Ide pensiun dari dunia preman sudah lama dipikirkan oleh Mark. Dia tahu karir pekerjaan di dunia ini sangat berbahaya. Bisa saja akhir hidupnya berakhir mengenaskan. Supaya bisa pensiun dengan tenang, Mark memang berencana untuk bisa keluar dari sana. Namun, tidak semudah itu untuk pensiun. Mark punya banyak musuh. Saat dia pensiun nanti, musuh-musuhnya akan membalaskan dendam. Di saat itu, Mark tidak punya perlindungan apa-apa. Jadi untuk pensiun, Mark harus menyerahkan posisinya kepada orang yang bisa dia percayakan seratus persen. Orang ini juga harus bisa memastikan keselamatannya setelah dia pensiun. Sayangnya, Mark belum menemukan orang yang tepat. Jadi rencana pensiun itu hanyalah sebuah ide. Mark tidak pernah memberitahu siapa-siapa soal ini. Jadi saat Michael berkata seperti itu, jantungnya berdebar kencang. "Kamu ... apa yang kamu bicarakan?" tanya Mark sambil pura-pura tidak tahu. Michael tersenyum. Wajar saja Mark terkejut. Dia tidak ingin berita pensiunnya dik
Ketika kaki Mark menyentuh lantai, rasa paniknya mulai berkurang. Badannya penuh keringat. Dia menjadi yakin bahwa apa yang dilakukan Michael barusan bukan sekedar ilmu sulap. Namun, Mark masih ragu kalau Michael datang dari masa depan. Tentu saja, hal seperti ini sulit dipahami orang biasa."Kamu ... apa kamu benar-benar dari masa depan?" tanya Mark. "Ya, meskipun aku tidak tahu pasti kapan terjadinya," jawab Michael. Mark memikirkannya sejenak. Kemudian dia bertanya pada Michael, "Kalau begitu, apa cerita masa depanku? Apa yang terjadi setelah aku keluar dari dunia preman?"Michael tidak berhenti tersenyum. Dia jadi teringat ketika pertama kali dia bertemu dengan Mark. "Saat aku bertemu denganmu, kamu adalah pemilik dari warung kecil. Aku masih ingat kamu orangnya pelit sekali," jawab Michael. "Pemilik warung!" Mark terkejut. Bos preman membuka warung? Mark tidak bisa menerimanya. "Kenapa kamu bilang aku pelit?" tanya Mark penasaran. "Karena kamu tidak mau membeli rokok
Michael dan Bella sudah bertemu. Sekarang, sepertinya situasi yang sama akan terjadi pada Mark dan Vivian.Namun, Michael tidak bisa menjamin apakah nasib akhir Vivian akan sama di kehidupan ini. Apalagi, ada perbedaan jelas antara Mark dan Michael.Perasaan Michael yang dalam terhadap Bella membuatnya menolak godaan dari wanita lain. Namun, Mark berbeda. Dia masih menyukai wanita lain. Apakah dia bisa mendapatkan Vivian, itu cerita lain. Hari menjelang tengah malam saat Mark meninggalkan vila lereng gunung. Ruby menatap vila itu yang masih gelap. Dia sudah memilih kamarnya. Michael tidak akan bisa menolaknya. Saat Mark meninggalkan villa, dia langsung menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu di mana letak Kota Tongyang. Meskipun dia dikelilingi wanita, Mark masih merasakan hatinya kosong. Apa yang dia inginkan adalah kedekatan emosional. Karena Michael bercerita bahwa wanita ini yang bernama Vivian membuatnya meninggalkan dunia preman, Mark memutuskan untuk mencobanya. Dia
