"Usiaku sudah uzur dan aku juga sudah jarang ikut campur dalam masalah Perusahaan Perhiasan Nadine. Lily adalah satu-satunya darah dagingku ...."Ketika Tuan Richard mengungkitnya, hati semua orang yang ada di tempat itu seperti melambung.Nada pembukaan ini seperti ingin mengumumkan ahli warisnya.Para tamu awak media juga segera mengeluarkan rekaman mereka. Hal ini akan ada sebuah berita besar. Kalau berita ini sampai tersebar, seisi dunia bisnis akan gempar karenanya.Sorot mata Tuan Richard terlihat penuh kasih sayang ketika menatap Lily dan berkata, "Lily sangat suka merancang. Dia juga ingin melatih dirinya. Ke depannya dia akan bergabung dengan Perusahaan Perhiasan Nadine dan menjadi asisten direktur perancang.""Hansen, Carla, kalian harus membantu adik kalian."Aula itu pun menjadi hening.Semua seperti sedang menantikan Tuan Richard mengumumkan hal yang lebih penting.Akan tetapi setelah menunggu cukup lama, suara Tuan Richard tidak terdengar lagi.Keheningan sesaat itu seper
"Lily?"Lily sadar kembali lalu bertatapan dengan Carla.Carla maju lalu memainkan tangan Lily dengan akrab. "Lily tenang saja, Kakak, aku dan Celly pasti membantumu."Membantunya?Memangnya dia perlu bantuan mereka?Lily berusaha mempertahankan senyumannya. "Terima kasih Kak Hansen, Kak Carla dan Kak Celly. Terima kasih Kakek juga ...."Ketika dia mengucapkan "Terima kasih Kakek", dia menatap Richard dengan penuh harap.Bahkan sekarang dia masih tetap berharap Tuan Richard bisa mengumumkan lebih banyak hal. Asalkan identitasnya sebagai pewaris sudah ditentukan, meski dia belajar dengan menjadi asisten Direktur Desain, kedudukannya tetap yang paling tinggi di Perusahaan Nadine.Namun Richard memijat kepalanya lalu menunjukkan ekspresi lelah."Saudara-saudara, di masa depan Perusahaan Nadine masih perlu dukungan kalian. Aku sudah tua, baru sebentar saja sudah lelah setengah mati, tolong kalian memaklumiku, biarkan aku kembali ke kamar untuk istirahat sebentar."Tuan Richard menyuruh Wah
Di bawah tatapan seperti itu, Carla mana bisa beralasan lagi?Melihat tidak jauh di belakang Celine, Hansen sedang berjalan ke sini, Carla semakin tidak bisa membela diri.Dia berusaha tersenyum lalu pergi."Huh!"Celine mendengus dingin lalu mendengar suara tawa seorang pria di belakangnya.Celine menoleh dan melihat Hansen yang memakai setelan jas dan terlihat sangat menawan. Tatapan dan juga senyuman Celine langsung berubah menjadi tulus. "Kak Hansen, maaf aku nggak kasih tahu kalau aku bakal datang hari ini."Celine merasa sedikit bersalah.Hansen tidak memberinya undangan seharusnya karena tidak ingin dia datang."Aku khawatir kalau kamu datang bakal ada yang mencari masalah denganmu. Hari ini aku sibuk, takut nggak bisa menjagamu terus kamu ditindas."Hansen buru-buru menjelaskan.Namun, melihat Carla tadi sepertinya kalah, Hansen pun lebih tenang. Namun, teringat pengumuman Kakek tadi, Hansen tetap terlihat khawatir."Celly, kalau kamu nggak mau kerja di perusahaan, nggak usah d
