Beranda / Romansa / Terjerat Cinta Sang Fotografer / Ciuman Di Tempat Rahasia

Share

Ciuman Di Tempat Rahasia

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-09 14:19:17

CATALEYA

Aku terbangun karena merasa lapar dan mendapati Fai tidak berada di sebelahku. Tadi aku bohong padanya waktu mengatakan sudah makan. Aslinya perutku belum berisi apa-apa. Namun sekarang aku sudah tidak bisa menahannya.

Menggunakan baju kaos Fai yang longgar di badanku, aku turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar.

Televisi di ruang tengah sedang menyala tapi ditinggal tidur oleh penontonnya, Fai dan Kenzio.

Selama beberapa saat pemandangan yang tersaji di depan mata memaku gerakanku.

Kedua saudara itu tidur di lantai beralaskan karpet setelah menyingkirkan meja di dekat sofa. Walau mereka tinggal di benua yang berbeda tapi Fai dan Kenzio tampak begitu dekat. Ikatan persaudaraan di antara mereka sangatlah kuat.

Aku meninggalkan keduanya yang sedang pulas dalam tidur masing-masing saat merasa perutku semakin lapar.

Hanya ada makanan ringan seperti roti saat aku memeriksa ruang belakang. Setangkup atau dua tangkup roti tidak akan mempan mengganjal perutku. Aku butuh lebih
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Malam Yang Panjang

    CATALEYA“Dijawab aja telfonnya, Leya,” suruh Fai setelah aku memperlihatkan layar ponsel yang terdapat nama Alan padanya.Aku menggelengkan kepala dan bermaksud me-reject panggilan dari Alan tapi Fai memaksaku agar menerima panggilan tersebut.“Alan nggak biasa nelfon kamu tengah malam begini. Siapa tahu ada yang penting.”Aku pikir dugaan Fai ada benarnya juga. Selama ini setiap kali bersama dengan Fai Alan memberiku waktu. Tidak sekali pun menghubungiku. Maka aku memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.“Halo.”“Kamu di mana?” suara berat Alan langsung menyambutku tanpa salam pembuka.“Di rumah temen.”“Di rumah temen yang mana?”Aku melirik ke arah Fai sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Fai tidak boleh tahu kalau Alan melegalkanku untuk berhubungan dengannya. Seakan ingin memberiku kebebasan untuk berbicara, Fai beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil air minum di dispenser.“Temen yang biasa,” jawabku pelan.“Fai?”“Iya.”“Katanya kamu lagi sakit, kenapa masi

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Lepas Perjakanya Tetap Sama Kamu

    Harapanku yang tidak ingin kami berpisah kandas begitu saja. Aku melihat Fai menggeret kopernya. Di pundaknya tersandar sebuah ransel.Fai mau ke mana? “Fai!” Aku berteriak memanggilnya. Tapi Fai tidak menyahut. Entah karena suaraku yang terlalu pelan sehingga tidak sampai di telinganya.“Fai, tunggu!” Aku memanggilnya sekali lagi dengan suara yang lebih keras. Tapi Sama seperti sebelumnya Fai tidak memberiku respon apa-apa. Fai menggegas langkah semakin jauh meninggalkanku.Aku ingin berlari mengejarnya, tapi seseorang menahan tanganku.Saat aku menoleh aku mendapati Alan. Dia mencekal lenganku."Lepasin aku, Lan!""Kamu nggak akan ke mana-mana, Leya." Cengkraman Alan bertambah kuat mengunci tanganku."Lepasin aku, Lan!!! Aku harus bicara sama Fai," sentakku tajam."Jangan harap! Kamu nggak akan pernah bertemu dia lagi."Aku menatap Alan lekat dan menemukan sorot dingin di manik matanya."Waktu kalian sudah selesai. Sekarang kamu kembali jadi istriku!""Nggak, nggak, aku nggak mau!!

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Rahasia Yang Terungkap

    CATALEYA“Hati-hati ya,” ucapku saat Fai memberi kecupan di dahiku.“Kamu juga,” balasnya sambil membelai pipiku.Aku menyentuh tangan Fai itu lalu mengecupnya dan berbisik di dalam hati, aku sayang kamu, Fai. I love you more than bed friend.Lalu aku turun dari mobil Fai. Setelah Jeep yang dikendarainya menghilang dari ruang mata aku membawa langkah lesu menuju rumah. Tadi aku merengek pada Fai agar mengizinkanku ikut ke lokasi pemotretan. Tapi dia tidak memberi izin dengan alasan orang-orang bisa curiga. Masalahnya aku selalu nempel di manapun Fai berada. Aku sering menemaninya di studio hampir seharian. Bahkan aku lebih sering bersama Fai daripada Alan. Pernah aku mendengar celetukan salah satu kru di belakangku.“Yang suaminya Mbak Leya lo atau Pak Alan sih?”Fai hanya tertawa lalu mengatakan bahwa aku sedang belajar fotografi padanya. Syukurlah orang-orang itu percaya. Padahal aku berharap agar skandalku dengan Fai tercium agar aku bisa lepas dari Alan.Aku melihat mobil Alan ter

