Home / Romansa / Sentuh Aku, Pak! / 48. Sekamar... LAGI?

Share

48. Sekamar... LAGI?

last update Last Updated: 2022-02-02 07:19:01

Carla menggeram, mengibaskan rambutnya kesal. Tak tahan dengan suhu ruangannya yang panas, Carla pun bangkit dari duduknya sambil membawa laptop di tangan. Sebelum keluar dari kamarnya, mata Carla memincing tajam ke arah AC kamarnya yang tiba-tiba saja tidak berfungsi. 

Gadis itu berjalan menuju sofa depan televisi, meletakkan laptopnya dengan hati-hati di atas meja lalu mendaratkan bokongnya di atas lantai, mengangguri sofa empuknya di belakang. Carla juga tidak menyalakan televisi, karena tujuannya ke ruang tengah agar ia nyaman mengerjakan tugas kuliah. Kalau televisi di biarkan menyala, mungkin konsetrasi gadis itu akan terbelah dua dan tugasnya tak kunjung rampung.

Carla menghentikan aktifitasnya sejenak, melirik ke kamar Savian yang tertutup rapat, lampu di kamar itu padam, sepertinya sang pemilik kamar belum kunjung pulang. Gadis cantik itu menghela napas pelan, mendapati jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi tanda-tanda Savian akan pulang

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Noviani Siregar
biaya muara mulai mengeluarkan jurusnya.....
goodnovel comment avatar
Bintang ponsel
hmmm, begok klo smpe carla msuk lubang buaya
goodnovel comment avatar
Murni Aty
jgn mau car sekasur sama buaya rawa...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Sentuh Aku, Pak!   49. Malam Minggu

    Pertahanan Carla musnah. Nyatanya, gadis polos itu kini sedang meringkuk nyaman di dalam dekapan hangat Savian. Tidur di satu ranjang yang sama seperti ini bukan yang pertama kalinya untuk mereka. Tapi entah kenapa malam ini suasananya sangat berbeda. Mungkin karena malam ini mereka tidur bersama bukan karena ketiduran. "Pak..." Carla bersuara pelan. "Hm?" Meski kedua matanya sudah terpejam, tapi Savian belum tertidur sepenuhnya. "Bapak pernah melakukan seks?" Bola mata Savian seketika terbuka, tatapannya langsung melotot ke arah Carla. Tidak menduga bahwa pertanyaan gadis itu menyerempet ke arah sana. Savian menghela napas pelan, tatapannya yang semula ke arah Carla kini teralihkan ke langit-langit kamar, "Lebih tepatnya, aku pernah making love." jawab Savian tanpa sungkan. Carla tidak ka

    Last Updated : 2022-02-02
  • Sentuh Aku, Pak!   50. Cari Perhatian

    Tidak ingin merusak malam minggu pertamanya hanya karena perdebatan kecilnya dengan Savian. Carla paksakan untuk memasang senyum cerah malam ini, menyapa satu per satu teman Alvero yang beberapa tidak di kenalnya. Ternyata yang datang lebih banyak dari yang Carla kira. Malah wajahnya pun asing semua. Sepertinya anak-anak dari fakultas lain ikut gabung juga. "Carlaaaa," Itu Dinne. Satu-satunya cewek di kampus yang deket sama Carla. Melihat kehadiran Dinne, Carla jadi sedikit lega. Ah, omong-omong, Carla belum sempat mentraktir Dinne sebagai balas budi karena beberapa hari lalu cewek itu menolongnya. Dinne memeluk Carla sekilas, lalu melakukan tos ala anak tongkrongan dengan Alvero. "Tumben banget lo ikut ngumpul gini!" kata Dinne masih tidak percaya. Mereka sudah di semester 4, tapi baru kali ini Dinne mendapati Carla menghadiri acara kumpul-kumpul seperti malam ini. "He he he, aku mau cari pacar, Nne." bisik Carla malu-malu. Mata Dinne langsun

