Wajah Andy menjadi pucat. Tidak dia sangka, hidup Max akan berakhir seperti ini. Hanya dengan satu pukulan!Kejadian ini membawa masa lalu.Bukankah Michael juga mengalahkan orang dengan satu pukulan? Andy merasa tidak puas.Dia tidak terima jika dirinya kalah oleh Ronan dengan cara seperti ini. "Sepertinya jagoan Keluarga Nangong biasa-biasa saja," kata Ivan. Dia berdiri dengan raut muka tidak puas. David berkata pada Ivan, "Tunggu, masih ada satu orang lagi. Tolong, berikan satu kesempatan lagi."Meskipun sebenarnya Ivan malas untuk melihat pertandingan lagi, tapi dia akan mengambil banyak uang dari David. "Ok, aku akan memberimu satu kesempatan lagi," kata Ivan. Dia kembali duduk."Terima kasih, Tuan Ivan," David berkata pada Andy dan Ronan, "Tunggu di sini. Aku akan pergi sendiri."Melihat sikap David yang berubah membuat Ronan merasa senang."Andy, kamu lihat bagaimana kakek mau menjemput Michael? Akuilah kalau kamu kalah," kata Ronan.Raut muka Andy menjadi jeng
Melihat Adam yang meronta-ronta, Ibunya memukul Michael. Dia meminta Michael melepaskan Adam. Michael mendorongnya ke samping dan berkata pada Adam, "Kamu sudah membunuh Kent. Pergilah ke neraka. Jangan lupa minta maaf pada Kent."Wajah Adam menjadi merah. Semakin lama perlawanannya melemah. Kemudian dia mati.Melihat Adam mati, Ibunya semakin takut. Dia berlutut pada Michael, "Maafkan aku. Aku mohon, maafkan aku. Aku mengaku salah. Aku sudah membunuhnya!""Kenapa kamu melakukannya?" tanya Michael."Karena dia mengandung. Aku takut posisiku tergantikan," kata ibunya Adam.Michael tersentak.Mengandung? Perempuan itu membunuh orang hamil. Mengerikan sekali!Michael menarik rambutnya dan menghantam kepalanya ke dinding. Ibu Adam menjerit kesakitan. Darah mengalir melalui hidungnya. Michael bukanlah orang yang suka menyakiti perempuan tapi kali ini ibunya Adam pantas mendapatkan hukuman. "Perempuan keji sepertimu harus dihukum," Michael mematahkan tangan dan kaki ibu Adam,
Ivan menutup matanya. Dia tahu muridnya tidak akan mengecewakannya. Michael akan mati. "Bisakah dia melawan Dary?""Nasib Keluarga Nangong bergantung pada dia.""Jika dia kalah, keluarga kita tidak akan bisa berada di kesempatan ini lagi."Semua orang berharap-harap cemas dengan pertandingan ini. Mereka berharap Michael bisa menang. Kecuali Andy, dia satu-satunya yang menginginkan kematian Michael. Saat serangan Dary datang, Michael juga mengeluarkan tinjunya. Dary meremehkan Michael,"Rasakan tinjuku!" Kedua tinju itu bertemu dan mengakibatkan suasana tambah tegang.Semua orang menahan nafasnya. Michael dan Dary sama-sama berdiri di tengah pertandingan.Padahal baru beberapa menit pertandingan itu dimulai, tapi bagi Keluarga Nangong, rasanya seperti satu abad. Apalagi, David. Saat sekelilingnya terasa hening, Ivan yang penasaran membuka matanyaSaat melihat ke dalam arena pertandingan, Ivan mengernyitkan dahi.Dari postur tubuhnya, mereka terlihat sama-sama mengeluarkan
