"Brad! Mommy tidak suka kamu berkata begitu." Mommy Florence protes dengan nada tertahan."Asal kalian tau, aku merasakannya begitu."Daddy Donald menggeleng samar. "Kamu masih marah karena petugas tidak mengizinkan kalian masuk kemarin?""Kalau kalian sibuk, kenapa menjadwalkan kami ke sini?""Itu inspeksi mendadak, Brad! Mana kami sempat mengabarimu."Masalahnya, Brandon terlanjur kesal. Ia juga malu pada Kelly. Padahal selama ini Brandon adalah lelaki yang sangat terorganisir kegiatannya."Kamu masih membenci kami?"Brandon menghela napas mendengar pertanyaan Daddy Dalton. "Bukan benci. Tapi, bertahun-tahun aku menjalani terapi, aku memilih mensugesti diri sendiri bahwa aku tidak memiliki orang tua."Spontan, Florence menutup wajahnya dengan kedua tangan. Selama berada di negara Kelly, ia berpikir Brandon mulai bisa dekat. Tapi, ternyata ia salah.Sementara Brandon sebenarnya juga berpikiran sama. Tetapi sedikit saja sesuatu yang salah dari orang tuanya bisa membuat Brandon kembali
Kelly melirik jam tangannya. Ia menunjukkan pada Brandon. Sudah menjelang jam sebelas. Mommy Flo bilang, Kelly akan mulai pemeriksaan di jam tersebut.Dengan wajah agak merah, Kelly membuka pintu. “Sebentar, Mom. Kami siap-siap dulu.”“Mommy tunggu di depan, ya.” Mommy Florence mengangguk dan tersenyum berbarengan.Brandon keluar dari kamar mandi dengan wajah datar. Kelly tergelak melihat sang suami yang harus menahan hasrat. Ia memeluk Brandon dan mencium pipinya.“Sabar, ya.”“Hem.”Mereka berempat keluar dari rumah. Ternyata perjalanan menuju kamp penelitian hanya dengan berjalan kaki. Kelly berjalan di belakang bersama Mommy Florence.“Apa yang tinggal di sini semua adalah ilmuwan?” tanya Kelly.“Iya, itu sebabnya mereka tinggal di dekat kamp agar lebih cepat sampai.”Kelly mengangguk mengerti. Lingkungan itu cukup luas. Rumah-rumahnya berjejer rapi dengan pemandangan gunung di bagian belakang.“Apa Mommy dan Daddy tidak boleh jalan-jalan keluar?”Mommy Florence terkekeh. Ia melin
Semua menunggu jawaban Kelly. Padahal yang ditanya malah asyik makan. Hingga Kelly sadar tiga pasang mata menatapnya penasaran."Mmm... lihat nanti saat aku pertama kali melahirkan. Kalau sakit, aku tidak mau hamil lagi.""Yang kudengar tidak ada melahirkan itu enak, Babe." Brandon terkekeh.Kelly menatap Mommy Florence. "Sakit nggak, Mom?"Mommy Florence tersenyum dan menjawab bijaksana. "Brandon benar. Melahirkan itu sakit. Tapi, setiap wanita memiliki ketahanan pada rasa sakit yang berbeda-beda.""Kalau begitu, sekali saja melahirkan tapi kembar dua atau tiga sekaligus. Aku pernah dengar metode kedokteran untuk program bayi kembar. Ada kan, Mom, Dad?""Oh, tidak." Brandon menggeleng tegas. "Aku ingin cara alami saja."Kini Daddy Donald ikut menimpali. "Karena kalian berdua sehat, pilihan Brandon paling tepat."Kelly banyak bertanya tentang kehamilan, melahirkan dan menyusui. Mommy Florence dan Daddy Donald berganti memberi edukasi kesehatan.Setelah makan, Mommy Florence dan Daddy