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Don't Shit Where You Eat

    CATALEYASatu hal yang kusesali adalah karena aku lupa menyembunyikan foto hasil USG. Aku sengaja meletakkannya di dalam tas karena menurutku aman berada di sana. Fai tidak pernah membuka-buka tasku untuk mengetahui apa isinya. Dia juga tidak pernah mengutak-atik ponselku. Fai sangat menghargai privasiku. Namun aku lupa ada seseorang bernama Alan yang menjadi bagian dari universeku. Dan Alan bukan Fai.Aku melangkah lesu mendekati Alan lalu berdiri di hadapannya.Menyadari keberadaanku, Alan mengangkat wajah, mengalihkan perhatiannya dari foto tersebut lalu bertanya, “Leya, ini punya kamu? Kamu lagi hamil?”Aku tidak mungkin berbohong. Namaku tertera dengan jelas di foto tersebut.“Kenapa nggak minta izin dulu sama aku?” ujarku tidak suka.“Izin apa?” Alan balas bertanya. Kerutan di dahinya begitu dalam.“Seharusnya kamu bilang dulu, bukannya main periksa tas aku.”“Apa? Minta izin? Kenapa harus minta izin? Kamu kan istri aku. Baru kali ini aku dengar ada suami yang harus minta izin u

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-11
  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   What's Wrong With Cataleya?

    FAIAku meletakkan ponsel dengan lesu. Beragam tanya berkumpul di kepalaku. Hampir seminggu ini Cataleya begitu sulit dihubungi. Setiap aku menghubungi nomornya kalau bukan sibuk pasti operator yang menjawab. Dia juga tidak pernah meneleponku atau mengirimiku pesan untuk sekadar menanyakan kabarku atau memberitahu keadaannya.What's wrong with Cataleya?Lebih kurang satu minggu ini aku berada di luar kota. Pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Kesibukan membuat interaksi dengan Cataleya berkurang drastis. Lalu sekarang I miss her so bad.“Lo mau langsung pulang, Fai?”Aku memandang ke arah Tyo mendengar pertanyaan itu. Dia sedang mematikan soft box serta mengemasi photo props. “Huum, capek banget soalnya.” Dusta itu tercipta.Ini adalah hari pertamaku di Jakarta setelah satu minggu yang hectic. Aku berniat untuk mengunjungi rumah Cataleya. Nanti di mobil aku akan mencari alasan yang masuk akal agar bisa diterima orang-orang di rumahnya. Lucu aja sih, aku terlibat kerjasama bisn

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-11
  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Hampir Gila

    FAIAku menegakkan duduk lalu menegaskan tatapanku pada Alan. Sejujurnya aku nggak masalah kalau kontrak kerja itu dipersingkat. Itu artinya aku bisa pulang ke negaraku. Masalahnya, kondisinya berbeda. Ada Cataleya yang telah mengambil bagian dalam kehidupanku. Aku belum siap berpisah dengannya secepat itu."Lan, jika pada akhirnya aku tetap dibayar full kenapa kontrak kerjaku harus diakhiri lebih cepat?" Aku menanyakannya dan berharap Alan akan memberi jawaban yang bisa memuaskan keingintahuanku."Aku mengerti pasti kamu akan bertanya begini. Aku paham kalau kamu penasaran. Dan jawabannya adalah karena aku sudah terlanjur merekrut fotografer baru. Jujur, dia kubayar jauh berkali lipat lebih rendah dari kamu, Fai. Jadi untuk satu bulan yang tersisa aku akan gunakan rentang waktu tersebut sebagai masa probation buat fotografer yang baru. Jadi setelah masa kontrak kamu selesai dia akan langsung kerja. Aku harap pengertian dari kamu, Fai. Kamu sama sekali tidak dirugikan dalam hal ini. K

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-12
  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Penasaran