Dia langsung mengambil ponselnya dan membuka CCTV di kamar Richard.Saat ini, terlihat Richard sedang duduk melamun di meja kerja.Richard melamun menatap dokumen warisan yang ada di atas meja dengan tatapan serius, membuat Lily seketika waspada.Jelas-jelas sudah disimpan baik-baik, tadi juga tidak diumumkan.Kenapa saat ini tiba-tiba Kakek mengeluarkannya?Jangan-jangan, dia berubah pikiran?Tidak boleh!Lily tiba-tiba bangun, dia tidak boleh membiarkan Tuan Richard berubah pikiran!Namun, apa yang bisa dia lakukan?Lily menggigit bibirnya.Di dalam CCTV, Wahyu yang dipanggil berjalan masuk.Tuan Richard langsung bertanya, "Menurutmu, antara Celine dan Lily, siapa lebih mirip Nona?"Nona yang dimaksud Richard adalah Linda!Wahyu tahu apa maksudnya lalu mengernyit sejenak. Kemudian, dia mengatakan pendapatnya secara objektif. "Nona Lily sangat penurut dan pengertian, Nona Celly ceria dan tegas. Dulu waktu Nona pulang ke Mastika, aku ingat Nona sangat ceria dan tegas, terutama sepasang
Melihat Richard sendirian, Celine segera pergi mendorong kursi rodanya."Anda kenapa datang? Anda juga datang jalan-jalan?"Celine mencoba mencari topik pembicaraan.Namun, Richard malah menjawab dengan terus terang, "Aku datang mencarimu."Mencarinya?"Anda mencari saya ada urusan apa?" tanya Celine.Kebetulan dia juga mau mencari Richard.Benar-benar pas!Celine berencana menyelesaikan urusan Kakek mencarinya baru mengungkit masalah tidak mau menjadi Direktur Desain.Namun, Tuan Richard berkata, "Aku anggap kamu nggak pernah mengatakan yang kamu katakan di rumah sakit dulu.""Lily adalah adikmu, kalian juga sudah hidup bersama di rumah Keluarga Maira, ada takdir di antara mereka. Di masa depan, aku juga berharap kalian bisa saling menjaga, jadi kamu cari kesempatan untuk minta maaf ke Lily, kita masih satu keluarga."Nada Richard sangat lembut dan penuh kasih sayang.Namun, kata-katanya membuat Celine mengernyit."Celly ....""Kakek tunggu sebentar."Ketika Richard mau melanjutkan ka
"Kalau nggak bisa dijelaskan, nggak usah jelaskan lagi."Tuan Richard bertatapan dengan Celine.Dalam hati dia tahu jelas kalau Celine lupa ingatan, kalaupun dia mau cari tahu, dia juga tidak bisa melakukannya sekarang.Saat ini, dia malah mulai menaruh harapan pada Celine.Asalkan Celine mendapatkan kembali ingatannya, mungkin dia bisa tahu apa hubungan Celine dengan gambar ini.Richard juga merasa aneh.Jelas-jelas dia bisa percaya dan seharusnya percaya dengan alasan yang diberi Lily.Namun di alam bawah sadarnya, dia refleks ingin mencari tahu.Di tempat yang jauh dari mereka, melihat dua orang yang ada di jembatan, Lily merasa terancam.Karena terlalu jauh, dia tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.Namun, dilihat dari Richard yang menggenggam tangan Celine dan tatapannya saat memeriksa keadaan Celine, Lily bisa menebak kalau Richard sangat khawatir pada Celine."Heh .... Yang namanya hubungan darah memang kuat!" cibir Lily.Saat ini, dia tidak bisa menghampiri mereka, hanya bis
Celine tersenyum menenangkan suaminya. "Nggak apa-apa."Meski begitu, setelah sakit yang dia rasakan tadi, kegelisahan di hatinya masih belum hilang.Kegelisahan itu memenuhi hatinya, bahkan membuat senyuman di wajah Celine terlihat terpaksa.Andreas merasakan keseriusan di wajah Celine, dia langsung menggenggam tangan Celine yang ada di lengannya dan berkata, "Tenang, ada aku."Ada dia di sini, Celine tidak mungkin menghadapi bahaya apa pun.Mereka berdua bertatapan sejenak lalu berjalan ke arah hall bangunan utama.Melihat sosok belakang mereka berdua, Albert merasa sangat menusuk mata."Mereka ... benar-benar nggak cocok!" komentar Albert sambil mengernyit.Maksudnya sudah pasti Andreas tidak pantas untuk Celine.Teringat kata-kata Celine tadi, Albert menunduk melihat tangan yang lembut dan seputih salju di lengannya.Pria tampan dan wanita cantik?Dia dan Vicky tidak pernah punya hubungan seperti itu.Setelah menyingkirkan pikirannya, Albert melangkah masuk ke hall, mengejar dua or
