Esok harinya, dalam perjalanan menuju rumah sakit, Kelly dan Brandon membahas hubungan Ian dan Jasmine. Kelly tidak menduga ternyata keduanya serius.“Jika Ian mengenalkan Jasmine pada keluarganya, berarti Ian sudah nyaman dengan sahabatku itu, kan?”Brandon tidak langsung menjawab. Bukan kebiasaan Ian mengenalkan wanita pada keluarganya. Bahkan Brandon yang sudah bertahun-tahun bersahabat dengan Ian saja jarang bertemu keluarga Ian.“Kita tunggu saja kabar selanjutnya.” Brandon menjawab singkat.“Tapi, kamu setuju kan jika mereka berpacaran?”“Kalau itu sudah keputusan mereka, ya, nggak papa.”“Kamu terlihat tidak setuju.” Bibir Kelly mencebik.Dengan bijaksana, Brandon menyatakan bahwa ia tidak bermaksud mendikte sahabatnya. Hanya saja keduanya adalah sahabat mereka. Jika hubungan itu tidak berhasil, bisa jadi hubungan semuanya menjadi canggung.“Kalau Ian memang tidak suka Jasmine, seharusnya sejak pertama ia tidak memberi Jasmine harapan, bukan?”Pernyataan itu disetujui Brandon.
“Ini semua gara-gara Ian!” desis Kelly murka pada suaminya.“Kok Ian? Jasmine juga salah.” Brandon tak terima dengan pernyataan sang istri.“Sudah kubilang, kalau tidak suka, dari awal tidak perlu berbaik-baik dengan Jasmine.”“Babe!” Brandon berkata tegas. “Kamu tau Ian. Dia memang lelaki yang ramah dan baik hati pada siapa saja. Jasmine-nya saja yang kegeeran.”Sahut-sahutan pasangan itu berlanjut. Semua berawal dari kedatangan Jasmine yang menangis sesunggukan dan mengadu pada Kelly. Jasmine bilang, Ian menolaknya menjadi kekasihnya.Ian berkata, ia memang menyukai Jasmine, namun hanya sebatas teman. Tentu saja Kelly sangat kesal. Mana ada status teman tetapi berbagi kehangatan ranjang.Apalagi melihat Jasmine yang sangat rapuh. Ia tidak pernah melihat sahabatnya terisak sedih dan patah hati.“Kamu juga seharusnya menasehati Ian.” Kelly pun kini menyalahkan Brandon.“Ian bilang mereka hanya berteman, Babe. Aku juga sudah mengatakan padamu, Jasmine bukan tipe Ian. Tidak mungkin saha
“Wow kereenn!” Edzard dan Jasmine berseru berbarengan.Kelly memberikan room tour di dalam kapal. Lalu, memperkenalkan kapten dan staff kapal yang akan mendampingi mereka. Setelah semua siap, kapal segera berlayar.Ketiga sahabat tiduran di dek atas menikmati sinar matahari pagi. Kelly yang berbaring di antara Edzrad dan Jasmine mengambil foto mereka bertiga. Berbagai gaya berhasil diabadikan dengan manis.“Aku tidak menyesal ikut.” Edzard menggumam sambil menutup mata. “Ternyata healing sesaat, nikmat juga.”“Kamu terlalu bekerja keras, Ed.” Kelly memprotes sahabatnya.“Tidak juga. Aku memang ingin cepat lulus. Targetku menjadi profesor termuda di dunia kedokteran.”“Aku malah pengen cuti dulu.” Tiba-tiba, Jasmine menimpali.Serentak, kepala Kelly dan Edzard menoleh pada Jasmine. Wanita itu mengenakan kacamata hitam, namun matanya yang menatap langit biru masih dapat terlihat dari sisi kacamata.“Cuti? Kenapa?” Edzard bertanya bingung.“Akhir-akhir ini aku tidak fokus. Rasanya semua
