Satu Tahun Kemudian ..."Akhirnya setelah satu tahun, kita kembali ya, Sayang," ucap Shanum ketika turun dari pesawat, sambil mengusap kepala Baby Nata yang tertidur lelap di pangkuannya.Penerbangan panjang itu cukup melelahkan, tapi hatinya sedikit lebih ringan. Banyak hal yang sudah ia lalui dalam satu tahun terakhir, dan sekarang ia kembali ke tanah air, ke tempat di mana segalanya dimulai.Sebenarnya, ia belum ingin kembali jika menuruti ego. Akan tetapi, Shanum kasian juga melihat Bunda dan Daddy bolak balik ke china hanya untuk melihat Baby Nata. Selain itu, bukannya rasanya tidak adil jika Shanum akhirnya memilih tinggal di keluarga Chen setelah semua yang diberikan Keluarga Setiawan selama ini untuknya? Shanum merasa jadi kacang lupa kulitnya. Karena itulah, cukuplah setahun Shanum menenangkan diri di negeri orang, kini sudah waktunya ia kembali ke keluarga yang selalu mensuport-nya. Meski tidak memiliki hubungan darah.Begitu melewati pintu kedatangan, Shanum langsung melih
Shaki tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru mendapat permen. "Kak Sha nggak bohong, kan? Aku takut Kak Sha lupa sama aku setelah satu tahun di luar negeri!"Shanum tertawa kecil sambil menggeleng. "Mana bisa aku lupa sama biang onar satu ini?"Shaki memasang ekspresi dramatis, menepuk dadanya dengan gaya lebay. "Syukurlah! Aku takut Kak Sha cuma ingat Safran doang!"Mendengar namanya disebut, Safran yang sejak tadi diam hanya menaikkan alis sambil menyeruput minumannya.Shanum memutar bola mata. "Kenapa aku harus lebih ingat dia daripada kamu?"Shaki terkekeh, melirik Safran dengan tatapan menggoda. "Ya … siapa tahu selama ini Kak Sha diam-diam merindukan dia?"Shanum melipat tangan di dada, menatap Shaki dengan pandangan malas. "Shaki, kau nggak bosan bikin gosip aneh-aneh?"Shaki mengangkat bahu tanpa dosa. "Nggak. Lagi pula, apa yang aku bilang tadi masuk akal, kan?""Masuk akal dari mana? Jangan ngadi-ngadi, deh.""Ya, kan--""Shanum?"Shaki yang baru saja ingin menyahuti S
"Biarkan saja. Aku tidak keberatan kok dengan keberadaannya di sini.""Oh, ya sudah kalau begitu."Shanum pasrah melihat Baby Nata tidur nyaman di dada Safran, ia akhirnya memilih duduk di sofa, mencoba menikmati suasana acara yang masih berjalan. Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya."Kak Sha, aku serius, loh. Mungkin ini pertanda."Shanum menghela napas panjang sebelum menoleh ke Shaki yang duduk dengan ekspresi penuh konspirasi."Pertanda apanya?"Shaki menyeringai. "Ya pertanda kalau aku atau Safran itu jodoh Kak Sha."Shanum memutar bola mata. "Shaki, cukup.""Tapi—""Serius, cukup."Shaki mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang permennya direbut. Tetapi ekspresinya langsung berubah jahil."Kak, aku ada ide bagus," bisiknya tiba-tiba."Jangan macem-macem Shaki. Aku tidak tertarik pada apapun idemu itu." Shanum langsung menolak mentah-mentah tanpa mau tau ide Shaki yang di tawarkan.Ngapain? Biang onar ini tak dapat di
