"Sudahlah, Pak Anton. Kami punya bukti untuk membersihkan nama baik Ciara!" ujar Igo yang sontak membuat guru Biologi mesum itu pucat pasi.
Namun, masih saja Pak Anton bersandiwara. "Bukti apa maksud kamu, Igo? Kamu beda kelas dengan Ciara 'kan, bagaimana bisa tahu kejadian tadi? Jangan sok tahu ya!"
"Ya memang kami berbeda kelas, tapi mungkin saking semangatnya Bapak berbuat mesum dan panik terpergok melakukan hal busuk dengan Ciara, jadi lupa kalau kita bukan di zaman purba. Ada kamera CCTV di setiap sudut dan ruang sekolah elit ini, Pak!" jawab Igo santai.
Ciara pun tersenyum manis seraya menyerahkan sebuah CD ke tangan Pak Sujatmiko. "Silakan kalau Pak Kepsek mau menonton siaran ulang kelakuan bejat Pak Anton kepada saya tadi. Lengkap rekamannya dari sejak di dalam kelas. Beliau menyuruh teman-teman mengerjakan LKS, sedangkan saya diseret masuk ke ruang kantornya dan dikunciin tuh!"
"Baik,
"Cia, kamu dan Alex ada di mana?" tanya Mama Wina di telepon karena anak-anaknya belum juga muncul di kantor pusat perusahaan grup Sasmita padahal sudah pukul 15.15 WIB. "Apa sudah mulai rapatnya, Ma? Kami sudah di jalan kok, sebentar lagi sampai di sana!" jawab Ciara sembari melihat gedung berlantai delapan yang menjulang di sekitar 200 meter di depan mobil Igo yang melaju stabil di jalan raya."Oke, Mama tunggu ya. Nanti langsung naik ke lantai tujuh dan cari ruang meeting ya!" ujar Nyonya Wina sebelum mengakhiri telepon lalu dia masuk kembali ke dalam ruang rapat luar biasa sedang digelar.Pak Reynold Subrata yang duduk tenang menatap wanita itu kembali berada di kursi sebelahnya. Kursi kosong tiga di samping kiri Nyonya Wina memang sengaja disediakan untuk Alex, Ciara, dan Igo. Sayangnya mereka terlambat datang sore ini."Sudah di jalan kok, Mas Rey!" bisik Nyonya Wina lalu pria itu mengangguk paham. Di kepala meja berbentuk huruf O besar itu Pak Hartono duduk bersama Cindy deng
"Tunggu dulu! Apa kalian percaya istriku bisa menjalankan perusahaan ini dengan benar hingga tidak akan bangkrut?" sergah Pak Hartono ketika Nyonya Wina akan dilantik sebagai presiden direktur utama yang baru.Akhirnya, Nyonya Wina angkat bicara, "Sebentar lagi aku bukan istri kamu lagi, Mas Tono. Jangan bawa-bawa status yang sudah tidak relevan lagi dalam hubungan kita. Tadi kata kamu aku disuruh membedakan urusan pribadi dengan perusahaan!" "Hehh, Wina. Kau itu menantu serakah. Baru saja mertuamu meninggal dunia kok ini sudah mau menggulingkan suami kamu dari posisi presdir di perusahaan Sasmita!" tuduh Pak Hartono sinis.Wanita yang masih nampak awet muda itu duduk bersedekap dan mendengkus geli. "Maaf, tuduhan Mas Tono itu tidak ada artinya dibandingkan perselingkuhan kotor yang Mas lakukan hingga mencoreng reputasi perusahaan ini. Harga saham perusahaan ini jatuh karena video viral gancet kamu dan Cindy. Apakah salahku juga yang mengambil langkah tegas demi keselamatan perusahaa
"Selamat Wina untuk kemenanganmu di rapat tadi. Ini sudah petang, kita pulang ke hotel saja ya. Aku tadi meminta chef hotel menyiapkan malam malam untuk kita semua!" ujar Pak Reynold ketika turun dengan lift bersama Nyonya Wina dan anak-anak."Makasih ya, Mas Rey. Sepertinya kami merepotkan kamu terus!" sahut Nyonya Wina tak enak hati makan tidur gratis di hotel pria tersebut.Pak Reynold pun berkata, "Biarlah sementara begini dulu supaya aman. Aku menguatirkan Mas Hartono yang mungkin dendam karena sakit hati dilengserkan jabatannya olehmu dan anak-anak, Win. Ayo!"Nyonya Wina ikut bersama mobil Pak Reynold, sedangkan anak-anak naik mobil Igo yang diparkir di lantai under ground. Mereka sepakat bertemu di restoran Hotel Wonderful Paris Van Java.Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Igo, ketiga muda-mudi itu pun berbincang-bincang."Gue heran sama papa, kok kekeuh banget pe
