Selimut bulu tebal menyelimuti tubuh ramping yang kini rebahan santai di depan televisi berukuran 70 inchi. Layar besar itu memutar satu judul film yang direkomendasikan salah satu platform berbayar. Meja bulat disebelahnya menyangga coklat panas dan beberapa makanan ringan. Sungguh hari santai yang jarang sekali bisa Alana Diandra rasakan.Tidak seperti kelihatannya, wanita itu sesungguhnya tak seratus persen fokus pada tayangan. Jemarinya sibuk memberi instruksi pada Rosaline tentang apa- apa saja yang perlu gadis itu lakukan selama Alana tak bisa berada di kantor. Selain itu, dia juga beberapa kali memantau perkembangan akun berita dan gosip.Berita tadi pagi tentu memberi sumbangsih besar terhadap gonjang-ganjing perusahaannya. Namun bukan Alana namanya jika tidak punya rencana cadangan terhadap segala hal. Meskipun mertua dan orang tuanya juga turut khawatir, Alana hanya bisa meminta mereka untuk tenang dan menunggu segalanya berjalan kondusif. Meski tidak melakukan apapun untuk
"Bu Alana mau istirahat saja? Kelihatannya pucat sekali." Rosaline menyadarkan Alana kembali dari pikirannya yang mengelana dalam. Wanita itu tersenyum singkat sembari menggelengkan kepalanya. "Aku baik- baik saja. Kamu tidak perlu khawatir," balasnya. Meskipun begitu, Rosaline tetap khawatir dengan kondisi atasannya tersebut. Dia bergegas meminta salah seorang office boy untuk membuatkan teh jahe dan bubur. Dia tahu Alana belum makan siang sama sekali. Ditambah lagi, dia memergoki sang bos beberapa kali bolak-balik kamar mandi untuk muntah. "Atau mau saya panggilkan Pak Arka untuk menjemput?" saran Rosaline yang mendapat gelengan keras lagi dari Alana. "Jangan! Jangan hubungi dia. Aku baik- baik saja," terang Alana lagi. Alana tidak bisa menemui Arkasa dalam keadaan begini setelah pertengkaran mereka dua hari lalu. Setelah hari itu, Alana bahkan belum bertemu Arkasa lagi di rumah. Lelaki itu benar- benar marah besar padanya dan tidak pulang ke rumah."Bagaimana aku bisa perca
"Kamu pasti berpikir sudah berada diatas awan, bukan?"Alana menyungginkan seutas senyuman miring meskipun tak ada satupun orang yang dapat melihatnya. Dia sudah tahu lambat laun si pelaku pasti akan menghubunginya. Satu panggilan masuk dari wanita yang namanya tengah disebut dimana-mana, Veronica Wijaya. "Memangnya apa yang aku lakukan? Apa hubungannya denganku?" tanya Alana dengan santai. Wanita dua puluh delapan tahun itu berani jamin bahwa semua kekacauan yang terjadi adalah ulah Veronica sendiri yang membuka celah. Segala pemberitaan yang menyeret Veronica pada akhirnya juga bukan tanggung jawab Alana sama sekali. Dia tak meminta siapapun untuk melakukan itu. Sekali lagi, Alana tak mau ikut- ikutan mengotori tangannya. Begitu panggilan ini masuk, secara tak langsung Veronica telah mengakui bahwa semua kekacauan ini berasal darinya. Niat hati ingin menyerang Alana tapi justru terperosok jatuh sendiri. Panggilan beberapa detik itu hanya ditanggapi santai oleh Alana. Pada akhirn
