TETANGGA BARU (2)
*****"Uhukk uhukk!" Mas Adrian kembali terbatuk. Sepertinya dia tersedak. Wajahnya sampai kemerahan. Cepat kutuangkan air putih dan memberikan padanya.Mas Adrian meneguk habis air putih yang kuberikan. Dia mengusap-usap tenggorokannya. Lalu berdeham beberapa kali."Hati-hati makannya, Mas." Mas Adrian tak menyahut. Dia nampak mengangguk kemudian melanjutkan menyuap sisa bubur kacang dalam mangkuk hingga akhirnya habis."Dek, Mas ke kamar mandi dulu. Mas dari tadi nungguin kamu. Sampai belum bersih-bersih.""Iya, Mas."Lantas Mas Adrian beranjak dari kursi makan. Membawa tas kerja hitam yang tergeletak di atas meja. Dia berjalan ke arah kamar utama untuk mandi di kamar mandi dalam kamar yang kami tempati.Selepas kepergian Mas Adrian. Aku langsung membereskan meja makan yang tidak terlalu berantakan. Setelahnya, mengambil bahan masakan yang tersimpan di lemari pendingin.Hanya brokoli hijau yang kuambil. Sebab, stok lauk dalam lemari hanya tersisa udang windu kesukaanku, yang kemarin kubeli di tukang sayur keliling. Lima hari Mas Adrian di luar kota. Membuatku tidak memperhatikan dapur.Sayangnya, Mas Adrian alergi terhadap udang. Sehingga aku bingung harus memasak apa.Meninggalkan brokoli di atas kitchen set. Gegas aku menyusul Mas Adrian ke kamar.Kamar kosong. Terdengar deburan air di dalam kamar mandi. Menandakan Mas Adrian memang belum selesai membersihkan dirinya. Aku lantas duduk di bibir tempat tidur.Hingga suara deburan di kamar mandi sudah berhenti. Selang beberapa saat, pintu kamar mandi pun terbuka.Memunculkan sosok Mas Adrian dalam balutan handuk putih membelit pinggang hingga batas lututnya.Membuat dada bidang kokoh serta perut kotak-kotaknya terekspos. Juga tangannya yang sedikit berotot terpampang. Rambutnya basah. Wajahnya nampak begitu segar.Aku hanya mampu memandanginya dari tempatku duduk. Mas Adrian memang sempurna. Aku merasa benar-benar beruntung memiliki pendamping sepertinya.Nampak Mas Adrian tersenyum ke arahku sambil berjalan mendekat. "Kenapa, Dek? Bukannya lagi masak? Apa udah selesai?" tanyanya saat kini di hadapanku.Aku menggeleng. "Belum, Mas. Aku mau ngasih tahu, kalau di kulkas cuma ada brokoli sama udang. Aku lupa ngecek stok makanan selama Mas di luar kota. Aku jadi ga tau harus bikin apa," jelasku.Terdengar helaan napas dari Mas Adrian. "Ya udah, kalau gitu kita pesen makanan ajalah, Dek. Adek mau pesen apa?" tanya Mas Adrian. Tangannya telah menyambar benda pipih miliknya yang tergeletak di atas nakas. Lalu mulai memainkan layarnya."Samain aja, Mas.""Ayam goreng kremes, mau?"Aku mengangguk setuju.Tanpa banyak bertanya, Mas Adrian mengiyakan. "Pesanan akan datang dalam sepuluh menit," tukasnya. Lalu menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.Memang sesimpel itulah suamiku. Dia tidak pernah rewel untuk urusan makan. Tapi, dia memang lebih senang, jika akulah yang memasak untuknya makan.Aku pun beranjak dari bibir tempat tidur."Mau ke mana?" Mas Adrian menahan langkahku yang hendak keluar dari kamar."Ke luar, Mas."Mas Adrian tak menjawab. Dia menghadang tubuhku dan semakin mendekat. Dia merangsek maju dan membuatku melangkah mundur. Mas Adrian yang masih bertelanjang dada. Membuat wangi tubuhnya memabukkan indera penciumanku.Mas Adrian memegangi kedua lenganku. Memasang tatapan nakal yang sudah sangat kupahami."Jangan aneh-aneh, Mas!" sergahku cepat. Saat kedua kakiku, sudah membentur dipan kasur