Home / Young Adult / Suamiku Berandalan Sekolah / Bab 122. Kantor Polisi

Share

Bab 122. Kantor Polisi

last update Last Updated: 2025-01-02 18:34:29

Kini kami berada di danau Menawan Hati, aku melirik Adelio tersenyum memandangi danau tersebut.

Sebenernya aku sedikit takut karena suasana begitu dingin rada gelap, untungnya aku hiraukan suara-suara aneh.

"Ranesya," panggil Adelio begitu lembut.

Aduh Adelio ini membuatku takut, please jangan deh lain kali ke sini. Aku ingin berkata tapi malu, pasti dia menertawaiku.

"Kenapa Adelio?" balasku memperhatikan Adelio mendekat.

Namun, suara hp menganggu kami. Aku melirik Adelio sedikit menjauh menerima panggilan.

"Oh, begitu. Jadi aku harus kesana?" jawab Adelio menoleh kebelakang.

Aku melipatkan tangan, menatap bulan begitu terang. Adelio selesai menelpon lalu menghampiriku, mengelus puncak kepala.

"Ayo, kita harus pergi ke suatu tempat," ajak Adelio menarik tanganku tanpa mendengar balasanku.

"Mau kemana?" tanyaku, menatap punggung di depan.

Adelio hanya menoleh dan tersenyum, kami langsung meluncur menggunakan motor Adelio.

Perjalanan juga, tidak ada obrolan sama sekali. Hin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 123. Sebar Video

    Aku tersenyum di mana kami berada di meja makan, kenapa aku bahagia? Karena sedang menulis berita tentang Zara. Zara tidak akan lolos kali ini. Dengan akun anonim, aku sengaja menandai sekolahku di Instagram. "Kenapa keliatan bahagia?" Adelio memberikan roti panggang isi cokelat. Aku menerima dengan senyum mengembang. "Makasih, ya karena mau bongkar kebusukan Zara."Pasti Zara akan dikeluarkan dari sekolah, Adelio hanya mengangguk mengusap kepalaku. "Emang gapapa? Pasti Zara kena masalah," balas Adelio dengan raut muka yang tidak bisa aku jelaskan. Jadi Adelio khawatir kepada Zara? Kenapa berkata begitu, aku menyipitkan mata ke Adelio. "Masih sayang sama Zara?" kataku memberhentikan sesi makan. Adelio mendongak seolah tidak paham maksudku. "Hah? Nggaklah, mana ada gue masih sayang sama Zara," sela Adelio menolak perkataanku. "Masa sih, terus kenapa keliatan khawatir tadi?" Aku dengan dada naik turun, meremas roti itu dengan emosi. Menyadari perubahan suasana di meja makan, A

    Last Updated : 2025-01-03
  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 124. Kasus Baru

    Aku pulang sekolah sendiri, karena masih marah dengan Adelio. Namun, saat aku berada di depan pintu. Dengan wajah sok imut, Adelio menghadangku. Aduh, padahal aku lagi malas bertengkar. "Maafin gue ya? Beneran deh, nggak lagi kayak gitu," kata Adelio menyatukan kedua tangannya. Aku tidak menyahut dengan tatapan datar, walau hati ini masih kesal. Aku tidak mungkin marah terus. Kedua tanganku merentang untuk Adelio. "Sini, nggak mau peluk?" tanyaku tersenyum. "Lo maafin gue?" tanya Adelio penuh kebahagiaan. Aku mengangguk, kami berpelukan di depan pintu. Sungguh romantis, karena hal kecil saja aku emang marah. Mengingat jika terlalu lama, takutnya hubungan kami akan rusak. "Lo tuh paling berharga gue punya," ucap Adelio mengelus kepalaku. Kamipun masuk berdua, Adelio menungguku di depan pintu kamar. Astaga, aku tidak akan hilang kok. Dia begitu khawatir kepadaku, apa takut aku akan marah lagi?"Lah, ngapain di sini?" Aku bertanya, di mana sudah mengganti baju. "Nungguin lo,"

