“Apa? Tidak mungkin!” sanggah Alvaro. Dalam beberapa bulan terakhir ini, hanya Elena wanita yang dia sentuh. Bagaimana bisa Delisa hamil. Alvaro memejamkan mata, mencoba mengingat siapa saja wanita yang dekat dengannya. Tetapi tak ada dalam ingatannya dia pernah menyentuh Delisa sekalipun. Yang ada, wanita itu yang agresif mendekatinya tetapi selalu berhasil dia gagalkan. “Jangan berkelit lagi, nikahi Delisa.” Alvaro tertawa sinis, “sampai kapanpun, tidak!” Alvaro masih teguh dengan pendiriannya. Terlebih lagi dia tidak pernah merasa menyentuh Delisa. Jelas ada sesuatu yang tidak beres. Wanita itu pasti ingin menjebaknya. “Beraninya dia,” gumamnya. “Kepala pelayan, tunjukkan video itu.” Kepala pelayan mengambil sebuah ponsel di atas meja dan kemudian mendekat ke Alvaro. Lalu dia memberikan ponsel itu pada Alvaro. Garis bibir Alvaro tertarik ke dalam. Sekarang dia benar-benar merasa yakin bahwa ini salah satu akal bulus Delisa untuk menjebaknya. “Video ini sudah di edit.” “Apakah
“Tidak ada, aku hanya kesal dengan kejadian tadi pagi. Ayo pulang,” kata Elena, dia pergi meninggalkan Alvaro begitu saja dan berjalan mendahului pria itu. Sebelum, Alvaro sempat membuka pintu mobil, dia sudah membuka pintu itu duluan. Ekspresi Alvaro terlihat bertanya-tanya dengan perubahan sikap Elena itu.Tanpa banyak bicara dia masuk ke dalam mobil. Dia menoleh ke Elena, wanita itu sibuk melihat ke ponselnya. “Apa rencanamu setelah ini?” tanya Alvaro.“Aku ada interview,” kata Elena, tanpa melihat Alvaro. Entah kenapa hatinya kesal sekali dengan Alvaro, mendengar kehamilan Delisa sedikit membuatnya terpukul sekaligus marah. Elena melirik Alvaro dari sudut matanya. Pria yang dengan lantang mengatakan tak ingin menikahi wanita itu, ternyata menghamilinya. “Brengsek!” umpat Elena dalam hati.Padahal dia pikir, Alvaro lebih baik dari Vincent. Ternyata semua pria sama. “Ada baiknya, dia segera mendapat pekerjaan sehingga dia bisa menghindar dari pria ini,” batin Elena.“Aku antar.
Malam harinya, Elena menyiapkan makan malam. Dia mengomel selama memasak. “Jam segini belum pulang juga, kemana dia.” Lalu dia terdiam, menyadari sesuatu yang tidak seharusnya. “Kenapa aku jadi marah, bukankah seharusnya aku lega jika Alvaro menikah dengan Delisa. Aku bisa bebas, tetapi kenapa hatiku sakit.” Elena mematikan kompornya, lalu mengambil segelas air dari lemari es. “Apakah aku mulai ada rasa sama dia?” Elena menyentuh dadanya, merasakan apa yang tengah terjadi pada hatinya. Yang entah sejak kapan telah tumbuh cinta untuk Alvaro. “Tidak, Elena. Kamu tidak boleh, dia bukan pria biasa yang bisa kamu cintai. Kalian berasal dari dunia yang berbeda.” Elena bermonolog, meyakinkan bahwa perasaan itu tak semestinya. Sebelum sakit terlalu dalam, dia harus mengubur perasaan itu dalam-dalam. Jangan sampai pria itu tahu. Dia melihat ke makanan yang ada di atas wajan. Dia sudah tak bernafsu untuk makan. Dia pun memutuskan untuk mandi dan langsung tidur. Dia menyalakan kera