"Diam," Mendengar bisik-bisik itu membuat David merasa tidak tenang. Harapannya bergantung pada Michael. Orang-orang itu terdiam. "Jangan cemas, kek, aku akan mencarikan jalan keluarnya," kata Andy. Dia harus mencuri perhatian kakeknya untuk bisa menjadi pewaris. Sayangnya, Andy membuat kesalahan. "Kamu juga diam. Jangan bicara lagi," kata David sambil menggertakkan gigi. "Bro, kamu tidak berharap Michael kalah kan?" kata Ronan Andy menggertakkan gigi. Kakeknya tidak senang mendengar komentarnya. "Ronan, kamu kira aku bodoh? Tentu jika Michael menang, keluarga kita akan bertambah reputasinya. Namun, coba lihat kesempatan Michael untuk menang sangat tipis. Makan aku mencoba cari cara lain," kata Andy. Ronan tersenyum dan berkata, "Dia belum kalah. Tidak usah repot-repot."Andy mengangguk. Tidak ada gunanya berdebat dengan Ronan. Pada akhirnya, mereka sama-sama harus melihat kenyataan. Di dalam arena tinju, Michael sudah tiba di pinggir arena. Dia tidak punya tempat
Anggota Keluarga Nangong sangat paham apa maksud David ingin merubah nama keluarga Michael.Hal ini menunjukkan David sangat memandang tinggi Michael. Kalau Michael menerimanya, dia berhak menjadi calon pewaris Keluarga Nangong. Perlakuan ini begitu spesial.Saat Ronan mendengar ucapan David, hatinya tidak tenang. Karena dirinyalah yang membuat Michael mendapatkan perlakukan istimewa ini. Namun orang-orang tidak menyangka Michael akan menolak tawaran David. "Michael, apa maksudmu?" tanya David."Aku tidak akan mengubah nama keluargaku," jawab Michael.Sontak semua anggota Keluarga Nangong membicarakannya. Keluarga Nangong memiliki banyak kekayaan. Kenapa Michael menolaknya? Ronan tersenyum. Sepertinya Michael masih tahu diri. Michael paham nyawa anaknya berada di tangan Ronan. Ronan salah. Sebetulnya Michael menolak tawaran itu bukan karena takut tapi karena dia benar-benar tidak peduli. Kekayaan bukanlah hal yang membuat Michael tertarik. Raut muka David berubah. Dia cem
Ronan tidak peduli dengan ucapan Michael. Dia tersenyum. Menurutnya ucapan Michael hanyalah omong kosong saja. Michael juga tidak akan bisa melawannya. Jadi Ronan tidak menganggapnya serius. Michael berjanji akan menyiksa Ronan dan membuat Ronan memohon ampun. Mungkin Ronan tidak mengerti sekarang tapi saat dia mengetahuinya, saat itu sudah terlambat. Mereka berjalan ke makam ibunya Kent. Makam itu terletak di pinggir hutan. Semak-semak tumbuh tinggi. Sepertinya tidak ada anggota Keluarga Nangong yang pernah mengunjungi makam ini. Saat Kent masih hidup, dia tidak diijinkan ziarah ke makam ibunya. Kent menurutinya, lagipula dia sedang berpura-pura idiot. Jika dia memaksa, kebohongannya akan terbongkar. Michael merasa dia harus membalas dendam Kent.Saat Michael mencabut semak-semak yang ada di sekeliling makam ibunya Kent, Ronan berkata dengan jijik, "Bukannya ini buang-buang waktu? Lebih baik bantu aku supaya bisa mendapatkan kepala keluarga Nangong.""Seharusnya Kent yan
Tangisan Hanna membuat hati Michael seperti diiris-iris. Dia lebih memilih menyakiti dirinya dibandingkan menyakiti Hanna.Dia tahu Ronan sedang memperingatkannya.Namun dia tahu ini bukan saatnya dia melawan Ronan. Nyawa Hanna menjadi taruhan. "Jangan sakiti dia," kata Michael sambil menggertakkan gigi.Suara di ujung telepon terdengar bangga, "Sekarang, pergilah ke Ronan dan berlutut. Setelah itu aku akan membawanya ke rumah sakit."Michael menarik nafas dalam dan menutup telepon. Dia pergi ke kamar Ronan. Ronan sudah menunggu Michael di kamar. Ekspresinya begitu bangga. Menurutnya, inilah cara supaya Michael patuh padanya. Dia tidak sabar untuk melihat bagaimana Michael berlutut dan memohon ampun padanya. Saat dia mendengar pintu kamarnya diketuk, Ronan tahu itu Michael. Namun dia sengaja untuk tidak membukanya. Dia ingin membuat Michael tahu siapa majikannya. Kemudian, pintu itu dibuka, Ronan bertanya, "Ada apa?"Michael mejawab, "Perintahkan anak buahmu untuk segera