“Demi siapa coba?” Brandon balas berbisik.“Demi putranya yang tidak suka keramaian.”“Salah! Demi menantu cantiknya yang pengen nonton teater. Mana ada mereka perhatian padaku. Sejak tadi kamu terus yang dipuji, kan?”Oh ternyata, meskipun acuh pada orang tuanya, Brandon tetap ingin diperhatikan. Kelly jadi ingat dulu saat mereka tinggal di mansion dan Kelly merawat luka di tangan Brandon. Lelaki itu tetap datar namun sikapnya mulai melunak.Lampu ruangan telah diredupkan. Pertunjukan akan dimulai. Kelly mengamati panggung sambil menggenggam tangan Brandon.Alur cerita dimulai dengan seorang wanita cantik namun kumal mencuri bunga-bunga di sebuah taman milik lelaki misterius. Lelaki itu marah namun tidak mau menunjukkan wajahnya karena merasa malu memiliki wajah yang tidak tampan. Ia mengikuti si wanita yang ternyata menjual bunga-bunga ke pasar agar bisa makan.Setiap hari Rabu, lelaki itu selalu mengintip dari kamarnya untuk melihat sang wanita mengambil bunga-bunga. Hingga akhirny
Sejak Kelly benar-benar ngambek, Brandon jadi lebih hati-hati. Meski ekspresinya tetap datar, ia mulai berusaha mengucapkan satu dua kata pada oranng tuanya.Seperti pagi ini saat sarapan bersama, Brandon mengucapkan terima kasih saat Mommy Florence memberinya salad sayuran segar dan telor rebus. Mommy Florence dan Daddy Donald sampai saling melirik mendengar ucapan putra mereka.“Syukurlah besok kalian masih di sini. Mommy dan Daddy mau mengajak kalian ke satu tempat sebelum kalian menlanjutkan perjalanan.” Mommy Florence lalu berkata pada Brandon dan Kelly.“Lho, bukannya Mommy dan Daddy juga bekerja di akhir minggu?” Kelly bertanya karena tau kedua mertuanya tidak pernah libur.“Sebenarnya akhir minggu kami bisa libur bergantian dengan ilmuwan lain, tetapi karena tidak ada yang dikerjakan di rumah, jadi kami memilih tetap bekerja.” Daddy Donald menjelaskan.Kelly mengangguk-angguk dengan ekspresi senang. Untung saja ia bisa merayu Brandon untuk berangkat malam hari ke kota tujuan m
Brandon menoleh dan menatap wajah Kelly. Meski sangat pelan, namun ia masih bisa mendengar apa yang baru saja diucapkan sang istri."Maksudmu seperti Mommy Flo dan Daddy Don?"Kelly mengangguk. "Boleh sih jadi ilmuwan, tapi jangan yang pekerjaannya non stop seperti Mommy Flo dan Daddy Don."Brandon terkekeh. "Lalu, kamu mau anak-anak kita jadi apa?""Apa saja selain ilmuwan, pembalap, model, dokter, apalagi, ya? Kelly tampak berpikir keras.Brandon menggeleng. Ia bertanya kenapa Kelly menyebutkan profesi di atas sebagai pekerjaan yang ia tolak untuk anak-anak mereka."Yaa karena resiko pekerjaannya."Brandon tidak menanggapi lagi. Ia tau Kelly pernah berprofesi sebagai pengusaha, model dan pembalap hanya untuk membantu keluarganya. Hingga saat ini pun, Kelly masih bingung profesi apa yang ingin ia geluti."Tidak perlu kita pikirkan sekarang. Aku pribadi saat ini hanya ingin menikmati setiap moment denganmu." Brandon mengusak kepala Kelly."Iya, aku setuju."Mereka kembali ke rumah din
