"Kamu bohong, 'kan?""Tidak, dong!" Ian langsung menyangkal cepat sebelum Brandon menjawab. "Aku salah satu saksi pernikahan Brandon dan Kelly."Gracia menoleh ke belakang dan baru sadar Ian masih ada di ruangan. Wanita itu langsung mengumpat kesal. "Wanita sialan!""Keluarlah, Gracia. Lanjutkan pekerjaanmu.”“Tapi .... ““Kita sudah selesai bicara,” potong Brandon.Dengan seringai senang di wajah, Ian membuka pintu dan mempersilahkan Gracia keluar. Wanita itu pergi dengan menghentak kaki dan wajah memberengut. Ian menutup pintu kembali lalu bertepuk tangan untuk Brandon.“Prok, prok, prok.”“Bravo, My man.”Brandon hanya merespon dengan mengembuskan napas panjang. Ternyata ia bisa juga menyingkirkan Gracia dari hidupnya. Dan sekarang, ia merasa hatinya lebih lega.“Aku mau pulang untuk melihat keadaan Kelly.”Kepala Ian menggeleng. “Tidak bisa. Ada meeting penting setengah jam lagi.”“Aku tidak akan tenang sebelum tau keadaannya.”“Tadi aku sudah minta supir kantor mengantar Kelly. S
Sampai malam hari, Brandon tidak berani mendekati Kelly. Ia hanya memantau dari jauh. Kelly terlihat masih bersin-bersin.Akhirnya pagi hari, setelah mandi dan berpakaian rapi, Brandon mengetuk kamar Kelly. Ia menggeleng karena setelah beberapa menit, pintu di depannya tidak juga terbuka. Padahal tangannya yang memegang baki makanan mulai pegal.Baru akan melangkah pergi, pintu terbuka. Brandon terpana melihat rambut berantakan dan wajah polos Kelly. Wanita itu terlihat belum sepenuhnya bangun.“Huh ... Brandon?” Kelly menggumam.“Aku bawakan sarapan.” Tanpa permisi, Brandon melangkah masuk dan memperlihatkan baki makanan. “Sarapanlah dulu.”“Terima kasih. Taruh saja di meja.” Dengan suara parau, Kelly menyahut.Wanita itu duduk bersandar di sofa saat Brandon meletakkan makanan di meja.“Bagaimana keadaanmu pagi ini?”“Obat sialan itu membuatku tidak bisa membuka mata. Ngantuk sekali.” Kelly mengeluh.Brandon tak suka mendengar wanita mengumpat di depannya. Tapi kali ini, menurutnya K
Dalam perjalanan ke kantor, Brandon terlihat tegang. Ia memegang setir dengan mengcengkramnya kuat-kuat. Masih terkejut karena Kelly mengusirnya dari kediamannya sendiri.Hanya karena ia ada janji rapat dengan klien pagi inilah, ia menurut dan pergi dengan perasaan gelisah. Dalam pikirannya, kenapa setiap kali mereka bercinta, selalu diakhiri dengan marah. Bukankah mereka menikmatinya?Wajah Brandon yang suram membuat Ian menghela napas berat. Bos-nya kembali datang dengan bad mood. Alamat rapat akan penuh dengan ketegangan.“Apa ada yang ingin kamu lakukan dulu?” tanya Ian saat Brandon menatap telapak tangannya yang diperban.Brandon hanya menggeleng pelan.“Mungkin ingin bercerita sesuatu? Rapatnya bisa aku undur beberapa menit.”Kali ini, Brandon mengembuskan napas panjang. Ia menyandarkan tubuh pada punggung kursi kebesarannya, mengaitkan jari-jari tangan dan mengusap-usap bibir.“Kamu mungkin tidak akan bisa memberiku solusi.”“Hmm ... kamu tau? Bercerita bukan hanya untuk mencar
