Share

Pelajaran KesukaanKu!

Author: Blue Ice
last update Last Updated: 2024-11-17 00:18:07

Aku berjalan menuju gerbang sekolah dengan langkah cepat, berharap bisa segera masuk tanpa gangguan. Namun, takdir sepertinya masih suka bermain-main denganku.

Sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari gerbang, dan aku langsung mengenali pengemudinya yang baru keluar dari sana, Keyla.

Gadis itu turun dengan anggun dari dalam mobil, lalu tatapannya langsung menangkap sosokku yang berjalan kaki. Senyum penuh ejekan segera terukir di wajahnya.

“Eh? Kok jalan kaki?” serunya dengan nada mengejek. Langkahnya ringan saat mendekatiku, sementara aku berusaha menahan napas agar tidak langsung kehilangan kesabaran.

Aku hanya diam, berharap dia cepat bosan dan pergi. Namun, tentu saja Keyla tidak akan melewatkan kesempatan untuk menyindirku.

“Ke mana sopir keluarga Bimantara? Kok nggak ada yang nganterin kamu? Jangan bilang mereka udah nggak peduli sama kamu, ya?” Keyla tertawa.

Aku menghembuskan napas pelan. Wajah Keyla nampak sekali tengah mengejekku. Aku menatapnya datar.

“Tante Sandra sedang ada acara penting. Makanya mobil dipakai dulu,” ujar ku.

“Wait! Ngapain kamu panggil Mertuamu sendiri dengan sebutan Tante. Panggil Mama, dong!” Keyla semakin tertawa setelah mengejekku begitu. Aku hanya diam menahan diri agar tidak membalas ejekkannya.

Kami sedang di pinggir jalan dekat sekolah. Keyla benar-benar tak menahan perkataannya. Aku memilih untuk lanjut berjalan.

Namun Keyla menahanku, “Kamu marah ya? Hallah, gitu aja marah, Ra! Lagipula, aku cuma mengatakan yang sebenarnya,” kata Keyla. Aku hanya membalas dengan berguman datar.

“Eh, ngomong-ngomong, Kamu ke sini naik apa? Nggak mungkin dong ya kalo jalan kaki,” tanya Keyla lagi.

“Aku naik taksi,” jawabku dengan sedikit berbohong. Aku masih ingat dengan jelas peringatan Abizar agar Keyla tidak tahu mengenai hubungan kami.

Keyla mengerutkan dahi sejenak, seakan mencoba mencari kebohongan dalam ucapanku. Namun, detik berikutnya dia hanya terkekeh kecil.

“Taksi?” dia mengulang kata itu dengan nada geli. “Kasihan banget, sih. Istri seorang Bimantara, tapi ke sekolah aja harus naik taksi.”

Aku masih berusaha menahan diri. Tidak ada gunanya terpancing oleh omongannya.

Melihatku tak bereaksi lebih lanjut, Keyla tersenyum puas. “Yah, semoga besok kamu masih bisa naik taksi. Jangan sampai harus jalan kaki lebih jauh, ya.” Dengan itu, dia melenggang pergi, meninggalkanku dengan tawa kecil yang terdengar sangat menyebalkan.

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku tidak akan membiarkan mood-ku rusak karena dia. Hari ini masih panjang, dan pelajaran Penjaskes sudah menanti.

Aku harus tetap fokus!

Tanpa membuang waktu lagi, aku mempercepat langkah memasuki gerbang sekolah. Tidak lama setelah bel berbunyi, kami segera ke ruang ganti untuk mengganti seragam.

 Aku sangat tidak sabar di pelajaran ini lantaran setelah berkeliling sekolah, aku melihat banyak fasilitas olahraga yang sangat bagus di sekolah ini. Aku tidak sabar untuk bermain di sana.

Hari ini, mata Pelajaran kami di Bola Basket. Matahari bersinar terik di atas lapangan basket sekolah. Pelajaran Penjaskes kali ini terasa lebih istimewa karena kelas kami digabung dengan IPS 1, yang mempunyai jadwal sama.

