"Kebun botani sebesar ini, masa nggak ada satu pun petugas jaga malam? Atau jangan-jangan lagi tidur atau malas-malasan ...," kata Stendy sambil mengulurkan tangan, siap menekan tombol sekali lagi.Namun, sebelum jarinya menyentuh alat itu, tiba-tiba alarm berbunyi nyaring."Apa-apaan ini?" Dia terpaku sejenak.Seketika, perasaan tidak enak muncul di hati Nadine. Begitu dia melihat ekspresi Arnold yang terlihat seperti berkata "sudah kuduga", firasatnya langsung terkonfirmasi.Arnold berkata, "Kamu terlalu terburu-buru."Belum memastikan fungsinya, langsung asal pencet.Stendy mengernyit. "Tapi kan jelas-jelas tandanya memang seperti itu. Bagian mana yang salah?"Arnold menjelaskan dengan tenang, "Simbol bel kuning itu punya dua arti. Pertama, seperti yang kamu bilang, untuk menghubungi pihak luar waktu darurat. Tapi yang kedua adalah ... peringatan dini.""Peringatan dini?""Ya. Bunyi alarm yang kita dengar sekarang adalah sinyal peringatan. Di kebun botani seperti ini, walaupun hampi
Setelah menutup telepon, Arnold menyampaikan informasi dari pihak pengelola kepada mereka berdua. Tepat saat itu, suara gemuruh kembali terdengar dari langit. Angin berembus membawa udara lembap, menyapu wajah mereka.Nadine mengerutkan kening. "Sepertinya ... bakal hujan lagi.""Di depan ada gazebo kecil, kita bisa berteduh di sana," kata Stendy sambil menoleh ke sekeliling dan melihat sebuah gazebo tak jauh dari sana.Nadine mengangguk.Tak ada pilihan lain. Sebelum pintu berhasil dibuka, mereka memang hanya bisa menunggu di sini. Stendy pun kembali menggendong Nadine menuju gazebo tersebut.Sesampainya di sana, Nadine menepuk pundaknya pelan. "Turunin saja."Stendy menurunkan tubuhnya dengan hati-hati, sementara Arnold juga bersiaga di samping dan siap menangkap jika Nadine terjatuh. Untungnya, hanya satu kakinya yang cedera. Kaki satunya masih bisa menopang.Dengan bantuan keduanya, Nadine melompat pelan dan duduk di bangku panjang yang ada di dalam gazebo. Arnold membuka ranselnya
Melihat Nadine menggigil hebat, Stendy langsung melepas jaketnya, bersiap untuk menyelimutkannya. Namun Arnold berkata, "Jaketmu juga basah. Lebih baik pakai punyaku saja."Sambil bicara, dia sudah membuka ritsleting jaket gunungnya, lalu memakaikannya langsung ke tubuh Nadine.Stendy terdiam.Nadine benar-benar merasa kedinginan. Padahal dia sudah meminum air hangat dan mengganti pakaian basahnya dengan yang kering. Namun, rasa dingin itu seolah meresap sampai ke tulang, makin lama makin menusuk.Menjelang dini hari, hujan benar-benar turun lagi. Bukan hujan deras disertai petir, melainkan gerimis yang tak kunjung berhenti. Situasi ini justru terasa semakin menyiksa.Angin dingin menyusul, menderu tanpa ampun.Gazebo itu hanya beratap dan ditopang oleh empat tiang. Tidak ada dinding untuk menghalangi angin. Saat angin bertiup, tubuh mereka langsung menjadi sasaran.Suara Nadine bergetar. "A-aku ... kedinginan ...."Meski sudah mengenakan jaket Arnold dan memeluk tubuhnya sendiri erat-