Namun, saat ini dia tetap panik."Ka ... Kakek ... " panggil Carla dengan suara kecil.Namun suaranya malah ditutupi oleh suara orang lain."Kakek, bagaimana keadaannya?" Lily berlutut di sisi Richard sambil menangis lalu memeluk tubuh Richard. "Kenapa bisa begini? Kakek bangunlah, Kakek ...."Celine menangis terisak-isak, mungkin karena terlalu sedih, napasnya jadi putus-putus.Namun, gerakannya mengguncang tubuh Richard dihentikan oleh dokter. "Nona Lily, Tuan Richard tidak boleh diguncang. Anda tenang dulu, Tuan Richard masih bernapas dan jantungnya masih berdetak."Dokter itu menenangkan Lily.Namun ekspresinya sangat serius, jelas terlihat kondisi Tuan Richard tidak bagus."Masih ada ...." Celine mendongak dengan ekspresi kaget.Hansen sudah menyuruh Wahyu mengangkat Lily dan menjauhkannya dari Richard.Namun, suara tangisan Lily masih tidak berhenti. Dia terus memanggil "Kakek" dengan sedih, membuat orang ikut sedih.Tak lama kemudian, ambulans datang dan membawa Richard pergi.S
Di pesta malam, nona-nona yang datang tidak berani mendekati Celine lagi selain untuk menyapanya. Mereka takut tidak sengaja melakukan sesuatu dan menyakiti Nyonya Jayadi ini.Mereka pun semakin kagum dengan Nyonya Jayadi dan semakin berusaha menyanjung Nyonya Yuni.Semua orang sibuk mengelilingi Nyonya Yuni, Gisela bahkan tidak bisa berbaur.Bertha juga berada di luar kerumunan itu, dia sama sekali tidak ada niat untuk menyanjung Nyonya Yuni.Di benaknya masih terus ada bayangan adegan yang terjadi di taman tadi, dia bahkan masih ingat jelas tekstur bibir pria itu.Bertha merasa otaknya sangat berantakan.Ada apa dengannya?Menyadari kondisinya yang aneh, Bertha berusaha untuk menyingkirkan pikiran-pikiran itu. Namun, ingatan itu seperti kutukan yang tertanam di benaknya.Semakin dia pikirkan, wajahnya semakin merah.Dia pun memutuskan untuk diam-diam pergi. Dia ingin mencari tempat yang lebih sepi untuk meredakan panas di wajahnya.Karena terlalu buru-buru, dia menabrak dada seseoran
Gisela mengalihkan pandangannya dan kebetulan melihat Bertha dan Alvin berdiri bersama, sedang membicarakan sesuatu.Bertha mau mendekati Alvin?Muncul tebakan ini di benak Gisela.Kalau Bertha berhasil mendekati Alvin ....Waktu dia sedang berpikir, Evan menghampirinya dengan terburu-buru, terdengar maksud menyalahkan di suaranya. "Tadi kamu kenapa? Kenapa kamu sampai melewatkan kesempatan sebagus itu?""Kamu tahu, nggak? Dia bukan hanya istri Tuan Andreas, dia itu pemegang saham terbesar di Grup Nadine, juga putri Keluarga Tjangnaka ....""Kalau bisa berteman dengannya, Keluarga Wisma pasti bakal sukses, tapi ...."Evan sangat kecewa. Semakin dia memikirkan manfaat yang bisa didapatkan kalau bisa membangun koneksi dengan Nyonya Jayadi, dia semakin merasa kalau Gisela telah melewatkan kesempatan yang sangat bagus."Kenapa kamu ...."Gisela memutar bola matanya di dalam hati.Kalau dia menunjukkan bakatnya di depan Nyonya Jayadi dan disukai Nyonya Jayadi, manfaatnya tentu saja jadi mil
