Beranda / Romansa / TERPAKSA / BAB 4 BAGAS, SORRY I CAN'T

Share

BAB 4 BAGAS, SORRY I CAN'T

Penulis: Hello Vey
last update Terakhir Diperbarui: 2021-04-22 18:13:10

Ini sudah 5 hari setelah Pak Manager pergi ke Singapore, aku bediri didepan pintu kaca besar yang terkunci itu, aku seperti melihat refleksi diriku yang duduk disebrang meja Pak Manager saat beliau marah padaku. Sesekali aku seperti mendengar suaranya saat zoom meeting dengan client, aku memandangi tangan kiriku dengan luka disana yang sudah mulai mengering, ku hembuskan nafas panjang dan melangkah keluar gedung yang sepi menyisakan Pak Danu security kantor yang berjaga dekat parkiran. Aku duduk dibangku panjang disebelah pos security, jam menunjukan pukul 6:05 sore, badanku capek tapi aku merasa enggan untuk pulang.

            Kembali ku buka chat terakhir dari beliau, masih dengan foto balkon tempo hari. Terlintas dipikiranku untuk menelpon sekedar menanyakan kabar. Ahh tidak, buat apa? Aku menutup dan membuka kembali layar ponselku. Tapi aku ingin mendengar suaranya walaupun sedikit. Berakhir dengan benar-benar menutup HP-ku, Pak Danu terlihat mengunci pintu utama kantor. “lembur mbak..?” sapanya dari kejauhan

“nggak sih Pak, cuma lagi males pulang aja”

“... saya jarang lho ngunci kantor jam segini, biasanya selalu jam 10 dan jam 11 malam... Pak Bos gak pernah pulang sore, pasti kalau malam balik ke kantor”. Pak Danu membuka topimya dan menyibakannya sebagai kipas tangan.

“Pak Danu, Pak Bos galak juga ya sama Pak Danu”

“.... enggak mbak, nggak kok. Pak Bos nggak galak sama sekali beliau baik, saya kerja disini 7 tahun beliau masih sama dan tidak berubah, kalau malam sering ngobrol sama saya disini sambil minum kopi”

“masa’ sih Pak? Kalau dikantor beliau galak sering bentak-bentak karyawan, saya juga pernah dibentak”

“banyak karyawan yang dibentak beliau, hanya demi kebaikan mereka. Pak Bos sangat memperhatikan semua karyawannya. Hak karyawan, tidak ada gaji telat, intensive yang dikurangi. Beliau benar-benar menjanjikan tempat kerja yang nyaman untuk semua karyawannya”

            Aku termenung mendengar apa yang dikatakan Pak Danu. Benar, mungkin selama ini aku hanya tidak peka terhadap semua yang ada yang ada disekitarku, terutama Pak Manager yang sangat memperhatikan karyawannya.

****

            Hari sabtu aku bertemu Bagas, saat dia break jaga store kami makan di KFC sebrang jalan store tempat Bagas berkerja. Ini adalah minggu kedua Pak Manager di Singapore dan aku masih tidak punya keberanian untuk sekedar menghubunginya. Sebaliknya, hampir setiap hari aku bertemu dengan Bagas, tidak hanya sekedar bertemu bahkan Bagas juga tidak jarang membawaku ketempat dia berkumul bersama teman-temannya. Pulang kantor ia sering menyusulku dan juga saat jam makan siang, hingga beredar gosip kalau Bagas adalah pacarku. Aku merasa risih, tapi berbeda dengan Bagas yang terlihat tidak keberatan dengan hal itu, yang malah menyetujuinya.

“kak ayo makan jangan dilihatin terus” Ia menyuapkan aku kentang goreng, ia memegangi tanganku dan digengamnya erat.

Aku memandangnya dengan seksama, laki-laki yang ada didepanku ini serius makan burger dengan tangan kanannya dan sesekali tersenyum. Dalam pikiranku ia tak ubahnya seorang teamn baik, namun aku bisa merasakan penolakkanya ia memintaku untuk memandangnya lebih dari teman.

