LOGINEmily's world comes crashing down when her uncle sells her into an arranged marriage to pay for his debts. Her uncle sends her to the remote mountain estate of Lord Rotterford. Hating her fiancee Emily escapes at the first opportunity. Once she escapes she quickly realizes that she is alone in the wilderness with no idea of where to go. While crossing a river to cover her tracks Emily finds an injured wolf cub locked in a cage. Freeing the wolf cub and helping him leads her to meeting her mate the Alpha King and the world of werewolves and hunters.
View More“Heh! Apa yang kamu lakukan di sini?! Kamu mengintipku, hah?!”
Adit, yang tengah mengepel lantai ruang ganti pelanggan, nyaris menjatuhkan pelnya saat mendengar suara bentakan itu.
Di hadapannya, seorang wanita cantik dengan tubuh menggoda dan hanya mengenakan pakaian dalam berenda, berdiri dengan napas memburu.
Itu Bu Celina, manajer tempatnya bekerja!
Tangan wanita itu menutupi dadanya yang montok, tapi pahanya yang mulus justru terabaikan.
Glek.
Adit menelan ludah. Otaknya berteriak untuk tidak melihat, tapi matanya berkhianat.
Takut? Jelas. Adit hanya trainee rendahan. Terpergok dalam situasi seperti ini bisa membuatnya dipecat seketika.
Namun, senang?
Bagaimana tidak? Bu Celina adalah fantasi hidup para terapis pria di panti pijat ini!
Dengan tubuh berlekuk sempurna, kulit sehalus sutra, dan tatapan tajam menggoda, siapa yang tidak pernah membayangkan wanita itu dalam pelukan mereka?
Dan sekarang… tubuh yang biasanya hanya ada dalam bayangan, terpampang jelas di depannya!
Tapi… ada yang aneh.
Kenapa Bu Celina masih di sini? Bukankah semua orang sudah pulang?
Dan yang lebih aneh lagi… kenapa tangannya basah?
“Apa yang kamu lihat, dasar mesum! Mau saya pecat?!”
Deg!
Adit buru-buru menggeleng. “A—ampun, Bu Celina! Saya enggak tahu kalau Ibu masih di sini…”
Sebagai trainee, posisi Adit di panti pijat ini sangat lemah. Dia adalah sasaran empuk senior-senior yang haus kuasa. Tidak heran sebelum dirinya, banyak trainee yang tidak bertahan lama, entah karena mundur atau dikeluarkan dengan alasan sepele.
Itulah alasannya malam ini dia bisa ada di sini. Karena salah satu seniornya melemparkan tanggung jawab kepadanya.
Namun, siapa yang menyangka hal tersebut membawanya ke situasi seperti ini…
Adit melihat Celina takut-takut. Ekspresi manajernya itu dingin, tapi tatapannya panik. Ditambah wajah cantiknya yang memerah, Adit merasa Bu Celina seperti takut ada rahasia besar yang terbongkar.
“Sudah! Aku enggak mau tahu. Pergi dari sini atau…”
Bu Celina mengomel selagi buru-buru mengenakan celananya.
Namun, karena terlalu panik, kakinya tersangkut di celana dan tubuhnya terhuyung ke depan!
Bruk!
Refleks, Adit segera menangkap tengkuk Bu Celina sebelum kepala wanita itu terbentur lantai.
Deg!
Dan saat itu juga, sesuatu terjadi.
Wajah Bu Celina merah padam hingga ke telinga. Napasnya memburu, matanya bergetar, dan…
"Ah…"
Desahan lirih itu lolos begitu saja.
Adit membeku.
Apa-apaan ini?!
Sadar dengan suara yang baru saja keluar dari mulutnya, Bu Celina langsung bangkit dengan wajah panik!
“Kau, kau apakan aku barusan!?”
Adit ikut berdiri, wajahnya bingung. "Sa-saya nggak ngapa-ngapain, Bu! Saya cuma menangkap Ibu biar nggak jatuh—"
“Tapi---”
Celina ingin mengatakan sesuatu.
