Hari kedua Alea, Rafif beserta rombongan di Swiss.Hari ini mereka akan berpindah kota dari Zurich ke Zermatt dengan menggunakan kereta api. Butuh waktu sekitar 3-4 jam untuk mereka tiba di Zermatt.Tidak ada kereta langsung yang bisa membawa mereka dari Zurich ke Zermatt, mereka harus berganti kereta di Visp, sebuah kota kecil di jantung Valais.Dalam perjalanan, kereta akan melewati kota Bern dan Thun, yang sangat layak dikunjungi karena kastil, museum, dan kawasan perbelanjaannya. Dari Visp, perjalanan yang indah melewati lereng gunung yang terjal dan air terjun, lalu naik ke Lembah Matter menuju Zermatt.Begitu tiba di Zermatt, mereka langsung menuju lereng ski. Ya, Zermatt terkenal di seluruh dunia karena jaringan lerengnya yang berada di dataran tinggi, diapit oleh Gunung Matterhorn yang terkenal.Mereka tiba pada siang hari, dan langsung menikmati pemandangan hamparan salju yang luas.“Mama kenapa semuanya putih?” tanya Zayn polos.“Itu namanya salju sayang, Zayn mau coba menyen
Setelah puas bermain ski, Rafif mengajak Alea dan rombongan menuju ke stasiun lembah Zermatt-Matterhorn.Kemudian naik gondola Matterhorn Express untuk menuju Trockerner Steg, dan menaiki kereta gantung dari sana menuju puncak Matterhorn Glacier Paradise.Matterhorn Glacier Paradise adalah sebuah stasiun kereta gantung yang terletak di puncak Klein Matterhorn, di kanton Valais, Swiss. Stasiun ini memiliki ketinggian 3.883 meter di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta gantung tertinggi di Eropa.Dari sini, mereka dapat melihat pemandangan 360° di atas Pegunungan Alpen, yang mencakup 38 puncak gunung berapi dan 14 gletser di tiga negara.Dari atas kereta gantung mereka melihat pemandangan yang menakjubkan. Sejauh mata memandang, hamparan es menutupi puncak gunung-gunung Alpen yang didominasi oleh bebatuan.“Wow! Wah!” kalimat yang keluar dari mulut Zayn sepanjang menaiki kereta gantung.“Indah sekali ya nak,” ujar papa yang sedang menggendong Zayn.“Iya opa! Zayn mau turun d
“Mas, Zayn demam!” pekik Alea saat terbangun di pagi hari.“Mungkin dia kelelahan sayang, biar aku ambilkan kompres dan obat penurun panas,” ujar Rafif lalu meninggalkan kamar.Di dapur, Rafif bertemu dengan bunda dan mama yang sedang memasak.“Kamu sudah bangun?” tanya bunda.“Sudah bunda. Bun, aku minta kompres untuk Zayn,” ujar Rafif.“Zayn kenapa?” tanya bunda panik.“Dia demam, sepertinya karena kemarin terlalu asyik main salju,” jawab Rafif.“Apakah parah?” tanya mama.“Tadi suhunya 38 derajat,” jawab Rafif.“Ini kompresnya, kamu langsung kasih obat penurun panas ya biar gak berlarut-larut!” ujar bunda.“Baik bunda, terima kasih,” ucap Rafif lalu kembali ke kamar.Alea dengan cekatan langsung membasuh kening Zayn, begitu Rafif memberikan sebuah baskom berisi air. Setelah mengompresnya, Alea memberikan obat sirup penurun panas. Satu jam kemudian.Mama dan bunda menghampiri Zayn dikamar karena terus mendengar suara tangisan Zayn.Di kamar Zayn tengah digendong oleh Rafif. Sementa