Ucapan Ivan membuat Dary terkejut. Dia tidak menyangka ekspektasi Ivan pada Michael sungguh tinggi."Tuan, jika aku tidak serius menghadapinya, dia tidak akan bisa menjadi lawanku," kata Dary. Ivan tersenyum, "Ingat kembali bagaimana kemampuanmu sebelum masuk Apocalypse. Bandingkan dengan dirinya. Kamu akan mengerti letak perbedaannya."Setelah terdiam beberapa saat, Ivan melanjutkan, "Kemampuan dia setara seperti orang yang pernah diberi pelatihan di Apocalypse. Bisakah kamu bayangkan apa jadinya dia jika masuk dalam Apocalypse?"Ucapan Ivan membuat Dary berpikir. Jika dibandingkan dirinya sebelum masuk ke Apocalypse, dengan kemampuan Michael, tentu saja dia seperti semut. "Tuan, bisa saja dia tidak bertambah kuat jika masuk ke sana," kata Dary."Kamu mau menyangkal kenyataannya?" kata Ivan.Dary menundukkan kepala. Sebetulnya dia tidak ingin mengakui Michael lebih baik daripadanya tapi percuma saja. Karena dia sudah kalah dari Michael. "Tuan bisa saja membunuhnya," kata Da
“Malam sudah larut. Kembalilah ke pondok dan istirahatlah.”Michael menepuk bahu si trenggiling dan membawanya menuju halaman belakang.Di halaman belakang, Sari sedang duduk dalam keadaan gelisah. Dari sorot matanya yang indah, terlihat perasaan cemas dan kesepian.Ketika Jenny datang dengan penuh kegembiraan mengumumkan kembalinya Michael, mata cantik Sari menjadi berbinar-binar. Meskipun dia adalah seorang perempuan yang terbiasa bersikap anggun, tetap saja Sari tidak bisa menahan diri untuk cepat-cepat menyambut kedatangan Michael. Ketika melihat Michael, mata Sari yang indah menampakkan rasa haru, cemas dan gembira. Bibir merahnya terbuka. Michael tidak bisa menahan diri untuk tidak terkejut. Sebelumnya Michael menjaga jarak dengan Sari. Sekarang Michael tersenyum padanya.Meskipun hanya senyuman, namun makna dari senyuman itu terlihat jelas.Sari memahami senyuman Michael. Dalam hatinya, dia merasa sedih. Namun Sari tetap tersenyum. “Hei, kalian ke mana saja? Tahuk
Parza menghela napas panjang sambil menatap Felix, yang sudah dibawa jauh. Putranya melihat Parza dengan tatapan putus asa. "Dewa Es, aku sudah menghukum anakku. Kalau kamu masih belum puas, aku bersedia menambah hukumannya."“Bukankah besok putramu akan menikah? Itu adalah acara besar Keluarga Fang, bukan? Mengapa kalian melakukan sesuatu yang serius seperti ini?" Michael tertawa. Perlahan-lahan dia berdiri, "Begini saja. Tambahkan hukuman itu ketika dia sudah menikah nanti, atau ketika suasana hatiku sedang buruk. Bagaimana?"Mata Parza melebar. Bagaimana Dewa Es bisa bersikap murah hati seperti ini? Dewa Es membela Felix meskipun dirinya dimasukkan ke dalam Penjara Langit dan diberi hukuman es dan api. Tuan Onn mengerutkan dahi dan memandang Michael dengan aneh.Meskipun sosok laki-laki di depannya masih muda, tapi dia memiliki kebijaksanaan seperti tetua. Tidak jadi menghukum Felix? Apa … apa Dewa Es menyukai Keluarga Fang?Parza tidak tahu pikiran Michael tapi baginya