Kami mulai dengan pemanasan ringan. Lalu lari 3 kali keliling lapangan. Setelah itu, kami diperbolehkan untuk duduk di pinggir lapangan untuk instruktur awal. Pak guru memanggil seorang pemuda dari Kelas IPS 1 untuk maju.

“Hari ini kalian akan dilatih Mahendra dulu. Saya tetap mengawasi dan memberikan penilaian dari praktek kalian,” ujar Guru Penjas.

“Duh, ngapain Pak Guru harus nyuruh Mahendra, sih?” keluh Giselle yang duduk di dekat ku.

“Iya. Males banget sama Crocodile satu itu,” imbuh Ririn yang juga terlihat tidak suka.

Dahi ku berkerut penasaran. “Memangnya dia siapa?” tanyaku pada mereka.

“Dia tuh Kapten Tim Basket Sekolah. Tapi orangnya sombong banget, Ra! Pokoknya liat aja deh, Ra. Sedikit lagi kamu pasti akan tahu kelakuannya,” balas Giselle.

Aku mulai merasa akan ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Teman-teman yang lain juga nampak tidak suka. Mahendra, Kapten Tim Basket yang tadi mereka sebutkan sudah berdiri di tengah lapangan dengan bola di tangannya, senyum meremehkan terpatri di wajahnya.

“Kita akan mulai dengan Dribble! Yok, Dua Cowok dan Dua Cewek maju!” Mahendra mulai mengajarkan teknik-teknik dasar.

Semua siswa bergantian mempraktekannya. Sampai ke beberapa teknik dasar permainan Bola Basket sudah diajarkan. Guru juga sudah mengambil nilai praktek kami. Sekarang saatnya yang ku tunggu yaitu bermain Basket di waktu Penjas yang masih tersisa banyak.

Saat aku dan teman-teman sekelasku sedang asyik mengoper bola, tiba-tiba Mahendra ikut masuk ke permainan dan mengambil dominasi. Dia dengan gesit melewati kami, lalu memasukan bola dengan mudah ke dalam ring.

“Sepertinya kelas kalian nggak punya pemain yang bisa diandalkan, ya?” katanya, suaranya terdengar cukup keras hingga bisa didengar semua orang.

Beberapa teman kelasku menggerutu, tapi tidak ada yang berani membalas. Aku mengerutkan dahi. Padahal dia yang asal nimbrung ke dalam permainan kami barusan.

“Kok langsung nge-judge gitu sih?” tanyaku dengan nada sedikit kesal.

Mahendra menoleh padaku, lalu menatapku dari ujung kepala sampai kaki. “Kalian kelihatan sekali keroconya. Sangat tidak berbakat dalam permainan ini. Mending minggir deh dari lapangan. Ketimbang hanya jadi badut lapangan!” cibir Mahendra disambut tawa oleh teman-teman sekelasnya.

“Heh, Mahen! Kita di sini buat bersenang-senang ya. Emang kami nggak sebagus kamu mainnya, tapi seenggaknya kami berkeringat dengan main suka-suka. Plis deh, nggak usah banyak mulut!” Giselle yang sudah lama menahan emosi akhirnya maju.

Aku dan Ririn berusaha menarik lengan Giselle agar tidak terbawa pancingan Mahendra. Ketua kelas kami juga menengahi agar tidak terjadi pertengkaran.

“Yah, kecuali kalian mau membuktikan kalau ucapanku salah,” kata Mahendra dengan senyum mengejek.

Aku tersenyum miring. “Oke! Aku akan coba!” tantangku percaya diri.

Sorakan kecil terdengar dari teman-teman kelasku. Aku tahu mereka juga tidak suka diremehkan begitu saja. Untuk pelajaran ini, Aku sangat percaya diri karena sering ikut turnamen di desa. Meski begitu, aku juga harus berhati-hati karena Mahendra adalah raja lapangan Basket di sekolah ini.

“Baiklah,” Mahendra terkekeh, masih dengan senyumnya yang percaya diri.

