"Selain kamu, siapa lagi yang bisa ngelakuin hal barbar begini?" Jelas sekali, Irene sudah marah besar saat ini. Dia sangat jarang berkata kasar kepada orang lain, bahkan menggunakan kata "barbar" saja sudah merupakan kata paling kasar yang bisa dipikirkannya.Namun, Karen hanya tertawa dingin dan berkacak pinggang dengan santai, lalu berkata, "Barbar? Begini saja disebut barbar? Kamu belum pernah lihat yang lebih barbar lagi!""Jadi, kamu mengaku kalau kamu yang melakukannya?" Irene membelalakkan matanya tak percaya.Tatapan Karen berkilat dingin. "Hati-hati kalau bicara! Memangnya aku ngaku apa? Mana buktinya? Kamu punya bukti, nggak?""Lagian, memangnya kenapa kalau aku yang melakukannya? Kamu berani panggil polisi untuk menahanku? Hukum itu baru bisa bertindak kalau kerugian lebih dari sejuta. Jangan kira aku nggak paham hukum!"Tubuh Irene gemetaran saking marahnya.Melihat istrinya di ambang emosi, Jeremy segera melangkah maju dan berdiri di depannya untuk melindunginya. "Karen,
Wajah Karen sontak berubah muram.Jeremy kembali menimpali, "Oh ya, tongkat pel itu baru kupakai untuk bersihin toilet tadi dan belum sempat dicuci. Tapi, lantai toilet kami nggak terlalu kotor, seharusnya nggak masalah. Kak Karen nggak keberatan, 'kan?"'Nggak keberatan apanya!' maki Karen dalam hati."Duh, Ayah, apa kamu sudah lupa ...." Nadine melanjutkan, "Makanan sisa kemarin semuanya kubuang ke toilet. Memang sudah disiram air, tapi rasanya masih berminyak ....""Bi Karen, menurutmu, tubuhmu bau basi nggak?"Jeremy dan Nadine saling bersahutan menyindirnya. Wajah Karen yang awalnya tampak bangga, kini menjadi muram."Ka ... kalian ...." Hidungnya berkedut, seolah-olah dia benar-benar bisa mencium bau basi dari tubuhnya sendiri seperti yang dikatakan Nadine."Tunggu saja kalian!" Setelah melontarkan kalimat itu, dia bergegas pergi dengan langkah cepat. Karen buru-buru ingin mandi saat itu juga. Pada saat itu, Nadine merasa seperti dewi Yunani kuno yang bersenjatakan tongkat pel.M
Jeremy merasa terkejut. "Kenapa bisa sampai ke sini?"Saat Nadine baru saja hendak bicara, staf penjualan dari kantor pemasaran telah menyambut mereka sambil tersenyum. "Apakah kalian ingin melihat-lihat rumah? Kami punya berbagai tipe, baik untuk kebutuhan dasar maupun rumah dengan fasilitas lebih."Nadine menjawab, "Kami mau lihat-lihat dulu."Staf tersebut langsung mengarahkan mereka ke sebuah maket besar, "Ini adalah maket dari kompleks perumahan kami. Anda bisa melihat bahwa perencanaan tahap ketiga kami sangat terorganisir. Ada fasilitas seperti supermarket, sekolah, dan rumah sakit di sekitar sini. Fasilitasnya sangat lengkap."Nadine mengamati maket dengan saksama dan berkomentar, "Sepertinya jarak antar bangunan agak terlalu rapat."Staf itu tersenyum, "Karena ini adalah bangunan tinggi, jadi jarak antar bangunan memang agak sempit."Nadine melirik ke arahnya, "Aku dengar, kalian juga punya area vila, bukan?"Kompleks Red Pearl memiliki dua jenis hunian: apartemen biasa dan vi
