“Bagaimana ini, Tuan? Dia akan dibawa untuk membuang janin dalam kandungannya. Itu tidak boleh terjadi dan aku tidak ingin Alesha kehilangan bayi buah cinta kami itu!” cerocos Petrus sambil terus memutar setir bulat di depan dadanya.“Tenanglah, Pet. Kau tidak boleh terlalu khawatir dan panik saat sedang menyetir seperti ini!” hibur Vero yang sebenarnya juga sangat khawatir dengan keadaan Alesha.“Aku tidak bisa tenang, Nyonya.”“Kau tahu di rumah sakit mana Alesha dibawa?” tanya Rayhan dengan serius dan memegang ponsel di tangannya saat ini.Petrus baru menyadari kecerobohannya setelah jauh berjalan meninggalkan kediaman Alesha. Hal ini tentu saja membuat Petrus memukul setir dengan keras dan merutuki kebodohannya itu. Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika semua terlambat dan tidak lagi bisa menyelamatkan bayi dalam kandungan Alesha saat ini. Petrus hampir saja menangis saat dia mendengar Rayhan berbicara.“Kau temukan di mana saja wanita itu berada dalam waktu lima menit. Ke
Dalam waktu singkat, kendaraan roda empat itu sampai di sebuah rumah sakit yang lokasinya lumayan terpencil dari kota. Semua itu dilakukan oleh orang tua Alesha demi menjaga nama baiknya sebagai mantan prajurit negara. Dia tidak ingin kabar tentang anaknya yang janda, ternyata kini mengandung tanpa pernikahan.Padahal, sudah dengan suka rela dan berulang kali Petrus meminta izin padanya untuk bisa menikahi Alesha. Hanya saja, pria tua itu terus menolak dengan alasan bahwa mereka tidak sepadan. Mana mungkin seorang seperti Boris akan menyerahkan putrinya pada seorang yang tidak memiliki titel. Baginya, Petrus hanya seorang kacung atau pesuruh dan tidak bisa memberikan masa depan yang cerah pada putrinya kelak. Dia berpikir terlalu jauh sebagai orang tua dan lelaki.Namun, semua itu tentu tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena memang seorang ayah akan selalu memikirkan masa depan buah hatinya. Meskipun dia sudah dewasa dan menikah, atau berpisah dengan pasangannya. Seorang ayah tidak a
“Jaga bicaramu dan hargai tuan mudaku!” hardik Petrus yang masih berdiri di samping ranjang Alesha.“Kenapa aku harus menghargai anak buangan seperti dia? Anak tiri yang posisinya sama sekali tidak diinginkan oleh keluarganya. Ibunya ... hanya seorang wanita penggoda yang berusaha naik ke atas ranjang pria kaya demi harta dan kekuasaan!” ungkap Boris dengan penuh rasa percaya diri dan tidak takut sama sekali kepada Rayhan. Mendengar tuannya dihina dan direndahkan seperti itu, Petrus tidak lagi bisa menahan diri. Dengan gerakan cepat, dia melesat ke depan Boris dan melayangkan tangannya ke udara. Hal itu tentu saja dapat dengan cepat pula dihindari oleh Boris. Dia adalah mantan militer dan bisa dipastikan bahwa ilmunya masih ada sampai saat ini.Meskipun tenaganya tidak sekuat dulu lagi, hal-hal seperti pukulan dan tendangan itu masih bisa dia atasi. Hanya saja, dia sudah tidak lagi punya senjata api untuk bisa memberikan perlawanan pada lawan yang memakai senjata.“Tangkisanmu cukup