Celine tersenyum ke Yuni untuk menenangkannya. "Nenek, aku benar-benar nggak apa-apa.""Nggak apa-apa juga harus diperiksa."Yuni sangat teguh.Namun, Celine tidak mungkin tenang membiarkan wanita licik seperti ini menyentuhnya. Dia akhirnya terpaksa melihat Gisela."Kamu profesional?""Iya, benar."Gisela segera mengangguk. Entah kenapa, Nyonya Jayadi di depannya ini jelas-jelas terlihat sangat lembut, tapi dia merasa tekanan yang membuatnya susah bernapas.Gisela tersenyum lembut, berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan niat baiknya pada Nyonya Jayadi.Sementara Celine juga bisa melihat "niat baik" Gisela.Dia hanyalah berpura-pura.Celine melihatnya dan berkata secara perlahan, "Kamu dokter?"Gisela tertegun sejenak lalu menggeleng. "Bukan."Celine bertanya lagi, "Perawat?"Gisela terdiam sejenak."Bukan, tapi aku ...."Sebelum Gisela selesai bicara, Celine tidak memberinya kesempatan lagi. "Kamu bukan dokter, juga bukan perawat, mananya yang profesional?"Celine berkata penuh makn
Yuni segera menyuruh orang memanggil dokter pribadi.Saat ini, Gisela juga langsung sadar kembali dan segera mengajukan diri. "Aku ... aku pernah belajar keperawatan ...."Hal yang terjadi tadi ....Gisela merasa dia sudah mau meledak saking kesalnya.Jelas-jelas dia melihat Bertha sudah mau menabrak Nyonya Jayadi, tapi di luar dugaannya .... Teringat dengan kejadian tadi, Gisela tidak hanya merasa kecewa karena rencananya gagal.Pria yang ditimpa Bertha tadi adalah tuan muda pertama Keluarga Sugito.Mereka ... berciuman.Namun, Bertha mana layak?Gisela tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Mendengar Yuni meminta orang memanggil dokter pribadi, Gisela langsung sadar kembali.Rencananya mencelakai Bertha sudah gagal, dia tidak boleh melewatkan kesempatan untuk menunjukkan kehebatannya.Oleh karena itu, dia pun segera menawarkan diri.Baru saja dia selesai bicara, semua orang pun melihatnya.Termasuk Nyonya Yuni dan juga Nyonya Jayadi itu."Kamu bisa ilmu keperawatan?" Yuni meli
Melihat gadis baju hitam itu sudah mau menabraknya, Celine refleks berteriak, "Andreas ...."Saat ini, di bandara Kota Binara.Seorang pria memegang dadanya, keningnya juga berkerut. Kegelisahan yang tiba-tiba muncul di hatinya membuat kepalanya pusing."Tuan, kamu kenapa?"Orang yang lewat menyadari keanehannya dan segera bertanya.Pria itu berusaha untuk menenangkan dirinya, tapi hatinya seperti diremas oleh sebuah tangan. Dia tidak pernah merasakan rasa sakit seperti itu.Di hatinya bahkan muncul ketakutan, lalu perlahan-lahan ketakutan itu menyelimutinya.Dia bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya."Tuan, kamu kenapa?"Melihat kondisinya, orang yang lewat tadi bertanya lagi.Pria itu menghirup napas dalam-dalam lalu mengibaskan tangannya, tapi ketakutan itu masih mengikutinya.Sebenarnya ... ada apa dengannya?Sementara saat ini, Celine menutup matanya, suasana sekitarnya seakan-akan menjadi hening. Dia berusaha melindungi perutnya, berdoa hal yang dia takutkan tidak akan ter
Semakin Evan menyukai rasa puas ini, dia semakin tidak menyukai Bertha yang angkuh."Kalau begitu, aku ke sana?"Gisela memasuki area dansa dengan hati-hati tapi semangat seakan-akan sudah mendapat dukungan.Dia mengikuti tempo dan irama lalu mulai membaur dengan orang-orang.Di tempat yang tidak diperhatikan orang, Gisela diam-diam mengamati sekelilingnya, mencari kesempatan. Akhirnya, dia melihat Bertha sedang berputar mendekati Celine.Gisela tahu kalau kesempatannya sudah datang."Siapa gadis baju hitam itu? Tariannya lumayan bagus ...."Yuni juga memerhatikan Bertha.Nada pujiannya kebetulan didengar oleh Gisela, Gisela pun semakin yakin dengan rencananya.Nyonya Yuni sedang memuji Bertha? Nanti, takutnya dia baru akan puas setelah membunuh Bertha!Gisela berpikir sambil menunggu waktu yang pas, kemudian dia diam-diam mendorong gadis yang sedang menari membelakanginya ...."Aduh ...."Seiring dengan seruan kaget, gadis itu menabrak orang di depannya."Ah ....""Aduh ...."Suara te
