Brandon benar-benar memantau Marc. Jika keponakan Kelly itu pergi, ia akan meminta seseorang untuk membuntuti. Tak peduli Marc akan kesal atau tidak.“Aku hanya menjagamu dari kesalahan yang akan kamu sesali seumur hidup.” Brandon memberi alasan. “Lagipula, perasaanku akhir-akhir ini nggak enak.”“Nggak enak gimana? Uncle Rich sakit?”“Aku baik-baik saja secara fisik. Sementara hatiku mencemaskan sesuatu yang sebenarnya tidak jelas.”“Paling karena Auntie Rich akhir-akhir ini sibuk.”Brandon terdiam. Pernyataan Marc tidak salah juga. Kelly memang mulai disibukkan dengan proyek skincare dan kosmetik Sacha yang sedang diuji coba laboratorium berskala internasional.“Makanya jangan cuma aku saja yang dikasi pengawal. Auntie Rich juga, dong.” Marc menambahkan.Dengusan kasar terdengar dari hidung Brandon. “Auntiemu menolak.”“Memang Auntie begitu. Dulu juga sempat bertengkar dengan Daddyku tentang pengawal. Beberapa kali Auntie Rich dan Auntie Jasmine melarikan diri dari pengawalan yang d
Hampir dua jam Brandon mencari Kelly di mall. Sekarang ia jadi panik. Dengan resah, ia pergi mendatangi pengelola gedung dan meminta rekaman CCTV.Untung saja pengaruh seorang Brandon kuat. Pengelola gedung tidak keberatan setelah Brandon mengungkapkan istrinya tidak membalas teleponnya sama sekali dan terakhir kali berada di mall ini.Rekaman CCTV memperlihatkan Kelly berada di toko skincare, setelah itu ke kamar mandi. Jantung Brandon langsung berdebar kencang saat melihat istrinya keluar bersama Agnes.Beberapa lelaki tegap berpencar menelusuri setiap sudut mall. Melalui kamera pengintai, Kelly dan Agnes terlihat terakhir kali di restoran.“Kamera di tempat parkir tertutup plastik.” Seorang staff keamanan melaporkan yang tentu saja membuka kecurigaan di pihak keamanan.Kamera di lobi menangkap gambar Kelly naik ke mobil yang sama dengan Agnes. Bandon kembali mencoba menghubungi Kelly, namun kini telepon istrinya malah tidak aktif.“Shit!” Brandon mengumpat keras.“Istri anda terlih
“Argghhh.” Kelly terbangun kaget. Ia langsung duduk tegak dengan napas memburu cepat.“Melihat wajah cantik begini seperti melihat setan saja.”Kelly tertegun. Agnes berkacak pinggang di depannya, memakai pakaian jubah hitam lengkap dengan tudung kepala. Sosoknya mirip dengan wanita yang hadir di mimpi Kelly.“Kamu mengagetkanku, Agnes.”Wanita di depan Kelly tergelak. Kelly mengerutkan kening mendengar suara tawa yang membuat telinganya sakit. Benar-benar suara yang buruk.“Kita di mana? Kenapa kamu membawaku ke sini?”“Kamu aman. Aku terpaksa membawamu ke sini karena tadi ada penggemar gila yang mengikuti kita.” Agnes tersenyum misterius.Kelly mengerutkan kening. Tak percaya dengan apa yang diucapkan Agnes. Namun, ia seperti lupa pada apa yang baru saja terjadi.“Sudah aman, kan? Aku mau pulang.”“Tunggu suamimu menjemput.”“Benarkah?” Kelly menatap sekeliling, mencari tasnya. Ia tidak menemukan sejauh matanya mengamati kamar. “Aku mau telepon suamiku.”Agnes mengibaskan tangan. “T
Rencana Kelly tidak berjalan mulus. Seorang lelaki membawa laptop dan duduk di depannya. Kelly diminta menyebutkan akses masuk ke personal perbankannya.Dengan sengaja, Kelly memberi akses yang salah. Agnes kesal karena setelah tiga kali mencoba, mereka harus menunggu lebih dulu kalau tidak ingin diblokir.“Kamu mempermainkan aku!” Agnes menjerit.Dada kelly bergemuruh kencang. Namun, ia harus memainkan perannya sebagai wanita polos dengan baik. Kelly menggeleng sambil mengertukan kening.“Biasanya di ponselku kan sudah terverifikasi. Tinggal isi jumlah transfer dan ketik PIN. Selesai. Aku bingung kalau harus login dari awal.” Bibir Kelly memberengut.“Dasar wanita manja.” Agnes menggeram kesal.“Maklum lah. Aku terbiasa dilayani.” Kelly menatap pasrah layar komputer sambil berusaha terlihat memikirkan login masuk ke rekening perbankan pribadinya.“Telepon saja bank-nya.” Lelaki di depan Kelly akhirnya bersuara.Agnes berpikir sejenak, lalu mengangguk. Ia menekan nomer bank yang digun
“Brad!” jerit Kelly.Pisau yang ditargetkan ke perut Kelly menghujam pinggang Brandon. Lelaki itu menunduk dan memegangi pinggangnya yang mengucurkan darah. Kelly menangis tersedu.Sementara itu, Marc langsung menjegal kaki Agnes hingga wanita itu tersungkur. Dengan sangar, lelaki muda itu memukul wajah Agnes yang mencoba melawan.“Bugh.”Darah segar mengalir dari hidung Agnes akibat pukulan Marc. Bahkan hidung palsu wanita cantik itu sekarang terlihat bengkok. Agnes berteriak murka.Beberapa polisi datang dan langsung memegangi Agnes. Salah seorang pengawal, membopong Brandon keluar. Sebelum mengikuti suaminya, Kelly menghampiri Agnes.“Plak!”Dengan napas memburu cepat, Kelly menampar keras pipi Agnes. Matanya merah karena air mata dan emosi marah. Lalu, Kelly membungkuk di depan Agnes yang masih terduduk di lantai.“Aku akan pastikan sekarang kamu membusuk di penjara!” Kelly mendengus kasar lalu pergi diikuti Marc.Mobil mewah Brandon melesat cepat menuju rumah sakit. Kelly berusah
Brandon ditidurkan sementara sambil menunggu Daddy Donald dan Mommy Florence datang. Mereka mendapat isin untuk menggunakan teknolgi canggih dalam mengoperasi luka ginjal Brandon.Kelly duduk di samping Brandon yang tertidur. Tangannya menggenggam tangan suami yang biasanya selalu balas menggenggam lebih erat. Namun kali ini, tangan Brandon sangat lemah.“Maaf, ya. Aku baru ingat sekarang kejadiannya.” Kelly mengusap air mata.Setelah duduk dan makan santai di restoran, Agnes bertanya tentang gerai skincare Kelly. Awalnya, Kelly hanya bercerita singkat, namun ternyata Agnes tau banyak tentang produk Kak Sacha hingga Kelly terpancing dan bercerita banyak,Agnes mengaku memiliki kenalan yang bisa mempercepat izin lulus uji internasional. Tentu saja Kelly tertarik. Bahkan dengan sukarela mau diajak Agnes pergi menemui kenalannya tersebut.Di dalam mobil, Agnes berusaha mendapatkan kepercayaan Kelly dengan membeberkan apa saja yang diperlukan untuk mendapatkan izin dengan cepat. Agnes ber