Sakit itu kembali terasa mencengkram perut bawah Shanum, dan kali ini rasanya lebih menyakitkan dari siang tadi. Shanum pun berusaha mengatur napas, agar rasa sakit itu sedikit berkurang.Setelah sakitnya terasa berkurang, Shanum segera menyelesaikan acara mandinya, kemudian mengambil baju ganti yang lebih nyaman. Lalu keluar dari walk in closet yang tersambung dengan kamar mandi di kamarnya. Secara perlahan-lahan dan sambil perpegangan pada tembok dia berjalan tertatih "Akh!" Shanum meringis pelan sepanjang perjalanan. Jarak kamar mandi dan ujung walk in closet tiba-tiba terasa melebar puluhan kilometer untuknya.Sakit! Sakit sekali! Perutnya terasa diremas-remas oleh seribu tangan. Sepertinya, Shanum memang harus segera ke Rumah sakit sekarang. Firasatnya benar-benar tidak enak akan sakit yang kerap dia rasakan sejak siang tadi. Kali ini, bahkan lebih sakit lagi.Ceklek!Akhirnya, Shanum sampai pada pintu yang menghubungkan walk in closet dan kamarnya. Saat wanita itu membuka pintu
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janinnya."Kalimat itu bagai vonis kematian untuk Shanum. Sukses meluluh lantahkan hati dan kekuatan terakhirnya. Apa yang Shanum takutkan terjadi juga. Hati Shanum hancur sehancur-hancurnya. Dua tahun sudah Shanum menunggu kehadirannya. Setelah hadir, dia malah pergi lagi. Sialnya tanpa Shanum sadari keberadaannya.Shanum sedih, sekaligus kecewa pada dirinya. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari keberadan sang buah hati beberapa minggu ini? Shanum sungguh kecewa. Ibu macam apa dia ya Tuhan?Dan yang lebih membuat Shanum makin sedih. Suaminya tak kunjung datang jua, padahal sudah dikabari oleh Diva. Bahkan, ponselnya mendadak tidak aktif dan tidak bisa dihubungi. Sementara saat ini, Dokter memerlukan tanda tangan sang suami untuk tindakan kuret. Beruntung ada ayah mertua yang bersedia menggantikan tanggung jawab Reksa. Shanum semakin kecewa dengan suaminya itu.***"Ayo, buka mulutnya. Aaa ...."Shanum memalingkan wajahnya, menghidari sendok yan
Shanum sudah tidak tahu lagi harus menyebut Reksa seperti apa. Tidak tahu malu? Tidak punya hati? Atau malah tidak punya otak?Sudah tahu kondisi Shanum masih berduka paska keguguran. Masih sensitif dan masih sangat marah pada apa pun yang mengingatkannya pada penyebab dukanya tersebut. Khususnya terhadap Ayu. Seharusnya, sebagai seorang suami Raksa mengerti hal itu dan berusaha menjaga perasaannya dengan menjauhkan Ayu darinya. Tetapi yang terjadi malah, pria itu membawa Ayu kehadapan Shanum tanpa dosa sama sekali. Membuat Shanum makin muak di tempatnya. Masih pantaskah Reksa disebut sebagai seorang suami?"Hai, Shanum. Bagaimana kabarmu? Aku ... turut berduka untuk bayimu." Ayu memasang wajah sendu menatap Shanum. Entah benar-benar tulus, atau hanya modus karena di sana ada Reksa. "Aku juga minta maaf untuk semalam. Aku tidak tahu jika akhirnya akan begini. Kalau aku tahu, sudah kularang temanku menghubungi Reksa."Shanum tetap bergeming. Membungkam mulutnya serapat mungkin, ser
Biasanya, Shanum akan membela diri jika merasa memang tidak bersalah. Meski akan berakhir percuma, Shanum akan tetap mencoba menjelaskan duduk masalah sebenarnya pada Reksa. Tetapi kali ini berbeda. Mendengar tuduhan Reksa yang seenaknya. Shanum memilih diam dan memalingkan wajah ke arah lain. Seolah memang sudah tak sudi melihat wajah suaminya lagi. "Sikap macam apa ini, Shanum? Jawab aku!" Reksa pun semakin marah, lalu mencengkram dagu Shanum lumayan keras, dan memutarnya agar menatap Reksa.Sakit sebenarnya. Namun, Shanum tetap memilih diam. Hanya membalas tatapan tajam Reksa dengan dingin. Memang ada bedanya jika Shanum jelaskan?"Shanum? Jangan diam saja. Katakan sesuatu. Kenapa kamu suka sekali mengadu?" cecar Reksa lagi. Seraya menguatkan cengkramannya pada dagu Shanum. Shanum pun menghela tangan itu kasar hingga terlempar lumayan kuat. Namun, tetap mempertahankan tatapan dinginnya pada Reksa. "Kalau aku bilang, aku tidak melakukannya, kamu percaya?""Tidak!" jawab Reksa c