Setelah berpikir sebentar, Mark meminta maaf pada Michael. Dia menyadari kesalahannya karena sudah meragukan Michael.Michael tidak keberatan. Mark adalah Mark, jadi dia tidak peduli. Jika Mark adalah orang lain, Michael tidak akan membiarkannya pergi. "Tarik anak buahmu," perintah Michael pada Mark. Jika Michael ingin memperlihatkan aksinya, tidak boleh sembarangan orang bisa melihatnya. Mark terpana. Anak buahnya sudah bersiap-siap. Jika dia melakukan itu, bukannya itu akan semakin berbahaya? Namun, karena Michael yang memintanya, itu berarti demi alasan yang bagus. Mark segera menelepon anak buahnya dan menyuruh mereka yang mengikuti mobil itu kembali ke Yuncheng.Gerak-gerik ini membuat musuh Mark menjadi bingung. "Bro Gary, sepertinya Mark menyuruh anak buahnya mundur. Apa yang terjadi?"Dalam sebuah mobil Toyota, seorang laki-laki bernama Gary menunjukkan raut wajah bingung. Dia juga tidak mengerti. Mobil yang mengikuti mereka sudah pergi. Itu berarti Mark yang men
Gary mendengar suara tertawa Michael yang seolah-olah ada sesuatu yang lucu. Emosinya memuncak dan mengacungkan senjatanya pada Michael."Apa yang kamu tertawakan, bocah? Apa kamu merasa berhak untuk bicara di sini?" tanya Gary. Raut wajah Mark langsung berubah setelah melihat senjata api itu. Dia masih bisa menghadapi kemampuan bela diri, tapi kalau senjata, itu masalah lain. Dengan kata lain, mereka bisa saja mati. "Gary, bukannya kamu ingin membunuhku? Dia tidak ada hubungannya dengan ini," ujar Mark. Gary memang ingin membunuh Mark, tapi dia ditertawakan oleh Michael. Wajar saja dia tidak mau melepaskan Michael pergi. Membunuh dua orang hampir sama saja dengan membunuh satu orang. "Bocah, berlutut minta maaf sekarang juga. Kalau aku masih mau memaafkan, aku akan membiarkan kamu pergi," ujar Gary. "Memangnya benda ini bisa membunuhku?" tanya Michael dengan tenang. Bagi orang biasa, tentu senjata api punya makna dekat dengan kematian. Namun, Michael bukan orang biasa
Sesuatu yang memalukan terjadi. Michael bermaksud membuat para anak buah itu ketakutan. Upaya itu berhasil. Mereka langsung berebutan masuk ke dalam mobil. Mobil mereka langsung pergi meninggalkan lokasi. Ini adalah pemandangan tidak pernah Mark duga. Begitu juga Gary. "Dasar pecundang, aku tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja," ujar Gary. Mark menatap gugup pada Michael dan berkata, "Michael, orang-orang ini ./.."Kemampuan Michael sudah jelas terlihat oleh mereka. Kalau mereka lolos, kejadian ini akan tersebar. Mark cemas kalau ini nanti akan mempersulit Michael.Namun, Michael dengan tenang menggelengkan kepala dan berkata, "Mereka tidak akan bisa pergi jauh."Mark tidak paham dengan ucapan Michael tapi dia memilih untuk percaya. Instingnya berkata bahwa ini keputusan yang benar. "Aku serahkan orang ini padamu, Mark. Aku akan masuk ke dalam mobil," ujar Michael. Mark mengangguk. Ini adalah urusannya. Dia yang harus menyelesaikannya.Tidak butuh waktu lama u
Ucapan Michael membuat mata Mark melebar. Apa dia tidak salah dengar? Michael memintanya berpura-pura menjadi ayah? Bukannya Mark tidak berani, tapi usianya belum bisa dikatakan tua. Bagaimana dia bisa memiliki anak sebesar Michael? "Tidak ... tidak mungkin aku menjadi seorang ayah untuk anak seusia kamu," ujar Mark dengan ragu. Michael melongo menatap Mark dan berkata, "Maksudku, kamu akan berperan sebagai kakakku. Wajar seorang kakak melihat-lihat sekolah adiknya. Kenapa kamu berpikir akan menjadi seorang ayah?"Mark cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangan, "Tidak, tidak, maksudku juga begitu. Bagaimana aku bisa berani menjadi ayahmu?"Michael tersenyum. Dia tahu Mark sedang gugup, makanya bicaranya jadi seperti itu. "Ayo masuk, aku penasaran dengan kakak iparku." Setelah itu, Michael melangkah duluan menuju tempat les. Pada saat itu, anak-anak masih berada dalam kelas. Michael dan Mark tidak berani membuat keributan di tempat les. Mark jelas-jelas le