Dengan cekatan, Clark menggunakan pakaian steril dan sarung tangan steril serta mengisi jarum suntik. Saat ingin memasukkan ke dalam infus, tangan Clark dicengkram kencang.“Kelly.” Brandon terdengar menggumam.Segera, Clark meletakkan kembali jarum suntiknya. Lalu membungkuk sedikit agar dapat mendengar ucapan Brandon yang lemah.“Brad.”“Kelly. Bagaimana?”“Kelly baik-baik saja. Tenang lah.”Brandon mengangguk. Kemudian ia meringis hingga mengeluarkan air mata. Tak lama berselang, Daddy Donald dan Mommy Florence masuk dengan pakaian steril.“Kelly.” Brandon kembali mendesah saat melihat kedua orang tuanya.“Kelly di luar bersama yang lain.”“Istrimu baik-baik saja, tapi belum bisa masuk ke sini sampai keadaanmu stabil.”Mommy Florence dan Daddy Donald membalas bergantian. Brandon kembali meringis dan mengerang kesakitan.Clark segera menyuntikkan obat painkiller. Sebelum obat itu bekerja, Brandon terlihat kesakitan.“Panas. Sakit sekali pinggangku.” Brandon menjawab saat Daddy Donal
Kelly menoleh. Marc berdiri di belakangnya dengan pakaian steril. Lelaki muda itu menghampiri ranjang hidrolik.“Kenapa kamu ke sini?”“Mau pamit sama Uncle Rich.” Marc menjawab sambil menatap wajah Brandon. Lalu kembali menatap Kelly. “Auntie tidak mau memberitahu keluarga karena tidak ingin mereka malah fokus padamu?”Tidak ada jawaban dari Kelly. Ia malah cenderung mengacuhkan Marc. Hingga Marc menariknya dan memeluknya erat.“Argh... pengap. Nggak bisa napas, dong.” Kelly berusaha melepaskan diri dari dekapan Marc.Marc terkekeh. Ia lalu tersenyum tulus pada Kelly. Dalam hati mengucapkan kata sayang untuk Auntie Richnya itu.“Kata Uncle Clark, kita tidak boleh berdua di sini.” Secara halus, Marc mengusir Kelly.Tau Marc ingin bicara pada Brandon, Kelly mencebik lalu keluar dari kamar meninggalkan Marc. Lelaki muda itu tersenyum lalu menatap sosok yang berbaring di ranjang.“Uncle, aku pamit, ya. Aku mau beres-beres. Besok pagi, aku tidak akan sempat ke sini lagi.” Marc berucap den
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly
Tanpa menoleh, Brandon hapal suara siapa yang bicara dengannya. Ia mengangguk dan membalas, "Terima kasih.""Kamu masih marah padaku?"Brandon menoleh menatap Ian. "Marah?""Kamu jarang bahkan hampir tidak pernah menghubungiku." Ian menghela napas berat. "Bahkan saat istrimu melahirkan pun, kamu tidak mengabariku.""Kupikir kamu sibuk dengan... Audrey."Gantian kini Ian yang menoleh ke samping menatap Brandon. "Aku sibuk mengurusi semua bisnismu!"Brandon mengerutkan kening, lalu membalik tubuhnya ke samping menghadap Ian. "Mulai keberatan dengan pekerjaan? Apa sekarang kamu kekurangan waktu karena telah memiliki tunangan? Mau resign?"Ian menatap tajam mata sahabatnya. "Aku nggak pernah ngomong begitu. Tapi kalau kamu memang mau aku mundur, ya sudah."Hening seketika. Dalam sejarah persahabatan mereka, moment ini adalah yang pertama kalinya mereka bertengkar sengit.Brandon menghela napas panjang, lalu kembali menatap jendela di mana bayi-bayinya sedang tidur. Ian mengikuti apa yang
“Kenalkan, Arsenio Elzhan Richmont, Arvenio Elvert Richmont dan Kyomi Lovella Richmont.” Brandon menunjuk bayi satu, dua dan tiga pada keluarga Richmont dan Dalton.Bayi-bayi mungil itu sekarang berada di dalam inkubator dalam satu ruangan steril. Mereka dapat melihat jelas melalui jendela lebar. Wajah-wajah tampan dan cantik itu menarik perhatian semua anggota keluarga.“Kecil banget, Tuhan.” Sacha menatap ketiga bayi dengan takjub.“Ya kali, bayi lahir langsung gede, Kak.” Louis menyahut sewot. “Kaya nggak pernah lahiran aja komentarnya.”Sacha mencebik pada Louis. Keduanya lalu sibuk mengabadikan keponakan-keponakan mereka dan membagi foto-foto tersebut ke kerabat dan media sosial.Mommy Keyna tampak tak dapat menahan rasa haru. Setelah sebelumnya menyaksikan ketiga anak sambungnya melahirkan, kini ia dapat merasakan putri kandung satu-satunya memiliki anak. Tiga sekaligus.“Akhirnya aku memiliki cucu dari darah dagingku sendiri.” Mommy Keyna bergumam.“Jangan sampai Fred, Sacha da