di belakang tubuhku."Kamu nggak kangen sama mas?" tanyanya setengah berbisik."Kangen … sih. Tap——"Aku tak dapat menyelesaikan jawaban. Bibirku telah lebih dulu dibungkam oleh Mas Adrian.Ia men c i u m ku begitu lembut. Kurasakan tangan telanjangnya melingkar memeluk pinggangku.Sentuhannya. Wangi tubuhnya. Sungguh menghipnotis. Kedua tanganku seperti mendapat aba-aba. Hingga akhirnya, melingkar di leher suamiku ini.Kami saling me m a g u t. Hingga aku tak bisa mencegah. Saat Mas Adrian membuat tubuhku luruh dan terbaring di tempat tidur.Aku memang merindukan dirinya. Merindukan sentuhan serta semua yang ada pada dirinya.Cumbuannya kini beralih ke leher lalu pundak. Setelah kancing bajuku, berhasil ia singkap. Hingga tubuh atasku mulai terekspos.Aku semakin terhanyut dengan setiap sentuhan Mas Adrian. Pagi hari yang dingin, memang selalu berubah menjadi hangat bahkan memanas jika suamiku berada di rumah seperti sekarang.Ting Tong!"Arghh!"Terdengar dengkusan kasar dari Mas Adrian. Berbarengan dengan bel depan yang berbunyi.Segera aku bangkit, dan merapikan kancing bajuku kembali. Serta rambut yang berantakan. Aku tersenyum jahil, melihat wajah Mas Adrian yang menekuk."Itu pasti pesenan kita, Mas. Aku ambil dulu!" ujarku seraya berdiri dari tempat tidur.Mas Adrian tak menyahut. Dia sudah berdiri di depan lemari putih empat pintu. Aku bergegas keluar dari kamar dan menemui pengantar makanan yang kami pesan.*****Dua porsi ayam goreng kremes sudah selesai aku salin ke atas piring. Terhidang di atas meja makan beserta pelengkapnya. Selada hijau juga sambal goreng terasi. Paket komplit yang mungkin tadi Mas Adrian pesan.Mas Adrian pun sudah menyusulku di meja makan ini. Dengan kaus sleveless putih dan celana bahan selutut. Pakaian santainya saat di rumah. Dapat dipastikan, jika pakaiannya sudah begitu. Itu artinya, Mas Adrian akan menghabiskan waktu seharian di rumah.Mas Adrian menarik kursi lalu menghempaskan bobotnya di sebelahku. Setelah sebelumnya, ia mencuci tangan di bak wastafel.Menarik piring makannya lebih dekat. Lalu mulai menyantap makanannya dengan lahap. Begitu juga denganku. Kami makan bersama. Setelah lima hari terlewat tanpa aktivitas makan bersama seperti ini."Dek, siapa tadi nama penghuni baru rumah sebelah?" tanya Mas Adrian di sela-sela suapannya."Mba Yolanda, Mas. Sama anak bayinya, namanya Arsenio," jawabku.Kulihat Mas Adrian yang tiba-tiba berhenti dari gerakannya yang tengah mengunyah. "Kenapa, Mas? Mas kenal?" lanjutku bertanya melihat reaksinya.Mas Adrian nampak buru-buru menelan makanannya. Lalu meneguk air putih yang telah disediakan. Kepalanya kemudian menggeleng. "Nggak, Dek. Mas ga kenal," sahutnya lalu kembali menyuap nasi dan lauk di piringnya.Aku hanya mengangguk cepat. Pastilah tidak akan kenal. Aku saja baru ketemu mereka pagi tadi. Sedangkan Mas Adrian, dia bahkan baru pulang dari luar kota.*****Malam semakin larut. Seharian ini, Mas Adrian benar-benar di rumah bersamaku. Lengket seperti pengantin baru saja. Padahal usia pernikahan kami sudah enam tahun lamanya.Permintaanku agar ditemani belanja untuk stok di kulkas, tidak digubris. Dia malah menyuruhku, untuk memesan sayur serta daging pada Kang Sayur langganan di komplek ini.Di ruangan televisi. Layar LED 42 inch di depan sana. Tengah menyala dan memutarkan serial drama. Menemani malamku bersama suamiku.Aku duduk di karpet empuk. Punggungku bersandar pada badan sofa yang