Keributan itu langsung menarik perhatian banyak mahasiswa dan staf kebun botani yang berkerumun."Siapa sih orang ini? Gaya banget!""Sepertinya aku pernah lihat dia. Waktu acara pertemuan kemarin dia datang barengan sama Jinny. Mungkin pacarnya?""Nggak deh, setahuku dia itu pengusaha. Pernah muncul beberapa kali di majalah bisnis.""Punya duit memang beda, ya. Bahkan bisa-bisanya ngomong mau nutup kebun botani milik negara .... ckck ...."Melihat kerumunan semakin ramai, staf penanggung jawab mulai merasa tidak tenang. Kelopak matanya berkedut dan dia menghela napas dalam-dalam.Awalnya, dia tidak berniat memperpanjang urusan dengan Reagan. Namun, karena ada banyak orang yang melihat kejadian itu, dia merasa harus meluruskan keadaan. Kebun botani ini bukan dikelola dengan mengandalkan investasi dari para pengusaha ....Namun, belum sempat dia buka mulut, suara gaduh dari kerumunan terdengar. Darius dan Mikha menerobos masuk dengan cemas."Pak! Kami teman sekelompok Nadine! Dia sudah
Semua teman dekat di lingkungan pertemanan mereka tahu bahwa Nadine Wicaksono sangat mencintai Reagan Yudhistira. Saking cintanya, Nadine sampai tidak punya kehidupannya sendiri, seolah-olah ingin berada di dekatnya selama 24 jam sehari.Setiap kali mereka putus, belum sampai tiga hari saja Nadine akan kembali untuk meminta balikan. Di dunia ini, siapa pun mungkin bisa mengatakan kata "putus", kecuali Nadine. Ketika Reagan masuk sambil memeluk kekasih barunya, ruangan itu menjadi hening selama lima detik.Gerakan Nadine yang sedang mengupas jeruk terhenti, "Kenapa kalian semua diam? Kenapa pada lihat aku?""Nadine ...." Teman-temannya memandangnya dengan tatapan khawatir.Namun Reagan tetap santai memeluk wanita itu dan langsung duduk di sofa. "Selamat ulang tahun, Philip" ucapnya. Begitu terang-terangan, seolah-olah tidak terjadi apa pun.Nadine langsung berdiri. Ini hari ulang tahun Philip, jadi dia tidak ingin membuat kekacauan. "Aku ke toilet sebentar." Saat menutup pintu, dia mend
Di meja makan.Reagan bertanya, "Kenapa nggak ada bubur?""Maksud Tuan, bubur untuk kesehatan lambung ya?""Bubur untuk kesehatan lambung?" tanya Reagan lagi."Ya, bubur yang sering dimasak Nona Nadine. Bubur millet dicampur ubi, bunga bakung, dan kurma merah, 'kan? Wah, aku nggak sempat menyiapkannya. Hanya untuk bunga bakung, jali-jali, dan kurma merahnya saja harus direndam semalaman dan mulai direbus keesokan paginya.""Selain itu, pengaturan apinya sangat penting. Aku nggak sepeka Nona Nadine untuk terus mengawasi api. Hasil masakanku juga nggak akan seperti miliknya, terus ...."Reagan menyelanya, "Bawakan saus daging sapi.""Oke, Tuan.""Kenapa rasanya beda?" Reagan melihat sekilas botol itu. "Kemasannya juga beda.""Yang sebelumnya sudah habis, hanya tersisa yang ini," jawab Bibi Julia."Nanti belikan dua kaleng di supermarket.""Nggak dijual.""Hah?" Reagan kebingungan.Julia tersenyum canggung. "Saus itu buatan Nona Nadine sendiri, aku nggak bisa buat ...."Prang!"Hm? Tuan n
"Nggak nemu tempat parkir yang bagus ya? Aku keluar untuk bantu ...." Saat menyadari ekspresi Reagan yang muram, Philip baru tersadar. "Hah! Kak Reagan, jangan-jangan ... Kak Nadine masih belum kembali?"Sekarang ini sudah lewat dari tiga jam.Reagan membuka tangannya sambil mengangkat bahu. "Balik apanya? Kamu kira putus itu candaan?" Setelah berkata demikian, dia berjalan melewati Philip dan duduk di sofa.Philip menggaruk kepalanya. Apakah kali ini mereka benar-benar putus? Namun, dia langsung menggelengkan kepala mengenyahkan pemikiran itu. Dia percaya bahwa Reagan tega memutuskan hubungan, tetapi Nadine ....Semua wanita di dunia ini mungkin bisa menerima putus, tapi Nadine sudah pasti tidak bisa. Hal ini adalah fakta yang telah diakui dalam lingkaran pertemanan mereka selama ini."Reagan, kenapa kamu sendirian?" tanya Teddy sambil tersenyum sinis. "Tiga jam sudah lewat, sekarang sudah seharian."Reagan menyeringai, "Aku kalah taruhan, jadi harus terima hukumannya. Apa hukumannya?
Reagan terlalu banyak minum semalam. Selain itu, si berengsek Philip malah mengajaknya untuk minum lagi di tengah malam. Saat Reagan diantar pulang oleh sopir, langit sudah mulai terang.Awalnya dia sudah terkapar di ranjang karena rasa kantuknya yang hebat. Namun, dia tetap memaksakan diri untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya sebentar.'Kali ini Nadine seharusnya nggak akan marah, 'kan?' batin Reagan dalam pikirannya yang setengah sadar. Saat membuka mata kembali, rasa sakit yang hebat membuatnya terjaga."Ugh ...." Sambil menekan perutnya, Reagan berusaha untuk bangkit."Aku sakit maag! Nad ...." Saat hendak memanggil nama itu, Reagan terhenti seketika. Reagan mengerutkan alisnya sejenak. 'Hebat sekali Nadine kali ini, bahkan lebih keras kepala dari sebelumnya. Baiklah, kita lihat seberapa lama dia bisa bertahan.'Akan tetapi ... di mana letak obatnya?Reagan pergi ke ruang tamu untuk mengobrak-abrik laci dan lemari. Semua laci yang bisa menyimpan barang sudah digeleda
Keributan itu langsung menarik perhatian banyak mahasiswa dan staf kebun botani yang berkerumun."Siapa sih orang ini? Gaya banget!""Sepertinya aku pernah lihat dia. Waktu acara pertemuan kemarin dia datang barengan sama Jinny. Mungkin pacarnya?""Nggak deh, setahuku dia itu pengusaha. Pernah muncul beberapa kali di majalah bisnis.""Punya duit memang beda, ya. Bahkan bisa-bisanya ngomong mau nutup kebun botani milik negara .... ckck ...."Melihat kerumunan semakin ramai, staf penanggung jawab mulai merasa tidak tenang. Kelopak matanya berkedut dan dia menghela napas dalam-dalam.Awalnya, dia tidak berniat memperpanjang urusan dengan Reagan. Namun, karena ada banyak orang yang melihat kejadian itu, dia merasa harus meluruskan keadaan. Kebun botani ini bukan dikelola dengan mengandalkan investasi dari para pengusaha ....Namun, belum sempat dia buka mulut, suara gaduh dari kerumunan terdengar. Darius dan Mikha menerobos masuk dengan cemas."Pak! Kami teman sekelompok Nadine! Dia sudah
Melihat Nadine menggigil hebat, Stendy langsung melepas jaketnya, bersiap untuk menyelimutkannya. Namun Arnold berkata, "Jaketmu juga basah. Lebih baik pakai punyaku saja."Sambil bicara, dia sudah membuka ritsleting jaket gunungnya, lalu memakaikannya langsung ke tubuh Nadine.Stendy terdiam.Nadine benar-benar merasa kedinginan. Padahal dia sudah meminum air hangat dan mengganti pakaian basahnya dengan yang kering. Namun, rasa dingin itu seolah meresap sampai ke tulang, makin lama makin menusuk.Menjelang dini hari, hujan benar-benar turun lagi. Bukan hujan deras disertai petir, melainkan gerimis yang tak kunjung berhenti. Situasi ini justru terasa semakin menyiksa.Angin dingin menyusul, menderu tanpa ampun.Gazebo itu hanya beratap dan ditopang oleh empat tiang. Tidak ada dinding untuk menghalangi angin. Saat angin bertiup, tubuh mereka langsung menjadi sasaran.Suara Nadine bergetar. "A-aku ... kedinginan ...."Meski sudah mengenakan jaket Arnold dan memeluk tubuhnya sendiri erat-
Setelah menutup telepon, Arnold menyampaikan informasi dari pihak pengelola kepada mereka berdua. Tepat saat itu, suara gemuruh kembali terdengar dari langit. Angin berembus membawa udara lembap, menyapu wajah mereka.Nadine mengerutkan kening. "Sepertinya ... bakal hujan lagi.""Di depan ada gazebo kecil, kita bisa berteduh di sana," kata Stendy sambil menoleh ke sekeliling dan melihat sebuah gazebo tak jauh dari sana.Nadine mengangguk.Tak ada pilihan lain. Sebelum pintu berhasil dibuka, mereka memang hanya bisa menunggu di sini. Stendy pun kembali menggendong Nadine menuju gazebo tersebut.Sesampainya di sana, Nadine menepuk pundaknya pelan. "Turunin saja."Stendy menurunkan tubuhnya dengan hati-hati, sementara Arnold juga bersiaga di samping dan siap menangkap jika Nadine terjatuh. Untungnya, hanya satu kakinya yang cedera. Kaki satunya masih bisa menopang.Dengan bantuan keduanya, Nadine melompat pelan dan duduk di bangku panjang yang ada di dalam gazebo. Arnold membuka ranselnya
"Kebun botani sebesar ini, masa nggak ada satu pun petugas jaga malam? Atau jangan-jangan lagi tidur atau malas-malasan ...," kata Stendy sambil mengulurkan tangan, siap menekan tombol sekali lagi.Namun, sebelum jarinya menyentuh alat itu, tiba-tiba alarm berbunyi nyaring."Apa-apaan ini?" Dia terpaku sejenak.Seketika, perasaan tidak enak muncul di hati Nadine. Begitu dia melihat ekspresi Arnold yang terlihat seperti berkata "sudah kuduga", firasatnya langsung terkonfirmasi.Arnold berkata, "Kamu terlalu terburu-buru."Belum memastikan fungsinya, langsung asal pencet.Stendy mengernyit. "Tapi kan jelas-jelas tandanya memang seperti itu. Bagian mana yang salah?"Arnold menjelaskan dengan tenang, "Simbol bel kuning itu punya dua arti. Pertama, seperti yang kamu bilang, untuk menghubungi pihak luar waktu darurat. Tapi yang kedua adalah ... peringatan dini.""Peringatan dini?""Ya. Bunyi alarm yang kita dengar sekarang adalah sinyal peringatan. Di kebun botani seperti ini, walaupun hampi
"Cepat sekali?" tanya Nadine dengan terkejut.Arnold mengangguk pelan, lalu kembali mengeluarkan sebuah termos dari ranselnya. "Kamu kehujanan, bajumu juga basah. Minum sedikit air hangat dulu, biar tubuhmu lebih hangat."Ternyata dia membawa termos berisi air hangat.Air dengan suhu sekitar 50 derajat itu langsung memberikan rasa hangat sejak menyentuh lidah. Begitu masuk ke perut, bagian atas tubuhnya pun mulai terasa lebih nyaman.Nadine tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Pak Arnold bahkan bawa air hangat juga?"Arnold tidak menjawab. Saat dia tak sengaja mengangkat kepala, matanya bertemu dengan tatapan menyelidik dari Stendy."Pak Arnold bawaannya lengkap banget, ya?" tanya Stendy.Arnold menjawab tenang, "Aku terbiasa mempersiapkan semuanya dulu baru berangkat. Kalau cedera Nadine tadi lebih serius dan aku nggak bawa perlengkapan, akibatnya bisa fatal."Stendy terdiam. Dia merasa agak tersindir.Nadine buru-buru mengalihkan topik. "Oh iya, Pak Arnold hafal jalan pulang n
"Stendy, aku di sini!" teriak Nadine sekuat tenaga untuk merespons.Zona hutan tropis di kawasan tanaman itu sangat rimbun. Karena pepohonan menjulang lebat, jarak pandang pun terbatas. Siapa pun yang belum familier dengan area ini, sangat mudah untuk tersesat.Saat Stendy memasuki area itu, dia memang sempat bertanya pada Mikha. Namun, yang dia dapatkan hanya perkiraan arah secara umum. Semakin dalam dia melangkah, cahaya semakin redup. Hingga akhirnya, sama sekali tidak ada penerangan yang bisa menembus masuk.Gelap total.Meskipun membawa senter, dengan luas area sebesar ini, cahaya kecil itu hanya bisa menerangi sebagian kecil jalan. Demi keamanan dan mempercepat pencarian, dia terus berjalan sambil memanggil nama Nadine.Untungnya, malam itu peruntungannya cukup baik.Setelah berjalan selama kurang lebih setengah jam dan menyusuri jalan yang dipenuhi genangan air, saat dia hendak mengubah arah pencarian, tiba-tiba terdengar suara jawaban dari kejauhan. Itu Nadine!"Jangan bergerak
Saat Clarine kembali ke kamarnya, dia tidak sengaja mendengar dua staf yang berbicara. Katanya, pihak atasan sedang memberi tekanan pada mereka. Bahkan ada tokoh penting yang langsung turun tangan dan mengeluarkan ultimatum."Kalau orang itu nggak ditemukan, kalian semua siap-siap angkat kaki!"Siapa yang punya pengaruh sebesar itu? Latar belakang sehebat itu? Siapa yang bisa punya dukungan sekuat itu?Clarine hanya merasa darahnya mendidih. Rasanya ingin langsung keluar dan membentak kedua staf itu. "Dia punya pengaruh apaan? Latar belakang apaan? Cewek itu cuma barang bekas yang sudah dipermainkan habis-habisan sama kakakku!"Jadi, saat Reagan menelepon, insting pertamanya adalah "ini pasti karena Nadine"."Tadi kamu bilang Nadine hilang? Kenapa bisa? Sekarang kamu di mana?" Suara Reagan langsung meninggi. Dia langsung duduk tegak fan tangan yang menggenggam gelas hampir menghancurkan kaca itu.Clarine tertegun. "Eh ... jadi Kakak bukan nelepon karena kabar Nadine?"Mata Reagan memer
Cahaya bulan bersinar terang, angin malam berembus kencang dan menusuk. Namun di dalam bar, suasananya hangat seperti musim panas .... Philip mengadakan acara minum-minum dan sekelompok orang sedang seru-serunya bermain kartu."Pair dua! Menang! Hahaha, Ferrari-mu jadi milikku sekarang!""Curang! Curang! Ayo ulang satu ronde lagi!""Eh, kalah sedikit saja langsung teriak curang? Ya sudah deh, kasih kamu satu ronde. Tapi kalau ronde selanjutnya aku menang lagi, rumahmu yang di Bayview Residence juga masuk taruhan!""Oke!"Hanya sebuah rumah dan satu mobil, bukannya tidak mampu!Philip sendiri tidak ikut bertaruh. Dia hanya duduk di samping menikmati keramaian. Saat satu ronde kartu selesai, dia menoleh dan melihat Reagan duduk sendirian di sofa sambil menenggak minuman dengan wajah muram."Kak, baru datang kenapa langsung minum? Tuh, yang lain lagi main gede-gedean. Nggak mau ikutan satu ronde?"Reagan tidak terlalu berminat. "Kalian saja yang main."Sambil bicara, dia kembali menuang a
Langit telah gelap sepenuhnya. Jarum jam hampir menunjukkan pukul tujuh dan konferensi akademik itu pun sampai pada penghujung acara. Saat pembawa acara menyebutkan nama Arnold, semua mata tertuju padanya. Dia melangkah ke atas panggung, bersiap menyampaikan pidato penutup.Di tengah pidatonya, ponselnya bergetar dua kali. Namun, dia tidak punya kesempatan untuk menjawab.Entah mengapa, sebuah firasat buruk tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hatinya. Kelopak matanya juga berkedut tanpa henti. Arnold buru-buru merangkum beberapa topik utama konferensi. Gaya penyampaiannya tetap mantap, pandangannya luas, dan isi pidatonya berbobot.Para hadirin mendengarkan dengan antusias dan terus mengangguk.Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa mendengarkan laporan-laporannya, jelas merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Arnold. Biasanya, Arnold memaparkan materi dengan runtut dan terperinci. Namun hari ini, dia seperti ingin buru-buru menyelesaikan semuanya.Setelah mengakhiri pidatonya dengan s