"Maksud kalian apa dengan mengerjai Ciara kemarin siang di pelajaran Pak Anton? Karena ulah kalian guru Biologi yang sudah mengajar selama lima tahun harus resigned!" omel Pak Wisnu sembari duduk di meja kerjanya. Sedangkan, empat siswi kelas 10-A itu berdiri tertunduk cemas melirik takut-takut ke arah guru BP tersebut."Lho kok diam saja, jawab!" seru Pak Wisnu galak.Akhirnya, Jasmine pun angkat bicara, "Kami hanya ingin mencandai Ciara saja kok, Pak. Nggak ada maksud lainnya. Sayangnya situasinya jadi kacau ketika Pak Anton menyeret Ciara masuk ke kantor beliau. Apa kesalahan fatal itu murni kesalahan kami?!""Ciara sendiri yang heboh teriak-teriak histeris di kelas Pak Anton kemarin. Nggak adil dong kalau kami mendapat sanksi yang berat karena alasan sepele, Pak!" timpal Santi dengan decakan kesal."Hmm ... pinter ngeles kalian! Sebentar lagi ujian akhir semester gasal, jangan berbuat hal bodoh hanya karena iseng tak berguna. Atau kalian mau di-DO ya?!" ancam Pak Wisnu dengan waja
"Apa kamu sudah siap untuk memimpin penyitaan aset dari Mas Hartono dan wanita selingkuhannya, Win?" tanya Pak Reynold di dalam mobil yang melaju di jalan raya pagi itu.Nyonya Wina tersenyum tipis, dia menjawab, "Harus siap, Mas. Makin ditunda justru nggak baik efeknya. Mumpung masalah ini masih hangat-hangatnya 'kan?" "Baiklah. Hati-hati nanti. Akan kutemani kamu untuk menghadapi Mas Hartono dan Cindy. Mereka yang barbar nggak sepadan denganmu. Tahu nggak sih? Aku nggak habis pikir, rumah tangga kalian yang kamu jaga dengan hati-hati bisa kandas juga. Win, aku selama menduda sudah nahan pake rem pakem untuk nggak menghubungimu secara intens. Takut perasaanku lebih berkuasa dibanding logika. Apa ada ... kemungkinan kita merajut kisah cinta yang dulu belum selesai?" Pak Reynold mencoba untuk menurunkan batasan di antara mereka dari sekadar teman dekat menjadi lebih lagi.Mata indah dengan manik cokelat keemasan itu melebar, dia tak menduga akan ditanyai hal yang bersifat romantis sep
"Akan kulaporkan ke polisi atas tindak kekerasan yang kau lakukan kepadaku tadi, Reynold!" teriak Pak Hartono sembari mengelus-elus perut buncitnya yang masih sakit terkena pukulan keras rival cintanya itu. Dia melirik ke Nyonya Wina yang nampaknya tak bersimpati melihat dia kesakitan. 'Ckk ... si Wina, sudah move on rupanya ya!' batin Pak Hartono kesal."Oya? Sini sekalian kubuat babak belur, Mas Hartono. Rugi dong kalau sama-sama dilaporkan dan dilakukan visum hanya memar tak seberapa begitu. Minimal sampai pingsan masuk IGD lah ya. Gimana, Wina?" sindir Pak Reynold karena lawannya terlalu cemen.Nyonya Wina tertawa geli reflek karena situasinya begitu konyol di matanya. "Setuju, Mas Rey. Dia mah belain si Cindy melulu, ngapain pula aku pedulikan lagi? Maaf, aku bantuin tim penyitaan bekerja dulu ya karena keburu siang!" jawabnya dengan santai lalu menghampiri Pak Frans cs.Mendengar jawaban Nyonya Wina, calon duda itu
