Alvaro menggenggam erat tangan Elena, menariknya menuju mobil dengan tergesa-gesa. Wajahnya tegang, matanya menunjukkan kecemasan yang tak biasa. Begitu dia menerima telepon."Ikut denganku," katanya tegas tanpa memberikan kesempatan Elena untuk menolak.Elena menatapnya sejenak, ragu. Haruskah dia ikut campur dalam urusan Alvaro? Tetapi, sebelum dia sempat berkata apa-apa, Alvaro menghentikan langkahnya dan menatapnya dalam-dalam."Kita bicara lagi nanti," ucapnya dengan nada lembut namun penuh ketegasan.Kata-kata itu cukup untuk membuat Elena menurut. Dia hanya mengangguk pelan, membiarkan dirinya dibawa pergi oleh pria itu.Setibanya di rumah sakit, Alvaro berjalan cepat menuju lantai rawat inap. Tangannya masih menggenggam tangan Elena erat, seolah tak ingin melepaskannya. Mereka tiba di sebuah kamar besar yang dipenuhi peralatan medis. Di sana, Don Moretti, ayah Alvaro, terbaring dengan selang infus dan monitor yang terus berbunyi.Di samping ranjang, seorang pria tua berdiri de
Begitu sampai di mobil, Alvaro menurunkan Elena ke jok penumpang dan memastikan dia duduk dengan nyaman. Lalu, dia berjalan mengitari mobil dan masuk ke sisi yang lain.Jose segera mengambil tempat di kursi pengemudi. Tetapi sebelum dia menyalakan mesin, Alvaro meminta sesuatu darinya.“Jose, kotak obat,” katanya tanpa basa-basi.Jose langsung membuka laci dashboard dan menyerahkan kotak obat kecil ke belakang. Alvaro menerimanya, mobil mulai berjalan perlahan. Alvaro mengubah duduknya menghadap Elena dan membuka kotak obat itu di sampingnya.“Angkat kakimu,” perintahnya singkat.Elena terkejut. "Apa?"Alvaro, yang tidak terbiasa mendengar penolakan, langsung menarik kaki Elena ke pangkuannya. Dia mulai membuka kotak obat, mencari antiseptik dan plester luka.Elena memekik kaget. “ Apa yang kau lakukan?""Diam," balas Alvaro singkat sambil mengoleskan kapas beralkohol ke luka di pergelangan kaki Elena.Elena refleks menggigit bibirnya, perhatian Alvaro itu, membuat hatinya sedikit be
Elena tersentak, wajahnya memerah karena ketahuan. “Aku... aku hanya ingin membangunkanmu,” katanya tergagap. Alvaro duduk perlahan, mengusap wajahnya. “Kenapa?” Elena menghindari tatapan pria itu. “Kata pelayan, kau belum makan sejak siang. Jadi, aku pikir…” Alvaro menatapnya lama, matanya sedikit memicing, seolah mencoba membaca maksud Elena. “Tumben perhatian?” katanya tiba-tiba, nadanya menggoda namun tetap dingin. Elena tertegun, merasa salah tingkah. “Aku… aku hanya ingin berterima kasih. Juga minta maaf karena tadi aku menyinggung tentang ibumu,” ucapnya dengan suara pelan, menunduk dalam-dalam. “Merasa bersalah?” ulang Alvaro, menatap Elena dengan intensitas yang sulit ditebak. Elena mengangguk, tak mampu menjawab dengan kata-kata. Kalimat berikutnya dari Alvaro membuat Elena terpaku, “tinggallah lebih lama.” Elena mengangkat wajahnya, menatap Alvaro dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu?” “Sampai Don sembuh,” tambah Alvaro, nadanya serius. Elena menelan ludah, merasa