Felix mengerutkan dahi, "Aku benar-benar bingung dengan sikap kalian. Aku menangkap seorang laki-laki yang menganiaya perempuan tua. Kenapa sikap kalian berlebihan seperti ini?""Orang ini cukup kuat meskipun sudah melakukan kejahatan. Jadi aku memberinya hukuman kecil sekaligus sebagai bentuk peringatan."Felix menatap Michael dengan kejam.Laki-laki sialan ini pasti menceritakan kejadian yang tidak sebenarnya kepada Tuan Onn dan ayahnya, Parza sehingga membuat keduanya marah. Felix ingin menambah hukuman Michael!Hukuman kecil?!Mata Tuan Onn dan Parza melebar. Kaki Dewa Es hitam seperti batu bara. Bagaimana mungkin hukuman yang diberikan kepada Dewa Es ini bisa disebut hukuman kecil?!Parza dan Tuan Onn sudah hidup lama di dunia gurun. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu hukuman apa yang digunakan sehingga menyebabkan kaki seseorang menjadi hitam?!Jika Michael adalah orang biasa, mereka tidak akan semarah ini tapi ini Dewa Es! Semakin memikirkannya, Tuan Onn semakin jeng
Felix terlihat bangga. Penerangan Penjara Langit itu relatif gelap. Felix tidak menyadari ekspresi kemarahan di wajah ayahnya. Felix menatap Michael yang ada di dalam sel penjara sambil mendengus. Dari tatapan Felix seolah-olah dia memberi tahu Michael bahwa meskipun ayahnya, Parza datang, itu bukanlah jaminan nyawa Michael bisa diselamatkan. Felix tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya ketika melihat bekas pertarungan di sekeliling Penjara Langit. Sepertinya si pembunuh sudah menghajar Michael berkali-kali. Namun, yang membuat Felix senang adalah Michael tetap hidup setelah mengalami penyiksaan seperti itu.Kalau saja Felix mengetahui bahwa Michael adalah Dewa Es, maka semua ini tidak akan terjadi. Tidak seperti Felix, Parza menggertakkan gigi dan ingin meluapkan amarahnya. Jika sebelumnya Felix adalah kebanggaan besar dalam hidupnya, sekarang Parza merasa lebih baik memiliki telur daripada memiliki anak bodoh seperti itu.“Apa jangan-jangan kamu menangkapnya?” tanya Parza
Kacau!Berantakan!Ruangan sel Penjara Langit itu begitu berantakan. Dari situ terlihat bekas pertarungan yang sudah terjadi. “Apa ini?” Tuan Onn terkejut melihat pemandangan di depannya ini. Firasat tidak enak muncul di hatinya. Apa jangan-jangan Dewa Es ….“Parza!” teriak Tuan Onn. Parza tidak berdaya melihat situasi di dalam penjara tersebut. “Keluarga Fang, tunggu saja nasib kalian. Kalian akan dikuburkan bersama-sama,” Tuan Onn menggelengkan kepala. Dia segera bergegas masuk ke dalam penjara.Parza masih berlutut. Matanya kosong. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah melihat Tuan Onn masuk ke dalam penjara, Parza segera tersadar. Buru-buru dia berdiri dan berkata pada salah satu pelayan, "Pergi … pergi jemput anakku yang bodoh itu ke sini.”Pelayan itu mengangguk dan segera pergi. Sejenak Parza menjadi ragu. Dia menghela napas dan menghirupnya. Kemudian bersama pelayannya yang lain, Parza segera masuk menuju Penjara Langit.Penjara itu gelap dan bau. Orang - o
Penjara Langit!Tidak perlu dijelaskan lagi apa makna tempat itu bagi Keluarga Fang, apalagi Tuan Onn. Tidak mungkin!Kaki Parza lemas. Tubuhnya bergoyang hingga menabrak meja di belakangnya. Meja kayu itu mundur beberapa meter.Namun, ketika Parza tidak bisa menahan lagi, para pelayan itu datang membantunya!Penjara Langit adalah tempat dikurungnya orang-orang yang paling keji. Lingkungan penjara itu juga buruk. Jika orang biasa masuk ke dalam Penjara Langit, hal itu biasa saja tapi ini Dewa Es! “Lihat apa yang kamu lakukan!” Tuan Onn menjadi marah. Meskipun Tuan Onn tidak berinteraksi langsung dengan Dewa Es. Namun sebagai manusia gurun, dukungan Dewa Es terukir di tulangnya. Bagaimana mungkin Tuan Onn tidak marah ketika Dewa Es dipenjara di tempat seperti itu?!Parza jadi tambah lemas. Dia terhuyung dan duduk di tanah.Benar. Apa sebenarnya yang dilakukan Keluarga Fang di sini?!"Kenapa kamu masih berdiri di situ? Cepat jemput dia!" Tuan Onn segera membentak dan berge
