Dua hari telah berlalu sejak Caine kembali ke desa untuk melanjutkan penyelidikannya. Tim dari Pangeran Pertama pun telah dikirim untuk membantu. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda pergerakan mencurigakan, dan hari-hari berlalu dengan damai di kediaman Silvercrest. Namun, ketenangan itu berakhir ketika sebuah kereta kuda berhenti di depan gerbang rumah keluarga Silvercrest.
Kereta itu sangat familiar bagi para penghuni rumah. Tanpa perlu bertanya, mereka tahu pemiliknya adalah Azrael. Lucien menyambut adiknya dengan ekspresi netral, menyembunyikan kecurigaannya dengan sangat baik. Azrael pun tidak berbeda. Jika Elian yang mendeskripsikannya, maka dia adalah manusia berparas seribu topeng, mampu memutarbalikkan fakta dengan mudah setiap kali berbicara. “Aku kebetulan akan pergi ke kerajaan besok, jadi kupikir aku akan singgah dan menginap di sini malam ini,” kata Azrael dengan senyum ramah yang dibuat-buat. “Tentu saja. Rumah ini selalu terbukaPagi tiba, cahaya matahari yang lembut menelusup melalui jendela dapur, menciptakan semburat kehangatan di dalam ruangan. Elsya, dengan tenang, memutuskan untuk ikut serta dalam persiapan sarapan hari ini. Tangannya cekatan membantu para pelayan menata hidangan di meja panjang. Meskipun pikirannya dipenuhi kecemasan tentang masalahnya dengan Azrael, ia tetap berusaha terlihat tenang. Di kamar Elian, suasana berbeda. Aroma teh melati menguar dari cangkir porselen yang dipegang oleh seseorang yang tengah duduk santai di kursi kayu berukir. Azrael, dengan senyum tipis, menyeruput tehnya perlahan sebelum akhirnya berbicara. "Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk berada di pihak Pangeran Kedua?" Suaranya terdengar tenang, namun ada nada peringatan yang jelas. Elian duduk di tepi ranjangnya, berusaha menjaga ekspresi datarnya. Ia tahu, setiap kata yang keluar dari bibirnya harus dipilih dengan hati-hati. "Maaf, Paman," jawabnya dengan suara lembut. "Ini k
Ethan masih berusaha menenangkan Elian. Tangannya tetap berada di bahu tuannya, memberikan kehangatan yang menenangkan. Napas Elian kini sudah teratur, meski matanya masih menyiratkan emosi yang belum sepenuhnya mereda. Perlahan, Ethan membantunya duduk di kursi dekat perapian, lalu dengan sigap menuangkan secangkir teh hangat. “Minumlah. Ini akan membuatmu lebih baik,” kata Ethan lembut. Elian mengambil cangkir itu, menghangatkannya di antara kedua telapak tangannya. Uapnya naik perlahan, menyentuh wajahnya, tetapi dia tetap diam. Jari-jarinya sedikit mengencang di sekitar cangkir, seakan mencoba mencari pegangan di tengah pikirannya yang kacau. Namun, dia hanya menatap permukaan teh itu tanpa benar-benar meminumnya, seolah mencari jawaban yang tidak bisa ditemukan di dalam cangkir tersebut. Ethan tidak ingin memaksanya, jadi dia hanya berdiri di seberangnya, menunggu. “Apa yang terjadi?” Ethan akhirnya bertanya, suaranya penuh perhatian. Eli
Ronan mengetuk jarinya di atas meja, ekspresinya serius. “Jangan lupa untuk melaporkan ini pada Ayah, Damien. Biar Ayah yang melaporkan pada Pangeran. Sekarang kita tidak bisa bergerak sendiri.” Damien melepas jubahnya dan meletakkannya di kursi dekat meja penuh dengan peralatan penelitian. Dia menghela napas, lalu menatap Ronan dengan mata penuh pertimbangan. “Aku tahu, Kak. Tapi sejujurnya aku sedikit bingung bagaimana cara melaporkannya.” Elian dan Ronan menunggu kelanjutannya. Damien menatap batu sihir hitam yang masih berdenyut pelan di dalam cairan, seolah hidup. Korban seperti ini pasti akan terus bertambah,” lanjut Damien, suaranya sedikit lebih berat. “Penyelidikan juga pasti akan berbahaya. Aku yakin pelaku tidak akan pilih-pilih dalam memilih kelinci percobaan.” Tangannya mencengkeram lengan bajunya sendiri, jemarinya menegang. Batu sihir hitam di hadapannya masih berdenyut pelan dalam cairan, seolah memiliki nyawa sendiri. Cahaya h