“Babe.” Brandon menyapa Kelly melalui layar ponsel.“Hai.” Kelly terlihat memicingkan mata. “Kenapa kamu tidak pakai baju?”“Aku mau tidur, Babe.”“Iya, tau. Kenapa telanjang begitu?”Tanpa menjawab, Brandon malah mengarahkan kamera ke dalam selimutnya. Ia tergelak geli mendengar istrinya menggerutu sambil memberengut.“Apa-apaan, sih? Kamu nggak nyembunyiin perempuan di situ, ‘kan?”“Astaga, Babe! Aku nggak nafsu sama perempuan lain. Maunya sama kamu aja.”“Gombal!”Kekehan kecil kembali terdengar. Sehabis pulang kantor dengan pekerjaan yang padat, Brandon mengaku malas mengganti pakaian. Ia langsung melepas semua pakaian dan naik ke ranjang.“Dan tentu saja aku merindukanmu.”“Beneran nggak ada siapa-siapa di dalam kamar?”Kali ini, Brandon mengarahkan kamera ke seluruh kamar. Bahkan ke sisi tempat tidur yang biasa ditempati Kelly. Sisi itu masih rapi.“Masa kamu tidak percaya, sih?” Brandon menggeleng kesal.“Well. Aku hanya ingat ucapanmu bahwa hidup di negara bebas, biasa saja me
Kalau saja bukan karena ia mengumpulkan para direktur dan mengadakan meeting besar, Brandon pasti sudah pulang saat ini juga. Ia mengeluh pada Ian tentang kejadian semalam. Sahabatnya itu dengan cekatan langsung membantu membereskan masalah di mansion.Padahal, setelah rapat ia juga sudah berjanji untuk bertemu beberapa teman dekat di klub. Tetapi, saat ini, ia harus lebih mementingkan Kelly. Istrinya itu pasti sedang merajuk sekarang.“Aku pulang sekarang, ya. Maaf, jadi tidak sempat pergi ke klub. Titip salam saja pada teman-teman di sana.” Tepat sehabis rapat, Brandon langsung membereskan barang-barangnya.“Aku mengerti. Akan kusampaikan salam darimu pada teman-teman kita.”Brandon mengangguk serta mengucapkan terima kasih. Ia menitipkan banyak pesan pada sang sahabat. Terutama penyangkut pekerjaan dan tempat tinggalnya yang telah berbulan-bulan ia tinggalkan.“Kamu tidak bermaksud menetap di negara Kelly, ‘kan?”“Kamu sudah sering menanyakan hal yang sama, Ian. Apa ingatanmu mulai
Baru kali ini rasanya Brandon merasakan ketenangan di mansion William. Tentu saja, penghuninya masih sibuk di rumah sakit. Bahkan pagi ini, Brandon dan Kelly hanya sarapan berdua.“Daddy sudah boleh pulang akhir minggu ini.” Kelly membacakan pesan di ponselnya.“Syukurlah. Artinya, kesehatannya membaik.”Kepala Kelly mengangguk. Ia tau semua anggota keluarga senang, tetapi dirinya merasa yang paling terharu mendapat berita ini. Selain karena turut andil dalam pengobatan, Kelly juga sangat ingin sang daddy hidup lebih lama.“Tolong sampaikan ucapan terima kasih pada Mommy Florence dan Daddy Donald. Karena penemuan mereka, pengobatan Daddy William berlangsung lancar.” Kelly berkata pada sang suami.“Kenapa tidak telepon sendiri? Kamu punya nomer Mommy Florence dan Daddy Donald, kan?”“Kamu saja dulu. Aku sedang makan.”Sebenarnya itu alasan Kelly saja. Bahkan saat ini pun Brandon sedang makan, dan lelaki itu tampak mengangkat alis mendengar alasan Kelly. Namun Kelly bersikeras karena ia