Satu berita mencengangkan tiba- tiba kembali menghantam setelah Veronica menghilang secara misterius. Kegemparan meningkat, apalagi dunia maya yang masih mempertahankan nama Veronica Wijaya di puncak trending. Semua tentu terkejut. Wanita nyentrik dengan kepercayaan diri tinggi memilih bunuh diri setelah semua perbuatannya terungkap. Siapa sangka akan berakhir tragis seperti ini? Apa yang ditabur itu juga yang dituai. Bahkan setelah kematiannya pun, semua permasalahan selama hidupnya masih terus digoreng massa. Ucapan belasungkawa terus naik ke permukaan meskipun tetap saja masih ada tangan- tangan jahat yang mengirimkan ketikan pedas tanpa nalar. Meskipun semasa hidupnya wanita usia empat puluhan itu punya banyak sekali kejahatan, bukan berarti penghinaan untuk kematiannya bisa dibenarkan. Warga yang berlindung dibalik identitas palsu dan seenaknya menebar kalimat tanpa bisa dipertanggung jawabnkan itu benar- benar menyeramkan.Nama Alana Diandra Yasmin pun masih ikut dicatut. Ada
Ini semua mungkin hanya halusinasi.Alana duduk di sebuah kursi panjang ruang tunggu rumah sakit. Belum sepenuhnya pulih karena dia baru saja sadar dari pingsan. Beberapa denyutan nyeri yang bersarang di kepala menunjukkan eksistensinya membuat wanita dengan blazer coklat susu itu memejamkan lalu membuka kembali matanya. Sekretarisnya sedang menebus obat yang katanya telah diresepkan dokter. Ini mungkin sudah sepuluh menit sejak Alana keluar dari salah satu ruangan dihadapannya sekarang. Rosaline belum juga menunjukkan tanda- tanda kembali. Alana manyandarkan punggungnya lalu menghela nafasnya perlahan. Perkataan samar tadi bisa jadi hanyalah halusinasinya belaka. Dia baru saja sadar dari pingsan, jadi ada kemungkinan dia salah mendengar kalimat. Apalagi setelah itu dokter juga tak mengatakan apapun padanya, pun Rosaline yang hanya membawanya keluar ruangan lalu meninggalkannya lagi disini. Hamil? Kata itu belum sempat dia bayangkan. Ada perasaan campur aduk yang menyeruak saat men
"Mama dengar hari ini kamu pergi ke rumah sakit, ya?"Alana masih sibuk membasuh piring memunggungi mertuanya saat pertanyaan itu menyapa rungunya. Dia sudah tidak heran lagi, mama mertuanya itu punya banyak mata-mata. Apalagi rumah sakit yang dia datangi tadi siang juga merupakan salah satu yang berada dibawah pengawasan khusus keluarga Pradipta. Untungnya ada suara gemericik air wastafel, Alana memilih untuk pura- pura tidak dengar. Sepulang dari rumah sakit, tepat sekali mama mertuanya menelepon. Katanya ingin berkunjung sekaligus membawakan sup kesukaan Alana. "Alana?"Kali ini dia tidak bisa mengelak lagi karena sentuhan dingin mama mertuanya jelas terasa di punggungnya. Alana mempersiapkan ketenangan dan senyum santai seperti biasa sebelum membalik tubuh. "Iya, kenapa ma?" melanjutkan berpura- pura. Alana kembali berjalan mengitari meja makan sembari merapikan beberapa peralatan makan yang tersisa. Hendak kembali menuju tempat cuci piring ketika sang mama justru menahan lan
Arkasa Point of View Setelah memastikan bahwa Evanny ditangani dokter, aku masih berdiam diri di sebuah kursi panjang rumah sakit. Tubuhku mungkin berada disini, namun segala macam pikiran aneh sudah mengacaukan hampir setengah kesadaranku. "Mau sampai kapan lari begini?" Arta yang baru saja kembali setelah membelikan sebotol minuman dingin kini ikut duduk disebelahku. Mengenal Arta selama bertahun- tahun membuatku menetapkan garis yang jelas padanya. Kalau sedang mengurus pekerjaan kami memang terlihat kaku dan formal. Namun diluar jam kerja, Arta adalah sosok kakak yang ikut memberi beragam masukan padaku. "Enggak tahu, Ta!" ujarku sembari mengacak lagi rambut yang mulai tak rapi. "Bertahun-tahun kenal, baru kali ini saya melihat versi gengsian Pak Arkasa. Gak kasihan lihat istri pucat begitu? Apalagi tatapannya pedih sekali tadi," ujar Arta yang kian menambah gemuruh pedihku. Bohong kalau aku bilang tatapan sendu Alana tadi tidak menyumbangkan sembilan puluh persen kegelisa