Granny Eliza terdiam mendengar cerita Kelly. Hatinya berdesir mellihat wanita di sampingnya menangis perlahan. Meski baru beberapa bulan, Granny Eliza sudah merasa sayang pada Kelly.“Bagaimana kamu membantu Brandon jika kamu tidak di sini?” Granny Eliza berkata lembut.Kelly mendongak dan menatap wajah elegan Granny Eliza. “Aku akan tetap mempertahankan pernikahan sampai Brandon mendapatkan dana tersebut.”“Bagaimana jika pengacara mengecek keberadaanmu?”“Bilang saja aku pulang karena ... kondisi kesehatan orang tuaku.”Satu garis muncul di antara alis Granny Eliza. “Orang tuamu sakit?”Tidak mau berbohong, Kelly menggeleng. Ia mengatakan ayahnya memiliki penyakit jantung dan ia hanya ingin memastikan bahwa saat ini keadaannya baik-baik saja.“Kamu bisa meneleponnya.”Embusan napas berat terdengar. Hampir setiap malam, sang Daddy melakukan video call. Tapi, itu tidak sama dengan bertemu secara langsung.“Aku ... maksudnya, setelah menikah diam-diam, aku merasa sangat bersalah dengan
Mungkin jika Kelly tidak minum obat flu, ia tidak akan tidur nyenyak. Dalam tidur, Kelly bahkan bermimpi bermesraan dengan Brandon, lalu terbangun dengan debaran jantung yang kuat."Tolol. Ngapain aku mimpi begitu, sih!" Kelly mengumpat untuk diri sendiri.Tidak bisa tidur lagi, Kelly bermain ponsel. Ia mengecek berita di media sosial. Identitasnya dan keluarga masih tersembunyi. Begitu juga dengan status pernikahan rahasianya."Aman." Kelly berucap penuh kelegaan.Karena masih sangat pagi, Kelly memutuskan jogging sebelum mandi. Wanita itu mengenakan sport bra dan legging."Akhirnya sepatu olahraga ini dipakai lagi." Kelly terkekeh karena sejak datang ke negara ini ia belum sempat jogging.Sambil berjalan, Kelly melakukan pemanasan. Ia mengamati sekeliling dan mencari jalur jogging di sekitar taman.Setelah cukup pemanasan, Kelly mulai berlari mengelilingi taman. Ternyata mansion Brandon sangat luas dengan tanaman yang tertata indah. Karena berlari dengan mata menatap sekeliling, Kel
“Bisa nggak sih dia jadi jelek sebentar saja?”“Apa? Kamu ngomong apa barusan?” Brandon menegur Kelly.Kelly jadi gelagapan sendiri. Tadinya ia hanya bermaksud bicara pada diri sendiri. Kenapa justru kata-kata itu keluar dari bibirnya?“Nggak. Itu jalanannya jelek banget.” Kelly berkilah cepat.Wajah Brandon merengut. “Sepertinya tadi kamu tidak bilang begitu.”“Umm ... apa kita akan terlambat? Apa aku kabari Granny Eliza saja?” Kelly berusaha mengalihkan percakapan.Brandon menggeleng. “Tak perlu, tak apa.”Kelly mengangguk. Otaknya berputar untuk kembali mencari topik percakapan agar Brandon tidak curiga.“Tadi saat jogging, bagaimana kamu tau kalau aku nyasar ke pemukiman?”Sekilas, Brandon menoleh menatap Kelly. “Karena setelah lima menit kamu tidak terlihat di lintasan jalur lampu.”Akh. Jadi, dia sampai menghitung waktu demi melihat aku berada di jalur yang tepat? Kelly jadi geer sekarang.Tapi kemudian dengan cepat ia menggeleng. Brandon perhatian hanya karena khawatir. Jangan
Tiga pasang mata menatap heran pada Kelly. Secara tak sadar, Kelly menyanggah tegas pernyataan Mr. Karl."M -- Maaf. Maksudku, saat aku terakhir melihat di negaraku, Tuan Dalton baik-baik saja. Ia masih menjadi pembicara sebagai tamu kehormatan di universitasku." Kelly menjelaskan panjang lebar.Granny Eliza tersenyum lembut. "Oh begitu. Yaaa ... semoga beliau baik-baik saja sekarang.""Iya." Kelly membalas pelan."Ya sudah. Mungkin Brandon dan Karl masih ingin bicara tentang perkumpulan mereka. Ayo, kita berkeliling, Kelly." Granny Eliza meraih tangan Kelly dan menuntunnya berjalan keluar.Brandon melirik Kelly hingga wanita itu menghilang bersama Granny."Sekretaris itu cantik dan cerdas." Karl mengedipkan satu matanya pada Brandon.Brandon jadi sadar Karl mengamatinya melirik Kelly. Ternyata teman bisnisnya ini cukup jeli juga."Kamu juga cukup perhatian padanya saat rapat tadi.""Hanya membimbingnya saja." Brandon berkilah sambil mengibaskan tangan.Karl mengangguk-angguk. "Oh ya,