Nadine tahu bahwa banyak kompleks perumahan mewah memiliki aturan verifikasi keuangan sebelum melihat properti. "Lalu, syarat khusus apa yang harus dipenuhi untuk jadi VIP klien?"Staf itu menjawab, "Pertama, harus punya kualifikasi untuk membeli properti di wilayah ini, itu syarat dasar. Kedua, harus punya dana cair minimal 40 miliar atau setidaknya satu kartu hitam dari lima bank besar nasional. Selain itu, bisa juga menunjukkan sertifikat properti lain yang membuktikan kemampuan finansial Anda."Baik itu uang tunai, simpanan, atau kartu hitam, Nadine memiliki semuanya. Saat dia sedang mempertimbangkan dokumen apa yang seharusnya digunakannya, Jeremy sudah memegang lengannya dan mencoba menariknya keluar.Sambil menarik putrinya, dia berkata, "Kenapa makin aneh saja? Dana cair 40 miliar? Kita ini bukan aktor drama TV!"Irene menimpali pelan, "Aku bahkan nggak berani menulis cerita seperti itu di novelku, tapi kamu malah berani bertanya langsung. Kamu makin berani saja setelah hidup d
"Kak Wendy ...." Gadis itu agak kewalahan."Kenapa lihat aku? Kamu tahu prosedur verifikasi aset, 'kan? Kalau sampai ada masalah, memasukkan orang yang nggak jelas seperti ini, kamu bisa tanggung jawab?""Aku ... tahu prosedurnya secara garis besar karena pernah dijelaskan waktu latihan. Kalau proses verifikasinya nggak masalah, tanggung jawabnya bukan di tanganku ....""Huh, baru kerja beberapa hari saja sudah lumayan pintar. Tapi, ada satu hal yang harus kuingatkan padamu. Kerja di bidang ini harus punya insting. Kamu harus tahu siapa pelanggan kita, siapa yang mampu beli, siapa yang nggak. Kalau nggak, kamu cuma buang-buang waktu.Gadis itu mengatupkan bibirnya, "Terima kasih, Kak Wendy. Tapi, aku baru mulai bekerja dan belum pernah membuat satu pun transaksi. Saat ini aku masih dalam tahap belajar, jadi aku harus banyak mencoba dan nggak boleh takut buang waktu."Selesai bicara, dia menoleh ke Nadine. "Kak, sesuai prosedur, kami akan memverifikasi kartu ini. Kalau semuanya lancar,
Jadi, tidak peduli bagaimanapun Cathy menjelaskannya, Nadine telah bertekad untuk membeli property di sana. Saking girangnya, Cathy hampir saja tidak bisa menahan diri. "Kalau begitu ... cara pembayarannya?""Lunasi semuanya."Cathy terkejut.Jeremy juga tidak menyangka putrinya benar-benar serius mau membeli vila, bahkan telah mempersiapkan dananya. Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi sebelum sempat berkata apa pun, Irene telah duluan mencubit pinggangnya."Apa pun yang mau dilakukan Nadine, kamu jangan ikut campur."Jeremy terpaksa menahan diri.Cathy menerima kartu kredit lain yang diberikan Nadine, lalu menyiapkan serangkaian dokumen kontrak dengan terburu-buru. Setelah semuanya selesai, dia kembali memastikan, "Bu, Anda sudah benar-benar yakin? Kalau nggak ada masalah, aku akan langsung memproses pembayaran."Nadine mengangguk santai, "Silakan."Seolah-olah sedang bermimpi, Cathy mengikuti prosedur dengan teliti. Setelah melihat Nadine menandatangani kontrak pembelian rumah dan ko
Pinjaman riba? Sepuluh miliar .... Jeremy sekalipun tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu setelah bekerja seumur hidup tanpa menghamburkan uang.Nadine berujar dengan agak malu, "Aku menyimpan uang selama ini."Irene akhirnya bersuara, "Dari mana kamu dapat uang?"Tatapan Irene bahkan terlihat tajam. Nadine mengembuskan napas. Sepertinya ibunya mendengar rumor yang ada di luar sana."Ibu, semua uang ini kudapat dengan cara yang halal. Aku bekerja keras untuk menghasilkannya. Aku nggak melakukan sesuatu yang bersalah."Nadine tidak berbohong. Saat itu, Reagan berkonflik dengan keluarganya demi bersama Nadine. Oberon membekukan semua kartu bank Reagan untuk membuatnya pulang, juga berpesan kepada Rebecca untuk tidak membantu Reagan.Di masa-masa sulit itu, keduanya menyewa kamar yang sangat sempit untuk ditempati bersama. Meskipun demikian, hati mereka justru dipenuhi cinta dan kehangatan.Reagan ingin memulai bisnis baru dan butuh dana, jadi Nadine bekerja untuk membantunya mengumpu