Setelah melakukan perjalanan selama hampir dua minggu di Swiss, Alea dan rombongan kini telah sampai di kota terakhir yaitu kota Bern, dimana sungai Aare melintang di tengahnya.Sungai Aare sepanjang 295 km mengalir dari Kanton Bern melintasi Brienzersee dan Thunersee, lalu bertemu dengan sungai Rhein di dekat kota Waldshut, Jerman. Dengan warna air hijau kebiruan yang membuat pemandangan kota Bern semakin indah.“Semua sudut di negeri ini tampak indah, rasanya aku jatuh cinta sekali,” ujar Alea di balkon kamar hotel yang menghadap tepat ke sungai Aare.Dari latai 29, Alea bisa melihat sepanjang aliran sungai yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berfoto dan berenang.“Ayo turun dan melihat sungai Aare lebih dekat,” ajak Rafif.Alea mengangguk lalu mengikuti Rafif. Kemudian mereka berpamitan kepada keluarga yang sedang beristirahat karena kelelahan, Zayn pun sedang tidur bersama mama, sehingga Alea dan Rafif hanya pergi berdua.“Bagaimana, apakah dengan jarak sedekat ini sungai Aa
Sepulangnya dari Swiss, Alea berencana akan berkunjung ke kantornya bekerja. Untuk memberikan buah tangan yang dia beli pada Najwa dan para karyawannya.Alea terkesima dengan banyaknya perubahan di kantor ini, namun ruangannya tidak berubah dan masih tertata rapi sampai hari ini. Sebab, selepas peninggalannya ruangan itu tetap digunakan oleh Rafif jika berkunjung kesana.Ya, tugas Rafif kini bertambah sebab selain memimpin Hadiwinata Grup yang sangat besar itu, dia juga tetap mengurus bisnis istrinya yang ditinggalkan demi mengurus dan membesarkan Zayn, putranya.“Wah tidak ada yang berubah disini!” ujar Alea.“Tentu saja, ruangan ini tetap gue rawat. Meskipun lo udah gak pernah kesini tapi laki lo masih sering mampir,” jawab Najwa.Setelah puas melihat ruangannya, Alea dan Najwa kembali ke lantai satu dan duduk di sofa yang ada di lobi.“Kayaknya gue pengen balik lagi kesini deh,” gumam Alea.“Ya udah balik aja, gue sih seneng banget kalo lo disini,” ujar Najwa.Saat mereka tengah asy
“Hai bos kecil!” sapa Najwa pada Zayn. Dia baru saja kembali dari ruang marketing setelah mengurus beberapa pekerjaan.Saat kembali, Najwa melihat Zayn dan Rafif sudah bergabung bersama Alea di ruang tunggu.“Tante Awa!” sahut Zayn riang.“Ayo ikut tante jalan-jalan,” ajak Najwa.“Ayooo,” sambut Zayn.“Aku bawa Zayn dulu ya Al,” pamit Najwa pada Alea.“Iya,” jawab Alea.Selepas Najwa membawa Zayn pergi, Alea mendekat pada Rafif yang masih cemberut karena cemburu melihat istrinya berbincang dengan karyawan barunya.“Mas,” panggil Alea.Rafif tetap diam tanpa menghiraukan panggilan Alea.Alea sampai mengibaskan tangannya di depan wajah Rafif.“Mas!” panggil Alea lagi.“Apa sih?” tanya Rafif ketus.“Kok marah?” tanya Alea tidak kalah ketus.“Siapa yang marah?” Rafif mengelak.“Gak tahu lah! Lebih baik aku cari Zayn,” ujar Alea lalu berdiri dan hendak pergi meninggalkan Rafif.“Loh, Al!” cegah Rafif sambil memegangi tangan Alea.Alea tidak menghiraukan Rafif lagi, dia kesal karena tiba-tib
Pagi hari Alea terbangun dan merasakan seluruh badannya sakit. Dia melihat sisa-sisa percintaannya dengan Rafif semalam.Kamar yang semula rapi, kini sudah terlihat seperti kapal pecah. Juga harum ruangannya telah berganti dengan bau keringat yang menyengat.Alea bangkit dengan merasakan perih di inti tubuhnya, dia meraih baju tidur berbentuk kimono yang semalam Rafif lemparkan ke sembarang arah.Alea berkaca di cermin dan melihat banyak sekali jejak yang Rafif tinggalkan di leher dan di dadanya.“Ish, kenapa dia selalu menyisakan jejak sebanyak ini sih?” gerutu Alea.“Itu adalah tanda kalau kamu milikku, Alea!” sahut Rafif yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.Tubuh Rafif masih sangat polos, tanpa sehelai benangpun. Sehingga Alea bisa melihat secara keseluruhan tubuh suaminya melalui cermin.Alea menelan ludahnya, saat melihat benda pusaka milik Rafif yang ternyata sudah tegak sempurna. Lalu, Alea memikirkan seribu cara untuk menghindari serangan yang mungkin saja akan terjadi.“Sayan
“Sial-an! Kalo bukan bos gue udah gue habisi itu Rafif!”Elang mengumpat di tempatnya tatkala Rafif menutup panggilan secara sepihak.“Gimana caranya gue bisa deketin Alea lagi?” gumamnya.Ya, Elang memang berniat mendekati Alea. Selain karena alasan Alea adalah mantan kekasihnya di masa SMA dulu, Elang juga melihat jika Alea kini telah sukses dengan kekayaan yang luar biasa.Makanya, dia berniat untuk mencoba memanfaatkan Alea.Sementara itu disisi Rafif, dia telah merasa jika Elang memiliki niat buruk untuk istrinya, makanya sejak awal Rafif tidak menyukai Alea yang begitu akrab dengan Elang meskipun bisa dibilang hubungan mereka sudah berakhir sangat lama.Sedangkan Alea merasa kehadiran Elang kembali dihidupnya bukanlah hal yang mengganggunya, sebab Alea sama sekali tidak berniat untuk kembali akrab dengan Elang, apalagi dia melihat Rafif yang begitu cemburu.“Aku berangkat dulu, awas kalau kamu sembunyiin sesuatu dariku lagi!” ancam Rafif.“Iya sayang, gak akan,” jawab Alea lalu m
“Good morning sayang,” bisik Rafif di telinga Alea.Perlahan Alea membuka matanya. Hal yang pertama kali dia lihat tentu saja suaminya, Rafif.Alea tersenyum teramat manis, membuat rasa cinta selalu mekar di hati Rafif setiap harinya, meskipun pernikahan mereka telah berlangsung bertahun-tahun.“Anak-anak dimana?” tanya Alea.“Di luar, ayo kesana!” ajak Rafif.Alea mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidurnya.“Ternyata sudah siang ya?” tanya Alea melihat jendela kamarnya sudah terbuka dan cahaya matahari masuk menerobos melalui celah-celah gorden yang tertiup angin.Lalu, Alea berjalan mendekati jendela dan menyibak kain gorden yang menghalangi pandangannya.Di depan sana, terdapat hamparan pasir yang luas serta deburan ombak yang suaranya terdengar syahdu dari jendela kamar Alea.Pemandangan indah yang selalu Alea nikmati setiap pagi.Disinilah dia dan Rafif tinggal sekarang, sebuah mansion mewah yang terletak di sebuah pulau yang dikelilingi pepohonan rindang. Dan mansion mereka
Siang harinya, ayah sudah benar-benar pulang dari rumah sakit.Kejadian salah diagnosa yang sempat membuat terkejut kini hanya berlalu begitu saja. Sebab ketakutan mereka pada akhirnya tidak terjadi.Ayah hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin dan mengkonsumsi obat yang disarankan agar kesehatannya bisa kembali seperti sedia kala.Hal ini tentu saja membuat bunda dan Rafif sangat lega. Ini artinya mereka bisa melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.Siang itu, semua urusan di rumah sakit telah selesai dan ayah bisa langsung kembali ke rumah.Bersamaan dengan itu, Zayn bersama dengan mama dan papa ternyata tiba di rumah ayah setelah menempuh perjalanan dari Puncak.“Papa!” panggil Zayn senang melihat Rafif yang baru saja menutup pintu mobil.“Nak!” sahut Rafif, kemudian menangkap Zayn di pelukannya.“Tadi di perjalanan ada yang terus menangis loh!” ucap mama.“Oh ya? Kenapa dia terus menangis oma?” tanya Rafif.“Sstt oma!” sahut Zayn.Rafif sontak tertawa mendengar Zayn yang
