Suasana yang semula tegang langsung berubah menjadi alarm penuh kewaspadaan.Diego bergerak lebih dulu, menekan tombol di arlojinya, dan dalam hitungan detik, pengawal pribadinya sudah bersiaga di sekitar rumah.Leon, tanpa membuang waktu, menarik Elera ke belakang tubuhnya, sementara Maya juga merapat ke sisi ayahnya, ekspresi serius menggantikan kehebohan biasanya."Jangan keluar dulu," kata Diego dingin.Leon mengangkat pistolnya, matanya tajam menyisir ruangan seolah musuh bisa muncul kapan saja. "Dante ada di luar?" tanyanya tanpa menoleh.Diego mengangguk. "Ya. Dan aku yakin dia juga sudah menyadari sesuatu."Elera mengepalkan tangannya, jantungnya masih berdebar cepat. "Apa ini mereka?" bisiknya.Leon menoleh sedikit ke arahnya, sorot matanya penuh peringatan. "Kita tidak akan mengambil risiko untuk menganggap ini bukan mereka."Maya menelan ludah. "Astaga, ini benar-benar seperti film thriller yang kutonton tadi malam," gumamnya.Diego menoleh tajam ke putrinya. "Fokus, Maya."
Mobil melaju dengan kecepatan stabil di bawah langit malam yang pekat. Elera duduk di kursi belakang dengan tangan terlipat di dada, matanya menatap kosong ke luar jendela, mencoba memahami semua yang baru saja terjadi. Seharusnya ini hanya malam biasa. Seharusnya ia masih bisa bercanda dengan Maya tentang kasus-kasus aneh di rumah sakit. Seharusnya ia masih bisa pulang ke apartemennya yang nyaman, bukannya ikut seorang pria yang baru dikenalnya beberapa hari lalu ke tempat yang entah di mana.Leon duduk di sebelahnya, tetap dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Tatapannya lurus ke depan, seakan tidak peduli dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam kepala Elera. Sementara itu, Dante yang mengemudi malah terlihat menikmati situasi ini."Aku suka keheningan ini," gumam Dante sambil menyeringai. "Tapi aku lebih suka kalau ada sedikit hiburan. Bagaimana kalau kalian bertengkar seperti tadi?"Elera meliriknya tajam. "Tutup mulutmu, Dante."Dante tertawa kecil. "Oh, Dokter. Kau benar
Dada Elera naik-turun, napasnya tertahan dalam ketegangan yang mendominasi udara di antara mereka. Kata-kata Leon masih menggema di benaknya, seolah mengukir dirinya sendiri di dalam pikirannya. Menikah?Elera ingin tertawa, ingin meneriakkan protesnya, ingin mengatakan bahwa ini konyol. Namun, saat ia menatap mata Leon—mata yang tajam, penuh keyakinan, sekaligus bahaya—suara itu tertahan di tenggorokannya."Tidak." Elera akhirnya menemukan suaranya, meskipun terdengar lebih lemah dari yang ia inginkan. "Aku tidak akan menikah hanya karena kau berpikir ini adalah cara terbaik untuk melindungiku."Leon tetap diam, hanya menatapnya seolah membaca setiap inci keraguannya. "Ini bukan hanya tentang melindungimu, Elera," suaranya datar, tapi ada sesuatu yang berbahaya terselip di dalamnya. "Ini juga tentang memastikan kau tidak bisa disentuh oleh siapa pun yang berniat menyakitimu."Elera mengatupkan rahangnya. "Jadi aku harus menerima begitu saja? Menikah denganmu hanya karena itu membuat s