"Aku pesan dulu. Ibumu suka bunga wisteria, aku harus beli kayu juga untuk menanamnya. Kita tanam bunga hydrangea juga supaya Ridwan iri."Ridwan adalah rekan kerja Jeremy. Mereka mengajari mata pelajaran yang berbeda, tetapi hubungan mereka sangat baik karena sama-sama suka menanam bunga.Bertahun-tahun lalu, Ridwan telah pindah dari Kompleks Pengajar SMA Cendekia. Karena tinggal di lantai satu, dia menanam banyak bunga di halaman.Namun, karena halamannya kurang luas, Ridwan hanya bisa menanam bunga hydrangea yang kecil. Bunga hydrangea tentu harus besar supaya indah.Jeremy langsung mengambil ponselnya dan memesan banyak barang. Tiba-tiba, dia bertanya, "Lalu, gimana dengan rumah ini?""Biarkan saja," jawab Nadine."Kamu yakin?" Banyak guru yang menjual rumah mereka setelah pindah. Karena lokasinya bagus dan dekat dengan SMA Cendekia, banyak yang ingin membelinya. Kebanyakan adalah orang tua yang datang dari luar kota untuk menemani anak mereka sekolah. Tentunya, harganya lumayan ma
Saat Clarine kembali ke kamarnya, dia tidak sengaja mendengar dua staf yang berbicara. Katanya, pihak atasan sedang memberi tekanan pada mereka. Bahkan ada tokoh penting yang langsung turun tangan dan mengeluarkan ultimatum."Kalau orang itu nggak ditemukan, kalian semua siap-siap angkat kaki!"Siapa yang punya pengaruh sebesar itu? Latar belakang sehebat itu? Siapa yang bisa punya dukungan sekuat itu?Clarine hanya merasa darahnya mendidih. Rasanya ingin langsung keluar dan membentak kedua staf itu. "Dia punya pengaruh apaan? Latar belakang apaan? Cewek itu cuma barang bekas yang sudah dipermainkan habis-habisan sama kakakku!"Jadi, saat Reagan menelepon, insting pertamanya adalah "ini pasti karena Nadine"."Tadi kamu bilang Nadine hilang? Kenapa bisa? Sekarang kamu di mana?" Suara Reagan langsung meninggi. Dia langsung duduk tegak fan tangan yang menggenggam gelas hampir menghancurkan kaca itu.Clarine tertegun. "Eh ... jadi Kakak bukan nelepon karena kabar Nadine?"Mata Reagan memer
Cahaya bulan bersinar terang, angin malam berembus kencang dan menusuk. Namun di dalam bar, suasananya hangat seperti musim panas .... Philip mengadakan acara minum-minum dan sekelompok orang sedang seru-serunya bermain kartu."Pair dua! Menang! Hahaha, Ferrari-mu jadi milikku sekarang!""Curang! Curang! Ayo ulang satu ronde lagi!""Eh, kalah sedikit saja langsung teriak curang? Ya sudah deh, kasih kamu satu ronde. Tapi kalau ronde selanjutnya aku menang lagi, rumahmu yang di Bayview Residence juga masuk taruhan!""Oke!"Hanya sebuah rumah dan satu mobil, bukannya tidak mampu!Philip sendiri tidak ikut bertaruh. Dia hanya duduk di samping menikmati keramaian. Saat satu ronde kartu selesai, dia menoleh dan melihat Reagan duduk sendirian di sofa sambil menenggak minuman dengan wajah muram."Kak, baru datang kenapa langsung minum? Tuh, yang lain lagi main gede-gedean. Nggak mau ikutan satu ronde?"Reagan tidak terlalu berminat. "Kalian saja yang main."Sambil bicara, dia kembali menuang a
