Clara tersenyum nakal. Ia mencium bibir Ansel sekali lagi dan meluruskan tubuhnya sehingga ia duduk di atas Ansel. Panggulnya bergerak maju mundur menggesek kejantanan Ansel sementara tangannya mempreteli pakaiannya sendiri. Seluruh pakaiannya terlepas dalam waktu beberapa detik saja.Ansel meneguk liurnya. Tak kuasa menahan birahinya yang kembali memuncak karena melihat tubuh bugil kekasihnya itu. Clara mengangkat sedikit tubuhnya dan memposisikan intinya tepat di atas kejantanan Ansel. Dengan perlahan, ia memasukkan benda itu ke dalam bagian intimnya. Setiap senti benda itu masuk membuat sekujur bulu kuduk Clara meremang. Ia merintih pelan merasakan sensasi penuh di bagian bawahnya.Setelah milik Ansel sepenuhnya tenggelam di dalam intinya, Clara mulai bergerak di atas tubuh Ansel. Panggulnya maju mundur dan sesekali bergerak dalam lingkaran kecil. Kejantanan Ansel bergerak dengan leluasa di dalam inti Clara. Menyapu ke setiap sisi dan menjangkau titik-titik sensitif di dalamnya.An
Clara dan Ansel baru saja mendarat di Jepang untuk liburan mereka selama lima hari. Keduanya sangat antusias untuk menjalani liburan pertama mereka sebagai kekasih. Ansel bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena sejak tadi ia terus menerus menjepret Clara dengan kameranya. Bahkan dari seribu foto yang ada di kameranya, sembilan ratus di antaranya adalah foto Clara dan seratus lainnya adalah foto pemandangan yang indah. Sungguh Ansel sudah benar-benar terikat dengan cintanya pada Clara.Keduanya berjalan menyusuri Haneda Airport dengan tangan yang bergandengan. Sementara tangan mereka yang tidak bertautan menarik koper masing-masing. Sesekali Ansel akan mencuri pandang ke arah Clara dan melihat wajah gadis itu yang tersenyum sangat cerah secerah musim panas Jepang saat itu.Setelah keluar dari bandara, Ansel dan Clara bergegas menuju hotel dengan menggunakan taksi. Hotel tersebut akan menjadi tempat mereka menginap selama beberapa hari ke depan. Dan Ansel sudah memilih h
Kolam air panas ryokan itu menjadi saksi permainan cinta lainnya oleh Ansel dan Clara. Clara melingkarkan kedua kakinya di pinggul Ansel dan duduk di pangkuannya. Sementara tangannya meremas lembut kedua pundak Ansel. Bibirnya tak bisa berhenti melumat bibir Ansel dan begitu pula dengan kekasihnya itu.Setelah puas saling membelit lidah, Ansel menciumi leher Clara yang jenjang lalu kedua dadanya yang ada tepat di depan wajah Ansel. Mulutnya mengulum salah satu puncak dada Clara sementara tangannya memilin puncak yang lain. Alhasil Clara menggeliat pelan di atas pangkuan Ansel. Ia membusungkan dadanya dan mendekap erat wajah Ansel disana. Memberikan Ansel jalan yang luar biasa untuk menjamah setiap lekuk dada Clara.Tangan Ansel bergerak mengelus dan membelai sekujur tubuh Clara sementara mulutnya bergantian menghisap dada gadis itu. Ia lalu meluncurkan tangannya di bagian intim Clara. Jemari Ansel bergerak mengusap-usap bibir kewanitaan Clara. Dan sepersekian detik kemudian, dua jari