“kak, kita pacaran aja gimana? Mau ya jadi pacarku”

“Mau berapa kali kamu bicara kayak gitu” menarik tanganku dari genggamannya

“ya kan kakak gak pernah jawab pertanyaanku, udahlah stop bilang aku seperti adikmu”

“udah-udah, makan makanan kamu yang bener dan balik ke store. Gak usah kebanyakan halu”

“kakak gak jujur kan?”

“soal apa?”                            

“perasaan kakak sama aku”. Sekali lagi aku harus mendengar ini dari Bagas. Entah sudah berapa kali dia mengocehkan hal yang sama, merengek minta jadi pacarku. Aku tidak pernah menanggapinya dengan serius, hanya mendengarnya seperti angin lalu. Mungkin bisa dikatakan aku nyaman dengan dia namun aku tidak ingin punya perasaan lebih dari seorang teman dari dia dan itu sudah sangat jelas.

“Bagas udah dong kita udah bicara soal ini berapa kali”

“ok sorry, tapi aku bakal tunggu kakak sampe mau jadi pacarku”

“haahh~ terserah kamu lah cil bocil”

            Bagas bangkit dari tempat duduknya, menghampiri dan mengalungkan lengannya yang keleherku. Aku mengigitnya pelan sampai ia melepaskannya, begitulah Bagas dengan aku. Aku memandangnya pergi kembali berkerja, ia melambaikan tangan dan memamerkan barisan giginya padaku. Aku kembali ke lamunanku sambil melihat punggung Bagas yang menjauh, aku membuka foto profil  WhatsApp  Pak Manager. Aku tidak bisa lagi menahan keinginanku untuk hanya sekedar mendengar suaranya. Aku tarik satu nafas panjang dan ku tekan tombol panggilan telpon untuk pertama kali. Jangtungku berdetak kencang, ini bukan kali pertama aku berbicara dengan beliau namun sensasinya berbeda. Aku menunggu setelah beberapa kali nada sambung, aku mendengar suaranya diujung telpon.

“Hallo, Fii...”

“Ha-Hallo Pak Manager, apa kabar?”

“ saya baik-baik saja, bagaimana dengan kamu?”

“saya baik-baik saja Pak” Entah mengapa suaraku tercekat, jantungku berdebar cepat dan tanganku dingin. Aku merasa mataku berat, aku kehilangan kata-kata ketika mendengar suaranya. Apa yang terjadi padaku?

“ada apa Fii? apa ada masalah dikantor hari ini? kamu mau kita bicarakan itu”

“bu-bukan Pak. Kapan Pak Manager kembali?”

“Fii, kamu telpon untuk tanya ini?”

“... iya” suaraku parau dan entah apa yang menghimpit dadaku dan membuatnya sangat sesak.

“... sebelumya terima kasih. Saya senang sekali kamu telpon, maaf  tidak memberi tahu kamu saat saya akan pergi. Semuanya mendadak tanpa ada kesiapan...”

“ apa ada masalah Pak?”

 tidak ada, kita berhasil kontrak untuk penjulan satu tahun kedepan, semunya berkat kalian. Dan juga kamu, terima kasih sudah berkerja sangat hebat...”

“... jadi kapan Pak Manager kembali?”

“belum tau Fii, doakan saja”

Entah mengapa aku merasa kecewa mendengar beliau tak pasti kapan akan  kembali. Beberapa saat hening diantara kami.

“Fii, saya merindukanmu...”

            Deg! Jantungku kembali terpacu dengan satu kalimat yang dilontarkan

“saya tidak bohong saya merindukanmu selama disini. Kamu menelpon saya seperti ini membuat saya senang. Disini setiap hari sangat melelahkan, saya harus bangun jam 5 pagi dan kembali ke hotel lewat tengah malam, saya lelah dan tidak cukup istirahat”

“Pak Manager baik-baik saja kan?”