Malam ini, Kelly tidak dapat tidur. Ia menghadapi dilema. Sebenarnya, ia lebih betah berada di negaranya sendiri, bersama keluarganya.Tapi, ia sudah menikah sekarang. Bukankah wajib bagi seorang istri untuk mendampingi suaminya? Apalagi, Brandon sudah banyak berkorban meninggalkan pekerjaannya berbulan-bulan.Tangannya mengelus lengan Brandon yang memeluknya dari belakang. Kalau Jasmine tidak sedang sedih, ia bisa curhat pada sahabatnya tersebut. Yang jelas, ia tidak bisa curhat dengan keluarga karena mereka akan khawatir.Lalu, ia mendapat akal. Kelly mengetik pesan dan langsung mengirimkannya. Setelah itu, tanpa menunggu balasan, ia mengeratkan pelukan Brandon dan ikut tidur.“Babe.” Brandon menatap istrinya yang pagi ini sedang sarapan bersamanya.“Ya?” Kelly balas menatap sang suamin.“Aku mau dong dibuatkan desain pakaian atau aksesoris.”Cepat, Kelly menggeleng. “Jangan. Kamu juga terbiasa dengan barang-barang branded. Masa memakai desainku yang belum ada apa-apanya.”“Tapi, ak
Tanpa banyak bicara, Brandon menarik tangan Kelly keluar kamar perawatan. Ia membawa Kelly ke ruang suster. Namun, belum sampai, mereka melihat Daddy William dan Mommy Keyna sedang berbincang dan tertawa-tawa dengan beberapa dokter.Kelly segera melepas genggaman tangan Brandon dan berteriak, “Daddy!”Dengan wajah heran, Daddy William mengelus punggung sang putri yang memeluknya. “Ada apa, Princess?”“Kami khawatir karena Daddy tidak ada di ruangan.” Brandon menjelaskan.“Ya ampun, maaf.” Mommy Keyna kini ikut menenangkan Kelly dengan mengelus rambutnya.Kelly mengangkat wajah dan menatap sang daddy. “Daddy dari mana?”Daddy William merentangkan tangan. Ia meminta Kelly mengamati tubuhnya yang sudah bisa berdiri tegak. Tadi pagi, Daddy William dan Mommy Keyna berjalan-jalan di taman rumah sakit untuk melatih pernapasan dan otot jantung.“Daddy kan harus sering berjalan santai di udara terbuka.” Mommy Keyna menambahkan.Kepala Kelly mengangguk. Ia mengembuskan napas panjang penuh keleg
“Ini ruangan untukmu.” Kelly tersenyum pada sang suami. Tangannya menghapus cepat air mata yang jatuh ke pipi.Kelly merapatkan tubuh pada Brandon yang berdiri kaku di tengah ruangan. Sadar, suaminya masih tercengang mendapati kejutan darinya, Kelly menangkup wajah tampan Brandon.“Terima kasih untuk kesabaranmu selama ini. Aku tau kamu masih berjuang untuk berada di antara keramaian keluargaku. Di mansion ini, bahkan kamar kita bukan lagi tempat privatemu.”Setelah melahirkan dan kembali ke mansion, Kelly menyadari bahwa mansion Brandon tidak pernah sepi. Keluarganya selalu datang berbondong-bondong, bahkan menginap.“Aku tidak keberatan, Babe.” Brandon berkata pelan.“Aku tau.” Kelly menatap mata Brandon dalam-dalam. “Tapi, aku mau menjadi istri pengertian yang paham kalau sesekali, suaminya butuh kesunyian.”Brandon mengangkat kedua alisnya sedikit. Ia kembali mengamati sekitar. Berusaha mencerna bagaimana ruangan ini bisa ada.“Aku belajar dari ahlinya.” Kelly berkata seolah menja