Selama ini Mark selalu percaya bahwa wanita yang bisa menarik perhatiannya adalah wanita yang menggunakan pakaian seksi. Hanya wanita yang bisa menunjukkan bentuk badannya yang bagus yang bisa menjadi pendamping bos preman di Yuncheng. Namun, hari ini Mark menemukan pemikirannya selama ini salah. Sepertinya sosok wanita seperti Vivian yang bisa membuat perasaan bergerak. Wanita berpakaian seksi membuat Mark bergairah, sementara Vivian membuat Mark merasa ingin melindunginya. Sekarang Mark mengerti kenapa dia mengerti kenapa dia bersedia menyerahkan posisinya sebagai bos preman Yuncheng. Vivian wanita yang pantas untuk ditukarkan semua itu. "Ada apa? Kenapa kamu diam?" Michael tidak tahan bertanya ketika Mark terdiam. Mark tersadar dan berkata pada Michael, "Sepertinya aku jatuh cinta padanya."Michael tidak tahan untuk tertawa. Ini pertama kalinya dia melihat Mark mengatakan jatuh cinta. Ini menggelikan. Bagaimana seseorang yang selalu ditemani wanita cantik setiap malam,
“Malam sudah larut. Kembalilah ke pondok dan istirahatlah.”Michael menepuk bahu si trenggiling dan membawanya menuju halaman belakang.Di halaman belakang, Sari sedang duduk dalam keadaan gelisah. Dari sorot matanya yang indah, terlihat perasaan cemas dan kesepian.Ketika Jenny datang dengan penuh kegembiraan mengumumkan kembalinya Michael, mata cantik Sari menjadi berbinar-binar. Meskipun dia adalah seorang perempuan yang terbiasa bersikap anggun, tetap saja Sari tidak bisa menahan diri untuk cepat-cepat menyambut kedatangan Michael. Ketika melihat Michael, mata Sari yang indah menampakkan rasa haru, cemas dan gembira. Bibir merahnya terbuka. Michael tidak bisa menahan diri untuk tidak terkejut. Sebelumnya Michael menjaga jarak dengan Sari. Sekarang Michael tersenyum padanya.Meskipun hanya senyuman, namun makna dari senyuman itu terlihat jelas.Sari memahami senyuman Michael. Dalam hatinya, dia merasa sedih. Namun Sari tetap tersenyum. “Hei, kalian ke mana saja? Tahuk
Parza menghela napas panjang sambil menatap Felix, yang sudah dibawa jauh. Putranya melihat Parza dengan tatapan putus asa. "Dewa Es, aku sudah menghukum anakku. Kalau kamu masih belum puas, aku bersedia menambah hukumannya."“Bukankah besok putramu akan menikah? Itu adalah acara besar Keluarga Fang, bukan? Mengapa kalian melakukan sesuatu yang serius seperti ini?" Michael tertawa. Perlahan-lahan dia berdiri, "Begini saja. Tambahkan hukuman itu ketika dia sudah menikah nanti, atau ketika suasana hatiku sedang buruk. Bagaimana?"Mata Parza melebar. Bagaimana Dewa Es bisa bersikap murah hati seperti ini? Dewa Es membela Felix meskipun dirinya dimasukkan ke dalam Penjara Langit dan diberi hukuman es dan api. Tuan Onn mengerutkan dahi dan memandang Michael dengan aneh.Meskipun sosok laki-laki di depannya masih muda, tapi dia memiliki kebijaksanaan seperti tetua. Tidak jadi menghukum Felix? Apa … apa Dewa Es menyukai Keluarga Fang?Parza tidak tahu pikiran Michael tapi baginya