Elena diam, dia tak tahu apa rencana sebenarnya pria ini. Tetapi yang dia tahu adalah ucapan Alvaro saat ini adalah sebuah kebohongan, karena statusnya saat ini adalah istri orang lain. Dan itu membuat mereka tak mungkin menikah. Pintu lift terbuka. Alvaro meraih tangan Elena. “Lepaskan!” teriak Elena sambil mendorong tubuh Alvaro. Elena bergegas keluar, Alvaro masih berusaha mengejar Elena untuk membuat kesepakatan dengan wanita itu. Tetapi Elena, tak mau mendengar ucapan Alvaro. Dia mempercepat langkahnya. “Elena,” panggilnya, tangan Alvaro mencoba menghentikan Elena. Tetapi wanita itu segera masuk ke toilet, menghindar dari Alvaro. “Keluar, atau aku masuk!” ancam Alvaro. Pria itu berdiri di depan pintu toilet wanita. Elena mengabaikan panggilan Alvaro, dia menatap pantulan wajahnya di cermin, bibirnya sedikit bengkak karena ciuman paksa Alvaro tadi. “Pria ini, benar-benar….” desisnya. Sengaja dia berlama-lama di kamar mandi, untuk mengulur waktu. Tetapi kemudian, Elena
Elena menatap Don dengan ekspresi tak percaya, seolah berharap ucapan pria tua itu hanyalah lelucon semata. Tetapi sayangnya, raut wajah Don terlalu serius untuk itu.“Don, aku rasa itu tidak perlu,” ujar Elena pelan, mencoba mencari celah untuk menolak.Don hanya tersenyum tipis. “Kalian akan segera menikah, Elena. Bukankah ini hal yang wajar untuk dilakukan?”Ucapan Don langsung membuat Elena kehilangan kata-kata. Dia melirik Alvaro, berharap pria itu membantunya. Tapi bukannya menolak, Alvaro justru menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. Seolah mengatakan, Kamu tidak punya pilihan.“Baiklah, Papa,” jawab Alvaro akhirnya, tanpa memberi Elena kesempatan untuk membantah. “Elena akan ikut.”Elena menahan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa semakin cepat. Dia tidak percaya situasi ini semakin buruk. Sebelumnya, dia berharap bisa menjauh dari Alvaro. Tapi sekarang, pria itu justru semakin mendekat ke kehidupannya.“Bagus,” kata Don puas,“Aku ingin pulang secepatny
Elena membelalakkan mata. Sementara Alvaro hanya tertawa kecil, menikmati keterkejutan wanita itu. "Don, itu terlalu cepat!" seru Elena, berusaha terdengar tenang meski hatinya berkecamuk. Don hanya tersenyum tipis. "Itu harapanku saat ini." Elena menelan ludah, merasa semakin terpojok. Dia ingin membantah, tapi ia tahu, Don tak bisa dibantah. "Jangan goda Elena, Pa," ujar Alvaro santai, tetapi sorot matanya mengatakan hal lain. Elena bisa melihat ada sesuatu di balik tatapan itu. Don menghela napas panjang, lalu menatap mereka bergantian. "Baiklah, cukup untuk malam ini. Aku lelah, kalian boleh kembali ke kamar." Elena segera bangkit, merasa lega akhirnya bisa keluar dari ruangan itu. Namun, saat ia berbalik hendak pergi, Don kembali berbicara, membuat langkahnya terhenti. "Ingat, Alvaro," kata Don dengan nada serius, "Kau sudah memilihnya, jika tidak bisa menjaganya dengan baik, maka lepaskan." Alvaro tersenyum kecil. "Baik Pa." Elena merasakan bulu kuduknya meremang. Ia me
Elena perlahan membuka matanya. Matanya membelalak begitu menyadari apa yang dilakukannya. Tangannya masih melingkar di pinggang pria itu, dan kepalanya... Ya Tuhan, apakah dia benar-benar membenamkan wajahnya di dada pria itu semalaman?Elena meraup wajahnya gusar, seolah meyakinkan dirinya bahwa dia tak sedang bermimpi. Demi memastikan hal itu, dia pandang wajah Alvaro yang terlihat begitu damai dan…seksi. Alih-alih langsung menjauh, matanya justru terpaku pada dada bidang pria itu. Perutnya yang rata, otot-otot terlihat jelas, dan—tanpa sadar—Elena berpikir, jika pria ini pelukable. Hal itu membuat Elena jadi senyum-senyum sendiri. Sampai akhirnya, mata Alvaro perlahan terbuka, saat Elena masih sibuk mengagumi pria itu.“Selamat pagi, sayang.” Suara Alvaro rendah dan serak. Elena segera menjauhkan dirinya. Kaget sekaligus malu membuat wajahnya memerah.“K-Kenapa kau tidak membangunkanku kalau aku—aku...?” Elena tak sanggup melanjutkan kalimatnya.apa?” Alvaro menaikkan satu alis,