Caine melangkah dengan hati-hati di antara reruntuhan desa yang sunyi. Angin dingin berembus melewati jalanan berbatu, membawa serta bau tanah lembab dan sesuatu yang samar-samar seperti besi berkarat. Beberapa prajurit Silvercrest yang ia bawa bersamanya juga tampak waspada, tangan mereka erat menggenggam senjata. “Tempat ini… seperti sudah lama ditinggalkan,” gumam salah satu prajurit, suaranya bergetar pelan. “Tidak.” Caine menggeleng, tatapannya menyapu bangunan-bangunan kayu yang masih berdiri meski dalam keadaan usang. Udara di sekeliling terasa berat, seakan menyimpan jejak langkah yang belum lama pergi. “Tidak ada debu yang menumpuk di jalanan. Api di perapian beberapa rumah masih tersisa sedikit arang hangat. Jendela beberapa rumah masih terbuka, seolah pemiliknya pergi tanpa sempat menutupnya. Ini bukan desa mati… ini desa yang ditinggalkan secara mendadak.” Angin bertiup lebih kencang, membawa suara samar yang terdengar seperti bisikan. Seora
Caine berdiri tegak, jari-jarinya mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. Tatapannya terkunci pada Azrael yang berdiri di ambang pintu batu, senyum sinisnya tak berubah sedikit pun. Udara di dalam ruangan itu semakin menyesakkan, dipenuhi tekanan sihir yang hampir menekan napas para prajurit Silvercrest. "Kau seharusnya tidak berada di sini, Caine," suara Azrael terdengar pelan, tetapi mengandung ancaman yang jelas. "Menggali rahasia yang bukan milikmu... sungguh kebiasaan buruk." Caine tidak menjawab. Ia tahu tak ada gunanya berbasa-basi dengan pria itu. Tangannya sedikit mengendur dari gagang pedangnya, seolah menunjukkan ketenangan, padahal pikirannya berputar cepat mencari jalan keluar. Beberapa prajurit di belakangnya tampak tegang, sebagian bahkan mundur selangkah, tetapi mereka tetap memegang senjata mereka erat-erat. Azrael melangkah masuk, menelusuri ruangan dengan tatapan puas. "Jadi, kau sudah melihat semuanya," gumamnya, matanya menyapu t
Caine berlari dengan napas terengah-engah, setiap tarikan udara terasa seperti pisau yang menyayat paru-parunya. Darah mengalir dari luka-luka di tubuhnya, membasahi pakaiannya yang robek, meninggalkan jejak samar di tanah. Tapi dia tidak bisa berhenti. Tidak sekarang. Tidak ketika maut terasa begitu dekat di belakangnya. Prajurit yang tersisa di sisinya juga dalam kondisi yang mengenaskan. Mereka berhasil kabur dari tempat itu, tapi entah sihir apa yang terakhir kali mengenainya, tubuhnya terasa berat, seakan-akan ada rantai tak kasat mata yang mengekangnya. Kepalanya dipenuhi suara-suara aneh bisikan samar yang tidak bisa dia pahami, kadang terdengar seperti tawa sinis, kadang seperti jeritan putus asa. Pandangannya berbayang sesekali, membuatnya hampir tersandung beberapa kali. Sebuah kutukan, mungkin. Dan jika dia tidak segera menemui Elian, kutukan ini bisa membunuhnya sebelum musuh berhasil menangkapnya. Langit semakin gelap, dan bayangan malam seakan menga