“Tentang kita!”“Tidak ada yang perlu kita bahas mengenai itu.” Brandon terdengar mendengus kasar.“Tapi, aku ingin kamu tidak selalu menghindariku.”“Aku memang tidak terbiasa berteman dengan wanita.”“Beri aku kesempatan, Brandon.”Brandon menggeleng. Tanpa kata pergi dengan cepat.Kelly yang berada di kamar mandi dan hendak keluar, terpaksa menahan langkah. Dari balik pintu yang telah ia buka sedikit, Kelly mendengar pembicaraan Brandon dan asisten pribadi Granny Eliza – Herlin.Sambil mengintip dan melihat keadaan telah aman, Kelly keluar dari kamar mandi. Dalam hati bertanya-tanya ada hubungan apa antara Brandon dan Herlin? Dari obrolan yang ia dengar, sepertinya mereka pernah memiliki hubungan khusus.Kepala Kelly menggeleng. Buat apa ia penasaran? Tapi ternyata, meski telah berusaha, tanda tanya itu tetap di pikirannya.Hingga jam kantor usai. Kelly tidak melihat lagi sosok Brandon.“Kelly,” panggil Granny Eliza. “Kita pulang bersama, ya.”“Eh, tidak perlu repot-repot mengantar
Setelah satu minggu, Kelly dan Brandon bolak-balik ke rumah sakit untuk mengunjungi bayi-bayi mereka, akhirnya si kembar tiga diperbolehkan pulang. Mommy Keyna menggendong Mimi, sementara si kembar Arsen dan Reno duduk di kereta dorong.Kelly dan Brandon mengucapkan terima kasih pada tim dokter dan perawat yang telah membantu mereka. Brandon tentu saja menolak keinginan direktur rumah sakit yang ingin foto keluarganya dipajang di dinding rumah sakit.“Maaf. Demi privasi keluarga Brandon Richmont, saya tidak dapat menuruti permintaan anda.” Ian menolak tegas.“Apa anda sudah mengatakannya pada Nyonya Kelly? Saya pikir Nyonya Kelly tidak akan keberatan.” Tetap saja, direktur memaksa.“Untuk urusan ini, saya yang bertanggung jawab.”Ian melunasi biaya rumah sakit, lalu keluar dari ruang direktur. Audrey yang sejak tadi menemani kagum pada ketegasan Ian.“Memangnya, Brandon sudah bilang tidak mau didokumentasikan?” Audrey bertanya seraya mengiringi langkah Ian.“Tidak. Tapi, aku tau watak
"Iihhh... jangan disentuh! Sakit!" Kelly memindahkan tangan suaminya yang mengenai dada."Sakit?" Spontan, Brandon mengamati dada Kelly."Ini sedang bengkak. Perlu dipompa ASI-nya." Kelly berkata santai sambil menatap langit malam yang dihiasi gemerlap kembang api."Kenapa nggak dipompa sekarang kalau sakit?""Aku tunggu Mommy Key.""Mau aku bantu?"Kelly menggeleng. Bukan membantu namanya jika Brandon yang membimbing. Yang ada suaminya itu malah khawatir berlebihan."Nanti kalau aku sudah mahir, kamu boleh lihat. Sekarang, masih belajar.""Kenapa masih belajar aku nggak boleh lihat?""Aku malu, Brad."Meskipun masih ingin membahas masalah pompa ASI ini, Brandon memilih diam. Salah bicara bisa berakibat istrinya ngambek dan Brandon tidak ingin itu terjadi.Entah berapa uang yang dihabiskan Marc malam ini untuk pesta kembang api. Kalau dipikir-pikir, keluarga Dalton memang sering merayakan moment bahagia dengan cara seperti ini.Sambil memeluk pinggang Kelly, Brandon mengamati sekitar.