“Selimut ini hangat sekali.” Kelly berbaring di dada Brandon.Keduanya tanpa busana dan mengobrol setelah bercumbu. Brandon menghela napas panjang dan mengusap lembut punggung sang istri.“Selimut ini dari bahan kasmir. Tentu saja hangat.”“Hah? Kasmir?”Brandon mengangguk. “Di musim dingin, keluarga Richmont akan mengeluarkan selimut dan perlengkapan pakaian berbahan kasmir.”“Aku juga punya selendang kasmir. Tapi selimut? Kalian menggunakan selimut kasmir?” Kelly tergelak.Untuk syal saja, harganya bsa berjuta-juta. Bagaimana selimut yang sangat lebar ini. Kelly yang berasal dari keluarga bilioner saja tak habis pikir dengan gaya hidup keluarga Richmont.“Memangnya kenapa? Kenapa kamu terdengar kaget?”“Tidak, sih. Aku tau keluargamu banyak uang. Hanya selimut kasmir saja mungkin tidak akan membuat kalian bangkrut.”“Memang tidak. Grandpa Albert memiliki peternakan kambing kasmir yang digunakan untuk pembuatan bahan. Jadi, tentu saja kami tidak akan bangkrut.”Kelly mendongak menata
Kelly menggeleng. Setelah menghabiskan satu mangkuk sup, ia kembali meringkuk di dalam pelukan Brandon. Tirai otomatis terbuka di depan mereka.“Kamu ingin melihat ini, Kelly?” Daddy Donald menunjuk ke jendela.Pemandangan luar biasa terpampang di depan mereka. Kelly kembali duduk tegak namun dengan punggung bersandar pada dada Brandon. Matanya menatap takjub pada jendela.“Baguss bangett.”Kristal-kristal es bergelantungan di cabang-cabang pohon. Mereka berkilauan ditimpa sinar matahari. Baik Kelly maupun Brandon tak mampu berkata-kata selain mengamati pemandangan tersebut.“Nanti menjelang jam sebelas, angin dingin biasanya sudah berhenti.” Mommy Florence berkata.“Saat itu lah kita bisa keluar menikmati suasana.” Daddy Donald menambahkan.“Bukan keluar saat angin dingin dengan hanya menggunakan piyama tipis.” Brandon berbisik di telinga Kelly yang langsung memberengut.Mommy Florence dan Daddy Brandon yang mendengar saling berpandangan dan tersenyum tipis.“Tak apa. Kelly belum tau
Demi melihat istrinya senang, Brandon mulai belajar menggendong bayi. Perawat memberi Brandon bayi Arsen yang terlihat paling tenang. Meski begitu, Brandon hanya memegangnya selama tiga detik.“Sudah, Sust. Tanganku mulai gemetaran.”Kelly yang sedang menggendong Reno menggeleng samar. Meski begitu, paling tidak, Brandon mencoba. Reno telah tidur di dekapan Kelly.“Sayang, pangku Reno sebentar.” Kelly meletakkan bantal besar di pangkuan Brandon dan membaringkan Reno di atas bantal tersebut. “Aku mau pipis dan ganti pembalut.”Dengan kaku, Brandon duduk menatap putranya. Ia sama sekali tidak berani bergerak karena takut membangunkan Reno. Tapi, jarinya perlahan mengelus pipir Reno.Brandon tersenyum merasakan betapa halus kulit bayinya. Lama-kelamaan, Brandon mengelus rambut halus Reno, jari-jari tangan dan kaki.“Hatchii!” Tiba-tiba, Brandon bersin. Detik berikutnya, Reno tersentak dan menjerit.“Babe!” teriak Brandon kalut. “Babe, Reno bangun!"“Sebentar, sayang. Aku belum selesai.”