Langit telah gelap sepenuhnya. Jarum jam hampir menunjukkan pukul tujuh dan konferensi akademik itu pun sampai pada penghujung acara. Saat pembawa acara menyebutkan nama Arnold, semua mata tertuju padanya. Dia melangkah ke atas panggung, bersiap menyampaikan pidato penutup.Di tengah pidatonya, ponselnya bergetar dua kali. Namun, dia tidak punya kesempatan untuk menjawab.Entah mengapa, sebuah firasat buruk tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hatinya. Kelopak matanya juga berkedut tanpa henti. Arnold buru-buru merangkum beberapa topik utama konferensi. Gaya penyampaiannya tetap mantap, pandangannya luas, dan isi pidatonya berbobot.Para hadirin mendengarkan dengan antusias dan terus mengangguk.Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa mendengarkan laporan-laporannya, jelas merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Arnold. Biasanya, Arnold memaparkan materi dengan runtut dan terperinci. Namun hari ini, dia seperti ingin buru-buru menyelesaikan semuanya.Setelah mengakhiri pidatonya dengan s
Rasanya Kaeso ingin melompat untuk memberikannya tamparan. "Kamu bodoh ya? Sudah jam segini, staf kebun pasti sudah pulang! Kamu kira bisa ketemu mereka?"Marvin menggaruk kepala, ragu sejenak. Dia akhirnya memutuskan, "Entah bisa atau nggak, tetap harus dicoba. Kita nggak bisa cuma diam saja!"Tanpa menunggu tanggapan dari Kaeso, dia langsung berbalik dan berlari ke tempat staf biasanya berada.Menyadari tidak akan mendapatkan jawaban yang mereka harapkan dari Kaeso, Darius dan Mikha memutuskan untuk terus melanjutkan pencarian mereka.Namun, ini aneh. Sepanjang perjalanan, mereka sudah melintasi hampir seluruh zona A, tetapi tak menemukan satu orang pun.Mikha hampir menangis. "Gimana ini? Kak Nadine hilang hampir 2 jam dan kita masih mutar-mutar tanpa solusi!"Melihat air mata Mikha mulai berlinang, Darius yang awalnya masih bisa tenang, akhirnya benar-benar panik juga."Kamu ... kamu jangan nangis, kita 'kan sedang berusaha ....""Tapi, sudah ada solusinya belum? Belum! Hiks .... A
"Oke!"Tanpa membuang waktu, Mikha dan Darius langsung berlari ke arah zona A, area terdekat yang kemungkinan masih ramai.Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Kaeso dan rombongannya. Melihat wajah keduanya yang panik, Kaeso segera menebak ada sesuatu yang terjadi. Akan tetapi, mengingat hubungan mereka selama ini tidak akur, dia sengaja menghalangi jalan mereka."Eh, kenapa buru-buru begitu? Mau ke mana sih? Cerita dong," ucapnya dengan nada mengejek.Mikha sudah malas berurusan dengannya. Kalau ini situasi biasa, dia pasti akan membalas dengan beberapa sindiran tajam. Namun, sekarang yang ada di kepalanya hanya keselamatan Nadine.Namun, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Kaeso ini sangat pintar cari muka. Di perjalanan tadi, Kaeso terus mengobrol dengan dosen pembimbing. Mungkin dia punya nomor kontaknya?"Kaeso, kamu tahu nomor dosen pembimbing nggak? Kita butuh bantuan mereka, ini benar-benar darurat!"Kaeso mengangkat alis dan memutar bola matanya. Darurat ya .... "Kebetulan ba
Nadine hanya bisa mencari tempat untuk berteduh. Semua orang tahu bahwa pohon dapat menarik petir, jadi berlindung di bawahnya bukan pilihan.Dalam kilatan cahaya saat petir menyambar, langit sesaat menjadi terang. Nadine melihat tidak jauh dari sana ada sebuah batu besar setinggi pinggang, dengan bagian tengahnya cekung membentuk celah alami. Meskipun sempit, jika dipaksakan, mungkin cukup untuk satu orang berteduh.Hujan semakin deras. Rintikannya menghantam tubuh Nadine hingga terasa agak menyakitkan. Dia mempercepat langkahnya, berusaha berjalan menuju batu itu sesuai perkiraan arah.Namun, tepat saat hampir sampai, dia malah terpeleset. Dia kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjatuh ke depan.Tempat ini adalah lereng yang cukup curam. Begitu jatuh, tubuhnya langsung terguling ke bawah tanpa bisa dihentikan. Dia refleks menutup kepala dan wajah dengan tangan, mencoba melindungi diri.Satu-satunya hal yang sedikit melegakan adalah lereng ini ditumbuhi tanaman sehingga terasa cukup e