    Last Updated : 2022-02-02
  • Sentuh Aku, Pak!   51. Pulang Bareng

    Chaka tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis yang duduk di kursi pojok. Cewek yang baru saja di tarik Alvero untuk pindah dari kursi di sebelahnya. Tatapan mata menilai Chaka di pergoki Alvero, membuat cowok itu menatap Chaka dengan sorot mata yang tajam. Chaka tersenyum, lalu mendengus. Kenapa Alvero tampak kesal? padahal dia cuma teman Carla saja. "Lho, lo kenapa duduk di sini, Ka? Carla mana?" Dinne datang sambil menggaruk pelipisnya. Tampak kebingungan karena kursi yang semula ia tempati malah di duduki Chaka. Dagu Chaka menunjuk ke arah Carla yang kini sedang ngobrol dengan Frisco, bibir cewek itu melengkungkan senyum lebar, sepertinya sedang membicarakan hal yang lucu sampai sih Ucok berhasil mengubah raut datar Carla jadi ceria. Ah, Chaka jadi makin sulit mengalihkan pandangannya dari Carla. Senyum gadis itu memanjakan matanya. "Kok pindah?" Dinne bertanya - tanya sambil mendudukkan diri di kursi kosong sebelah Chaka. Meraih gelas ic

    Last Updated : 2022-02-02
  • Sentuh Aku, Pak!   52. Tidur di Sofa

    Chaka suka suaranya. Penuturan kata yang tenang dan halus. Membuat Chaka yang biasanya kalau ngomong agak teriak jadi sedikit merendahkan oktaf suaranya ketika membalas ucapan Carla."Gue pernah ngeliat lo di lorong gedung FEB beberapa kali, di kantin juga sering. Dan udah pasti lo selalu sama Alvero." celetuk Chaka di akhiri kekehan ringan.Tidak ada kecanggungan, Chaka lebih banyak bicara agar keheningan tidak mengambil kesempatan untuk menyelimuti momen kebersamaan mereka. Apapun yang melintas di pikirannya akan keluar dari mulut Chaka.Alis Carla terangkat, menoleh ke Chaka yang sedang fokus pada roda kemudinya, "Kamu sering makan di kantin FEB?" Jeda. "Kenapa anak teknik suka banget ke kantin FEB, ya." lanjutnya bertanya-tanya."Sering kalau lagi pengen makan enak. Soalnya makanan di kantin lo lebih enak rasanya. Apa lagi baksonya, beeeh! gak ada lawan!" jawab Chaka tertambah begitu antusias jika membicarakan masalah makanan.Carla memainkan alisnya menggoda,

    Last Updated : 2022-02-03
  • Sentuh Aku, Pak!   53. Katanya, Cuma Bercanda

    Pukul sembilan pagi Carla terbangun dari tidurnya. Sinar matahari yang menembus tirai jendela membuat kelopak mata Carla mengerut, tangan kanannya lantas terangkat menutupi bagian matanya guna menghalangi silau mentari yang menyengat.Mendengar suara grasak-grusuk dari luar kamar, Carla segera menyibak selimut dan beranjak berdiri. Bibir gadis manis itu praktis melengkungkan senyuman ketika mendapati Savian yang sudah bergelut dengan piring kotor."Wiiiiih, pak Savian!" ejek Carla sambil berjalan menghampiri pria yang memakai celemek merah muda di tubuhnya itu, "Ada apa nih pagi-pagi gini nyuci piring?" sambungnya sambil menatap Savian penuh selidik.Savian menoleh sekilas ke Carla, lalu tersenyum, "Udah bangun kamu, Car?" sapanya basa-basi. Kepala Savian menoleh ke belakang, ke arah meja pantry. Tersedia dua lapis sandwich dan cangkir kopi yang asapnya masih mengepul. Menandakan kopinya baru di buat beberapa menit lalu."Aku buatin sandwich t

    Last Updated : 2022-02-03
  • Sentuh Aku, Pak!   54. Diapel Rombongan

    Kabar gembira, AC di kamar Carla sudah kembali berfungsi dengan baik. Setelah di perbaiki kurang dari dua jam, akhirnya AC itu hidup kembali usai di kutak-katik dengan tangan magic tukang servis."Sudah adem, kan?" Savian datang mengecek kembali suhu di kamar Carla. Memastikan kalau AC di servis dengan betul-betul."Udah, pak." balas Carla sedikit malas, "Ngapain masuk, pak?!" protes Carla melihat Savian yang semula hanya berdiri di ambang pintu kini berjalan menuju jendela kamarnya.Savian tidak menjawab, ia hanya berdiri di depan jendela sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangan menatap lurus ke depan, mengamati halaman di luar."Kamu suka baca buku?" pandangan Savian beralih ke rak buku yang letaknya di samping jendela, bersebelahan dengan meja belajar gadis itu."Hm... lebih tepatnya aku suka baca buku novel." jawab Carla yang masih mempertahankan posisinya, duduk di sis

    Last Updated : 2022-02-04
  • Sentuh Aku, Pak!   55. Tamu Pagi Ini

    Carla akhirnya bisa bernapas lega. Teman-temannya sudah pulang, dan menyisakan ruang tengah yang berantakan. Carla memijat keningnya, memandang ruang tengahnya yang sudah seperti kapal pecah. Bantal sofa yang kabur dari tempatnya, lantai dan sofa yang kotor karena remahan cemilan, belum lagi piring serta gelas kotor yang menumpuk di wastafel.Suara decitan pintu kamar yang terbuka membuat Carla spontan menoleh ke sumber suara. Savian muncul dari balik pintu sana, dari raut wajahnya, pria itu terlihat kaget dan tidak kalah stressnya dengan Carla. Kediaman mungil mereka yang baru saja di bersihkan tadi pagi berubah seperti kapal pecah dalam hitungan jam."Pak, maaf..." lirih Carla penuh dengan rasa bersalahnya.Savian menghela napas pelan, tak menduga senyuman simpul malah terlukis di wajah yang beberapa detik lalu terlihat frustrasi itu. "It's okay, Car. Rumah aku dulu juga selalu berantakan kalau habis di pakai ngumpul sama teman." ujar Savian mencoba mema

    Last Updated : 2022-02-06
  • Sentuh Aku, Pak!   56. Turun Standar

    "Jangan ngintip ya, pak!" ancam Carla menatap punggung Savian tajam sebelum akhirnya melepas tali handuknya dan hanya menyisakan pakaian dalam yang sempat ia pakai di dalam kamar mandi.Savian yang tidak pernah mengucapkan janji untuk tidak menolehkan kepalanya ke belakang tentu saja segera melakukan larangan dari Carla diam-diam. Pria itu meneguk ludah menatapi lekuk tubuh menggoda milik Carla yang selama ini selalu di tutupi dengan kaus oversize. Satu kata yang dapat Savian simpulkan, Perfect. Kulitnya yang mulus, lingkar pinggang yang ramping dan bokongnya sintal. Savian tidak kuat jika harus mendeskripsikan bentuk tubuh Carla satu persatu, tampak belakangnya saja berhasil membuat pikiran Savian berkelana, apa lagi bagian depan tubuh gadis itu."Jangan ngintip, pak!" ucap Carla tanpa membalikkan badannya, hanya memperingatai kembali pria itu saja."Iya, Car, aku gak ngintip, kok," sahut Savian, tapi pandangannya m

    Last Updated : 2022-02-07

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] 19 - Belajar Memasak

    Tidak seperti kemarin, pagi ini Keina ikut sholat subuh bersama Kahfi di rumah. Berbeda dari hari biasanya, entah kenapa rasanya pagi ini kantuk tidak begitu menghantui. Meski gadis itu kembali goleran di atas ranjang tidur, namun telinganya dia pasang lebar-lebar untuk mendengar suara syahdu Kahfi yang sedang membaca kitab suci Al-Qur'an.Tepat pukul enam pagi, Kahfi menutup kitabnya dan bersiap untuk membuat sarapan. Tak lupa dia mengganti pakaian santainya dengan pakaian kantor supaya habis sarapan dia bisa langsung berangkat kerja.Mendengar suara pintu yang tertutup, Keina mengangkat kepalanya. Dia melempar ponsel yang sejak tadi menempel ditangan, dengan terburu-buru gadis itu mengikuti jejak sang suami.Keina berjalan mendekati tanpa mengatakan apapun, Kahfi yang sudah mulai memasak sempat mennatapnya sejenak, tapi tak ada pertanyaan apapun yang meluncur dari bibir pria itu."Aku buatkan kopi ya buat kakak?" tanya Keina sembari berdiri di sebelah Kahfi yang sibuk memotong sayur

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 18. Tragedi Kamar Mandi

    Tidak seperti seorang istri pada umumnya yang bangun tidur langsung bergelut di dapur. Rumah tangga Kahfi dan Keina justru berbanding balik dari hal itu. Disaat Keina masih terlelap begitu nyenyak di atas ranjang, Kahfi sudah sibuk di dapur membuat sarapan.Selesai menata dua piring nasi goreng telur ceplok di atas meja, Kahfi kembali berjalan menuju kamar untuk membangunkan istrinya."Sudah bangun, Na?" ujar Kahfi menghampiri Keina yang ternyata sudah terjaga. Namun gadis itu masih rebahan di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.Mendapati Kahfi yang datang, Keina lantas mengusap wajahnya dan meletakan ponselnya ke nakas. "Belum berangkat kerja, Kak?" "Berangkat nanti setelah kita sarapan. Ayo bangun, sarapan dulu." Tak sedikitpun Kahfi merasa kesal melihat Keina yang masih santai-santai di jam segini. Dia memahami keadaan gadis itu yang habis menempuh perjalanan jauh semalam, apalagi Keina sedang berbadan dua, jadi harus banyak beristirahat.Selepas membasuh wajah, Keina duduk d

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 17. Kehangatan Keluarga Suami

    "Kalau aku boleh tahu, apa Kak Kahfi pernah pacaran?" Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir istrinya, Kahfi hampir saja tersedak kopi. Beruntung dia bisa mengontrol diri. Kekehan kecil dia keluarkan, ada rasa gelitik manakala suara istrinya tertangkap telinga. Ya, masalahnya, tumben banget Keina penasaran dengan kehidupan Kahfi. Padahal biasanya gadis itu cuek bebek dan seakan tidak peduli apapun tentang suaminya."Tumben kamu nanya begitu?" Wajah tampan itu langsung mengibarkan sebuah cengiran yang membuat Keina spontan mengalihkan pandangan. Mungkin takut terpesona akan ketampanan suami yang tidak dia cintai itu."Ya, kalau enggak mau jawab gakpapa!" Keina kembali ke mode jutek. Entah ada angin apa, tiba-tiba saja dia mau bergabung bersama Kahfi untuk menghirup udara pagi di balkon kama.r. Sepertinya hari ini suasana hati Kahfi akan bagus seharian sebab sang istri mengalami perubahan, meski tidak terlalu signifikan.Menurutnya, dengan cara bicara Keina yang jadi lebih lembut

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 16. Peluk Untuk Keina

    Kahfi menghembuskan napasnya cemas, pria itu tidak bisa berhenti memikirkan istrinya yang sekarang entah berada dimana. Keina yang beberapa jam lalu mengeluh tak enak badan, kini menghilang. Sudah sejak tadi Kahfi ingin mencarinya, tapi Keino melarang dan mengatakan kalau sebentar lagi gadis itu pasti akan pulang. Kata Keino, Keina memang suka pergi main tanpa bilang-bilang. Kalau pun memaksa pergi, Kahfi juga tidak tahu harus kemana, dia tidak mengenal teman-teman dekat istrinya. Sedari tadi ponsel Keina juga tidak bisa dihubungi."Tunggu di dalam aja, Kaf. Dingin di sini." Keino datang sambil memainkan kunci mobil di tangannya, sepertinya pria itu hendak pergi.Kahfi mengangguk tanpa mengatakan apapun. "Enggak usah khawatir, Keina emang gitu anaknya, bandel. Sering kabur-kaburan. Nanti kalau dia udah pulang, sentil aja kupingnya, kebiasaan kalau main enggak izin dulu. Dia lupa kali kalau sekarang udah punya suami." gerutu Keino. Mungkin dia kesal dengan tabiat adiknya yang satu itu

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 15. Bertemu Dirga

    Keina melenguh disela-sela tidurnya, bukan tanpa sebab tidurnya yang nyenyak itu terganggu. Ada sesuatu yang mengguncang pundaknya, dan dengan terpaksa Keina membuka mata."Na, bangun..." Suara halus itu kini sudah langganan ditelinganya, jelas dia tahu siapa pemiliknya. Kahfi."Kenapa sih, Kak? Aku masih ngantuk!" Keina menepis tangan Kahfi dari pundaknya. Demi Tuhan, dia masih ngantuk berat, setelah subuh tadi dia harus terbangun untuk sholat subuh, kini Kahfi kembali mengusik tidurnya lagi."Hei, kamu lupa hari ini kita mau ke Dokter Kandungan?" Meski suaranya masih tetap lembut, tapi nyatanya saat ini Kahfi sedang menahan rasa sabarnya. Baru beberapa minggu menjadi suami, namun rasa sabar Kahfi benar-benar diuji.Mendengar apa yang baru saja suaminya itu katakan, spontan sepasang mata Keina membulat sempurna. Dia segera memunggungi Kahfi dan meringis pelan. Tentu saja sambil mengumpat dalam hati. Benar, dia lupa kalau hari ini mereka sudah janjian untuk periksa kandungan. Bukan me

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 14. Gawat!