Netra Ian berputar ke sekeliling kafe, mencari sosok yang ia tunggu. Lalu, lelaki itu melirik arlogi mewahnya.Sudah terlambat lima belas menit dari janji yang ditetapkan.Untuk membuang waktu, Ian menatap ponsel. Beberapa hari ini tidak pernah ada pesan dari Brandon. Padahal sebelumnya, sahabatnya itu bisa mengirim pesan dua sampai lima kali sehari.Apa Brandon semarah itu padanya? Sungguh, Ian merasa cukup tersiksa dengan keadaan ini."Hai, Yan.""Oh." Ian tersentak kaget saat melamun. Ia langsung tersenyum pada wanita yang menyapanya. "Hai, Jasmine.""Maaf menunggu lama." Jasmine membalas dan duduk di depan Ian.Ian tersenyum penuh pengertian. "Itu tandanya, pasienmu banyak, bukan?"Jasmine terkekeh. "Lumayan lah."Ian memandang wanita di depannya yang sedang menyeduh teh. Jasmine lebih kalem saat ini. Boleh dibilang ia telah menjelma menjadi wanita dewasa yang lebih elegan."Terima kasih mau menemuiku, ya." Ian berucap.Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk. Ini kali pertama mere
“Tuan Brandon?” Seorang perawat lelaki membangunkan Brandon dengan memberikan aroma menyengat di hidungnya.Brandon mengendus, lalu membuka mata. Ia langsung sadar bahwa sekarang berada di ruang rumah sakit.“Kenapa aku di sini? Mana istriku?” Brandon bertanya panik.“Anda pingsan di ruang operasi, Tuan.”“Sial!” Brandon memijat keningnya dan teringat kala dokter akan membedah perut Kelly, ia langsung merasa lunglai. “Apa istriku sudah melahirkan?”“Nyonya Kelly minta ditunda sampai anda sadar.”Kembali ke ruang operasi, Brandon segera menghampiri Kelly.“Babe, maaf.” Brandon menciumi wajah Kelly. “Kita mulai sekarang agar kamu tidak kesakitan lagi, ya.”Dokter tersenyum dan mengangguk. “Sebaiknya anda fokus pada istri anda saja, Tuan. Proses mengeluarkan bayi ini memang tidak nyaman.”Pernyataan dokter membuat Brandon menatap wajah Kelly. Keduanya berbincang, meski sesekali Kelly meringis kecil.“Sakit, Babe?” Brandon mencium genggaman tangan Kelly.Kelly menggeleng. “Tidak, sih. Han
Tanpa berhenti berjalan, Brandon menjawab pertanyaan kak Fred. “Kelly kontraksi.”Mendengar ucapan Brandon, Frederix membuntuti sang adik ipar. Ia bahkan ikut masuk ke dalam kamar. Kelly sedang berpegangan pada sofa dan mengatur napas.“Babe.”Kelly menoleh dengan wajah agak pucat. “Sakit, Brad.”Brandon menyiapkan bola besar untuk Kelly duduki. Lelaki itu memegangi istrinya yang duduk di atas bola dan ikutan mengatur napas .“Aku panggil Mommy Key, ya.” Frederix kemudian menghilang di balik pintu.“Sudah berapa lama kontraksinya, Babe?” Brandon yang bertanya, sambil mencoba menelepon dokter kandungan.“Sepuluh menit, tidak teratur. Kadang sakit, kadang tidak.”Tangan Brandon tak henti mengusap punggung Kelly. Ia bicara pada teleponnya dan menceritakan situasi Kelly pada dokter.Sambil bicara, Brandon lalu terlihat mengemasi tas dan mengambil dompetnya. Ia juga mengambil sepatu flat dan membantu Kelly menggunakannya.“Kita ke rumah sakit.” Brandon berkata setelah menutup teleponnya. “