Elena yang tengah menikmati sarapan bersama Alvaro menoleh ke arah pintu dengan ekspresi tenang. Perasaan aneh sudah muncul dalam dirinya sejak pagi, seolah firasatnya berkata bahwa akan ada masalah yang datang. Dengan tatapan penuh arti, ia melirik Alvaro, yang juga tampak menyadari sesuatu.“Siapa?” gumam Alvaro, meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan. Tatapannya penuh tanda tanya ke Elena.Elena menarik napas, lalu berdiri dengan anggun. “kita lihat siapa yang datang,” jawabnya, berjalan menuju pintu.Saat pintu terbuka, Elena sedikit terkejut. Delisa berdiri di depan sana, mengenakan gaun mahal yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya dipoles rapi, meski sorot matanya menunjukkan kemarahan. Namun, senyum penuh kemenangan tersungging di bibirnya.“Dimana Alvaro,” sapanya lembut, tapi dengan nada licik yang tidak bisa disembunyikan. “Aku datang untuk bicara dengannya.”Elena tidak bergeming. Ia menatap Delisa dengan ekspresi datar.“Kau ingin membahas soal kehamilanmu lag
Morgan dengan suaranya yang penuh percaya diri, menggelegar di ruang rapat. Kasak kusuk terdengar.“Tak disangka, Alvaro pria tak bertanggungjawab. Habis sebar benih, tak mau bertanggungjawab.”Alvaro tetap bergeming. Perlahan, senyum sinis terukir di bibirnya. Matanya menatap Morgan dengan tatapan tajam yang mengintimidasi."Aku menghormatimu, Morgan." Suaranya rendah namun penuh tekanan. "Hentikan lelucon ini sekarang."Morgan terkekeh, menganggap kata-kata Alvaro sebagai usaha putus asa untuk menghindar. "Kau pikir bisa berkelit dengan mudah? Oh iya Don, ku harap kamu bijak. Dan menepati janjimu, agar persahabatan kita terjaga.”Don diam, wajahnya penuh pertimbangan. Sesekali dia melirik ke Alvaro yang masih terlihat santai namun tetap waspada.“Apa yang kamu janjikan ayah?” tanya Alvaro tenang.Namun sebelum Don menjawab, Morgan langsung menyela.“Dia berjanji akan memberikan 10% sahamnya pada menantunya. Dan itu berarti Delisa berhak untuk itu.”Alvaro menghela napas, lalu bersa
Pria mengangkat sebuah kursi di atas kepala, entah dari mana kursi itu berasal, yang pasti kursi itu terlihat berbeda dari kursi staff lain di ruangan ini.“Al, ka..kamu dapat dari mana?”Pria itu tak menjawab, hanya menepuk dudukan kursi itu pelan, seolah memastikan kursi itu nyaman. “Coba duduk,” kata Alvaro. Bersamaan dengan itu, kepala tim desain keluar dari ruangannya dan melihat Elena yang sedang mencoba duduk di kursi itu. Alvaro yang sedang berdiri membelakangi, sedang tersenyum puas begitu Elena menempelkan pantatnya di kursi itu. “Bagaimana?” tanya Alvaro. “Nyaman,” jawab Elena, sedikit ragu.“Apa-apaan ini?” Teriakan sang kepala tim desain menggema di seluruh ruangan. Namun itu tak membuat Alvaro bergeming. Dia masih menatap Elena yang terlihat sedikit takut dan ragu antara duduk dan kembali berdiri. “Siapa kamu? Dari mana kursi ini? Tunggu, bukankah ini kursi Presdir? Lancang!”Ruangan tiba-tiba terasa tegang. Semua orang yang berada di sana menahan napas, menunggu r
Elena terengah-engah setelah berlari mengejar Alvaro. Pria itu berhenti di depan mobilnya yang terparkir di halaman kantor. Dengan santai, dia membuka pintu mobil, lalu menoleh ke Elena yang berdiri dengan tangan di pinggang, masih mencoba mengatur napas."Ayo masuk," katanya singkat.Elena mendelik. "Eh? Ke mana?""Ke kantor pusat," jawab Alvaro datar.Elena semakin mengernyit. "Sekarang? Aku belum mengajukan pengunduran diri, loh dari sini.”Alvaro menutup pintu mobil, lalu menyandarkan tubuhnya di sisi kendaraan sambil menyilangkan tangan. "Tak perlu.”Elena berkedip beberapa kali, mencoba mencerna kata-katanya. Sial, benar juga. Dengan statusnya sebagai Presdir, Alvaro bisa melakukan apa saja. Tapi tetap saja, ini terlalu tiba-tiba. Apakah dirinya siap?"Apakah kamu yakin aku jadi asisten pribadimu?” Alvaro menarik pinggang Elena lebih dekat, “Kenapa? Keberatan?”“Tidak…tidak.”Elena menggoyang-goyangkan kedua tangannya di depan Alvaro, untuk menolak ucapan Alvaro. Alvaro tertaw