“Sederhana saja. Kalian hanya perlu mencetak satu poin ke ring kami. Kalau bisa, aku akan mengakui kalau kelas kalian nggak seburuk yang aku pikir,” kata Mahendra.

Satu poin? Terdengar mudah, tapi melihat bagaimana Mahendra dan timnya sudah berpengalaman, jelas ini tidak akan sesederhana kedengarannya.

Pertandingan pun dimulai!

Seperti yang kuduga, Mahendra dan teman-temannya bermain dengan agresif. Mereka menguasai bola dengan mudah, mengoper dengan cepat, dan pertahanan mereka hampir mustahil ditembus.

Beberapa kali aku mencoba merebut bola, tapi selalu gagal. Namun, aku tidak akan menyerah begitu saja.

Aku memperhatikan celah dalam pertahanan mereka. Begitu salah satu temanku berhasil mengalihkan perhatian lawan, aku dengan cepat menyelinap dan mencuri bola.

Dengan kecepatan penuh, aku menggiring bola menuju ring lawan. Mahendra berusaha mengejar, tapi aku lebih gesit. Saat tepat di depan ring, aku melompat tinggi. Semua mata tertuju padaku.

Slam dunk!

Bola melesat masuk ke dalam ring dengan sempurna.

Hening sesaat.

Kemudian, lapangan dipenuhi sorakan dan tepuk tangan. Mahendra, yang awalnya terkejut, akhirnya terkekeh kecil.

“Gokil, sih. Nggak nyangka ada pemain sebagus ini di kelas kalian,” ujarnya dengan berjalan ke arahku.

Mahendra mengulurkan tos padaku. Mungkin itu tanda dia mengakui kemampuanku. Dengan senang hati ku balas tosnya. Namun, saat tanganku bersentuhan dengan tangannya, aku tanpa sengaja melihat siluet di ujung lapangan.

Di sana, berdiri seseorang yang mengenakan jas merah khas OSIS dengan tangan terlipat di dada.

Abizar!

Tatapannya gelap dan tajam, membuat bulu kudukku meremang. Kenapa ekspresinya seseram itu?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Jangan Terlalu Dekat!

    Senja mulai merayap di langit ketika aku menunggu dengan bosan di dalam mobil Abizar. Lantaran si pemilik mobil masih ada rapat OSIS. Tadi dia bilang tidak akan lama. Ternyata semua itu hanya kebohongan belaka karena sampai sekarang, sudah jam 5 lewat dia belum juga nampak.Sebenarnya aku ingin naik taksi untuk pulang duluan. Tetapi Abizar melarang dengan mengancam akan mengadu ke Tante Sandra. Terpaksa aku masih menetap untuk menunggu Abizar agar bisa pulang bersama.Aku memasuki mobilnya secara diam-diam setelah dia memberiku kunci mobilnya. Sekarang aku yang menyesal masuk terlalu cepat karena perutku mulai keroncongan. Jika ingin keluar lagi, aku harus memastikan kondisi di luar aman dan tidak ada yang akan melihatku.Lantaran tidak ingin mengambil resiko. Aku memilih berdiam saja di dalam sana. Beberapa aku ingin terlelap, sampai akhirnya ku dengar suara berisik dari luar.“Abizar, tunggu sebentar!” Terdengar suara Keyra mendekati tempatku.Dan, benar saja! Ketika aku mencoba untu

    Last Updated : 2024-11-18
  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Jauhi Abizar!

    Mobil melaju melewati gerbang kediaman Bimantara dan berhenti di depan halaman utama. Begitu mesin mobil dimatikan, aku langsung membuka pintu dan turun tanpa menunggu Abizar.Aku berjalan cepat menuju pintu masuk, tetapi langkahku terhenti ketika suara pintu mobil Abizar dibanting dengan keras. Aku menghela napas panjang. Jelas sekali dia masih kesal.Saat aku hampir mencapai pintu, suara langkah kaki Abizar yang berat terdengar semakin dekat. Dan sebelum aku sempat masuk ke dalam, dia sudah lebih dulu menahanku dengan meraih pergelangan tanganku."Apa?" tanyaku datar, berusaha menahan diri.Abizar tidak langsung menjawab. Sorot matanya tajam, penuh tekanan. Aku tahu dia masih belum puas dengan sikapku di sekolah tadi."Kamu nggak bisa sedikit lebih peka, ya?" suaranya dalam, terdengar seperti sedang menahan diri agar tidak meledak.Aku mendengus. "Aku yang harus lebih peka? Bukannya justru kamu yang bertindak sembrono di sekolah tadi?" Aku menarik tanganku dari genggamannya, menatapn