“Tentu saja, Don.” Elena tersenyum canggung, tetapi dalam hatinya terasa begitu hangat. Ini kali pertama dia disambut sebagai menantu, meskipun hanya sekadar menantu settingan. Orang tua Vincent bahkan tak pernah menganggapnya sebagai menantu, melainkan lebih seperti pembantu di rumah mereka.“Bagus, aku senang akhirnya ada wanita di meja makan ini,” ujar Don dengan tawa kecil, meskipun suaranya terdengar lemah.Alvaro hanya mengamati percakapan itu dalam diam. Melihat ayahnya tersenyum bahagia membuatnya teringat pada masa lalu, saat ibunya masih ada. Ia ingat bagaimana ibunya selalu menyajikan makanan dengan penuh kasih sayang. Sekarang, hanya tinggal kenangan yang tersisa.Saat makan, Don terlihat kesulitan. Tangan kanannya masih diinfus, membuatnya sulit untuk mengangkat sendok. Alvaro yang melihat hal itu berinisiatif membantu. Ia mengambil sendok, menyendokkan bubur ke dalam mangkuk, lalu mendekatkannya ke mulut Don. Namun, gerakannya terasa kaku dan canggung. Ia tidak terbiasa m
“Kamu yakin? Tidak takut?”“Aku sudah lama membiarkannya, ini saatnya menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa dia injak seenaknya.”Alvaro hanya tersenyum tipis mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita di sampingnya itu. Begitu mobil berhenti di depan gedung perusahaan, Alvaro segera keluar lebih dulu. Dengan langkah tenang, ia membuka pintu untuk Elena, membuat wanita itu menatapnya sesaat.“Keluar,” ucap Alvaro singkat.Elena menghela napas, lalu turun dari mobil. Saat mereka melangkah masuk, Jose dan beberapa pengawal berjalan di belakang mereka.Begitu sampai di lantai tertinggi gedung ini. Sebelum masuk ke ruangan Alvaro. “Jose.”“Ya, Tuan?”“Ajari dia pekerjaanmu.”Jose menatap Elena sekilas sebelum kembali menatap Alvaro, memastikan ia tidak salah dengar. “Maksud Tuan, saya harus mengajarkan pekerjaan saya kepada Nyonya?”Alvaro mengangguk tanpa ragu. “Ya.”Elena mengernyit. “Tunggu, maksudmu aku bekerja dengan Jose?”Alvaro yang semula hendak melangkah ke ruangannya,
Keesokan paginya, Elena terbangun dalam pelukan Alvaro. Pria itu mendekapnya. Karena masih kesal semalam, Elena perlahan beringsut mengubah posisi menjadi membelakangi. Namun, tak disangka Alvaro menyadari gerakannya. Sehingga saat dia berhasil mengubah posisi. Alvaro kembali mendekapnya dari belakang. “Masih marah?” Bisiknya pelan. Elena diam, tak ingin bicara. Alvaro semakin mendekatkan tubuh Elena dalam pelukannya. “Sudah pagi, aku harus pergi.”“Kemana pagi-pagi?”“Bekerja, aku sadar aku cuma wanita simpanan yang bisa kamu buang kapan saja.”Elena hendak bangun, tetapi tubuhnya ditarik kembali oleh Alvaro. “Kita pergi bersama.”“Tidak perlu,” ucap Elena, ketus.Akhirnya Alvaro menyerah, dan membiarkan Elena pergi dari pelukannya. Berdebat dengan wanita itu saat marah tak akan bisa menang. Karena itu, dia memberikan Elena waktu untuk meredakan kemarahannya. Saat melihat Elena masuk ke dalam kamar mandi, Alvaro mengambil ponselnya di atas nakas. “Bagaimana?”“Kami sudah dapat