    FAIAku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah pukul lima sore. Sebentar lagi kami akan boarding lalu terbang ke Denpasar. Kami yang aku maksud adalah aku, team studio serta para model Star Management yang jumlahnya tidak kurang dari sepuluh orang."Lo kenapa sih, Fai, dari tadi gue liat gelisah kayak orang lagi sakau," celetuk Tyo mengomentari tingkahku.Selain melihat arloji berkali-kali aku juga memeriksa ponsel berulang-ulang, hanya untuk memastikan ada balasan pesan dari Cataleya. Lalu aku berjalan mondar-mandir seperti orang bingung."Lo lagi nunggu seseorang?" tanya Tyo lagi.Aku menghela nafas panjang. Aku menunggu Cataleya. Itu pun jika dia tahu bahwa saat ini aku akan pergi untuk waktu yang lama. Tapi tidak ada tanda-tanda dia akan datang. Mungkin dia memang tidak tahu. Tapi seharusnya dia mengetahuinya dari Alan."Yo, Leya tau kita berangkat ke Bali sore ini?" Aku terpaksa menanyakannya pada Tyo di ujung rasa putus asa."Lho, kenapa nanya gue? Semestinya

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-12
  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   We're Done

    FAIDenpasar menyambut kami dengan cuacanya yang bersahabat. Sudah ada orang yang menunggu di bandara lalu mengantar kami ke hotel. Di saat para model dan kru lain heboh bercengkrama, aku duduk melamun sendiri. Posisiku yang berada di pinggir jendela begitu menunjang membuat pikiranku mengelana.Aku memikirkan Cataleya. Aku tidak mampu mengenyahkannya dari kepalaku. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya saat pulang ke Amerika nanti? Sedangkan saat ini saja—mengutip istilah Tyo, aku sudah seperti orang sakau.Kami tiba di hotel. Di sinilah tempatku berdomisili bersama yang lainnya selama dua minggu ke depan.Di saat para model harus berbagi kamar dengan rekannya, begitu pun dengan para kru, aku mendapat kamar untuk ditempati sendiri.Setibanya di kamar aku langsung menghubungi Cataleya. Dan hasilnya adalah berujung dengan kegagalan yang mengecewakan.Ah, Cataleya. Entah apa yang terjadi padanya.Sebesar apa kesalahan yang sudah kulakukan hingga dia menjauh? Apa ini adalah cara untuk me

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-13

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Yang Di Hati Cuma Satu

    FAIRasti tidak berkata apapun dalam perjalanan pulang setelah dari airport. Dia duduk membeku di sebelahku dengan tangan terlipat di depan dada. Padahal biasanya Rasti adalah orang paling ceria yang pernah kukenal. Dia seperti tidak pernah kehabisan topik pembicaraan untuk dibahas.Serupa dengannya, aku juga memilih untuk menutup mulutku lalu memusatkan konsentrasi menyetir.Mobil yang kukendarai baru menghabiskan setengah perjalanan ketika pada akhirnya Rasti berbicara.“Fai …”Aku menggerakkan kepala memandang padanya.“Cataleya itu sebenarnya siapa?”“Maksud kamu gimana, Ras?”Aku tidak mengerti apa maksud dan tujuan Rasti menanyakannya. Bukankah aku dan dia sudah sama-sama tahu siapa Cataleya? Bahkan Rasti berinteraksi cukup intens dengan Cataleya.Rasti mengembuskan napasnya. Matanya menyorotku dengan tajam.“Kamu bilang dia istri dari pemilik agensi yang bekerjasama dengan kamu, tapi kenapa kalian bisa sedekat itu?”“Dekat gimana?”“Kamu menyuruh dia tidur di kamarmu, Fai, seda

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Pelukan Terakhir

    CATALEYASiang ini Rasti merealisasikan keinginannya. Dia mengajakku ke rumah orang tuanya. Kami pergi bertiga.Sepanjang perjalanan Rasti bercerita banyak mengenai hidupnya. Tentang orang tuanya, tentang pekerjaannya dan kegiatannya sehari-hari. Dia gadis yang sangat beruntung. Selain memiliki orang tua yang masih lengkap, harta benda yang berlimpah, pewaris tunggal perusahaan dan seluruh aset orang tuanya, dia juga memiliki lelaki yang mencintainya."Welcome to my house, Cataleya.”Mataku berpendar menatap rumah megah dengan pilar-pilar tinggi dan jendela besar membingkainya. Berbeda dengan rumah Fai yang bernuansa vintage, rumah Rasti bernuansa Amerika modern.Kami lalu turun dari mobil. Aku rasa Rasti sudah memberitahu perihal kedatangan kami pada keluarganya. Seorang perempuan yang kurasa seumuran dengan mertuaku menyambut kami."Mommy, ini Cataleya. Dia adalah partner kerja Fai waktu di Indonesia. Leya, ini ibu aku." Rasti mengenalkan kami berdua.Mamanya Rasti yang belakangan k

