Beranda / Romansa / Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini / Bab 211. Rencana Exel Berjalan Mulus!

Share

Bab 211. Rencana Exel Berjalan Mulus!

Penulis: Te Anastasia
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-11 09:22:02

Elizabeth berusaha untuk baik-baik saja saat bersama Tania di sampingnya, seolah tak terjadi apa-apa dan seperti awal-awal Tania di sini.

Malam ini, Elizabeth ditemani oleh Tania memasak di dapur. Mereka berdua memasak bersama, karena sejak awal Elizabeth tidak keberatan bila Tania memasak di sana.

"Nyonya memasak apa?" tanya Tania menoleh pada Elizabeth.

"Aku membuatkan sup untuk anak-anak," jawab Elizabeth sembari fokus pada masakannya. "Semenjak Bibi sakit, aku harus pintar-pintar mengolah makanan supaya memiliki rasa yang sama seperti masakan Bibi. Karena anak-anakku sangat menyukainya."

"Iya Nyonya. Kalau Tuan ... sepertinya Tuan sangat menyukai olahan daging sapi ya, Nyonya?" tanya Tania tiba-tiba.

Elizabeth langsung menghentikan kegiatannya. Ia diam tidak menjawab dan melirik Tania di sampingnya, yang masih fokus pada olahan makanannya.

"Kalau olahan daging sapi, saya rasa ada beberapa macam seperti steak barbeque, lalu memberikan bumbu manis, atau dipanggang dengan api sed
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Fenty Izzi
sukurin...emang enak d kerjain
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 212. Peringatan Keras Dari Evan untuk Tania

    "Pauline, sudah jangan menangis lagi. Tidak papa kok, kan sudah aman dengan Kakak." Exel mengusap pipi Pauline yang basah. Adiknya itu langsung memeluknya dengan erat sembari terus mengomel kalau dia tidak mau dekat-dekat dengan pengasuhnya lagi. Sejujurnya Exel sendiri juga tidak terpikirkan kalau Tania akan memarahi dan membentak Pauline seperti ini, niatnya dia hanya menjahili wanita itu, tapi dia benar-benar marah. "Pauline mau bilang sama Mama, Pauline tidak mau sama Nanny lagi! Nanny bad!" seru anak itu masih memeluk erat Exel sambil duduk di atas sofa. "Iya, iya, nanti diaduin ... tapi jangan nangis ya," bujuk Exel memeluk tubuh kecil sang adik. Barulah Pauline terdiam dan tenang. Tidak lagi terdengar tangisan, Exel sungguh berhasil menenangkan adiknya. Beberapa jam kemudian, Elizabeth dan Evan pulang. Mereka berdua disambut oleh Exel dan Pauline. "Mama..." Suara melengking milik Pauline membuat Elizabeth langsung menoleh. "Ya ampun, anak Mama kenapa sedih-sedih sepert

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-11
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 213. Tampak Seperti Bukan Orang Asing

    Karena kejadian kemarin, hari ini Pauline tidak lagi mau berbicara dengan Tania. Dan jelasnya anak itu juga tidak mau lagi diasuh oleh Tania sekalipun bersusah payah pengasuh itu membujuknya. Seperti saat ini, Tania tengah merayu Pauline yang sedang duduk di ruangan bermainnya, karena anak ini sedang libur bersekolah. "Nona Kecil, nanti kita jalan-jalan ke taman, ya ... kita lihat kelinci lagi, mau kan?" rayu Tania pada anak itu. "Tidak mau! Pauline mau ikut Mama, tidak mau ikut Nanny!" seru Pauline menggeleng-gelengkan kepalanya. "Emmm ... Nona Kecil masih marah ya, sama Nanny?" tanya Tania menatap si kecil. "Iya. Pauline tidak mau berteman lagi!" Pauline langsung beranjak dari duduknya dan berjalan naik ke lantai dua meninggalkan Tania sendirian di sana. Tania mengembuskan napasnya pelan, wanita itu merasa kesulitan berada di sana kalau dia tidak bisa mendekati anak-anak itu. Namun di tengah ia yang sibuk berpikir, Tania tidak menyadari kedatangan Exel di sekitarnya. "Nanny,

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-11
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 214. Mata-mata Mengikuti Tania!