ada di belakang. Sedangkan Mas Adrian, dia berbaring di pahaku sebagai bantalnya.Tangannya tak henti memainkan, menggenggam dan sesekali menciumi tanganku."Mas, udah satu bulan kita belum ke panti. Aku udah kangen sama anak-anak panti," ujarku pada Mas Adrian.Aku dan suamiku merupakan donatur tetap di sebuah panti asuhan. Di mana satu atau dua bulan sekali. Kami rutin ke sana. Berkunjung serta bermain dengan anak-anak di sana. Juga untuk mengetahui perkembangan mereka. Selain itu, aku mendekatkan diri pada sebuah panti, karena aku ingin mengadopsi anak dari sana. Mungkin dengan mengangkat anak, bisa membuat diriku segera hamil."Iya, Dek, sama, mas juga kangen. Maap ya, kita belum ke sana lagi. Adek 'kan tahu, kita lagi sibuk ngurusin pembangunan toko cabang," balasnya."Iya aku ngerti, kok. Mas, terus kapan, kita adopsi anak pantinya? Aku udah pengen banget, denger suara tangisan bayi di rumah kita ini, Mas," ungkapku padanya.Terdengar helaan napas berat dari Mas Adrian. Lantas ia menoleh dan tangannya terulur menyentuh pipiku. Membelainya lembut."Jangan dulu, ya. Kita berusaha dulu. Lebih keras!" ujarnya. Membuatku menyentak napas kasar."Tapi Mas—""Sssttt!"Belum sempat aku menyelesaikan sanggahan. Mas Adrian lebih dulu menempelkan jari telunjuknya di bibirku. Menghentikan ucapanku yang ingin sekali menyanggah kata-katanya."Nggak ada tapi tapian. Pokoknya kita harus terus berusaha. Mas yakin, kita bisa, Dek," ujarnya lagi."Sampai kapan, Mas? Pernikahan kita udah menginjak enam tahun. Program kehamilan udah kita jalani. Tapi kenyataannya? Mas … aku udah pengen merasakan jadi seorang Ibu. Meski anak yang aku asuh dan aku besarkan, bukan berasal dari rahimku.""Iya, Dek. Mas tahu. Tapi, nggak ada salahnya kita lebih bersabar. Kita coba program lagi. Kita berusaha lagi, lebih keras dari sebelumnya. Atau kalau perlu, kita program di luar negeri, sekalian liburan juga. Gimana, mau 'kan?"Kuhirup napas dalam-dalam. Kemudian menghembuskan perlahan. Keinginanku mengadopsi anak panti, masih belum di ACC olehnya. Entah kapan, Mas Adrian akan menyetujui keinginanku ini. Dia masih yakin, bahwa aku akan bisa hamil anaknya. Sementara aku sendiri, sudah pesimis dengan kondisiku. Meski memang masih mungkin, tapi harapan itu kecil dan belum juga terwujud sampai sekarang."Aku rasanya udah pengen nyerah ini Mas," ucapku lirih."No no no. Kamu ga boleh begitu dong, Sayang!" Mas Adrian bangkit dari rebahnya. Duduk menghadapku serta menangkap kedua pipi ini. Mengangkat wajahku agar bertatapan kini dengannya."Kita program lagi, ya. Jangan menyerah. Mas yakin, kita mampu. Mas yakin, kamu pasti bisa, mengandung dan melahirkan anak Mas!" ucapnya membujuk, dan menyuntikkan kata-kata semangat."Kita program lagi di luar negeri. Kita berusaha lagi, semaksimal mungkin. Kamu mau 'kan?" lanjutnya bertanya.Aku meraih kedua tangannya yang menangkup pipiku. Lalu menurunkannya dari sana. Berganti dengan menggenggamnya kini. "Oke, Mas. Kalau itu yang Mas mau. Tapi aku nggak mau program lagi, Mas. Biar aku coba konsumsi obat herbal aja, Mas.""Jangan, Dek. Mending kita program. Kamu jangan konsumsi obat herbal sembarangan kayak gitu ah!" sanggah Mas Adrian cepat."Nggak sembarangan. Udah Mas tenang aja. Semoga aja kali ini berhasil ya, Mas!" harapku.Mas Adrian mengangguk. "Sekarang, mari kita berusaha!" serunya."Mas!" Aku memekik seketika. Tatkala Mas Adrian dengan cepat mengangkat tubuhku hingga berada dalam gendongannya.Lalu melangkah meninggalkan ruangan televisi yang masih menyala. Membawaku ke dalam kamar. Tempat peraduan yang akan kembali hangat setelah lima hari tanpanya.TETANGGA BARU (3)******Sudah jam tujuh pagi. Belum ada tanda-tanda Mas Adrian keluar dari kamar. Gegas mematikan kompor. Sop buntut yang dimasak pagi ini, sudah mendidih dan matang.Sop buntut yang bahan masakannya dapat kupesan dari Mang Rustam—tukang sayur keliling langganan di komplek ini. Mang Rustam bahkan telah mengirimkan pesananku ini pukul lima pagi tadi. Seperti isi pesanku. Sehingga aku menambahkan lebih, uang yang kubayarkan padanya.Klek!Kubuka pintu kamar utama. Kamar yang kutempati bersama suamiku. Kamar yang kembali hangat, setelah lima hari hanya aku sendirian yang mengisinya.Aku menyilangkan tangan di depan dada. Berdiri di tepi tempat tidur. Melihat Mas Adrian yang masih meringkuk terbungkus oleh selimut tebal. Menyisakan kepalanya saja."Mas bangun, Mas. Udah jam tujuh ini!" ujarku, sambil menepuk-nepuk lengannya.Tidak ada pergerakan dari Mas Adrian. Matanya bahkan masih terpejam."Mas, bangun!" ujarku sekali lagi. Kali ini, sambil mengguncangkan tubuhnya."Hm
TETANGGA BARU (4)*********Tiba di meja makan. Aku menyiapkan piring makan dengan segera. Bukan untukku tapi tentu saja untuk Mba Yolan. Kucentong nasi beserta sop buntut yang masih hangat dari dalam pancinya."Mba, sini Arsen biar aku tidurkan di dalam kamar tamu. Mba Yolan sarapan dulu aja, ini udah aku siapin!""Aduh, Mba. Gak papa, Arsen biar aku gendong aja kayak gini. Dia masih tidur, kok."Aku menggeleng pelan. "Gak boleh gitu, Mba. Ntar kebiasaan kalo apa-apa digendong. Udah, biar aku tidurin di kamar tamu. Nah Mba makan dulu!" Aku setengah memaksa. Mengulurkan tangan untuk segera menerima bayi mungil di gendongan Mba Yolan.Sang Ibu nampak ragu. Namun tak ayal, tetap memberikan bayinya ke tanganku. Akhirnya, Arsen berada dalam gendonganku saat ini. Tubuh mungilnya menggeliat pelan. Namun netranya masih rapat terpejam."Mba makan dulu, itu udah aku siapkan. Mba jangan sungkan. Anggap aja rumah sendiri ya! Arsen biar aku bawa ke kamar tamu. Aku temenin dia di sana," tukasku."
"Uhukk uhukk uhukk!" Fano belum berhenti terbatuk. Dia memegangi tenggorokannya. Sampai akhirnya dia meneguk segelas air untuk meredakan batuk. Menyisakan wajahnya yang masih memerah karena tersedak barusan."Hati-hati dong, Fan kamu makan. Sampai kesedak kayak gitu!" tukasku mengomel. Dibanding menolongnya, aku malah mengomelinya. Salah sendiri makan sampai tersedak seperti itu.Beberapakali Fano berdehem. Hingga batuknya benar-benar berhenti. Namun, belum menghilangkan kemerahan di wajahnya. Fano hanya manggut-manggut mendengar omelanku."Jadi dia tetangga baru kamu, Han?" tanya Fano lagi."Hu'um."Fano tak bertanya lebih banyak lagi. Dia hanya meneruskan memakan siomay di piringnya.Arsen masih anteng di pangkuanku. Hingga ibunya telah kembali dari kamar mandi. Lekas aku memberikan Arsen padanya. Sebelum menyantap makananku, lebih dulu aku mengenalkan Fano pada Mba Yolan. Barulah setelah mereka berkenalan, kami serempak menikmati pesanan kami masing-masing.Di sela-sela menikmati m