Semua mata kini menoleh ke sumber suara, ternyata itu suara Jose. Pegangan Selena dan Pak Dante pun terlepas. “Apa yang terjadi di sini? Nyonya, Tuan mencari Anda.”“Baik, aku segera ke kantor.”Selena yang tidak terima, Elena pergi begitu saja. Menarik kembali tangan Elena. “Kita belum selesai, mau kemana kamu?”“Nona Selena, biarkan Bu Elena pergi. Presdir memanggilnya,” ucap Jose.“Apa? Ba..bagaimana bisa?” Selena terkejut, tak menyangka.“Asal Anda tahu, Bu Elena mulai hari ini adalah asisten pribadi Presdir. Jadi menyinggungnya berarti menyinggung Presdir. Jika kamu tidak ingin dipecat, biarkan dia pergi. Dan semuanya, kembali bekerja!”Jose bicara dengan lantang, membubarkan kerumunan. Selena mundur satu langkah, genggaman tangannya yang menarik Elena pun mulai mengendur. Elena hanya bisa menatap wanita itu dengan kesal. Lalu pergi meninggalkan kerumunan menuju ruangan Alvaro bersama Jose. Sedang Selena mengepalkan tangan, kesal. “Awas kamu Elena,” lirih Selena. “Terima kas
“Kamu yakin? Tidak takut?”“Aku sudah lama membiarkannya, ini saatnya menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa dia injak seenaknya.”Alvaro hanya tersenyum tipis mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita di sampingnya itu. Begitu mobil berhenti di depan gedung perusahaan, Alvaro segera keluar lebih dulu. Dengan langkah tenang, ia membuka pintu untuk Elena, membuat wanita itu menatapnya sesaat.“Keluar,” ucap Alvaro singkat.Elena menghela napas, lalu turun dari mobil. Saat mereka melangkah masuk, Jose dan beberapa pengawal berjalan di belakang mereka.Begitu sampai di lantai tertinggi gedung ini. Sebelum masuk ke ruangan Alvaro. “Jose.”“Ya, Tuan?”“Ajari dia pekerjaanmu.”Jose menatap Elena sekilas sebelum kembali menatap Alvaro, memastikan ia tidak salah dengar. “Maksud Tuan, saya harus mengajarkan pekerjaan saya kepada Nyonya?”Alvaro mengangguk tanpa ragu. “Ya.”Elena mengernyit. “Tunggu, maksudmu aku bekerja dengan Jose?”Alvaro yang semula hendak melangkah ke ruangannya,
Keesokan paginya, Elena terbangun dalam pelukan Alvaro. Pria itu mendekapnya. Karena masih kesal semalam, Elena perlahan beringsut mengubah posisi menjadi membelakangi. Namun, tak disangka Alvaro menyadari gerakannya. Sehingga saat dia berhasil mengubah posisi. Alvaro kembali mendekapnya dari belakang. “Masih marah?” Bisiknya pelan. Elena diam, tak ingin bicara. Alvaro semakin mendekatkan tubuh Elena dalam pelukannya. “Sudah pagi, aku harus pergi.”“Kemana pagi-pagi?”“Bekerja, aku sadar aku cuma wanita simpanan yang bisa kamu buang kapan saja.”Elena hendak bangun, tetapi tubuhnya ditarik kembali oleh Alvaro. “Kita pergi bersama.”“Tidak perlu,” ucap Elena, ketus.Akhirnya Alvaro menyerah, dan membiarkan Elena pergi dari pelukannya. Berdebat dengan wanita itu saat marah tak akan bisa menang. Karena itu, dia memberikan Elena waktu untuk meredakan kemarahannya. Saat melihat Elena masuk ke dalam kamar mandi, Alvaro mengambil ponselnya di atas nakas. “Bagaimana?”“Kami sudah dapat