"Maaf, kursi yang ini apa kosong, Bang Alex? Kursiku diambil murid lain pas ke toilet tadi." Suara lembut bernada ragu-ragu itu sontak membuat Alex menoleh ke kiri. Belum sempat dia menjawab, Ciara sudah mendahuluinya, "Lind, duduk aja. Itu kosong kok, maklum Bang Alex 'kan jomblo kronis!""Wanjiiir, parah lo, Cia. Malu kali!" omel Alex sembari berdiri memberi jalan agar Lindsey duduk di sebelah Ciara. Tadinya kursi kosong itu sengaja dia gunakan untuk jeda agar tak terlalu pening melihat kemesraan adiknya dan Igo yang bikin auto diabetes saking so sweet."Bang, mending lo pacarin bestie gue nih. Udah baik, kece pula, bokapnya punya pabrik jamu. Kali lo bisa minta resep jamu ganteng sejagad kalo jadi menantu beliau!" olok-olok Ciara seperti biasa. Igo tertawa sampai menyembur. "OMG, Cia ... Cia kasihan abang lo, udah merah kuning ijo tuh mukanya lo sindir mulu!" "Biar paham lah, Go. Masalahnya Bang Alex kagak bisa ngelihat peluang emas gitu. Lindsey 'kan udah temenan lama sama gue,
Sepanjang perjalanan pulang, Ciara menahan lidahnya dan juga rasa lapar karena belum sempat makan siang tadi di kantin. Perpaduan yang membuat emosi berpusar-pusar di dalam dirinya dan tak tersalurkan.Untungnya mobil yang dikendarai oleh Igo meluncur lancar tanpa terhenti oleh kemacetan lalu lintas. Pemuda itu tahu bahwa Ciara sudah menahan diri begitu rupa agar tak meledak dalam amarah. Akhirnya mereka pun sampai di garasi kediaman Sutedja. Mobil diparkir rapi oleh Igo karena dia tak ada rencana pergi ke luar rumah lagi nanti."Yuk turun, Beib!" ajak Igo seraya membuka pintu mobil. Ciara pun ikut turun dan berjalan di samping Igo yang merangkulnya mesra. Dia tahu suaminya sedang menjaga hatinya agar mereka tak bertengkar dahsyat sesampai di rumah."Kita makan siang dulu aja ya, baru ntar ngobrol di kamar atau mau di taman belakang rumah aja?" tawar Igo sambil mengarahkan Ciara ke ruang makan.Nyonya Chintami baru saja selesai memasak menu makan siang karena Igo mengirim pesan sepul
"Mbok, jangan halangi saya pergi!" teriak Cindy sembari berusaha mendorong tubuh renta Mbok Parni yang menghalanginya membawa koper besar dan beberapa tas jinjing."Tuan Besar sudah pesan tadi, Bu Cindy tolong ya jangan bawa barang apa pun kalau memang ngeyel pergi malam ini!" sergah Mbok Parni. Cindy tetap nekad dan dia mendorong Mbak Parni hingga terjatuh ke lantai yang keras. Sayangnya tepat pada waktu itu Pak Hartono memasuki ruang tengah."Tuan Besar!" panggil Mbok Parni sambil mengusap-usap bokong kurusnya yang memar terbentur lantai. "Iya. Serahkan saja ke saya. Panggilkan satpam di depan ya, Mbok!" titah Pak Hartono. Tatapan matanya mengunci sosok Cindy. Dia menghampiri wanita jahat dan matre itu lalu menampar keras wajahnya hingga Cindy tertoleh ke samping."Mas!" seru Cindy memegangi pipinya yang panas dan memerah karena cap lima jari tangan.Pak Hartono berteriak menggelegar, "DASAR PELACUR MURAHAN!!" Iphone seri terbaru di tangan Cindy dirampas lalu dibanting hingga peca
"Welcome to our campus!" ujar teman sekamar Igo di asrama mahasiswa MIT. Pemuda asal Jepang itu mendapat beasiswa penuh sama seperti Igo yang kebetulan satu jurusan juga. Dia mengulurkan jabat tangannya ke Igo, "Kenalkan, namaku Hideo Takajima. Baru sampai di sini dua hari lalu!""Aku Rodrigo Gunadarma Sutedja. Asalku dari Indonesia. Mungkin kamu akan lebih mudah mengingat nama panggilanku. Igo, itu saja!" balas Igo ramah. Hideo akan menjadi teman sekamarnya untuk waktu yang entah berapa lama."Nice, aku suka nama yang singkat. Mudah diingat dan wajahmu seperti bintang film, Bro. Keren sekali!" puji Hideo sembari duduk di lantai kamar beralas karpet. Kemudian Igo membongkar kopernya yang berisi pakaian, barang-barang pribadi, dan makanan kering yang sengaja ditaruh oleh Mama Tami ke dalam bawaannya. Dia pun mulai mengirim telepati dengan penuh konsentrasi ke Ciara, berharap jarak yang luar biasa jauh tak menghilangkan kemampuan istimewa itu.'Beib, hai ... apa lo denger suara gue? In