“... iya saya baik-baik saja, 5 menit lagi saya ada meeting. Maaf aku harus tutup telponnya... sekali lagi terima kasih telah menelpon saya...”

“baik Pak, take care...”

“ok, bye...”

Terasa seperti mimpi, hanya mendengarkan suara seseorang entah mengapa begitu membahagiakan.

****

            Bagas terlihat duduk didekat pos security, ia menungguku pulang kantor. Ia melambaikan tangan dengan senyum lebar. Sepertinya ia dalam mood yang sangat baik.

“hey, ada apa senyum-senyum gitu...”

            Bagas tiba-tiba menarik tanganku dan mendekapku dengan erat. Apa yang dilakukan Bagas menarik perharian teman-teman kantorku, mereka menyoraki dan memotret kami. Aku melepas pelukan Bagas dan sedikit mendorongnya, memberi sedikit jarak diantara kami.

“kamu apaan sih, disini banyak orang lho”

“sorry kak, gak tau kenapa liat kakak dari jauh seneng banget”

“tapi jangan gitu, ini kan tempat umum”

“berarti ditempat sepi boleh?”

“heyy! Nggak gitu konsepnya bocill...!”

“bercanda kak, ohya hari ini aku sift malem, anterin aku ke store dong”

“kamu kan naik sepeda” aku menunjuk sepeda yang berada didekatnya

“iya gak apa-apa antar aku sampai ke store, setelah itu kakak boleh pulang”

“yaudah-yaudah ayok, jangan bawel kek anak perawan”

            Bagas hanya nyengir kuda kegirangan. Aku mengambil motorku dan mengikutinya mengayuh sepeda ke store tempat Bagas kerja. Sampai disana ia memintaku untuk mampir kestore dan aku turuti.  Ada satu teman Bagas bernama Andi dan satu di kasir bernama Ilham, tentu mereka mengenalku dari Bagas. Setelah menyapa mereka berdua aku numpang toilet, aku melihat Bagas sedang menyisir rambut saat aku selesai dari toilet. Aku mendekatinya untuk mencoba mengagetinya, tanpa kuduga ia berbalik lebih dulu dan membuatku tepat dihadapannya. Pandangan kami bertemu, Bagas mulai melingkarkan kedua tangannya, membawa tubuhku kedalam pelukannya. Aku bisa mendengar jelas detak jantungnya dan hembus nafasnya, wangi khas parfum Bagas tercium sangat kuat. Aku bisa merasa ia mengecup puncak kepalaku disana, aku berusaha merenggangkan pelukannya namun pelukannya tetap erat. Ia mendongakkan kepalaku, ditatapnya mataku lekat-lekat dengan cepat ia menempelkan bibirnya kebibirku tanpa sempat aku menghindar. Mataku terbelalak, seketika aku mendorong tubuh tingginya, ia terkejut dengan responku. Aku menatapnya tajam, menghela nafas panjang.

“what the hell is going on Bagas?”

            Tak ada jawaban dari Bagas, kutepis tangannya saat berusaha menarik tanganku. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha berujar namun tetap tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.

“kayaknya lebih baik kita gak usah ketemu lagi”

“kak please!” Bagas menghalangi ku pergi “Sorry tapi aku gak bisa menahan diriku, aku suka sama kakak duluan. Aku capek denger cerita kakak soal Manager mu itu, bisa kan kak liat aku seperti laki-laki yang sayang sama kamu?”

“tapi aku gak bisa lebih dari teman sama kamu Bagas, udah berapa kali aku harus bilang”

“kenapa gak mau coba dulu? Kasih aku kesempatan sekali aja buat kakak bahagia setiap hari dan aku gak bakal bikin kakak kecewa, percaya sama aku”

            Aku terdiam sesaat, tak bisa aku pungkiri aku memang sangat nyaman dengan Bagas dan dia memang membuatku terasa sangat istimewa. Walaupun aku menolaknya, aku pernah merasa cemburu ketika dia digoda para gadis, merasa kurang ketika dia tidak menelponku sehari. Sekarang aku mulai mempertanyakan perasaanku sendiri padanya. Benarkah aku tidak menyukai Bagas?

“Coba tanya sama diri kamu kak? Benarkah kakak gak mau kasih aku kesempatan buat membuktikan?”

“... Bagas please! Udah aku capek bahas ini terus, lebih baik kita gak usah ketemu lagi”

Bab terkait

  • TERPAKSA   BAB 5 POSION

    Sejak saat itu aku mulai menajaga jarak dengan Bagas, walaupun ia setiap hari akan selalalu menelponku dan berusaha bertemu aku setiap pulang kantor tapi aku menolak. Sore ini masih sama, aku melihat sepeda Bagas didekat pos security dan ia ada disana. Aku keluar kantor dan berjalan kearahnya. “ada apa kamu disini?” “kak please bicara sama aku” “sekarang ini kita sedang bicara, katakan saja ada apa?” “kak maafin aku, please” Aku tidak tega jika harus membiarkan dia selalu merengek padaku. “udahlah lupain ajah, kamu juga harus kerja kan sekarang lebih baik kamu balik ke store, jangan nunggu aku disini, aku lembur” “besok mampir store ya” Aku mengangguk memaksa, aku melambaikan tangan dan kembali ke kantor. Sebenarnya aku tidak lembur, hanya cari alasan untuk menghindari Bagas, walaupun aku cukup kesepian tanpanya. Aku duduk dikursiku dengan kantor y

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-23
  • TERPAKSA   BAB 6 THE GAME

    Aku mencuci wajahku, menatap refleksi diriku dicermin dan entah mengapa sejenak hatiku berasa sedikit bersalah pada Bagas. Ku buka ponselku dan aku minta maaf pada Bagas dengan alasan yang tidak aku jelaskan. Aku keluar dari toilet dan disana aku melihat Pak Manager yang bersandar di bantalnya dengan tablet PC ditangannya. Beliau tersenyum saat melihatku kembali, tangan beliau melambai memintaku untuk mendekat, aku hanya menggeleng ringan dan duduk ditepi tempat tidur. Aku tidak bisa bohong ruang yang temaram itu membuatku sangat mengantuk dan tidak bisa menahan mataku untuk terpejam. Raut wajahku terbaca oleh Pak Manager dan beliau merapikan bantal disampingnya.“tidurlah Fii, saya tau kamu mengantuk, saya tidak akan melakukan apapun padamu” Beliau beranjak dari tempat tidur itu dan duduk di bench tanpa sandaran yang tidak jauh dari sisi tempat tidur, aku melihatnya mulai berbicara dengan h

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-24
  • TERPAKSA   BAB 7 UNCONTROLLED, SOMETHING NOT OK

    “Semua terjadi diluar kendaliku. Aku ingin sekali kita seperti dulu, tidak perlu terbebani perasaan satu sama lain. Aku sayang sama kamu Bagas. Aku kira aku bisa seperti itu tapi aku sendiri tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku memikirkan orang lain” “tapi ini yang dia lakukan padamu?” Aku terdiam sesaat. Aku teringat wajah Managerku dan sekelebatan bayang-bayang kejadian yang telah terjadi diantara kami hari ini. Aku tertunduk, Bagas beranjak dari hadapanku. Kali ini genggam tanganku tak lagi bisa menahan dia pergi. Bagas benar-benar pergi, aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku yang selalu menghindarinya, tapi ketika ia benar-benar pergi mengapa rasnya sangat sakit? Kekalutan merundung kepalaku. *** Aku bangkit mata berat, aku bangun terlalu pagi bahkan belum satupun anggota keluargaku yang bangun. Aku merogoh ba

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-30
  • TERPAKSA   BAB 8 THE SCANDAL