    Last Updated : 2024-11-19
  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Pemuda Asing

    Aku bersiul pelan saat keluar dari kamarku. Sekarang masih di pukul 06.30 tetapi aku harus segera berangkat karena ada jadwal piket kelas. Akan tetapi, saat aku turun ke lantai bawah, aku melihat sosok asing duduk di samping Abizar. Aku terdiam di anak tangga terakhir. Siapa lagi pemuda ini? Dia terlihat akrab dengan Abizar lantaran beberapa kali mengusak rambut Abizar yang biasanya selalu tertata rapi. Tante Sandra juga terlihat sesekali mengomelinya. Lalu mereka semua menyambutnya dengan tawa. Vibesnya sangat berbeda dengan keluarga Bimantara biasanya. “Ah, kemari sayang!” panggil Tante Sandra saat sadar akan keberadaanku. Aku sedikit gelagapan saat semua mata menatap ke arah ku. Karena sudah dipanggil, aku ikut bergabung dengan mereka di meja makan. Aku duduk di samping Tante Sandra yang mana itu tepat di depan pemuda asing tadi. Ketika melihatnya dari dekat, aku baru sadar ada bekas luka di bagian dahi pemuda asing itu. Luka yang terlihat cukup parah karena hampir seperempat w

    Last Updated : 2024-11-20
  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Dipanggil Ayah

    Sepanjang pelajaran berlangsung, aku tak bisa fokus. Aku kepikiran masalah tadi pagi. Aku masih penasaran dengan tuduhan Abizar padaku. Belum lagi sikap Kak Rangga yang berubah 180 derajat saat tahu namaku.Sebenarnya apa yang terjadi antara Keyla, Abizar dan Kak Rangga? Lalu, mengapa pula Abizar menuduhku sembarangan seolah kami pernah bertemu di masa lalu. Sekuat apapun aku mencoba mengulik ingatanku, aku tak bisa menemukan memori kebersamaan kami.Aku terkekeh pelan. Abizar pasti salah mengira Keyla adalah aku di masa lalu. Padahal aku sudah pindah dari kota sejak umur 7 tahun. Ya! Pasti dia salah paham."Keyra, maju ke depan!"Aku tersentak saat guru yang menjelaskan di depan memanggil namaku dengan raut wajah marah. Semua mata teman-teman sekelasku juga tengah menatapku. Astaga!Dengan terpaksa aku maju ke depan sesuai instruksi guru. Tatapan tajam Guru itu membuatku kikuk."Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dalam ilmu ekonomi!" tanya guru dengan suara tegas.Aku

    Last Updated : 2024-11-21
  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Paksaan dari Ayah

    Tak butuh waktu lama untuk kami tiba di rumah Ayah. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu mobil. Entah kenapa perasaanku masih tidak enak sejak Keyla memintaku untuk pulang bersama.“Silahkan, Non!” Aku tersentak karena keduluan Paman Sopir membukakan pintu untukku.“Ah, iya Paman. Terima kasih!” ujarku bercampur malu. Aku buru-buru turun untuk menyusul Keyla yang sudah sampai di depan pintu utama.“Eh, Sopir nggak usah ikut masuk!” kata Keyla dengan bersedekap dada.“Loh, kenapa? Paman juga pengawal yang ditugaskan Tante Sandra, kok. Tenang aja!” jelasku agar Paman bisa masuk juga.“Pokoknya nggak boleh! Papa bilang cuma kamu yang bisa masuk!” tekan Keyla.Aku menatap Paman dengan rasa bersalah. Aku memohon ke paman agar menunggu di luar saja. Meski dengan berat hati, Paman mengiyakan asal aku tidak lama-lama di dalam.Setelah itu, aku ikut Keyla masuk. Kami terus berjalan menuju lantai dua. Sampai ke ruang kerja Ayah, Keyla mengetuk pintunya.“Pa, dia udah di sini!” uja