Setelah satu minggu, Kelly dan Brandon bolak-balik ke rumah sakit untuk mengunjungi bayi-bayi mereka, akhirnya si kembar tiga diperbolehkan pulang. Mommy Keyna menggendong Mimi, sementara si kembar Arsen dan Reno duduk di kereta dorong.Kelly dan Brandon mengucapkan terima kasih pada tim dokter dan perawat yang telah membantu mereka. Brandon tentu saja menolak keinginan direktur rumah sakit yang ingin foto keluarganya dipajang di dinding rumah sakit.“Maaf. Demi privasi keluarga Brandon Richmont, saya tidak dapat menuruti permintaan anda.” Ian menolak tegas.“Apa anda sudah mengatakannya pada Nyonya Kelly? Saya pikir Nyonya Kelly tidak akan keberatan.” Tetap saja, direktur memaksa.“Untuk urusan ini, saya yang bertanggung jawab.”Ian melunasi biaya rumah sakit, lalu keluar dari ruang direktur. Audrey yang sejak tadi menemani kagum pada ketegasan Ian.“Memangnya, Brandon sudah bilang tidak mau didokumentasikan?” Audrey bertanya seraya mengiringi langkah Ian.“Tidak. Tapi, aku tau watak
"Iihhh... jangan disentuh! Sakit!" Kelly memindahkan tangan suaminya yang mengenai dada."Sakit?" Spontan, Brandon mengamati dada Kelly."Ini sedang bengkak. Perlu dipompa ASI-nya." Kelly berkata santai sambil menatap langit malam yang dihiasi gemerlap kembang api."Kenapa nggak dipompa sekarang kalau sakit?""Aku tunggu Mommy Key.""Mau aku bantu?"Kelly menggeleng. Bukan membantu namanya jika Brandon yang membimbing. Yang ada suaminya itu malah khawatir berlebihan."Nanti kalau aku sudah mahir, kamu boleh lihat. Sekarang, masih belajar.""Kenapa masih belajar aku nggak boleh lihat?""Aku malu, Brad."Meskipun masih ingin membahas masalah pompa ASI ini, Brandon memilih diam. Salah bicara bisa berakibat istrinya ngambek dan Brandon tidak ingin itu terjadi.Entah berapa uang yang dihabiskan Marc malam ini untuk pesta kembang api. Kalau dipikir-pikir, keluarga Dalton memang sering merayakan moment bahagia dengan cara seperti ini.Sambil memeluk pinggang Kelly, Brandon mengamati sekitar.
“Kak Dheena , kakak itu lagi... hamil?” Kelly bertanya lembut sambil menatap mata kakak ipar-nya.Dheena tersentak sedikit. Ia dan Della berpandangan, hingga Della memberi Kelly senyum.“Beneran, Kak?” Brandon mendesak jawaban.“Nggak papa. Sudah terlanjur ketauan.” Della terkekeh pada Dheena.Detik berikut Kelly menjerit dan memeluk Kak Dheena. Membuat semua anggota keluarga menatap mereka. Tentu saja akhirnya, kini mereka dikerubungi keluarga.“Kak Dheena hamil!” Kelly berteriak membuat semua orang melongo terutama Daddy Donald dan Mommy Florence.“Dheena! Kenapa kamu tidak bilang-bilang? Sudah berapa bulan?” Mommy Florence menghampiri putrinya dan mengelus perutnya. “Ya Tuhan, ini sudah cukup besar.”Dheena tersenyum lalu mengusap perutnya. Clark mendampingi istrinya dan mengusap-usap punggung Dheena.“Usia kandungannya sudah hampir enam bulan, Mom.” Clark yang menjawab pertanyaan Mommy Florence.Detik berikutnya, banyak pelukan yang didapat Dheena dan jabatan tangan yang harus dib
Dengan raut bahagia, Kelly menunjukkan pada keluarganya tentang hadiah dari Brandon. Mommy Florence menatap putranya dan mengacungkan jempol karena bangga sang putra begjtu menyayangi istrinya."Meski bentuknya berbeda, aku harap semua cincin itu memiliki harga yang sama." William berbisik pada Keyna.Cepat, Keyna menyikut pinggang sang suami. "Kenapa kamu mempermasalahkan nilai-nya? Yang penting adalah makna-nya."Namun, William tetap membalas, "Takut nanti anak-anak itu merasa dibedakan.""Pasti sebelum cincin itu diserahkan, Arsen, Reno dan Mimi sudah diberi pengertian." Keyna balas berbisik."Apa yang kalian bicarakan?" Daddy Donald tiba-tiba mencondongkan tubuh dan ikut berbisik pada William dan Keyna.Tanpa malu, Keyna bertanya pada Donald. Tak lama kemudian, lelaki itu permisi untuk menelepon.Tak lama kemudian, Donald kembali. Ia memperlihatkan layar ponselnya kepada William. Lalu ponselnya berpindah ke Keyna, terakhir ke Florence."Aku tau putraku memesan perhiasan dari RichJ