    Last Updated : 2025-01-04
  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 125. Ruang Bk

    "Kenapa sih? Gue aja yang boncengin lo."Aku memarahi Adelio yang tidak membolehkanku untuk memboncenginya, kenapa emangnya?Kan, diri ini hanya ingin mencoba. Apalagi sekolah juga dekat, tidak akan lecet kok!"Nggak usah ya? Gue aja biar entar lo anteng di belakang," seru Adelio meninggikan kunci motor. Dengan mata menyipit aku menghela napas, membelakangi Adelio. Aku sedang ngambek ceritanya. "Eh, jangan gitu dong. Ya deh, nih kuncinya," kata Adelio langsung menyodorkan di depan mataku. Aku menarik kunci itu, dan memakai helm tanpa memperhatikan Adelio menganga. "Ayok, cepatan naik!" suruhku sudah berada di atas motor. Tidak ada sahutan dari Adelio yang sedang melamun, aku berteriak sehingga Adelio terkejut. "Adelio! Lo mau kita telat?" Aku menatap tajam Adelio menggaruk tengkuknya. Seketika Adelio cepat-cepat memakai helm tersebut, dan naik menjadi penumpang. "Pelan-pelan aja ent— "Sebelum ucapannya dilanjutkan, aku langsung mengenggas, sehingga Adelio memeluk diriku. "Ra

    Last Updated : 2025-01-05
  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 126. Dasar Sinting

    Jam pelajaran terakhir, di mana perutku melilit ingin ke kamar mandi. Aku sudah meminta izin terlebih dahulu dengan Pak Hendra. Hanya saat aku berjalan melalui lorong, aku begitu terkejut berpapasan dengan Zara dan Om tua. "Sejak kapan? Mana gandengan," gumamku berhenti menatap pemandangan tidak enak itu. Aku kepo, bagaimana jika aku mengikutinya? Tapi perutku sangat melilit, duh dahlah ikuti saja. Setiap kali Zara menengok kebelakang, aku akan selalu bersembunyi. Sepertinya Zara sadar, jika diikuti. "Bentar, kok Zara ke ruang kepala sekolah?" Tidak ingin melewatkan kesempatan, aku tetap mengikuti hingga pintu itu tertutup. "Mereka omongin apa di dalam ya?" kataku sambil mondar-mandir. Apa yang akan dibicarakan sehingga Om tua itu datang kesini? Pasti ada hal penting, sehingga Om tua melakukan hal ini. Ohh, mungkin masalah video viral itu. Namun, kenapa juga Om tua datang? Apa tidak malu?!"Eh, gue harus sembunyi!" seruku langsung ngumpet dibalik dinding lorong, terdengar sua

    Last Updated : 2025-01-06
  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 127. Menggombali

    Aku berjalan perlahan di ruangan tengah, karena ini lampunya masih gelap. Mungkin Adelio belum pulang dari nongkrong?Sungguh, aku lupa memberikan kabar kepada Adelio. Semoga dia tidak marah, hehe. "Bagus ya, pulang malam. Ini udah jam 7 loh," kata Adelio berkacak pinggang sambil menyalakan lampu. Aku cengengesan mendekati Adelio, dengan wajah sok polos seperti anak kucing. "Anu, gue tadi ditarik paksa ke taman sama Gita dengan Vivian. Cuma gue lupa ngasih kabar lo," jelasku menunduk dalam. Bagaimanapun ini juga salahku, dan tadi aku barusan, melihat wajah Adelio begitu mengerikan. Apa dia marah kepadaku? Jangan sampai ya, aku takut nanti kita berantem seperti sebelumnya. "Jangan diulangi lagi ya?" Adelio mengelus kepalaku sambil merangkul. Aku mendongak terlihat senyum lembut Adelio, kirain bakal marah ternyata tidak. Tidak ingin membantah, aku mengangguk patuh. Sekarang pun, aku ditarik ke meja makan. "Makan dulu, nanti baru beres-beres," ucap Adelio mengambilkan lauk pauk