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Baper

    FAI“Itu kalau kamu mengizinkan.”“Memangnya apa alasan aku untuk nggak mengizinkan kamu? Kamu yang punya kuda ini. Aku cuma numpang.”“Ssstttt … aku nggak suka kamu bilang begitu, Leya. Sekarang ayo naik. Kamu mau di depan atau di belakang?”“Di depan.” Cataleya menjawab mantap tanpa keraguan.Aku membantunya naik, lalu setelah dia berada pada posisi yang pas di atas punggung Queen, aku menyusul duduk di belakangnya.Queen mulai bergerak membawa kami mengitari halaman belakang rumah tanpa kuperintahkan.“Seru banget ternyata,” kata Cataleya dari depan.Aku tersenyum di belakangnya.“Fai, nggak bisa ya kalau lebih kencang lagi?”“Kamu nggak takut memangnya?”“Kenapa harus takut? kan ada kamu.” Cataleya menjawab diiringi gerakan kepalanya menoleh ke arahku.Ucapan Cataleya membuatku kehilangan kata untuk sesaat. Hanya ucapan biasa tapi bisa-bisanya membuatku terbawa perasaan.“Sekarang kamu tarik talinya tiga kali,” suruhku kemudian.Cataleya melakukan intruksiku. Detik itu juga Queen

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Do You Really Love Her?

    CATALEYAMalam ini akhirnya aku check out dari hotel ditemani Fai dan Rasti. Sejak tadi Rasti tidak pulang ke rumahnya. Dia selalu menempel pada Fai seperti lintah. Aku berpikir jangan-jangan sudah berhari-hari Rasti menginap di rumah Fai. Dan mereka hanya berdua. Mereka bisa melakukan segalanya.Lalu sekarang hatiku kembali diuji saat menyaksikan keduanya bermesraan di hadapanku. Fai menyetir. Rasti duduk di sebelahnya sambil sesekali menyandarkan kepala ke pundak Fai sedangkan aku duduk sendiri menjadi nyamuk di belakang. Saat Fai bersiul mengikuti musik dari audio mobil, Rasti ikut bersenandung kecil. Mereka terlihat begitu kompak dan mesra. Mereka selaras dan serasi. Keduanya couple goals abad ini yang pernah aku lihat.Setiba di rumah, Rasti mengatakan padaku bahwa aku harus pindah kamar."Leya, kamu tidur di kamar Cleo aja ya."Aku hanya bisa menurut apa kata tuan rumah. Aku hanya tamu di sini. Dan bisa kutebak Rasti akan tidur berdua di kamar Fai. Kenapa bukan aku saja yang ber

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Rindu

    FAIAku menemukan Rasti dan Cataleya sedang berbincang di kamarku. Keduanya langsung menutup mulut rapat-rapat saat melihatku muncul.“Kok pada diam? Pasti tadi lagi ngomongin aku?” tudingku memandang keduanya bergantian.“Ih, GR!” Rasti mengelus pipiku mesra yang membuatku salah tingkah karena dia melakukannya di depan Cataleya.Sedangkan Cataleya hanya tersenyum tipis menyaksikan kami.“Dari mana aja sih tadi?”“Beliin apel buat Queen, sama buat Leya juga.” Aku menunjukkan dua bungkusan yang berbeda.Rasti menatapku penuh tanda tanya tapi tidak mengatakan apa-apa.“Queen itu kuda yang kamu pernah kamu ceritain ya, Fai?” tanya Cataleya menyela.“Yup. She is my girl.”“Nope. She’s not your girl anymore,” sanggah Rasti tidak setuju. “I’m your girl.” Dia melanjutkan sambil menyandarkan kepalanya ke perutku yang berdiri di dekatnya sedangkan kedua tangannya melingkariku dengan begitu protektif.Aku memaksakan senyum kaku. Situasi ini membuatku canggung.“Anyway, kamu udah makan, Leya?” A

