Duduk di sofa empuk ruangan Naka, Lika menatap keluar jendela dengan pipi yang masih merah membara. Naka, dengan lembut mengusap bekas tamparan itu menggunakan kain basah dingin. "Sakit, Sayang?" suaranya lembut penuh kekhawatiran.Lika hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca. Meski tadi dia sempat membalas tamparan Vivi, sakitnya tidak juga mereda. “Masih sebal,” ujarnya dengan manja.Naka menghela napas, kalau saja dia bisa membalas tamparan itu. Saking cintanya dengan Lika, sampai Naka merasa dadanya sakit sekali, melihat istrinya. Sakit hati dia, dan tidak akan mau damai dengan Vivi, yang sudah ia pecat dengan tidak terhormat itu.Cup!Naka mengecup pipi Lika, menyalurkan kehangatan agar lekas pulih."Mau pulang," gumamnya pelan, suara serak karena menahan rasa sakit dan kekesalan.Naka mengangguk, memahami. "Baiklah, kita pulang saja.” Naka pikir pekerjaan bisa menunggu, karena yang paling penting adalah istri dan dua anaknya.“Ke dokter ya sayang." ucapnya sambil berdiri dan meng
Naka menghela napasnya panjang, sungguh dia sedih sekali istrinya harus mengalami kejadian tidak enak, dua kali dalam sehari.“Sayang, kamu oke?” tanyanya lembut, ketika mereka sudah berada di dalam mobil.Lika menggeleng, wajahnya terlihat sedih. Membuat Naka menjadi terluka, tidak tega rasanya melihat raut kesedihan terpencar di istri kecilnya.“sayang..” desah Naka.“Ih makanan aku kan belum datang, mas.” Lika merajuk karena dia belum makan porsi kedua.Mana enak, ngiler dia jadinya. Masih lapar perut Lika.“Kamu nggak marah, sayang?”“Marah!” sentak Lika.“Maaf sayang, aku nggak tahu akan ada disana,” desah Naka.Lika mendelik, bukan itu yang dia maksud. “Aku nggak peduli mas ada dia, Sarah atau siapalah dia. Aku marah karena aku belum makan yang tadi,” pekiknya frustasi.Naka tentu terkejut, istrinya lebih memikirkan makanan daripada emosinya.“Iya sayang, aku order lagi suruh antar ke apartemen ya,” ucap Naka lega.“Ya udah, tambah dessertnya mas, tadi kan belum coba. Tiga ya ma
Sarah Janeeta Daarwish terduduk lemas di sudut ruangan, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang hendak jatuh. Adela, sang mama, berdiri tak jauh darinya, dengan tatapan tajam dan suara yang meninggi karena marah."Bodoh, sebelum bertindak. Pikirkan dulu!” Hardik Adela, setelah Sarah menceritakan jika dia bertemu dengan Naka dan istri barunya.Emosi tidak dapat dihindarkan dan Sarah melontarkan makian pada keduanya. Bagi Adela tindakan itu sangat ceroboh. Naka pasti tidak suka dan potensi perjodohan mereka akan sangat kecil sekali. Adela disini sudah berusaha dengan menekan Nyra Gasendra, malah anaknya mengacaukan segalanya.“Kenapa kamu melakukan itu. Naka bisa sangat marah padamu!" teriak Adela, rambutnya yang terurai ikut terbawa angin emosi yang dia pancarkan.Sarah menggigit bibirnya, tangannya gemetar, "Aku sakit hati, mama. Harusnya aku yang menjadi istri Naka, ma!" teriaknya balik dengan suara yang serak, penuh penyesalan. Wajahnya merah padam, menunjukkan betapa dia tidak b
Nyra Gasendra menatap tidak percaya pemandangan di depannya, menantu pertama dan menantu keduanya, terlihat akur. Bahkan terlihat Lika yang sedang menyuapi Ivanka, ditemani seorang suster yang disewa anaknya.Cuih..Pasti wanita mau mengambil hati Ivanka, biar tidak dibilang perebut suami orang.Brak!Nyra memukul pintu, datang-datang dia langsung emosi. Emosi akan semuanya, akan Naka yang membantahnya dan emosi melihat pemandangan di depannya.“Bagus sekali, terlihat akur. Cih.. Padahal saya tahu kamu hanya cari muka kan, didepan menantu saya!” Hardik Nyra, membuat terkejut tiga orang didalam kamar Ivanka.“Mama,” gumam Ivanka, akan kedatangan mama mertuanya.Nyra hanya menatap datar pada Ivanka, tatapan sinis ia berikan pada Lika. Tapi ketika pandangannya menurun pada perut gadis cantik, ah sial. Selalu saja dia dibuat tidak berkutik.“Siang tante,” sapa Lika sopan, dia berdiri karena mamanya suami datang.“Jangan sok menyapaku, kehadiranmu di keluarga saya jelas tidak akan diterima
Tadinya Naka mau mengantarkan Ivanka kontrol, tapi karena Lika menawarkan diri makanya dia memilih tidak ikut, dengan alasan ada meeting mendadak.Naka hanya tidak mau ada kekakuan diantara mereka bertiga, walau Ivanka mengatakan ikhlas, siapa yang tahu hati seseorang.“Ditemani Lika ya. Aku pergi dulu.” Dengan cepat Naka pamit, tanpa bersentuhan dengan keduanya.Lika meringis, biasanya dia di sun. Ini tidak, ah mungkin karena ada Ivanka.“Buru-buru sekali,” ucap Ivanka pelan.Lika mengajak Ivanka berangkat ke rumah sakit, tentu ditemani Suster Mirna juga.Di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit, suasana menjadi hening. Lika duduk di samping Ivanka, mencoba menawarkan senyum penuh dukungan meski hatinya gundah. Ivanka, yang wajahnya pucat pasi, hanya menatap lurus ke depan, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang bersarang dalam dirinya. Di antara deru mesin, sesekali terdengar batuk halus dari Ivanka yang semakin membuat Lika merasa tidak berdaya."Kak Iva, kamu mau dengarkan
Mata Naka berbinar saat melihat kotak hadiah yang diulurkan oleh Ivanka. Dengan hati penuh haru, ia membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah dasi yang elegan."Terima kasih," ucapnya dengan suara yang bergetar, menerima hadiah itu dengan penuh penghargaan.Ivanka, yang berbaring di ranjang, tersenyum lebar, kebahagiaan terpancar dari wajahnya. "Aku suka lihat kamu pakai dasi, makin ganteng," candanya ringan, mencoba mengalihkan pikiran dari rasa sakit yang seringkali menghantui.Naka mengangguk, senyumnya semakin menghangatkan ruangan, lalu dengan lembut menanyakan, "Tadi di dokter gimana, kemonya?" Kecemasan tersembunyi di balik pertanyaannya, mencerminkan kekhawatiran yang mendalam untuk sang istri.Ivanka menghela napas, sebelum menjawab dengan suara yang mencoba terdengar ceria, "Lancar, kata dokter aku sudah sehat. Lika yang mengatakan itu dari dokter," katanya, berusaha menenangkan hati suaminya. Namun, Naka bisa melihat ada kilauan lain di balik mata Ivanka, sesuatu yang leb
Ceklek..Deg..Ah Naka mau pingsan. Rasanya darah langsung naik ke kepala, melihat Lika hanya mengenakan handuk saja. Lupa bawa baju ganti, makanya keluar hanya dengan handuk saja.“Sayang,” panggilnya, mendesah.Melihat Lika ya ampun, dapat ide darimana keluar hanya mengenakan handuk didepan singa yang selalu kelaparan itu.Handuk sebatas paha, dengan perut yang sudah terlihat membesar.Auw seksi sekali ..Bagian dadanya ditutupi handuk itu, Naka lihat menyembul keluar.“Kenapa mas?” tanya Lika, heran.Naka tersenyum nakal. Matanya mengerjap, tanda dia ingin menubruk tubuh istrinya.Oh Anulika Gasendra.. Menggoda sekali..“Sini sayang,” panggilnya.“Ih, aku mau pakai baju ah.” Lika menolak, nanti dia masuk angin kalau tidak cepat pakai baju. Malah dipanggil suaminya, mau apa sih.“Nggak usah, sayang.”“Mas, jangan nakal deh!” seru Lika, pelan tapi tegas.Jangan bilang suaminya mau nganu. Jangan gila dong, ada Ivanka dirumah ini. Tidak mau Lika, mungkin lebih tepatnya tidak enak. Lika
“Sial!” umpat Naka ketika melihat rekaman video yang ramai di sosial media.Ketika Sarah melabrak dirinya dan Lika, dengan mengatakan perebut suami kakaknya. Sontak saja, video itu ramai dan jadi perbincangan khalayak. Ternyata kejadian itu ada yang merekam dan menyebarkannya. Bukan hanya Naka yang cemas, Lika juga begitu.Dikamar Ivanka, dia melihat dengan tangan yang gemetar. Ivanka berusaha menenangkan Lika, karena tahu itu perbuatan adiknya, Sarah.“Tenang Lika, Kak Iva yakin Naka akan mengurusnya,” ucap Ivanka mengenggam tangan Lika.Lika hanya terdiam, bagaimana ini. Jika sudah tersebar maka semua akan tahu, dan potensi sang mama yang berada di Bandung juga pasti akan tahu. Sedangkan mamanya saja tidak tahu akan keadaan Lika sekarang.“Nona, ada Pak Naka.” Laporan dari pelayan membuat Lika langsung berlari turun ke bawah.Begitu menemukan sang suami disana, Lika langsung menghambur ke pelukan Naka.“Mas,” panggilnya.“Sayang jangan lari!” pekik Naka, khawatir dengan kehamilan sa
Kamar rumah sakit yang sunyi itu hanya terdengar desah napas yang berat dari Ivanka, istri pertama Naka yang sudah lama berjuang melawan kanker. Lika, istri kedua Naka, yang baru saja melahirkan anak kembar, terpaku di depan pintu, menatap lemahnya sosok wanita yang telah banyak berbagi cerita dengannya selama penyakit itu menggerogoti tubuhnya.Dengan langkah gontai, Lika mendekati tempat tidur Ivanka. "Kak Iva," suaranya serak, penuh emosi. Ivanka, mendengar suara Lika, perlahan membuka mata yang sudah sangat sayu, dan dengan sisa kekuatan yang ada, dia mencoba mengedipkan mata sebagai isyarat bahwa dia mendengar.“Kak Iva.. Ini Lika,” lirihnya. Ivanka bahkan menganggap Lika sebagai adiknya, karena memang Lika masih sangat muda.Dalam detik-detik terakhir, keinginan terbesar Ivanka adalah bertemu dengan Lika sekali lagi. Dia ingin memeluk Lika, memberikan seluruh cinta dan restunya, sebuah pelukan terakhir yang penuh dengan harapan dan doa untuk kebahagiaan keluarga yang akan diting
Benedito dan Nyra segera ke ruang rawat Ivanka, mereka menjenguk menantu pertama mereka itu.“Ivanka,” panggil Papa Ben dengan lembut.Ivanka hanya memberi tatapan sayunya, papa Ben memegang tangan menantunya dengan lembut, memberi usapan tanda penyemangat darinya.“Sembuh sayang, sehat..”“Papa..” lirih Ivanka mengedipkan matanya pelan.Nyra menatap menantunya, demi apapun sejak dulu dia tidak pernah menyukai Ivanka. Karena putri dari Adela, dia terpaksa menikahkannya dengan Naka, agar tidak lagi diancam Adela perihal jati diri Naka. Namun kini semua sudah terungkap, dan lagi Ivanka sedang terbaring lemah karena penyakitnya.“Ma,” panggil Papa Ben, meminta istrinya mendekat.Dengan mata berkaca-kaca, Nyra mendekat ke arah ranjang.“Mama,” lirih Ivanka, tangannya bergerak dan reflek Nyra mengenggamnya.“Ma..” Ivanka memanggil lagi.Nyra mengangguk pelan, “Maafkan mama ya,” gumam Nyra pelan sekali. Ivanka membalas dengan senyuman tipisnya.Dia sudah sangat siap untuk pergi, dulu dia pe