Seusai resmi menjadi suami Nyonya Wina, pengusaha tajir melintir itu membawa anak dan istrinya tinggal bersama di rumah megah bak istana yang ada di tengah kota Bandung. Memang sebelum Igo berangkat ke Massacussets, Amerika, Ciara tetap tinggal di kediaman Sutedja. Namun, nanti setelah suaminya berangkat kuliah ke luar negeri, Ciara akan tinggal bersama keluarga barunya.Hari demi hari yang dilewati selama sebulan itu bergulir begitu cepat sehingga tanggal keberangkatan Igo tersisa di besok sore penerbangannya."Cayank, gue nggak rela rasanya elo pergi besok!" ucap Ciara di balkon kamar mereka di lantai dua malam itu. Angin malam yang berhembus membuat hati terasa membeku. Ciara bergidik sedikit, Igo segera mengambil jaket untuk menghangatkan istrinya. "Lo jaga kesehatan selama kita LDR. Jangan ilang kontak sama Gabe dan Renata kalo lo lagi di luar rumah!" pesan Igo.Kepala Ciara terangguk pelan. Air mata merembes melalui sudut matanya. Igo makin berat saja meninggalkan si cantik imu
"Pengantinnya sudah boleh turun ya, tamu-tamu sudah memadati meja pesta!" kata Bu Ursula kepada Ciara melalui HT."Okay, copy! Kami akan langsung turun dengan pengantin, Bu Ur!" sahut Ciara lalu memberi kode ke Mama Wina dan Papa Reynold bahwa sudah saatnya acara dimulai di venue party.Pasangan yang tak lagi muda itu nampak berbinar-binar wajahnya. Sedikit unik karena bridesmaid semuanya ibu-ibu berbadan subur dengan beberapa anak sudah remaja."Mbak Wina, kamu cantik sekali lho ngalah-ngalahin yang dua puluhan!" puji Tante Anjali dengan nadanya yang selalu khas rumpi."Kakak pertama kita 'kan memang awet muda sih, Anjali!" sahut Tante Merry yang membantu mengangkat ekor gaun putih panjang Mama Wina.Dalam lift Pak Reynold yang dikerubuti kaum ibu-ibu hanya bisa memasang senyum tipis. Istrinya meliriknya gemas lebih dikarenakan dia santai dan tidak jelalatan matanya. Tangan halus yang terasa sejuk itu berada di genggaman telapak tangan lebar Pak Reynold saat lift berbunyi tanda samp
Kabar bahwa Mama Wina dan Pak Reynold telah sepakat menikah membuat anak-anak mereka turut bergembira. Bahkan, Vincent mendesak agar perayaan pernikahan segera diselenggarakan. Dia berencana mengajak Grandpa Damon Hawkins terbang ke Indonesia untuk menghadiri acara spesial sekali seumur hidup ayah kandungnya tersebut.Masih dalam suasana libur kenaikan kelas serta kelulusan, Ciara dan Alex serta Igo membantu persiapan pesta dengan memilih menu katering, dekorasi bunga, dan entertainment. Rencananya memang lokasi pesta resepsi di taman belakang Hotel Wonderful Paris Van Java sesuai permintaan Mama Wina agar budget tak berlebihan. Namun, tetap representatif untuk menjamu tamu kolega calon suaminya yang notabene pengusaha sukses."Bu Ursula, kami sudah putuskan warna kain dekorasi nuansa putih, kuning, dan jingga. Maknanya sekalipun usia mulai senja, tetapi masih bersinar indah!" tutur Ciara usai berdiskusi dengan kakaknya dan Igo.Pimpinan Wedding Organizer (WO) yang bernama Bu Ursula i
"Halo, Wina. Gimana kalau kamu jalan-jalan denganku saja karena anak-anak asik proom night di sekolah sampai larut malam 'kan?" ajak Pak Reynold melalui telepon HP."Halo, Mas Rey. Iya, nggakpapa. Mau berangkat jam berapa nih?" sahut Nyonya Wina santai. Dia melirik jam dinding di kamar hotel sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB."Aku naik sekarang jemput kamu di sana, oke?" balas Pak Reynold lalu mengakhiri telepon ketika menerima jawaban positif dari teman kencannya malam ini. Pria matang berparas rupawan itu segera naik lift menjemput Nyonya Wina.Bunyi bel dua kali membuat wanita yang telah siap bepergian dengan penampilan anggun simple seperti gaya biasanya. Dia membuka pintu kamar hotel dan sempat merasakan jantungnya seolah terhenti sejenak ketika melihat pria di hadapan matanya."Ehh ... apa tempat yang akan kita datangi harus mengenakan pakaian resmi, Mas?" tanya Nyonya Wina melihat Pak Reynold Subrata dalam setelan tuxedo silver grey dengan dasi merah maroon."Kamu mengenakan ba
"Oke, Guys. Di malam yang penuh kenangan ini, kita akan menyaksikan beberapa penampilan istimewa dari kakak-kakak senior idola SMA Teruna Negeri. Tanpa membuang waktu lagi, kita panggil Kak Igo, Kak Alex, Kak Jacky, Kak Kevin, dan Kak Mike ke atas panggung!" Sabrina Elvira, anak kelas 11-B yang dipercaya menjadi MC proom night memanggil genk Auto Drift."Show time, Genks!" ucap Igo penuh percaya diri memimpin rekan-rekannya naik ke pentas.Jeritan histeris siswi-siswi SMA Teruna Negeri dan siulan para adik kelas membuat para jajaka Bandung itu makin bersemangat membagikan penampilan terakhir mereka sebagai bagian SMA Teruna Negeri.Igo memberikan kehormatan kepada Alex untuk memberikan sepatah dua patah kata sambutan atas penampilan pamungkas mereka berlima. Dia siap duduk di kursi dengan gitar listrik akustik dan stand by mikrofon. Alex pastinya dengan biola pribadi yang dia bawa sendiri. Jacky duduk di atas kotak perkusi siap menabuh sesuai irama lagu. Sedangkan, Mike bermain bass g
"TOK TOK TOK." Igo mengetok pintu kamar mamanya dengan tak sabar. Pasalnya, pendamping proom night pemuda itu sedang disandera oleh Mama Tami untuk dimake-over wajah dan rambutnya."Mama, lama amat sih di dalem!" seru Igo senewen. Dia merasa Ciara sudah cantik tanpa perlu didandani heboh.Sementara itu Mama Tami dan Ciara terkikik kompak di depan cermin rias mendengar suara Igo di luar. "Tuh suami kamu, Cia. Baru ditinggal kamu satu jam udah heboh si Igo. Hihihi!" ujar Mama Tami."Nggakpapa, Ma. Nanti juga semalaman berdua melulu. Apa dandannya sudah kelar?" jawab Ciara sambil tersenyum memandangi pantulan bayangan di cermin rias mama mertuanya."Sudah kok. Cantik banget, Igo beruntung mendapat pasangan proom night yang secantik bidadari. Teman-temannya pasti iri!" puji Mama Tami lalu membantu Ciara bangkit dari kursi rias. Dia pun bertanya "Korsasenya belum dibagiin ya sama panitia acara?" "Belum, Ma. Di depan aula sih kata anak OSIS yang ikut panitia proom night!" jawab Ciara sebel
Masih dengan gaun tidur tipisnya Cindy menuruni tangga lantai dua ke bawah. Hari sudah menunjukkan pukul 10.00, matahari sudah tinggi di luar sana. Dia belum juga mandi maupun melakukan aktivitas yang berarti.Pak Hartono yang sedang duduk membaca koran di sofa ruang tengah ditemani secangkir kopi hitam mendengar langkah-langkah wanita itu. Dia pun menutup lembaran koran lalu menyapa wanita kesayangannya, "Pagi, Cindy! Baru bangun ya?""Hoamph ... iya masih ngantuk. Kan dinas semalaman, Mas!" jawab Cindy. Memang tadi malam dia terpaksa melayani Pak Hartono yang menagih jatah untuk diservis."Hohoho. Iya, yang semalam enak deh. Mas demen banget!" sahut pria botak berkumis subur itu menyunggingkan senyuman mesum."Laper nih, Mas. Mbok Parni apa sudah masak sarapan?" Cindy yang duduk manja menyandar di badan Pak Hartono celingukan mencari pelayan tua suaminya itu.Pak Hartono pun me