“Ada apa, Petrus? Kenapa kau membawa Alesha dari rumah sakit ini? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tidak sadarkan diri saat ini?”Pertanyaan beruntun itu terlontar dari mulut Vero yang melihat Petrus keluar dari rumah sakit dengan menggendong tubuh Alesha yang tak sadarkan diri. Sementara itu, di belakangnya Rayhan juga berjalan dengan langkah cepat dan dari raut wajahnya bahwa dia sedang menahan amarah saat ini. Vero hafal sekali dengan perubahan pada wajah Rayhan sebagai seorang istri.“Nyonya, nanti akan aku jelaskan semuanya. Tapi, sekarang aku minta tolong padamu untuk bisa menahan tubuh Alesha setidaknya sampai di rumah sakit,” terang Petrus dengan tak berdaya dan tak bisa lagi menahan ucapan itu keluar dari rongga mulutnya, meski sebenarnya dia tidak berani.“Aku memangku Richard, bagaimana bisa aku menahan tubuhnya?” tanya Vero sedikit heran.“Aku akan memangku Richard, Sayang. Tolong pegangi sahabatmu karena saat ini bius dalam tubuhnya tidak akan lama lagi hilang. Jika h
Dokter setengah abad yang kini berdiri tepat di depan Rayhan itu, hanya mengulas senyum saat mendengarkan ancaman itu. Namun, Rayhan jelas melempar aura kemarahan di raut wajahnya saat ini. Suasana di sana jelas sangat mencekam oleh sebagian orang di sana.“Kau tidak pernah berubah, Boy!” seru dokter itu dengan lembut.“Jangan panggil aku dengan nama itu lagi! Aku tidak suka dengan nama yang kau sebutkan itu!” balas Rayhan sekali lagi dengan nada marah yang sangat jelas terdengar.“Baiklah, Nak. Kau sama seperti ibumu, sangat keras kepala dan tidak bisa melihatku dari sisi baikmu.”“Kalau kau ingin terlihat baik di mataku, setidaknya lakukan hal yang baik satu kali ini di depanku. Selamatkan sahabat istriku dan berikan pengobatan terbaik untuknya!”“Kalian dengar yang anakku katakan? Lakukan semua itu segera!” titah dokter pria bernama Martin itu dengan tegas pada semua tenaga medis yang ada di belakangnya.“Baik, Dokter Kepala. Kami akan melakukannya,” sahut salah satu dokter muda de
Dua orang ajudan datang dengan membawa banyak sekali makanan di kedua tangan mereka. Saat ini, mata Vero langsung melirik ke arah Rayhan, karena sudah yakin jika Rayhan adalah biang dari semuanya.“Kenapa kau memesan makanan begitu banyak?” tanya Vero dengan heran.“Aku tidak tahu makanan apa yang kalian berdua ingin makan. Jadi, aku pesan saja semua menu di restoran biasa tempat kita makan,” jawab Rayhan dengan entengnya.“Ya Tuhan, Ray! Tidak perlu sebanyak ini juga, karena kita tidak akan bisa menghabiskan makanan sebanyak ini.”“Tidak masalah. Kita bisa berbagi pada orang yang ada di sini nanti.”“Kau pikir mereka mau? Mereka yang datang ke sini pasti adalah orang yang memiliki uang banyak dan tidak mau menerima pemberian dari orang lain. Mereka juga mampu membelinya kalau mereka ingin,” terang Vero dengan penuh rasa percaya diri.Rayhan memang tidak bisa berdebat keras dengan Vero karena dia tentu lebih tahu hal-hal seperti itu. Dibandingkan dirinya, Vero memang lebih peka dan pe
Petrus pura-pura tidak mendengar saja yang baru saja diucapkan oleh Rayhan pada Vero. Hal itu karena memang tidak seharusnya dia menguping pembicaraan majikannya. Dia juga masih fokus pada keadaan Alesha dan calon bayi mereka yang entah bagaimana sekarang perkembangannya. Makan pun tak lagi berselera, tapi takut jika Rayhan dan Vero marah makanya Petrus tetap mengunyah makanannya dengan gerakan malas.“Siapa yang bertanggung jawab untuk pasien di dalam?” tanya Martin yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan dan perawatan intensif.“Aku, Dok!” jawab Petrus yang bergegas berdiri dan meletakkan kotak bentonya begitu saja di kursi tunggu.“Baik. Silakan ikut aku ke dalam untuk mengetahui perkembangan lebih lanjut pasien di dalam. Aku bahkan tidak tahu nama pasien yang sudah aku periksa,” ungkap Martin sambil melirik sekilas pada Rayhan yang masih duduk berhadapan dengan Vero saat selesai berbicara pada Petrus.“Namanya Alesha, Dok. Dia adalah calon istriku dan aku akan bertanggung j
Terus terang saja ada sisi hati Vero yang tergores saat mendengar semua yang Rayhan ucapkan tadi. Meski sekarang dia sudah bisa melunakkan hatinya dan menganggap bahwa itu hanya ucapan Rayhan saat sedang emosi dan marah saja. Namun, tetap saja itu bukanlah yang biasa bagi Vero selama dia kenal dan hidup bersama Rayhan.“Sayang, dengarkan aku dulu. Jangan marah dan diamkan aku seperti ini,” pinta Rayhan saat keduanya sudah berada di dalam ruangan Alesha.“Ssstt ... jangan berisik dan membuat Alesha terganggu,” tegur Vero dengan menempelkan tangannya di bibir lalu menatap ke arah Rayhan.“Oke. Nanti kita bicara lagi setelah dari sini,” bisik Rayhan dengan suara yang nyaris tak terdengar.Ingin sekali Vero tertawa rasanya saat mendengar Rayhan berbisik dan seperti anak kecil yang memohon ampun pada ibunya saat ini. Namun, hal itu dia tahan karena tidak ingin membuat Rayhan menjadi besar kepala dan tidak merasa bersalah lagi padanya. Sebagai seorang istri, tentu saja Vero harus mempertaha
Mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung mencari keberadaan Petrus dan juga Rayhan. Vero adalah yang paling panik karena Rayhan ternyata tidak ada di sana. Lelaki itu sudah langsung dipindahkan dan diberangkatkan menggunakan jet pribadi ke Amerika.Sementara Petrus sudah melewati masa-masa kritisnya dan hal itu membuat Alesha merasa tenang. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk Vero saat ini selain memberikan penghiburan saja. Petrus juga tidak berani mengatakan di mana alamat Rayhan dirawat di Amerika kepada Vero.“Sayang ... tenang dan sabarlah menunggu. Semoga ada kabar baik tentang Rayhan sebentar lagia dari dokternya,” ucap Alesha yang ingin menghibur Vero dalam hal ini.Sudah tiga hari sejak Petrus sadarkan diri dan masih dirawat dengan intensif di rumah sakit itu. Alesha selalu menemani suaminya itu tanpa henti dan begitu pula Vero yang setiap hari datang ke sana untuk mencari tahu kabar tentang Rayhan.“Aku akan sabar menunggu dan tidak akan bosan datang ke sini untuk b
Tubuh Vero merosot ke lantai aspal saat mendengar yang baru saja dikatakan dan dijelaskan oleh Alesha. Dia sudah keluar dari dalam mobil dan mencoba menenangkan Alesha yang tampak sangat cemas dan juga takut. Akan tetapi, saat ini justru dia lah yang tampak paling terguncang.“Vero, ayo bangun! Ayo kita periksa mereka ke rumah sakit. Aku tidak bisa tenang sampai kau datang. Tadinya, aku ingin pergi terlebih dahulu karena tidak sabar menunggumu. Tapi, aku rasa kita memang harus pergi bersama,” ungkap Alesha pada Vero dengan banjir air mata saat ini.“Katakan padaku bahwa semua ini tidak benar, Al. Katakan sekali lagi bahwa kabar ini semuanya bohong. Dia hanya ingin membuatku merasa bersalah dan kembali padanya. Bukan kah begitu?” tanya Vero pula dengan deraian air mata tak berhenti sejak tadi.Alesha masih berusaha membujuknya untuk berdiri, karena saat ini Vero masih duduk di lantai aspal yang keras. Panasnya aspal itu tidak lagi dirasakan oleh Vero karena pikirannya entah sudah ke ma