Shinjuku Gyoen adalah taman nasional yang dikelola oleh Kekaisaran Jepang. Tempat itu sangat luar biasa. Bukan hanya bunga sakura, ribuan jenis bunga lainnya tersusun dengan apik disana. Warna warna indah bermekaran di setiap sudut taman dan begitu memanjakan mata setiap orang yang berkunjung.Khususnya Clara, gadis itu sangat menyukai tempat seperti ini. Karena itulah dulu Clara bersikeras ingin mengajak Ansel ke taman bunga di Singapura. Dan begitu pula halnya dengan kali ini. Clara sangat ingin berjalan-jalan di antara bunga yang indah tersebut. Merasakan musim panas Jepang sembari duduk berpiknik seperti warga lokal.Keduanya bergandengan tangan menyusuri jalan yang membelah taman itu. Clara menatap takjub sekelilingnya. Mulutnya tak berhenti berdecak kagum memuji keindahan taman tersebut. Dan Ansel juga tak henti-hentinya memandang Clara seolah tak ada satupun yang lebih cantik dibandingkan Clara."Bukankah tempat ini sangat indah, Sayang?" Tanya Clara seraya menebar pandangannya
Pelayan itu menoleh dan tampak begitu terperanjat saat mendengar namanya dipanggil oleh salah satu pelanggannya. Ia melihat ke sisi kanannya dan menemukan seorang gadis yang sangat ia kenal. Gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah Clara, sepupunya sendiri.Clara tampak sama kagetnya dengan pelayan itu. Tanpa sadar mulutnya memanggil nama sepupunya tersebut "Stefani?!"Pelayan itu tampak panik. Wajahnya seketika menjadi pucat seperti tidak ada darah yang mengalirinya. Tampak jelas rasa gugup yang menggunung di wajahnya. Dengan tergesa-gesa, pelayan itu langsung meletakkan pesanan Ansel dan Clara tanpa berkata sepatah kata pun."Stefani? Kamu Stefani kan? Anaknya Tante Ana?" Ucap Clara lagi berusaha memastikan.Pelayan itu secepat mungkin menyelesaikan pesanannya, membungkuk, dan segera pergi."Maaf, Anda salah orang." Ucapnya sembaru berlari cepat kembali ke dapur.Clara menggelengkan kepalanya. Entah ia meragukan ingatannya atau gadis itu yang tidak mengingatnya. Tapi Clara yaki
Stefani tampak benar-benar kacau. Wajahnya pucat dan kurus, matanya cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya, dan yang lebih mengejutkan, perut Stefani tampak membesar. Membulat seperti seorang wanita yang hamil lima bulan.Clara mengerjapkan matanya beberapa kali. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya."Kamu hamil, Stef?" Tanya Clara tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.Stefani mengangguk pelan. Matanya tampak berair seolah ia menahan air matanya dengan begitu susah payah. Clara melihat ke arah sekeliling dan menyadari bahwa tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk berbicara. "Bisa kita berbicara di tempat lain?"Stefani menghela nafas pelan. Ia membuang wajahnya sambil menyeka air matanya dengan kasar."Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Clara."Clara meraih tangan Stefani. Ia bersikeras bahwa mereka berdua harus membicarakan banyak hal. Setidaknya alasan kenapa Stefani tidak datang di pemakaman ibunya sendiri. "Kita harus bicara dan aku tidak menerima penolakan apap
Ansel meraih tangan Clara dan menggenggamnya erat. Ia mendaratkan ciuman di tangan itu sembari keduanya berjalan bersisian menuju hotel tempat mereka menginap."Bagaimana dengan Stefani? Apakah dia mau melakukannya?" Tanya Ansel saat keduanya sudah masuk ke dalam kamar hotel mereka.Clara memeluk Ansel dengan erat. Entah kenapa pelukan Ansel terasa seperti hal yang paling tepat saat ini. Tubuhnya letih tapi hatinya lebih letih karena merasakan kepedihan yang dialami Stefani. Dan mendekap Ansel membuatnya terasa jauh lebih baik."Untungnya dia mau melakukannya. Stefani akan pulang ke Indonesia tiga hari lagi. Aku sudah membelikan tiket dan mengabari ibuku untuk semuanya. Aku hanya berharap Stefani tidak berubah pikiran di saat-saat terakhirnya."Ansel mengusap-usap punggung Clara dengan lembut."Dia tidak akan berubah pikiran, Sayang."Clara menyenderkan kepalanya di dada Ansel. Isak tangisnya yang pelan terdengar menggetarkan dada Ansel."Kita tidak pernah tahu, Sayang. Mungkin saja p
Clara mengerjapkan matanya berkali-kali. Apa-apaan ini? Apakah ia tidak salah mendengarnya? Ansel akan pulang ke Inggris? Tapi bagaimana dengan Clara? Mereka bahkan baru resmi berkencan selama enam bulan! Dan rasanya Clara tidak akan sanggup untuk menjalani hubungan jarak jauh."Kamu bercanda kan, Sayang?" Tanya Clara sekali lagi mencoba meruntuhkan ketakutannya.Ansel menggeleng. Wajahnya serius dan tidak ada sedikitpun guratan canda disana."Tidak, aku serius, Sayang. Benar-benar serius."Seketika air mata meleleh membanjiri pelupuk mata Clara. Jawaban Ansel sudah cukup membuat senyumnya yang sejak tadi tersungging menjadi luruh. Clara menangis sejadinya dan membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.Ansel menatapnya dengan bingung. Khawatir. Dan seluruh emosi menjadi satu. Ia memeluk kekasihnya yang tangisannya semakin menjadi saat mendarat di dada Ansel."Kenapa kamu menangis, Sayang? Jangan menangis, kumohon."Tapi Clara enggan menuruti permintaan Ansel. Bak seorang bocah y
Ansel dan Clara tiba di kamar pengantin mereka. Ansel sengaja menyewa kamar dengan pemandangan terbaik di Castle Bromwich Hall, salah satu hotel dengan desain klasik yang paling menakjubkan di Birmingham. Ia akan membuat malam ini menjadi malam paling romantis bagi mereka berdua.Kedua tangan Ansel menggendong Clara layaknya seorang pengantin wanita. Ia membawa istrinya masuk ke dalam kamar itu sembari sesekali mencuri ciuman ke bibir Clara. Tawa Clara terdengar renyah dan menghangatkan hati Ansel.Sesampainya di kamar, Ansel segera menurunkan Clara dan gadis itu berseru senang sembari memeluk Ansel erat."Kita akhirnya menjadi suami isteri, Sayang!" Seru Clara bahagia.Ansel mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir Clara. Matanya lalu menatap Clara dengan penuh cinta seolah cinta itu bisa menenggelamkan Clara saat itu juga. Tangan Ansel menarik turun resleting gaun yang dipakai Clara dan pakaian putih itu dengan cepat meluncur ke kedua kaki Clara. "Tidak sabar lagi, hmm?" Goda Cla
Semuanya bak mimpi yang begitu indah. Taman yang cantik ini, suasana yang begitu romantis, dan Ansel yang berlutut dengan cincin di hadapannya. Clara begitu terkejut hingga ia tak bisa mengatakan apapun. Satu-satunya reaksi yang bisa ia keluarkan hanyalah menangis. Tangisan haru yang meleleh dari kedua matanya."Clara Deolindra, will you marry me?"Ansel mengatakan itu dengan senyuman yang begitu lebar. Seolah kebahagiaan begitu besar ada di depan matanya sekarang."Aku sangat mencintaimu, Sayang. Aku bahkan tidak bisa membayangkan masa depan dimana tidak ada kamu di dalamnya. Dan kejadian kemarin membuat aku sadar betapa aku tidak ingin kehilangan dirimu." Ujar Ansel lembut.Ia mendongakkan wajahnya dan menatap ke arah Clara yang menangis terharu. "Jadi, maukah kamu bersamaku selamanya sebagai isteriku, Sayang?"Tak ada keraguan sama sekali di hati Clara. Sejak lama ia mendambakan hari dimana Ansel akan melamarnya. Berandai-andai dengan mimpi yang sepertinya tak akan pernah tergapai
