"Hasan Basrie dan Mami Marimar," bisik Joya pelan, tubuhnya bergetar saat melihat mereka berdua masuk di temani Manda dan tentu saja Naomi.
Astaga, harusnya Joya tahu siapa manusia laknat yang ada di balik pemecatannya ini. Siapa lagi kalau bukan Naomi, argh ... tidak cukup kah wanita sial ini memorak-porandakan kehidupannya.
"Hai ... Joya, masih inget Mamih?" tanya Marimar sembari mengedipkan sebelah matanya.
Joya hanya bisa menelan ludahnya, rasa takut bercampur kalut juga cemas benar-benar Joya rasakan saat ini. Dia kaget kenapa mereka berdua bisa ada di sini? Kenapa masa lalunya bisa diketahui oleh Naomi dan Manda? Ya Tuhan ... mau apa lagi manusia menyebalkan bernama Manda itu? Argh ... andai tidak ada Mayang mungkin Joya sudah menendang Manda dan mencabik wajah Naomi.
"Sil
Joya melangkah di lorong yang akan membawanya ke arah lobi, hampir dua jam dia mengurus semuanya. Mayang benar-benar membangun mengurus gaji, asuransi dan segala macam tektek bengek urusan pengunduran diri. Hatinya hancur saat menandatangani surat pengunduran diri yang ternyata sudah di siapkan oleh Mayang dan bagian personalia. Dia hanya bisa menahan tangisnya saat memberikan surat pengunduran dirinya, tidak ada ucapan salam perpisahan dari rekan-rekan sejawatnya ataupun prosesi yang bisanya dilakukan rekan-rekannya bila ada salah seorang yang mengundurkan diri. Pedih. Dirinya harus mengundurkan diri dalam diam dan tidak menimbulkan kegaduhan sama sekali. Menyedihkan. Joya menatap Fajar yang sedang menunggunya dengan sabar di salah satu kursi di lobi, kekasihnya itu tampak santai dan tampan seperti biasanya. Ah ... apa yang h
"Ngaco!?" maki Fajar saat mendengar nama lengkap Byan terlontar dari mulut Naomi, Byan memang saudaranya yang paling hobi mencicipi semua sugar baby, lonte kelas atas atau bahkan ayam kampus.Nama Byan sudah terkenal di jagat dunia perlendiran, konglomerat tajir yang hobi membeli wanita-wanita malam untuk menuntaskan hasrat seksualnya. Tapi, Byan pensiun setelah berpasangan dengan Szasza, wanita yang menurut Byan bisa memuaskan segala fantasi seksualnya.Tapi, Joya? Astaga ... Fajar sama sekali tidak habis pikir. Kenapa, kenapa sampai kekasih kecintaannya itu menjadi salah satu penghangat ranjang Byan!? Dan demi semua makhluk bumi di jagat raya, mengapa Byan dan Joya tampak biasa saja, seolah tidak saling mengenal sama sekali!? Keparat!"Kamu kalau ngomong jangan ngawur, Naomi!?" bentak Fajar sambil mengeratkan cekikkannya, membu
"Fajar!?" teriak Joya saat merasakan tubuhnya di dorong hingga tembok dan menatap manik mata Fajar yang penuh dengan rasa marah, kesal, jijik dan kebencian. "Kamu jual diri kamu sama Byan, kan!?" teriak Fajar. Tubuh Joya bergetar ketakutan saat mendengar teriakkan Fajar, ini adalah pertama kalinya Fajar berteriak sekeras dan semarah ini. Oke ... dulu dia sering dicaci dan dimaki oleh Fajar, tapi, dulu pun tidak separah ini. Wajah Fajar sangat menakutkan!? "Jar, siapa yang bilang aku jual diri sama Byan?" tanya Joya sambil menatap wajah Fajar, mencoba menenangkan Fajar yang menatapnya seolah dirinya adalah makhluk paling hina di muka bumi ini. "Kamu nggak perlu tau, aku cuman butuh jawaban kamu!? Kamu jual diri, hah!?" Fajar berteriak keras sekali hingga membuat semua urat di