    Last Updated : 2025-01-07
  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 128. Diserang

    "Gue pergi duluan," pamitku ke Adelio menyalami tangannya. Terpana dengan caraku, ini sudah kedua kali. Adelio senyam-senyum seperti orang gila. Aku hanya menggeleng menghiraukan Adelio masih melamun, aku menuju mobil tersayang. "Pagi Jack!" seruku mengelus mobil pemberian Ayah. Sempat Adelio merasa heran, karena memberikan nama mobil itu Jack. Padahal kemarin aku tidak menamakan yang diberikan keluarganya. Menurutku, karena mobil itu berdua sementara ini pemberian dari Papa. Jadi merasa beda saja, aku tidak mau terlalu serakah toh. "Semoga nggak ada masalah hari ini?" kataku menghela napas menjalankan mobil. Suasana kali ini menenangkan sesuai cuaca sekarang yang cerah, aku berharap tidak ada gangguan. Hingga sampai ke sekolah, aku malah tidak sengaja bertemu Trisya. Aduh, kemarin saja Tasya sekarang nih Nenek lampir. "Wahh, nih yang sering digosipin main sama Adelio ya? Lo kok murah banget sih?" sindir Trisya berada di depanku. Kami sekarang masih di parkiran, hanya bedany

    Last Updated : 2025-01-08
  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 129. Dih, Najis

    "Ghifari," gumamku menatap tidak percaya. Kali ini Ghifari dengan berani berlari kearahku, dia langsung diserang 3 orang sekaligus. Dan aku tidak bisa lepas karena ditahan, Ghazi dengan senyum miring mendekat memegang daguku. "Gue ngilang bukan berarti nggak akan ngelakuin sesuatu, lo tuh emang kelemahan Adelio," papar Ghazi tertawa mengejek. Tidak menjawab, aku hanya mendengus berfokus ke Ghifari sudah terduduk. Argh, dia pasti kalah kalo seperti ini. Aku mengingat jika Ghifari tidak bisa berkelahi, bagaimana Ghifari mau melawan kalo begitu yang ada dia bisa mati. "Haha, liat teman lo cemen banget." Ghazi mengarah daguku begitu kasar ke Ghifari sedang terluka. Bahkan, anak buah Ghazi masih saja menendang brutal Ghifari itu. "Lepasin Ghifari!" teriakku yang tidak begitu jelas. Ghazi langsung melepaskan tangannya dari daguku, tidak merasa bersalah. Ghazi ikut mendekati Ghifari. Gilanya, Ghazi melakukan tidak pernah aku bayangkan. Di mana Ghazi memukul Ghifari hingga pingsan.

    Last Updated : 2025-01-09
  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 130. Piknik Keluarga

    Pulang sekolah, bukannya balik ke rumah kami. Adelio mengajakku ke rumah keluarganya. Ternyata di sana sudah ada keluargaku juga, dan tidak aku ketahui. Sore ini akan piknik ke taman. "Lo masih pakai baju sekolah?" tanya Jean melirikku dari bawah ke atas. Di ruang tamu hanya kami berdua, karena yang lain asik mempersiapkan apa yang akan dibawa.Adelio juga katanya ingin memilihkan baju yang bagus untukku, jadi aku mengangguk saja. "Kenapa emangnya, nggak suka?" balasku memajukan diri sok songong. "Dih, gue nanya doang," sahut Jean mendorong kepalaku. Tidak sadar, jika Adelio datang menenteng baju untukku. Mana bajunya sengaja banget dilebarkan. "Adelio?! Bajunya kenapa kayak gitu?" pekikku mendekat menggulung biar Jean tidak melihatnya. Gila bajunya terlalu seksi. Mana mungkin aku memakainya untuk piknik, apa dia tidak berpikir dahulu?"Lah kenapa?" tanya Adelio bingung menatapku polos. Aku menabok tangannya, kali ini Adelio meringis sedikit menjauh. "Pake nanya lagi, ini tu