"K-kenapa?" Arkasa tergelak akan perkataan istrinya. Dia menatap Alana dengan tatapan tak percaya. Apakah sangat mudah mengatakan kalimat itu? Astaga, apakah sebesar itu kekecewaan Alana padanya? Arkasa kalut dan kini semakin mengeratkan pegangannya pada Alana. "Aku gak bisa melepaskan kamu begitu saja! Maaf karena telah meninggalkanmu beberapa hari ini, tapi kemarahanku itu adalah karena aku khawatir. Aku gak mau kamu berada dalam situasi yang berbahaya karena terlibat dalam urusan orang- orang jahat diluar sana. Aku gak bisa lepasin kamu gitu aja, Al!" Tangis Alana semakin kencang sehingga dia bahkan kesulitan untuk mengucapkan kalimatnya dengan jelas. "Iya aku maafin. Aku juga minta maaf karena membuat kamu kecewa," ujarnya. "Lalu kenapa kamu minta pisah? Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku!" Arkasa tak bisa menahan tangisnya. Baru kali ini juga Alana melihat suaminya menangis begitu. Dengan cepat Alana menghempaskan kedua tangan Arkasa. "
Semua orang yang berada dalam perhelatan sederhana namun meriah malam ini jelas melihat binar kebahagiaan di wajah pasangan luar biasa itu, Arkasa Dean Pradipta dan istrinya Alana Diandra Yasmin. Ketika mereka menikah empat tahun lalu, seluruh kota membicarakan kombinasi luar biasa tersebut. Bagaimana tidak? Arkasa Dean Pradipta memang sudah digadang- gadang menjadi pewaris utama dan punya latar belakang yang bersih luar biasa. Tidak pernah ada media yang mengendus kedekatannya dengan gadis manapun. Padahal ada banyak sekali keluarga kaya dari kalangan pengusaha atau bahkan politisi yang berusaha menjadikannya sebagai menantu mereka. Nyatanya, keluarga Pradipta tak pernah terjebak ataupun berusaha menjodohkan Arkasa dengan siapapun. Sebab lelaki itu tinggal diluar negeri selama bertahun- tahun, orang- orang berpikir dia mungkin memiliki seorang kekasih disana. Sampai akhirnya dia kembali ke Indonesia dan langsung dikabarkan meminang Alana Diandra Yasmin, putri tunggal salah seorang a
"Sudahlah, pengantin baru tidak perlu diajak! Mereka pasti belum bangun," Tuan Pradipta menarik lengan istrinya yang hendak melangkah keluar pendopo. Seolah menjadi tradisi mereka, jikalau sedang berkumpul begini keluarga itu akan makan bersama. Namun menyadari situasi saat ini, besar kemungkinan Adara dan Bayu bahkan belum bangkit dari ranjang. Nyonya Pradipta terkikik saat aru menyadari bahwa telah ada beragam perubahan dalam tubuh keluarga itu. Kini sudah melingkar Tuan dan Nyonya utama Pradipta, Alana, Arkasa,dan tak lupa bayi mungil yang sibuk di meja bayi. Kehadirannya tentu bak sihir yang membuat suasana disini menjadi semakin ceria. Terbukti dari tawa gemas yang sangat jarang muncul dari Tuan Tua Pradipta. "Sandi semalam rewel tidak, nak?" Tanya Mama Tiana.Alana sibuk membersihkan sisa susu di sudut bibir putranya, ia tersenyum kecil pada mertuanya yang baru saja bertanya."Aman kok, ma. Dia sempat bangun sekali namun setelah diberi susu langsung tidur lagi," jawab Alana s
Jika memang sudah garis yang ditentukan tuhan, maka terjadilah. Mungkin itu juga yang terjadi pada kisah Adara. Setelah penghianatan dan kesalah pahaman di masa lalu, ada banyak sekali jalan yang pada akhirnya kembali mempertemukannya dengan Bayu. Sekalipun Adara telah berusaha menolak berulang kali, kegigihan Bayu pada akhirnya berbuah manis. Bayu bahkan berhasil mendapatkan kembali kepercayaan Tuan Pradipta setelah sebelumnya sempat bersitegang. Semua itu tidak terjadi secara instan, ada proses panjang yang melatarbelakangi semuanya. Alana tak banyak ikut campur dengan kisah cinta bersemi kembali antara Adara dengan Bayu. Dia ingat tiga bulan lalu saat Adara ke rumahnya untuk seperti biasa bermain bersama Sandi. Bedanya, hari itu Adara membawa serta Bayu ke hadapannya dan Arkasa. Seolah berusaha mendapatkan restu dari Alana dan Arkasa lebih dahulu sebelum akhirnya kembali mengais restu dari orang tua. Alana dan Arkasa sepakat untuk tidak banyak mengambil andil. Mereka membiarkan
"Astaga Mas Arka!"Alana menggeleng- gelengkan kepalanya tak habis pikir. Dia baru saja selesai menyiapkan setelan pakaian untuk keluarga kecilnya ketika menyadari bahwa dua jagoannya belum juga keluar dari kamar mandi setelah hampir tiga puluh menit. "Mas! Sudah selesai belum?""Sepuluh menit lagi, Al!"Ibu satu anak itu berdecak sembari berkacak pinggang. Sebelumnya juga Arkasa sudah memberikan jawaban yang sama, namun sampai sekarang mereka berdua tidak kunjung keluar kamar mandi. Dari luar saja Alana sudah bisa mendengar riuh tawa dua jagoannya itu berpadu dengan suara air, putranya bahkan sampai cekikikan senang. Alana memang memberikan mandat pada sang suami untuk memandikan Sandi selagi dia menyiapkan pakaian dan beberapa keperluan untuk dibawa. Namun sepertinya dia lupa bahwa setiap kali Arkasa dan putranya itu bersatu pasti akan ada keriuhan dari kekompakan nakalnya mereka."Lho, belum selesai mandinya?"Alana setengah melotot saat membuka pintu kamar mandi. Menemukan bahwa
"Baju yang biru aja deh, Al! Lebih lucu! Eh tapi yang kuning kelihatan lebih mencolok! Duh, yang mana ya?"Adara saat ini turut membantu atau lebih tepatnya merecoki Alana di rumahnya. Dia sedari tadi bingung sendiri menentukan baju mana yang akan digunakan Arsena hari ini. Padahal seluruh baju yang dipilih merupakan hadiah dari Adara. Saking banyaknya, Adara sendiri jadi bingung mau memilih yang mana untuk dipakai ponakannya itu hari ini.Alana hanya bisa menggeleng- gelengkan kepala karena tingkah adik ipar sekaligus sahabatnya itu. Dia sudah selesai mengoleskan telon dan lain- lain di tubuh putranya, namun Adara yang sedari tadi kekeuh ingin memilihkan baju justru masih bingung sampai mengeluarkan semua pakaian di atas tempat tidur."Yang mana aja, Dar! Kita kan lagi gak mau kemana- mana juga. Kenapa kamu jadi rumit begitu??"Alana melangkah melewati kebingungan Adara sembari mengambil satu stel pakaian berwarna biru cerah disebelah sahabatnya. Melihat Alana menentukan pilihan memb
Alana Point of View "Makan dulu yuk, Al!" Mas Arka muncul dari balik pintu sembari tersenyum teduh kearahku. Aku yang baru saja meletakkan Arsena di ranjang bayi hanya membalasnya dengan sebuah senyuman simpul. Dia merangkul bahuku hangat sembari menggiring menuju ruang makan. Ini sudah pukul sebelas malam. Keluarga kami baru saja pamit kembali ke rumah masing- masing setelah hampir seharian bermain bersama disini. Tadinya mama, bunda, dan Adara mau tinggal, namun kompak aku dan Mas Arkasa larang. Kami tahu, kalau mereka semalaman disini pasti akan ikut begadang dan lelah. Mama dan Bunda sudah terus berada di rumah sakit selama aku dirawat disana, sementara Adara benar- benar baru saja sampai setelah sekian belas jam penerbangan. Akan lebih baik jika mereka istirahat dengan nyaman malam ini. Banyak sekali ilmu yang kudapat dari mereka yang tentu sudah lebih berpengalaman. Mama dan bunda terutama banyak memberikan wejangan dan tips tentang dasar- dasar merawat bayi. Sebelumnya a