Ada sensasi aneh yang menyelinap ke dalam tubuhnya.
Hangat.
Menyusup ke saraf-sarafnya.
Tiba-tiba area yang disentuh Adit tadi terasa lebih peka. Seakan… terbakar dari dalam.
Namun, dia menggeleng cepat, menepis perasaan aneh itu.
Mana mungkin dia mengaku sentuhan tangan Adit di lehernya … membuat sesuatu dalam tubuhnya berdenyut?!
“Ah, sudah! Lupakan saja!”
Bu Celina bergegas mengenakan pakaiannya, lalu sebelum keluar ruangan, dia menoleh tajam.
"Ingat ya, urusan kita belum selesai!"
Adit hanya bisa menatap kepergiannya sambil menelan ludah.
Habis sudah…
Sudah menyinggung bosnya, Adit pasti akan kehilangan pekerjaannya ini dalam waktu dekat.
“Haaah … ya sudahlah, itu urusan nanti …” pikirnya sebelum memutuskan membereskan alat-alat bersihnya dan keluar dari ruangan.
Tanpa dia sadari…
Cincin yang melingkar di jarinya berpendar…
Lalu menghilang…
Dan membentuk lingkaran hitam di jarinya.
**
Keesokan paginya.
“Anak baru nggak berguna! Baru berapa hari jadi trainee sudah berani datang terlambat?!"
Makian itu terlontar dari mulut Rudi, senior Adit yang paling berengsek. Pria yang sama dengan yang melemparkan pekerjaan bersih-bersih kepadanya tadi malam.
"Maaf, Pak Rudi! Saya tidak bermaksud untuk datang terlambat…"
Tadi pagi, Adit sebenarnya ingin berangkat kerja seperti biasa. Namun, di tengah Bersiap-siap, Adit menyadari bahwa cincin peninggalan kakeknya tiba-tiba hilang.
Sebagai satu-satunya kenangan yang Adit punya terhadap sang kakek yang baru meninggal beberapa waktu lalu, benda itu sangat berharga.
Dia pun mencarinya dengan panik, sampai akhirnya lupa waktu dan berakhir datang terlambat ke kantor.
Alhasil, di sinilah dia sekarang, menerima ocehan dan menjadi bahan pelampiasan kemarahan seniornya.
BUK!
Satu pukulan dengan gulungan kertas koran diterima di kepala oleh Adit.
“Nggak bermaksud terlambat? Kamu kira aku peduli kamu bermaksud atau nggak?! Di sini ada aturan, dan kamu sudah melanggarnya!”
BUK!
Pukulan kedua.
“Baru trainee aja udah belagu.”
BUK!
Pukulan ketiga.
“Kalau kamu merasa udah jago, kamu sebaiknya---”
BRAK!
Pintu pegawai terbuka keras!
“RUDI!”
Bu Celina muncul dengan wajah marah, membuat Rudi menoleh kaget. “B-Bu Celina?”
Adit langsung mengangkat kepala. Saat melihat sosok Celina, dia langsung menunduk lagi, jantungnya berdegup kencang.
Dia pikir… Bu Celina akan memecatnya.
Namun, yang terjadi selanjutnya sangat di luar dugaan.
“Kenapa pelanggan ruang 25 belum ada yang melayani?!”
Rudi membeku, panik. "A-anu, Bu… saya—"
Mata Bu Celina menatap ke arah Adit.
Dan saat mereka saling bertatapan…
Celina langsung mengenalinya.
"Kamu…"
Adit menahan napas, takut kejadian tadi malam akan diungkit.
Tapi Celina membuang wajah, berdeham, lalu berkata dengan suara tegas.
“Kamu! Siapa nama kamu!” tanya Celina.
“A—Adit bu…”
“Adit! Sekarang kamu pergi ke ruang 25. Pijat pelanggan yang ada di sana itu!”