Pyar!Botol bir di tangannya dihantamkan ke meja kaca, pecahannya berhamburan ke lantai. Wanita-wanita di samping pria itu menjerit kecil dan mundur, sementara para pengawal langsung menodongkan pistol ke arahnya.Alvaro tetap berdiri tegak, menatap pria tua itu dengan mata dingin.Tidak ada yang berani menarik pelatuk lebih dulu.Mereka tahu siapa Alvaro.Pria yang berdiri di depan mereka bukan sekadar seorang pengusaha muda yang sedang naik daun. Dia adalah sosok yang namanya bergema di dunia bisnis. Orang yang tidak akan ragu mengotori tangannya jika diperlukan.Pria tua itu menghela napas panjang, lalu memberikan isyarat dengan satu gerakan tangan. Seketika, para pengawalnya menurunkan pistol mereka, meskipun tatapan mereka masih penuh kewaspadaan."Jadi benar, kau lemah karena wanita itu?"Alvaro mencengkeram kerahnya dan menariknya mendekat."Omong kosong!" suaranya rendah, penuh ancaman. "Aku tak butuh bisnismu."Pria itu mengangkat kedua tangannya ke atas, seolah memberi isya
Delisa menatap layar ponselnya dengan sorot mata penuh kebencian. Foto-foto Alvaro dan Elena dari informan yang disewanya terpampang di atas meja.“Seharusnya aku yang ada di sana… Seharusnya aku yang dia tatap seperti itu…” gumamnya dengan suara bergetar.Tangannya mengepal erat. Sudah cukup lama menahan diri, berharap Alvaro akhirnya melihatnya, memilihnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—Elena muncul dan merebut tempat yang seharusnya menjadi miliknya.Tidak lagi.Jika Alvaro tidak bisa menjadi miliknya, maka Elena juga tidak boleh memilikinya.Delisa tahu bahwa Alvaro bukan pria yang mudah dipermainkan. Dia tidak bisa langsung menyerang Elena secara fisik, itu terlalu berisiko. Jadi, ia memutuskan untuk menyerang dari sisi lain, yaitu kepercayaan Alvaro.“Dasar wanita jalang, kita lihat apakah Alvaro masih mau denganmu.”Malam itu juga, Delisa menghubungi seorang. “Aku punya pekerjaan untukmu,” katanya dengan nada dingin.Pria di seberang telepon tertawa kecil.“Baik.”***Ha
Elena memutar bola matanya, berusaha mengabaikan cara Alvaro menatapnya. Ia tahu pria itu sedang mencoba menggodanya lagi, dan ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak begitu saja.Elena mengernyit. “Al, pinggangku hampir patah karena ulahmu. Tidak lagi, lagi pula lukamu belum sembuh benar. Kamu ingin aku mengganti perbanmu lagi?”Alvaro menarik napas pelan, lalu dengan satu tarikan lembut, ia membuat Elena kembali terduduk di tepi ranjang, tepat di sampingnya. Tatapan matanya yang intens membuat Elena sulit untuk berpaling."Ini salahmu.""Salahku? Bagaimana bisa?"Alvaro mulai meraba bibir Elena lembut, “kamu membuatku candu."Elena menelan ludah, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia ingin marah tetapi entah kenapa dia merasa tersanjung dengan pujian pria itu. Melihat Elena hanya diam, Alvaro tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya untuk menyelipkan helai rambut yang jatuh di wajahnya. “Aku tahu kamu khawatir.”Elena mendesah, akhirnya memalingkan wajahnya. “Kamu
Alvaro menatap Elena dengan intens, seolah mencoba membaca pikirannya. Tatapannya tajam, penuh rasa ingin tahu, tetapi Elena tetap berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. “Iya, dia mengkhawatirkanmu,” ucapnya santai. “Dia bertanya tentang keadaanmu dan memintaku untuk menjagamu.” “Hanya itu?” tanyanya kembali. Seolah-olah dia tak puas dengan jawaban yang diberikan Elena barusan. Alvaro terdiam sesaat, menatapnya tanpa ekspresi yang jelas. Suasana di antara mereka sedikit canggung, seakan ada sesuatu yang menggantung di udara, tetapi Elena berusaha mengabaikannya. “Beristirahatlah,” katanya akhirnya, bangkit dari tempat tidur. “Aku akan menyiapkan makanan untuk kita.” Namun, sebelum ia bisa melangkah pergi, Alvaro tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan menariknya kembali ke tempat tidur dengan gerakan cepat. Elena tersentak saat mendapati dirinya terduduk di pangkuannya, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Hawa panas tubuh Alvaro begitu dekat, membuat jantungnya ber