    Last Updated : 2024-11-22
  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Kilas Balik

    “Sakit! Sakit, Yah! Tolong!” pintaku, suaraku bergetar di antara rasa sakit yang tak kunjung reda.Namun, Ayah hanya menatapku dengan ekspresi jengah. Tak ada belas kasih di matanya, seolah rintihanku hanyalah kebisingan yang mengganggunya.“Ck, dasar merepotkan! Makanya jangan memberontak!” hardiknya, sebelum menarikku berdiri dengan kasar.Aku terseret beberapa kali saat tak mampu mengimbangi langkahnya, tubuhku terantuk lantai dingin, tetapi Ayah tetap menyeretku tanpa peduli. Aku menggigit bibir menahan erangan, bukan hanya karena sakit kepala yang menyiksa, tetapi juga ketakutan yang menyesakkan dadaku.Saat mencapai teras depan, Ayah mendorongku begitu saja. Aku nyaris terhempas ke tanah jika bukan karena Paman Sopir yang sigap menangkap tubuhku.“Non, apa yang terjadi?” Suaranya penuh kepanikan.“Bawa dia kembali!” perintah Ayah, seakan aku hanyalah barang yang merepotkan.Paman Sopir menatapnya dengan ragu. “Tuan, Nona Keyra terlihat sangat kesakitan. Apa yang sebenarnya terjad

    Last Updated : 2024-11-24
  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Itukan Rencanamu!

    Abizar berdiri di hadapanku dengan mendengus sinis seolah jengah melihatku yang masih pucat itu. “Kalau memang tidak apa-apa tidak usah terlalu caper seperti tadi. Norak!” cibir Abizar. “Abizar!” tegur Tante Sandra. Pemuda yang ditegur hanya memutarkan bola mata. Mungkin dia pikir aku hanya pura-pura makanya dia jutek begitu. "Sepertinya dia sengaja merengek sakit begitu. Pasti ini yang disuruh sama Paman Wira, kan?" Abizar melempar dokumen ke atas meja. Aku mendelik saat menyadari dokumen itu adalah dokumen dari Ayah. Buru-buru aku menariknya dan menyembunyikannya. "Tidak, kok! Ayah tidak menyuruhku! Tidak ada hubungannya dengan dokumen ini," kilahku. Namun Abizar mendengus sinis. Apa mungkin dia sudah membaca isi dokumen? Makanya dia bisa menebak tujuan dari Ayah mengirim ku pulang. "Sudah! Sudah! Kalian jangan bertengkar lagi. Kasihan Keyra. Nanti dia bisa sakit kepala lagi kalau diteruskan." Tante Sandra segera menengahi. Abizar mencebik pelan sebelum pergi meninggalkan

    Last Updated : 2024-11-25
  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Selesaikan Tugas Itu!

    Aku membaringkan tubuhku dengan nyaman. Padahal aku belum mengganti baju seragamku. Tetapi aku terlalu lelah untuk bergerak sekarang. Biarlah aku memejamkan mataku sebentar saja.“Kamu sudah makan?”Aku membuka mataku saat Kak Rangga memasuki kamarku. Sontak saja aku mengubah posisi jadi duduk bersandar.“Eh, berbaring saja, Dek!” kata Kak Rangga.Mana bisa! Ketika seorang pria yang bukan mahramku masuk ke kamar, mana bisa aku berbaring di depannya?Kak Rangga duduk di pinggir ranjangku, lalu mengusap pucuk kepalaku dengan lembut. Aku merasakan dadaku berdesir karena baru kali ini aku mendapatkan sikap manis dari lawan jenis.Apalagi wajah Kak Rangga yang rupawan pasti membuat banyak gadis tertawan. Jantungku berdegup kencang sampai-sampai aku takut dia bisa mendengarnya.“Kakak minta maaf soal sikap Abizar tadi, ya. Mungkin dia sedang ada masalah lain sehingga malah melampiaskan kemarahannya padamu. Kakak harap kamu bisa memaafkan tindakannya yang kasar tadi,” pinta Kak Rangga.Aku te