Shanum tahu, sebagian dari kalian pasti mengatainya bodoh, tolol, goblok atau apalah itu. Padahal punya kesempatan mengadu, tapi malah tidak melakukannya, bahkan sengaja menutupi semuanya. Ya, Shanum akui. Dia memang bodoh. Namun, pernahkah kalian mempunyai prinsif hidup? Nah, sebenarnya itulah yang sedang Shanum lakukan saat ini, yaitu memegang prinsif hidup yang sudah dia pilih. Reksa adalah pilihannya. Pun pernikahan ini. Jadi seburuk dan seperih apa pun yang ia jalani saat ini. Shanum hanya mencoba menerima, karena ini adalah resiko atas pilihannya. Terlebih, Shanum sudah pernah bilang, kan? Dia sudah membuat janji pada Reksa, tak akan pernah meninggalkan pria itu selama dia tidak memukul dan memiliki istri lain. Karenanya, meski sakit, Shanum terpaksa tetap bertahan."Astaga! Kak Reksa ngapain?" Diva tiba-tiba hadir di ambang pintu. "Lepasin! Jangan sakiti Kak Shanum lagi!" Diva bahkan menarik Reksa agar segera menjauh dari Shanum. "Awas, ya, kalau Kak Reksa macam-macam lagi s
"Biarkan saja. Aku tidak keberatan kok dengan keberadaannya di sini.""Oh, ya sudah kalau begitu."Shanum pasrah melihat Baby Nata tidur nyaman di dada Safran, ia akhirnya memilih duduk di sofa, mencoba menikmati suasana acara yang masih berjalan. Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya."Kak Sha, aku serius, loh. Mungkin ini pertanda."Shanum menghela napas panjang sebelum menoleh ke Shaki yang duduk dengan ekspresi penuh konspirasi."Pertanda apanya?"Shaki menyeringai. "Ya pertanda kalau aku atau Safran itu jodoh Kak Sha."Shanum memutar bola mata. "Shaki, cukup.""Tapi—""Serius, cukup."Shaki mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang permennya direbut. Tetapi ekspresinya langsung berubah jahil."Kak, aku ada ide bagus," bisiknya tiba-tiba."Jangan macem-macem Shaki. Aku tidak tertarik pada apapun idemu itu." Shanum langsung menolak mentah-mentah tanpa mau tau ide Shaki yang di tawarkan.Ngapain? Biang onar ini tak dapat di
Shaki tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru mendapat permen. "Kak Sha nggak bohong, kan? Aku takut Kak Sha lupa sama aku setelah satu tahun di luar negeri!"Shanum tertawa kecil sambil menggeleng. "Mana bisa aku lupa sama biang onar satu ini?"Shaki memasang ekspresi dramatis, menepuk dadanya dengan gaya lebay. "Syukurlah! Aku takut Kak Sha cuma ingat Safran doang!"Mendengar namanya disebut, Safran yang sejak tadi diam hanya menaikkan alis sambil menyeruput minumannya.Shanum memutar bola mata. "Kenapa aku harus lebih ingat dia daripada kamu?"Shaki terkekeh, melirik Safran dengan tatapan menggoda. "Ya … siapa tahu selama ini Kak Sha diam-diam merindukan dia?"Shanum melipat tangan di dada, menatap Shaki dengan pandangan malas. "Shaki, kau nggak bosan bikin gosip aneh-aneh?"Shaki mengangkat bahu tanpa dosa. "Nggak. Lagi pula, apa yang aku bilang tadi masuk akal, kan?""Masuk akal dari mana? Jangan ngadi-ngadi, deh.""Ya, kan--""Shanum?"Shaki yang baru saja ingin menyahuti S
