“Selamat siang, nona Lisa… Saya baru saja akan ke ruangannya Ardan.”
Lita tersenyum tapi entah kenapa hatinya merasa jengkel hingga tanpa sadar ia justru mengatakan akan ke ruangan Ardan.
‘Ah mulut ku ini lagi-lagi berbicara tanpa menunggu pikiran ku memutuskan…’
“Sepertinya kita menuju tempat yang sama.”
‘Aku harus bersikap apa saat begini… lalu bagaimana jika aku tidak sengaja bertemu Rendy di lantai itu? Kenapa aku selalu bertindak tanpa berpikir panjang,’ keluh Lita dalam hati.
Suasana di elevator itu menjadi canggung karena Lita tidak membalas ucapan Lisa. Ia sedang sibuk sendiri menyesali tindakannya.
/ting…/
Kedua perempuan itu melangkah bersamaan menuju ruangan Ardan. Namun ternyata pria yang mereka tuju sedang berada di lobby tengah bersama dengan beberapa rekan direksi, kecuali Rendy.
Dahi Ardan mengernyit saat melihat Lita datang. Perempuan itu tampak mengamati sekeliling memastikan tidak ada Rendy di tempat
Lita sebenarnya bermaksud segera pergi begitu sadar tindakannya mendengarkan pembicaraan diam-diam adalah hal buruk. Namun ia mengurungkan niatnya begitu ia mendengar Nia menyebut kata 'rumor' ‘Apa yang dimaksud Nia itu aku?’ Ingatannya membawa Lita kembali saat Nia bertanya padanya tentang hal yang dilakukannya bersama Ardan di kantor beberapa hari lalu. Ia menahan nafasnya lalu melangkah pelan kembali ke ruangannya sebelum Nia menyadari keberadaannya. Semua pembicaraan Nia kembali terngiang di telinganya dan hal itu memunculkan dugaan yang membuatnya merasa tidak nyaman. ‘Tidak mungkin kan?’ Meski mendapatkan satu kesimpulan dari semua hal yang didengarnya, Lita masih menyangkal dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang dibicarakan Nia itu tidak berkaitan dengannya. Lita memijat dahinya perlahan. Semua yang terjadi beberapa hari ini benar-benar membuatnya tertekan. Walaupun sudah berusaha tidak memikirkan semuanya, tapi pikirannya terus mengulang kembali semua yang telah di deng
Ardan masih menunggu Lita untuk berbicara tentang penyebar rumor dan pengirim pesan teror. Namun perempuan itu hanya mengatakan belum ingin membahasnya.Lita tampak kembali tenang dan bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Namun hal itu justru membuat Ardan merasa khawatir.“Lihat suami mu, Lita, sejak tadi memandangi mu sampai tidak berkedip,” ucap Jerry yang kemudian tertawa.Lita, Alen dan Ardan memang sedang menghabiskan libur akhir pekannya di rumah Jerry karena pria tua itu meminta mereka datang.“Dia memang selalu seperti itu,” balas Lita sambil tersenyum.“Jadi rumor yang beredar di kantor itu benar?”“Itu hanya rumor, jangan membahasnya lagi,” balas Ardan cepat dengan ekspresi yang kembali datar.Lita mengalihkan fokusnya ke Alen yang sedang tidur agar pikirannya tidak penuh kembali. Ia enggan bergabung dalam obrolan itu karena hal tersebut mengingatkannya pada kej