    Pagi-pagi sekali Evan meminta Jericho untuk datang ke ruangannya dan berbicara secara pribadi. Seperti biasa kalau ajudannya selalu sigap kapan saja Evan memerintahkan sesuatu padanya. "Ada apa Tuan meminta saya kemari dan tanpa James?" tanya Jericho menatap Evan. "Hari ini kau tidak perlu datang ke kantor. Urusan kantor nanti biar aku dan James saja yang selesaikan," ujar Evan pada ajudannya tersebut. Kening Jericho mengerut, padahal baru semalaman Evan mengatakan padanya kalau besok Jericho harus ikut meeting bersama dengan Evan. "Lalu, apa ada tugas lain untuk saya, Tuan?" tanya laki-laki bertubuh tinggi gempal itu. "Ya. Setengah tujuh, setengah jam lagi Tania akan mengantarkan Pauline ke sekolah. Aku ingin kau mengikuti mereka diam-diam dan terus awasi pengasuh itu!" perintah Evan pada Jericho. Dengan patuh Jericho menganggukkan kepalanya. "Baik Tuan. Saya akan mengikutinya," jawab laki-laki itu. "Kumpulkan bukti sekecil apapun. Wanita itu membuatku curiga," ujar Evan memas

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-12
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 215. Siapa Kau Sebenarnya, Tania!

    Malam ini Elizabeth membuat janji dengan kedua anaknya untuk pergi jalan-jalan ke sebuah pasar malam yang meriah. Terlihat Pauline dan Exel yang sudah sangat bersemangat. Bersama Evan, Elizabeth menggandeng tangan kedua anaknya menuruni anak tangga. Suara ocehan mereka terdengar sangat tidak sabar untuk segera bergegas pergi. "Nanti Exel mau ajak Adik Pauline naik bianglala, ya Ma," ujar Exel pada sang Mama. "Iya Sayang..." "Wahh, apa itu bianglala, Ma?" tanya Pauline yang kini sudah sampai lebih dulu ke lantai dasar bersama Evan. "Bianglala itu keranjang yang sangat besar!" seru sang Kakak menjelaskan. "Adik Pauline nanti tahu sendiri, kok..." Evan dan Elizabeth tersenyum mendengar ocehan anak mereka. Hingga saat mereka sudah benar-benar siap untuk pergi, tiba-tiba muncul Tania yang berlari mendekati Evan dan Elizabeth di teras. Wanita itu terlihat sangat cemas dan terburu-buru. Wajahnya kalut seperti ada hal buruk yang terjadi padanya. Evan dan Elizabeth pun langsung terhent

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-12
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 216. Kita Tetap Saling Percaya

    Evan kembali pulang ke rumah, dia pikir masih ada waktu untuk pergi bersama anak dan istrinya meskipun hari sudah sedikit terlalu malam. Laki-laki itu berjalan ke lantai dua dan menemukan Elizabeth sudah mengganti pakaiannya. Wanita itu duduk di depan meja rias menghapus semua make up di wajahnya dengan ekspresi datar menatap cermin dan tidak memperdulikan kedatangan Evan. "Sayang, di mana anak-anak? Kita bisa pergi sekarang," ujar Evan mendekati Elizabeth. "Masih ada waktu untuk jalan-jalan..." Istrinya menoleh sekilas, lalu membuang muka dan diam seolah tidak peduli. "Tidak perlu, anak-anak sudah tidur," jawab Elizabeth dengan suara pelan. Wajah cantik itu tidak bisa menyembunyikan kekecewaan. "Kenapa kau sudah kembali? Kau tidak menemaninya sampai dia pulang?" Pertanyaan Elizabeth memang terdengar tenang, namun Evan paham nada datarnya yang terdengar tidak baik-baik saja. "Aku hanya mengantarkannya karena aku hanya ingin memastikan apakah dia berbohong atau tidak dengan ucap