    Last Updated : 2024-11-26

Latest chapter

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Kecurigaan

    “Abizar, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Tante Sandra.Saat ini mereka telah berkumpul di ruang keluarga setelah menggantikan pakaian basah Keyra serta memastikan gadis itu terlelap. Tante Sandra gelisah melihat kondiis Keyra yang masih sedikit sesegukan meski matanya sudah terpejam.Abizar yang ditanyai menghela napas berat. Dia menegakan tubuhnya dengan wajah yang berkerut, mengingat kejadian di kediaman Sanjaya.“Tadi kami sudah pindah ke halaman depan, Ma. Hanya Keyra dan Keyla yang berada di samping kolam. Setelah itu, kami mendengar suara teriakan dari arah kolam. Saat aku ke sana, mereka sudah sama-sama tenggelam,” jelas Abizar.Mendengar penjelasan itu, Kak Rangga mendengus pelan. Sepertinya dia sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan si Kembar. Apakah Abizar tak bisa melihat kebenarannya? Atau hanya berusaha menutupi kebenaran demi gadis kesayangannya?Reaksi Kak Rangga barusan membuat semua orang menatapnya heran. Terutama Abizar, karena Kakaknya terlihat sedang terta

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Jangan Sakiti Istriku!

    Di pinggir kolam, para tamu bergerombol melihat kondisi dari dua gadis yang sedang berulang tahun hari itu. Keyla memeluk erat Abizar, seolah tak mau melepaskan. Sedangkan, Keyra dengan tubuh bergetar hebat berusaha ditenangkan oleh dua sahabatnya.Kerumunan itu semakin padat. Sudut bibir Keyla terangkat. Sesuai dengan rencananya, mereka telah menjadi pusat perhatian. Bahan bakarnya sudah siap, hanya butuh percikan api.Keyla memulai dramanya dengan terbatuk pelan. Dengan ekspresi yang dia buat ketakutan, dia menggigil dan merapatkan tubuhnya ke Abizar. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya tampak gemetar hebat."A-Abizar... A-aku takut... Aku nggak bisa napas di dalam air...," suaranya bergetar, penuh kepanikan.Abizar menghela napas, menatap Keyla yang tampak sangat ketakutan. Yang dia tahu bahwa gadis itu memiliki fobia terhadap kedalaman. Abizar pernah menjahili si Kembar saat usia 5 tahun. Dari situlah Keyla pasti benar-benar trauma terhadap kolam dan kedalaman.Tak jauh beda kondisinya

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Jatuh Ke Kolam

    Halaman samping sudah kosong, menyisakan Keyla dan Keyra saja. Setelah memastikan kondisi aman, Keyla tiba-tiba mendorong kembarannya.“Menjauh dari Abizar!” sentak Keyla.Keyra yang mendapat serangan tiba-tiba tentunya bingung. Alisnya tertekuk karena tak merasa menyinggung Keyla akhir-akhir ini.“Maaf Keyla. Aku nggak tahu apa maksudmu. Tapi... untuk menjauhi Abizar, sepertinya untuk sekarang aku nggak bisa,” ujar Keyra.Dia terbayang desakan dari keluarga Bimantara yang mengikatnya serta kecurigaan yang berhubungan dengan hilangnya ibunya. Keyra tak bisa meninggalkan kediaman itu sebelum tahu jawabannya.“Kalau gitu, stop Caper sama dia! Stop sengaja nempel-nempel ke dia! Apalagi sengaja keliatan kasihan di depan dia,” cerca Keyla.Keyla menghela napas berat. Dia bosan melihat sikap posesif Keyla terhadap Abizar. Juga bosan terus-terusan dituduh begini.“Keyla, ada yang harus aku luruskan terlebih dahulu. Suamiku, orang yang menikah denganku adalah-”“Abizar!” potong Keyla cepat. G