Kondisi Clara sudah jauh membaik sejak kesadarannya pulih. Alat bantu yang mempertahankan hidupnya sudah dilepaskan satu persatu dan bahkan Clara sudah diperbolehkan untuk keluar dari ruangannya untuk berjalan-jalan sejenak.Dan kebahagiaan teramat besar dirasakan Ansel, Elliott, serta Adeline. Bagaikan diberi keajaiban yang luar biasa, ketiganya tak henti tersenyum setiap kali melihat perkembangan pada kondisi Clara.Hari ini, tepat tiga minggu Clara berada di rumah sakit. Hari ini juga merupakan hari dimana dokter sudah memperbolehkan Clara untuk pulang. Pukul sebelas siang, Ansel dan Clara siap pergi meninggalkan rumah sakit itu. Ansel mendorong Clara yang berada di atas kursi roda untuk menyusuri koridor rumah sakit."Kita akan pulang hari ini, Sayang. Kamu senang?" Tanya Ansel bersemangat.Clara mengangguk mantap. Sejujurnya ia sudah sangat muak berada di rumah sakit. Tidak bisa melakukan apapun dan yang ia lakukan hanyalah terbaring di ranjang seharian. Clara merindukan rutinita
Kedua pria itu begitu larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Ansel memutuskan untuk memecahkan keheningan dengan menegur sang ayah."Ada apa, Dad?"Elliott berdeham. Ia memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah puteranya itu. Tatapannya serius dan Ansel seolah mengerti apa yang ingin dikatakan ayahnya saat itu."Tentang Mom?" Tanya Ansel pelan.Elliott mengangguk. Ansel mengusap wajahnya dengan kasar."Ada apa lagi? Apa yang Mom keluhkan kepadamu kali ini?""Aku memintamu untuk memaafkan Mom, Ansel. Apakah kamu bisa melakukannya?" Elliott bertanya dengan begitu hati-hati. Ia tahu permintaannya itu sangat sulit dikabulkan Ansel sekarang. Setidaknya hingga Clara sadar.Ansel tertawa pahit. Ia lalu mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Clara yang masih terbaring dalam koma di atas ranjangnya."Setelah semua hinaan yang diberikannya pada Clara, Dad? Kurasa tidak, Dad." Ucap Ansel lirih.Elliott menghela nafas berat. Ia memegang pundak Ansel dan meremasnya pelan. Puteranya
Tiga hari berselang, kondisi Clara dinyatakan jauh lebih baik. Walaupun belum sadar dari pingsannya, Clara sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan umum. Dan Ansel bisa merawat kekasihnya dan berada di sisinya setiap saat."Iya, Clara akan baik-baik saja, Bu. Maafkan aku karena semua ini terjadi saat Clara bersamaku. Tapi aku berjanji aku akan merawat Clara dengan baik." Ansel mengakhiri pembicaraannya di telepon. Ia menatap layar ponselnya dengan kosong. Helaan nafasnya terdengar berat namun Ansel memaksakan senyum tersungging di bibirnya.Ia kembali masuk ke kamar tempat Clara dirawat dan duduk di sisi ranjang."Ibumu menelepon, Sayang. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Tapi aku sudah mengatakan kepadanya bahwa kamu akan baik-baik saja. Iya kan?"Hening. Gadis yang ditanya pun tidak menjawab apa-apa. Clara masih tertidur bak puteri di dalam dongeng. Wajah cantiknya tampak pucat dan Ansel tersenyum getir melihatnya.Ansel meraih tangan kekasihnya itu, meremasnya lembut, dan menciumnya
Kabar itu datang bagaikan petir di siang bolong. Menyadarkan Ansel dari segala lamunannya dan menghentakkannya kembali ke bumi. Begitu hancur hingga rasanya ia tak sanggup untuk menatap lurus ke depan.Dua kata. Hanya dua kata yang dikatakan ibunya di telepon. Tapi dua kata itu sukses menjungkirbalikkaan kehidupan Ansel. Membuatnya berlari dengan nafas memburu seperti orang gila.Clara kecelakaan. Kekasihnya mengalami kecelakaan. Dan bagaimana keadaan Clara sekarang? Apakah ia baik-baik saja? Astaga, Ansel bahkan belum sempat berbicara dengannya tentang kesalahpahaman kemarin. Dan semuanya sudah menjadi kacau seperti ini dalam satu kedipan mata.Dengan terburu-buru, Ansel memacu mobilnya ke rumah sakit tempat Clara dilarikan. Ia tak peduli bagaimana kacaunya ia terlihat saat itu. Persetan dengan dasinya yang masih belum terikat dan sepatunya yang ia pakai secara asal-asalan. Yang terpenting bagi Ansel sekarang hanyalah melihat Clara. Tidak ada yang lain.Dua puluh menit memacu mobilny