Jika bukan karena pelayan di belakangnya yang buru-buru membantunya, Parza sudah pasti jatuh lemas duduk di tanah. Itu dia!Ternyata itu dia!Dia adalah teman Dewa Es!Berarti ….Tuan Onn mengerutkan dahi. Memang dia yang memberikan saran untuk pergi ke penjara, tapi tetap saja dia jadi terkejut melihat ucapannya terbukti.“Lihat apa yang telah kamu lakukan!” Tuan Onn mengutuk Parza. Dia mendorong si pengawal dan membungkukkan badan sebagai tanda hormat pada si trenggiling, "Pahlawan Muda, kenapa … kamu ada di sini?"Parza segera tersadar dari rasa terkejutnya ketika dimarahi oleh Tuan Onn. Dia menyadari kesalahannya dan bergegas maju dengan panik. Ketika Tuan Onn menangani trenggiling, Parza segera mengambil tindakan yang diperlukan. Dia menendang pengawal hingga jatuh ke tanah."Berani-beraninya kamu! Berani-beraninya kamu memperlakukan tamu Keluarga Fang seperti ini? Aku ingin kamu mati. Pengawal!" teriak Parza. "Hadir!"“Bawa orang itu pergi. Potong tubuhnya menjadi d
Alis Parza berkerut. Dia berkata dengan nada mendesak, "Tuan Onn, tolong beri tahu aku."“Parza. Jika kamu hanya berambisi menjadi kepala keluarga, kemampuanmu yang sekarang sudah lebih dari cukup. Namun, jika kamu ingin jadi pemimpin masa depan dunia gurun, tentunya kemampuanmu yang sekarang tidaklah cukup."Kalau orang lain membicarakan Parza seperti itu, tentu saja Parza tidak akan senang. Bahkan dia bakal sangat marah.Namun karena ucapannya ini datang dari Tuan Onn, Parza menerimanya dengan rendah hati."Tolong beri aku nasihat, Tuan."“Jika orang itu memiliki ambisi besar di masa depan, dia tidak boleh melupakan hal kecil. Bahkan dia harus bisa kejam," Tuan Onn berdiri dan tersenyum. Dia datang mendekati Parza dan menepuk pundaknya. Tuan Onn menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kalau kamu masih menjaga hatimu seperti ini, kamu tidak akan bisa maju."“Hatiku?” Parza jadi bingung. “Parza, jangan terlalu mempercayai orang lain, terutama orang-orang di sekitarmu,” ujar Tuan
Tuan Onn tidak langsung menjawab pertanyaan Parza. Dia mengerutkan dahi seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.Parza sudah tidak sabar, tapi dia tidak berani mengganggu Tuan Onn. Jadi Parza hanya bisa berdiri di sana. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Waktu berlalu. Mungkin dalam suasana hati Parza saat ini, satu menit terasa seperti setahun. Tuan Onn mengerutkan dahi. Perlahan-lahan dia menatap Parza, "Apa menurutmu itu tidak aneh?”“Tuan Onn, apanya yang aneh?”“Maksudku, Dewa Es,” jawab Tuan Onn sambil mengerutkan dahi. “Dewa Es?” Parza jadi lebih bingung."Rumah ini dijaga ketat, apalagi ketika perjamuan besar. Tentunya tidak mudah bagi siapa pun untuk keluar masuk rumah ini tanpa ijin. Bahkan jika Dewa Es memiliki kemampuan luar biasa, tidak mungkin dia bisa menghilang."“Aku juga berpikir seperti itu tapi aku juga tidak memahaminya,” Parza mengira Tuan Onn kepikiran sesuatu tapi ketika mendengarnya, Parza jadi lemas. Selain itu, apa alasan Dewa Es pergi?"Maksud Tua