Malam sudah larut, tetapi mansion Leon Santiago masih dipenuhi aktivitas. Para pengawal tetap berjaga di sudut-sudut strategis, sementara beberapa orang kepercayaannya masih sibuk mengurus bisnisnya. Namun, di ruangan pribadi Leon, suasana lebih tenang—meskipun tegang dengan pembicaraan yang sedang berlangsung.Dante bersandar pada kursi di seberang meja, memutar segelas whiskey di tangannya. Sorot matanya tajam saat mengamati pria di depannya.Leon berdiri di dekat jendela besar, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap ke luar, ke pemandangan kota yang diterangi cahaya lampu. Tetapi pikirannya tidak ada di sana.“Jadi,” Dante akhirnya membuka suara, nadanya penuh penilaian, “kau ingin pendapatku tentang bagaimana meyakinkan Elera untuk menikah denganmu?”Leon menghela napas, lalu berbalik. “Ya.”Dante menaikkan satu alis. “Itu bukan sesuatu yang biasanya kau minta, Leon.”Leon mendekat, menuangkan whiskey ke gelasnya sendiri, lalu duduk di seberang Dante. Ia mengadu
Elera akhirnya diizinkan kembali bekerja, tetapi ada satu masalah besar: ia tidak benar-benar bebas. Sejak pagi, dua pria berpakaian hitam sudah berdiri di dekatnya seperti bayangan yang tidak diinginkan. Mereka tidak berbicara, tidak mengganggu, tetapi kehadiran mereka saja sudah cukup membuatnya muak.Di rumah sakit, keberadaan dua pria berpakaian seperti bodyguard mafia jelas menarik perhatian. Beberapa perawat mulai berbisik-bisik, sementara beberapa dokter senior mengangkat alis penuh tanya."Elera, siapa mereka?" tanya salah satu koleganya, Dr. Angela, dengan nada geli. "Jangan bilang ini bentuk baru dari honeymoon protection?"Elera mendengus, menahan kekesalan. "Sama sekali bukan. Aku akan membereskannya sekarang juga."Dengan gerakan cepat, dia meraih ponselnya dan menekan nomor Leon. Tidak butuh waktu lama sebelum suara berat pria itu terdengar di seberang."Apa?" suara Leon terdengar santai, seakan tidak ada masalah di dunia ini.Elera tidak membuang waktu. "Katakan pada ora
Elera masih menatap pria di hadapannya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Udara di sekeliling mereka semakin menegang, seolah waktu melambat dan semua orang menunggu kelanjutan percakapan mereka.Dengan tarikan napas yang hampir tidak terdengar, Elera akhirnya berkata, "Belum. Dia masih calon suamiku."Tatapan pria itu sedikit melunak, seolah mendapatkan sedikit harapan dari jawaban Elera. Namun, sebelum dia bisa merespons, Elera melanjutkan dengan nada yang lebih ringan, "Dan kau juga bisa datang ke pernikahanku nanti. Aku akan mengirim undangan jika kau mau."Leon, yang sejak tadi hanya diam dengan ekspresi datarnya, tiba-tiba terkekeh pelan. Suaranya dalam dan berbahaya."Oh tidak, sayang. Dia harus datang di acara pertunangan kita dulu."Elera langsung menoleh dengan cepat, matanya membelalak menatap Leon. "Apa?!"Tapi Leon tidak menghiraukannya. Tatapannya masih terkunci pada pria di hadapan mereka, bibirnya melengkung dalam senyuman tipis yang jelas mengandung tantangan.Pria itu
Elera belum sempat menghirup napas lega ketika suara alarm memenuhi seluruh mansion. Suara nyaring itu menusuk telinga, membuat atmosfer di ruangan semakin menegangkan.Dante langsung berdiri, rahangnya mengeras. "Sial. Mereka masih ada di sekitar sini."Kai yang sedang menyiapkan peralatan jahit untuk Leon langsung membanting meja kecil di dekatnya. "Brengsek. Kita bahkan belum selesai menjahit si singa ini!"Elera menegang, menggenggam erat tangan Leon yang masih tak sadarkan diri. Mata pria itu bergerak di balik kelopak matanya, tetapi belum juga terbuka sepenuhnya."Siapa yang menyerang kalian?" suara Elera bergetar, tetapi matanya menyala dengan emosi yang sulit dijelaskan.Dante mengumpat di bawah napasnya. "Kami belum tahu pasti. Tapi jelas ini bukan serangan sembarangan."Kai berdiri, menatap Dante dengan tajam. "Aku harus tetap menjahitnya. Kalau tidak, dia bisa kehilangan lebih banyak darah."Dante mengangguk cepat. "Aku akan mengurus keamanan. Kai, kau tetap di sini. Jangan