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-12
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 217. Sesuatu yang Tidak Beres

    Keesokan paginya, Tania sudah kambali di rumah Elizabeth dan bekerja seperti biasanya dia menjaga anak-anak di sana. Dari lantai dua, Elizabeth yang baru saja keluar dari dalam kamar, dia tersenyum tipis saat melihat adanya Tania di bawah sana yang sedang merapikan beberapa mainan milik Pauline. "Selamat pagi," sapa Elizabeth sambil menuruni anak tangga. Tania mengangkat wajahnya cepat, wanita itu tersenyum saat melihat Elizabeth. "Selamat pagi juga Nyonya," balasnya dengan ramah seperti biasa. "Tan, kenapa kau sudah bekerja lagi? Bukannya ibumu masih sakit dan dirawat di rumah sakit?" tanya Elizabeth berdiri di hadapan Tania. "Iya Nyonya. Tidak papa, ibu saya juga sudah baikan." Elizabeth menghela napasnya pelan. Ia tahu, menghadapi wanita seperti Tania memang harus diberikan sedikit sikap yang manis."Tan, aku tidak melarangmu bila kau memang ingin libur menjaga ibumu. Aku mengizinkanmu, kasihan ibumu..." Elizabeth masih menatapnya lekat-lekat. "Oh iya, aku juga berencana aka

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-13
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 218. Sebuah Pembuktian

    Evan dan Elizabeth mendapatkan kabar dari Jericho kalau ajudannya itu mempunyai informasi yang sangat penting dan mengejutkan. Hingga kini, Evan meminta Jericho datang ke ruang makan mewah, tempat ia dan Elizabeth berada. Saat Jericho sampai, laki-laki itu langsung membuka topinya dan langsung bergabung duduk bersama Evan dan Elizabeth. "Apa yang kau dapatkan, Jer?" tanya Evan pada ajudannya tersebut. "Kamar nomor dua belas yang Tuan Evan katakan pada saya, bukan ibu-ibu yang dirawat di dalamnya. Melainkan seorang gadis muda yang usianya kisaran lima belas sampai enam belas tahunan," jelas Jericho. Evan dan Elizabeth kompak memasang wajah terkejut mereka. Seolah seperti mendapatkan kejutan baru yang tak terduga."Apa mungkin dia adiknya Tania? Tapi kenapa Tania tidak jujur dan bilang kalau yang sakit adalah adiknya? Saya sangat kebingungan dengan maksud Tania berbohong pada kita semua," imbuh Jericho mengetukkan jemarinya di atas meja. "Lalu? Bagaimana dengan Tania? Apa dia tidak

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-13
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 219. Kebohongan yang Terungkap dan Sebuah Kalung yang Exel Benci

    Elizabeth tidak main-main dengan ucapannya. Wanita itu pergi ke rumah sakit hari ini ditemani oleh Jericho yang diperintahkan oleh Evan untuk menjaga Elizebeth. Elizabeth ingin melihat apakah Tania benar-benar sedang berjaga di sana, atau dia pergi entah ke mana. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah lorong rumah sakit. "Ruangan itu, Nyonya," ujar Jericho menunjuk ruangan dengan angka dua belas di pintunya."Terima kasih, Jer..." Elizabeth langsung berjalan ke sana dengan cepat. Sementara Jericho berdiri di depan pintu menjaga. Mulanya Elizabeth merasa ragu, namun rasa penasaran yang tinggi membuatnya dengan cepat membuka pintu itu. Elizabeth tidak mendapati Tania di dalam ruangan itu, tapi ada gadis muda yang duduk di ranjang memeluk sebuah boneka. "Anda siapa?" Gadis itu nampak kaget dengan kedatangan Elizabeth. Menyadari respon takut dari gadis itu, Elizabeth pun tersenyum manis. "Hai," sapa Elizabeth mendekatinya. Gadis itu menatap Elizabeth dari ujung kaki hing