    Keina duduk di depan Kahfi dan Keino dengan wajah tegang. Sejak kemarin kakaknya itu memang ada di rumah, tapi hubungan mereka sedikit canggung karena pemasalahan yang ada. Ya, tentu saja Keino marah saat mendengar kabar bahwa adiknya itu dihamili oleh pria yang tidak bertanggungjawab. Jangankan ngobrol, sejak datang saja Keino tidak mau menatap wajah Keina, baru tadi saat menegurnya di depan teman-temannya.Jadi, tolong jangan ditanyakan seberapa besar rasa marah Keino ke Keina. Sebagai kakak, dia jelas merasa sangat kecewa dan gagal melindungi adiknya dari janji manis laki-laki buaya."Gimana Keina, Kaf? Dia menjalani kewajibannya sebagai istri, kan?" tanya Keino menatap Kahfi dengan serius, walaupun Keina duduk tepat disebelah Kahfi, tapi tak sekilas pun matanya melirik ke arah sang adik yang merengut cemas.Sebelum menjawab pertanyaan kakak iparnya itu, Kahfi menoleh ke arah Keina dan tersenyum lembut. Dia menggerakan tangannya, merangkum punggung tangan Keina yang nganggur lalu m

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 13. Kedatangan Kahfi

    "Na, mobil siapa tuh?"Keina yang sedang asik berbincang dengan Gibral lantas mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dengan apa yang Miska lihat saat ini. Sebuah mobil Range Rover yang melaju memasuki perkarangan rumahnya. Perlahan kening Keina berkerut sebelum bibirnya mengeluarkan sebuah decakan sebal setelah tersadar siapa pemilik mobil mewah itu.Ya, siapa lagi kalau bukan suaminya, Kahfi. "Siapa, Na?" Mario ikut bertanya.Dan ketika pintu mobil itu terbuka, memunculkan Kahfi yang keluar dari dalam sana. Hal itu tentu saja membuat rasa penasaran teman-temannya terbayarkan. Jelas mereka masih ingat wajah pria yang duduk di kursi pelaminan bersama Keina menggantikan posisi Dirga yang notebene teman mereka juga. Mereka spontan bangkit berdiri, kecuali Keina yang ekspresinya langsung mendadak bete."Na, kok diam aja, itu suami lo datang!" Miska menarik tangan Keina cepat tatkala melihat Kahfi yang berjalan mendekati mereka dengan seulas senyum manisnya. Jika boleh jujur, tadi Mis

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 12. Keina : Berat, Ma...

    "Maaaaa, takut!" Keina berlari mundur saat mendengar gemercik minyak panas tatkala ia memasukan potongan ayam ke dalam penggorengan. "Ya ampun, Na! Masak aja kayak mau tawuran!" Komentar Dinne yang berdiri diujung pintu dapur sambil memegang ponsel yang menyorot ke arah sang anak. Ya, dia sedang merecord kegiatan Keina untuk dikirim ke Kahfi sebagai laporan. Meskipun Kahfi tidak meminta, tapi Dinne berinisiatif sendiri. "Ma, bantuin aku dong! Kok malah main hape doang!" Gadis itu menatap sang mama kesal, tangan kanannya memegang spatula sementara tangan lainnya memegang tutup panci yang dia ambil spontan untuk melindungi diri dari cipratan minyak. Dinne berdecak, sebelum mengindahkan perintah sang anak, dia mengatur tata letak ponselnya agar kameranya terus menyorot ke arah Keina. Setelah itu dia berjalan mendekati kompor, "Sini, gitu aja udah marah-marah." Dia mengambil alih spatula dari tangan Keina, lalu menggoreng potongan ayam yang tersisa. "Mama kayaknya salah deh, sebelum be

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 11. Pengantin Baru Kok Pisah Ranjang?

    Kahfi mengelus bibirnya dengan kedua mata tertuju pada ponsel digenggaman. Biasanya di jam-jam segini pria itu sibuk dengan laptop dan pekerjaan, meskipun pekerjaannya sudah selesai tapi dia pasti selalu bertanya ke Sekretarisnya apakah ada pekerjaan yang bisa dia selesaikan saat itu. Namun untuk kali ini Kahfi memilih untuk korupsi waktu, entah kenapa dia lebih memilih untuk berperang dengan isi kepalanya sendiri daripada menandatangi berkas-berkas.Pria dengan kemeja abu-abu itu merenggangkan dasinya. Tangan kanan Kahfi memegang ponsel yang hanya dia tatapi sejak setengah jam lalu, sementara tangan lainnya memutar-mutar bolpoint. Nama sang istri yang asik berlarian di kepalanya menjadi alasan kenapa pria itu asik dengan dunianya sendiri. Kahfi melirik arloji dipergelangan tangannya, jam satu siang. Kalau dia telepon Keina dan bertanya apakah istrinya itu sudah sholat dzuhur dan makan siang, apa Keina akan merasa terganggu? Mengingat bagaimana respon Keina saat ia telepon tadi pagi,

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status