Mobil-mobil melaju dengan kecepatan tinggi di bawah langit malam yang gelap. Elera duduk di dalam SUV lapis baja, diapit oleh Kai dan Diego di kedua sisinya. Meskipun tubuhnya aman, pikirannya masih berputar pada sosok Leon, yang kini dalam kondisi belum sepenuhnya pulih."Dia keras kepala." Elera bergumam sambil menggigit bibirnya, tatapannya terpaku ke luar jendela.Diego, yang duduk di seberangnya, menyilangkan tangan. "Bukan hanya keras kepala. Santiago itu seperti anjing liar yang tidak mau tunduk, bahkan ketika nyawanya di ujung tanduk."Kai terkekeh lelah. "Kau berbicara seolah kau tidak mengenal tipe seperti dia, Diego."Diego hanya menghela napas, lalu matanya mengarah pada Elera. "Bagaimana denganmu? Apa kau akan terus berada di sampingnya?"Elera terdiam sesaat. Semua kejadian ini terasa begitu cepat—pernikahan yang dipaksakan, pertarungan yang tak ada habisnya, dan kini serangan yang hampir merenggut nyawa mereka.Akhirnya, dia menjawab, "Aku berjanji akan tinggal sampai se
Elera tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Leon.Pria itu terlihat begitu santai, begitu percaya diri—tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang lebih berbahaya dari biasanya.Seolah-olah dia tahu persis apa yang sedang terjadi dalam kepala Elera.Seolah-olah dia menikmati bagaimana pertahanannya perlahan runtuh.Dan sialnya, dia benar.Elera meneguk anggur merahnya dengan gugup, tetapi bahkan itu tidak bisa menenangkan degup jantungnya."Kau terlalu diam," suara Leon rendah, penuh nada menggoda.Elera menghela napas panjang. "Kau terlalu menyebalkan."Leon menyeringai. "Tapi kau tetap di sini."Sial.Dia benar lagi.Elera meletakkan gelasnya dengan hati-hati di meja, lalu menatap Leon dengan ekspresi serius."Jadi, bagaimana ini akan berakhir?" katanya pelan.Leon mencondongkan tubuhnya, membiarkan wajahnya semakin dekat dengan Elera."Sayang…" bisiknya, "ini tidak akan berakhir. Ini baru saja dimulai."Elera kehilangan kata-kata.Karena dalam detik berikutnya, Leon sudah berdiri d
Di tengah keramaian yang masih berlangsung, sebuah suara berat memecah kehebohan."Apa yang begitu lucu?"Semua orang terdiam.Mereka menoleh secara bersamaan, dan di sana, berdiri Leon Santiago—dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa dianggap main-main.Elera mendadak merasa jantungnya berhenti sesaat.Tatapan itu… berbeda.Bukan hanya sekadar godaan atau keisengan biasa.Ada sesuatu dalam sorot mata abu-abu itu—sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, lebih mengancam ketenangannya.Mata Leon menelusuri tubuhnya perlahan, dari kepala hingga ujung kaki, seolah ingin mengingat setiap detailnya.Dan saat tatapan mereka bertemu…Elera merasa napasnya tersangkut di tenggorokan."Astaga…" bisik Maya tanpa sadar, sebelum menoleh ke yang lain. "Aku tidak tahu apakah aku harus merasa iri atau takut sekarang."Dante menyeringai kecil. "Kurasa kita harus mundur sebelum Leon benar-benar lupa bahwa kita ada di sini."Kai bersiul pelan. "Lihat itu… pria ini sudah kalah total."Tapi Leon tidak men
Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menghangatkan kamar mereka dengan sinar keemasan.Elera terbangun perlahan, tubuhnya masih terasa nyaman dalam kehangatan selimut.Dia hendak berbalik, tetapi sesuatu menahannya. Lebih tepatnya, seseorang.Leon.Lengan pria itu melingkari pinggangnya, membawanya lebih dekat ke tubuhnya yang hangat.Elera mengerjap pelan, merasakan napas tenang Leon di tengkuknya.Pria ini benar-benar tidur dengan nyenyak.Biasanya, Leon selalu bangun lebih awal darinya.Tapi kali ini, mungkin karena semua ketegangan di antara mereka sudah menghilang, dia terlihat jauh lebih rileks.Elera tersenyum kecil.Siapa sangka pria yang begitu dingin dan menakutkan bagi dunia luar bisa tidur seperti ini di sisinya?Dia menyentuh jemari Leon yang masih melingkar di pinggangnya, menyadari betapa kuatnya genggaman itu.Seolah dia tidak ingin kehilangannya lagi.Dan mungkin… Elera juga merasakan hal yang sama.Tapi tentu saja, momen ini tidak berlangsung lama.Ka
Elera tidak pernah menyangka bahwa kebahagiaannya bisa berubah begitu cepat.Baru tadi malam, dia akhirnya menyerah pada perasaannya terhadap Leon.Namun pagi ini, dia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya.Sebuah dokumen.Sebuah dokumen lama di ruang kerja Leon yang tidak sengaja jatuh saat dia mencari sesuatu.Dan di sanalah dia melihatnya.Nama ayahnya.Rodrigo Vasquez.Dan nama Leon Santiago.Mata Elera menelusuri isi dokumen itu dengan cepat, semakin membaca, semakin hatinya mencelos.Mereka sudah saling mengenal.Sejak lama.Dan lebih buruknya, ini bukan sekadar perkenalan biasa.Ini adalah sesuatu yang sudah direncanakan.Tangannya gemetar saat dia menutup dokumen itu, otaknya berusaha mencari penjelasan.Tapi satu hal jelas.Leon sudah mengenal ayahnya sebelum mengenalnya.Dan itu berarti…Apakah semua ini jebakan?Apakah pernikahan ini benar-benar sebuah kebetulan?Atau sejak awal… Leon memang menginginkannya di dalam jaringannya?Langkah kaki terdengar dari belakang, dan
Setelah interogasi tanpa akhir dari Maya dan para dokter lainnya, Elera akhirnya bisa menghela napas lega begitu dia melangkah masuk ke ruang operasi.Di sini, tidak ada yang bisa mengganggunya.Tidak ada yang bisa menanyakan hal-hal memalukan.Tidak ada yang bisa menyindirnya tentang suami mafianya.Hanya dia, pasiennya, dan pekerjaannya.Elera mengenakan sarung tangan sterilnya, mengabaikan senyuman penuh arti dari salah satu perawat yang pasti juga sudah mendengar gosip yang beredar."Ayo mulai," katanya dengan nada profesional.Seperti biasa, begitu dia menyentuh pisau bedah, semua hal di luar operasi menghilang dari pikirannya.Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.Begitu dia selesai dengan operasinya yang berlangsung selama beberapa jam, Elera melepas sarung tangannya dan keluar dari ruang operasi.Dan di situlah kejutan itu menunggunya.Leon bersandar di dinding luar ruang operasi dengan tangan dimasukkan ke dalam saku jasnya.Matanya yang tajam langsung menatap Elera be
Elera tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di sini.Satu detik dia masih mengomel di tempat tidur, detik berikutnya, dia sudah terperangkap di bawah pancuran air hangat—bersama Leon.Dan masalahnya?Pria itu tidak hanya berhenti pada niat ‘membantu’ seperti yang dikatakannya.Sekarang, dia menyadari bahwa bantuan ala Leon Santiago sangat berbahaya.Sangat, sangat berbahaya."Aku BENAR-BENAR harus ke rumah sakit," gumamnya dengan napas masih terengah.Leon, yang masih menekan tubuhnya ke dinding kaca kamar mandi, hanya tersenyum puas. "Aku tahu."Elera memelototinya. "KAU TIDAK TERLIHAT SEPERTI SESEORANG YANG PEDULI."Leon tertawa kecil, jari-jarinya masih menelusuri kulitnya dengan santai."Aku hanya memastikan kau rileks sebelum pergi," katanya santai.Elera ingin menendangnya kalau saja dia punya tenaga.Masalahnya, dia juga menikmatinya.Dan itulah yang membuatnya semakin frustasi."Aku benci kau," gumamnya lemah.Leon mengecup bahunya sebelum berbisik, "Tapi kau tetap menikmatinya
Elera tidak tahu kapan tepatnya dia mulai menyerah. Mungkin setelah sekian banyak serangan licik yang Leon lancarkan. Mungkin setelah setiap sentuhan halusnya yang menghangatkan hatinya tanpa ia sadari. Atau mungkin, dia sudah jatuh lebih dulu, jauh sebelum permainan ini dimulai. Yang jelas, saat ini dia tidak ingin melawan lagi. Saat Leon menariknya ke dalam pelukannya, dia tidak lagi berusaha melepaskan diri. Saat pria itu menyentuh wajahnya dengan lembut, dia tidak lagi menepisnya. Dan saat Leon menatapnya dengan mata abu-abu yang menyala penuh ketulusan, dia akhirnya membiarkan dirinya tenggelam dalam momen ini. "Akhirnya menyerah?" suara Leon terdengar lembut, tetapi juga penuh kemenangan. Elera menghela napas panjang. "Kau menang, Santiago." Leon tersenyum kecil, jari-jarinya menyusuri rahangnya dengan lembut. "Aku tahu aku akan menang sejak awal." Elera ingin membantah, tetapi dia tidak bisa. Dia terlalu lelah untuk berpura-pura, terlalu muak dengan penya
Sejak taruhan dimulai, Elera merasa hidupnya berubah menjadi neraka pribadi.Bukan karena teman-temannya yang terus mengolok-oloknya. Bukan juga karena Maya yang setiap saat siap menyaksikan kejatuhannya.Tapi karena Leon.Pria itu tidak bermain adil.Sejak pagi, Leon tidak melewatkan satu kesempatan pun untuk menggoda dan menyusup ke dalam pikirannya.Dimulai saat sarapan.Elera hanya ingin makan dengan tenang, tetapi Leon malah menarik kursinya lebih dekat—terlalu dekat."Ada sesuatu di bibirmu," kata Leon, suaranya santai.Elera mengerutkan kening. "Apa?"Sebelum dia sempat merespons, Leon mengangkat tangannya, menyeka sudut bibirnya dengan ibu jarinya.Elera langsung membeku.Sial. Dia bisa merasakan tatapan semua orang di meja makan.Dan lebih buruknya lagi—Leon tidak melepas tatapan intens itu dari dirinya."Sudah bersih," katanya akhirnya, senyum kecil terbentuk di sudut bibirnya.Dante menahan tawa, sementara Gabriel menyeringai puas.Kai bersiul pelan. "Wow. Itu serangan yang
Elera menatap pantulan dirinya di cermin dengan ekspresi setengah frustasi, setengah pasrah.Gaun berwarna merah marun yang dipilih Maya untuknya terlihat terlalu elegan untuk sesuatu yang disebut sebagai "pesta kecil." Ditambah lagi, teman-temannya pasti tidak akan melewatkan satu pun kesempatan untuk mengolok-oloknya malam ini.Sialan.Kenapa dia merasa akan diseret ke dalam jebakan di tengah pesta itu?"Dongak sedikit," suara Maya terdengar di belakangnya.Elera mendengus. "Aku masih bisa kabur kalau aku mau."Maya langsung memutar matanya. "Tentu saja tidak. Aku sudah menunggu momen ini terlalu lama. Kau pikir aku akan membiarkanmu lolos begitu saja?"Elera merintih pelan. "Aku benci kalian semua."Maya tersenyum lebar. "Kami juga mencintaimu, sayang."Sementara itu, di sisi lain mansion, Leon juga tidak bisa lepas dari gangguan teman-temannya."Jadi?" Gabriel menyandarkan diri ke meja bar, menatap Leon dengan penuh arti. "Bagaimana rasanya akhirnya menikah?"Leon menyesap wiski d