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-13

Bab terbaru

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 510. (PAULINE STORY) Hubungan yang Dulunya Retak, Kini Terjalin Kembali

    Pauline terus merenung setelah ia mendapatkan nasihat dari sang Papa. Diamnya membuat Xander yang kini bersamanya pun tampak tak biasa. Laki-laki itu memperhatikannya dan ikut merasakan ada yang lain dengan Pauline. "Kenapa diam saja?" tanya Xander menatapnya dan menarik lengan Pauline sambil memangku Alicia. Pauline menoleh cepat dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Emm ... hanya berpikir cuacanya semakin dingin." "Ya, tapi Alicia tidak mau pulang," jawab Xander menahan Alicia yang ada di pangkuannya dan tampak masih ingin bermain lagi di taman. Anak kecil perempuan itu mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Ma, Alicia masih mau main sama Papa, nanti kalau Papa pulang, biar Alicia tidak menangis lagi," ujar anak itu. Pauline tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang. Main sepuasnya di taman, ditemani Papa. Mama akan di sini memperhatikan kalian." Jawaban yang Pauline berikan membuat Xander terdiam dan menatapnya dengan dalam. Rasanya seperti tidak biasa melihat ekspres

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 509. (PAULINE STORY) Pauline, Bukalah Pintu Hatimu untuk Xander

    Suara gema tangisan Alicia menggelegar di dalam rumah Evan. Alicia marah saat ia bangun tidur, Xander tidak ada di sana, hingga membuat anak itu menangis mencari sosok yang ia panggil 'Papa' tersebut. Tangisannya membuat semua orang heboh pagi ini. Sampai Evan dan Elizabeth ikut berusaha menenangkannya cucu kesayangannya. "Sayang, sudah jangan menangis ... nanti Papa Xander akan ke sini, kok," bujuk Elizabeth menggendong Cucunya. "Huwaa ... maunya sekarang, Oma! Alicia maunya sekarang! Huwaa ... Papamu di mana?!" jerit Alicia menangis. Sedangkan Pauline kini berada di lantai dua, gadis itu tengah mencoba menghubungi Xander. Namun hingga berkali-kali panggilannya tidak dijawab oleh Xander meskipun terhubung. Pauline sampai mondar-mandir dengan kepala pening. Sejak petang dia menggendong Alicia yang rewel mencari Xander. "Mama!" pekik Alicia dari lantai satu. "Huwaa ... Mama!" Gegas Pauline turun ke lantai satu dan segera mendekati putrinya yang kini berjalan ke arahnya sambil me

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 508. (PAULINE STORY) Sebuah Restu

    Pauline dan Xander sampai di wahana akuarium raksasa. Di sana, Alicia terlihat sangat senang. Bahkan anak itu tidak mau turun dari gendongan Xander sejak mereka sampai. Tak hanya diam, Pauline pun sesekali mengambil momen dengan membuat video tentang Alicia yang digendong oleh Xander. "Wahh ... Papa! Itu ikannya besar!" pekik anak perempuan itu menunjuk seekor ikan di dalam akuarium raksasa. "Itu ikan apa, Papa?" "Itu ikan paus, Sayang," jawab Xander. "Ikan paus juga punya Mama dan Papa, juga?" tanyanya dengan polos. "Tentu saja punya," jawab Xander terkekeh. Pauline berdiri di samping Xander dan wanita itu menunjukkan gerombolan ikan-ikan cantik di sana. "Itu bagus ya," ujarnya. "Hm." Xander mengangguk. "Apa kau tidak pernah jalan-jalan saat Prancis?" "Tidak pernah. Alicia sangat nakal. Aku pernah mengajaknya ke taman bermain saat itu, hanya berdua, tapi aku awalnya ingin membiarkannya mendapatkan teman, tapi baru beberapa menit, belum ada satu jam sudah jat