Pyar!Botol bir di tangannya dihantamkan ke meja kaca, pecahannya berhamburan ke lantai. Wanita-wanita di samping pria itu menjerit kecil dan mundur, sementara para pengawal langsung menodongkan pistol ke arahnya.Alvaro tetap berdiri tegak, menatap pria tua itu dengan mata dingin.Tidak ada yang berani menarik pelatuk lebih dulu.Mereka tahu siapa Alvaro.Pria yang berdiri di depan mereka bukan sekadar seorang pengusaha muda yang sedang naik daun. Dia adalah sosok yang namanya bergema di dunia bisnis. Orang yang tidak akan ragu mengotori tangannya jika diperlukan.Pria tua itu menghela napas panjang, lalu memberikan isyarat dengan satu gerakan tangan. Seketika, para pengawalnya menurunkan pistol mereka, meskipun tatapan mereka masih penuh kewaspadaan."Jadi benar, kau lemah karena wanita itu?"Alvaro mencengkeram kerahnya dan menariknya mendekat."Omong kosong!" suaranya rendah, penuh ancaman. "Aku tak butuh bisnismu."Pria itu mengangkat kedua tangannya ke atas, seolah memberi isya
Delisa menatap layar ponselnya dengan sorot mata penuh kebencian. Foto-foto Alvaro dan Elena dari informan yang disewanya terpampang di atas meja.“Seharusnya aku yang ada di sana… Seharusnya aku yang dia tatap seperti itu…” gumamnya dengan suara bergetar.Tangannya mengepal erat. Sudah cukup lama menahan diri, berharap Alvaro akhirnya melihatnya, memilihnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—Elena muncul dan merebut tempat yang seharusnya menjadi miliknya.Tidak lagi.Jika Alvaro tidak bisa menjadi miliknya, maka Elena juga tidak boleh memilikinya.Delisa tahu bahwa Alvaro bukan pria yang mudah dipermainkan. Dia tidak bisa langsung menyerang Elena secara fisik, itu terlalu berisiko. Jadi, ia memutuskan untuk menyerang dari sisi lain, yaitu kepercayaan Alvaro.“Dasar wanita jalang, kita lihat apakah Alvaro masih mau denganmu.”Malam itu juga, Delisa menghubungi seorang. “Aku punya pekerjaan untukmu,” katanya dengan nada dingin.Pria di seberang telepon tertawa kecil.“Baik.”***Ha
Elena memutar bola matanya, berusaha mengabaikan cara Alvaro menatapnya. Ia tahu pria itu sedang mencoba menggodanya lagi, dan ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak begitu saja.Elena mengernyit. “Al, pinggangku hampir patah karena ulahmu. Tidak lagi, lagi pula lukamu belum sembuh benar. Kamu ingin aku mengganti perbanmu lagi?”Alvaro menarik napas pelan, lalu dengan satu tarikan lembut, ia membuat Elena kembali terduduk di tepi ranjang, tepat di sampingnya. Tatapan matanya yang intens membuat Elena sulit untuk berpaling."Ini salahmu.""Salahku? Bagaimana bisa?"Alvaro mulai meraba bibir Elena lembut, “kamu membuatku candu."Elena menelan ludah, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia ingin marah tetapi entah kenapa dia merasa tersanjung dengan pujian pria itu. Melihat Elena hanya diam, Alvaro tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya untuk menyelipkan helai rambut yang jatuh di wajahnya. “Aku tahu kamu khawatir.”Elena mendesah, akhirnya memalingkan wajahnya. “Kamu
Alvaro menatap Elena dengan intens, seolah mencoba membaca pikirannya. Tatapannya tajam, penuh rasa ingin tahu, tetapi Elena tetap berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. “Iya, dia mengkhawatirkanmu,” ucapnya santai. “Dia bertanya tentang keadaanmu dan memintaku untuk menjagamu.” “Hanya itu?” tanyanya kembali. Seolah-olah dia tak puas dengan jawaban yang diberikan Elena barusan. Alvaro terdiam sesaat, menatapnya tanpa ekspresi yang jelas. Suasana di antara mereka sedikit canggung, seakan ada sesuatu yang menggantung di udara, tetapi Elena berusaha mengabaikannya. “Beristirahatlah,” katanya akhirnya, bangkit dari tempat tidur. “Aku akan menyiapkan makanan untuk kita.” Namun, sebelum ia bisa melangkah pergi, Alvaro tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan menariknya kembali ke tempat tidur dengan gerakan cepat. Elena tersentak saat mendapati dirinya terduduk di pangkuannya, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Hawa panas tubuh Alvaro begitu dekat, membuat jantungnya ber