Felix mengerutkan dahi, "Aku benar-benar bingung dengan sikap kalian. Aku menangkap seorang laki-laki yang menganiaya perempuan tua. Kenapa sikap kalian berlebihan seperti ini?""Orang ini cukup kuat meskipun sudah melakukan kejahatan. Jadi aku memberinya hukuman kecil sekaligus sebagai bentuk peringatan."Felix menatap Michael dengan kejam.Laki-laki sialan ini pasti menceritakan kejadian yang tidak sebenarnya kepada Tuan Onn dan ayahnya, Parza sehingga membuat keduanya marah. Felix ingin menambah hukuman Michael!Hukuman kecil?!Mata Tuan Onn dan Parza melebar. Kaki Dewa Es hitam seperti batu bara. Bagaimana mungkin hukuman yang diberikan kepada Dewa Es ini bisa disebut hukuman kecil?!Parza dan Tuan Onn sudah hidup lama di dunia gurun. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu hukuman apa yang digunakan sehingga menyebabkan kaki seseorang menjadi hitam?!Jika Michael adalah orang biasa, mereka tidak akan semarah ini tapi ini Dewa Es! Semakin memikirkannya, Tuan Onn semakin jeng
Felix terlihat bangga. Penerangan Penjara Langit itu relatif gelap. Felix tidak menyadari ekspresi kemarahan di wajah ayahnya. Felix menatap Michael yang ada di dalam sel penjara sambil mendengus. Dari tatapan Felix seolah-olah dia memberi tahu Michael bahwa meskipun ayahnya, Parza datang, itu bukanlah jaminan nyawa Michael bisa diselamatkan. Felix tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya ketika melihat bekas pertarungan di sekeliling Penjara Langit. Sepertinya si pembunuh sudah menghajar Michael berkali-kali. Namun, yang membuat Felix senang adalah Michael tetap hidup setelah mengalami penyiksaan seperti itu.Kalau saja Felix mengetahui bahwa Michael adalah Dewa Es, maka semua ini tidak akan terjadi. Tidak seperti Felix, Parza menggertakkan gigi dan ingin meluapkan amarahnya. Jika sebelumnya Felix adalah kebanggaan besar dalam hidupnya, sekarang Parza merasa lebih baik memiliki telur daripada memiliki anak bodoh seperti itu.“Apa jangan-jangan kamu menangkapnya?” tanya Parza
Kacau!Berantakan!Ruangan sel Penjara Langit itu begitu berantakan. Dari situ terlihat bekas pertarungan yang sudah terjadi. “Apa ini?” Tuan Onn terkejut melihat pemandangan di depannya ini. Firasat tidak enak muncul di hatinya. Apa jangan-jangan Dewa Es ….“Parza!” teriak Tuan Onn. Parza tidak berdaya melihat situasi di dalam penjara tersebut. “Keluarga Fang, tunggu saja nasib kalian. Kalian akan dikuburkan bersama-sama,” Tuan Onn menggelengkan kepala. Dia segera bergegas masuk ke dalam penjara.Parza masih berlutut. Matanya kosong. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah melihat Tuan Onn masuk ke dalam penjara, Parza segera tersadar. Buru-buru dia berdiri dan berkata pada salah satu pelayan, "Pergi … pergi jemput anakku yang bodoh itu ke sini.”Pelayan itu mengangguk dan segera pergi. Sejenak Parza menjadi ragu. Dia menghela napas dan menghirupnya. Kemudian bersama pelayannya yang lain, Parza segera masuk menuju Penjara Langit.Penjara itu gelap dan bau. Orang - o
Penjara Langit!Tidak perlu dijelaskan lagi apa makna tempat itu bagi Keluarga Fang, apalagi Tuan Onn. Tidak mungkin!Kaki Parza lemas. Tubuhnya bergoyang hingga menabrak meja di belakangnya. Meja kayu itu mundur beberapa meter.Namun, ketika Parza tidak bisa menahan lagi, para pelayan itu datang membantunya!Penjara Langit adalah tempat dikurungnya orang-orang yang paling keji. Lingkungan penjara itu juga buruk. Jika orang biasa masuk ke dalam Penjara Langit, hal itu biasa saja tapi ini Dewa Es! “Lihat apa yang kamu lakukan!” Tuan Onn menjadi marah. Meskipun Tuan Onn tidak berinteraksi langsung dengan Dewa Es. Namun sebagai manusia gurun, dukungan Dewa Es terukir di tulangnya. Bagaimana mungkin Tuan Onn tidak marah ketika Dewa Es dipenjara di tempat seperti itu?!Parza jadi tambah lemas. Dia terhuyung dan duduk di tanah.Benar. Apa sebenarnya yang dilakukan Keluarga Fang di sini?!"Kenapa kamu masih berdiri di situ? Cepat jemput dia!" Tuan Onn segera membentak dan berge