Beberapa manusia dengan pakaian serba hitam mulai berjalan menjauhi pusara. Aneka karangan bunga turut menghiasi disana. Suasana haru juga terasa karena sedari tadi terdengar isakan tangis di beberapa sudut. Dibawah langit cerah yang tak begitu terik, seorang laki- laki bertubuh atletis meletakkan karangan bunganya. Duduk bersimpuh menatap pusara yang benar- benar baru ini. Dia menundukkan kepalanya, memberikan doa dan sebuah penghormatan terakhir untuk yang berada dibawah batu nisan. "Aku harap, kamu dapat beristirahat dengan tenang." Ia meletakkan buket bunga putih menemani karangan yang lainnya juga. Tubuh jangkungnya sempat tersentak kaget saat merasakan sepasang tangan dengan jemari lentik menekan bahunya. Arkasa menengadah menatap kaget sosok yang kini tersenyum kecil kearahnya. "Aku juga ingin mengucapkan salam perpisahan kepadanya." Meskipun ada banyak yang berkecamuk di kepala, Arkasa membiarkan wanita disebelahnya untuk mulai bersimpuh. Menyentuh nisan dan tersenyum
Masih percaya kekuatan takdir?Katanya, tidak semua yang kita inginkan bisa didapatkan dalam hidup ini. Bahkan ketika manusia mengklaim telah melakukan beragam usaha hingga titik darah penghabisan. Jika memang bukan itu jalan yang digariskan, maka tak akan tercapai jua.Di satu sisi, kalimat tak ada hasil yang menghianati proses juga masih relevan. Banyak orang yang harus melewati beragam kesulitan dan rintangan untuk mencapai tujuannya. Waktu yang diperlukan pun tidak main- main. Namun pada akhirnya dia juga mencapai hasil akhir yang indah. Meskipun mungkin tidak sesuai dengan rencana awalnya.Namun yang menjadi benang merahnya sekarang adalah seberapa realistis tujuan yang ingin manusia capai? Sekalipun telah berusaha dengan keras, apakah cara yang digunakan memang cara yang benar dan sudah seharusnya?Hidup itu mudah dan juga sekaligus sulit. Manusia dituntut untuk tidak mudah menyerah, namun juga diminta untuk tetap realistis. Sejatinya, tak ada usaha yang sia- sia. Kadangkala ki
Derap langkah flatshoes mahal itu menyerbu lorong dengan tergesa. Ditengah keramaian yang cukup padat, wanita parubaya itu membelah lorong buru- buru. Bau khas rumah sakit menemaninya sepanjang perjalanan hingga akhirnya sampai dalam sebuah lorong yang lebih sepi. Diatasnya tertulis ruangan utama khusus VVIP.Nyonya Pradipta masuk kedalam ruangan tanpa bisa membendung kekhawatiran yang nampak jelas di wajahnya. Segera setelah ia menerima kabar mengenai kejadian naas tersebut, dia langsung mengambil penerbangan tercepat untuk kembali ke kota asalnya. Dia berhambur memeluk suaminya yang sudah lebih dulu berdiri cemas di depan pintu bersama dengan besannya. Ayah dan bunda Alana jelas nampak terpukul akibat kejadian yang begitu tiba- tiba ini. Nampak juga Arta yang Rosaline mondar- mandir panik sembari sesekali menerima telepon entah dari siapa."Bagaimana keadaan mereka?" Sebagai satu- satunya yang masih bisa menampakkan sedikit ketenangan, Tuan Pradipta membelai punggung istrinya yang