“Suara bayi!” pekik Benedito, menunggu di luar ruang bersalin Lika bersama Nyra dan Elise.“Iya, sudah lahir,” ujar Mama Elise, mengucap syukurnya.“Tinggal satu lagi,” kata Papa Ben dengan cepat. Dia dihubungi Bara, asisten anaknya. Mengatakan jika menantunya telah ada di rumah sakit untuk melahirkan tentu saja, Ben tidak mau ketinggalan momen berharga ini.Semua bersorak, menyambut kelahiran cucu mereka. Nyra menundukkan pandangannya, matanya panas sekali. Cucunya sudah lahir, tapi apa ini bisa disebut sebagai cucunya, jika Naka saja bukan anak kandungnya.Melihat keterdiaman Nyra Gasendra, Mama Elise menarik tangannya lembut. “Selamat Bu Nyra, cucunya sudah lahir.” Elise mengucapkan dengan senyum tulus, membuat Nyra salah tingkah karena sikapnya yang memang tidak baik pada Elise, namun dibalas dengan kelembutan.Nyra yakin Elise mengetahui semua cerita tentang dirinya dan Naka, diberitahu Lika. Tapi bukannya membalas perbuatannya dengan ejekan, tapi Elise malah menyambutnya dengan
Naka merasa jantungnya terkoyak dua. Di satu sisi, Lika, istri keduanya, sekarang sedang berjuang melahirkan putra mereka di rumah sakit. Sementara di sisi lain, Ivanka, istri pertamanya, terbaring lemah di rumah, menghadapi tahap akhir kanker yang mematikan. Suasana kamar yang suram hanya diterangi oleh cahaya lampu remang-remang, menambah berat suasana hati Naka.“Ivanka.. Lika akan melahirkan,” kata Naka dengan nada paniknya. Ivanka tersenyum, lalu mengangguk. “Temani dia.. Tolong jaga Lika dan anak kita," bisik Ivanka dengan suara yang nyaris tak terdengar, matanya yang sembab memandang Naka dengan penuh kasih.Naka merasa seakan-akan sebuah pisau mengaduk perutnya, rasa bersalah dan kepedihan bercampur menjadi satu. Tangannya gemetar saat dia menggenggam tangan Ivanka yang sudah sangat kurus."Aku akan kembali, dengan si kembar. Tunggu aku, ya? Tolong tunggu kami," Naka mencoba menguatkan suaranya, meski hatinya remuk. Dia mencium kening Ivanka, mencoba menahan air mata yang ingi
Naka mulai dilemma, satu sisi ia ingin menemani Ivanka yang terbaring di rumah sakit, dengan keadaan yang semakin kritis. Di satu sisi, Anulika juga membutuhkan dirinya.Dalam sambungan telepon, Naka meminta Lika untuk banyak istirahat. “Sayang, ditemani mama ya tidurnya,” kata Naka dengan lembut.“Iya mas, jangan khawatir. Ada mama, Bik Lilis dan pelayan lain. Aku aman kok, Kak Ivanka gimana, mas?”“Masih kritis sayang, sedang di ruang operasi. Setelah itu aka nada observasi.” Naka menjelaskan, kemudian menghela napas lelahnya. “Entahlah, semoga ada keajaiban.”“Yakin mas, aku yakin Kak Ivanka pulih. Dia janji kok mau lihat si kembar lahir, mas.” lika penuh dengan keyakinan, karena Ivanka janji akan menunggu kedua anaknya lahir.“Ya berdoa saja sayang,” ucap Naka.Mengucapkan beberapa wajangan kepada istrinya dan meminta maaf karena tidak bisa menemani, beruntung Lika begitu pengertian sekali. Membuat Naka merasa lega, memiliki istri seperti Lika.**Di ruang putih steril rumah saki
Naka menerobos lorong rumah sakit dengan langkah-langkah besar, napasnya tersengal-sengal seolah-olah setiap detik adalah pertarungan. Begitu mendengar kabar dari dokter, tubuhnya seakan tak memiliki pilihan selain bergegas ke ruang rawat dimana Ivanka, istrinya, berjuang antara hidup dan mati."Apa yang terjadi, Suster Mirna?" suaranya serak penuh kekhawatiran saat ia menghampiri suster yang bertugas di sisi tempat tidur Ivanka.Suster Mirna menoleh dengan wajah penuh simpati, "Kondisi Bu Ivanka kritis, Tuan. Kanker yang diidapnya memperburuk keadaan."Air mata mulai menggenang di sudut mata Naka, tangannya gemetar saat ia meraih tangan Ivanka yang terkulai lemah di atas selimut. Kulitnya pucat, hampir transparan, dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.“Ivanka..” lirih Naka memanggil istri pertamanya itu.Tiba saat itu, dokter masuk dan ingin berbicara dengannya.“Silakan,” ujar dokter mempersilakan Naka keluar ruangan. "Dokter, tolong selamatkan dia," pintanya pada dokter ya