Setelah percakapannya dengan sang ‘ayah mertua’, Lita menyampaikan ke Ardan kalau dia tidak ingin melakukan apa pun terhadap Rendy maupun Nia. Lita tidak memberitahu Ardan tentang pembicaraannya dengan Jerry. Namun ia bersikeras untuk memaafkan Nia dan Rendy sekali itu saja. Tentu saja apa yang diucapkan Lita hanya kebohongan. Perempuan itu sama sekali tidak bisa memaafkan orang-orang yang sudah melukai dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Ardan sempat bertanya-tanya tentang sikap Lita yang disebutnya terlalu baik kepada orang-orang jahat. Namun Lita meyakinkan pria itu bahwa setiap kejahatan akan mendapatkan balasannya. Usai percakapan tersebut, Ardan tidak melakukan apa-apa seperti yang diminta oleh Lita. Namun kabar mengejutkan datang beberapa hari setelahnya. Rendy yang seharusnya sudah diatur untuk mengundurkan diri pada bulan depan, tiba-tiba terjerat kasus p****grafi. Pria tersebut dikabarkan menjual banyak konten
Hari yang tidak dinantikan Lita akhirnya datang. Ia sudah tiba di Semarang bersama Ardan dan Alen sejak kemarin sore. Kakek neneknya sangat antusias menyambut cucu mereka, keduanya benar-benar menganggap Alen adalah putra Lita. Perempuan itu sebenarnya masih tidak mengerti kenapa kakek neneknya bisa semudah itu percaya pada cerita karangan yang dibuat-buat. “Itu tidak berlebihan kok…” Lamunan Lita buyar, ia menoleh ke arah sumber suara. Ardan sedang berdiri di ambang pintu sambil menyilangkan tangannya dan Alen ada di samping pria itu dengan pose yang sama. Perempuan itu menghela nafas panjang. “Ya baju ini memang bagus, tapi tidak cocok dengan perhiasannya.” “Mama cantik kok dengan perhiasan itu,” ucap Alen dengan ekspresi serius. ‘Astaga ini ayah dan anaknya sama saja…’ “Aku tidak bisa berpenampilan seperti ini, Alen.” “Kenapa?” “Pada hari pernikahan seseorang, sebaiknya kita tidak terlihat berlebihan
Lita mendengarkan semua percakapan Iren dan Mira dalam diam. Tatapan matanya mengarah ke langit-langit toilet dengan ekspresi yang sendu. Ia memang sudah menduga respon serupa, tapi menghadapi semuanya secara langsung tetap membuatnya kaget. Semua kejadian buruk beruntun seolah sedang menguji kewarasannya. ‘Ini lebih sakit dari saat aku mengetahui apa yang dilakukan Nia.’ Tentu saja, dua perempuan yang sedang membicarakannya adalah sahabat Lita sejak kuliah. Hubungan pertemanan mereka sebelumnya sangat dekat, bahkan seperti saudara. “Bisa-bisanya dia menjalin hubungan dengan Rey saat sudah memiliki anak…” “Tapi Rey tidak bilang apa-apa tentang itu kan?” “Dia mungkin memutuskan Lita setelah tau kenyataan yang sebenarnya.” Obrolan tersebut baru berhenti ketika terdengar suara perempuan lain yang juga akan menggunakan toilet. Setelah memastikan kedua temannya pergi, Lita baru keluar dari bilik toilet. Ia mencuci tangannya
Beberapa hari telah berlalu usai Lita menghadari pesta pernikahan mantan kekasihnya. Sikap perempuan itu sedikit berubah, tatapannya jauh lebih dingin saat menatap orang lain. Ekspresinya lebih sering terlihat datar dan ia menjadi lebih sedikit bicara saat di kantor. Keramahan hanya diperlihatkan sesekali jika Lita memang merasa perlu basa basi. Perempuan itu tidak lagi menghindari banyak orang seperti sebelumnya. Saat jam makan siang, ia tidak lagi makan di ruangannya, tapi ia akan ke kantin atau pergi ke luar bersama Ardan jika pria itu mengajaknya. Hari itu ia makan di kantin bersama Lina. Ardan tidak menemaninya karena sedang pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Lina masih bersikap seperti biasa. Perempuan itu tetap ramah dan sering mengajak Lita mengobrol. Hanya saja Lita memang sedang membatasi diri sejak mengetahui Nia berbuat buruk di belakang. Kejadian tersebut masih membekas dan membuatnya enggan terlalu dekat dengan seseorang.
Lita menatap langit-langit ruangannya dengan ekspresi kosong. Ia yakin bisa mengatasi semuanya sendiri jika itu hanya berkaitan dengan rumor. “Ya, maksud ku kalau kamu butuh bantuan, beritahu Fani… dia orang yang bisa kamu percaya.” “Aku mengerti,” balas Lita yang sudah tidak ingin berdebat lebih jauh. Ia sudah cukup lelah hari ini dan tidak ingin mengeluarkan energi tambahan hanya untuk beradu argumen dengan Ardan. Samar-samar terdengar suara Zan dari seberang telepon yang mengingatkan Ardan untuk rapat yang akan segera dimulai. “Ku tutup dulu…” “Ya…” /klik…/ Lita memijat dahinya pelan. ‘Hahh… kenapa harus repot-repot bertanya kalau sedang sibuk begitu?’ Tatapannya beralih ke cincin di jari tangan kanannya. Perasaan hangat yang dirasakan ketika mendengar suara Ardan membuatnya merasa aneh. ‘Lucunya pria yang membuat kehidupan ku begini justru jadi orang yang paling bisa ku percaya saat ini…’ Sej
Beberapa kali Ardan mengganti kompres pada dahi Lita. Ia juga sesekali memeriksa suhu tubuh perempuan itu dengan termometer. Suara gemercik air yang terus berulang akhirnya membuat Lita membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya dan melihat ke arah Ardan dengan ekspresi bingung. ‘Ardan? Tidak mungkin kan? Dia baru pulang kamis sore nanti.’ “Maaf membuat mu terbangun,” ucap Ardan pelan. “Ardan??” Lita langsung bangkit begitu sadar bahwa pria di hadapannya benar-benar Ardan. “Bukannya kamu pulang kamis sore nanti?” tanya Lita bingung. “Aku mengkhawatirkan Alen,” balas pria itu beralasan sambil membereskan baskom dan kain dari meja. Pandangan mata Lita mengikuti gerak Ardan. ‘Mengkhawatirkan Alen? Aku kan tidak bilang kalau aku sedang tidak enak badan…’ “Kamu sudah makan?” tanya Ardan sambil memeriksa isi kulkas. “Ya, sudah tadi…” “Makan lagi, akan ku buatkan sesuatu…” “Tidak usah… aku masih k
Ardan menyilangkan tangannya. “Itu karena kamu menyibukkan diri dengan mengerjakan banyak hal tanpa menyempatkan diri mengobrol santai dengan yang lain bukan?“Kamu juga tidak pernah mau ku ajak makan bersama atau pulang bersama, tentu wajar jika mulai ada rumor seperti itu,” tambah Ardan.Lita terdiam, ia selama ini memang sengaja mengambil pekerjaan sebanyak mungkin untuk mengalihkan pikiran juga untuk menghindari pertemuan yang terlalu sering dengan Ardan.‘Sial… aku terlalu fokus dengan diriku sendiri tanpa memperhatikan apa yang terjadi di sekitar,’ keluh Lita dalam hati.“Maaf, aku tidak berpikir kalau akan ada rumor seperti itu.”Ardan menatap ‘istrinya’. Namun Lita tidak bisa memahami makna dari ekspresi tersebut.“Apa kamu bertemu dengan teman masa kecil mu lagi?”“Teman masa kecil? Siapa?” Lita mencoba mengingat semua kegiatannya lalu menggeleng. “Aku tidak bertemu dengan teman ku selama sebulan ini, yang ku temui hanya rekan kerja.”“Aku tidak tau sebenarnya ada apa, tapi f
Lita memijat dahinya pelan. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi. Perasaan terlarang yang tumbuh alami tanpa bisa dihentikan itu membuat ia merasa benci dengan dirinya sendiri.Meski ia sudah berusaha menepis dan mengalihkan perhatiannya kepada hal lain. Ia tetap tidak bisa mengurangi perasaan itu. Walaupun ia berusaha bersikap ketus dan dingin, ia kembali merasa hanyut saat Ardan bersikap hangat.Waktu sudah berlalu satu bulan sejak Ardan menegurnya, tapi Lita masih enggan menggunakan uang jatah bulanan yang ia dapatkan. Perempuan itu masih saja menggunakan uangnya sendiri untuk keperluannya dan juga membelikan makanan maupun mainan untuk Alen. Meski statusnya dalam keluarga itu hanyalah sebatas perjanjian, ia ingin menunjukkan rasa sayangnya yang tulus kepada Alen.Tentu saja Ardan masih memantau penggunaan uang yang diberikannya. Namun karena awal tahun disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan, ia masih belum menegur Lita lagi secara langsung.Lita sengaja mengambil ban
“Apa ini? Ada yang berulang tahun?” tanya Lita memastikan. Ardan mendekat lalu memberikan buket bunga dan hadiah ke Lita. “Tidak, tapi ini hari yang penting.” Lita menerima buket bunga dan hadiah itu sambil tersenyum meski merasa bingung. Ia berusaha menyembunyikan perasaan sebenarnya karena kakek dan neneknya sedang melihat. “Kamu pasti lupa kalau pada tanggal ini kita bertemu untuk pertama kalinya dulu,” ucap Ardan lagi. ‘Dia gila ya? apa perlu sejauh itu berpura-pura?? Lagi pula kakek dan nenek tidak perlu diperlihatkan seperti ini pun tetap percaya kalau dia suami ku…’ Pandangan mata Lita beralih ke Alen lalu menampilkan senyum senang. “Tentu aku ingat, itu hari yang spesial, tapi aku tidak menyangka kalau kamu menyiapkan ini.” “Ya, yang ku maksud urusan penting itu untuk menyiapkan ini.” ‘Seharusnya dia memang jadi aktor saja…’ gerutu Lita dalam hati. “Oh begitu? Kamu masih saja tetap romantis seperti dulu,” balas Lita dengan senyum yang dipaksakan. “Dia sangat perhatian
“Ehmm, sepertinya tidak bisa sekarang. Aku sudah janji akan langsung pulang begitu selesai acara…” “Janji?” Davin memandang ragu ke arah Lita lalu mengangguk pelan. “Oh begitu… maaf membuat mu tidak nyaman karena malah menawarkan minum kopi bersama.” “Tidak, tidak… aku senang, mungkin lain kali aku bisa meluangkan waktu.” “Tidak perlu memaksakan diri, aku bertemu dengan mu begini saja sudah senang.” Percakapan keduanya terhenti saat Rini tiba-tiba mendekat. “Lita, kamu sudah ingat dengan teman mu yang ini?” “Tentu aku ingat, walau tadi sempat tidak mengenali…” “Dia Davin yang ku maksud, yang titip salam untuk mu.” Dahi Lita mengernyit, ia baru teringat saat Rini mengatakan ia mendapat salam dari seseorang. Pandangan matanya beralih ke arah Davin yang tersenyum ke arahnya. “Oh… maaf, karena sudah lama tidak bertemu, aku jadi lupa…” “Kamu melupakan teman masa kecil mu?” tanya Davin yang kemudian tertawa. “
Alen sejak tadi menatap Lita yang sedang bersiap untuk acara reuni. Ekspresi bocah itu terlihat sedih meski sudah dijelaskan bahwa ibunya hanya pergi sebenar.“Aku tidak boleh ikut?” tanya Alen lagi.“Alen, mama hanya pergi sebentar kok.”“Tapi mama akan kembali kan?”“Tentu saja, kenapa bertanya begitu?”Bocah kecil itu tidak menjawab. Ia masih terlihat murung tapi tidak sampai menangis atau menahan Lita agar tidak pergi.Lita mendekati ‘putranya’ lalu mengusap pelan kepala bocah itu. “Mama hanya bertemu dengan teman-teman mama, setelah selesai nanti langsung pulang.”“Bagaimana kalau mama bertemu dengan orang lain?”‘Apa maksudnya? Orang lain? Tentu saja aku bertemu teman-teman ku yang adalah orang lain?’/klek…/Obrolan keduanya terhenti saat Ardan masuk ke ruangan itu. Pandangan mata pria itu menyelidik penampilan Lita mulai dari sepatu sampai anting yang dipakai.“Teman mu sudah datang.”“Oke.”Pandangan mata Lita beralih ke Alen lalu ia mencium keningnya. “Mama pergi dulu ya?”B
Perjalanan menuju rumah pada sore hari itu berlangsung panjang. Jalanan yang macet membuat waktu tempuh menjadi lebih lama dari seharusnya. Lita terbangun tepat saat mobil yang mereka naiki memasuki area komplek GrandC. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menoleh ke sebelahnya. Alen terlihat tidur sambil bersandar di lengannya. “Maaf ya, tuan, nyonya, perjalanannya jadi sangat lama karena macet,” ucap pak supir begitu memasuki pekarangan rumah Ardan. “Tidak apa-apa kok, saya malah ada kesempatan istirahat.” “Ponsel mu sejak tadi sepertinya terus bunyi,” ucap Ardan mengabaikan perkataan pak supir. “Oh iya? Aku tidak dengar…” Ardan turun membawa Alen lebih dulu kemudian masuk rumah. Ekspresi pria itu terlihat seperti sedang memikirkan banyak hal dan itu membuat Lita merasa bingung. ‘Dia kenapa lagi?’ Lita masih terdiam di halaman rumah begitu turun dari kendaraan. Ia tiba-tiba kembali teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di kediaman itu. ‘Kalau waktu itu aku tida
Ardan tidak langsung menjawab, ia meletakkan ponsel dan dompetnya lalu berjalan menuju koper kemudian mengambil kaos lengan panjang. “Zan menghubungi ku, ada hal yang perlu ku periksa,” balas Ardan asal. “Bukankah dia juga sedang libur?” “Ya…” Lita mengalihkan pandangan matanya begitu Ardan langsung berganti pakaian di tempat. ‘Kenapa dia tidak ganti di kamar mandi saja sih?’ gerutu Lita dalam hati. Saat Lita mengalihkan pandangannya, Ardan tersenyum kecil. Ia menggantung kemeja yang tadi ia lepas lalu duduk di kursi dekat pintu. “Kenapa belum tidur?” Tatapan mata Lita kembali mengarah ke Ardan yang saat ini sedang menuang minuman. Ia bisa melihat dengan jelas ekspresi pria itu terlihat jauh lebih hangat dari sebelumnya. “Tadi siang aku sudah tidur, jadi sekarang aku belum mengantuk.” Setelah meneguk minuman di gelas, pandangan mata Ardan beralih ke putranya yang sedang terlelap. Kali ini ia terlihat sed
Ardan terdiam selama beberapa detik lalu secepat mungkin menutup pintu kembali. Lita yang sadar dari keterkejutannya pun langsung memakai kaos yang dipegangnya. Perempuan tersebut menghela nafas panjang lalu menyesali tindakannya. ‘Seharusnya aku berganti pakaian di kamar mandi…’ Sepuluh menit setelah itu Ardan baru masuk kembali ke dalam kamar dengan ekspresi canggung. “Aku mau ambil dompet…” “Oh… ya, ya.” balas Lita sambil mengangguk. Ada rasa canggung yang terlihat jelas dari gerak tubuhnya. “Aku akan keluar bersama saudara sepupu ku sampai malam… jadi tidak usah menunggu.” Lita mengangguk lagi. “Oke…” Pandangan keduanya bertemu, tapi Ardan langsung mengalihkan tatapannya ke arah Alen. Ia berusaha mengalihkan pikirannya. ‘Sial…’ “Kalau Alen terbangun dan menanyakan ku, hubungi aku,” ucap Ardan asal. “Ya…” “Kalau begitu, aku pergi dulu.” “Hati-hati di jalan…” Ardan melangkah pergi
Lita, Ardan dan Alen kembali ke kediaman Tanoro menjelang tengah malam. Ardan memang sengaja tidak di rumah neneknya lebih lama karena tidak ingin Lita bertemu dengan paman-pamannya lebih awal. Pria tersebut mengajak Lita dan Alen berkeliling ke berbagai tempat. Setelah mengenalkan kota kelahiran ibu kandungnya, mereka baru kembali ke rumah. “Maaf kami baru kembali, saya jadi tidak membantu menyiapkan makan malam,” ucap Lita dengan ekspresi bersalah. “Tidak apa-apa kok, nenek dengar Ardan memang sangat posesif,” balas Lasti Tanoro dengan senyum tipis. ‘Posesif?’ gumam Lita dalam hati sambil tetap mempertahankan ekspresi tenangnya. Sara yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, akhirnya mendekat ke arah Lita. “Ya, Ardan memang posesif, dia bahkan tidak mengijinkan Lita menginap di tempat ku terlalu lama.” Belum sempat membuka suara, Lita dikejutkan dengan suara berat seorang pria dari belakangnya. “Oh, ini istri Ardan?” ucap seorang pria paruh baya berkacamata. Lita menoleh ke ar