    Beberapa hari berlalu dengan perasaan yang masih was-was namun suasana dikantor normal dan baik-baik saja, Pak Manager coba meyakinkanku jika tidak akan terjadi apapun. Dalam hatiku masih merasa jika sesuatu terasa tidak beres. Hari rabu yang mendung, gerimis membasahiku ketika aku sampai diparkiran kantor. Aku masuk lobi kantor dengan santai sambil mengusap lenganku yang terkena air hujan, tak biasanya bebarapa karyawan dari divisi yang lain seperti memperhatikanku dengan pandangan yang tidak biasa. Mereka kenapa melihatku seperti itu? Satu, dua, tiga, empat dan hampir setiap pasang mata seperti menatapku dengan pandangan yang aneh, mereka juga berbisik satu sama lain dan itu menggaguku. Aku bergegas mempercepat langkahku sampai keruang kerja divisiku. Disana aku disambut Pay dan Mbak Nik yang langsung menyeretku ke sisi ruangan, diikuti Cindy dan beberapa temanku yang lain satu divi

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-03
  • TERPAKSA   BAB 9 TERROR

    Jam menunjukan pukul 9:30 pagi, aku bangun dari tempat tidurku dengan mata yang masih berat, aku menatap layar HP yang cukup terang hingga membuatku memincingkan mata umtuk mengetik pesanan makan lewat aplikasi, semua orang rumah kebetulan pergi keluar kota untuk beberapa hari karena ada saudara jauh yang menikah. Aku tidak bercerita apapun pada orang tuaku tenatang maslah yang aku hadapi akan sangat tidak mungkin bagi mereka untuk tau, aku akan menyimpan masalah ini rapart-rapat. Aku duduk di depan jendela menunggu pengantar makanan datang, aku memeriksa Hpku yang terdapat beberapa peasan dari Mbak Nik, Cindy dan Pay. Aku mencoba menanyakan perkembangan masalah itu dikantor. Kabar baiknya Pay bilang jika seseorang yang menyebar video itu memang belum ditemukan tapi penyebaran video itu sudah berhenti. Namun kabar buruknya Mbak Nik bilang jika Pak Manager tidak melanjutkan beberapa kontrak kerja karena masalah ini. Mbak Nik bilang jika skandal ini cukup besar perhatiannya terpecah h

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-19
  • TERPAKSA   BAB 10 SESUATU YANG TAK PANTAS

    Sudah hampir tengah malam namun aku masih merasa kantuk tak datang padaku, pikiranku melayang tak karuan. Aku memikirkan Pak Manager, diriku sendiri dan masalah yang sedang terjadi. Baru saja aku membaca sebuah artikel tenteng isu yang sama tentang masalah yang sedang aku hadapi. Buruk. Isu seperti ini akan sangat mengganggu citra dari sebuah perusahaan bahkan citra Pak Manager dikantor sekarang memang sudah jatuh. Akan lebih buruk jika masalah ini sampai keluar dari perusahaan maka akan sangat mudah jika nama GoodRumi Corp untuk jatuh dan bahkan hancur. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Mengingat sedikit kejadian itu pasti sangat membuat aku malu. Bila diingat saat itu mungkin aku tidak memikirkan akibat apapun yang akan terjadi. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi padaku. “itu adalah sesuatu yang tidak pantas” Aku lirih membaca salah astu kalimat yang ada disebuah artikel yang aku baca. Benar, ini sangat memalukan, ini adalah sebuah aib besar. Aku bis

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-23
  • TERPAKSA   BAB 11 WHAT SHOULD I DO?

    Sore hari pukul lima sore aku mencoba menghubungi Pak Manager namun tidak ada jawaban darinya, mungkin masih dikantor pikirku. Aku memeriksa pesan WhatsApp-ku, mungkin aku bisa mengirim pesan untuk Pak Manager untuk memastikan ia baik-baik saja. Tak lama aku mendengar suara mobil berhenti didepan rumahku, aku mengintip dari balik tirai jendela. Sosok laki-laki memakai kemeja hitam dan memakai masker wajah turun, itu adalah Pak Manager. Aku langsung membuka pintu saat beliau tepat berada didepan teras, beliau kaget namun buru-buru masuk rumah.“Pak Manager ada apa kesini?”“bagaiman keadaan kamu?” duduk dan membuka masker“saya baik-baik saja Pak, tidak ada masalah”“syukurlah... aku kemari untuk memastikan keadaan kamu lagi. Sudah tidak sakit kan?” mengelus kepalaku“Saya baik-baik saja Pak, Bapak bisa telpon saya, tidak perlu kemari jika memang sibuk dikantor”“

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-26
  • TERPAKSA   BAB 12 SEMUA YANG AKU TIDAK TAHU

    “Da-dari mana lu tau Bagas?” “... Fii, kenalin gue Bayu kakaknya Bagas. Gue kerja satu kantor sama lu” Aku terduduk dilantai, aku merasakan tubuhku seperti jatuh dari ketinggian. Aku merasa benar-benar mual. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Dia bilang kakaknya Bagas? “kakak? Lu siapa?!! Jangan bercanda sama bawa-bawa nama temen gue...!!!” “Yes, gue kakak kandung Bagas Putra” Bohong! Manusia busuk ini pasti sedang berbohong. Dia hanya ingin hancurin hidupku. Aku terus memegangi kepalaku, otakku mencoba merangkai kata-kata. Aku berharap semua ini omong kosong, tidak mungkin dia adalah kakak Bagas. Tapi jika iya? Untuk apa? “lu jangan bohong!!”

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-31

Bab terbaru

  • TERPAKSA   BAB 14 DRAMA AND... FIRST TIME

    Aku datang ke store Bagas saat pulang kerja dan membawa beberapa makanan yang dia suka. Teman Bagas bilang jika Bagas baru saja keluar dan ia memintaku untuk menunggu diruang istirahat mereka yang ada dibagian belakang store. Aku menunggu sambil meminum kopi yang aku beli, padahal aku tidak pernah menyukai kopi.Tak lama aku mendengar langkah kaki yang datang dan daun pintu yang ditutup. Aku menyambut Bagas dengan senyum lebar yang terkesan memaksa dan dibalas oleh Bagas dengan senyumnya yang berbinar khasnya.“Hai, apa kabar?” memintanya duduk“b-baik kak. Kakak ada perlu apa kesini?” wajahnya heran“...pengen mampir aja, ohya aku bawain makanan kesukaan kamu, kamu udah makan?”“belum sih, terima kasih ya kak. So good to see you again...” tersenyumMenatap Bagas yang kini kembali ada dalam pandangan jarak dekat denganku. Tanpa banyak bertanya ia membuka kotak makana

  • TERPAKSA   BAB 13 KESALAHANKU

    Aku benar-benar bergadang semalaman, tubuhku ada ditempat tidur tapi pikiranku melayang. Entah aku harus bagaimana, aku tidak mau sampai nama besar Pak Manager hancur begitu juga namaku apalagi nama perusahaan. Haruskah aku terpaksa berpacaran dengan Bagas untuk menyelamatkan Pak Manager dan diriku sendiri?Dan apakah aku juga harus mengorbankan hubungaku dengan Pak Manager? Ini semua seperti mimpi buruk yang tidak berakhir dan yang lebih buruk lagi ini adalah kenyataan. Aku harus apaa?!!! Aku benar-benar merasa stress dan tertekan dengan keadaan ini. Semua ini terlalu berat bagiku mungkin juga bisa membunuhku.****Seminggu berlalu dengan sangat berat akhirnya aku bisa kembali ke kantor. Pagi ini dimana aku kembali keaktivitasku yang dulu. Aku masih merasa takut untuk melangkahkan kaki ke kantor, pasti akan ada banyak sekali karyawan yang tidak ingin aku kembali setelah semua yang terjadi.