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Menghancurkanmu

    Keyla kembali ke halaman samping bersama teman-temannya. Di sana dia melihat pemandangann yang mengiritasi matanya. Keyra dengan murah hati memotong kue ulang tahun mereka menjadi kecil-kecil dan membagikannya ke seluruh tamu yang ingin mencicipi.Namun bukan hanya itu saja yang membuat Keyla semakin jengkel pada kembarannya. Keyra membagikan kue itu bersama dengan Abizar yang menjadi momen itu terlihat begitu manis.“Silahkan! Ambil saja, jangan malu-malu. Jika satu potong kurang, kalian bisa ambil lagi,” ujar Keyra dengan ramah. Dia mengambil piring kecil oleh masing-masing orang, lalu mengambilkan sepotong kue sebelum diberikan kembali kepada yang punya.“Abizar! Bisa lebih cepet nggak sih motong kuenya? Udah mau kehabisan, nih!” dumel Keyra pada Abizar yang memegang pisau potong.“Sabar lah! Bawel banget!” balas Abizar mulai kesal.Ngapain juga dia mendadak jadi asisten Keyra untuk memotong kue-kue ini? Padahal tadi niat Abizar ingin langsung bertanya ke Keyra mengenai hal-hal yan

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Lebih Diperhatikan

    Abizar mendatangi Keyra yang masih belum menyadari kedatangannya. Hatinya semakin gelisah melihat gadis itu tampak linglung, seolah pikirannya melayang ke tempat lain. Alisnya berkerut dalam, lalu dia memanggilnya."Keyra!"Gadis itu tersentak. Dia mendongak, dan tatapannya langsung bertemu dengan Abizar. Seketika, tangannya mengepal di atas paha. Pikirannya langsung teringat pada percakapan dengan ayahnya.‘Dia ke sini? Aku harus menanyakan soal Ibu. Abizar pasti tahu sesuatu.’Keyra segera berdiri, ingin menghampiri Abizar. Namun, dia kalah cepat.Tiba-tiba, Keyla sudah lebih dulu menggandeng lengan Abizar dengan erat, seolah tak ingin memberinya kesempatan mendekati Keyra."Emm, Abizar. Acara utama ulang tahunku akan dimulai. Ayo kita bersiap ke sana!" ujar Keyla, tersenyum manis sambil menunjuk meja tempat kue berada.Abizar diam sejenak. Matanya yang tajam menatap Keyla dengan penuh ketidaksukaan. Namun, gadis itu tetap bertahan dengan senyumannya, berpura-pura tak menyadari tata

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Mengapa Berbeda?

    Acara pesta terus berlanjut dengan terbagi menjadi dua kelompok. Tamu yang sudah dewasa akan di arahkan menuju aula utama kediaman Sanjaya. Sementara generasi muda, mereka tersebar dari halaman depan hingga halaman samping dekat kolam berenang.Tempat utama untuk anak muda adalah halaman samping dekat kolam berenang. Di sana sudah ada kue ulang tahun yang tersusun tinggi berwarna putih dengan hiasan buah strawberry memenuhi sekitar kue.Suasana yang begitu mewah tak menggunggah minat Keyra sama sekali. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah perihal ibunya. Keyra tak percaya jika terjadi sesuatu yang buruk, apalagi sampai.... Ah, tidak!'Ibu pasti baik-baik saja!' Keyra berusaha menguatkan hatinya."Keyra..., kamu nggak apa-apa, kan?" Tanya Giselle yang dari tadi sudah memperhatikan Keyra.Gadis itu mulai khawatir lantaran Keyra hanya diam. Sesekali terlihat linglung dan tidak fokus. Giselle mengusap bahu Keyra untuk memberikan sedikit semangat."Jangan diem aja, Ra. Kami tahu kamu p

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Kemana Ibu?