Jika bukan karena pelayan di belakangnya yang buru-buru membantunya, Parza sudah pasti jatuh lemas duduk di tanah. Itu dia!Ternyata itu dia!Dia adalah teman Dewa Es!Berarti ….Tuan Onn mengerutkan dahi. Memang dia yang memberikan saran untuk pergi ke penjara, tapi tetap saja dia jadi terkejut melihat ucapannya terbukti.“Lihat apa yang telah kamu lakukan!” Tuan Onn mengutuk Parza. Dia mendorong si pengawal dan membungkukkan badan sebagai tanda hormat pada si trenggiling, "Pahlawan Muda, kenapa … kamu ada di sini?"Parza segera tersadar dari rasa terkejutnya ketika dimarahi oleh Tuan Onn. Dia menyadari kesalahannya dan bergegas maju dengan panik. Ketika Tuan Onn menangani trenggiling, Parza segera mengambil tindakan yang diperlukan. Dia menendang pengawal hingga jatuh ke tanah."Berani-beraninya kamu! Berani-beraninya kamu memperlakukan tamu Keluarga Fang seperti ini? Aku ingin kamu mati. Pengawal!" teriak Parza. "Hadir!"“Bawa orang itu pergi. Potong tubuhnya menjadi d
Alis Parza berkerut. Dia berkata dengan nada mendesak, "Tuan Onn, tolong beri tahu aku."“Parza. Jika kamu hanya berambisi menjadi kepala keluarga, kemampuanmu yang sekarang sudah lebih dari cukup. Namun, jika kamu ingin jadi pemimpin masa depan dunia gurun, tentunya kemampuanmu yang sekarang tidaklah cukup."Kalau orang lain membicarakan Parza seperti itu, tentu saja Parza tidak akan senang. Bahkan dia bakal sangat marah.Namun karena ucapannya ini datang dari Tuan Onn, Parza menerimanya dengan rendah hati."Tolong beri aku nasihat, Tuan."“Jika orang itu memiliki ambisi besar di masa depan, dia tidak boleh melupakan hal kecil. Bahkan dia harus bisa kejam," Tuan Onn berdiri dan tersenyum. Dia datang mendekati Parza dan menepuk pundaknya. Tuan Onn menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kalau kamu masih menjaga hatimu seperti ini, kamu tidak akan bisa maju."“Hatiku?” Parza jadi bingung. “Parza, jangan terlalu mempercayai orang lain, terutama orang-orang di sekitarmu,” ujar Tuan
Tuan Onn tidak langsung menjawab pertanyaan Parza. Dia mengerutkan dahi seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.Parza sudah tidak sabar, tapi dia tidak berani mengganggu Tuan Onn. Jadi Parza hanya bisa berdiri di sana. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Waktu berlalu. Mungkin dalam suasana hati Parza saat ini, satu menit terasa seperti setahun. Tuan Onn mengerutkan dahi. Perlahan-lahan dia menatap Parza, "Apa menurutmu itu tidak aneh?”“Tuan Onn, apanya yang aneh?”“Maksudku, Dewa Es,” jawab Tuan Onn sambil mengerutkan dahi. “Dewa Es?” Parza jadi lebih bingung."Rumah ini dijaga ketat, apalagi ketika perjamuan besar. Tentunya tidak mudah bagi siapa pun untuk keluar masuk rumah ini tanpa ijin. Bahkan jika Dewa Es memiliki kemampuan luar biasa, tidak mungkin dia bisa menghilang."“Aku juga berpikir seperti itu tapi aku juga tidak memahaminya,” Parza mengira Tuan Onn kepikiran sesuatu tapi ketika mendengarnya, Parza jadi lemas. Selain itu, apa alasan Dewa Es pergi?"Maksud Tua