Caine bersama beberapa prajurit yang selamat berhasil menjauh dari desa itu dengan napas yang terengah-engah. Kakinya terasa begitu berat seolah seluruh energinya telah terserap habis. Tubuhnya nyaris tidak mampu lagi menapak tanah, dan pikirannya berkabut antara kenyataan dan ilusi. Sesekali, dia merasa darahnya tersedot perlahan dari tubuhnya, meninggalkannya dalam kehampaan yang semakin pekat. Beberapa prajurit di belakangnya tertatih-tatih, luka mereka menganga dan darah mengalir tanpa henti. Nafas mereka tersendat, tetapi mereka tetap berjalan, bertahan demi mencapai tempat yang aman. Seorang prajurit meminta izin untuk beristirahat. Awalnya, Caine menolak. Dia tahu mereka tidak memiliki banyak waktu. Jika mereka berhenti, mereka mungkin tidak akan sampai di tempat Elian dengan selamat. Tapi ketika melihat kondisi para prajurit yang semakin parah, dia tidak punya pilihan lain. "Baiklah," gumamnya, suaranya hampir tak terdengar. Mereka memilih sebua
Tidak. Tidak. Tidak. Suara Elian bergetar, memantul di ruangan yang hening. Tangannya mengguncang tubuh Caine yang semakin dingin, seolah berharap itu bisa membangunkannya. Tapi Caine tetap diam. Napasnya tak ada. Dadanya tak lagi naik-turun. “Ah… tidak… tolong… Caine…” Tangisnya pecah, menggema di seluruh ruangan. Tangan Elian berusaha mencari denyut nadi di leher Caine, namun ia tak merasakan apa pun. Kepanikan merayapi seluruh tubuhnya, membuatnya gemetar hebat. Ethan, yang berdiri di dekatnya, perlahan meraih pergelangan tangan Caine, mencari denyut nadinya. Wajahnya menegang saat ia menyadari kebenarannya, Caine sudah tidak bernyawa. “Ethan, panggil Damien! Dia… dia pasti bisa menyembuhkannya! Sekarang juga!” Namun, Ethan tidak bergerak. Ia hanya berdiri di tempatnya, tatapannya redup dan penuh kesedihan. “Kenapa kau diam saja? Hei, ETHAN!” Elian berteriak, matanya membelalak dengan emosi yang meled
Langkah kaki mereka bergema di lorong gelap dan lembap. Udara dingin berbau tanah basah dan besi berkarat memenuhi ruang bawah tanah itu. Cahaya obor yang berpendar redup memantulkan bayangan panjang di dinding batu kasar, menciptakan ilusi makhluk-makhluk bersembunyi di setiap sudut gelap. Elian berjalan di depan, diapit oleh Ronan, Caine, Damien dan Kaelian yang menjaga posisi mereka dengan waspada. "Tempat ini... penuh dengan sihir terkutuk," gumam Caine, matanya menyipit saat memandang jauh ke dalam kegelapan. Ronan mendengus. "Azrael selalu terobsesi dengan kekuatan terlarang. Tempat ini adalah bukti betapa gilanya dia." Elian diam saja, pikirannya terfokus pada apa yang akan mereka hadapi. Setiap langkah yang diambil mendekatkannya pada sosok yang dikurung di balik jeruji besi—makhluk yang pernah menjadi manusia sebelum direnggut oleh kutukan yang jahat. Suara desahan dan erangan samar mulai terdengar, menggema seperti bisikan hantu. Akh
Hutan yang dilalui Elian semakin lebat seiring langkah kudanya yang terus melaju. Pepohonan menjulang tinggi dengan ranting-ranting kering yang menggantung seperti tangan kurus hendak merenggut siapa saja yang lewat. Daun-daun gugur berdesir tertiup angin, menciptakan bunyi lirih yang mengiringi perjalanan mereka. Aroma tanah basah dan dedaunan busuk menyusup ke dalam hidung, menciptakan sensasi mencekam seolah makhluk tak kasat mata mengawasi dari balik semak-semak. Bayangan pepohonan bergerak pelan saat angin berhembus, membuatnya tampak seperti sosok-sosok mengintai dalam kegelapan. Suara burung hantu sesekali terdengar, serupa bisikan ancaman di tengah hutan yang kelam. Ethan dan Caine mengikuti di belakang Elian dengan waspada. Sorot mata mereka terus mengawasi lingkungan sekitar, seakan siap menghadapi serangan mendadak. Jalan setapak yang sempit dan penuh akar pohon mengharuskan mereka berjalan perlahan, tapi Elian tak mau memperlambat laju kudanya. Meski luka di tu
Angin pagi yang sejuk menyusup melalui celah jendela kamar Elian, membawa aroma dedaunan basah dan embusan kabut tipis. Cahaya matahari yang lembut menembus tirai tipis, memercikkan warna keemasan pada lantai kayu yang mengilap. Namun, ketenangan itu terasa rapuh seolah-olah pagi yang damai ini menyembunyikan badai yang akan datang. Suasana kamar terasa sunyi, terlalu sunyi, seakan menunggu sesuatu yang tak terelakkan. Ia berdiri di depan cermin tinggi dengan ekspresi datar, mengenakan kemeja putih sederhana yang disulam halus. Jubah tebal berwarna hitam dengan lapisan bulu abu-abu terlipat rapi di kursi dekatnya, terabaikan. Caine berdiri di samping meja dengan tangan terlipat di dada, tatapannya keras dan penuh keteguhan. “Tuan Muda, Anda harus mengenakan jubah ini,” tegas Caine, nadanya tajam namun berlapis kekhawatiran yang tak tersamarkan. Elian mendengus dan mengibaskan tangan, tapi gerakannya kaku, seolah mengabaikan rasa nyeri yang masih tersisa
Suara detik jam terdengar jelas dalam kesunyian kamar Elian. Udara dingin menusuk, membuat api di perapian berkedip-kedip memancarkan cahaya keemasan yang samar. Elian duduk bersandar di ranjangnya, tatapannya fokus pada meja rendah di depannya yang penuh dengan kertas, peta, dan catatan tentang pergerakan Azrael dan kutukan yang menyebar. Ethan berdiri beberapa langkah di belakangnya, menjaga jarak namun selalu siap menerima perintah. Caine berdiri di sisi lain, sikapnya kaku dengan tangan terlipat di dada. “Aku ingin melihat korban yang masih sadar,” ucap Elian tiba-tiba, memecah kesunyian. Ethan dan Caine saling pandang sebelum Ethan membungkuk hormat. “Tuan Muda, apakah Anda yakin? Korban-korban itu sudah berada dalam tahap kutukan yang parah. Pangeran Pertama dan Tuan Ronan sudah mengamankan mereka dengan pengawasan ketat.” “Itu sebabnya aku harus melihat mereka langsung,” tegas Elian. “Aku ingin memahami apa yang kita hadapi.”
Caine menggeliat pelan dari tempat duduknya, tubuhnya terasa pegal dan kaku setelah tertidur dalam posisi yang kurang nyaman. Suara kursi berderit pelan saat ia bergerak, menciptakan bunyi yang terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Matanya perlahan membuka, mengerjap beberapa kali untuk mengusir kantuk, sementara cahaya pagi yang menyelinap dari balik jendela besar membuat matanya sedikit menyipit. Udara dingin menyentuh kulitnya, membawa aroma teh hangat yang samar namun menenangkan. Di depannya, Elian duduk tenang di tepi ranjang dengan secangkir teh hangat dalam genggamannya, uapnya masih mengepul. "Selamat pagi, Caine," sapa Elian dengan senyum lembut yang terasa begitu menenangkan, uap teh hangat masih mengepul di cangkirnya. Caine mengerjap lagi, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang masih tercecer. Matanya tertuju pada Elian yang tampak santai, kontras dengan kekhawatiran yang memenuhi pikirannya sejak kemarin. Pikirannya berusaha me