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 507. (PAULINE STORY) Sosok Laki-laki yang Setia

    Pauline menuruti keinginan Alicia yang meminta jalan-jalan bersama Xander pagi ini. Meskipun situasi tampak canggung yang terjadi antara Xander dan Pauline saat ini, namun justru Pauline lah yang banyak diam, karena Xander sibuk berbincang dengan Alicia. "Papa, jadi lihat ikan lumba-lumba kan, Papa?" Anak perempuan kecil itu duduk di pangkuan sang Mama dan menoleh pada Xander yang tengah mengemudi. "Jadi dong, Sayang. Papa kan sudah janji dengan Alicia," jawab Xander terkekeh. "Asikk...! Nanti pulangnya kita beli es krim ya, Pa..." "Iya, Sayang." Xander tersenyum manis menatap wajah Alicia yang terlihat begitu berbinar berbunga-bunga. Anak perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada sang Mama. Pauline menoleh pada Xander yang kini tampak begitu bahagia. Ia tidak tahu banyak tentang laki-laki ini selama lima tahun terakhir. Hanya saja, setahu Pauline kalau Xander memang belum menikah atau memiliki pasangan. "Kau tidak sibuk kan, hari ini?" tanya Pauline memecah keheningan. "Sa

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 506. (PAULINE STORY) Sosok Papa yang Diinginkan Alicia

    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alicia tampak sudah bangun dan anak itu terlihat jauh sangat bersemangat. Pauline tidak tahu apa yang membuat anaknya begitu antusias, di sisi lain ia hanya pandai menebak kalau kemungkinan besar Xander lah yang membuat Alicia begitu senang."Mama ... ayo cepat, Alicia mau mandi!" pekik anak itu memanggil Pauline yang masih sibuk di dapur. "Mama...!" "Iya, Sayang sebentar!" Elizabeth terdengar menyahuti teriakan cucu kesayangannya. Sampai tak lama kemudian barulah Pauline muncul dan wanita muda itu naik ke lantai dua menemui si kecil yang langsung memasang wajah protes karena Mamanya terlalu lama. "Kenapa, Sayang? Tumben jam segini sudah bangun, hm?" Pauline langsung mengangkat tubuh Alicia dan mengecupi pipinya."Mama, Alicia mau mandi, terus ganti baju yang bagus warna merah muda!" serunya, antusias. "Alicia juga mau pakai sepatu yang merah muda, pakai jepit yang lucu, Mama..." Pauline terkekeh mendengarnya. "Memangnya Alicia mau ke mana, Saya

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 505. (PAULINE STORY) Alicia Ingin Punya Seorang Papa

    Sementara di dalam kamar, Pauline panik saat ia terbangun dari tidurnya, wanita muda itu tidak menemukan putrinya. Padahal sudah jelas-jelas tadi saat ia tertidur, Alicia ada di sampingnya. "Ya ampun, ke mana Alicia malam-malam begini!" pekik Pauline kebingungan. Wanita muda bertubuh langsing itu berjalan membuka pintu kamar mandi, dan anaknya tidak ada. Pauline menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Buru-buru Pauline keluar dan ia berjalan ke lantai satu. Di sana sepi, hanya ada suara beberapa orang di ruang tamu. Sampai Pauline berjalan ke depan dan kemunculannya disambut oleh Papa dan Kakaknya, juga rekan-rekannya. "Pa ... Papa melihat Alicia?" tanya Pauline panik.Evan menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Laki-laki itu tampak tidak ragu dengan Xander, apalagi saat Evan tahu, selama Pauline pergi, Xander masih setia sendiri dan dia bilang kalau suatu saat dia kukuh ingin menemukan Pauline. Evan benar-benar melihat kesungguhan itu, hingga ia tidak membuat jarak antara