Brandon tidak langsung menjawab. Ia tau pasti ada seseorang yang memposting keberadaannya di supermarket barusan.“Belanja.” Brandon menjawab singkat.“Kamu tau? Aku sedang sibuk memblokir berita tentang si kembar tiga. Sekarang aku harus menghapus lagi foto-fotomu di supermarket.” Ian terdengar mengeluh.“Ya sudah. Tidak perlu dihapus. Biarkan saja.”Hening sejenak. Brandon tau sahabatnya pasti sedang mengerutkan kening karena bingung dengan pernyataannya barusan.“Yakin?”“Apa ada yang aneh dengan foto-foto itu?”“Tidak juga.”“Foto-foto si kembar?”“Buram. Tapi terlihat wajah.”“Tidak perlu juga kamu take down. Minggu depan, Granny Eliza juga akan mengumumkan kelahiran kembar tiga ke media kok.”Brandon menutup komunikasi setelah Ian mengerti. Ia merasa sudah tidak penting lagi mengurusi media sosial. Sudah saatnya ia pasrah jika oang-orang penasaran pada keluarganya.“Kenapa, Brad? Kelly bertanya saat naik ke ranjang.“Ian lapor ada yang posting foto-foto kita barusan juga foto-fo
"Kenapa kamu ngadu-ngadu pada Daddy kalau aku sering kesal padamu?" Kelly memberengut pada Brandon."Aku hanya minta nasehat, Babe." Brandon menjawab lemah. Ada sedikit rasa penyesalan sekarang. "Please, jangan marah. Maafkan aku."Kelly menghela napas panjang. Kalau Brandon sampai minta nasehat pada Daddy, itu memang artinya ia cukup frustasi pada sikapnya.Kepala Kelly akhirnya mengangguk. Ia berbalik badan untuk pergi dari kamar, namun Brandon memegang lengannya."Babe." Tanpa banyak bicara, Brandon memeluk erat istrinya.Hanya sejenak, karena Kelly mendorong dada suaminya dengan kencang. "Dadaku sakit kamu peluk begitu.""Maaf." Sekali lagi, Brandon memohon."Aku mau ke ruang bayi." Kelly berucap datar."Tapi kamu baru dari sana, Babe.""Memang kenapa?""Aku... aku juga butuh kamu."Kelly mendengus pelan. "Sudah kubilang aku sedang tidak ingin ada di dekatmu."Brandon memejamkan mata sejenak lalu berkata, " Tolong katakan apa salahku.""Aku sudah bilang ini bukan salahmu. Aku hany
Demi melihat istrinya senang, Brandon mulai belajar menggendong bayi. Perawat memberi Brandon bayi Arsen yang terlihat paling tenang. Meski begitu, Brandon hanya memegangnya selama tiga detik.“Sudah, Sust. Tanganku mulai gemetaran.”Kelly yang sedang menggendong Reno menggeleng samar. Meski begitu, paling tidak, Brandon mencoba. Reno telah tidur di dekapan Kelly.“Sayang, pangku Reno sebentar.” Kelly meletakkan bantal besar di pangkuan Brandon dan membaringkan Reno di atas bantal tersebut. “Aku mau pipis dan ganti pembalut.”Dengan kaku, Brandon duduk menatap putranya. Ia sama sekali tidak berani bergerak karena takut membangunkan Reno. Tapi, jarinya perlahan mengelus pipir Reno.Brandon tersenyum merasakan betapa halus kulit bayinya. Lama-kelamaan, Brandon mengelus rambut halus Reno, jari-jari tangan dan kaki.“Hatchii!” Tiba-tiba, Brandon bersin. Detik berikutnya, Reno tersentak dan menjerit.“Babe!” teriak Brandon kalut. “Babe, Reno bangun!"“Sebentar, sayang. Aku belum selesai.”