Sudah jam sebelas malam. Tapi rasa kantuk tak kunjung datang sedikit pun. Bergulang guling sendirian di atas spring bed super king size dalam kamar ini. Karena seperti yang siang tadi suamiku sampaikan. Bahwa dia harus lembur malam ini.Dalam posisi tengkurap. Kuraih ponsel di atas nakas. Lalu menggulir beranda media sosial milikku. Tidak ada yang menarik. Membuatku cepat-cepat menutupnya lagi dan menyimpan kembali benda pipih itu di atas nakas.Drrt Drrt DrrtBaru sedetik aku membalikkan tubuhku menjadi terlentang. Ponselku berbunyi diiringi vibrasi. Tanpa berniat bangkit, tanganku kembali terulur untuk mengambilnya."Fano?" gumamku saat melihat nama kontak yang menghubungiku.Cepat aku bangkit dan terduduk. Lalu menggeser layar ponsel untuk menerima panggilan video dari Fano."Malam Han …." sapa Fano di seberang sana. Setelah kini, kami bersitatap meski hanya lewat layar ponsel."Malam, Fan. Ada apa? Gak salah, kamu video call jam segini?" tanyaku cepat.Nampak Fano memasang senyuma
Membuka mata perlahan. Merasakan ada tangan yang melingkar di atas perut ini. Cepat aku menoleh. Seketika bibirku menyunggingkan senyum. Melihat suamiku yang masih tertidur di sampingku. Entah jam berapa dia pulang lembur. Aku sampai tidak tahu. Saking nyenyaknya tidur semalam, selepas mengobrol dengan Fano.Aku menggeliat pelan. Lalu menyingkirkan tangan Mas Adrian dari atas perutku. Beringsut turun dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi. Membersihkan diri agar lebih segar.Keluar dari kamar mandi. Mas Adrian masih dalam posisinya seperti saat tadi aku meninggalkannya untuk mandi.Cepat aku berpakaian. Lalu keluar dari kamar dan menuju dapur. Berkutat di depan kitchen set dengan bahan masakan. Mengusahakan agar tanganku bergerak cepat. Karena ternyata, aku bangun terlambat dari biasanya.Satu jam berlalu. Masakanku akhirnya siap. Aku sudah menghidangkannya di atas meja makan. Namun, Mas Adrian belum menampakkan diri. Mungkin masih tertidur. Aku tak berniat membangunkannya. Kasih
POV ADRIAN*********Jam sebelas malam. Aku menyelinap melalui portal belakang perumahan. Portal yang membatasi perumahan dengan perkampungan di belakangnya. Setelah melewati portal besi. Aku pun berjalan cepat menuju rumah satu lantai yang baru kembali dihuni.Pintu pagar yang tidak digembok. Memudahkan untuk masuk. Melewati pagar dan menutup pintunya asal. Aku pun melangkah cepat menuju pintu rumah.Dalam satu tarikan hendel. Pintu terbuka seketika. Menandakan pemilik rumah benar-benar menunggu kedatanganku.Tanpa membuang waktu. Aku melesak masuk dan segera mengunci pintu rumah yang telah kututup.Aku masih berdiri di belakang pintu yang telah menutup sempurna. Kulepaskan masker yang menutupi hidung serta mulut. Serta melepas topi di kepala ini. Dengan ujung mata, aku menangkap sosok wanita yang berjalan ke arahku.Aku tak buru-buru menoleh. Melainkan menaruh paperbag yang kubawa. Lalu bergerak cepat melepas jaket kulit yang membungkus tubuh. Melemparkannya ke sembarang arah.Wanit
Selepas membersihkan diri. Aku pun segera berpakaian dengan pakaian dalam paperbag. Pakaian yang sama dengan yang tadi pagi kukenakan dari rumah. Sementara jaket dan pakaian yang kukenakan saat pulang dari kantor. Kubiarkan di rumah ini.Aku harus memastikan. Tidak ada setitik pun jejak yang tertinggal dalam diri ini ketika pulang."Mas, kamu pulang sekarang? Ini baru jam dua malam lho Mas!" tegur wanita yang masih terbalut selimut di atas tempat tidurnya.Sementara aku, langsung membersihkan diri usai pergulatan indah nan panjang dengannya sejak tadi."Pulanglah. Ga mungkin aku lebih lama di sini. Lagian jam segini sepi. Ga akan ada yang liat aku keluar dari sini. Jadi biar aman!" jawabku seraya berbalik. Setelah memakai pakaianku dengan rapi.Wanita itu masih duduk di tepi tempat tidurnya. Jika pakaianku sudah rapi, dan berbeda ketika aku datang ke mari. Itu artinya, dia tidak boleh lagi menyentuhku. Hanya aku yang boleh menyentuhnya sebagai tanda perpisahan.Aku berjalan mendekat p
POV JIHAN *********Jam sebelas siang. Aku baru keluar dari rumah. Setelah berada di luar rumah, aku kembali merapatkan pintu pagar. Berbarengan dengan Mba Yolan yang juga baru keluar dari rumahnya."Mba Jihan, jadi arisannya?" tanyanya setelah berdiri di hadapanku."Jadi, Mba. Mba Yolan jadi ikut?" tanyaku balik.Mba Yolan terlihat mengangguk. "Boleh, Mba.""Udah izin suami, Mba?" tanyaku memastikan.Mba Yolan tersenyum simpul. "Suamiku udah berangkat lagi, Mba."Alisku terangkat mendengarnya. "Lagi? Cepet banget, Mba.""Iya, gitulah, Mba kalo kerja proyekan. Ga bisa lama-lama di rumah," jelasnya."Owhh, ya udah, kita langsung berangkat kalo gitu Mba," ajakku.Mba Yolan tak banyak protes. Aku serta Mba Yolan bergegas meninggalkan pekarangan rumahku. Berjalan beriringan menuju rumah Mba Aini.Tadinya, aku hendak pergi sendiri tanpa mengajak Mba Yolan. Mengingat di rumahnya pasti ada suaminya. Tapi ternyata, suaminya sudah berangkat lagi katanya. Jadi ya baguslah kalau Mba Yolan tetap
TETANGGA BARU_48 || TAMATPov Jihan.***************Aku menatap hampa pada bunga-bunga mawar yang bermekaran sempurna di hadapanku saat ini. Di taman rumah sakit, aku duduk di sebuah kursi roda. Seorang perawat menemaniku dan duduk di kursi beton belakang sana.Setelah tiga hari dinyatakan kritis, pagi tadi aku berhasil tersadar dan melewati masa kritis akibat kecelakaan yang kualami bersama Fano. Sahabatku itu pun sama kritisnya sepertiku, tetapi dia dapat sadar lebih dulu dan lebih dulu dariku. Sehingga Fano telah keluar dari rumah sakit dan tengah kembali ke rumahnya. Setelah kecelakaan yang menimpa kami, membuat Fano harus kehilangan mobilnya.Aku mengusap perutku yang telah rata. Bayiku tidak dapat bertahan. Perutku terkena benturan yang cukup keras. Sehingga aku dinyatakan keguguran. Juga wajahku di pipi sebelah kanan yang terkena hantaman. Menyebabkan sebelah wajahku tak lagi mulus.Namun lebih dari itu, kehilangan bayiku adalah hal paling menyakitkan. Seluruh harta dan aset y
TETANGGA BARU_47POV ADRIAN******Aku pulang hanya memikul rasa kecewa dan jengkel bukan main. Hakim pengadilan sangat-sangat tidak adil dalam memutuskan perkara ini. Dari sekian banyak harta serta aset yang dimiliki Jihan. Aku tak kebagian sepeser pun. Padahal selama enam tahun menikah, akulah yang mengurusi dua toko besar itu hingga dapat tetap bertahan dan beroperasi, di tengah persaingan banyaknha toko-toko ritel sejenis. Berkat ketekunan dan kerja kerasku, dua toko itu tidak sampai gulung tikar. Tetapi, aku tidak mendapatkan apa-apa dari kerja kerasku. Semua jatuh pada Jihan. Semuanya.Bahkan yang paling membuatku tak habis pikir, ialah saat notaris yang kudatangi dan kupercayai, hadir di persidangan dan membelot. Tiba-tiba saja dia berada di pihak Jihan. Padahal, aku sudah mempercayakan semua surat-surat padanya.Aku benar-benar kecewa.Seharusnya , aku mendapatkan bagianku dari harta dan surat-surat itu. Karena aku, memiliki andil dalam mengelolanya. Andaikan bukan aku yang me
TETANGGA BARU-46*Hampir tiga bulan lamanya. Aku masih menumpang di rumah milik Fano. Dia melarangku keluar dari rumahnya. Sebab, dia khawatir tidak ada yang menjagaku yang tengah berbadan dua saat ini. Dia juga cemas, jika aku sendirian, membuat Mas Adrian dan Yolan mendatangiku.Sehingga, aku masih tertahan di rumah Fano. Tiga bulan tinggal dengannya, diam-diam aku jadi sering memperhatikannya.Fano memang sosok laki-laki yang baik. Dia tulus dan sangatlah pengertian. Hanya saja, dia terlalu cuek dan datar pada orang baru yang belum dikenalnya. Tapi padaku, dia adalah sosok yang hangat dan terbuka. Persidangan perceraian antara aku dan Mas Adrian telah digelar sejak dua bulan ke belakang. Sidang pertama dan kedua, Mas Adrian tak kunjung menghadiri. Aku yakin, dia pasti ingin mempersulit prosesnya. Namun, aku sudah menyiapkan pengacara mahal dengan jam terbang tinggi. Sehingga meski dia tidak menghadiri sidang pertama dan kedua. Sidang tetap menemui putusan di sidang ketiga hari i
"Jangan harap. Bukannya kemarin, kamu yang menantang'supaya aku menggugat cerai? Kenapa sekarang kamu balik memohon-mohon? Sudahlah, Mas. Apapun yang kamu katakan, tidak akan pernah mengubah keputusanku. Lagi pun gugatan itu sudah aku daftarkan. Kamu tinggal menunggu surat pemanggilan untuk sidang. Aku pastikan, kamu akan kalah dan kembali miskin!"Mas Adrian meraih tanganku yang menunjuk-nunjuknya. "Dek, mas mohon. Batalkan. Kalau kamu mau, mas akan menceraikan Yolanda, Dek. Mas akan tinggalkan dia dan kita akan hidup bersama lagi. Mas Mohon, Dek."Aku menggeleng cepat, sembari menyentak tanganku darinya. "Gak Sudi! Sekarang kamu pulang. Urus saja istri muda dan anak kamu. Jangan pernah menemuiku, atau coba membujukku lagi. Waktu kamu habis. Aku mau masuk," tegasku lantas berlalu dari hadapan Mas Adrian.Namun, belum sempat aku melangkah. Mas Adrian memeluk kakiku dengan erat. "Dek, apa kamu sudah tidak mencintai mas? Apa kamu sudah terhasut oleh sahabat kamu itu, Dek? Batalkan gugat
POV Jihan.Malam hari di dalam kamar di rumah Fano. Aku duduk sendirian di atas tempat tidur dengan kaki diluruskan.Siang tadi, aku sudah selesai mendaftarkan gugatan perceraian di pengadilan negeri. Rasanya aku sudah tidak sabar, berpisah dengan laki-laki yang sudah menemaniku selama enam tahun lamanya itu.Ini tidaklah mudah.Sedikitpun, aku tidak pernah membayangkan, jika kedatangan Yolanda dan juga Arsen, akan membawaku pada tabir kenyataan yang begitu pahit.Kuusap perutku yang masih sangat rata.Meski tanpa suami. Aku berjanji, akan menjaga kehamilanku ini dengan sangat baik.Beruntung, ada Fano yang menguatkanku hingga detik ini. Memberiku tumpangan tempat tinggal dan juga dukungan yang tak henti.Segelas susu cokelat khusus ibu hamil, sudah tersedia di atas nakas. Aku meneguknya sampai setengah gelas. Lantas membaringkan badanku terlentang.Tok Tok Tok!"Han! Kamu udah tidur belum, Han?"Tok Tok Tok!"Han, Jihan!"Fano menggedor pintu kamarku cukup keras seraya berteriak-teri
Aku semakin menangis dan menjerit-jerit, meski mereka tidak akan mendengar dengan jelas karena mulutku yang tertutup lakban.Di depanku kini, Mba Sindy, Mba Aini dan juga Mba Dini tertawa melihat perbuatan Mba Clara padaku. Mereka menertawakan penderitaan yang diberikan Mba Clara ini."Jangan nangis dong, Mba. Kita cuma ingin bermain-main aja sama kamu! Kita gak akan rebut Mas Adrian dari kamu, jadi kamu jangan nangis gitulah!" Mba Dini berucap disertai tawa meledek."Hmmm …." Aku sudah tidak punya tenaga rasanya. Mba Clara sukses membuatku merasakan sakit di wajah yang selalu aku rawat ini.Aku coba menatap Mba Clara dengan tatapan mengiba. Agar dia berhenti menusukkan jari kukunya itu di pipiku. Namun, Mba Clara justru tersenyum kecut.Sampai akhirnya dia menghempas wajahku dengan kasar. Hingga wajahku berpaling sendirinya akibat hempasan tangan Mba Clara. Cengkramannya memang sudah terlepas. Namun juga sukses meninggalkan denyut kesakitan setelahnya."Mba Sin, sekarang!" cetus Mba