Di dalam ruang kerja megah keluarga Silvercrest, rak-rak buku tinggi menjulang penuh dengan buku-buku tua berlapis emas dan kulit mewah. Aroma kayu tua dan tinta memenuhi udara, menciptakan suasana serius dan penuh wibawa. Di sudut ruangan, api perapian berkobar hangat, namun hawa dingin dan tegang terasa menusuk hingga ke tulang. Pintu besar berlapis ukiran rumit terbuka perlahan, suara deritannya mengoyak keheningan. Azrael melangkah masuk dengan langkah mantap, setiap gerakannya dipenuhi percaya diri dan sikap penuh kemenangan. Senyum tipis terlukis di bibirnya yang pucat, tatapan matanya menyiratkan kepuasan licik. Lucien berdiri tegak di balik meja kerjanya, tangan-tangan kokohnya menggenggam erat tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Cahaya api perapian memantulkan bayangan kelam pada wajahnya yang penuh ketegangan, mata merah menyala penuh amarah terarah pada sosok saudaranya yang berdiri dengan angkuh di ambang pintu. Hawa panas dari api yang berkob
Dalam sebuah ruangan megah yang dipenuhi pernak-pernik emas dan permadani mahal, Azrael berdiri dengan penuh percaya diri di hadapan seorang pria muda berambut hitam legam dengan mata tajam berkilat. Leander, Pangeran Kedua Kerajaan Eldoria, mengenakan pakaian megah yang memancarkan aura kekuasaan. Wajahnya tampan, namun sorot matanya dingin dan penuh ketegasan. “Yang Mulia, ada hal mendesak yang perlu saya sampaikan,” Azrael memulai dengan nada hormat, tubuhnya sedikit membungkuk. Meski bibirnya tersenyum ramah, sorot matanya penuh kepuasan tersembunyi. Leander menatapnya dengan ketidaksabaran yang samar-samar, jarinya mengetuk sandaran kursi dengan irama teratur. “Bicaralah, Azrael. Jangan buang waktuku,” perintah Leander dengan suara rendah yang tajam. Ketika kata-kata itu terucap, alis Leander sedikit mengernyit, tanda kejengkelannya yang mulai muncul. Azrael menyeringai tipis, matanya berkilat penuh intrik. Ia menurunkan suaranya, seolah ingin menj
Ethan masih duduk di kursinya, matanya menatap lembut ke arah dua sosok yang tertidur di hadapannya. Cahaya lilin yang berpendar redup menciptakan bayangan samar di wajah mereka, seolah mengukir kelembutan dan ketenangan yang jarang terlihat. Udara malam terasa dingin, menusuk kulit, tetapi keheningan ini lebih hangat dibanding malam-malam penuh ketegangan yang mereka lewati. Sesaat, Ethan menghela napas panjang, menikmati momen langka ini. Elian, yang biasanya selalu tampak tegang dan penuh waspada, kini tampak begitu damai. Napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan di bawah selimut yang tertata rapi. Wajahnya yang pucat masih memperlihatkan jejak kelelahan, tetapi setidaknya kali ini, ia bisa beristirahat tanpa beban. Di sisi lain, Caine tertidur dalam posisi duduk. Bahunya sedikit merosot, kepalanya hampir terjatuh ke depan jika bukan karena tangannya yang tersilang di atas perutnya. Ethan bisa melihat jejak kepenatan di wajah pria itu. Mereka semua telah
Caine menutup matanya di sisi ranjang Elian, bersandar pada kursi empuk milik tuannya. Suara napas Elian terdengar tenang dan teratur, pertanda bahwa ia tertidur pulas setelah sekian lama bergelut dengan kelelahan dan rasa sakit. Caine menghela napas dalam, membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan malam yang jarang ia nikmati. Tanpa sadar, kelopak matanya pun semakin berat, hingga akhirnya ia jatuh tertidur dengan posisi duduk. Pintu kamar Elian terbuka perlahan tanpa suara. Ethan masuk dengan langkah hati-hati, matanya langsung menangkap pemandangan dua orang yang tengah tertidur. Ia terdiam sejenak, lalu mendekati Caine yang tertidur dengan posisi duduk yang tampak tidak nyaman. Dengan gerakan lembut, Ethan mengambil selimut tipis dari ujung ranjang dan menyelimutinya, memastikan tubuhnya tetap hangat di malam yang dingin. Setelah itu, Ethan beralih ke sisi Elian. Ia menatap wajah tuannya yang tampak lebih tenang dibanding sebelumnya. Raut wajah Elian yang