“Kak Dheena , kakak itu lagi... hamil?” Kelly bertanya lembut sambil menatap mata kakak ipar-nya.Dheena tersentak sedikit. Ia dan Della berpandangan, hingga Della memberi Kelly senyum.“Beneran, Kak?” Brandon mendesak jawaban.“Nggak papa. Sudah terlanjur ketauan.” Della terkekeh pada Dheena.Detik berikut Kelly menjerit dan memeluk Kak Dheena. Membuat semua anggota keluarga menatap mereka. Tentu saja akhirnya, kini mereka dikerubungi keluarga.“Kak Dheena hamil!” Kelly berteriak membuat semua orang melongo terutama Daddy Donald dan Mommy Florence.“Dheena! Kenapa kamu tidak bilang-bilang? Sudah berapa bulan?” Mommy Florence menghampiri putrinya dan mengelus perutnya. “Ya Tuhan, ini sudah cukup besar.”Dheena tersenyum lalu mengusap perutnya. Clark mendampingi istrinya dan mengusap-usap punggung Dheena.“Usia kandungannya sudah hampir enam bulan, Mom.” Clark yang menjawab pertanyaan Mommy Florence.Detik berikutnya, banyak pelukan yang didapat Dheena dan jabatan tangan yang harus dib
Dengan raut bahagia, Kelly menunjukkan pada keluarganya tentang hadiah dari Brandon. Mommy Florence menatap putranya dan mengacungkan jempol karena bangga sang putra begjtu menyayangi istrinya."Meski bentuknya berbeda, aku harap semua cincin itu memiliki harga yang sama." William berbisik pada Keyna.Cepat, Keyna menyikut pinggang sang suami. "Kenapa kamu mempermasalahkan nilai-nya? Yang penting adalah makna-nya."Namun, William tetap membalas, "Takut nanti anak-anak itu merasa dibedakan.""Pasti sebelum cincin itu diserahkan, Arsen, Reno dan Mimi sudah diberi pengertian." Keyna balas berbisik."Apa yang kalian bicarakan?" Daddy Donald tiba-tiba mencondongkan tubuh dan ikut berbisik pada William dan Keyna.Tanpa malu, Keyna bertanya pada Donald. Tak lama kemudian, lelaki itu permisi untuk menelepon.Tak lama kemudian, Donald kembali. Ia memperlihatkan layar ponselnya kepada William. Lalu ponselnya berpindah ke Keyna, terakhir ke Florence."Aku tau putraku memesan perhiasan dari RichJ
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly
Tanpa menoleh, Brandon hapal suara siapa yang bicara dengannya. Ia mengangguk dan membalas, "Terima kasih.""Kamu masih marah padaku?"Brandon menoleh menatap Ian. "Marah?""Kamu jarang bahkan hampir tidak pernah menghubungiku." Ian menghela napas berat. "Bahkan saat istrimu melahirkan pun, kamu tidak mengabariku.""Kupikir kamu sibuk dengan... Audrey."Gantian kini Ian yang menoleh ke samping menatap Brandon. "Aku sibuk mengurusi semua bisnismu!"Brandon mengerutkan kening, lalu membalik tubuhnya ke samping menghadap Ian. "Mulai keberatan dengan pekerjaan? Apa sekarang kamu kekurangan waktu karena telah memiliki tunangan? Mau resign?"Ian menatap tajam mata sahabatnya. "Aku nggak pernah ngomong begitu. Tapi kalau kamu memang mau aku mundur, ya sudah."Hening seketika. Dalam sejarah persahabatan mereka, moment ini adalah yang pertama kalinya mereka bertengkar sengit.Brandon menghela napas panjang, lalu kembali menatap jendela di mana bayi-bayinya sedang tidur. Ian mengikuti apa yang