Alvaro menatap Elena dengan lembut, sesuatu yang jarang terlihat darinya. Walau tubuhnya masih lemah, bibirnya melengkung dalam senyuman tipis.Pria itu menatapnya tanpa berkata-kata. Hening menyelimuti ruangan, hanya suara mesin medis yang berbunyi pelan.Lalu, tiba-tiba, Alvaro mengulurkan tangannya yang lemah ke arah Elena. Jangan pergi dariku."Elena terdiam. Kata-kata Don kembali terngiang di benaknya. "Jika kau benar-benar mencintainya, tinggalkan dia."Tapi, saat menatap Alvaro yang masih menunggunya dengan tatapan serius, dia tahu… dia tidak bisa melakukannya.Perlahan, Elena menggenggam erat tangan Alvaro."Aku…tidak akan pergi," bisiknya.Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri. "Aku akan keluar sebentar," katanya.Alvaro menatapnya sebentar, seolah enggan membiarkannya pergi, tapi akhirnya mengangguk. "Jangan lama-lama."Elena hanya tersenyum kecil sebelum melangkah keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya dengan pelan.Begitu Elena pergi, Jose masuk ke
Elena membeku di tempat. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat matanya bertemu dengan sosok yang berdiri di depan pintu—seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam, penuh wibawa.Don.Ayah Alvaro.“Mari kita bicara,” suara Don terdengar dalam dan penuh otoritas.Elena menelan ludah, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Di dalam ruangan, Alvaro masih terbaring lemah. Dia tidak ingin pergi jauh, tapi tatapan Don memberinya isyarat bahwa dia tidak punya pilihan.“Baik,” jawabnya pelan.Don berbalik, melangkah dengan tenang menuju lorong rumah sakit. Elena ragu sejenak sebelum akhirnya mengikuti di belakangnya.Ketika mereka sampai di area yang lebih sepi, Don berhenti dan berbalik menatapnya.“Apa kamu mencintainya?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.Elena mengerjap. Dia bisa merasakan ketegangan yang begitu kuat dari cara pria itu menatapnya."Aku..." Dia menarik napas, mencoba mengumpulkan keberanian.“Jika iya, tinggalkan dia.”Mata Elena terbelalak, hatinya seolah berhenti berd
Bab 68 - Elena tersentak, dia mendengar perintah Alvaro dengan jelas. Tetapi tubuhnya membeku di tempat. Semua terjadi begitu cepat, pria bersenjata lain langsung mengangkat pistol mereka.DOR!Tembakan pertama melesat, nyaris mengenai Alvaro yang dengan cekatan menjadikan tubuh pria yang tadi diserangnya sebagai perisai. Darah muncrat saat peluru menghantam dada pria itu, membuatnya limbung sebelum jatuh tak bernyawa.“Lari!” Alvaro mengulang perintahnya lebih keras, tapi Elena masih terpaku.Salah satu pria menodongkan pistol ke arahnya.DOR!Elena menjerit dan memejamkan mata, namun tubuhnya tetap utuh. Saat membuka mata, yang dilihatnya justru Alvaro—berdiri di depannya, dadanya tertembus peluru.Tubuh Alvaro tersentak ke belakang, nafasnya tercekat. Darah dengan cepat merembes dari luka di dada kirinya, mengalir membasahi kemeja yang dikenakannya.Elena menjerit, “ALVARO!”Tatapannya nanar saat melihat tubuh pria itu melemah. Alvaro masih berdiri, tapi lututnya tampak goyah. Tan