Wajah Rudi seketika mengeras, “Ta—tapi Bu… Adit kan masih Trainee, seharusnya saya yang—"
"Kalau mau pelanggan, seharusnya kamu peka sejak tadi! Bukan sibuk menindas bawahan!" Kemudian, Celina menatap Adit. “Selain itu, mulai saat ini dia jadi pegawai tetap! Cepat ke sana!”
“Ba—baik bu!”
Adit yang melihat ini sebagai kesempatannya, segera saja berlari ke ruangan itu, diikuti tatapan kesal dari Rudi yang merasa dipermalukan.
Namun, berbeda dengan Bu Celina. Ia melihatnya dengan tatapan berbeda…
‘Adit … ya?’
“She’s waking up,” Emily heard a femine voice yelling right before she heard the pounding up feet and then her hand being held tightly. “Emily. Emily, can you hear me,” her mate asked in a trembling voice. The sound of his voice and the pain that was in it broke her heart. It took more energy than she would have ever thought, but Emily finally forced her eyes open. As soon as she could focus, she found her eyes locked with beautiful relief filled green ones. “Hi,” she managed to croak out with a small smile. “Hi beautiful,” Gabriel replied huskily as he leaned forward to kiss her forehead. “How are you feeling?’ “Thirsty and tired for some reason. Rica said that I have been out for three weeks.” Gabriel helped Emily to sit up a little so that she could take a few sips from the cup of water that was pushed into his hand. “Yes. The wound hit you harder than anyone thought. Agatha thought that she had lost you for a moment, but Rica pulled you back. We just couldn’t get you to wa
I kind of figured we would have to do something like that. Do Gabriel and Conri know? Emily asked grimacing. Nope, Rica said. How much trouble are we going to be in for doing this?Loads. They might even kill us if we make it. Do you think that my grandmother would have suggested this if she thought we wouldn’t. No, but I also know that things can go bad quickly, Rica said hesitantly. Why are you so hesitant? Do you know something? I know a lot actually. There just isn’t anything that I can tell you right now. That was helpful. I know. All I can say is that we do need to survive. For Gabriel and Conri? And others…Rica said carefully. What others? I can’t say yet. Okay…so do you not want to save Agatha? I do want to save her, I just need you to be strong and to get us through this. Promise me. I promise. Should we tell Gabriel and Conri? I think we have to. They are going to have to give a lot of their energy to Agatha to heal us. Okay. Do you want to tell them? No.
“Angela, how are they,” Emily asked as soon as they made it back into the valley and then rushed to the hospital where all of the injured were receiving help. Emily was relieved to see that everyone that they passed at the hospital did indeed have minor injuries. “Not good,” Angela said, quickly swiping a tear from her cheek. “I can’t keep them in this state much longer, and as soon as they are no longer in this frozen state, they will quickly bleed out.” “Can’t I pull energy and give it to them to help them heal,” Emily asked sadly, as she looked at her grandmother and Agatha. Angela shook her head. “No, the bullets have done too much damage for them to recover from.” “Could we do surgery while they are frozen to repair the damage to give them a fighting chance,” Emily asked, refusing to give up. Angela sighed and slumped in a seat by Agatha’s bed. “Even frozen, the surgery would kill them. Rotterford knew what he was doing when he shot your grandmother. He missed her he
“You are right,” Emily’s uncle said, sighing heavily. “I know that saying ‘I’m sorry’ or ‘I was wrong’ will not fix the mistakes that I have made.” “Then what do you want? The only reason that you are not dead is because my mate was hearing you out,” Gabriel growled. “I wanted Emily to know the truth, and I think I just wanted to clear my conscience.” “You came all of this way so that you could have a clear conscience,” Emily asked skeptically. “And so that you could know the truth,” her uncle said with a small shrug. “I am dying, so if you decide to kill me it won’t matter,” he laughed bitterly. “That might be better than what is coming. I have cancer in case you were wondering.” “I can’t heal you,” Emily said quickly thinking her uncle was hoping that injuring Lord Rotterford and finally telling her the truth would make her help him. She felt bad thinking that, but she also knew that she had to try to help Agatha and her grandmother if possible. She couldn’t help her uncle t






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore