanya. "Pagi, Laura. Mau sarapan apa?" tanyanya ramah.Laura hanya mengangguk kecil dan duduk di kursinya, menghindari kontak mata dengan Kenzo. Ia mengambil roti yang sudah tersedia di meja dan mulai memakannya dalam diam.Rio, yang melihat sikap Laura, tersenyum kecil. "Ra, kamu nggak mau gendong Kenzo? Dia lagi ceria banget pagi ini," ucapnya sambil menggerakkan Kenzo sedikit ke arah Laura.Laura menghentikan kunyahannya sejenak, lalu menjawab tanpa menatap ayahnya. "Ayah tahu jawabannya," ujarnya datar.Rio menghela napas pelan, menatap putrinya dengan penuh kesabar

  • Teror Mantan   Bayi Kenzo

    Laura melangkah masuk ke dalam kamarnya di rumah dengan langkah lelah. Setelah percakapannya dengan Alex di pantai, tubuh dan pikirannya terasa begitu berat. Ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh balok kayu khas Bali.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang terus berputar. Kata-kata Alex masih terngiang jelas di benaknya. "Mau seribu kali pun lo nolak gue, gue gak akan pernah menyerah, Ra."Laura menutup matanya, mencoba meredakan kekacauan di dalam dirinya. "Kenapa semua ini harus sekompleks ini?" gumamnya pelan. Di satu sisi, ia merasa bersalah telah membuat Alex terus berharap, tapi di sisi lain, ia tahu bahwa perasaannya sendiri belum benar-benar sembuh dari luka di masa lalu.Ia bangkit perlahan, berjalan menuju balkon kamarnya. Udara malam Bali yang sejuk menyapa wajahnya. Suara debur ombak dari kejauhan terdengar menenangkan, meski hatinya tetap terasa berat."Pernah nggak sih gue benar-benar tahu apa yang g

  • Teror Mantan   Luka dan suka Tasya

    Pov GrettaGretta dan Rafa berjalan santai di tepi pantai, pasir lembut menyentuh kaki mereka. Mereka baru saja membeli beberapa makanan ringan dari penjual yang ada di sepanjang pantai—kacang rebus, jagung bakar, dan es kelapa muda. Gretta memegang gelas es kelapa dengan satu tangan, sementara tangan satunya sibuk menepis Rafa yang terus menggoda."Lo tahu nggak, Gretta, gue beli jagung bakar ini khusus buat lo. Supaya lo bisa ngunyah sambil diem, nggak terus-terusan ngetawain gue," ucap Rafa sambil menyeringai.Gretta tertawa keras, hampir menjatuhkan gelasnya. "Hah! Emang lucu banget lo, ya. Humor lo tuh receh banget, Raf. Tapi gue akui, kadang itu yang bikin gue betah sama lo.""Kadang? Jadi gue cuma lucu 'kadang-kadang'?" Rafa pura-pura cemberut, membuat Gretta tertawa lebih keras.Mereka berhenti sejenak, duduk di atas pasir sambil menikmati angin malam. Gretta menyandarkan kepalanya ke bahu Rafa, sementara Rafa dengan santai melingkarkan lengannya di bahunya."Raf, lo sadar ngg

  • Teror Mantan   Keyakinan Alex

    ...Setelah suasana menjadi lebih cair, mereka semua mulai berbincang lebih santai bersama orang tua Laura. Sinta dan suaminya, Rio, ikut duduk di meja mereka, membuat obrolan semakin hidup.Namun, meski suasana terlihat akrab, Alex sesekali mencuri pandang ke arah Laura. Perasaan yang ia pendam selama bertahun-tahun sejak kepergian Laura tampak jelas di matanya. Gretta, yang duduk di samping Laura, menyadari hal itu tapi memilih untuk tidak berkomentar.Tasya, di sisi lain, merasa tidak nyaman dengan cara Alex memandang Laura. Ia mencoba mengalihkan perhatian Alex dengan memulai obrolan. "Alex, gue denger katanya li mau kuliah di luar negeri?" tanyanya dengan nada ceria.Alex tersenyum kecil, meski jelas terganggu oleh interupsi Tasya. "Iya, tha tapi gue juga gak.tahu, mungkin oindah rencana kuliah di tempat lain," ucapnya sambil melirik ke arah Laura.Tasya tersenyum kaku, menyadari bahwa Alex tidak sepenuhnya memperhatikannya. Ia menggenggam gelasnya lebih erat, mencoba menahan ras

  • Teror Mantan   Pertemuan 2

    Laura muncul dengan langkah tenang, tapi tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dress putih sederhana yang dikenakannya berkibar pelan tertiup angin dari luar, membuatnya terlihat seperti bayangan dari masa lalu yang tiba-tiba hadir.Alex menatapnya dengan campuran emosi yang sulit diuraikan. “Laura...” panggilnya pelan, seolah takut suara lebih keras akan membuat momen ini menghilang.Laura menghentikan langkahnya, matanya terarah pada Alex. "Kamu... Alex?" gumamnya, suaranya bergetar.Semua orang terdiam. Gretta menatap Laura dengan raut wajah tak percaya, sementara Tasya mencuri pandang ke arah Alex, mencari reaksi dari pria itu."Kenapa kalian semua di sini?" tanya Laura sambil mendekat, suaranya tenang, meskipun sorot matanya penuh kebingungan.Alex, yang sedari tadi duduk, berdiri begitu Laura tiba di hadapannya. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menarik Laura ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat, seolah

  • Teror Mantan   Pertemuan

    “Kita nginep di Wavecrest Hotel. Gue udah booking dua kamar di sana,” ucap Alex sambil melirik ke arah spion belakang, memastikan semuanya baik-baik saja di kursi penumpang.“Wavecrest Hotel?” tanya Gretta sambil menatap Tasya.“Iya, tempatnya persis di samping kafe Laura,” lanjut Alex dengan nada santai.“Wah, pas banget dong. Jadi nggak perlu ribet kalau mau ketemu Laura,” komentar Rafa sambil melihat peta di layar ponsel.Gretta tersenyum tipis. “Bagus sih, biar kita juga punya waktu buat istirahat sebelum ketemu dia.”Mobil pun terus melaju menuju Canggu, mengikuti suara navigasi yang membimbing mereka."Gue denger, bukannya Laura pergi tanpa pamitan? Kok kalian masih mau jauh-jauh ke sini buat nemuin dia?" tanya Tasya tiba-tiba, suaranya terdengar tajam.Mendengar itu, Gretta langsung menoleh dengan tatapan tak suka. "Maksud lo apa, Tasya?" tanyanya, nadanya jelas menunjukkan ketidaksenangan.Rafa mencoba menenangkan suasana, tapi Gretta sudah melanjutkan, "Gue kenal Laura udah l

  • Teror Mantan   Tamu Tak Di Undang

    Sore telah tiba, suasana bandara mulai dipenuhi hiruk-pikuk orang yang bersiap untuk penerbangan mereka. Alex duduk di salah satu kursi tunggu, wajahnya menampilkan kegelisahan. Penerbangan menuju Bali tinggal 30 menit lagi, namun Rafa dan Grettha, dua sahabatnya yang berjanji menemaninya, belum juga terlihat.Semalam, mereka bertiga berbincang panjang tentang rencana ini. Alex meyakinkan Rafa dan Grettha untuk ikut bersamanya menemui Laura,. Keduanya dengan antusias menyetujui, bahkan menjanjikan akan tepat waktu di bandara. Namun, sekarang janji itu terasa seperti angin lalu.Alex meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Rafa lebih dulu. Nada sambung terdengar, tetapi tak ada jawaban. Ia lalu mencoba menelepon Grettha, namun hasilnya sama—tak diangkat. Ia menghela napas panjang, menatap layar ponselnya sejenak sebelum menyimpan kembali perangkat itu ke dalam sakunya.Beberapa menit berlalu, akhirnya Rafa dan Gretta muncul di pintu masuk dengan koper masing-masing. Alex mendesah lega

  • Teror Mantan   Menemukan Kamu

    Setelah selesai dengan acara perpisahan di sekolahnya, Alex pulang ke rumah dengan langkah gontai. Meski acara berjalan meriah, hatinya tetap terasa hampa."Alex Pulang," teriak Alex dengan suara lesu saat memasuki rumah.Ia melemparkan tasnya ke sofa, lalu duduk di ruang tamu. Kepalanya bersandar ke sandaran sofa, matanya menerawang ke langit-langit. Pikirannya kembali melayang, lagi-lagi ke sosok Laura.Di ruang tamu yang sepi, hanya suara jarum jam yang terdengar. Alex menghela napas berat, mencoba mengusir rasa penat yang mendera hatinya. Namun, semakin ia mencoba melupakan, bayangan Laura justru semakin jelas.“Ra... sebenarnya lo di mana?” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Di ruang tamu itu, Alex duduk lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tahu ia harus melanjutkan hidup, seperti yang Agatha bilang, tapi rasa kehilangan itu masih terlalu kuat. Hari ini mungkin berhasil ia tutupi dengan senyuman palsu di sekolah,

  • Teror Mantan   Setahun Kemudian

    Setahun telah berlalu, dan kini Alex telah menyelesaikan masa SMA-nya. Hari ini seharusnya menjadi momen yang penuh kebahagiaan, saat dia dan teman-temannya merayakan kelulusan di aula sekolah. Suara riuh canda dan tawa memenuhi ruangan, namun bagi Alex, semuanya terasa hampa.Di sudut aula, Alex duduk sendirian, pandangannya tertuju ke arah panggung di mana teman-temannya sedang berfoto bersama, menyanyikan lagu perpisahan dengan penuh semangat. Tapi Alex hanya bisa terdiam. Kepergian Laura yang tanpa kabar masih menjadi beban berat di hatinya.Setahun ini, ia terus mencoba mencari tahu keberadaan Laura. Media sosial Laura sudah tidak aktif, seolah lenyap begitu saja. Pesan-pesan yang ia kirim ke keluarga Laura pun tak pernah mendapatkan balasan. Meski berita tentang pelecehan yang pernah menimpa Laura sudah lama tenggelam, bayangan gadis itu tetap hidup dalam pikirannya."Kenapa harus seperti ini, Ra?" gumam Alex pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Ken

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status