Persalinan semakin dekat. Mansion Brandon kembali ramai dengan keluarga yang datang untuk menyambut si kembar tiga. Bahkan kakak-kakak dan keponakan-keponakan Kelly pun datang dan menginap di mansion.Beberapa hari ini para grandpa dan grandma masih sibuk di kamar bayi. Mereka meminta izin untuk mengatur dan menata kamar bayi. Kelly dan Brandon tentu saja tidak keberatan.Kelly duduk di sofa menyusui dan memperhatikan orang tua dan mertuanya. Mommy Keyna dan Mommy Florence sedang berdiskusi tentang aksesoris ranjang bayi tiga. Sementara Daddy William dan Daddy Donald lebih cepat menyelesaikan ranjang bayi satu dan dua.Hingga akhirnya keempatnya berkumpul di depan ranjang bayi tiga. Kelly menggeleng samar saat mereka begitu selektif.“Akh.” Keelly meringis dan mengatur napas.Mommy Keyna langsung mendekat. “Ada apa? Mereka bergerak bersamaan lagi?”“Kontraksi, Mom.” Kelly berdiri dan mencoba berjalan mondar-mandir dibimbing Mommy Keyna.“Bayi-bayi itu aktif sekali.” Daddy William mena
"Pagi, Brandon."Brandon menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangan sambil memberi kode pada wanita yang baru datang itu untuk duduk di depannya.Kelly mengizinkannya bertemu Audrey tetapi berpesan untuk tidak berpandang-pandangan lama dengan wanita lain.Wanita cantik dengan tubuh ramping dan harum bunga jasmine itu mengangguk lalu duduk."Kelly bilang kamu mau bertemu?"Brandon tidak langsung menjawab. Ia memilih menu sarapan favorit di kafe untuknya dan Audrey. Bicara sambil makan akan membuatnya tidak perlu bertatapan dengan wanita tersebut."Ian menemuiku dini hari tadi dan menceritakan hubungan kalian." Brandon melirik jari manis Audrey yang terselip cincin berlian."Oh. Oke." Bingung berkomentar apa, Audrey hanya mengangguk dan menjawab singkat."Kamu mencintai Ian?" Kini, Brandon menatap tajam Audrey.Tidak memberi Audrey kesempatan menjawab, Brandon kembali berkata, "Aku rasa tidak, bukan? Rasanya terlalu cepat bagi kalian untuk jatuh cinta.""Tapi, kami serius ingin menikah
"Aku bisa jelaskan!" Ian membuntuti Brandon.Tengah malam, Eros menelepon Brandon dan mengabari bahwa Ian datang. Brandon mengira ada sesuatu yang genting, terpaksa meninggalkan Kelly di kamar.Dan sekarang saat ternyata Ian menemuinya hanya untuk membicarakan hubungannya dengan wanita di ranjangnya, Brandon segera membalik arah kembali ke kamar utama."Nggak perlu. Aku nggak mau tau, kok.""Ish... tapi aku mau cerita.""Nanti saja. Istriku sendirian di kamar."Brandon berjalan lurus meninggalkan Ian. Tapi, sahabatnya itu memang pantang menyerah."Wanita itu... Audrey!" Ian berteriak.Langkah Brandon terhenti. Dahinya berkerut saat membalik tubuh menghadap Ian."Audrey? Wanita yang katamu, sok cantik, sok pinter, sok paling tau, sok keren dan paling sombong di dunia itu?"Ian melipat bibirnya ke dalam dan mengangguk pelan."Wanita yang barusan berada di ranjangmu itu adalah wanita yang kamu benci?"Sekali lagi, Ian mengangguk.Hening sejenak. Brandon tampak berpikir sambil mengamati s