Satu Tahun Kemudian ..."Akhirnya setelah satu tahun, kita kembali ya, Sayang," ucap Shanum ketika turun dari pesawat, sambil mengusap kepala Baby Nata yang tertidur lelap di pangkuannya.Penerbangan panjang itu cukup melelahkan, tapi hatinya sedikit lebih ringan. Banyak hal yang sudah ia lalui dalam satu tahun terakhir, dan sekarang ia kembali ke tanah air, ke tempat di mana segalanya dimulai.Sebenarnya, ia belum ingin kembali jika menuruti ego. Akan tetapi, Shanum kasian juga melihat Bunda dan Daddy bolak balik ke china hanya untuk melihat Baby Nata. Selain itu, bukannya rasanya tidak adil jika Shanum akhirnya memilih tinggal di keluarga Chen setelah semua yang diberikan Keluarga Setiawan selama ini untuknya? Shanum merasa jadi kacang lupa kulitnya. Karena itulah, cukuplah setahun Shanum menenangkan diri di negeri orang, kini sudah waktunya ia kembali ke keluarga yang selalu mensuport-nya. Meski tidak memiliki hubungan darah.Begitu melewati pintu kedatangan, Shanum langsung melih
Di tengah kehancurannya, ternyata Reksa masih belum menyerah.Ia menatap layar ponselnya yang kini dipenuhi hujatan, dan Followers-nya terus turun. Jumlahnya kini tinggal 50 ribu, dan mayoritas hanya bertahan untuk mengejeknya.Reksa tidak bisa menerima ini begitu saja!"Aku harus mengubah keadaan!" katanya dengan penuh tekad.Mama Rima yang duduk di sampingnya ikut panik. "Iya, Sa! Kita harus cari cara buat ngembaliin simpati orang!"Reksa tidak bisa berpikir apa pun ia terlalu syok dengan keadaan yang berputar arah terlalu tajam. Ia belum menyiapkan apa pun untuk serangan ini. Setelah berpikir keras beberapa saat, Reksa akhirnya menemukan strategi baru. Ia akan tetap berpura-pura menjadi korban.Pria itu mengambil ponselnya, bersiap membuat rekaman video dengan wajah lusuh dan mata berkaca-kaca. Pokoknya ia harus semelas mungkin."Hai teman-teman… Aku nggak tahu harus mulai dari mana… Tapi aku merasa dikhianati…" katanya dengan suara gemetar."Aku cuma seorang ayah yang ingin dekat
Reksa duduk di sofa butut kontrakannya, menatap layar ponselnya dengan penuh kepuasan. Jumlah followers-nya melonjak drastis setelah drama yang ia mainkan berhasil menarik perhatian netizen."Lihat, Ma! Aku sudah tembus 500 ribu followers! Banyak yang mulai mendukungku!" Reksa tertawa, menunjukkan layar ponselnya pada Mama Rima.Mama Rima tersenyum penuh kemenangan. "Bagus, Sa. Itu berarti Shanum mulai terpojok. Dia pasti akan luluh dan memberikan apa yang kita mau."Reksa menyeringai. "Bukan hanya itu, Ma. Aku juga sudah jadi selebgram dan pasti sebentar lagi akan terima endorse. Tunggu saja, anakmu ini pasti dapat uang berlipat. Ya dari Shanum, ya dari endorse-an." Mata Reksa berkilat penuh rencana.***Di salah satu vila mewah di Beijing, Shanum duduk santai sambil menyesap teh hangat. Di depannya, Arjuna sedang sibuk membaca laporan dari tim media keluarga Chen. Sementara Bunda Karina, sedang mengobrol seru dengan nenek kandung Shanum. Orang tuanya memang menyusul ke China bebera
Beberapa hari setelah somasi konyol itu dikirim, sebuah paket tiba di kontrakan sempit tempat Reksa tinggal. Di depan pintu, seorang kurir menunggu dengan wajah tak sabar."Pak Reksa, ini dokumen untuk Anda. Harap ditandatangani."Reksa, yang saat itu hanya mengenakan kaos lusuh dan celana pendek, menerima paket itu dengan dahi berkerut. Begitu ia melihat logo firma hukum ternama di amplopnya, jantungnya berdegup lebih cepat."Akhirnya! Mereka pasti takut!" katanya penuh keyakinan.Mama Rima, yang duduk di sofa usang, mencondongkan tubuh dengan antusias. "Buka cepat, Sa! Lihat apa mereka mau menyerah dan membagi hartanya!"Dengan tangan gemetar, bukan karena takut, melainkan penuh ambisi, Reksa membuka amplop itu dan mulai membaca. Namun, seiring dengan matanya yang bergerak dari baris ke baris, wajahnya yang semula penuh percaya diri berubah tegang, lalu merah padam."A-apa-apaan ini?!"Mama Rima merampas dokumen itu dan mulai membaca dengan lantang:"Tuan Reksa yang terhormat,Menan
Shanum menegakkan punggungnya kala menyadari bahwa sekarang semua mata tertuju padanya. Ini saatnya.Daddy Arjuna melanjutkan, suaranya penuh wibawa."Selama ini, banyak yang mengenal Shanum sebagai anak angkat keluarga Setiawan. Namun, malam ini, saya ingin meluruskan satu hal. Shanum bukan hanya bagian dari keluarga Setiawan, tetapi juga berasal dari keluarga terpandang di luar negeri."Ruangan semakin hening. Beberapa tamu terlihat saling bertukar pandang, penasaran dengan apa yang akan dikatakan selanjutnya.Daddy Arjuna tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada seseorang di antara para tamu. "Izinkan saya memperkenalkan seseorang yang sangat berarti dalam kehidupan Shanum."Seorang pria paruh baya dengan setelan elegan melangkah maju. Wajahnya penuh ketenangan, namun sorot matanya menunjukkan kebanggaan."Inilah Mr. Chen, paman kandung Shanum dari keluarga Fan Zheng."Seketika, ballroom kembali riuh. Para tamu mulai berbisik lebih keras. Para jurnalis lan
Shanum masih tertegun di tempatnya, dengan perasaan yang ... entahlah. Otaknya blank dan tenggorokannya tercekat tiba-tiba setelah mendengar kenyataan yang dibawa sang bunda. Rasa bingung, sedih, bahagia, kecewa, marah, banyak lagi berkecamuk dalam hatinya saat ini. Pokoknya kacau sekali. Saking kacaunya, ia sampai tidak tahu harus bereaksi apa saat ini.Jadi dia tidak benar-benar sebatang kara? Dia masih punya keluarga dari pihak sang ayah, yang berada di negara China. Salah satunya Mr Chen yang ternyata adalah pamannya. Ada rasa lega dalam sudut hatinya mengetahui semua fakta barusan. Namun juga sedih dan miris mendengar kisah orang tuanya yang ternyata tragis. Meski begitu, Shanum pun senang mengetahui jika ternyata dia bukanlah anak haram seperti tuduhan beberapa orang. Karena faktanya, Shanum ternyata lahir dalam sebuah ikatan pernikahan yang Sah. Sah dalam hukum agama dan negara! Karena akta nikah orang tuanya pun ternyata ada. Tersimpan rapi di rumah yang ditinggalkan ibunya
Padahal, awalnya Karina dan Arjuna ingin membiasakan Shanum dengan kehadiran pasangan Chen dan mendekatkan mereka sebelum akhirnya jujur tentang semuanya. Namun, sepertinya yang terjadi tak sesuai harapan. Alih-alih terbiasa dan dekat, Shanum malah nampak tak nyaman.Apa yang salah?Shanum kenapa?Kenapa sekarang anak itu mudah curiga?Apa ini masih ada dampak dari traumanya pada keluarga Reksa?Menyadari hal itu, Arjuna dan Karina pun gegas mengambil keputusan. Nampaknya, semua memang sudah tak bisa di tutupi lagi. Karena rencananya, pada acara akikah Baby Nata nanti, Shanum akan sekalian diperkenalkan sebagai salah satu dari pewaris keluarga Chen. Keluarga taipan di negeri China. Semua bertujuan agar Shanum tak lagi di pandang sebelah mata hanya karena statusnya yang menjadi anak angkat di keluarga Setiawan dan tidak jelas asal usulnya. Tidak! Shanum tidak serendah itu. Tanpa keluarga Setiawan pun, Shanum tetap harus di hormati. Karena garis keturunan yang Shanum miliki tidaklah