    “Selamat datang di acara Ulang Tahun yang megah ini! Terima kasih para tamu undangan yang menyempatkan waktu untuh hadir bersama kami. Kami harap, kalian bisa menikmati pesta sampai ke penghujung acara!”Suara riuh menggema di lantai bawah. Di salah satu balkon yang ada di lantai dua, Keyra berdiri menatap datar kerumunan orang yang berkumpul di halaman. Tangannya meremat pinggiran penghalang balkon. Sekeras apapun dia menolak, pada akhirnya dia tetap ditarik paksa pulang ke rumah Ayahnya.Keyra mengingat dengan jelas, kemarin Keyla datang memintanya untuk pulang. Dia sudah menolaknya, bahkan seluruh keluarga Bimantara juga sudah tak setuju. Akan tetapi, ayahnya menggunakan Raja Terakhir untuk membujuknya.Kakek Wijaya, sesepuh keluarga Sanjaya yang menjadi pengikat hubungan keluarga Sanjaya dan Bimantara saat ini. Kakek datang dengan ramah tamah seperti biasa. Dia menjemput Keyra dengan alasan yang sama seperti Keyla. Namun jelas Keyra merasa ada maksud terselubung.“Permisi, Nona! A

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Keyla bertamu

    Di gazebo samping kolam berenang, Keyra duduk termenung sendirian. Matanya tak lepas dari amplop di atas meja. Keyra sampai sekarang belum membuka amplop dari Kevin itu.Dia merasa berat untuk membukanya. Amplop itu bukan sekedar berisi gaji, namun juga segala kenangan serta kerja kerja kerasnya. Juga gumpalan harapannya yang sudah mati.Desahan lelah keluar dari bibir gadis itu. Dia sangat jenuh sejak dijemput pulang. Bukan hanya tak bisa kembali bekerja. Namun penggunaan ponsel pun dibatasi. Keyra menjambak rambutnya frustrasi.‘Kapan aku bisa bebas?’ jerinya dalam hati.“Ngapain, Dek?!”Tangan Keyra ditahan oleh Kak Rangga yang kebetulan sedang lewat dekat sana. Keyra terkejut melihat kedatangan Kak Rangga. Buru-buru dia tarik kembali tangannya.“Kamu ngapain jambak-jambak rambutmu sendiri? Kayak gitu nggak baik, Dek. Jangan sakiti dirimu sendiri!” omel Kak Rangga.“E-eh, Kak... Aku... rambutku cuma gatal kok, Kak. Makanya aku nggak nyaman banget. Bu-bukan maksudku mau menyakiti di

  • Suami Giveaway dari Kembaran Ku    Jujur Padaku Keyra

    Beberapa hari berlalu, Keyra seutuhnya telah menjadi tahanan rumah. Dia sekarang tak jauh beda dengan burung dalam sangkar. Setiap pergerakannya dibatasi dan diawasi.Keyra tak bisa lagi bekerja paruh waktu. Bahkan sekedar datang kafe untuk memberitahu ibu Kevin bahwa dirinya mengundurkan diri pun tak bisa. Hanya pesan singkat melalui chat yang bisa Keyra kirimkan kepada Kevin.Lantaran kejanggalan yang terjadi beberapa hari ini, Kevin menarik Keyra saat istirahat tiba. Kevin sengaja melakukan hal itu karena Keyra biasanya akan langsung menghilang saat bel istirahat sudah berkumandang. Hari ini, dia tak akan ketinggalan lagi.“Lepas Vin! Kita mau kemana, sih?” sentak Keyra berusaha melepaskan cekalan Kevin.“Ikut aku bentar, Ra. 5 menit aja!” ujar Kevin tanpa menoleh.Pemuda itu berjalan lurus membelah koridor yang mulai ramai. Kevin juga sudah mengancam ke Giselle dan Ririn agar tak mengekori. Dia butuh ruang untuk bisa menanyakan banyak hal yang membuatnya curiga.Di sudut koridor de

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status