POV YOLANDABibirku terkatup rapat. Seiring dengan kertas yang berhasil sudah kuremas. Kulempar asal kertas di tangan. Kepalaku menggeleng tak percaya dengan apa yang sudah kubaca barusan.Duk Duk Duk!Krak Krak!Pintu rumah yang sudah aku kunci. Tiba-tiba saja hendelnya bergerak-gerak. Diikuti suara dari luarnya.Aku melangkahkan mundur untuk segera mengambil Arsen dan mengurung diri di dalam kamar.BRAKKKK!"Tunggu pelakor!"Aku yang sudah berbalik badan, tak menghiraukan teriakan seorang wanita di belakang sana. Aku memilih melangkah dan hendak berlari untuk secepatnya menuju lantai atas."Aghhhh!""Mau ke mana kau? Mau kabur? Salah jalan! Pintu keluar di sini, Nona!"Baru beberapa langkah kaki ini bergerak. Tanganku telah dicekal lalu diplintir. Hingga tubuhku terseret ke arah belakang. Dan kini sudah berada di teras luar.Rambutku ditarik hingga kepala ini mendongak. Dari suaranya, itu seperti suara Mba Clara. Teman Mba Jihan yang waktu itu ikut arisan juga.Tanganku yang ditarik
POV YOLANDA********Menjelang malam hari, akhirnya aku dipasangi infus. Aku benar-benar lemas dan hanya bisa terbaring di atas tempat tidur. Mas Adrian memanggilkan seorang dokter untuk datang ke rumah ini. Hingga aku bisa mendapatkan penanganan akibat mulas di perutku yang tak berkesudahan.Ternyata aku mengalami disentri yang akhirnya membuatku dehidrasi dan tubuhku jadi lemas. Sampai aku merasa ingin pingsan saja saking lemasnya.Setelah dipasangi infus seperti sekarang, barulah mulai ada sedikit tenaga. Meski tidak serta merta aku pulih.Mas Adrian mengambil alih menggendong dan mengayun-ayunkan Arsen. Hingga Arsen terlelap dan ditidurkan di sisi yang lain di atas kasur yang sama denganku.Tempat tidur yang dulunya hanya memberikan kehangatan untuk Mba Jihan. Tapi saat dia tidak rumah untuk menghadiri acara reuninya. Itulah saat pertama kali, kehangatan tempat tidur ini telah terbagi denganku. Mba Jihan memang terlalu polos dan bod*h."Aku mau makan dulu! Laper!" cetusnya setelah
Terpaksa aku meninggalkan Arsen yang sudah polos untuk ke kamar mandi. Ada yang mendesak ingin dikeluarkan.Cepat aku duduk di kloset dan menuntaskannya. Sampai perutku terasa lega.Setelah selesai, aku kembali untuk mengambil Arsen dan memandikannya. Tapi tiba-tiba perutku mulas kembali. Rasanya ada yang ingin keluar dan sudah diujung tanduk.Baru saja aku membungkuk untuk menggendong Arsen. Terpaksa aku menegakkan tubuhku. Setengah berlari masuk ke kamar mandi lagi dan duduk di kloset.Kuhembus napas lega setelah menuntaskan kedua kalinya. Lalu keluar dari kamar mandi dan menghampiri Arsen lagi.Saat badanku sudah membungkuk untuk meraih Arsen, perutku lagi-lagi melilit. Hingga terpaksa aku balik masuk ke kamar mandi dan bersemedi lagi.Perutku rasanya seperti dikuras. Entah kenapa juga aku merasa seperti terkena diare. Setelah ketiga kalinya bersemedi di kamar mandi. Tubuhku duduk terkulai ke lantai tepat di ujung tempat tidur.Kutepuk-tepuk kaki Arsen karena dia terlihat seperti s