Entah berapa kali Clara mengutuk dirinya sendiri dan hati lembutnya ini. Ia sudah bertekad bahwa ia akan mengabaikan Ansel dan benar-benar menunjukkan kemarahannya. Namun sekarang, disinilah ia. Berjalan di pusat perbelanjaan Edinburgh mencari oleh-oleh untuk orang-orang yang ia sayangi. Hiasan kristal untuk Adeline, wiski untuk Elliott, dan wine serta parfum untuk Ansel.Ah, kenapa Clara bodoh sekali? Kenapa ia masih saja mau menghabiskan waktu dan uangnya untuk mereka yang bahkan tidak peduli dengannya?Tapi seperti itulah Clara. Beginilah cara ia menunjukkan rasa cintanya. Tak peduli seberapa kesalnya ia dengan orang-orang itu (kecuali Elliott, tentu saja), Clara tetap akan tersenyum lebar dan memberikan oleh-oleh ini kepada mereka."Semoga mereka menyukainya." Gumam Clara sembari mendorong troli belanjanya menuju kasir.Penerbangannya dua jam lagi dan Clara sekarang tengah menunggu pesawatnya di bandara. Ia melirik ponselnya lagi. Lagi-lagi panggilan dari Ansel. Untuk pertama kali
Pemotretan di Edinburgh benar-benar menyenangkan. Clara diharuskan berfoto di lokasi yang sedikit menantang yaitu di atas tebing St. Abbs. Dengan angin yang bertiup begitu kencang dan ombak yang menerpa dengan deras di bawahnya, tentu saja berfoto dengan menggunakan dua potong lingerie menjadi hal yang sedikit sulit untuk dilakukan.Tapi Clara menyukainya. Tidak, bukan hanya sekedar menyukainya. Clara benar-benar menikmatinya. Dan setidaknya kesibukannya ini akan mengalihkan perhatian Clara dari masalahnya dengan Ansel."Memangnya Ansel saja yang bisa sibuk bekerja?"Jepretan demi jepretan di ambil dan puluhan hasil foto yang tampak luar biasa benar-benar membuat Clara kagum. Jika ia adalah dirinya dua tahun lalu, maka mungkin Clara tidak akan pernah menyangka bahwa ia bisa bergaya sebagus itu. Layaknya seorang model profesional.Tapi Clara yang sekarang berbeda dengan Clara yang dulu. Ia sekarang adalah satu di antara deretan model La Perla. Dan juga salah satu model yang melenggok d
Pikiran Ansel benar-benar kalut. Hatinya tidak tenang karena rasa gelisah. Wajah terakhir yang ia lihat sebelum Clara pergi tadi pagi adalah hal yang paling tidak bisa ia lupakan. Kekasihnya itu benar-benar kecewa dan terluka. Matanya sembab karena menangis begitu hebat. Dan semua itu disebabkan oleh Ansel. Ansel dan segala egoismenya yang tidak bisa ia bendung.Dan karena itu pula Ansel tidak bisa fokus bekerja sejak tadi. Pikirannya selalu kembali kepada Clara dan Clara lagi. Rapat hari itu bahkan berjalan terasa sangat lambat karena Ansel tidak bisa meraih ponselnya untuk menghubungi kekasihnya itu."Jadi bagaimana, Tuan Brooks? Konsep iklan yang mana yang menurut Anda paling baik?"Pertanyaan dari salah seorang karyawannya menyadarkan Ansel dari kekalutannya. Ia segera mengerjapkan matanya berkali-kali dan mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaannya.Sadar, Ansel! Ada proyek senilai lima juta poundsterling yang harus kamu selesaikan!Ansel meninjau konsep yang dibuat oleh timnya