"Tolong!?" jerit Joya seraya memukuli Fajar yang dengan kuatnya memeluk Joya dan menarik seluruh bajunya dengan paksa."Kenapa harus Byan?!" seru Fajar sambil berusaha menyentuh dan menggigit bagian tubuh Joya yang bisa ia sentuh dan gigit. Fajar seperti kesetanan dan tidak peduli dengan teriakkan Joya yang mengiba dan memohon agar Fajar menghentikan perbuatannya."Fajar, stop ... aku mohon," isak Joya sambil memejamkan matanya berharap saat ia membuka kelopak matanya ia mendapati Fajar yang manis dan selalu tersenyum pada dirinya. Bukan, Fajar yang menakutkan dan membuat sekujur tubuhnya bergetar karena takut.Brak ... Brak ... Brak ....Fajar memukuli lantai yang ada di samping kedua kuping Joya dengan keras, tubuh Joya bergetar saking takutnya saat mendengar suara pukulan dan
Fajar menatap air yang mengalir dari keran air dengan tatapan hampa, entah sudah berapa lama ia duduk dan menatap air. Berkali-kali dia menghela napas, seolah dengan menghela napas ia bisa menghilangkan semua beban pikirannya. Namun, nihil beban pikirannya seolah makin berat di tiap tarikan napasnya itu."Why, Joy? Why?" tanya Fajar sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya. Sesak rasanya saat mengetahui orang yang sangat ia cintai malah menipu dirinya bersama dengan orang yang sangat Fajar percayai.Fajar menutup keran air dan menceburkan dirinya ke dalam bathup berusaha menenangkan dirinya, berharap air hangat mampu merelakskan setiap jengkal tubuhnya yang lelah.Tanganya berusaha mengambil ponsel yang ada di samping bathup, dengan cekatan Fajar menekan angka-angka di layar ponselnya.
Joya meminum air putih hingga tandas dari gelasnya dengan terburu-buru hingga membasahi kemeja milik Fajar yang masih ia kenakan.Prang!?Joya melemparkan gelas itu ke wastafel hingga pecah berkeping-keping, gelas itu hancur sehancur hatinya yang hancur karena perkataan Fajar yang benar-benar menyayat dirinya.
Joya membereskan semua pakaian dan barang-barang pribadinya, semua barang yang Fajar belikan untuk dirinya Joya tinggalkan. Ego-Nya membuat dirinya meninggalkan semua barang yang dihadiahkan oleh Joya."Udah?" tanya Szasza yang tadi meninggalkan Joya untuk membeli Piza."Udah, Sza, udah semuanya tinggal aku bawa barang yang di kamar mandi," ucap Joya sambil menarik dua buah kopernya keluar kamar Fajar, bekerja sebagai pramugari bertahun-tahun membuat Joya ahli dalam berkemas."Joya aku mau nanya boleh?" tanya Szasza."Apa? Kamu mau nanya apa?" Joya malah baluk bertanya."Kamu mau pergi menghilang atau hanya ingin pergi dan berharap Fajar nyari kamu?" tanya Szasza, dia harus tau apa tujuan Joya agar Szasza bisa mengambil sikap n
Fajar melangkahkan kakinya di kantor milik Byan, tangannya masih menarik koper dan ia masih mengenakan seragamnya. Fajar sama sekali tidak pulang ke penthouse terlebih dahulu, dia benar-benar ingin bertemu dengan Byan dan menyelesaikan semua masalahnya ini."Pak Fajar," sapa Galang sekretaris Byan yang sudah sangat mengenal Fajar."Mana Byan?" tanya Fajar dingin dan tanpa basa basi, dia sudah malas berbasa basi dengan siapa pun yang ada di sana, tujuannya saat ini adalah bertemu dengan Byan dan menghajarnya."Pak Byan ada di dalam, mari," ucap Galang sambil berjalan ke arah pintu, "silakan."Tanpa menjawab sepatak kata pun, Fajar masuk ke dalam ruangan Byan dan mendapati Byan sedang berdiri."Ngapain ke sini?" tanya Byan.