Sebenarnya Vero mengetahui semua itu dari mulut Rayhan langsung ketika pria itu mabuk dan pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah lima tahun berpisah. Vero tidak punya alasan untuk tidak percaya pada semua yang diucapkan Rayhan pada saat itu.Jadi, dia mengatakan yang sebenarnya kepada William saat ini karena merasa putranya berhak tahu yang sesungguhnya. Tidak ada lagi dusta yang ingin Vero rajut dalam hidupnya saat ini. Terlalu banyak kebohongan dan juga kepalsuan sehingga membuatnya menjadi tidak berdaya.“Sekarang, apa yang terjadi pada ayahku itu?” tanya William setelah beberapa saat mereka saling berdiam diri di dalam kendaraan roda empat itu.“Dia pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tapi, dia memang sedang dalam keadaan yang tidak baik sejak kemarin.” Vero menjawab dengan tegas dan juga keyakinan penuh.“Dari mana Mami tahu kalau dia dalam keadaan yang tidak sehat?” tanya William mulai menginterogasi ibunya itu.“Aku merawatnya semalaman, Willy! Aku ada di
“Kau mau ke mana?” tanya Marco dan menghalangi langkah Vero.“Aku ada urusan penting. Untuk sekali ini, aku meminta tolong padamu untuk menjaga William,” jawab Vero yang hatinya sudah semakin hambar kepada lelaki di hadapannya itu.“Aku melarangmu pergi!” seru Marco dengan nada tegas.“Kau tidak berhak melarangku!” balas Vero pula tak kalah tegas.“Tentu saja aku berhak. Itu ada di dalam surat perjanjian kita di nomor delapan. Pihak pertama berhak meminta atau melarang pihak kedua dalam satu hal yang terjadi di kemudian hari,” jelas Marco membacakan lagi isi perjanjian pernikahan yang sudah mereka tanda tangani bersama.Vero terdiam dan tidak bergeming sedikit pun setelah mendengar penjelasan dari Marco itu. Memang benar seperti yang Marco katakan itu dan tidak bisa dipungkirinya lagi. Namun, tetap saja Vero tidak bisa untuk tidak pergi kali ini karena Rayhan dalam bahaya.Dia tidak tahu apa dan bagaimana keadaan pria itu sekarang dan dari nada bicaranya Alesha tadi, jelas Vero menget
Sebuah tamparan mendarat di pipi Marco untuk pertama kalinya, dan tangan Vero lah yang sudah memberikan tanda kemerahan berbentuk jari di sana. Semua itu reflek dilakukan oleh Vero karena merasa tidak terima dengan ucapan yang dilontarkan Marco.“Kau menamparku, Vero?” tanya Marco tak percaya.Sebelah tangannya menahan rasa perih di pipi yang masih berbekas kemarahan itu. Sedikit meringis menahan rasa sakit yang tidak bisa dipungkirinya, Marco masih menatap nyalang pada Vero.“Itu pantas untuk kau dapatkan, Marc! Ucapanmu itu sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa aku terima!”“Bukan kah semua itu benar? Kau sudah bermalam dengannya dan menghabiskan malam penuh gairah bukan? Siapa dia? Dia hanya mantan suamimu dan kau rela memberikan tubuhmu padanya. Lalu, siapa aku? Aku adalah suamimu dan seharusnya aku yang lebih berhak atas dirimu,” ungkap Marco dengan sangat berang menatap Vero.Sekali lagi hati Vero terasa dicabik-cabik saat mendengar ucapan Marco yang tak beralasan itu. Dia mem
“Apa yang terjadi di sana semalaman?”“Tidak terjadi apa-apa. Tolong jangan membahas hal itu lagi, Marc! Aku tidak ingin membahasnya.”“Tapi, aku dan William mencemaskanmu semalaman. Tidak adakah hal yang ingin kau jelaskan pada kami?”“Tidak ada yang perlu dijelaskan dan tidak ada yang perlu kau tahu. Bukan kah sejak awal sudah kita sepakati bahwa tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing? Aku tidak pernah bertanya hal pribadimu dan tidak pernah ikut campur, Marc. Jadi, tolong jangan melewati batasanmu!” ungkap Vero dengan nada tegas dan baru kali ini dia berbicara seperti itu kepada Marco.Cukup terkejut Marco mendengar ocehan yang dilontarkan oleh Vero beberapa detik lalu itu. Namun, saat ini dia jelas tidak bisa mendebat wanita yang kini duduk di sisi ranjangnya. Marco memang sengaja meminta izin untuk masuk ke dalam kamar Vero untuk berbicara empat mata.Mereka sudah sampai di rumah setengah jam yang lalu dan nyaris tidak ada percakapan selama dalam perjalanan pulang. Ha