  • TERPAKSA   BAB 12 SEMUA YANG AKU TIDAK TAHU

    “Da-dari mana lu tau Bagas?” “... Fii, kenalin gue Bayu kakaknya Bagas. Gue kerja satu kantor sama lu” Aku terduduk dilantai, aku merasakan tubuhku seperti jatuh dari ketinggian. Aku merasa benar-benar mual. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Dia bilang kakaknya Bagas? “kakak? Lu siapa?!! Jangan bercanda sama bawa-bawa nama temen gue...!!!” “Yes, gue kakak kandung Bagas Putra” Bohong! Manusia busuk ini pasti sedang berbohong. Dia hanya ingin hancurin hidupku. Aku terus memegangi kepalaku, otakku mencoba merangkai kata-kata. Aku berharap semua ini omong kosong, tidak mungkin dia adalah kakak Bagas. Tapi jika iya? Untuk apa? “lu jangan bohong!!”

  • TERPAKSA   BAB 11 WHAT SHOULD I DO?

    Sore hari pukul lima sore aku mencoba menghubungi Pak Manager namun tidak ada jawaban darinya, mungkin masih dikantor pikirku. Aku memeriksa pesan WhatsApp-ku, mungkin aku bisa mengirim pesan untuk Pak Manager untuk memastikan ia baik-baik saja. Tak lama aku mendengar suara mobil berhenti didepan rumahku, aku mengintip dari balik tirai jendela. Sosok laki-laki memakai kemeja hitam dan memakai masker wajah turun, itu adalah Pak Manager. Aku langsung membuka pintu saat beliau tepat berada didepan teras, beliau kaget namun buru-buru masuk rumah.“Pak Manager ada apa kesini?”“bagaiman keadaan kamu?” duduk dan membuka masker“saya baik-baik saja Pak, tidak ada masalah”“syukurlah... aku kemari untuk memastikan keadaan kamu lagi. Sudah tidak sakit kan?” mengelus kepalaku“Saya baik-baik saja Pak, Bapak bisa telpon saya, tidak perlu kemari jika memang sibuk dikantor”“

  • TERPAKSA   BAB 10 SESUATU YANG TAK PANTAS

    Sudah hampir tengah malam namun aku masih merasa kantuk tak datang padaku, pikiranku melayang tak karuan. Aku memikirkan Pak Manager, diriku sendiri dan masalah yang sedang terjadi. Baru saja aku membaca sebuah artikel tenteng isu yang sama tentang masalah yang sedang aku hadapi. Buruk. Isu seperti ini akan sangat mengganggu citra dari sebuah perusahaan bahkan citra Pak Manager dikantor sekarang memang sudah jatuh. Akan lebih buruk jika masalah ini sampai keluar dari perusahaan maka akan sangat mudah jika nama GoodRumi Corp untuk jatuh dan bahkan hancur. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Mengingat sedikit kejadian itu pasti sangat membuat aku malu. Bila diingat saat itu mungkin aku tidak memikirkan akibat apapun yang akan terjadi. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi padaku. “itu adalah sesuatu yang tidak pantas” Aku lirih membaca salah astu kalimat yang ada disebuah artikel yang aku baca. Benar, ini sangat memalukan, ini adalah sebuah aib besar. Aku bis

  • TERPAKSA   BAB 9 TERROR

    Jam menunjukan pukul 9:30 pagi, aku bangun dari tempat tidurku dengan mata yang masih berat, aku menatap layar HP yang cukup terang hingga membuatku memincingkan mata umtuk mengetik pesanan makan lewat aplikasi, semua orang rumah kebetulan pergi keluar kota untuk beberapa hari karena ada saudara jauh yang menikah. Aku tidak bercerita apapun pada orang tuaku tenatang maslah yang aku hadapi akan sangat tidak mungkin bagi mereka untuk tau, aku akan menyimpan masalah ini rapart-rapat. Aku duduk di depan jendela menunggu pengantar makanan datang, aku memeriksa Hpku yang terdapat beberapa peasan dari Mbak Nik, Cindy dan Pay. Aku mencoba menanyakan perkembangan masalah itu dikantor. Kabar baiknya Pay bilang jika seseorang yang menyebar video itu memang belum ditemukan tapi penyebaran video itu sudah berhenti. Namun kabar buruknya Mbak Nik bilang jika Pak Manager tidak melanjutkan beberapa kontrak kerja karena masalah ini. Mbak Nik bilang jika skandal ini cukup besar perhatiannya terpecah h

  • TERPAKSA   BAB 8 THE SCANDAL

    Beberapa hari berlalu dengan perasaan yang masih was-was namun suasana dikantor normal dan baik-baik saja, Pak Manager coba meyakinkanku jika tidak akan terjadi apapun. Dalam hatiku masih merasa jika sesuatu terasa tidak beres. Hari rabu yang mendung, gerimis membasahiku ketika aku sampai diparkiran kantor. Aku masuk lobi kantor dengan santai sambil mengusap lenganku yang terkena air hujan, tak biasanya bebarapa karyawan dari divisi yang lain seperti memperhatikanku dengan pandangan yang tidak biasa. Mereka kenapa melihatku seperti itu? Satu, dua, tiga, empat dan hampir setiap pasang mata seperti menatapku dengan pandangan yang aneh, mereka juga berbisik satu sama lain dan itu menggaguku. Aku bergegas mempercepat langkahku sampai keruang kerja divisiku. Disana aku disambut Pay dan Mbak Nik yang langsung menyeretku ke sisi ruangan, diikuti Cindy dan beberapa temanku yang lain satu divi

  • TERPAKSA   BAB 7 UNCONTROLLED, SOMETHING NOT OK

    “Semua terjadi diluar kendaliku. Aku ingin sekali kita seperti dulu, tidak perlu terbebani perasaan satu sama lain. Aku sayang sama kamu Bagas. Aku kira aku bisa seperti itu tapi aku sendiri tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku memikirkan orang lain” “tapi ini yang dia lakukan padamu?” Aku terdiam sesaat. Aku teringat wajah Managerku dan sekelebatan bayang-bayang kejadian yang telah terjadi diantara kami hari ini. Aku tertunduk, Bagas beranjak dari hadapanku. Kali ini genggam tanganku tak lagi bisa menahan dia pergi. Bagas benar-benar pergi, aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku yang selalu menghindarinya, tapi ketika ia benar-benar pergi mengapa rasnya sangat sakit? Kekalutan merundung kepalaku. *** Aku bangkit mata berat, aku bangun terlalu pagi bahkan belum satupun anggota keluargaku yang bangun. Aku merogoh ba

  • TERPAKSA   BAB 6 THE GAME

    Aku mencuci wajahku, menatap refleksi diriku dicermin dan entah mengapa sejenak hatiku berasa sedikit bersalah pada Bagas. Ku buka ponselku dan aku minta maaf pada Bagas dengan alasan yang tidak aku jelaskan. Aku keluar dari toilet dan disana aku melihat Pak Manager yang bersandar di bantalnya dengan tablet PC ditangannya. Beliau tersenyum saat melihatku kembali, tangan beliau melambai memintaku untuk mendekat, aku hanya menggeleng ringan dan duduk ditepi tempat tidur. Aku tidak bisa bohong ruang yang temaram itu membuatku sangat mengantuk dan tidak bisa menahan mataku untuk terpejam. Raut wajahku terbaca oleh Pak Manager dan beliau merapikan bantal disampingnya.“tidurlah Fii, saya tau kamu mengantuk, saya tidak akan melakukan apapun padamu” Beliau beranjak dari tempat tidur itu dan duduk di bench tanpa sandaran yang tidak jauh dari sisi tempat tidur, aku melihatnya mulai berbicara dengan h

DMCA.com Protection Status