Itu adalah hutan entada yang sangat besar!"Ayo cepat ke sini! Di depan ada hutan entada yang sangat besar!" seru Nadine dengan gembira. Mendengar itu, Mikha dan Darius segera berlari mendekat.Entada adalah tanaman kacang yang sangat terkenal. Asalnya dari Provinsi Walo, Florasia, lalu diperkenalkan ke daratan utama. Biasanya, entada tumbuh di lereng gunung atau di hutan campuran, merambat di pohon-pohon besar.Darius mendongak, menatap pohon-pohon entada yang menjulang. Batangnya yang tebal saling melilit, akarnya menjulur hingga 50 meter ke sumber air, membentang di antara pepohonan seperti raksasa yang sedang bersembunyi.Awalnya Darius hanya terkagum, tetapi sekarang dia merasa sangat senang. "Entada bisa tumbuh hingga satu meter panjangnya. Bisa digunakan sebagai obat atau koleksi, dan harganya di pasaran sangat mahal. Ini jelas bisa dihitung sebagai tanaman langka."Nadine mengangguk. "Tapi, hutan entada ini cukup luas. Menemukan entada mungkin nggak mudah. Matahari juga hampir
Darius sampai tidak tahu harus merespons apa.Nadine berujar, "Masih ada banyak waktu tersisa, kita coba cari tanaman langka saja."Siapa yang tidak ingin mendapatkan nilai penuh?Mikha berkata, "Ayo, ayo! Sebenarnya dapat 100 atau 80 poin itu nggak terlalu penting buatku, yang penting aku bisa jalan-jalan bareng kalian ...."Setelah beristirahat sebentar, mereka bertiga kembali bergerak. Tanaman langka tidak memiliki daftar tetap seperti soal terbuka. Mereka hanya menemukan tanaman yang diakui sebagai spesies langka.Namun, kali ini pencarian mereka tidak semudah sebelumnya. Menjelang senja, langit mulai gelap dan Mikha kelelahan sampai terengah-engah. "Kita sudah menyusuri hampir 10 zona kecil, 'kan? Nggak ada tanaman langka yang terlihat. Kapan kita baru bisa menemukannya? Aku lapar, mau makan dulu ...."Akhir-akhir ini, Mikha sering diajak Darius untuk lari pagi. Entah karena itu atau alasan lain, dia merasa lebih cepat lapar dibanding sebelumnya. Kini, kakinya terasa lemas dan tid
Di sampingnya, ada Kaeso yang tersenyum patuh sambil membawa termos air. Di belakangnya, Marvin membawa banyak barang bawaan.Nadine mengalihkan pandangannya. Lagi pula, dia tidak begitu akrab dengan Jinny."Kak Nadine!" Mikha berlari dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. Di punggungnya, ada tas ransel besar yang terlihat penuh dan berat. Di dalamnya berisikan tabir surya, obat nyamuk, topi, air, dan tentu saja camilan yang tidak boleh ketinggalan.Mikha berkata, "Aku sudah menyiapkan banyak, nanti kita makan bareng ya."Nadine mengangguk. "Oke.""Eh? Darius mana? Dia belum datang?" Karena takut terlambat, Mikha berlari sepanjang jalan dan bahkan tiba 5 menit lebih awal.Darius yang sudah tiba lebih dulu, menatapnya dan membalas, "Dari mana datangnya kepercayaan dirimu kalau aku akan lebih telat darimu?"Mikha mencebik. "Datang 2 menit lebih awal juga bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, oke? Aku cuma nggak sengaja ketiduran sebentar tadi. Omong-omong ... kenapa tas kalian kecil