Maaf, Kakek, obatnya Robin ketinggalan di rumah saya.
Rahang Dante mengeras. Dia paling tak suka jika Robin mulai bersikap tak sopan. Cucu menantu dan ibunya sedang terharu, tetapi Robin malah mentertawakan mereka. “Jaga sikapmu, Robin,” tegur Dante. Mulut Robin masih membentuk senyuman biarpun sudah berhenti tertawa. Hal tersebut membuat Carita ikut kesal. Carita sudah melakukan banyak persiapan untuk hari ini. Namun, sandiwara sempurnanya hanya ditertawakan oleh Robin Luciano. ‘Benar kata orang, Robin adalah pria yang mengerikan. Dia tidak menunjukkan simpati sedikitpun pada istri palsunya.’ Semua prasangka Poppy dan ucapan Flint benar. Carita memang bekerja sama dengan Saul Martinez untuk mengurung Poppy di Pulau Solterra. Dia bahkan mengeluarkan banyak dana untuk mempertahankan Poppy di sana. ‘Jika bukan karena Robin Luciano, Stella tidak akan pernah bisa keluar dari pulau itu. Sekarang aku harus berlutut begini supaya gadis bodoh ini tidak berulah,’ geram Carita dalam hati. Semua kemewahan yang dinikmati Carita saat ini adala
Wajah Poppy mengernyit sekilas tatkala melihat seorang wanita berdiri di dekat Antonio. Wanita itu menutup mulutnya dengan gerakan dramatis seakan tak memercayai indra penglihatannya ketika melihat Poppy. Dia kemudian menangis dengan tatapan bahagia dan terharu. “Ibu sangat merindukanmu, Rose ….” Wanita yang mengaku ibu Poppy itu berjalan dengan gerakan lambat, seakan ragu mendekat. Poppy berdiri, masih menunjukkan keterkejutan. Air matanya tiba-tiba mengalir ketika wanita itu memeluknya. “Ibu?” “Benar, ini ibu ….” Wanita itu memeluk Poppy sambil memejamkan mata untuk menahan tangisannya. Poppy sebenarnya tak paham apa yang sedang terjadi. Dia pun tak mengenal wanita itu. Namun, dia yakin jika Robin yang menyuruh Antonio untuk memanggil wanita itu demi membantunya. “Kau datang di saat yang tepat, Ibu Mertua.” Robin mengangguk-angguk pelan dengan mata yang mengedip lambat, menghayati perannya. Dia menepuk punggung Poppy dan ibu palsunya yang masih melepas rindu dalam pelukan. Wa
“J-jangan dekat-dekat.” Poppy mendorong Robin. Perhatiannya lebih tertuju pada wajah Robin yang seperti akan bersandar di bahunya dibanding kejutan yang akan Robin berikan. “Apa kau memintaku bicara dengan suara keras agar semua orang mendengar?” Bahu dan kepala kiri Poppy bergetar ketika merasakan embusan napas Robin menerpa ceruk lehernya. Dia sedikit bergeser ke kanan, namun Robin malah menariknya lagi. “Apa lagi yang ingin Anda sampaikan?” “Tsk!” Robin berdecak sambil mencubit gemas bibir istrinya. “Jaga cara bicaramu di depan keluargaku.” Tatapannya terpusat pada bibir Poppy hingga wajahnya pelan-pelan mendekat. Poppy yang melihat bibir Robin sedikit terbuka seperti akan menciumnya segera berpaling ke arah lain. “Aku sedang bicara denganmu. Tsk!” “Dari tadi kau bilang akan bicara, tapi tidak mengatakan apa-apa dengan jelas.” Poppy hanya melirik suaminya. Robin pun tak tahu apa yang ingin dikatakan lagi. Dia merasa sudah memberi tahu semua kepada Poppy. Namun, wajahnya teru
“Jangan terlihat terkejut,” bisik Robin kembali mendekatkan wajahnya di pipi Poppy.Aroma tubuh Poppy sangat menggoda. Otak Robin seperti dipenuhi obat bius hingga sulit mengalihkan perhatian dari istrinya.Poppy tak mengindahkan Robin. Dia sudah tahu kalau ayahnya anak tunggal. Entah mengapa Robin terus-terusan mengganggu dan menegurnya, padahal dia hanya terkejut singkat dan tidak kentara.“Dasar, penipu … suamiku tidak punya saudara kandung,” cibir Carita lirih.April mengeluarkan sebuah kertas tebal yang dilipat dari tasnya. Dengan sopan, April menyerahkan kertas itu kepada Luca, yang lalu membisikkan sesuatu kepada Dante.“Lanjutkan.”“Belasan tahun yang lalu, terjadi kecelakaan hingga menewaskan istri August, ibu kandung Poppy. Setelah kejadian itu, August jadi jarang mengurus putrinya yang masih kecil. Saya sudah menawarkan bantuan untuk merawat Poppy, tetapi August menolak karena rumah saya ada di kota lain dan cukup jauh.”April mengusap rambut P
Poppy terkejut setengah mati. Dia langsung menatap suaminya untuk minta bantuan agar Dante tidak membunuh Carita.Bukan kematian Carita yang diinginkan Poppy. Pembalasannya harus membuat Carita menyesali perbuatannya seumur hidup. Jika Carita mati dengan mudah setelah melakukan kejahatan besar, semua akan berakhir begitu saja.“Rob–” Saat Poppy menoleh ke kiri, dia kembali terkejut karena wajah Robin begitu dekat dengannya.“Hmmm?” Robin menanggapi dengan tenang, tak peduli jika Dante akan membunuh ibu tiri istrinya.Poppy menunduk, menghindari tatapan Robin yang tampak sama ketika mereka sedang bercinta. “Aku tidak mau melihat ada yang mati di depan mataku,” bisiknya.Robin menghela napas kasar. Permintaan Poppy sungguh merepotkan karena dia harus mencegah kakeknya. Tetapi, baru kali ini Poppy meminta sesuatu padanya secara langsung. Robin terpaksa menuruti keinginannya.“Tuan Dante … saya benar-benar tidak membohongi Anda! Semua ucapan orang ini tidak benar!” seru Carita, tampak san
Dalam kekacauan di kamar Dante, pasangan suami-istri itu malah berciuman penuh gairah. Poppy memekik tertahan ketika tiba-tiba Robin mengangkat badannya.Kedua kaki Poppy sontak melingkar di pinggang Robin, takut terjatuh. Mereka masih berciuman ketika Robin mulai melangkah meninggalkan kamar.“Mau ke mana kita?” tanya Poppy setelah mereka sampai di luar kamar. Dia berkedip pelan untuk menyesuaikan matanya yang tiba-tiba melihat cahaya lampu di koridor.“Kita harus menunjukkan pada kakek kalau kita benar-benar menikah atas dasar cinta. Biar semua orang melihat dan tidak meragukan pernikahan kita lagi.”“Tapi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu ….” “Tsk! Kau hanya perlu memercayaiku! Aku lebih tahu kapan saat yang tepat untuk melakukannya.”“Baiklah. Lalu, bisakah kau menurunkanku?” Poppy malu karena berpapasan dengan para pengawal yang sedang berlari menuju kamar Dante.“Kau benar-benar sulit memahami ucapanku. Justru aku melakukannya karena ada banyak orang.”Tidak ada satu p
“Tuan Robin dan istrinya ada di ruangan sebelah, Tuan. Mereka–” Salah satu pengawal yang menjawab pertanyaan Dante itu menahan ucapannya, memilih kata yang tepat. Wajahnya merah padam mengingat suara-suara di dalam ruangan yang dimasuki Robin membuatnya gugup. “Mereka apa?!” bentak Dante. “Mereka sedang … sibuk … dan baik-baik saja,” lanjut si pengawal sarat makna, “tapi, entah bagaimana dengan Nyonya Poppy. Tuan Robin sepertinya sangat bersemangat.” Melihat wajah si pengawal semakin merah sampai leher dan telinga, Dante langsung memahami ucapannya. “Apa yang dilakukan anak itu?! Setelah membuat kekacauan malah berduaan dengan istrinya!” “Tuan Robin mungkin sengaja menembak lampu karena sedang terburu-buru. Sejak tadi, saya mengamati Tuan Robin kurang fokus dan hanya menatap istrinya,” adu Luca. Tampaknya, orang-orang di sekitar Robin tahu bahwa dia hanya memusatkan perhatian kepada Poppy. Hanya Robin sendiri yang masih menyangkalnya. Dante tersenyum samar. Akhirnya, dia akan se
“Tuan, aku mohon … aku benar-benar lelah …,” rengek Poppy. Dia sebenarnya hanya ingin segera pulang untuk menghindari rencana gila Robin.“Aku yang banyak bergerak, kenapa kau yang lelah?” Robin menunjukkan tangannya yang basah. “Lihat, perempuan munafik sialan, tubuhmu tidak bisa membohongiku.”‘Wah, julukanku sudah bertambah panjang. Tidak bisakah kau memanggil dengan nama yang kau berikan untukku?’ Poppy hanya bisa berharap dalam hati. ‘Kalau dipikir-pikir, Robin belum pernah memanggil namaku ….’“Ahhh … Tuan!” pekik Poppy. Di saat dia sedang melamun, Robin mulai menyatukan tubuh mereka dengan entakan penuh tenaga.“Apa yang sedang kau lamunkan? Apa kau mengingat kebaikan kakekku, hem?”Poppy menggigit bibir bawahnya saat Robin mengentak sekali lagi dengan kencang. Dia tak begitu mendengar pertanyaan Robin karena rasa hangat yang menjalar di tubuh lebih menguasai dirinya.Mendadak, Poppy meragukan ucapan Robin waktu itu, ketika mengatakan bahwa dirinya tak sudi disentuh wanita, kec
Poppy kembali melanjutkan langkah. “Tidak mungkin. Robin malah menyuruhku untuk menjaga Alice.” Dia kemudian terdiam dengan berbagai pikiran setelah mengatakannya. Ucapan Marcello ada benarnya. Namun, Poppy tetap yakin jika Robin tak mungkin mau membantu Alice, apalagi sampai menyuruhnya tinggal di kediaman jika memang ada kecurigaan seperti dugaan Marcello. “Kalau dia bisa menembak sebaik itu, bukankah mustahil anak buah Saul bisa menculiknya?” gumam Poppy. Marcello tak mendengarkan Poppy selagi berpikir keras, kemudian dia berkata, “Nyonya, demi keamanan, saya harap Anda menjaga jarak dengan Nona Alice untuk sementara waktu. Saya akan bertanya dulu kepada Tuan Robin, siapa sebenarnya gadis itu.” “Tidak usah! Aku saja yang bertanya pada Robin.” Poppy sudah cukup mahir menyembunyikan kekhawatirannya. Fakta bahwa Alice bisa menembak seperti profesional memang cukup meresahkan. Ucapan Marcello pun sebenarnya juga sempat terpikir dalam benaknya. Terlebih lagi, Poppy tadi melihat ke
“Saya akan menemani Anda menemui Tuan Rafael, Nyonya.” Marcello menawarkan diri. Poppy meletakkan senjata selagi mengangguk. Dia terburu-buru mengikuti Donna yang berjalan cepat meski sepertinya melupakan sesuatu. Saat melewati bangunan utama, Poppy tiba-tiba ingat sesuatu yang dilupakannya itu. “Tunggu! Ponselku ketinggalan.” Siapa tahu Robin akan menghubunginya. Akhir-akhir ini Poppy sering memakai ponsel, menanti kabar Robin. “Biar saya ambilkan, Nyonya,” ucap Marcello. “Tidak perlu.” Poppy berbalik sambil berlari kecil. Namun, Marcello tetap mengikuti. Ketika Marcello sedikit membuka tempat latihan menembak, dia langsung menatap Poppy dengan dahi berkerut, begitu pula dengan Poppy. Terdengar suara tembakan dari dalam ketika biasanya tak ada yang berani masuk ruangan itu saat jam latihan Poppy. Poppy mendadak khawatir ketika ingat Alice masih ada di dalam. “Alice masih di sana, bukan? Bagaimana kalau ada penyusup yang melukainya?” “Mari ikuti saya, Nyonya. Jangan
“Jadi, kau selama empat hari sibuk sampai tidak pulang karena masalah ini? Aku lebih berharap kau ada di sisiku ….”Keinginan Poppy sedikit berubah. Dia lebih menginginkan kehadiran Robin dibanding mengurus masa lalu yang tak dapat diulangi lagi, meski dia masih tak menyangkal kebahagiaan ketika Robin membantunya mengambil hak-haknya yang telah dirampas Carita.Di markas lain Luciano, tempat berkumpul para pengikut setia Robin, suami Poppy itu sedang mengetik sesuatu di ponsel. Banyak hal yang ingin dia katakan kepada Poppy, termasuk mengancamnya agar tidak tersenyum di hadapan pria lain.Namun, dia malah menghapus semua pesan yang sudah diketik itu. Akhirnya, Robin hanya mengetik kalimat seperlunya saja.[Semua bukti bahwa Carita terlibat dengan organisasi perdagangan manusia sudah terkumpul. Tapi, ibu tirimu menghilang saat anak buahku mendatanginya untuk melayangkan tuntutan secara hukum. Kau tidak perlu khawatir atau takut selama kau tidak meninggalkan kediaman.]
Firasat Poppy benar. Dia begitu sakit hati saat Robin berniat mengembalikan identitas aslinya. ‘Aku seharusnya senang. Tanpa usaha apa pun, aku bisa kembali ke kehidupanku semula. Tapi, rasanya sakit sekali saat tahu kau mungkin akan melepasku,’ batin Poppy, diam ketika Robin melepas tangannya dan melangkah masuk ruang kerjanya, seakan-akan saat ini adalah masa-masa terakhirnya bisa memegang tangan pria itu. “Mari masuk, Nyonya.” Poppy melangkah dengan berat. Namun, ketika masuk ke ruangan kerja suaminya, pikirannya segera teralihkan oleh pemandangan di hadapannya. Ruang kerja yang luas itu tampak menciut dengan banyak pria besar memenuhi ruangan. Poppy tak bisa menahan kekagetan ketika melihat sosok yang tak terduga di antara mereka, orang yang pernah memohon bantuannya agar mau memintakan izin kepada Robin karena mengaku takut padanya. Namun, orang itu sekarang justru duduk di tengah-tengah pria berbadan besar seperti seorang bos tanpa jas snellinya. “Bagaimana kabar Anda, Ny
‘Kenapa dia memanggilku dengan nama itu?’ batin Poppy gelisah. Entah mengapa dia justru tak senang ketika Robin memanggilnya dengan nama asli. Sudah lama dia berharap Robin memanggil nama Poppy, namun Robin justru seperti ingin menunjukkan jarak, seakan ingin mengembalikan Poppy ke tempat asalnya dengan identitas Stella Valentine.“Apa … maksudmu?”Ucapan Robin yang menyuruhnya untuk bisa melindungi diri sendiri bisa memiliki banyak makna. Akan tetapi, hanya ada satu hal yang muncul di benak Poppy. Robin mungkin akan meninggalkan dirinya sehingga tak akan bisa melindunginya lagi.“Kembali pada posisi menembak,” titah Robin, enggan membicarakan masalah itu.Poppy akhirnya kembali melanjutkan latihan. Mereka hanya membicarakan tentang teknik menembak yang benar, tanpa membahas perkataan Robin sebelumnya.Meski Poppy terlihat sudah melupakan ucapan Robin, namun dalam kepalanya masih dipenuhi tanda tanya. Dia tak berani bertanya ataupun menyela Robin yang bersungguh-sungguh mengajarinya.
DEG!Robin berhenti berjalan selagi meremas dadanya. Entah mengapa dia tiba-tiba merasakan seseorang memanggilnya. Kemudian, kedua alisnya terangkat ketika terbersit firasat buruk.“Apa yang terjadi dengan perempuan itu?” gumamnya.Dia segera mengayunkan kaki dengan cepat. Hingga akhirnya, dia sampai di lapangan latihan tembak tak sampai lima menit.“Apa yang kau lakukan, Jose?!” bentak Robin ketika dia melihat istrinya sedang mengarahkan senjata pada salah satu tawanan mereka.Suara keras Robin biasanya membuat dada Poppy bergetar takut. Namun, sekarang dia sangat lega mendengar suara itu, hingga ingin melempar senjata dan berlari memeluk suaminya.“Apa maksud Anda, Bos?” Jose tak memahami kemarahan Robin.“Aku menyuruhmu mengajarinya menembak, bukan membunuh orang!”Robin mengumpat dalam hati. Dia seharusnya tak teralihkan pada masalah kecil seperti cincin pernikahan. Karena kelalaiannya, Poppy mungkin akan mengingat traumanya.“Oh, kupikir akan lebih baik jika Nyonya Poppy belajar
Sementara itu, Robin tak tahu kesulitan apa yang sedang dihadapi istrinya. Dia justru sibuk memilih-milih cincin pernikahan yang tampak elegan, namun dapat terlihat semua orang dengan jelas.“Yang ini sepertinya akan cocok di jari manisnya.” Robin tersenyum puas sambil melipat tangan di depan dada dan menyandarkan punggung di kursinya. Dia membayangkan Poppy akan tersenyum lebar sambil memamerkan cincin itu kepada semua orang, lalu mengatakan bahwa dia adalah milik Robin Luciano.“Tuan, saya sudah datang.” Antonio membuka pintu ruangan itu, lalu menghampiri Robin, berdiri di dekat kursinya. “Anda akan membeli cincin itu?” tanyanya kemudian.Robin memicingkan mata, mengamati gerak-gerik mencurigakan tangan kanannya itu. Antonio sedikit memiringkan kepala ketika melihat cincin dengan berlian tanpa warna. Dia terlihat tak menyukai ide Robin membeli cincin itu.“Cincin itu tidak cocok untuk Anda, Tuan.”“Apa kau pikir aku yang akan memakainya?”“Oh, Anda ingin membelikan cincin itu untuk
“Tuan, hentikan …,” isak seorang gadis muda. “Ah, sial! Jangan banyak meronta! Kau sendiri yang merayuku … buka saja kakimu lebih lebar!” Mata Poppy terbelalak ketika melihat pria tampan dan gadis muda sedang bergumul tanpa busana di sofa panjang. Wajahnya sontak merah padam, kemudian Robin menutup matanya. “Jangan berani melihat milik pria lain!” Robin menatap tajam anak buahnya yang akhirnya menyadari kehadirannya. “Keluar dari ruanganku!” bentaknya. Pria itu segera menyeret si gadis keluar sambil membawa pakaian mereka. Robin sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu, tetapi tidak dengan istrinya, dan bukan di ruang kerjanya. Robin mencoba untuk menahan amarahnya. Baru dua hari dia tak datang, kantornya digunakan untuk melakukan tindakan asusila. Dia benar-benar ingin segera merealisasikan tujuannya dan menghabisi semua pria hidung belang itu. “Robin, lepas …,” pinta Poppy, setelah mendengar pintu ditutup. Robin melepaskan tangannya dari mata Poppy. Dia kemudian melempa
Keinginan Dante begitu jelas sampai Poppy yang tidak begitu ahli membaca ekspresi wajah seseorang pun dapat mengetahuinya. Apa pun yang terjadi, Poppy tak sudi melakukan hal keji kepada orang lain.Sayangnya, Poppy tak punya kuasa untuk menolak perintah itu. Robin pun tidak membantah Dante lagi.Mereka bahkan sudah sampai di depan markas besar keluarga Luciano saat ini …“Pegang tanganku,” titah Robin ketika mereka turun dari mobil.Di area parkir luas itu, banyak pria bertato hanya mengenakan kaos tanpa lengan. Mereka segera berbaris, menunduk singkat kepada Robin.“Halo, Bos! Tumben kau datang siang-siang,” sapa pria bertubuh kekar yang menjadi satu-satunya orang berpakaian rapi.“Kakek menyuruh istriku untuk berlatih menembak. Siapkan tempatnya,” perintah Robin, lalu menggandeng Poppy masuk ke pintu ganda besar.“Ingat, kau harus terus berada di sisiku.”Poppy menunduk. Dia semakin erat mencengkeram jaket kulit suaminya.Suasana di markas Lucia