“Kenalkan, Arsenio Elzhan Richmont, Arvenio Elvert Richmont dan Kyomi Lovella Richmont.” Brandon menunjuk bayi satu, dua dan tiga pada keluarga Richmont dan Dalton.Bayi-bayi mungil itu sekarang berada di dalam inkubator dalam satu ruangan steril. Mereka dapat melihat jelas melalui jendela lebar. Wajah-wajah tampan dan cantik itu menarik perhatian semua anggota keluarga.“Kecil banget, Tuhan.” Sacha menatap ketiga bayi dengan takjub.“Ya kali, bayi lahir langsung gede, Kak.” Louis menyahut sewot. “Kaya nggak pernah lahiran aja komentarnya.”Sacha mencebik pada Louis. Keduanya lalu sibuk mengabadikan keponakan-keponakan mereka dan membagi foto-foto tersebut ke kerabat dan media sosial.Mommy Keyna tampak tak dapat menahan rasa haru. Setelah sebelumnya menyaksikan ketiga anak sambungnya melahirkan, kini ia dapat merasakan putri kandung satu-satunya memiliki anak. Tiga sekaligus.“Akhirnya aku memiliki cucu dari darah dagingku sendiri.” Mommy Keyna bergumam.“Jangan sampai Fred, Sacha da
Netra Ian berputar ke sekeliling kafe, mencari sosok yang ia tunggu. Lalu, lelaki itu melirik arlogi mewahnya.Sudah terlambat lima belas menit dari janji yang ditetapkan.Untuk membuang waktu, Ian menatap ponsel. Beberapa hari ini tidak pernah ada pesan dari Brandon. Padahal sebelumnya, sahabatnya itu bisa mengirim pesan dua sampai lima kali sehari.Apa Brandon semarah itu padanya? Sungguh, Ian merasa cukup tersiksa dengan keadaan ini."Hai, Yan.""Oh." Ian tersentak kaget saat melamun. Ia langsung tersenyum pada wanita yang menyapanya. "Hai, Jasmine.""Maaf menunggu lama." Jasmine membalas dan duduk di depan Ian.Ian tersenyum penuh pengertian. "Itu tandanya, pasienmu banyak, bukan?"Jasmine terkekeh. "Lumayan lah."Ian memandang wanita di depannya yang sedang menyeduh teh. Jasmine lebih kalem saat ini. Boleh dibilang ia telah menjelma menjadi wanita dewasa yang lebih elegan."Terima kasih mau menemuiku, ya." Ian berucap.Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk. Ini kali pertama mere
“Tuan Brandon?” Seorang perawat lelaki membangunkan Brandon dengan memberikan aroma menyengat di hidungnya.Brandon mengendus, lalu membuka mata. Ia langsung sadar bahwa sekarang berada di ruang rumah sakit.“Kenapa aku di sini? Mana istriku?” Brandon bertanya panik.“Anda pingsan di ruang operasi, Tuan.”“Sial!” Brandon memijat keningnya dan teringat kala dokter akan membedah perut Kelly, ia langsung merasa lunglai. “Apa istriku sudah melahirkan?”“Nyonya Kelly minta ditunda sampai anda sadar.”Kembali ke ruang operasi, Brandon segera menghampiri Kelly.“Babe, maaf.” Brandon menciumi wajah Kelly. “Kita mulai sekarang agar kamu tidak kesakitan lagi, ya.”Dokter tersenyum dan mengangguk. “Sebaiknya anda fokus pada istri anda saja, Tuan. Proses mengeluarkan bayi ini memang tidak nyaman.”Pernyataan dokter membuat Brandon menatap wajah Kelly. Keduanya berbincang, meski sesekali Kelly meringis kecil.“Sakit, Babe?” Brandon mencium genggaman tangan Kelly.Kelly menggeleng. “Tidak, sih. Hany