Setelah satu minggu, Kelly dan Brandon bolak-balik ke rumah sakit untuk mengunjungi bayi-bayi mereka, akhirnya si kembar tiga diperbolehkan pulang. Mommy Keyna menggendong Mimi, sementara si kembar Arsen dan Reno duduk di kereta dorong.Kelly dan Brandon mengucapkan terima kasih pada tim dokter dan perawat yang telah membantu mereka. Brandon tentu saja menolak keinginan direktur rumah sakit yang ingin foto keluarganya dipajang di dinding rumah sakit.“Maaf. Demi privasi keluarga Brandon Richmont, saya tidak dapat menuruti permintaan anda.” Ian menolak tegas.“Apa anda sudah mengatakannya pada Nyonya Kelly? Saya pikir Nyonya Kelly tidak akan keberatan.” Tetap saja, direktur memaksa.“Untuk urusan ini, saya yang bertanggung jawab.”Ian melunasi biaya rumah sakit, lalu keluar dari ruang direktur. Audrey yang sejak tadi menemani kagum pada ketegasan Ian.“Memangnya, Brandon sudah bilang tidak mau didokumentasikan?” Audrey bertanya seraya mengiringi langkah Ian.“Tidak. Tapi, aku tau watak
"Iihhh... jangan disentuh! Sakit!" Kelly memindahkan tangan suaminya yang mengenai dada."Sakit?" Spontan, Brandon mengamati dada Kelly."Ini sedang bengkak. Perlu dipompa ASI-nya." Kelly berkata santai sambil menatap langit malam yang dihiasi gemerlap kembang api."Kenapa nggak dipompa sekarang kalau sakit?""Aku tunggu Mommy Key.""Mau aku bantu?"Kelly menggeleng. Bukan membantu namanya jika Brandon yang membimbing. Yang ada suaminya itu malah khawatir berlebihan."Nanti kalau aku sudah mahir, kamu boleh lihat. Sekarang, masih belajar.""Kenapa masih belajar aku nggak boleh lihat?""Aku malu, Brad."Meskipun masih ingin membahas masalah pompa ASI ini, Brandon memilih diam. Salah bicara bisa berakibat istrinya ngambek dan Brandon tidak ingin itu terjadi.Entah berapa uang yang dihabiskan Marc malam ini untuk pesta kembang api. Kalau dipikir-pikir, keluarga Dalton memang sering merayakan moment bahagia dengan cara seperti ini.Sambil memeluk pinggang Kelly, Brandon mengamati sekitar.
“Kak Dheena , kakak itu lagi... hamil?” Kelly bertanya lembut sambil menatap mata kakak ipar-nya.Dheena tersentak sedikit. Ia dan Della berpandangan, hingga Della memberi Kelly senyum.“Beneran, Kak?” Brandon mendesak jawaban.“Nggak papa. Sudah terlanjur ketauan.” Della terkekeh pada Dheena.Detik berikut Kelly menjerit dan memeluk Kak Dheena. Membuat semua anggota keluarga menatap mereka. Tentu saja akhirnya, kini mereka dikerubungi keluarga.“Kak Dheena hamil!” Kelly berteriak membuat semua orang melongo terutama Daddy Donald dan Mommy Florence.“Dheena! Kenapa kamu tidak bilang-bilang? Sudah berapa bulan?” Mommy Florence menghampiri putrinya dan mengelus perutnya. “Ya Tuhan, ini sudah cukup besar.”Dheena tersenyum lalu mengusap perutnya. Clark mendampingi istrinya dan mengusap-usap punggung Dheena.“Usia kandungannya sudah hampir enam bulan, Mom.” Clark yang menjawab pertanyaan Mommy Florence.Detik berikutnya, banyak pelukan yang didapat Dheena dan jabatan tangan yang harus dib
Dengan raut bahagia, Kelly menunjukkan pada keluarganya tentang hadiah dari Brandon. Mommy Florence menatap putranya dan mengacungkan jempol karena bangga sang putra begjtu menyayangi istrinya."Meski bentuknya berbeda, aku harap semua cincin itu memiliki harga yang sama." William berbisik pada Keyna.Cepat, Keyna menyikut pinggang sang suami. "Kenapa kamu mempermasalahkan nilai-nya? Yang penting adalah makna-nya."Namun, William tetap membalas, "Takut nanti anak-anak itu merasa dibedakan.""Pasti sebelum cincin itu diserahkan, Arsen, Reno dan Mimi sudah diberi pengertian." Keyna balas berbisik."Apa yang kalian bicarakan?" Daddy Donald tiba-tiba mencondongkan tubuh dan ikut berbisik pada William dan Keyna.Tanpa malu, Keyna bertanya pada Donald. Tak lama kemudian, lelaki itu permisi untuk menelepon.Tak lama kemudian, Donald kembali. Ia memperlihatkan layar ponselnya kepada William. Lalu ponselnya berpindah ke Keyna, terakhir ke Florence."Aku tau putraku memesan perhiasan dari RichJ
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly