Arzan mengusap rambutnya kasar. Entah kenapa dirinya merasa resah dan selalu terbayang-bayang wajah istri rahasianya. Bahkan Arzan tidak berhenti tersenyum mengingat sikap Sheyza yang sudah berubah kepadanya. Dikepala Arzan berputar sikap istrinya yang sangat menggemaskan saat merengek menginginkan sesuatu.Ah jadi begini rasanya menghadapi seorang istri yang sedang hamil? Arzan sangat senang. Tidak ada rasa keberatan sama sekali, malah Arzan sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana menemani masa-masa ibu hamil.Masalah keluarga belum dia pikirkan. Arzan memilih mengesampingkan itu dulu. Dirinya akan fokus pada Sheyza dan calon anak mereka."Sepertinya makan rujak yang ada disamping toko roti enak deh." Entah kenapa Arzan malah membayangkan rujak di samping toko roti diperempatan. Hanya membayangkan saja air liurnya sudah mau menetes."Ah tidak bisa dibiarkan." Sudah ditahan, tapi rasanya malah semakin membuncah. Jadilah Arzan menghubungi Ardi untuk mengurus
"Sstt kamu jangan banyak pikiran ya. Mas janji semuanya akan baik-baik saja."Arzan mencium Sheyza, menyatukan bibir keduanya. Hingga beberapa saat, saat ciuman itu berubah intens suara dering ponsel milik Arzan memenuhi ruangan.Sheyza mendorong tubuh sang suami. "Mas angkat dulu teleponnya,"Sebenarnya Arzan malas, siapa juga yang berani menganggu waktu berduaan dirinya dengan Sheyza. "Hallo,""...."Deg"Apa?"***Noah menatap nanar pintu apartemen yang sedari tadi digedor-gedor olehnya tapi tidak ada sahutan apapun. Hatinya mendadak panas luar biasa. Apalagi saat bayang-bayang di dalam sana Sheyza sedang bermesraan dengan suaminya. Sebenarnya bukan salah Arzan maupun Sheyza jika mereka bermesraan, mengingat keduanya merupakan pasangan halal. Namun Noah tetap tidak terima, karena baginya Sheyza hanya miliknya. Tidak peduli perempuan itu sudah memiliki suami atau akan memiliki anak sekalipun. Noah beranggapan Sheyza tidak bahagia dengan pernikahannya, perempuan itu terpaksa. Noah
Ummi Zulfa membuka bola matanya perlahan. Arzan yang pertama melihat langsung memanggil dokter untuk memeriksa kembali umminya karena baru saja sadar.Setelah memanggil dokter, Arzan kembali menemui ummi Zulfa."Ummi,"Ummi Zulfa menggerakkan mulutnya seperti ingin berbicara, namun suaranya tertelan tidak bisa keluar sama sekali."Ummi mau ngomong sesuatu?" Tanya Arzan saat sang ummi terus menerus menggerakkan mulutnya.Ummi Zulfa terus menerus menggerakkan bibirnya , namun suaranya hanya tertelan di tenggorokan saja tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun."Biar saya periksa dulu," ijin dokter yang melihat interaksi anak dan ibu itu.Arzan meringsut berdiri agak jauh dari dokter san seorang perawat yang ikut memeriksa keadaan sang ummi.Beberapa menit setelahnya, "Pasien dinyatakan stroke. Hal itu yang menyebabkan pasien sulit berbicara, karena hampir seluruh anggota tubuhnya tidak dapat berfungsi."DegTubuh Arzan hampir limbung setelah mendengar penuturan dokter. Rasanya dadanya
Hati siapa yang tidak sakit melihat istrinya tak berdaya diatas ranjang seperti ini. Bahkan untuk berbicara saja ummi Zulfa tidak bisa. Mulutnya hanya bisa bergerak perlahan tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan. Matanya berulang kali meneteskan cairan bening.Kyai Rofiq tergugu disana. Mengucapkan istighfar berulang kali, berdoa pada Allah agar istrinya menjadi sehat seperti sedia kala.Nabila yang melihat sang ummi dan abahnya menangis pun ikut meneteskan air mata. Dirinya tidak tega melihat keadaan umminya saat ini."Ummi, ummi yang sabar ya, Allah pasti kasih kesembuhan buat ummi. Kata dokter juga ummi bisa sembuh kok. Ummi yang sabar ya," ucap Nabila.Ummi Zulfa menitihkan air matanya lagi karena tidak bisa membalas perkataan anak gadisnya. Dirinya amat sangat sedih keadaannya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah takdir yang Allah berikan untuknya. Mau tidak mau ummi Zulfa harus ikhlas menerima semua ini."Ummi mau makan? Biar Bil
"Sayang," Arzan langsung turun dari mobil polisi dan menghampiri istrinya yang berdiri di dekat mobil polisi.Tanpa malu, Arzan menarik tubuh mungil Sheyza dan langsung memeluknya. "Ya Allah, bisa gila mas kalau kehilangan kamu Babby. Tadi mas sudah hampir lepas jantungnya karena mas pikir itu kamu." Ucap Arzan disela pelukannya.Sebenarnya Sheyza malu karena beberapa orang melihat adegan romantis mereka. Tapi Sheyza menikmati pelukan suaminya, rasanya sangat menenangkan sekali. "Mas lepas dulu, malu dilihat sama orang," bisik Sheyza di telinga sang suami.Arzan menggelengkan kepalanya, masih ingin memeluk istri rahasianya itu. Rasa khawatir mendominasi dirinya, takut jika istrinya lah yang menjadi korban kebakaran tadi."Mas, malah buat adegan drama Korea. Ini jadi lihat enggak kantong jenazahnya?" Celetuk polisi dari atas bak mobil, membuat Arzan melepaskan pelukannya. Arzan meringis melihat polisi yang masih berada di bak mobil tampak menggerutu sambil menatapnya dengan kesal."Ta
"Bagaimana Anisa? Kamu hanya perlu menemani ummi dan menyuapinya saat ummi makan saja. Kalau mandi dan yang lainnya biar Abah yang dan Nabila yang bergantian melakukanya." Ucap kyai Rofiq."Tapi bah, Anisa juga...emm,"'Ayo Anisa berpikir?!! Cari alasan! Jangan sampai kamu terjebak mengurus mertua yang tidak berguna seperti itu.' batin Anisa sebal."Anisa juga tidak bisa bah. Maaf abah, tapi Anisa juga harus mengecek konsumsi untuk para santri. Karena ummi sedang sakit, jadi Anisa yang harus gantiin tugas ummi. Abah juga paham kan kalau tugas ummi pada santri sangat banyak. Jadi kalau mengandalkan Anisa saja rasanya Anisa tidak bisa maksimal menjaga umminya." Ucap Anisa akhirnya menemukan alasan yang tepat.Kyai Rofiq menghembuskan nafas panjang, bingung kalau seperti ini keadaannya. "Jadi, bagaimana dengan ummi?""Emm bagaimana kalau kita cari perawat saja Abah? Kan sekalian bisa mengurus keperluan ummi yang lain juga. Jadi Abah sama Nabila tidak perlu kerepotan," usul Anisa.Kyai Ro
Terbawa perasaan? Jelas. Apa yang keluar dari bibir suaminya itu membuat hati Sheyza menghangat. Merasa dihargai walaupun status pernikahan mereka di rahasiakan. Terlebih kata cinta dan sayang yang selalu terucap membuat hati Sheyza tak kuasa menahan kebahagiaan nya. Juga perhatian yang selalu Arzan berikan nyatanya mampu meluluhkan hati Sheyza.Sheyza merasa diratukan oleh Arzan, hingga dirinya lupa kalau ada hati lain yang mungkin akan terluka saat mengetahui hubungan mereka.Jantungnya selalu berdebar saat dekat dengan suaminya. Bahkan Sheyza sampai melupakan sumpah serapahnya kepada sang suami yang pernah Sheyza lemparkan beberapa waktu yang lalu.Jangan salahkan Sheyza. Sheyza juga seorang perempuan. Jika diratukan dan diberi perhatian oleh pasangannya, siapa yang tidak terbawa perasaan. Ditambah Sheyza sudah lama tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang seperti ini. Anggap saja Sheyza haus kasih sayang. Tapi memang benar begitu kenyataannya. Sheyza mendambakan sosok seperti
"Enak banget ya sekarang sudah kayak nyonya besar, saking enggak ada kerjaan sampai ngutekin kuku kayak begitu."Sebuah suara membuat Anisa mengangkat wajahnya yang sebelumnya sibuk menguteki tangan. "Kenapa Nabila? Kamu mau mbak kutekin juga tangannya?"Nabila mendengus, dirinya tidak menyukai kakak iparnya itu. Menurutnya sikap Anisa sangat manipulatif. Abah dan umminya saja yang tidak melihat keburukan Anisa, mereka hanya melihat dari tipu muslihat perempuan itu."Kalau tidak mau tidak apa-apa, mendingan kamu lihat ummi kamu daripada cuma disini diam." Ucap Anisa sembari kembali menguteki kuku tangannya.Nabila geram sekali dengan tingkah laku Anisa yang seenaknya. Dia bahkan tidak merasa kalau dirinya hanya seorang menantu disini. "Emang mbak gak takut kalau sampai Abah sama Abang tahu mbak Anisa fitnah Bu Indah?" Mata Anisa melotot, tidak menyangka kalau adik iparnya tau tentang hal itu. "Nabila, kalau ngomong jangan sembarangan. Buat apa saya fitnah Bu Indah? Yang ada sekarang
Nabila menatapi Abangnya yang sibuk senyum-senyum sendiri, dirinya memutar otaknya bagaimana caranya agar sang Abang pergi dari ruangan yang ditempati olehnya ini. Karena dirinya tidak mau abangnya sampai melihat dirinya di datangi oleh seorang pria. Dirinya sangat tau seperti apa posesifnya sang Abang.Nabila menggigit bibir bawahnya dengan kuat. "Bang," panggil Nabila.Arzan menoleh. "Kenapa? Butuh sesuatu? Abang bisa ambilkan," ucap Arzan menoleh sebentar lalu pandangannya kembali lagi pada ponselnya yang masih hidup. Dirinya sibuk berbalas pesan dengan Sheyza.Nabila menggeleng. "Emm, Abang gak mau pulang aja?" Nabila bertanya dengan nada suara pelan hampir seperti berbisik."Apa? Apa? Abang gak denger yang kamu bilang. Coba suara kamu sedikit besar. Kamu udah kayak orang mau ngajak gosip aja ngomongnya pelan-pelan gitu," Nabila menghembuskan nafasnya kasar.Memberanikan diri. "Emm, Abang gak kangen sama si kembar? Udah beberapa jam Abang pergi, ummi sama Abah juga ada disini. Ab
"Astaghfirullah, siapa yang sudah tega melakukan hal ini sama Bila. Ya Allah," Ummi Zulfa memekik saat melihat kondisi Nabila yang tidak baik-baik saja. Apa lagi tadi dokter mengatakan jika ada beberapa luka memar yang ada disekitar tubuh putrinya. Mereka semua tak tau apa yang telah di alami oleh Nabila sampai seperti ini. Nabila sama sekali tidak bercerita apapun."Ummi tenang dulu," Arzan menangkap tubuh ummi Zulfa yang hampir limbung. "Sakit jantung ummi bisa kambuh kalau ummi gak tenang," timpal Arzan lagi.Ummi Zulfa menggeleng dengan air mata yang terus berlinang, sungguh melihat kondisi anak perempuannya tidak baik-baik saja seperti saat ini membuat hatinya hancur."Ummi tenang dulu. Dokter tadi udah periksa Bila, katanya Bila baik-baik aja. Sebentar lagi juga siuman," kata Arzan berusaha menenangkan sang ummi."Siapa yang sudah melakukan hal ini sama adik kamu, bang. Dari kapan adik kamu mengalami hal menyedihkan seperti ini? Dan kenapa Bila diam aja? Kenapa Bila gak pernah
Entah bagaimana perasaan Nabila sekarang, tapi yang jelas baru pertama kali ini dirinya merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul didalam dirinya."Ya Allah aku kenapa," monolog Nabila. Sejak meninggalkan ruangan pria itu tadi, Nabila tak berhenti tersenyum. Bahkan saat dosen menyampaikan materi kuliah, Nabila sama sekali tak mendengarnya.Brakk Tengah asik melamun, Nabila terlonjak kaget saat meja yang ditempati olehnya tiba-tiba digebrak oleh seseorang.Nabila mendongak, ternyata pelakunya adalah Sinta yang sudah berdiri didepannya sambil bersidekap dada bersama dengan antek-anteknya.Nabila meneguk ludahnya susah payah, apa lagi melihat wajah mereka yang sangat menyeramkan. Rasanya Nabila ingin kabur aja saat ini juga. Harusnya tadi Nabila pulang saja saat dosen selesai memberikan mata kuliah tadi, tapi karena terlalu larut akan perasaan anehnya, Nabila sampai lupa pada Sinta dan antek-anteknya yang bisa menggangunya kapan saja."Wuuu apa tuh," salah satu teman Sinta menunjuk
Ting[Masuk Nabila, saya tau kamu sudah ada didepan. Kamu mau saya bukain pintu dan menarik kamu? Dengan senang hati akan saya lakukan.]Nabila berkedip pelan membaca pesan yang baru saja masuk diponselnya itu. Baru saja dirinya membuka ponsel dan mendapati pesan dari pria aneh itu. Nabila menarik nafasnya untuk sesaat lalu membuangnya kasar. Tangannya terangkat mengetuk pintu berwarna cokelat di depannya ini.Tok tok tok"Masuk!"Suara itu langsung terdengar membuat Nabila mendengus dan langsung menarik hendle pintu dan masuk ke dalam ruangan itu."Jauh banget kayaknya ruangan saya ya. Ini sudah hampir tiga puluh menit kamu baru sampai. Padahal saya, hanya membutuhkan waktu satu menit saja untuk sampai disini." Sinis Noah matanya menyorot tajam ke arah Nabila."Saya berjalan,""Saya juga jalan, apa kamu pikir saya terbang sampai ke ruangan saya?"Nabila melengos, menggeram kesal. Berdebat dengan pria didepannya ini tidak akan ada ujungnya, yang ada dirinya akan capek sendiri."Waktu
"Namanya Nabila, gadis cantik yang katanya anak salah satu pemilik pondok pesantren dikota ini."Kening Noah berkerut samar, matanya yang sedang menatapi foto gadis cantik itu langsung teralih ke arah orang yang ada disampingnya."Anak kyai?"Pria itu mengangguk. "Tapi tidak ada yang tau siapa dan dimana letak pondok pasantren tersebut. Kehidupan Nabila juga selalu diprivasi. Nama ayah, nama ibunya, dan saudaranya semua tidak ada yang tahu. Beberapa kali para dosen bertanya juga pada rektor, tapi rektor tetap bungkam dan tidak mau menjawab.""Tapi yang saya tau, beberapa mahasiswi mengatakan jika Nabila ini adalah anak dari seorang kyai pemilik pondok pesantren." Ucap pria itu lagi.Noah terus berpikir keras, merasa penasaran kenapa mesti identitas serta keluarga gadis itu dirahasiakan."Kalau masalah pembullyan itu saya sama sekali tidak tau pak Noah. Saya juga taunya setelah bapak yang mengatakannya."Noah mengangguk. "Sedari dulu, kampus ini anti pembullyan. Bahkan kita beberapa k
Malam itu cuaca sedang tidak bersahabat, hujan mengguyur kota Jakarta. Angin berhembus kencang memenuhi ruangan karena jendela kamar itu dibuka lebar.Sheyza melamun didepan jendela kamar, sambil menatapi air hujan yang berjatuhan.Abyan dan Abyas sudah terlelap sedari tadi. Beruntung kedua bayi kembar itu tidak terlalu rewel, jadi Sheyza bisa menenangkan rasa sesak yang menggerogoti hatinya saat ini.Siapa yang tidak sakit hati melihat foto yang baru saja dikirim oleh nomor orang yang tak dikenal, apa lagi didalam foto itu suaminya hanya duduk berdua dengan seorang perempuan.Pikiran buruk pun terlintas didalam kepala Sheyza, apakah suaminya selingkuh? Tapi kenapa? Bukankah rumah tangga mereka baru saja baik-baik saja.Sheyza menghembuskan nafasnya kasar, melirik jam yang menggantung diatas dinding. Ini sudah pukul setengah sebelas malam, namun suaminya belum pulang.Dia melirik ponselnya yang menganggur. Arzan bahkan sama sekali tidak menghubunginya. Hal itu semakin membuat resah di