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Hati Yang Terluka

    CATALEYARasti lalu terdiam. Dia memandangku lekat dan dalam yang membuatku sedikit salah tingkah. Apa yang saat ini sedang dipikirkannya mengenaiku?"Cataleya, kamu ngerasa nggak sih kalau kita itu mirip?"Ternyata bukan hanya pikiranku. Rasti juga merasakannya."Dari awal tadi kita kenalan aku juga ngerasa gitu, Ras. Makanya aku heran."Rasti tersenyum. "Katanya ada tujuh kembaran kita di dunia. Jangan-jangan aku dan kamu adalah di antaranya," ucapnya berfilosofi."Bisa jadi sih,” jawabku setuju. Aku juga pernah mendengar mengenai hal tersebut. Dulu aku masih kurang percaya. Namun setelah bertemu dengan Rasti aku mulai meyakininya sedikit demi sedikit."Leya, kamu di Indonesia tinggal di mana?""Jakarta.""Kamu asli Indonesia?"Kalau sudah menyangkut mengenai silsilah dan asal usul terasa ada yang mengganjal di hatiku. Walau menyakitkan tapi aku nggak ingin mengingkari asal usulku. Aku ada di dunia karena kedua orang tuaku."Nggak juga. Aku ada darah Belanda."Pengakuan jujurku memb

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Mau Cemburu Tapi Nggak Berhak

    CATALEYASaat pertama kali membuka mata yang tertangkap oleh lensaku adalah wajah cemas Fai dan kekasihnya. Sedangkan aku terbaring lemah dikelilingi keduanya. Menilik dari cat dinding ruangan ini aku yakin ini bukanlah hotel tempatku menginap."Fai, aku di mana? Aku kenapa?" suaraku lirih."Tadi kamu pingsan, Leya," jawab Fai memberitahu."Pingsan?" Dahiku berkerut.Aku memaksa otakku mereka ulang kejadian itu. Seingatku tadi aku numpang ke kamar mandi diantar Rasti. Lalu dia meninggalkanku sendiri. Setelah selesai buang air aku merasa kepalaku yang berat tidak hanya sekadar berat tapi juga pusing. Lalu setelahnya aku jatuh terkulai dalam keadaan duduk di depan pintu kamar mandi.Sontak aku memegang perut. Untung tadi aku tidak jatuh saat berdiri yang akan membahayakan calon anakku. Calon anak Fai. Calon anak kami berdua."Sudah ingat?" tanya Fai memandangiku.Kepalaku bergerak perlahan membentuk anggukan."Sekarang aku di mana?""Kamu di kamarku, Leya. Tadi aku menelfon dokter, tapi

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Pingsan

    CATALEYAGadis yang berdiri di hadapanku saat ini dengan hanya menggunakan sweatshirt dan loose pants terlihat begitu cantik kendati rambutnya terlihat kusut. Mungkin dia sedang tidur saat aku membunyikan bel.Siapa dia sesungguhnya? Fai bilang jika dia hanya dua bersaudara. Dan perempuan di hadapanku bukan Cleo. Fai pernah menunjukkan foto adiknya padaku yang jelas-jelas bukan gadis ini. Karena gadis di hadapanku ini terlihat memiliki sedikit kemiripan denganku. Hidungnya, bibirnya, terlebih matanya bagai meng-copy milikku. Yang berbeda dari kami adalah tubuhnya yang tidak seberisi aku.Kami saling menatap dengan pikiran yang tersimpan di kepala masing-masing. Dia juga tampak bingung. Mungkin pikirannya sama denganku. Menyadari bahwa kami memiliki beberapa kesamaan.“Good morning, is this Fai’s House?” Aku menyapanya setelah terbangun dari ketermanguan.Gadis itu mengangguk sebelum berkata, “Who are you?”“I’m Cataleya from Indonesia.” Aku mengenalkan diri dengan ramah, tak lupa mema

  • Terjerat Cinta Sang Fotografer   Someone Is Looking For You

    FAIAku membiarkan Rasti pergi lalu memejamkan mata merenungi perbuatanku. Rasti mungkin akan merasa tersakiti kalau tahu aku menganggapnya sebagai Cataleya. Tapi jujur, aku tidak bermaksud menjadikannya sebagai pelarian.Aroma chamomile kembali menyerbu hidungku bersamaan dengan suara gadisku.“Fai, someone is looking for you.”CATALEYAAku tersentak ketika mendengar suara alarm. Spontan tanganku meraba-raba mencari ponsel. Tadi aku memang menyalakan alarm karena takut kebablasan tidur sampai sore.Sambil menutupi mulut yang menguap dengan telapak tangan, aku mematikan alarm. Tidur hanya satu jam tidak membantu memulihkan tenagaku. Kepalaku terasa berat serta ingin muntah. Entah ini karena jet lag atau karena pengaruh kehamilanku.Dan aku benar-benar muntah ketika masuk ke kamar mandi. Saat berkaca di cermin aku melihat mukaku pucat selain pipiku yang tampak lebih berisi dari sebelum hamil dulu.Wajah Fai melintas seketika.Pikiran-pikiran tentang bagaimana reaksinya setelah tahu men

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status