Alvin kenal dengan Nyonya Jayadi ini?Gisela melihat Alvin berjalan kemari bersama Celine, jarak di antara mereka seperti sengaja untuk menghindari rumor.Apakah hubungan mereka tidak biasa?Gisela memutar matanya, otaknya juga ikut berputar.Waktu melihat Nyonya Jayadi sudah mendekati kerumunan orang, Alvin berhenti mengikutinya, tapi matanya tetap tertuju pada Nyonya Jayadi.Gisela pun melihat wanita yang meski sedang hamil, tetap sangat cantik itu. Dalam hati muncul perasaan yang aneh, bahkan dia juga tidak bisa membedakan apakah itu kagum atau iri.Nyonya Jayadi ini benar-benar beruntung.Sedangkan dia ....Gisela mencari Bertha di sekitar, lalu segera menemukannya yang terlihat sangat mencolok di antara kerumunan.Bertha ada di antara kerumunan orang yang menari, sepertinya dia terbawa suasana, terlihat sangat gembira, sama sekali tidak sedih karena Evan mau membatalkan pernikahan mereka.Kenapa dia tidak sedih?Gisela merasa kesal.Bertha harusnya sedih, karena bagaimanapun juga
Celine terus menunggu Andreas, merindukannya setiap hari. Sejak babak final Kompetisi Desain Perhiasan Nasional di mana dia menerima cincin "Penantian", dia tidak menemukan petunjuk apa pun lagi tentang Andreas.Dia terjebak dalam penantian yang tidak terlihat ujungnya, seakan-akan mengerti maksud dari orang yang mengirim cincin itu.Penantian ....Orang itu memberi tahu dia kalau dia akan terus menunggu.Alvin bisa melihat kepahitan di mata Celine. Di kalangan para orang kaya di Binara ada sangat banyak rumor tentang Celine dan Andreas.Ada yang bilang Celine sedang hamil, tapi Tuan Andreas tidak pernah muncul di sisinya sekalipun, hubungan mereka sudah renggang.Ada yang bilang Celine hanya diakui karena hamil dengan keturunan Keluarga Jayadi, Yuni juga hanya mementingkan cicitnya yang ada di kandungan Celine.Di luar ada banyak rumor seperti ini, tapi karena identitas Celine yang merupakan pewaris Grup Nadine dan juga putri Keluarga Tjangnaka, tidak ada yang berani meremehkannya.Al
Di bawah tatapan semua orang, seorang wanita berpakaian putih memegang wajahnya, jelas terlihat dia baru saja ditampar.Wanita itu memasang ekspresi bingung, lalu sibuk meminta maaf pada orang yang menamparnya seakan-akan tidak peduli dengan rasa sakit di wajahnya. "Maaf, Kak, aku ...."Sebelum dia selesai, seorang pria maju dan melindungi wanita baju putih itu di belakangnya sambil memelototi wanita baju hitam di depan wanita baju putih itu. "Kenapa kamu memukulnya?""Kak Evan, jangan salahkan Kakak, aku yang salah, membuatnya marah."Wanita baju putih itu terlihat sangat lemah seperti bunga yang mudah rusak.Alasan dia terlihat lemah,adalah karena kekejaman "Kakak" yang disebut olehnya itu. Semakin dia terlihat lemah, semakin bisa merangsang keinginan pria untuk melindunginya.Namun, di mata wanita baju hitam itu ....Celine melihat wanita baju hitam itu dengan tatapan penasaran. Wanita itu terlihat sangat tenang, seakan-akan sudah biasa dengan kelemahan wanita baju putih dan juga s