Lita menatap langit-langit ruangannya dengan ekspresi kosong. Ia yakin bisa mengatasi semuanya sendiri jika itu hanya berkaitan dengan rumor.
“Ya, maksud ku kalau kamu butuh bantuan, beritahu Fani… dia orang yang bisa kamu percaya.”
“Aku mengerti,” balas Lita yang sudah tidak ingin berdebat lebih jauh.
Ia sudah cukup lelah hari ini dan tidak ingin mengeluarkan energi tambahan hanya untuk beradu argumen dengan Ardan.
Samar-samar terdengar suara Zan dari seberang telepon yang mengingatkan Ardan untuk rapat yang akan segera dimulai.
“Ku tutup dulu…”
“Ya…”
/klik…/
Lita memijat dahinya pelan. ‘Hahh… kenapa harus repot-repot bertanya kalau sedang sibuk begitu?’
Tatapannya beralih ke cincin di jari tangan kanannya. Perasaan hangat yang dirasakan ketika mendengar suara Ardan membuatnya merasa aneh.
‘Lucunya pria yang membuat kehidupan ku begini justru jadi orang yang paling bisa ku percaya saat ini…’
Sej
Beberapa kali Ardan mengganti kompres pada dahi Lita. Ia juga sesekali memeriksa suhu tubuh perempuan itu dengan termometer. Suara gemercik air yang terus berulang akhirnya membuat Lita membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya dan melihat ke arah Ardan dengan ekspresi bingung. ‘Ardan? Tidak mungkin kan? Dia baru pulang kamis sore nanti.’ “Maaf membuat mu terbangun,” ucap Ardan pelan. “Ardan??” Lita langsung bangkit begitu sadar bahwa pria di hadapannya benar-benar Ardan. “Bukannya kamu pulang kamis sore nanti?” tanya Lita bingung. “Aku mengkhawatirkan Alen,” balas pria itu beralasan sambil membereskan baskom dan kain dari meja. Pandangan mata Lita mengikuti gerak Ardan. ‘Mengkhawatirkan Alen? Aku kan tidak bilang kalau aku sedang tidak enak badan…’ “Kamu sudah makan?” tanya Ardan sambil memeriksa isi kulkas. “Ya, sudah tadi…” “Makan lagi, akan ku buatkan sesuatu…” “Tidak usah… aku masih k
Hari yang dinantikan Lita tiba. Hanya saja rencana liburannya sedikit berubah karena Jerry yang kemarin berkunjung ke kantor ternyata mengetahui rencana Ardan untuk liburan. Pria tua itu memaksa ikut dan akhirnya malam itu Lita, Alen, Jerry dan Isana berangkat ke Bali menggunakan pesawat pribadi keluarga. Lita sempat takjub tapi ia segera menyesuaikan diri. Perempuan itu tidak pernah menyangka akan dapat pengalaman seperti itu. Selama perjalanan Jerry banyak bercerita tentang Ardan ketika masih kecil. Namun pria tua itu menghindari membahas topik mendiang istrinya karena Isana ada di sampingnya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, rombongan keluarga tersebut tiba di resort mewah milik keluarga Ardan. Pria bermata coklat tersebut sebenarnya sempat keberatan saat Jerry memaksa ikut apalagi mengajak Isana. Namun ia tidak bisa menolak karena malas berdebat dengan sang ayah. “Bagaimana perjalanan mu, Lita?” tanya Ardan yang kemu
Obrolan itu terhenti karena hidangan yang dipesan untuk sarapan sudah datang. Suasana tegang selama beberapa detik itu pun langsung mereda. Lita yang sempat merasa kesal akhirnya terlihat ceria kembali saat melihat berbagai hidangan yang menggugah selera. Ia tidak lagi mempedulikan keberadaan Isana. Justru Lita lebih fokus menikmati rasa mewah yang memenuhi mulutnya. Ardan yang melihat Lita dan Alen makan dengan lahap akhirnya ikut tersenyum simpul. Ia juga tidak lagi mempedulikan keberadaan orang tua di seberangnya. “Sepertinya kamu sangat suka makanan enak?” tanya Ardan sambil mengusap pinggir bibir Lita dengan tissue. Perempuan itu membeku di tempatnya dengan wajah memerah sebelum kemudian mendengar suara Jerry yang berdehem. “Ini enak, papa bisa membuat ini di rumah?” tanya Alen dengan mata berbinar. “Hmm, ini hidangan yang memasaknya membutuhkan waktu lama…” “Papa cukup jawab bisa atau tidak?” tanya Alen lagi denga
Setelah Zan datang, Lita dan Ardan pergi ke bagian atas bukit batu tempat resto & bar yang merupakan salah satu fasilitas resort tersebut. Pemandangan dari atas bukit tersebut terlihat jauh lebih indah dan itu membuat Lita terpesona. “Kamu tidak mau berfoto?” Lita mengalihkan pandangannya ke Ardan masih dengan mata yang berbinar, ia tersenyum. “Sepertinya kali ini pengecualian.” Tatapan mata Lita beralih ke ponsel yang dipegangnya lalu mulai memotret pemandangan di hadapannya. Ardan juga melakukan hal yang sama, tapi ponselnya mengarah ke Lita yang sedang sibuk memotret. Namun perempuan itu tidak menyadari apa yang sedang dilakukan 'suaminya'. Pria itu langsung memasukkan kembali ponselnya setelah mendapat dua foto lalu bersandar pada pagar dengan ekspresi tenang. Lita yang sudah puas memotret lalu berbalik kemudian memberikan ponsel kepada Ardan untuk memotretnya. Setelah puas berfoto, keduanya melanjutkan langkahn
Usai liburan bersama keluarga Ardan di Bali pada akhir pekan lalu. Lita telah kembali bekerja pada senin pagi dengan suasana hati yang lebih segar. Ia bisa menjadi lebih fokus menyelesaikan pekerjaannya. Ia bahkan mempunyai beberapa ide untuk permasalahan yang sedang dihadapi oleh perusahaan tempatnya bekerja. Semua idenya dicatat dan disimpan untuk persiapan saat akan rapat pada rabu nanti. /klek…/ “Kamu masih bekerja pada waktu istirahat?” Lita menatap Ardan yang baru datang dengan ekspresi datar. Ia sudah semakin terbiasa dengan perhatian Ardan apalagi setelah liburan bersama pada akhir pekan lalu. “Tentu saja tidak.” “Ayo makan di luar.” Dahi Lita mengernyit. “Di luar? Kenapa tidak di kantin?” “Ada restoran teman ku yang baru dibuka akhir pekan lalu, karena aku tidak datang jadi aku ingin berkunjung sekarang.” “Oke, ayo kesana.” Perempuan bermata coklat itu segera membereskan barang di atas meja lalu
Lita bangun dengan suasana hati yang buruk karena otaknya tidak bisa berhenti memikirkan berbagai kemungkinan yang tidak ia tahu. Perempuan tersebut sudah menyesali tindakannya yang berupaya mencari tahu. Ia sadar bahwa apa pun yang terjadi tetap tidak akan mengubah kenyataan yang dijalaninya saat ini. “Apa terjadi sesuatu lagi di kantor?” tanya Ardan saat melihat Lita yang tampak lebih diam sejak pagi. “Ehmm, tidak… aku hanya agak lelah karena lembur semalam.” “Minggu depan anggota editor akan bertambah kan?” “Ya… sepertinya aku baru bisa berhenti lembur mulai minggu depan.” “Apa perlu Zan membantu?” “Kamu bercanda? Pekerjaan Zan sudah sangat banyak, Ardan…” “Dia sedang tidak terlalu sibuk sekarang.” “Tidak usah, mana bisa asisten mu tiba-tiba jadi editor,” gerutu Lita pelan. “Dia itu bisa mengerjakan apa saja…” “Sepertinya kamu menyiksanya dengan baik sejak dulu?” Ardan hanya tertawa ke
“Saya Kiana, saya dulu sempat beberapa kali bekerjasama dengan pak Ardan, senang sekali sekarang berkesempatan bertemu istrinya…” Lita menyambut tangan Kiana yang diulurkan kepadanya lalu menyebut namanya meski perempuan di depannya sudah mengetahui tentangnya. “Ah maaf apa saya menganggu?” “Tidak kok.” “Apa pak Ardan dan putranya ikut?” “Mereka tidak ikut, saya datang sendiri untuk urusan pekerjaan pribadi.” “Ah begitu?” ucap Kiana dengan ekspresi kecewa yang tidak bisa disembunyikan. Rey yang sejak tadi berdiri di kejauhan dengan ekspresi canggung akhirnya mendekat. “Kia…” Raut wajah Rey yang buruk akhirnya membuat Kiana merasa tidak enak. Setelah berbincang sebentar, perempuan itu pun akhirnya pamit lebih dulu. “Maaf, aku tidak tau kalau dia mengenal suami mu…” Kata ‘suami’ yang disebutkan Rey membuat perut Lita tiba-tiba terasa mual. Ia tidak mengerti kenapa lagi-lagi respon tubuhnya aneh padahal sel
Setelah terdiam dalam waktu lama dengan ekspresi kosong, akhirnya Lita melangkah turun lalu membayar semua makanan dan minumannya. Rey maupun perempuan bernama Kiana itu sudah tidak terlihat di sekitar kafe. Lita tahu pasti pria tersebut langsung pergi karena tidak ingin melihat wajahnya lagi. Tubuhnya terasa lemas tapi Lita berusaha menahannya. Perempuan itu tidak ingin memperlihatkan dirinya yang menyedihkan atau membuat heboh jika ada yang merekamnya diam-diam saat ia pingsan. Mobil putih itu melaju pelan menyibak gerimis kecil yang mulai turun lalu berhenti di pinggir jalan karena pandangan mata Lita mulai terasa kabur. Lita tahu tubuh dan pikirannya telah mencapai batas bertahan dalam waktu lama. Oleh karena itu ia tidak lagi memaksakan diri untuk terus mengemudi. Meski saat ini ia berada di ambang keputusasaan, perempuan itu belum memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya, setidaknya untuk saat ini. Dengan energi yang tersisa ia me
Ardan menyilangkan tangannya. “Itu karena kamu menyibukkan diri dengan mengerjakan banyak hal tanpa menyempatkan diri mengobrol santai dengan yang lain bukan?“Kamu juga tidak pernah mau ku ajak makan bersama atau pulang bersama, tentu wajar jika mulai ada rumor seperti itu,” tambah Ardan.Lita terdiam, ia selama ini memang sengaja mengambil pekerjaan sebanyak mungkin untuk mengalihkan pikiran juga untuk menghindari pertemuan yang terlalu sering dengan Ardan.‘Sial… aku terlalu fokus dengan diriku sendiri tanpa memperhatikan apa yang terjadi di sekitar,’ keluh Lita dalam hati.“Maaf, aku tidak berpikir kalau akan ada rumor seperti itu.”Ardan menatap ‘istrinya’. Namun Lita tidak bisa memahami makna dari ekspresi tersebut.“Apa kamu bertemu dengan teman masa kecil mu lagi?”“Teman masa kecil? Siapa?” Lita mencoba mengingat semua kegiatannya lalu menggeleng. “Aku tidak bertemu dengan teman ku selama sebulan ini, yang ku temui hanya rekan kerja.”“Aku tidak tau sebenarnya ada apa, tapi f
Lita memijat dahinya pelan. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi. Perasaan terlarang yang tumbuh alami tanpa bisa dihentikan itu membuat ia merasa benci dengan dirinya sendiri.Meski ia sudah berusaha menepis dan mengalihkan perhatiannya kepada hal lain. Ia tetap tidak bisa mengurangi perasaan itu. Walaupun ia berusaha bersikap ketus dan dingin, ia kembali merasa hanyut saat Ardan bersikap hangat.Waktu sudah berlalu satu bulan sejak Ardan menegurnya, tapi Lita masih enggan menggunakan uang jatah bulanan yang ia dapatkan. Perempuan itu masih saja menggunakan uangnya sendiri untuk keperluannya dan juga membelikan makanan maupun mainan untuk Alen. Meski statusnya dalam keluarga itu hanyalah sebatas perjanjian, ia ingin menunjukkan rasa sayangnya yang tulus kepada Alen.Tentu saja Ardan masih memantau penggunaan uang yang diberikannya. Namun karena awal tahun disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan, ia masih belum menegur Lita lagi secara langsung.Lita sengaja mengambil ban
“Apa ini? Ada yang berulang tahun?” tanya Lita memastikan. Ardan mendekat lalu memberikan buket bunga dan hadiah ke Lita. “Tidak, tapi ini hari yang penting.” Lita menerima buket bunga dan hadiah itu sambil tersenyum meski merasa bingung. Ia berusaha menyembunyikan perasaan sebenarnya karena kakek dan neneknya sedang melihat. “Kamu pasti lupa kalau pada tanggal ini kita bertemu untuk pertama kalinya dulu,” ucap Ardan lagi. ‘Dia gila ya? apa perlu sejauh itu berpura-pura?? Lagi pula kakek dan nenek tidak perlu diperlihatkan seperti ini pun tetap percaya kalau dia suami ku…’ Pandangan mata Lita beralih ke Alen lalu menampilkan senyum senang. “Tentu aku ingat, itu hari yang spesial, tapi aku tidak menyangka kalau kamu menyiapkan ini.” “Ya, yang ku maksud urusan penting itu untuk menyiapkan ini.” ‘Seharusnya dia memang jadi aktor saja…’ gerutu Lita dalam hati. “Oh begitu? Kamu masih saja tetap romantis seperti dulu,” balas Lita dengan senyum yang dipaksakan. “Dia sangat perhatian
“Ehmm, sepertinya tidak bisa sekarang. Aku sudah janji akan langsung pulang begitu selesai acara…” “Janji?” Davin memandang ragu ke arah Lita lalu mengangguk pelan. “Oh begitu… maaf membuat mu tidak nyaman karena malah menawarkan minum kopi bersama.” “Tidak, tidak… aku senang, mungkin lain kali aku bisa meluangkan waktu.” “Tidak perlu memaksakan diri, aku bertemu dengan mu begini saja sudah senang.” Percakapan keduanya terhenti saat Rini tiba-tiba mendekat. “Lita, kamu sudah ingat dengan teman mu yang ini?” “Tentu aku ingat, walau tadi sempat tidak mengenali…” “Dia Davin yang ku maksud, yang titip salam untuk mu.” Dahi Lita mengernyit, ia baru teringat saat Rini mengatakan ia mendapat salam dari seseorang. Pandangan matanya beralih ke arah Davin yang tersenyum ke arahnya. “Oh… maaf, karena sudah lama tidak bertemu, aku jadi lupa…” “Kamu melupakan teman masa kecil mu?” tanya Davin yang kemudian tertawa. “
Alen sejak tadi menatap Lita yang sedang bersiap untuk acara reuni. Ekspresi bocah itu terlihat sedih meski sudah dijelaskan bahwa ibunya hanya pergi sebenar.“Aku tidak boleh ikut?” tanya Alen lagi.“Alen, mama hanya pergi sebentar kok.”“Tapi mama akan kembali kan?”“Tentu saja, kenapa bertanya begitu?”Bocah kecil itu tidak menjawab. Ia masih terlihat murung tapi tidak sampai menangis atau menahan Lita agar tidak pergi.Lita mendekati ‘putranya’ lalu mengusap pelan kepala bocah itu. “Mama hanya bertemu dengan teman-teman mama, setelah selesai nanti langsung pulang.”“Bagaimana kalau mama bertemu dengan orang lain?”‘Apa maksudnya? Orang lain? Tentu saja aku bertemu teman-teman ku yang adalah orang lain?’/klek…/Obrolan keduanya terhenti saat Ardan masuk ke ruangan itu. Pandangan mata pria itu menyelidik penampilan Lita mulai dari sepatu sampai anting yang dipakai.“Teman mu sudah datang.”“Oke.”Pandangan mata Lita beralih ke Alen lalu ia mencium keningnya. “Mama pergi dulu ya?”B
Perjalanan menuju rumah pada sore hari itu berlangsung panjang. Jalanan yang macet membuat waktu tempuh menjadi lebih lama dari seharusnya. Lita terbangun tepat saat mobil yang mereka naiki memasuki area komplek GrandC. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menoleh ke sebelahnya. Alen terlihat tidur sambil bersandar di lengannya. “Maaf ya, tuan, nyonya, perjalanannya jadi sangat lama karena macet,” ucap pak supir begitu memasuki pekarangan rumah Ardan. “Tidak apa-apa kok, saya malah ada kesempatan istirahat.” “Ponsel mu sejak tadi sepertinya terus bunyi,” ucap Ardan mengabaikan perkataan pak supir. “Oh iya? Aku tidak dengar…” Ardan turun membawa Alen lebih dulu kemudian masuk rumah. Ekspresi pria itu terlihat seperti sedang memikirkan banyak hal dan itu membuat Lita merasa bingung. ‘Dia kenapa lagi?’ Lita masih terdiam di halaman rumah begitu turun dari kendaraan. Ia tiba-tiba kembali teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di kediaman itu. ‘Kalau waktu itu aku tida
Ardan tidak langsung menjawab, ia meletakkan ponsel dan dompetnya lalu berjalan menuju koper kemudian mengambil kaos lengan panjang. “Zan menghubungi ku, ada hal yang perlu ku periksa,” balas Ardan asal. “Bukankah dia juga sedang libur?” “Ya…” Lita mengalihkan pandangan matanya begitu Ardan langsung berganti pakaian di tempat. ‘Kenapa dia tidak ganti di kamar mandi saja sih?’ gerutu Lita dalam hati. Saat Lita mengalihkan pandangannya, Ardan tersenyum kecil. Ia menggantung kemeja yang tadi ia lepas lalu duduk di kursi dekat pintu. “Kenapa belum tidur?” Tatapan mata Lita kembali mengarah ke Ardan yang saat ini sedang menuang minuman. Ia bisa melihat dengan jelas ekspresi pria itu terlihat jauh lebih hangat dari sebelumnya. “Tadi siang aku sudah tidur, jadi sekarang aku belum mengantuk.” Setelah meneguk minuman di gelas, pandangan mata Ardan beralih ke putranya yang sedang terlelap. Kali ini ia terlihat sed
Ardan terdiam selama beberapa detik lalu secepat mungkin menutup pintu kembali. Lita yang sadar dari keterkejutannya pun langsung memakai kaos yang dipegangnya. Perempuan tersebut menghela nafas panjang lalu menyesali tindakannya. ‘Seharusnya aku berganti pakaian di kamar mandi…’ Sepuluh menit setelah itu Ardan baru masuk kembali ke dalam kamar dengan ekspresi canggung. “Aku mau ambil dompet…” “Oh… ya, ya.” balas Lita sambil mengangguk. Ada rasa canggung yang terlihat jelas dari gerak tubuhnya. “Aku akan keluar bersama saudara sepupu ku sampai malam… jadi tidak usah menunggu.” Lita mengangguk lagi. “Oke…” Pandangan keduanya bertemu, tapi Ardan langsung mengalihkan tatapannya ke arah Alen. Ia berusaha mengalihkan pikirannya. ‘Sial…’ “Kalau Alen terbangun dan menanyakan ku, hubungi aku,” ucap Ardan asal. “Ya…” “Kalau begitu, aku pergi dulu.” “Hati-hati di jalan…” Ardan melangkah pergi
Lita, Ardan dan Alen kembali ke kediaman Tanoro menjelang tengah malam. Ardan memang sengaja tidak di rumah neneknya lebih lama karena tidak ingin Lita bertemu dengan paman-pamannya lebih awal. Pria tersebut mengajak Lita dan Alen berkeliling ke berbagai tempat. Setelah mengenalkan kota kelahiran ibu kandungnya, mereka baru kembali ke rumah. “Maaf kami baru kembali, saya jadi tidak membantu menyiapkan makan malam,” ucap Lita dengan ekspresi bersalah. “Tidak apa-apa kok, nenek dengar Ardan memang sangat posesif,” balas Lasti Tanoro dengan senyum tipis. ‘Posesif?’ gumam Lita dalam hati sambil tetap mempertahankan ekspresi tenangnya. Sara yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, akhirnya mendekat ke arah Lita. “Ya, Ardan memang posesif, dia bahkan tidak mengijinkan Lita menginap di tempat ku terlalu lama.” Belum sempat membuka suara, Lita dikejutkan dengan suara berat seorang pria dari belakangnya. “Oh, ini istri Ardan?” ucap seorang pria paruh baya berkacamata. Lita menoleh ke ar