“Bagaimana sekarang, Sayang? Aku tidak mau Vero terluka dengan niat Rayhan itu. Aku juga tidak ingin membuat Rayhan tersisksa dengan hubungan mereka yang justru memburuk setelah bertemu dari perpisahan yang sangat lama ini,” ungkap Alesha yang menahan langkahnya di pertengahan anak tangga.“Tenanglah, Sayang. Jangan memikirkan hal yang terlalu jauh untuk saat ini. Mungkin tuan muda hanya merasa emosi saat ini.” Petrus mencoba menenangkan Alesha dari dugaannya itu.“Apa kau pikir dia tidak akan benar-benar merebut Richard dari Vero?” tanya Alesha sedikit ragu.“Aku berharap itu tidak akan terjadi. Tuan muda bahkan tidak melirik putranya sama sekali tadi,” jawab Petrus pula dan mengingat sikap dingin Rayhan pada William tadi.“Itu tidak bisa menjadi acuan bahwa dia tidak peduli dan tidak menginginkan putranya, Sayang.”“Aku akan mencoba untuk membujuknya dan memberikan saran yang lain.”“Saran apa? Aku tahu bahwa Vero adalah wanita yang keras kepala dan dia tidak akan mengubah keputusa
Rayhan menghentikan tangannya yang hendak menuangkan air hangat ke dalam gelas. Sorot matanya tajam menatap ke arah Vero. Wanita itu terlihat begitu terkejut mendapatkan tatapan seperti itu dari Rayhan. Tatapan yang tajam dan seakan ingin mengoyak jantung Vero saat ini juga.“Kau siapa? Beraninya kau memerintahku di rumahku sendiri!” seru Rayhan dengan sinis.Tidak pernah sebelumnya Vero berpikir jika pria itu akan mengatakan hal sekasar itu padanya. Namun, tetap saja Vero tidak boleh gentar dan terlihat begitu lemah. Dia tersenyum tipis pada lelaki yang baru saja ingin dirawatnya sepenuh hati. “Aku memang bukan siapa-siapa di sini. Baiklah, kalau begitu aku akan segera pamit. Aku tidak ingin terlalu lama di sini dan membuat suamiku menunggu!”“Suami yang bahkan tidak pernah menyentuhmu?” tanya Rayhan dengan nada mengejek.“Kau tahu apa tentang rumah tanggaku dengan istriku?” tanya sebuah suara yang entah sejak kapan berada di dalam ruangan itu bersama mereka.Vero mengalihkan pandang
Mata Alesha bergerak ke arah anak tangga dan melihat jika di sana Rayhan sudah berhenti mengayunkan langkah kakinya saat mendengar ucapan Vero tadi. Wajah Rayhan tampak merah padam yang mungkin saja kini sedang merasa marah atau kecewa tingkat tinggi pada Vero.“Jangan katakan itu, Vero sayang. Kau tidak bisa mengeluarkan kata-kata palsu seperti itu, dan aku tahu apa yang sebenarnya kau rasakan!” ucap Alesha berusaha membuat Vero mengubah pengakuannya. Dia ingin Vero akhirnya jujur pada perasaannya sendiri tanpa disadarinya.“Tidak, Alesha. Aku tidak lagi mencintainya dan aku tidak ingin lagi kembali bersamanya. Aku sudah bahagia dengan suami dan putraku saat ini. Aku ingin menjalani hidup yang normal seperti yang selalu aku inginkan sejak dulu. Aku mendapatkan semuanya saat aku bersama Marco,” ungkap Vero pula dan dengan helaan napas yang terasa berat dia memaksakan tersenyum.“Kau hanya merasa nyaman dan tenang karena tidak ada yang menghantuimu dengan status. Tapi, kau tidak pernah