Hai ... pembaca Skandal Cinta Pilot Angkuh, kaget ada bonchapter yah?jarang-jarang gallon kasih Bonchapter kan hehehe ....Bonchapter ini aku buat sekalian woro-woro nih, kalau aku punya karya baru yang berjudul Di Atas Ranjang Dokter Sonya.Kalian bisa cari judulnya di Goodnovel, langsung saja tulis Di Atas Ranjang Dokter Sonya, dan kalian langsung bisa bertualang dalam desahan bersama pasangan baru Gallon yang lebih seru, panas, penuh trik, tangis, amukan, dan komedi ala Gallon.Ini Blurb-nya selamat menikmati ....“Kamu tahu aku punya suami, kan?” Sonya bertanya pada Awan seorang perawat anestesi yang saat ini sedang berada di bawah bimbingannya dan memiliki senyuman, tatapan dan tubuh yang membuat birahi Sonya meraung.“Dan aku yakin, suami kamu nggak bisa memuaskan kamu di ranjang, Dok,” jawab Awan dengan senyuman yang mampu membuat Sonya berjumpalitan.Sonya seorang Dokter Anestesi yang memilik
"Sonya." "Iya, Fajar, kamu ngapain di sini? Dan kenapa nggak pakai baju? Kamu di usir istri kamu atau kamu mau jadi bintang iklan vaksin rumah sakit?" tanya Sonya sembari menahan tawanya melihat penampakan temannya itu. "Nggak dua-duanya, Sonya, aku nggak kurang duit sampai-sampai jadi bintang iklan vaksin rumah sakit," jawab Fajar sembari membenarkan gendongan Senja. "Ya, terus kamu ngapain? Ini rumah sakit bukan pantai tempat berjemur dengan shirtless seperti itu," ucap Sonya sembari menunjuk Fajar dengan telunjuknya dari atas ke bawah. "Ngomong kamu dari dulu nggak rubah, nggak pernah diayak kadang," ucap Fajar sembari menepis telunjuk Sonya. "Ya terus kamu ngapain di sini? Dan masalah terbesarnya ngapain kamu nggak pakai baju?" "Istri aku mau lahiran Sonya, aku panik karena ketubannya pecah jadi aku secepat kilat datang ke sini," ucap Fajar sembari mengusap dahinya dan berdiri. "Oh ... panik? Bisa panik juga kamu, Fajar, se
Plak ...."Ah ... Fajar," desah Joya saat merasakan bokongnya ditampar oleh Fajar, rasa sakit di bagian bokongnya menyebar ke seluruh tubuh Joya, menyelimuti setiap inci tubuhnya dengan gulungan kenikmatan.Fajar mengentak dengan dalam juga keras, membenamkan bagian tubuh pribadinya sedalam mungkin ke dalam tubuh Joya, meledakkan pelepasannya.Joya meremas seprai di samping kiri dan kanannya saat merasakan pelepasan miliknya berbarengan dengan pelepasan Fajar yang meledak di dalam tubuhnya, suaminya ini memang sangat suka mengeluarkan pelepasannya di dalam tubuh Joya.Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Joya bersamaan dengan Fajar melepas batang kenikmatannya kemudian berguling ke samping. Seolah tidak mau jauh dari suaminya itu Joya bergerak dan memosisikan dirinya tidur di dada Fajar."Bentar lagi aku mau melahirkan," ucap Joya sembari mengusap-usap dada suaminya."Iya, kata dokter sekitar minggu depan, kan? Pas sama jadwal pulang Dokt
Terima kasih sudah menemani perjalanan cinta Fajar Larsson dan Joya Dimitra yang penuh dengan gairah yang panas, tawa, kekecewaan, putus asa dan rasa cinta yang menggebu. Sebuah, kisah cinta yang berakhir manis bagi pasangan Fajar Larsson dan Joya Dimitra. Jadi, izinkan Gallon untuk menulis cerita manis lainnya yang mampu membuat pembacanya menikmati setiap kata yang ada dengan penuh tawa, marah, sedih dan bergairah bersama. Terima kasih dan Gallon pinta tetap dukung Gallon dalam karya Gallon selanjutnya di Goodnovel Indonesia. Info lebih lanjut untuk Novel selanjutnya bisa follow akun sosial media Gallon dengan nama @storyby_Gallon. XOXO Gallon yang Hobi Kellon Salam Kellon 18 Mei 2021 (10.55 WIB) 18 Desember 2021 (19.00 WIB) Bandung-Palembang
Fajar mengerang saat merasakan ada sesuatu yang menggeliat di bagian kakinya, kakinya bergetar hebat saat merasakan gesekkan kuku di bagian dalam pahanya yang dengan cepat menjadi liukkan hangat dan empuk di bagian batang kenikmatannya.Saat itu juga Fajar merasakan kehangatan dan liukkan lidah yang membuat Fajar merasakan kenikmatan hingga membuat dirinya terjaga sepenuhnya, dengan cepat Fajar membuka kelopak matanya dan menyibak selimut yang menutupi bagian kakinya.Napasnya tercekat saat mendapat Joya yang sedang mengulum batang kenikmatan miliknya, kepalanya naik dan turun namun, tatapan mata Joya menatap Fajar dengan pandangan yang hasrat seksual miliknya meraung.“Joy, kamu nga—“ Fajar sama sekali tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat merasakan isapan yang Joya lakukan di batang kenikmatan miliknya, dengan cepat Fajar menyusupkan jemarinya ke rambut panjang Joya, menekannya agar memasukkan batang kenikmatan miliknya lebih dalam lagi.
Desahan demi desahan terus berloncatan dari bibir Joya saat merakan Fajar menggerakkan pinggulnya, mengeluar masukkan bagian ternikmat milik suaminya itu ke dalam tubuhnya, melesaknya semakin tersesat di dalam tubuhnya.“Aw ....” Joya memekik saat tiba-tiba merasakan isapan dan gigitan di bagian putingnya, sensasi bercinta dengan Fajar tanpa bisa melihat sama sekali benar-benar membuat Joya kaget dengan semua yang Fajar lakukan pada tubuhnya, indra penglihatannya tergantikan dengan indra peraba yang ada di sekujur tubuhnya dan seolah mengetahui hal itu, Fajar benar-benar memanfaatkan semuanya.Suaminya itu menggigit, meraba, mengisap, dan menjilat seluruh tubuhnya, Joya bersumpah dia akan menemukan banyak bukti kepemilikan di sekujur tubuhnya dan Joya tidak peduli dia menyukainya, dia menyukai tiap gesekkan yang Fajar berikan di sekitar kewanitaannya, payudaranya bahkan bokongnya yang sudah Fajar remas.“Oya ...,” bisik Fajar di sela kecu
“Jar, mau gantian?” tanya Joya saat melihat Fajar yang terlihat letih dan menggendong Senja.Fajar menggeleng dan berjalan terus di samping Joya yang tampak kesulitan karena gaun pengantin yang istrinya itu kenakan, “Aku nggak tega kasih kamu Senja, Joy, kamu buat jalan aja susah.”Joya menari gaun pengantinnya pelan, “Iya, ternyata berat banget ini baju, ingin cepat-cepat aku buka.”“Oh ... kamu harus tunggu sampai aku yang buka, Joy.” Seringai nakal langsung terlihat di wajah Fajar dan dengan cepat Joya menepuk bahu Fajar pelan.“Mau apa kamu?” tanya Joya.“Mau ngelakuin apa yang Senja ingini,” sahut Fajar sembari membenarkan gendongannya.“Memang Senja minta apa?” tanya Joya penasaran, apa lagi yang Senja inginkan dari Fajar. Joya bersumpah akan memukul pantat Senja bila dia meminta lebih banyak mainan pada Fajar, sumpah demi apa pun kepalanya hampir pecah
Fajar berjalan berdua di lorong bersama dengan Senja, mereka berdua akan masuk ke dalam ballroom hotel tempat di mana acara pernikahan antara Joya dan Fajar berlangsung. Sedangkan, Joya saat ini sedang melakukan touch up make up bersama Szasza di ruangan yang sudah di sediakan.“Papa,” panggil Senja yang sedang berjalan di samping Fajar.“Iya, kenapa?” tanya Fajar sembari menggenggam tangan Senja dengan tangan kanannya.“Papa sama Mama mulai sekarang bakal di rumah terus, kan?” tanya Senja sembari melirik Fajar.“Maksudnya?” tanya Fajar.“Maksudnya, sekarang Papa sama Mama bakal di rumah bareng, kaya Papa dan Mama teman-teman Senja, kan? Jadi, nggak bakal kan Papa pulang dan baru datang lagi kalau Senja udah rengek ke Mama kalau Senja rindu Papa?” tanya Senja dengan mata yang jenaka.“Oh ....” Fajar mengangguk, saat ini Fajar baru sadar apa yang di maksud oleh Senja, Sen
Joya terdiam melihat Fajar mengucapkan kata-kata sakral yang menjadikan dirinya sebagai istri Fajar, tak berapa lama senyuman Joya berkembang saat penghulu bernama Karto tersebut berteriak sah dengan sangat keras hingga membuat Fajar mengumpat.“Sinting ini penghulu—““Jar,” potong Joya sembari menepuk paha Fajar pelan hingga membuat suaminya itu menoleh pada dirinya.“Abis di—““Kamu jangan bikin ulah di acara nikahan sendiri bisa nggak?” tanya Joya pelan sembari mengambil salah satu tangan Fajar dan mencium tangan suaminya itu dengan penuh kelembutan hingga membuat kemarahan Fajar meredup.Fajar mengusap pucuk kepala rambut Joya dan mengecupnya pelan, “Finally, Joy, kamu jadi istri aku juga.”Joya tersenyum mendengar bisikan Fajar, rasanya ia ingin berteriak kalau sesungguhnya dirinyalah yang ingin berteriak keras karena kesabarannya berbuah hasil. Menghadapi seorang F