Ivanka terbaring lemah di ranjang rumah sakit, infus masih menancap di tangannya. Rambutnya yang sudah rontok sebagian menambah kesan pucat pada wajahnya. Sinar matahari sore menyelinap masuk melalui jendela, memberi sedikit kehangatan di ruangan steril itu. Elvan Daarwish memasuki ruangan dengan langkah gontai, membawa buket bunga mawar kuning yang melambangkan persahabatan dan dukungan. Warna kesukaan Ivanka, entahlah dia ingin membawa saja.Ceklek!Elvan membuka pintu, sudah di izinkan Suster Mirna di luar. Karena Elvan membawa perdamaian, tidak mengajak ribut."Papa akhirnya menjengukku," sapa Ivanka dengan suara serak, matanya berbinar sejenak melihat sosok ayahnya.Elvan meletakkan bunga di meja samping tempat tidur dan duduk di kursi yang telah disediakan. Dia menghela napas panjang, matanya menatap Ivanka dengan perasaan campur aduk. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Elvan meragu.Ivanka tersenyum, baru kali ini papanya bertanya keadaannya.“Aku baik Pa, jangan khawatir.”Elvan men
v“Tante,” sapa Lika, melihat kedatangan mama mertua di rumah. Nyra melirik, ah gadis ini, sedang hamil besar, mengandung cucu yang bukan cucu kandungnya.Betapa Naka mencintai gadis ini, sampai rela menikahinya. Bukan hanya karena tengah mengandung buah hatinya, namun karena Naka benar-benar mencintainya.“Di mana Naka?” tanya Nyra, masih dengan nada pongah berbicara dengan Lika.“Mas Naka ada di kamar, Tante.”“Panggilkan!” serunya.Mama Elise yang kebetulan lewat, langsung tersentak mendengar nada perintah dari besannya ini.“Lagaknya seperti bos saja,” sindirnya, Lika langsung menggandeng tangan mamanya, untuk menghentikan sindiran itu. “Ma, sudah,” bisiknya. Tidak perlu cari ribut, suasana sedang tidak kondusif.Nyra yang melihat kedatangan besannya, enggan menanggapi juga. Dia bisa kalah, karena posisinya sedang terjepit juga. Jangan sampai Naka melihat dia bertengkar dengan mama mertuanya, sadar diri jika dia yang akan kalah.“Sebentar, Lika panggilkan Mas Naka.” Lika kemudian
Lika ingin mendekati suaminya, namun sepertinya Naka butuh waktu untuk sendiri. Lika membiarkan Naka di dalam ruang kerja, sibuk dengan pikiran yang entah kemana saja.“Di mana Naka?” tanya Mama Elise pada putrinya.Lika menoleh, tersenyum melihat mamanya yang baru kembali dari rumah sakit menjenguk Ivanka kembali.“Di ruang kerja, Ma.” Mama Elise menasehati Lika, agar menemani suaminya Naka yang sedih. Karena tahu dia bukan anak kandung mamanya. "Temani Naka, hibur dia," Kata Mama Elise. Lika mengangguk, lalu mendekati suaminya.Walau bingung harus bagaimana, dia menuruti nasehat sang mama. Suaminya butuh dia di sini, mungkin jika ada Ivanka, maka wanita itu yang akan menghibur Naka.Di ruang kerja yang sepi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang menambah kesan sunyi. Lika menghampiri Naka yang terduduk lesu di sofa, matanya sayu menatap ke luar jendela. Lika duduk di sampingnya, menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara.“Mas,” panggilnya dengan suara yang mendayu, Naka ha