Beranda / Romansa / Terikat Cinta Setelah Akad / Bab 26 Tatapan Dingin Bian

Share

Bab 26 Tatapan Dingin Bian

Penulis: Nona Enci
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-21 15:57:56

"Gimana, Bro, kepanasan nggak?" tanya seseorang dari balik telepon.

Bian mendapat pesan berupa foto di mana Laras dan Pandu berada di kantor dengan tangan pria itu mencekal lengan Laras. Bukannya apa, hanya saja Bian bingung sendiri, kenapa Laras masih saja dekat dengan mantan yang telah meninggalkannya? Padahal ia sudah melarang wanita itu sebelumnya.

"Biasa aja. Mereka lagi bahas kerjaan kayanya," balas Bian menebak-nebak.

"Bahas kerjaan masa sambil pegangan gitu," kompor Hendra yang tidak lain adalah Bos Laras sendiri.

Hendra pun melirik kedua manusia yang tidak sengaja ia pergoki tersebut. Ia seakan menguping kemudian melaporkannya kepada Bian, sahabatnya.

"Mereka lagi bahas Jelita, gue denger nama Jelita disebut," ujar Hendra.

Bian berdiri dari tempak duduknya, lalu menahan satu tangannya di atas meja kerja. Apalagi yang terjadi, kenapa Jelita dibawa-bawa? Pikir pria itu.

"Terus bilang apalagi mereka?" tanya Bian makin penasaran.

Waktu Hendra hendak menoleh kembali, Laras
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 27 Kebohongan

    Sesampainya di depan rumah. "Aku masuk dulu. Mas langsung berangkat lagi aja," ujar Laras membuka pintu mobil dan meninggalkan Bian di dalam sana. Ia tahu Bian hari ini lembur, ia juga masih kesal perkara bentakan tadi. Apalagi pria itu sama sekali tidak meminta maaf. Itu lah alasan kenapa Laras buru-buru masuk ke dalam rumah. *Malam harinya. "Udah jam 8, kenapa masih di sini?" tanya Ibu Laras menghampiri sang anak yang sedang melamun di kamarnya. Kamar yang dulu ia tempati sebelum menikah dengan Bian. Laras menoleh, menatap sang Ibu dengan tatapan penuh. Ia terdiam sejenak. Seolah memberitahu sang Ibu bahwa dirinya sedang kelelahan melalui tatapannya. "Lagi ada masalah sama Bian?" tanyanya. "Laras sama Mas Bian baik-baik aja, Ma." Ia pun meneliti isi kamarnya. "Kamar Laras masih sama, ya, nggak ada yang berubah."Tangannya mengelus kasur lembut miliknya itu. "Seprei masih sama. Nggak pernah Mama ganti, ya?""Semenjak kamu nggak tinggal sama kita, Mama jarang ke kamar kamu. Mam

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-22
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 28 Cukup

    Beberapa waktu ke belakang, Laras menyadari bahwa perasaannya terhadap Pandu sudah menghilang. Ia seakan mati rasa. Perasaan yang menggebu-gebu itu telah pudar seiring berjalannya waktu. Yang ia rasakan saat ini hanya bagaimana mempertahankan hubungan pernikahan dengan Bian.Laras sudah jatuh hati pada pria itu. Pada suaminya sendiri. Suami kontraknya. Suami yang tidak pernah memperjuangkan dirinya. Suami yang bahkan tak pernah menunjukan rasa cinta dan kasih sayang. Dingin. Laras merasa hanya ia yang berjuang, sedangkan Bian tidak cukup mengerti. Pria itu seolah tak tersentuh. "Mau ke mana?" Bian berdiri tegak melihat Laras yang hendak keluar dari kamar mereka. Laras menatap suaminya dengan tatapan dingin. Setelahnya berlalu keluar kamar. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mau ke mana wanita itu? Pikir Bian. Ia mengikuti Laras sampai di kamar sebelah. Pikirnya makin kacau. Tidak mungkin wanita itu tidur di kamar ini kan? "Laras—""Aku mau tidur di sini," ungkap wanita i

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-24
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 29 Pertengkaran

    Pukul sebelas siang. "Laras bahenol!" teriak Bima dengan berkas di tangannya. Laras sontak menghentikan langkahnya. Menyipitkan mata melihat Bima yang tengah berjalan ke arahnya. Ada apa? Pikirnya. "Udah ketemu sama suami lo?" tanya Bima tiba-tiba. "Mas Bian maksud kamu?" Bima kemudian mengangguk cepat. "Iya. Tadi dia ke sini, nanyain lo. Lagian lo pergi kenapa nggak izin dulu sama suami coba.""Kamu nggak jawab yang aneh-aneh kan?" "Nggak. Cuma gue bilang lo nggak di kantor, izin masuk siang. Kenapa si, lo emang dari mana jam segini baru datang," cecer Bima. "Makasih infonya, Bim." Bima mengerutkan keningnya heran. Laras memang ada aja tingkahnya. Wanita itu terlihat santai sekali. Ia bahkan menggelengkan kepalanya. "Ras, akhirnya datang juga kamu." Sarah menghampiri sahabatnya itu. "Kamu ditunggu Pak Hendra di ruangannya.""Kenapa, bukannya rapat nanti siang jam 1 ya?" tanya Laras kebingungan sendiri. "Laporan terakhir itu, udah selesaikan?" tanya Sarah ikut menerka. "Uda

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-24
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 30 Kesakitan Jelita

    Sore hari."Aku nggak bisa, Mas." Jelita menatap Bian sungguh-sungguh. "Aku nggak bisa lagi bertahan sama Mas Pandu," lirihnya. Bian membuang napas ke arah lain. Saat ini mereka sedang bertemu di sebuah taman yang terdapat jembatan di dalamnya. "Kamu harus ingat anak yang kamu kandung Jelita," ucap Bian cukup tegas, tetapi tersirat rasa khawatir di dalamnya. Jelita menunduk lemah. Ia tahu Bian pasti marah akan keputusannya itu. Namun, bertahan dengan Pandu begitu sulit. Ia merasa Pandu tidak sesayang itu padanya. "Aku bisa besarin anakku sendiri," ucapnya pelan. Entah kenapa, Bian merasa jengah sendiri. Mendengar hal itu dari mulut wanita di depannya membuat gejolak amarah hampir meledak, tetapi sebisa mungkin ia tahan. "Saya bantu kamu bicara sama Pandu," putus Bian. Jelita menahan. Ia menggelengkan kepala. "Aku mohon, Mas. Aku nggak mau balik lagi sama Mas Pandu."Wajah memelas itu membuat Bian merasa iba. Entah sudah berapa kali Jelita memohon padanya. Wanita itu bahkan ter

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-25
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 31 Penjelasan

    Di dalam rumah. Pukul 8 malam. "Mandinya udah?" tanya Bian melihat Laras yang sudah rapi menuruni anak tangga. Laras pun mengangguk lirih. Ia berjalan menuju dapur, mengecek apakah ada bahan baku yang bisa ia masak untuk makan malam nanti. Sedangkan sang suami yang sedang duduk di ruang tamu dengan televisi menyala pun ikut berjalan ke arah dapur. "Mau masak?" Lagi, lagi Bian bertanya. Laras tanpa mengeluarkan kalimat hanya bisa mengangguk seperti biasa. Wanita itu mengeluarkan sayur, telur juga mi instan. Ia berniat memasak mi pedas. "Mas mau makan mi?" tawar Laras biar sekalian ia buatkan. FYI, Bi Sri sedari siang sudah pulang lebih dulu karena sang anak jatuh sakit. Itu sebabnya tidak ada makan malam hari ini. Bian pun ikut mengecek bahan baku di dalam kulkas. "Saya lagi kepengen makan nasi goreng ayam suir. Kamu bisa buatkan?" Tangannya berhenti di dekat kompor. Air sudah ia rebus. Mi juga sudah dibuka. Kenapa tiba-tiba pria itu request menu makanan yang biasanya tinggal m

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-26
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 32 Sedang Mengusahakan

    Satu bulan berlalu. Semenjak kejadian di mana Laras marah besar kepada Bian karena pria itu telah membantu Jelita sang mantan pacar untuk tinggal sementara waktu di apartemennya, saat ini kedua pasangan suami istri itu bak orang asing yang tinggal satu rumah. Awalnya Laras sengaja mendiamkan Bian supaya pria itu berpikir. Namun, Bian malah ikut membisu sepanjang ia puasa berbicara pada suaminya. Laras pikir, Bian akan membujuknya. Pria itu berusaha agar ia tidak marah lagi. Sayangnya, yang dilakukan Bian justru berbanding terbalik. Tidak ada sapaan hangat. Hanya keasingan yang Laras rasakan sebulan belakang ini. "Kamu belum juga baikan sama Bian, Ras?" tanya Sarah. Saat ini Laras sedang bermain ke rumah sahabatnya itu. Menjenguk sang ponakan. "Aku nggak tau harus mulai dari mana." Laras menghadap ke arah Sarah. "Menurut kamu, mungkin nggak Mas Bian balik lagi sama Jelita?""Tadinya aku nggak mau berpikir ke sana, tapi akhir-akhir ini Mas Bian sering pulang malam. Bukan sekali dua

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-27
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 33 Kepergok Laura

    Rumah orang tua Laras. Wanita sengaja bermain ke sana karena ingin merilekskan pikiran. Setelah kejadian kemarin, pikirannya seakan penuh. Ia tidak mampu mencerna apa pun dalam waktu singkat. Bahkan ia masih menggunakan setelan kantor. Belum pulang ke rumahnya. "Kamu udah makan?" tanya sang Ibu. Laras mengangguk pelan. "Papa ke mana, Ma?" "Ada di halaman belakang. Lagi liat-liat burung sama Robi, anaknya Pak RT yang baru pulang dari Jerman itu.""Robi yang dulu culun pake kacamata itu, Ma?" tanya Laras ikut memastikan. "Iya, tapi jangan sangka kamu. Robi yang sekarang dia banyak berubah, kulitnya juga makin putih. Kaya bule-bule Jerman gitu," kompor Ibunya. Laras mencoba membayangkan bagaimana rupa Robi yang sekarang, sebab mungkin sudah 5 tahun setelah pria itu memutuskan pergi ke Jerman ia tidak pernah melihat dan tahu kabarnya bahkan di sosial media pun mereka tidak berteman. "Oh, iya, kamu kenapa ke sini? Belum pulang ke rumah." Ibunya tersadar. Laras langsung gelapan send

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-28
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 34 Masalah

    Setibanya di rumah orang tua Laras. Laura turun dari mobil Bian dengan muka ditekuk dan tidak memanyunkan bibirnya bak bebek. Gadis itu berjalan dengan cukup cepat, tetapi masih bisa dikejar oleh Bian. "Di dalam, kamu jangan ngomong yang macem-macem, ya," kata Bian sedikit mengancam. Laura melirik sinis kemudian melanjutkan langkahnya makin cepat. Ia membuka pintu dan langsung masuk ke dalam rumah dengan mood yang buruk. "Laura pulang," ujar gadis itu terdengar lemah. Sang Ibu pun langsung membalas, "Tumben lemes gitu. Biasanya teriak-teriak."Laura tidak menjawab, biarlah kedatangan Bian yang menjawab semuanya. Seolah Tuhan maha mengetahui isi hati manusia, tidak lama kemudian Bian pun muncul dengan postur tubuh gagahnya. Namun, Laura justru malah berdecak sebal. Seakan ia memiliki dendam kepada pria itu. "Loh, ada Bian juga. Kalian datang barengan?" tanya sang Ibu keheranan karena waktu yang berdekatan. Bian tersenyum hangat. "Iya, Bu. Tadi saya ketemu Laura di jalan, jadi bi

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-29

Bab terbaru

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 48 Hari Bahagia (Tamat)

    Jam makan siang."Laras!" panggil Lolita karena masih tidak terima bahwa surat penguduran dirinya tidak kunjung dapat persetujuan.Sarah yang melihat Lolita memanggil sahabatnya itu sontak menatap Laras seakan meminta jawaban."Kenapa, Ras?" tanya Sarah.Yang ditanya malah menggeleng pelan. Ia juga sebenarnya kurang tahu kenapa Lolita memanggilnya dengan nada cukup keras tersebut. "Yang bener aja kamu, Ras. Masa resign nggak ada omongan sama sekali ke aku," ujar Lolita masih tidak terima. Sarah yang mendengar seperti itu langsung menyahut, "Kamu resign, Ras?""Siapa yang resign?" Kali ini suara Bima yang muncul.Lolita menatap Laras dengan kesal. "Laras. Gara-gara dia surat resign saya batal di acc sama Pak Hendra.""Itu si nasib Bu Lolita." Bima memegang kopi dengan laptop di tangannya. "Pak Hendra mana mungkin lepasin sekretaris kesayangannya." "Diam kamu, Bima," balas Lolita tajam.Sebenarnya Lolita tidak marah, hanya saja kesal karena ia sudah menunggu-nunggu hari tersebut. Ia

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 47 Resign Bersama

    —Beberapa bulan kemudian. "Mas ... Mas Bian bangun." Laras menepuk-nepuk pipi suaminya pelan.Tidak lama pria itu membuka matanya usai mendapat satu kecupan di pipi. Mungkin itu jimat ketika Bian susah dibangunkan."Mas aku berangkat duluan, ya? Hari ini ada meeting," ujar Laras di jam 8 pagi.Bian yang masih tertidur di atas ranjang pun sontak terbangun. Ini masih pagi, kenapa sang istri sudah mau berangkat kerja?"Cium dulu," balas Bian setengah sadar.Laras memandang malas. Ia sudah mau telat, tetapi Bian malah meminta hal aneh yang pasti berujung memakan waktu lama.Cup! Ciuman itu mendarat di pipi untuk yang kedua kalinya."Udah. Aku berangkat, ya."Namun, baru saja hendak bangkit tangan Laras dicekal oleh Bian sehingga wanita itu kembali jatuh ke ranjang."Mas," gerutu Laras.Sayangnya Bian tidak peduli, pria itu malah menunjuk bibirnya dengan ibu jari. Menyodorkan pada sang istri seolah meminta lebih."Aku udah mau telat, Mas. Nanti aja, ya?"Akhirnya aksi tawar-menawaran Lara

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 46 Cinta yang Setara

    "Dari bibir kamu lebih manis," goda Bian.Laras refleks memukul tubuh sang suami. "Mas Bian!"Sayangnya pria itu justru terkekeh geli. Seolah hal yang paling menyenangkan adalah menganggu dan membuat istrinya marah."Muka kamu lucu," celetuk Bian. Laras pun merenggut. "Jangan kaya gitu lagi.""Kenapa?" Bian kembali mengikis jarak dengan sang istri. "Di sini aman. Mau nyoba lagi?"Tiba-tiba kedua orang tua Bian datang membuat keduanya berdiri dengan posisi normal. Laras merasa lega karena merasa diselamatkan."Kalian masih mau di sini atau ikut pulang bareng kami?" tanya Ibu Bian.Laras melirik ke arah Bian. Kemudian memamerkan senyum tipisnya. "Kita juga mau pulang, Bu. Takut hujan."Kedua orang tua Bian mengangguk lirih, berjalan lebih dulu meninggalkan kedua pasutri yang tengah berlibur tersebut. Entah sejak kapan Bian menjadi pria yang hangat dan romantis. Namun yang jelas Laras tidak henti tersenyum. Seperti saat ini, pria itu berjalan seraya menautkan jari-jemarinya dengan mili

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 45 Merasa Indah

    Usai berganti pakaian kedua pasangan suami istri tersebut menuruni anak tangga dengan senyum rekah di bibirnya. "Gibran?" panggil Laras saat sampai di bawah."Ibu sama ayah di mana?" tanyanya."Oh ... ibu sama ayah kayanya pergi ke kebun," balas Gibran.Tentu saja Laras kebingungan sendiri. Bukankah kesibukan kedua orang tua Bian adalah mengurus perusahaan mereka? Karena selama tinggal satu komplek yang ia tahu Bian ini dari keluarga berada. Ayahnya saja pemilik perusahaan tempat pria itu bekerja. "Ibu sama ayah saya memang urus perkebunan di sini, lebih tepatnya ibu. Karena hobinya berkebun," jelas Bian.Kemudian Gibran kembali membuka suara. "Kata ibu, Kak Bian disuruh ajak Kak Laras jalan-jalan. Jangan di rumah terus.""Makasih Gibran. Kamu pengertian, deh," celetuk Laras.Bian pun melirik ke samping. "Memangnya kamu nggak capek?""Stamina tubuh aku itu kuat, Mas. Jangan diragukan. Gimana kalau kita susul ibu sama ayah. Aku pengen liat-liat," ucap Laras tampak bersemangat. Gibra

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 44 Bertemu Mertua

    Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Bali, kini Laras dan Bian sudah berada di Taxi usai menempuh perjalanan pulang dari Bali—Bandung yang menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih. "Mas, udah hubungi Ibu kalau kita udah perjalanan ke rumah?" tanya Laras di dalam mobil. Bian pun mengangguk. "Udah. Kenapa, kamu kok keliatannya seneng banget?""Aku nggak sabar ketemu orang tua Mas Bian. Apalagi ini pertama kalinya aku diajak berkunjung langsung setelah kita nikah," jujur Laras tidak lupa menebarkan senyum.Bian ikut senang karena sang istri terlihat bahagia dengan hal-hal kecil yang akan ia jumpai setelah. Ia tidak hentinya tersenyum. Kemudian tangan lembut itu mengusap rambut Laras dengan sayang. "Laras ...."Laras menoleh lalu membalas, "Kenapa, Mas?""Nggak apa-apa. Saya seneng aja liat kamu senyum lebar kaya gini," ungkapnya."Emang selama ini aku jarang senyum?" tanya Laras kebingungan. Lagi lagi Bian menggeleng lirih. Istrinya itu selalu saja membuat gemas. Tidak ayal

  • Terikat Cinta Setelah Akad   43 Honeymoon

    Beberapa hari berlalu. Kini, Laras dan Bian sedang berkunjung ke salah satu pantai yang menyediakan penginapan dengan nuansa pantai pasir putih yang terletak di kota Denpasar, Bali. Kedua pasangan suami istri itu sedang bersiap-siap karena sebentar lagi langit akan berganti warna jingga. "Kamu beneran honeymoon ke Bali, Ras?" tanya Sarah dari balik telepon. Laras pun mengangguk dengan wajah menghadap ke cermin hias. Memoles tipis riasan agar wajahnya tidak terlalu pucat. "Aku kangen pantai, Sar. Kebetulan kita mau berkunjung ke rumah mertua, jadi biar sekalian aja pulang dari Bali ke Bandung," balas Laras. "Astaga, Ras. Kamu istrinya Direktur, loh, minta honeymoon ke Eropa, kek. Jangan nanggung-nanggung, mau keliling dunianya juga Bian duitnya nggak bakalan abis," celetuk Sarah sengaja. "Perjalanan jauh yang bikin capek, Sar. Mending yang deket-deket aja lebih menghemat tenaga," jelas Laras apa adanya. "Padahal kapan lagi jalan-jalan jauh sebelum punya anak, nanti kalo udah ada

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 42 Bian Mode Bucin

    Laras mendatangi Bian dengan langkah tergesa. Pria itu tidak kenal kerja kali, ya? Bahkan di jam harus bergulat dengan komputer pun malah pria itu mengganggunya. "Astaga Mas Bian ... ngapain ke sini?" tanya Laras menghampiri sang suami. Pria itu mengangkat kedua tangannya, menunjukkan plastik yang ia tenteng tersebut. Senyum manisnya justru membuat Laras ingin sekali menghajarnya. "Ngapain bawa makanan sebanyak itu?" ucap Laras dengan nada sedikit tidak suka. Bian menurunkan kedua tangannya dengan lesu. "Kamu kan belum sarapan tadi pagi. Ini saya belikan sekalian sama temen-temen kamu juga.""Tapi ini berlebihan Mas Bian."Pria itu seakan tidak peduli, lalu memindahkan kedua kantong plastik itu hingga beralih tangan kepada Laras. "Kalau nggak habis bisa dimakan lagi nanti siang. Terima, ya? Apa mau saya pesankan yang lain?"Mendengar itu Laras refleks menggeleng kuat. "Cukup. Ini aja udah banyak, Mas.""Ya udah sini," ucapnya cukup ambigu. Sedangkan Laras menatap heran. Sini mak

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 41 Tamparan

    "Laras!"Dengan kepanikan yang ada ia terus berjalan menuju lift, menekan tombol tersebut dengan tergesa berharap pintu lift cepat terbuka. Sungguh, ia tidak ingin bertemu dengan Pandu . Pria yang terus mengejarnya itu merupakan suami Jelita. "Laras," cegah Pandu berhasil menarik tangan Laras sehingga wanita itu tidak jadi masuk lift. Sayangnya Laras menepis cekalan itu dengan kasar. Menatap Pandu dengan tatapan tajam. Di dalam sorot matanya terlihat aura kebencian muncul di sana. Apakah benar pria di depannya itu Pandu yang ia kenal? Pandu yang tidak pernah menaikan nada bicara apalagi sampai bermain fisik. Apakah yang berdiri di hadapannya itu sosok Pandu yang berhati lembut? "Tolong jangan ganggu aku," tegas Laras. Kembali Pandu mencekal lengan wanita itu, menghentikan pergerakan Laras. Menatapnya cukup dalam"Ras," lirih Pandu. "Aku nggak mau berurusan lagi sama kamu, Mas," tekan Laras. Pandu menatap tidak percaya atas apa yang barusan wanita itu ucapkan. Bukankah dulu baik-

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 40 Mulai Membaik

    "Morning," kecup Bian di kening sang istri. Laras justru menggeliat geli, wanita itu membuka matanya secara perlahan. Di sampingnya sudah ada Bian yang tengah tersenyum hangat dengan posisi dada masih telanjang. Rasa lelah selepas tempur kemarin terasa membekas pagi ini, Laras seakan malas beranjak dari tempat tidur. "Kenapa tidur lagi, kamu nggak kerja?" tanya Bian melihat Laras memejamkan matanya. Wanita itu membalas, "Masih ngantuk, Mas.""Ya udah nggak usah kerja. Kamu di rumah aja istirahat, pasti capek karena semalam, ya?" goda Bian sengaja. Laras mendengus sebal. Pagi-pagi gini masih saja membahas soal semalam. Lagipula, siapa yang tidak capek melayani orang gila macam Bian? Ia bahkan baru bisa tidur di jam 2 pagi. Melelahkan memang. "Mas mandi duluan sana, aku mau tidur 15 menitan lagi," ujar Laras. Bian makin mendekatkan wajahnya. "Mandi bareng aja, gimana?""Mas!" kesal Laras langsung mendorong pria itu menjauh. Ia pun mengganti posisinya menjadi duduk dengan selimut y

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status