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 504. (PAULINE STORY) Sosok Papa untuk Alicia

    Hari sudah malam, Pauline tertidur nyenyak memeluk Alicia. Tetapi anak kecil itu belum juga terlelap. Alicia memeluk botol susunya dan diam menatap ke arah langit-langit kamarnya sambil mengoceh sendiri. "Mama capek, Alicia nakal terus, jadi Mama bobo cepat-cepat..." Anak itu mengerucutkan bibirnya. "Alicia mau punya Papa yang baik, biar seperti Kakak kembar. Emmm, Papanya Alicia pergi jauh dibawa Tuhan," ocehnya dengan mata lebarnya yang mengerjap. Anak bertubuh mungil dengan balutan piyama hangat berwarna ungu muda itupun perlahan-lahan merangkak turun dari atas ranjang. Alicia berjalan membawa botol susunya dan keluar dari dalam kamar, setelah ia tahu pintu kamar tidak ditutup rapat. Dengan langkah kecilnya, anak itu berjalan menuruni anak tangga. "Aduh ... aduh ... anak tangganya sangat banyak. Alicia harus hati-hati. Satu, dua, satu, dua!" seru anak itu dengan suara mungilnya. Tampak di ruang tamu, beberapa orang laki-laki yang tengah berada di sana, sibuk membahas pekerja

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 503. (PAULINE STORY) Siapa Papanya Alicia?

    Napas Pauline tercekat saat ia melihat sosok Xander berdiri di depannya dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Pauline. Belum lagi Alicia yang kini memeluk kaku Xander dan anak itu berisik terus meminta gendong. "Om, itu Mamaku, ayo ... Alicia mau gendong. Katanya kalau bertemu Alicia mau digendong lagi! Ayoo, gendong!" pekik Alicia berjinjit-jinjit mengulurkan tangannya pada Xander.Lamunan Xander buyar karena anak itu, ia menunduk dan tersenyum pada Alicia. "Iya, Sayang..." Xander langsung menggendong Alicia dan mengangkat tubuh mungil itu dalam pelukannya sebelum ia berjalan mendekati Pauline yang masih diam membeku di tempatnya. Alicia tersenyum lebar memeluk leher Xander dan menyandarkan kepalanya di sana. "Om, Alicia kok tahu kalau Alicia di sini?" tanya anak itu. "Tentu saja Om tahu, Sayang," jawab Xander. Pauline mengerjapkan kedua matanya dan napasnya terengah tiba-tiba. Ia tercengang melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Sejak kapan Alicia dekat dengan Xand

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 502. (PAULINE STORY) Pertemuan Tak Terduga

    Sepulang dari jalan-jalan bersama Exel beberapa menit yang lalu, tampak Alicia begitu gembira. Anak itu mengoceh ini dan itu sambil menunjukkan mainannya pada sang Mama. Ditemani Elizabeth dan juga Evan yang bersama mereka sekarang. "Wahh ... banyak sekali mainannya, Sayang?" tanya Elizabeth mengecupi pipi cucunya. "Papa Exel sama Mama Tante yang belikan buat Alicia, Oma. Terus ini boneka panda dari Kakak Vano," ujar anak itu menata semua bonekanya di atas sofa ruang keluarga. "Persis sekali dengan Pauline saat masih kecil," sahut Evan. Elizabeth menoleh. "Oh ya, Pa?" "Iya, Sayang." Pauline terkekeh geli, sampai akhirnya Alicia menarik lengan sang Mama. "Mama ayo tidur, Alicia mau tidur sama Mama," seru anak itu. "Ayo, Maa...!" Evan menatap putrinya. "Sudah, sudah, cepat anak Alicia tidur, Nak," ujarnya. "Iya, Pa." Pauline memasukkan semua boneka-boneka milik Pauline ke dalam paper bag ukuran besar dan membawanya naik ke lantai dua. Alicia tampak sangat ceria dan banyak be

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status