Alvaro menatap Elena dengan lembut, sesuatu yang jarang terlihat darinya. Walau tubuhnya masih lemah, bibirnya melengkung dalam senyuman tipis.Pria itu menatapnya tanpa berkata-kata. Hening menyelimuti ruangan, hanya suara mesin medis yang berbunyi pelan.Lalu, tiba-tiba, Alvaro mengulurkan tangannya yang lemah ke arah Elena. Jangan pergi dariku."Elena terdiam. Kata-kata Don kembali terngiang di benaknya. "Jika kau benar-benar mencintainya, tinggalkan dia."Tapi, saat menatap Alvaro yang masih menunggunya dengan tatapan serius, dia tahu… dia tidak bisa melakukannya.Perlahan, Elena menggenggam erat tangan Alvaro."Aku…tidak akan pergi," bisiknya.Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri. "Aku akan keluar sebentar," katanya.Alvaro menatapnya sebentar, seolah enggan membiarkannya pergi, tapi akhirnya mengangguk. "Jangan lama-lama."Elena hanya tersenyum kecil sebelum melangkah keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya dengan pelan.Begitu Elena pergi, Jose masuk ke
Elena membeku di tempat. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat matanya bertemu dengan sosok yang berdiri di depan pintu—seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam, penuh wibawa.Don.Ayah Alvaro.“Mari kita bicara,” suara Don terdengar dalam dan penuh otoritas.Elena menelan ludah, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Di dalam ruangan, Alvaro masih terbaring lemah. Dia tidak ingin pergi jauh, tapi tatapan Don memberinya isyarat bahwa dia tidak punya pilihan.“Baik,” jawabnya pelan.Don berbalik, melangkah dengan tenang menuju lorong rumah sakit. Elena ragu sejenak sebelum akhirnya mengikuti di belakangnya.Ketika mereka sampai di area yang lebih sepi, Don berhenti dan berbalik menatapnya.“Apa kamu mencintainya?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.Elena mengerjap. Dia bisa merasakan ketegangan yang begitu kuat dari cara pria itu menatapnya."Aku..." Dia menarik napas, mencoba mengumpulkan keberanian.“Jika iya, tinggalkan dia.”Mata Elena terbelalak, hatinya seolah berhenti berd
Bab 68 - Elena tersentak, dia mendengar perintah Alvaro dengan jelas. Tetapi tubuhnya membeku di tempat. Semua terjadi begitu cepat, pria bersenjata lain langsung mengangkat pistol mereka.DOR!Tembakan pertama melesat, nyaris mengenai Alvaro yang dengan cekatan menjadikan tubuh pria yang tadi diserangnya sebagai perisai. Darah muncrat saat peluru menghantam dada pria itu, membuatnya limbung sebelum jatuh tak bernyawa.“Lari!” Alvaro mengulang perintahnya lebih keras, tapi Elena masih terpaku.Salah satu pria menodongkan pistol ke arahnya.DOR!Elena menjerit dan memejamkan mata, namun tubuhnya tetap utuh. Saat membuka mata, yang dilihatnya justru Alvaro—berdiri di depannya, dadanya tertembus peluru.Tubuh Alvaro tersentak ke belakang, nafasnya tercekat. Darah dengan cepat merembes dari luka di dada kirinya, mengalir membasahi kemeja yang dikenakannya.Elena menjerit, “ALVARO!”Tatapannya nanar saat melihat tubuh pria itu melemah. Alvaro masih berdiri, tapi lututnya tampak goyah. Tan