    Last Updated : 2025-01-10

Latest chapter

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 172. Akhir yang Bahagia

    Akhirnya tidak ada gangguan ketiga manusia itu, malam ini kami rencananya ingin makan bakso di tempat langganan. Di mana waktu itu ada banci, semoga sekarang nggak ada. Takutnya Adelio risih dengannya. "Baksonya satu Mang!" seru Adelio dengan mengangkat tangannya berbentuk V. Mamang bakso itu hanya mengangguk, aku sangat senang berada di sini. Walaupun capek siang tadi, kan malamnya bisa berduaan kembali. Dalam suasana malam yang dingin dengan bintang bertaburan. "Baksonya enak?" tanya Adelio mendongak menatapku. Aku mengangguk dengan senyum manis. "Enak banget! Juaranya bakso ini mah.""Iya atuh Neng! Palinh enak bakso saya pastinya," sahut Mamang bakso itu dengan senang. Aku dan Adelio hanya terkekeh kecil, tapi memang seenak itu. Apalagi aku jarang ke sini, jadinya sangat rindu ya. "Kalo gitu gratisin kita dong, kan udah dipuji," goda Adelio ke Mamang bakso. Seketika gelengan Mamang bakso terlihat, aku hanya terkekeh. Orang jualan kok minta gratisan dasar Adelio. "Nggak u

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 171. Telinga Memerah

    Perjalanan kali ini tidak ada halangan sama sekali dari tiga orang gila itu, bahkan ini di bandara dijemput oleh keluarga kami. Aku merasa senang, mereka semua berada sini termasuk Jean. Walau hanya beberapa hari, setidaknya lebih baik cepat pulang daripada semua akan terbongkar seiring waktu. "Kalian ini!" kesal Jean menabok Adelio. Sementara hidungku ditariknya, ihh kenapa dia ini. Sok jadi Kakak pula yang jahil idih. "Sakit dodol," balas Adelio menatap sinis Jean hanya terkekeh. "Elah men gitu doang mah nggak sakit," kata Jean cengengesan. Pada akhirnya, Adelio membalasnya lebih kuat. Di mana kami menertawakan Jean terkena getahnya. "Gue pelan loh, lo balasnya kayak mau bunuh gue," kesal Jean menjauhi Adelio memilih mendekati Mama Cahaya. "Makanya, lo jadi Abang tuh waras dikit. Gue baru pulang nyari perkara lo," sahutku menatapnya sinis. Tidak merasa bersalah, Jean hanya tersenyum lebar. Dih apaan banget nih orang, untung gue sabar ya. Sementara Bunda Delyna memberi kode

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 170. Pulang

    Malamnya aku merenung, apa besok pulang saja? Daripada mereka bertiga mengira melakukan hal lebih dari ini. Bagaimanapun, Zara dan Gracia mengetahui. Jika kami memesan satu ruang, walau satu kamar aku pasti sedikit menjauh tidurnya dari Adelio. "Setuju nggak, kalo kita pulang aja besok?" tanyaku ke Adelio yang sedang makan dengan tenang. Yap, setelah seharian mengobrol dan tidur. Kami tidak kemana-mana lagi, karena mengetahui ketiga manusia itu akan merusuh. Adelio mendongak dan tatapan kami bertemu. "Gue ngikut aja," balas Adelio tersenyum. Aku menghela napas panjang mengingat beberapa hari ini bukannya bahagia. Tapi banyak hal yang tidak diduga aku rasakan, belum lagi Ghifari bisa-bisanya menghampiriku ke Bali. "Yaudah, gue mau besok pulang. Nggak betah di sini," balasku kembali memakan udang goreng tepung. Enak banget asli, kayak masakan Mamaku hehe. Jadi rindu mereka apalagi Jean huhu. Setelah selesai makan, kami ke ruang santai untuk menonton televisi. Sebenarnya sangat

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 169. Berdua denganmu

    Pada akhirnya kami berada di pantai, menikmati hari berdua. Namun, itu tidak berjalan semestinya. Karena gangguan dari ketiga gila itu masih berlanjut, inipun aku ditarik Ghifari untuk pergi berdua."Gue bakal ngajak lo ke tempat yang indah di sini," paksa Ghifari dengan wajah memelas. Aku melirik Adelio yang kini dipegang dua orang sekaligus, siapa lagi kalo Zara dan Gracia. Mereka ini, astaga! Aku dan Adelio ingin berlibur saja susah, pasti ada masalah datang. "Lepasin nggak! Gue nggak mau Ghifari," kataku mengamuk di depan banyak orang melintas. "Ini lagi kalian berdua, apa nggak sadar? Gue tuh mau berdua sama Ranesya," ucap Adelio terdengar dingin. Aku menatap Adelio menarik paksa tangannya sampai jeratan dari dua manusia itu terlepas. Adelio mendekatiku berusaha melepaskan aku dari Ghifari yang tidak mau mengalah. "Seharusnya lo jangan deketin Ranesya, dia bakal jadi milik gue." Ghifari berkata percaya diri. Aku tertawa karena menyadari, jika Ghifari terlalu berlebihan.

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 168. Couple Pink Strawberry

    Aku menguak sangat lebar merasakan kehangatan luar biasa, saat aku membuka mata terdapat Adelio terlelap. Aku tersenyum lembut mengelus pipinya, mataku melotot karena menyadari kami tidur bersama. "Eh? Kok bisa sih," gumamku memperhatikan sekitar. Menyadari jika kami berada di kamarku, kejadian malam tadi hanya dikejar Adelio dan saling bercanda. Oh ya! Tidak sengaja tertidur berdua. Huh, syukurlah kukira kami melakukan hal berlebihan. "Duh, jangan bangun ya," kataku melepaskan diri dari Adelio perlahan. Aku berdiri menatap wajah Adelio yang begitu menawan, apa tidak salah Tuhan memberikan Adelio kepadaku?Bahkan, banyak dari cewek-cewek mengejarnya. Walaupun tingkah nakalnya membuat guru kesal, tapi dia adalah suami terbaik untukku. "Masak apa ya?" gumamku menuju dapur. Apa aku masak nasi goreng saja ya? Pasti enak banget, tapikan nggak ada peralatannya. Huh! Yasudahlah, aku memilih menonton tv di mana suara teleponku begitu nyaring di kamar. "Ganggu banget, ini jam 7 loh,"

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 167. Salah Bicara

    Khusus hari ini, aku tidak ingin keluar karena takut bermasalah lagi dengan kedua makhluk gila itu. Membayangkan saja kejadian kemarin membuatku naik darah, huh! Apa aku buang saja ke lubang buaya sehingga tidak ingin merebut Adelio. "Lo kenapa sih remas remote itu kuat banget?" tanya Adelio menatapku bingung. Aku menggigit bibir bawah, saat melihatnya. Ya gimana lagi, aku masih sangat kesal tau!"Gapapa kok," jawabku seadanya dengan senyuman kecil. Kami berada di ruang santai menonton sebuah film romantis, adegannya begitu manis membuatku melayang. Tapi sesaat membayangkan tadi, moodku hancur seketika. Untungnya Adelio menyuapiku seperti sekarang. "Suka nggak?" tanya Adelio memberikanmu sebuah susu kotak. Aww, pagi-pagi sekali Adelio membawakan beberapa makanan entah dari mana. Aku yang baru bangun melihat Adelio tersenyum saat aku membuka mata, romantis bukan? "Ngelamun lagi?" kata Adelio membuatku tersadar. Aku hanya tersenyum kecil, memakan beberapa cemilan di atas meja.