"Mas, Shey curiga deh, kayaknya ada sesuatu yang disembuyiin sama Bila." Sheyza menata sang suami yang sedang sibuk mengotak-ngatik ponselnya.Namun, Arzan terlalu fokus dan menghiraukan ucapan sang istri."Mas!"Sheyza mengguncang lengan sang suami, membuat Arzan terkesiap. "Eh a-pa sayang?"Sheyza mengerucutkan ujung bibirnya. "Mas kenapa sihh. Sibuk banget sama ponsel, padahal dari tadi Shey lagi ngomong loh, tapi mas cuekin aja." Gerutu Sheyza.Arzan menggaruk bagian kepalanya yang tak gatal. "Maaf sayang, mas tadi ngecek laporan dari Ardi," ucap Arzan. "Kamu tadi ngomong apa? Coba ulang lagi, mas beneran gak denger."Sheyza menghela nafasnya kasar, tidak biasanya suaminya seperti ini. Walaupun mengecek laporan, suaminya akan tetap mendengarkan dan tidak pernah mengabaikannya.Tapi Sheyza tetap maklumi, mungkin ini hal yang sangat penting hingga membuat suaminya seperti ini."Tadi Shey bilang, kalau Bila akhir-akhir ini kayak aneh gitu. Bila kayak nyembunyiin sesuatu mas. Shey gak
"Hari ini kamu harus ke kampus, Noah. Oma mau kamu sekarang yang hendle kampus milik kakek kamu," ucap Oma Ina.Noah menghela nafasnya kasar, padahal dirinya malas jika berurusan dengan kampus itu. Dirinya juga punya pekerjaannya sendiri, bukan seorang pengangguran."Jangan menolak, karena cepat atau lambat saat kamu telah menikah nanti kampus itu Oma pindah atas nama kamu. Jadi mulai sekarang belajarlah sampai kamu mendapatkan calon istri." Ucap Oma Ina lagi yang tidak ingin dibantah.Noah mengangguk saja, tanpa berniat mengatakan apapun.Sedangkan Ana yang ada diruangan itu geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan mamanya."Ma, universitas itu haknya kak Rofiq, bukan hak kita ma. Bahkan papa jelas-jelas nulis disurat wasiatnya. Kenapa mama malah mau balik nama atas Noah?" Protes Ana.Oma Ina melotot. "Kamu diam Ana! Tau apa kamu tentang surat wasiat itu?!! Yang kamu baca itu hanya karangan saja, bukan benar-benar yang ditulis oleh papa kamu. Saya tau sendiri bagaimana sifat suam
"Bagaimana bah, kenapa Arzan belum juga hubungi kita? Ini udah hampir jam 2," ummi Zulfa terus gelisah saat tidak mendapatkan kabar sama sekali dari sang putra. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada anak gadisnya.Kyai Rofiq menghela nafasnya panjang. Ingin pergi mencari Nabila, tapi takut terjadi sesuatu pada sang istri mengingat ummi Zulfa memiliki riwayat penyakit jantung. "Ummi tenang dulu ya. Mungkin apa yang dibilang Arzan benar, bisa jadi ban mobil mereka bocor jadi mereka cari bengkel dulu."Ummi Zulfa menggeleng, "Kenapa sampai jam segini? Ini udah gak wajar bah. Kalau pun cari bengkel, mungkin jam sembilan saja sudah sampai dipondok. Tapi ini," tiba-tiba ummi Zulfa memegangi jantungnya yang terasa sesak.Kyai Rofiq langsung panik melihat itu. "Ummi tenang dulu. Jangan terlalu banyak pikiran." Kyai Rofiq menuntun sang istri menuju ke sofa yang ada diruangan itu."Duduk dulu. Biar Abah buatkan minuman untuk ummi,"Ummi Zulfa tidak menanggapinya, karena jantungnya benar-benar t