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly
Tanpa menoleh, Brandon hapal suara siapa yang bicara dengannya. Ia mengangguk dan membalas, "Terima kasih.""Kamu masih marah padaku?"Brandon menoleh menatap Ian. "Marah?""Kamu jarang bahkan hampir tidak pernah menghubungiku." Ian menghela napas berat. "Bahkan saat istrimu melahirkan pun, kamu tidak mengabariku.""Kupikir kamu sibuk dengan... Audrey."Gantian kini Ian yang menoleh ke samping menatap Brandon. "Aku sibuk mengurusi semua bisnismu!"Brandon mengerutkan kening, lalu membalik tubuhnya ke samping menghadap Ian. "Mulai keberatan dengan pekerjaan? Apa sekarang kamu kekurangan waktu karena telah memiliki tunangan? Mau resign?"Ian menatap tajam mata sahabatnya. "Aku nggak pernah ngomong begitu. Tapi kalau kamu memang mau aku mundur, ya sudah."Hening seketika. Dalam sejarah persahabatan mereka, moment ini adalah yang pertama kalinya mereka bertengkar sengit.Brandon menghela napas panjang, lalu kembali menatap jendela di mana bayi-bayinya sedang tidur. Ian mengikuti apa yang
“Kenalkan, Arsenio Elzhan Richmont, Arvenio Elvert Richmont dan Kyomi Lovella Richmont.” Brandon menunjuk bayi satu, dua dan tiga pada keluarga Richmont dan Dalton.Bayi-bayi mungil itu sekarang berada di dalam inkubator dalam satu ruangan steril. Mereka dapat melihat jelas melalui jendela lebar. Wajah-wajah tampan dan cantik itu menarik perhatian semua anggota keluarga.“Kecil banget, Tuhan.” Sacha menatap ketiga bayi dengan takjub.“Ya kali, bayi lahir langsung gede, Kak.” Louis menyahut sewot. “Kaya nggak pernah lahiran aja komentarnya.”Sacha mencebik pada Louis. Keduanya lalu sibuk mengabadikan keponakan-keponakan mereka dan membagi foto-foto tersebut ke kerabat dan media sosial.Mommy Keyna tampak tak dapat menahan rasa haru. Setelah sebelumnya menyaksikan ketiga anak sambungnya melahirkan, kini ia dapat merasakan putri kandung satu-satunya memiliki anak. Tiga sekaligus.“Akhirnya aku memiliki cucu dari darah dagingku sendiri.” Mommy Keyna bergumam.“Jangan sampai Fred, Sacha da
Netra Ian berputar ke sekeliling kafe, mencari sosok yang ia tunggu. Lalu, lelaki itu melirik arlogi mewahnya.Sudah terlambat lima belas menit dari janji yang ditetapkan.Untuk membuang waktu, Ian menatap ponsel. Beberapa hari ini tidak pernah ada pesan dari Brandon. Padahal sebelumnya, sahabatnya itu bisa mengirim pesan dua sampai lima kali sehari.Apa Brandon semarah itu padanya? Sungguh, Ian merasa cukup tersiksa dengan keadaan ini."Hai, Yan.""Oh." Ian tersentak kaget saat melamun. Ia langsung tersenyum pada wanita yang menyapanya. "Hai, Jasmine.""Maaf menunggu lama." Jasmine membalas dan duduk di depan Ian.Ian tersenyum penuh pengertian. "Itu tandanya, pasienmu banyak, bukan?"Jasmine terkekeh. "Lumayan lah."Ian memandang wanita di depannya yang sedang menyeduh teh. Jasmine lebih kalem saat ini. Boleh dibilang ia telah menjelma menjadi wanita dewasa yang lebih elegan."Terima kasih mau menemuiku, ya." Ian berucap.Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk. Ini kali pertama mere