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 166. Kacau

    Malam harinya, aku dan Adelio ingin pergi kencan berdua. Namun, hal tidak diduga terjadi. Di mana Zara dan Gracia, berada di tempat yang sama dengan kami. Jujur aku kadang bingung, mereka ada di mana-mana. "Kenapa Ranesya?" tanya Adelio melihatku. Aku mendengus menatap lulus, di mana Adelio mengikuti mataku. "Loh, kenapa mereka ada di sini ya?" balas Adelio begitu bingung. Pake nanya lagi, ya aku juga nggak tau loh. Mereka seolah tau, kami akan pergi kemana sampai ke restoran ini sekalipun. Berusaha mengabaikan keduanya, aku menarik Adelio ke dalam. Duduk di meja yang cukup jauh dari Zara dan Gracia. "Bentar, kita pesan dulu," kata Adelio mengangkat tangan seketika pelayan datang menghampiri kami. Sebuah buku menu, aku memilih beberapa dan sebaliknya dilakukan hal sama dengan Adelio. Pelayan itu pergi, hanya kami berdua di sini yang lain sibuk dengan urusan mereka. "Gimana rasanya liburan sekarang? Seru nggak?" tanya Adelio menatapku begitu dalam. Aku mendongak memperhatika

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 165. Curiga

    Berusaha melupakan Zara dan Gracia, kami lebih memilih kepantai kembali berjemur di sana. Siapa sangka, orang yang tidak aku harapkan mendekati kami mana bajunya kurang bahan. "Adelio, lo makin ganteng aja," kata Gracia melirik tubuh Adelio tanpa baju. Dih, aku menaikkan satu alis merasa aneh dengan pemandangan di mana wajah Gracia memerah. Jijik sekali, apalagi tidak lepas matanya ke Adelio. Heh! Jangan gitu please, aku sangat cemburu sialan. "Gue emang ganteng, sekarang lo berdua pergi sana," usir Adelio menurunkan kacamata lalu menaikkan kembali. "Lo berdua mau jadi lonte atau apa? Bahannya terlalu kurang, mau godain siapa?" hina Adelio tanpa menoleh ke arah mereka berdua. Aku menahan tawa, siapa mengira. Jika Adelio akan berkata begitu tanpa peduli perasaan Zara maupun Gracia. "Buat godain lo," sahut Zara mendekati Adelio. Jujur menjijikan sekali, mereka tanpa malu tersenyum amat manis dan menggoda. Iuhh, untung aku berusaha kalem ya. "Najis tau nggak!" umpat Adelio mene

  • Suamiku Berandalan Sekolah    Bab 164. Keberadaan Zara dan Gracia

    Di pagi hari, berbeda dari biasanya. Saat aku terbangun, Adelio sudah berada di depanku. Siapa sangka, aku melotot tidak percaya. Bahkan, Adelio mengelus puncak kepalaku. "Lo udah bangun?" tanya Adelio mengecup keningku penuh perhatian. Aku yang masih tidak menyangka hanya bisa berkedip-kedip, yaa aku kan masih terkejut. Dengan tubuhku mundur membuat Adelio terlihat bingung. "Kenapa?" Aku menggeleng cepat, berusaha berdiri dan melirik sekitaran. Asli, aku sangat malu. "Nggak kok," jawabku sedikit gugup. "Seriusan? Kenapa wajah lo langsung tegang gitu," sahut Adelio terkekeh pelan. Yah, siapa coba tidak kaget dengan tingkahnya. Kan aku sangat terkejut, dahal dia sangat jarang begini kepadaku. Paling sesuatu hal penting, atau pergi suatu tempat dia akan menghampiriku terlebih dahulu. "Eh, nggak kok cuma tadi," balasku bingung mengigit bibir bawah. Aku mendorong tubuh Adelio. "Sana gih, lo pesen aja makanan gue laper soalnya," kataku mengalihkan pembicaraan. "Lo laper? Bentar

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status