“Kondisi om Eddo saat ini cukup stabil dan sama sekali tidak berbahaya, juga jelas bukan karena penyakit jantung. Aku secara pribadi minta maaf karena diagnosa awal yang salah. Tapi, beliau tetap membutuhkan perawatan ekstra,” jelas Azfar pada bunda dan Rafif di ruangannya.“Memang apa yang sebenarnya terjadi?” tanya bunda.“Setelah melalui pemindaian CT Scan tadi aku menemukan sebuah gumpalan di pembuluh darah otak, ini yang menyebabkan om Eddo memejamkan matanya terus menerus.” Jawab Azfar.“Jadi, ayah tidak pingsan?” tanya Rafif.“Tidak, beliau hanya tertidur,” jawab Azfar.“Kondisi ini termasuk salah satu gejala stroke, beruntung beliau bisa langsung mendapatkan penanganan.” Jelas Azfar lagi.“Hhhh,” Rafif dan bunda bernapas dengan lega.“Lalu apa perawatan terbaik yang harus dilakukan?” tanya Rafif.“Besok kita lakukan test lab, setelah hasilnya keluar baru bisa diputuskan,” jawab Azfar.“Tapi apakah jantungnya benar-benar tidak masalah?” tanya bunda.“Sejauh ini, tidak ada tante
“Mas! Ayah..” ucap Alea yang terengah-engah karena berlari.“Ayah kenapa?” tanya Rafif berdiri kemudian menghampiri Alea dan memegang kedua pundaknya. Dia melihat dengan jelas kalau Alea berlari terburu-buru, sehingga dia tidak memakai alas kaki.“Tadi ayah mengeluh dadanya sakit, lalu tiba-tiba ayah pingsan,” jelas Alea.“Apa?” tanya Rafif.Dokter yang juga mendengarnya segera berlari menuju ke ruangan ayah, begitu juga bunda yang baru saja merasa lega mendengar kondisi ayah, tiba-tiba kembali merasakan ketakutan yang begitu nyata.Rafif langsung menoleh ke arah bunda yang masih duduk di kursi depan meja dokter.Bunda hanya terdiam, tidak menangis, terlihat tenang, namun Rafif tahu dibaliknya ada ketakutan yang sangat dahsyat.“Sayang, pakai sandalku! Kamu tolong temani bunda ya, aku mau lihat keadaan ayah,” ucap Rafif.“Baik mas,” ucap Alea, kemudian menerima sandal milik Rafif dan menghampiri bunda.Sementara itu Rafif berlari kencang menyusul dokter yang sedang menangani ayahnya.
Pasca merayakan ulang tahun Cindy, Alea dan Rafif yang baru saja memasuki kamar Villa untuk beristirahat, menerima sebuah telepon.Rafif yang baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur mendengar ponselnya berdering, dia lalu bergegas melihat siapa penelepon tengah malam ini.Baru saja dia akan mengumpat karena merasa terganggu, dia urungkan saat melihat siapa yang menelepon.“Ada apa menelepon jam segini?” gumam Rafif.Perasaan yang semula tenang, mendadak menjadi penuh dengan kekhawatiran.“Halo bunda,” ujar Rafif.Alea yang berbaring disampingnya ikut berdiri sambil merasa heran karena ini hampir tengah malam.Hal yang pertama Rafif dengar adalah tangisan bunda, membuat ketakutan hinggap di sekujur tubuh Rafif.“Ada apa bunda?” tanya Rafif.“Ayahmu tidak sadarkan diri,” ucap bunda lirih.“Apa?” tanya Rafif terkejut.“Sekarang di rumah sakit,” jawab mama lemah.“Oke, aku kesana sekarang.” Jawab Rafif.Sebenarnya Rafif dipenuhi dengan keterkejutan, tetapi berusaha untuk tetap tenang
Cindy terbelalak sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.Bagaimana tidak terkejut? Kedatangannya disambut meriah oleh semua orang yang sangat dia kenal, seluruh keluarganya berkumpul termasuk ibu, bapak dan adik-adiknya dari Surabaya pun turut hadir.“Kalian juga disini? Kapan datang?” tanya Cindy pada keluarganya dan memeluknya satu persatu.“Tadi siang, Azfar juga yang jemput kita di bandara!” jawab bapak.“Jadi kamu bukan ke rumah sakit tadi siang?” tanya Cindy pada Azfar.“Untuk apa ke rumah sakit di akhir pekan?” Azfar balik bertanya.Sontak saja Cindy merasa jengkel karena merasa dikerjai.Jadi, siang tadi saat Azfar menerima telepon. Itu adalah telepon dari Bayu yang mengabari kalau dia dan keluarga sudah sampai di bandara.Azfar bergegas pergi menjemput mertua dna adik iparnya yang kemudian dia antarkan ke rumah mama untuk kemudian pergi ke puncak, tempat dimana mereka berada sekarang.Setelah Cindy menyapa keluarganya, dia juga menyapa mama, papa, Alea, Rafif lengkap den
Butuh berbulan-bulan sampai Cindy bisa sembuh dan kembali seperti semula. Berdamai dengan diri sendiri dan menjadikan hal yang sudah berlalu sebagai pelajaran yang sangat berharga.Sekarang, Aksa sudah berusia 6 bulan waktu dimana dia mulai MPASI.“Besok Aksa sudah mulai MPASI, anterin aku belanja bahan makanan yuk?” ajak Cindy pada Azfar.“Boleh sayang,” jawab Azfar.“Sekalian kita ajak Aksa main di luar, kayaknya enak bersantai di taman. Biar dia gak jenuh,” ujar Cindy.“Hm, boleh!” jawab Azfar lagi sambil menemani Aksa bermain.“Kok cuma bilang boleh aja?” tanya Cindy.Saat hendak menjawab pertanyaan Cindy, ponsel Azfar berdering.“Maaf sayang, aku ada telepon sebentar.” Jawab Azfar sambil beranjak menjauh dari Cindy.“Telepon siapa? Kenapa harus menghindar?” gumam Cindy.Tapi Cindy tidak peduli, dia memilih sibuk bersama Aksa.“Sayang, belanjanya kita tunda dulu sampai sore ya? Aku ada telepon mendesak dari rumah sakit, ada hal yang harus diselesaikan,” ujar Azfar setelah kembali
“Selain itu, apa lagi yang kamu rasakan?” tanya dokter Mery.Cindy menarik napas perlahan, dia juga membenahi duduknya untuk mencari kenyamanan.“Saya sering merasa takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak saya, dokter,” ucapnya pelan.Dokter Mery mendekati Cindy dan menyentuh tangannya, Azfar menjauh sedikit dan mempersilahkan dokter Mery mendekat.“Sebagai seorang ibu, tentu kita selalu menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Tetapi, jangan terlalu memaksakan diri. Tidak semua hal bisa dilakukan sendiri, kamu harus membuka diri pada orang sekitarmu. Kalau kamu butuh bantuan, mintalah pada orang terdekat. Termasuk pada suamimu, atau suamimu selama ini tidak pernah membantumu?” tanya dokter Mery.Cindy menggeleng cepat, dengan kesadaran penuh dia menjawab, “dia sudah sangat membantu dok, saya saja yang selalu mengabaikannya. Saya selalu merasa anak saya tidak boleh disentuh siapapun, termasuk oleh ayahnya sendiri. Hanya saya yang boleh mengurusnya,”Dokter Mery tersenyum hangat sem
Keesokan harinya, Azfar kembali mencoba mengajak Cindy keluar rumah untuk sejenak beristirahat dari kegiatannya sebagai istri dan ibu.Tetapi lagi-lagi Azfar menerima penolakan dari Cindy.“Aku gak mau!” ujar Cindy saat menyusui Aksa.“Sebentar aja sayang,” bujuk Azfar.“Kalau gak mau ya gak mau! Kamu main aja sendiri!” jawab Cindy ketus.Azfar merasa, emosi Cindy kian hari kian tidak stabil, dia lebih mudah marah dari sebelumnya. Dia juga semakin jarang bicara, membuat Azfar merasa serba salah.“Tapi kamu gak baik-baik aja!” ucap Azfar dengan nada yang sedikit tinggi.“Siapa maksud kamu? Aku baik-baik saja kok!” sahut Cindy.Azfar semakin kehilangan kesabarannya, sudah seperti ini Cindy bahkan tidak menyadarinya.Dia menarik napas perlahan, kemudian menatap Aksa yang masih menempel pada Cindy. Azfar tertegun melihat Aksa yang berusia 2 bulan, tetapi belum menunjukan kenaikan berat badan yang stabil. Dia masih terlihat sangat kecil.Azfar tentu tahu ini disebabkan karena Cindy terlalu